Untold Love: I’m Sorry

1471947367584.jpg

Previous:
Untold LoveUntold Love: I Hate YouUntold Love: I Can’t Handle It

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Kyungsoo & Jung Nara | PG 15 | Romance & Friendship | Line@: @NYC8880L

“My heart melt when I see your smile. When our eyes meet my heart pounds.” ―Beautiful (Ost. EXO Next Door), Baekhyun

-oOo-

Hari ini Do Kyungsoo mengenakan sweater dan celana kain bewarna hitam. Pemuda itu duduk di bangku taman, sendirian. Maniknya menatap lurus ke arah langit yang pekat. Ia sedang menunggu seseorang.

Ini hari yang istimewa. Andai saja bukan begitu, Kyungsoo pasti enggan membawa-bawa buket mawar putih dan kotak kado merah jambu. Pikiran pemuda itu melalang buana, ketika ekor matanya mencuri pandang pada barang bawaannya. Setelahnya, dia membuang napas kasar kemudian berulang lagi. Itulah siklus yang terjadi selama satu jam terakhir Kyungsoo duduk di sana.

“Do Kyungsoo. Maaf, sudah menunggu lama,” ujar Joonmyun yang masih mengenakan seragam kerja. Pria itu menepuk bahu Kyungsoo, kemudian mengangsurkan kaleng jus jeruk kepada pemuda yang telah dianggapnya sebagai saudara.

Kyungsoo tersenyum. Ia membuka kemasan jus itu. “Selalu jus jeruk,” gumam Kyungsoo, sembari menegak minuman.

“Jus jeruk untuk Kyungsoo dan susu pisang untuk Jisoo. Kelemahan kalian berdua,” ucap Joonmyun, lalu tertawa. Kekehannya berhenti ketika melihat Kyungsoo menundukkan kepala. “Kalian bertengkar?” tanya Joonmyun, lebih seperti pernyataan sebab ia sudah tahu jawabannya. Joonmyun hanya ingin mendengar cerita versi Kyungsoo.

“Dia marah kepadaku.”

“Kenapa?” timpal Joonmyun, sambil duduk di sebelah Kyungsoo.

Kyungsoo melejitkan bahu. “Alasannya konyol. Jisoo mengira aku berkencan dengan Olivia Park.”

“Wow, hebat. Olivia Park yang katamu gadis terseksi di kelas,” Joonmyun menanggapi. “Apa dugaan Jisoo benar?” lanjut Joonmyun.

Kyungsoo menggaruk tengkuk sebelum menjawab. Ia menghela napas panjang untuk memulai ucapannya. “Beberapa kali memang kami pergi bersama dan tidak terjadi apa-apa. Tapi, ketika itu Jisoo masuk ke dalam apartemenku pada saat yang tidak tepat. Aku hanya menghibur Liv sebab dia baru saja bertengkar dengan Chanyeol. Entah melihat dari sisi mana, adikmu malah mengira kami berciuman―“

“―Dan berkencan,” potong Joonmyun, menyelesaikan ucapan Kyungsoo. Pria itu mulai memahami kesalahpahaman yang terjadi. “Lalu?” Joonmyun meminta Kyungsoo melanjutkan.

“Jisoo mengatakan jika aku licik dan pengkhianat. Dia tidak tahu semua yang kulakukan hanya untuk menjaganya. Aku menjaganya sebab sayang kepadanya, baik sebagai sahabat atau pun suka antara laki-laki dan perempuan.” Kyungsoo mengakhiri penjelasannya dengan dengusan yang kentara. Pemuda itu tidak biasanya bicara banyak mengenai masalahnya. Mungkin karena ia tidak tahu lagi bagaimana cara mengatasi Jisoo dan menurut Kyungsoo manusia lain yang bisa memecahkan jalan pikiran sahabatnya adalah Joonmyun.

“Jujur saja Do Kyungsoo keluarga kami tidak memiliki kemampuan membaca pikiran. Jadi, Jisoo sama sekali tak mengerti bagaimana benakmu bekerja.” Joonmyun menahan tawanya, sewaktu ia mendapati keheran dalam paras Kyungsoo. “Dan seperti yang sudah kau pahami, Jisoo lambat mengelola pesan tersirat. Well, apabila kau menyukai Jisoo katakan saja. Jangan bersuara melalui bahasa kalbu,” imbuh pria itu, sambil berdiri dari duduknya.

“Aku tidak ingin semuanya jadi canggung dan―“

“―Ayolah Do Kyungsoo, tidak ada yang lebih buruk daripada pertengkaran kalian saat ini. Dulu kalian tidak bisa marah lebih dari satu jam, sedangkan sekarang hampir dua bulan,” sela Joonmyun. Ia kembali menepuk bahu Kyungsoo.

“Akan kucoba,” gumam Kyungsoo.

Sudut bibir Joonmyun membentuk simpul maklum. “Siapa tahu Jisoo juga menyukaimu. Mungkin dia baru menyadarinya setelah sekian lama,” timpal pria itu. Joonmyun melihat arloji yang melingkar di tangannya. “Aku harus kembali ke kantor. Urusan cinta bukan bidang keahlianku,” imbuh Joonmyun, lantas mengundang senyum tipis Kyungsoo.

“Maaf sudah menganggumu. Sebenarnya, tujuanku kemari untuk menitipkan hadiah ulang tahun Jisoo,” ujar Kyungsoo.

Joonmyun memutar bola mata, jengah. “Apa kau kira aku sudi menenteng mawar putih dan kotak merah jambu itu masuk ke kantor? Berikan sendiri kepada Jisoo.” Ia mengernyitkan dahi, lalu berujar, “Dia tinggal di apartemenku sekarang. Kata kuncinya seperti biasa. O, malam ini aku tidak pulang, jadi apartemen itu milik kalian. Aku lebih suka, jika kau saja yang menjadi adik iparku daripada orang lain.” Kemudian dia pergi meninggalkan Kyungsoo yang tertegun berusaha mencerna ucapan Joonmyun.

Jisoo mengayunkan tungkai kembali ke apartemen, setelah turun untuk membeli mie instan dan susu pisang. Ini hampir tengah malam, namun dirinya memilih tetap terjaga. Jisoo sedang menantikan sesuatu, walaupun bibirnya sedari tadi tak menyuarakan apa yang ditunggunya.

Seharusnya, Jisoo memilih terlelap kemudian melewatkan hari ulang tahunnya karena tahun ini tidak ada yang menyenangkan hati. Ia merasa kehilangan sebab tak ada mawar putih, kue ulang tahun dari kakaknya, apartemen lamanya yang beraroma violet, dan yang paling penting dari seluruh dunia ini―Kyungsoo.

Jisoo tahu ketergantungannya terhadap Kyungsoo masuk dalam taraf mengkhawatirkan. Oleh sebab itu, dia seperti kehilangan energinya akhir-akhir ini akibat pertengkarannya dengan Kyungsoo. Di tambah lagi frekuensi bertemunya dengan Kyungsoo menurun drastis semenjak ia pindah ke apartemen Joonmyun. Di kampus pun dirinya hanya dapat mengamati Kyungsoo dari jauh, pemuda itu sibuk berkeliaran bersama teman-temannya dan tentu saja ada Liv yang membuatnya emosi setiap melihat mereka. Jadi, kerinduannya disalurkan dengan marah terhadap diri sendiri, mengoceh tidak jelas kepada Joonmyun―ini hanya berlaku apabila kakaknya pulang, dan melamun. Jisoo awalnya yakin bahwa tempat tinggal baru akan membuatnya melupakan, namun faktanya dia malah terjebak lebih dalam pada perasaannya.

Jisoo menghamburkan napas panjang sebagai respons terhadap benaknya yang tengah berdiskusi perihal Kyungsoo. Semakin malam dia tetap terjaga, semakin senang pikirannya menawarkan hal yang membuatnya berduka. Menyadari hal itu, Jisoo mempercepat lajunya.

Kaki Jisoo berhenti, di belokkan pertama menuju kubik apartemennya. Gadis itu mendapati sosok pemuda yang berdiri di sana. Ia tahu benar siapa dia. Delapan belas tahun berkawan membuatnya hafal gestur tubuh Kyungsoo, meskipun pria itu sedang membelakanginya.

Jisoo tersenyum sekilas, ketika Kyungsoo meletakkan mawar putih dan kotak kado berukuran kecil di depan pintu apartemennya. Ia juga melihat bahu Kyungsoo turun, saat menatap lurus ke arah pintu. Jisoo kembali menggayuh tungkai, kali ini pelan-pelan medekati pemuda itu.

“Apa yang sedang kau bicarakan dengan pintu itu, Soo?” tanya Jisoo yang langsung membuat Kyungsoo membalikkan tubuh, menghadap si gadis.

Jelas sekali Kyungsoo terkejut. Ada keheningan yang tercipta. Kyungsoo sedang memberikan waktu bagi hatinya untuk menentramkan diri. Kehangatan tiba-tiba merasuki raganya, saat maniknya bertemu dengan milik Jisoo. “Aku sedang meminta pintu ini menjaga pemiliknya dan menjadi pengantar pesanku,” balas Kyungsoo lembut.

Kemurkaan Jisoo seakan menguap, kini yang ada dalam pikirannya adalah kegembiraan. Ia terlampau bersuka cita sebab diijinkan memindai paras sahabatnya lagi setelah sekian lama. Rasa sesak yang menyiksanya perlahan terangkat. Jisoo bersyukur Kyungsoo sehat, walaupun rautnya menyampaikan pesan duka. Hal itu membuat sudut bibir Jisoo menjungkit, memaparkan senyum menenangkan yang biasa dia tunjukkan untuk menghibur si pemuda.

“Sayang sekali pintu itu tidak bisa bicara. Aku dapat menggantikannya untuk menyampaikan pesanmu,” tawar Jisoo. Gadis itu mengigit bibir, berusaha meredam kata rindu yang hendak meluncur begitu saja.

Kyungsoo tertawa tulus, rasanya sudah lama sekali sejak ia sesenang ini. “Baiklah, kau boleh menolongku. Kim Jisoo, tolong sampaikan pesanku pada Kim Jisoo.” Pemuda itu maju satu langkah lebih dekat pada gadis yang mengenakan kaus merah dan celana jeans. “Selamat ulang tahun, Kim Jisoo. Maafkan aku karena membuatmu marah. Aku paham jika kau tidak ingin lagi berteman denganku. Aku memang―“

Penjelasan Kyungsoo terhenti akibat Jisoo yang menghambur ke pelukannya. Gadis itu membenamkan kepalanya di bahu Kyungsoo. Jisoo mengeratkan kungkungan pada sahabatnya, saat mulai tergugu. “Aku merindukanmu, Soo,” cicit Jisoo. Si gadis berusaha mengatur napas. “Aku tidak peduli kau berkencan dengan siapa. Aku janji tidak marah lagi sebab hal itu menyiksaku. Maafkan aku sudah egois,” imbuh Jisoo.

Kyungsoo membalas pelukan Jisoo. Ia membelai surai hitam si gadis yang tergerai. “Hai cengeng, hari ini ulang tahunmu. Kau tidak boleh menangis,” hibur Kyungsoo. Pemuda itu mengendurkan dekapannya, kemudian jarinya mengangkat dagu Jisoo agar ia bisa menatap rautnya. “Jelek sekali caramu menangis, seperti beruang yang minta makan,” kata Kyungsoo dia terkekeh. Tangan Kyungsoo menghapus airmata Jisoo.

Gadis itu ikut tertawa. Ia merasa konyol. Perselisihan mereka selama satu bulan diselesaikan dengan cara yang kekanakan seperti ini. “Kenapa kita tidak berbaikan dari dulu, sih?” tanya Jisoo, kemudian melepaskan diri dari Kyungsoo. Gadis itu mengangsurkan kantong plastik yang tadi dia bawa pada si pemuda, agar dirinya dapat mengambil mawar putih dan hadiahnya yang tergeletak di lantai.

Kyungsoo menggelengkan kepala. “Kalau tidak begini, aku tak akan melihatmu menangis karena rindu diriku,” kelakar Kyungsoo.

Jisoo memukul pelan sahabatnya. Dentang tawanya terdengar kembali. Jemarinya bertautan dengan milik Kyungsoo sambil meminta, “Temani aku, ya? Menginap di sini.”

Kyungsoo mengecup punggung tangan Jisoo, lalu mengangguk. “Tentu saja, banyak hal yang harus kita bicarakan,” balas pemuda itu. Ia mengekori Jisoo untuk masuk ke dalam apartemen Joonmyun. Tanpa menengok lagi ke belakang.

-oOo-

Part selanjutnya dapat dibaca di Untold Love: Love Birds. Password dapat diminta melalui Line @NYC8880L (pakai @)

2 responses to “Untold Love: I’m Sorry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s