Vacillate: Vacant [Chapter 1]

picsart_09-29-08-54-20

Judul : Vacillate: Vacant (Sequel)

Author : isanyeo (pritanovia)

Cast : Kai, Lee Jin, Do Kyungsoo.

Rating : PG-15

Genre :  Romance, Family, Slice of Life

Length : Chapered

I

I’m trapped and you aren’t here to help me.

            Entah satu tahun atau dua, entah itu kemarin atau kemarin lusa, entah kapan pun terakhir kali Lee Jin melihat sesosok lelaki berjiwa bebas yang namanya dulu selalu ia ucapkan dalam doa rindu, rasanya ia masih benar-benar tidak bisa meninggalkan memori tentang lelaki itu. Tentang apa yang membuat dia menjadi yang sekarang.

Lee Jin tak memungkiri kenyataan bahwa waktu yang terus berlalu perlahan-lahan mengikis rindu serta ingatan tentang wajah lelaki itu. Kini sosoknya tak lagi begitu jelas berada dalam ingatan Lee Jin, dan Lee Jin pun sadar itu adalah efek dari rindu yang perlahan-lahan mulai tak ia rasakan. Mulai hilang, sepertinya. Beberapa kali sempat ia bertanya dalam hati, mungkinkah ia sudah tidak lagi mencinta?

“Lee Jin!” sebuah seruan yang menggema di udara terdengar di telinga Jin.

Lee Jin menegapkan tubuhnya sembari menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Tuan Do, pemilik rumah dari tempat ia tinggal untuk sementara ini. Tempat yang ia pilih untuk berkelana. Pemukiman Gwango, Gyeonggi­-do.

Lee Jin sontak melambaikan tangan singkat. Melihat Tuan Do yang dengan susah payah membawa satu keramik polos dengan hati-hati, Jin berdiri berniat untuk membantu. Mereka berdua membawa keramik itu dengan hati-hati di bangku panjang yang Jin duduki tadi.

“Aku sudah mengira kau akan ada di sini,” ucap Tuan Do, tak lupa untuk mengambil nafas dalam-dalam sejenak.

Lee Jin hanya tersenyum kecil dan menunduk. Berada di pemukiman ini selama kurang lebih 2 bulan tidak memungkiri bahwa Tuan Do atau mungkin penduduk pemukiman tahu betul kegiatan hariannya. Ia akan selalu duduk di bangku panjang ini setiap sorenya, menunggu Nyonya Shin yang telah senja usianya untuk lewat, mengangdeng tangannya dan menemaninya berjalan untuk kembali ke rumah. Terkadang perjalanan pulang mereka diiringi dengan berbagai macam cerita yang tak pernah Lee Jin dengar sebelumnya, atau mungkin sebaliknya, Lee Jin memberikan cerita-cerita yang Nyonya Shin tak pernah tahu sebelumnya.

Lee Jin masih berkelana. Mungkin itu adalah kalimat yang paling tepat. Ia masih saja berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, tak pernah menetap, masih tak ingin kembali ke rumah. Entah karena ia masih saja menyukai hal demikian atau mungkin berusaha mengalihkan dirinya dari hal yang tak ingin ia temui ketika kembali nanti. Ia mungkin masih menginginkan begitu banyak pengalaman yang tak ingin ia lewatkan. Ia masih mencari-cari alasan yang mampu membuatnya merasa cukup dan kembali pulang.

“Ada apa hingga anda susah-susah kemari dengan keramik ini, Tuan Do?”

Tuan Do tertawa sejenak, menggaruk-garuk tengkuknya, merasa malu. “Sedikit konyol memang, tapi aku ingin memberitahumu cepat-cepat.”

“Ya?”

“Keramik ini datang tadi pagi,” ucapnya antusias, “dari anakku!”

Senyum Tuan Do kian melebar, hingga membuat kerutan di sudut matanya rasanya kian bertambah pula. Hal itu membuat Jin tak bisa menahan senyum bahagianya. Sebuah keramik dari anaknya yang tengah merantau. Bulan kemarin adalah sepasang pakaian dengan kain sutra, dan sekarang adalah sebuah keramik.

“Dan ada sebuah surat.”

Lee Jin menaikkan kedua alisnya. Menunggu Tuan Do untuk melanjutkan kata-katanya.

“Anakku akan pulang besok!”

Tuan Go tak bisa menyembunyikan bahagianya hingga air mata jatuh ke pipinya. Sedangkan Lee Jin, hanya bisa menepuk-nepuk punggung Tuan Do, sedikit merasa haru karena sebentar lagi anak yang selalu diceritakan oleh Tuan Do akan pulang. Seorang anak lelaki yang katanya merantau untuk belajar menjadi seniman rupa di ibukota Gyeonggi-do, Suwon.

Lee Jin tak menyangka bahwa berita kepulangan anak Tuan Do menyebar begitu luas dan cepat. Mengingat hanya beberapa jam yang lalu saja ia mendapat kabar itu, dan sekarang begitu ia telah mengantarkan Nyonya Shin selamat sampai ke kediamannya, berita begitu heboh dimana-mana.

Lee Jin bisa melihat para ibu-ibu pemukiman tengah sibuk berbincang mengenai apa yang harus mereka masak besok ketika anak Tuan Do datang. Jin bisa merasakan sebuah keakraban yang luar biasa di sana, yang mungkin tidak akan ia temui di Seoul, di pemukimannya. Lee Jin tak mau ketinggalan, ia ikut duduk di kerumunan ibu-ibu tersebut, memberikan beberapa saran perihal masakan yang harus mereka masak, mungkin membuat sebuah karangan bunga pula.

Di sana, tidak banyak anak bahkan pemuda yang mampu belajar hingga tingkat yang tinggi. Terlebih mampu hingga ke luar kota seperti anak Tuan Do. Maka dari itu mereka menyambut kepulangannya dengan begitu istimewa. Mereka bercakap-cakap hingga tak terasa matahari mulai tenggelam.

“Sebaiknya kau pulang, Lee Jin. Tuan dan Nyonya Do pasti mencarimu,” Nyonya Oh, yang terkenal dengan suaranya yang paling merdu di pemukiman menyuruhnya untuk segera kembali ke rumah Tuan Do.

“Baiklah,” jawab Lee Jin sembari tersenyum ramah.

“Ah, ngomong-ngomong Lee Jin. Kapan kau akan kembali ke Seoul?”

Lee Jin mengerutkan keningnya, ia sudah berada 2 bulan di sini, dan itu berarti hanya tersisa 1 bulan untuk berada bersama mereka. “Kurang lebih 1 bulan lagi.”

Lee Jin bisa mendengar nafas berat Nyonya Oh. Ia mengerti arti dari nafas berat yang keluar itu, benar-benar sangat mengetahuinya. Bagi Jin, setelah menjalani hal seperti ini berkali-kali, rasanya sebuah perpisahan menjadi hal yang biasa walau pahit memang harus ia rasakan. Ia berkali-kali mendengar nafas berat penuh makna itu setiap kali kunjungannya di sebuah tempat akan segera berakhir. Sebagai balasan atas semua nafas berat yang ia dengar, Lee Jin hanya mampu tersenyum simpul dan menatap penuh sayang.

“Aku tidak akan lupa berkunjung sekali dua kali walaupun aku sudah tidak berada di sini, Nyonya Oh.”

Nyonya Oh menganguk mengerti sembari menepuk-nepuk pungung tangan milik Jin. “Aku mengerti, Jin.”

Lee Jin tersenyum lebar dan bersuara, “Jangan lupa untuk memasak makanan terlezat untuk besok, Nyonya Oh.”

Lee Jin menelusuri jalanan menuju kediaman Tuan Do. Kali ini ia berjalan lebih lambat dari biasanya. Daun-daun yang berguguran di pertengahan musim gugur membuat kaki-kaki Jin dengan jahil menendang-nendang di atas tanah, lalu berhenti sejenak di pinggir jalan. Jin tengah berdiri dengan mata yang tak fokus. Pikiran Jin tengah melayang-layang tentang rencana selanjutnya, tentang apa yang akan ia lakukan jika ia kembali ke Seoul, tempat mana yang akan ia datangi lagi selanjutnya, pengalaman apa yang akan ia dapatkan lagi. Tapi semua pikiran itu berakhir dengan hembusan nafas kasar yang Jin keluarkan tiba-tiba.

Sesak.

Hanya rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi seluruh dada Lee Jin. Ingatan tiba-tiba tentang lelaki bernama Kim Kai membuatnya kembali merasa sesak di dada. Berkali-kali Lee Jin mengingatkan diri sendiri bahwa mungkin lelaki itu datang karena memang sudah ditakdirkan datang, lelaki itu datang untuk memberikan Jin sesuatu yang tak akan bisa ia dapatkan, dan pergi karena sudah ditakdirkan untuk pergi. Singkatnya, takdir. Hanya sekedar datang, tak menetap.

“Kau sudah sejauh ini, Lee Jin,” bisik Jin pada diri sendiri.

Jin berkali-kali mengingatkan pada diri sendiri bahwa apa yang ia lakukan adalah atas kemauannya sejak awal. Pergi. Berkelana. Mencari apapun yang tak bisa ia dapatkan di Seoul. Dan setelah bertahun-tahun lamanya ia telah melakukan hal ini, tiba-tiba muncul pemikiran tentang kapan ia akan berhenti.

Sesak.

Rasa sesak itu semakin nyata saja ketika sederet pemikiran muncul tiba-tiba di dalam otak. Membuat jantungnya terasa copot, melompong. Lee Jin merasakan kedua lututnya yang lemah dan membuat dirinya berjongkok di pinggi jalan. Lee Jin menenggelamkan kepalanya di ruang antara lutut dan dada.

Bagaimana jika ternyata ia bukan lagi untuk mencari sesuatu yang tak akan ia dapatkan di Seoul?

            Bagaimana jika ternyata ia melakukan ini semua hanya untuk sekedar pelarian?

            Bagaimana jika ternyata ia melakukan ini karena ia takut kembali ke Seoul? Di tempat dimana Kai berada saat ini.

            Walaupun wajah Kai mulai pudar di ingatan Jin. Walaupun rindu itu jarang ia rasakan kembali. Namun Lee Jin tak memungkiri bahwa pemikiran-pemikiran yang baru saja muncul di dalam otak terasa membunuh. Bagaimana jika semua benar?

Dan pada matahari yang baru saja tenggelam itu, Lee Jin menahan tangis dan berusaha membubuh pemikiran-pemikiran yang mungkin bisa benar-benar membunuhnya kapan saja.

Pagi datang dengan Jin yang terbangun tiba-tiba. Suara gaduh dari luar kamar membuatnya terkejut seketika. Digesernya pintu geser kamarnya, menengok ke arah sumber suara gaduh itu. Tuan Do tengah merapikan sejumlah barang-barang yang berjatuhan di atas lantai. Sontak Lee Jin berlari membantu dengan nyawa yang masih setengah terkumpul. Diliriknya jam dinding. Pagi. Pukul 4. Masih petang.

“Ini masih petang, Tuan Do. Apa yang Tuan cari?”

Tuan Do tertawa kecil menyadari kegaduhan yang ia ciptakan. “Maaf menganggu tidurmu, Lee Jin.”

“Tidak apa-apa, Tuan Do. Apa yang anda cari? Mungkin aku bisa mencarikannya untukku.”

Tuan Do tersenyum simpul. “Album foto.”

“Ya? Album?”

“Betul. Album foto anakku, Lee Jin. Tadi istriku tak sempat mencarinya, jadi aku mencarinya sekarang. Aku tak bisa tidur menantikan hari ini.”

Lagi-lagi Lee Jin melihat keriput yang tercipta di sudut mata Tuan Do. Lee Jin tak mengerti mengapa Tuan Do begitu sangat menyayangi anak lelakinya, tidak hanya berita yang sengaja disebarluaskan oleh Tuan Do, tidak hanya dirinya yang sedari tadi malam tak bisa tidur menantikan saat-saat bertemu anaknya, namun semua perilaku Tuan Do, entah mengapa membuat hati Lee Jin benar-benar tersentuh dan merasa kagum.

Mungkin, jika saat ini sosok Ayah masih dimilikinya. Akankah Ayahnya seperti Tuan Do?

“Baiklah, Tuan Do. Tidak tidur itu tidak baik. Sebaiknya anda tidur sekarang, dan aku akan mencarikannya.”

Lee Jin mengambil beberapa barang yang dibawa Tuan Do sedari tadi, memaksanya untuk kembali tidur dan merapikan barang-barang yang jatuh berserakan. Setelah Tuan Do meninggalkan Jin untuk mencari album foto tersebut, Lee Jin mendongak ke atas, melihat tumpukan barang di atas lemari kayu.

“Mungkin ada di sana.”

Lee Jin berusaha mengambil tumpukan barang tersebut degan berjinjit. Untunglah, ia dapat meraihnya dengan mudah, dan untuk beberapa detik Lee Jin bersyukur memiliki tinggi yang lumayan. Walaupun ia terkadang tak menyukai kenyataan bahwa tingginya terus bertambah dari tahun ke tahun, walaupun dia sudah bisa dibilang cukup tua sekarang.

Lee Jin akhirnya menemukan 2 tumpuk album foto berukuran besar. Ia sempat tersenyum kecil melihat debu di cover, menunjukkan bahwa apa yang ada di dalam sana merupakan kumpulan memori-memori yang mungkin benar-benar membekas di hati Tuan Do serta istrinya. Lee Jin berjongkok dan bersandar di lemari, berniat membuka album foto tersebut dengan posisi yang nyaman.

Senyum Lee Jin makin mengembang ketika dilihatnya satu per satu foto keluarga Do. Ia melihat jelas kebahagiaan di wajah Tuan Do dan istrinya ketika menggendong anak lelaki satu-satunya. Lee Jin membolak-balik lembaran album tersebut, sempat beberapa kali ia membandingkan wajah-wajah mereka yang ada di foto. Merasa takjub akan perubahannya. Ia juga bisa melihat bagaimana kakunya pose anak lelaki Tuan Do di setiap foto. Tak jarang ia jumpai foto wajah datar dengan alis yang hampir menyatu. Melihat semua foto-foto itu, Lee Jin tiba-tiba merasa tak sabar untuk segera bertemu dengan anak lelaki Tuan Do.

Tiba-tiba Lee Jin terdiam sejenak. Mencoba mengingat-ingat usia anak lelaki Tuan Do. “Berapa usianya?”

Pagi yang sesungguhnya benar-benar datang. Lee Jin kali ini terbangun dengan mata segar serta semangat yang menggebu-gebu, dan ia tahu ia bukan satu-satunya yang merasa demikian. Kaki-kaki Jin menghentak lantai kayu sembari keluar rumah. Semua sudah nampak siap. Segala makanan khas, karangan bunga, dan sebagian besar para penduduk. Nampaknya ia kesiangan untuk membantu semua persiapan itu.

Di seberang sana, nampak Tuan Do yang tengah berusaha mengangkat kepala tinggi-tinggi dengan ponsel menempel di telinga. Seolah-olah berusaha mendapatkan sinyal terbaik untuk sekedar bercakap-cakap, dan Lee Jin tahu siapa suara yang disahuti sedari tadi di seberang sana.

Lee Jin tiba-tiba dikejutkan dengan para ibu-ibu yang menggerombol menuju begitu Tuan Do menunjuk-nunjuk ke arah jalan masuk pemukiman. Benar saja, dari jauh mereka bisa mendengar suara bis umum dari Suwon. Lee Jin yang tertinggal hanya mampu mengikuti dari belakang dengan langkah kecil, mendongakkan kepala, berusaha melihat apa yang ada di depan kerumunan.

Tak butuh waktu lama untuk Jin melihat bis terhenti sejenak, menampakkan seseorang tengah menuruni 2 tangga kecil untuk menapak tanah. Lee Jin berhenti sejenak ketika dilihatnya rambut kecoklatan yang dimainkan oleh angin, terkibas-kibas malas. Ada sebuah perasaan yang ganjil di sana ketika ia melihat rambut kecoklatan. Dan itu membuat Jin sedikit mengernyit dan merasa tak nyaman.

“Lee Jin, itu dia anak lelaki Tuan Do. Do Kyungsoo, Tampan bukan?”

Nyonya Oh baru saja menariknya dari perasaan tidak nyaman tersebut. Lee Jin tersenyum simpul dan berusaha menghilangkan pikiran tidak jelasnya itu, melangkah kembali mendekat.

Lee Jin melihat Tuan Do beserta anaknya yang dengan perlahan melangkah ke arah Jin. Jin tersenyum begitu melihat betapa bahagianya Tuan Do dan istrinya yang menyambut anaknya yang telah pergi bertahun-tahun itu. Kini, Lee Jin bisa melihat jelas wajah anak Tuan Do. Wajahnya tidak jauh berbeda dengan foto-foto yang dilihatnya tadi pagi, hanya saja mungkin kini lelaki itu jauh lebih tinggi dan tegap.

Lee Jin berniat untuk menyapa. Mulutnya setengah terbuka dan menarik nafas sejenak. Namun kata-kata sapaan untuk lelaki itu tiba-tiba lenyap dengan mata keduanya yang bertemu. Senyum yang mengembang di wajah lelaki yang ia dengar bernama Do Kyungsoo itu lenyap pula seketika, seolah telah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Jin dengan jelas melihat Kyungsoo yang mengerutkan kening hingga alisnya hampir menyatu, menatapnya aneh serta mungkin takjub. Sedangkan Jin hanya bisa merasa aneh ditatap seperti itu, terlebih oleh orang asing seperti Do Kyungsoo. Lalu beberapa detik terbuang hanya dengan keduanya yang saling memandang.

Lee Jin rasanya ingin membaca apa yang ada di pikiran lelaki beranama Do Kyungsoo ketika lelaki itu tiba-tiba tersenyum kecil, remeh. Menggeleng-gelengkan kepala sejenak dan menundukkan kepala. Kembali melangkah mendekat dan Lee Jin hanya bisa terdiam di tempat. Hingga keduanya hanya berjarak satu meter, Jin bisa merasakan bahwa Do Kyungsoo memiliki sejuta kalimat di pikirannya, dan kalimat yang mungkin ingin Jin katakan saat ini bukanlah sapaan selamat datang melainkan “Apa yang tengah kau pikirkan?”.

Do Kyungsoo menatapnya dengan tanpa senyum. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Melalui suara berat Do Kyungsoo yang terdengar tiba-tiba, Lee Jin hanya bisa semakin mengerutkan keningnya, bahkan mungkin ia terlihat begitu tua saat ini.

“Ini hanya sebuah kebetulan atau memang takdir?” Do Kyungsoo menatap lemah ke arah Lee Jin, sedangkan gadis itu hanya bisa bungkam di atas rasa ganjil yang luar biasa.

Waiting for respons. Thankyou🙂

note: Probably you’ll find this fiction protected w/ password  in the future.

19 responses to “Vacillate: Vacant [Chapter 1]

  1. wohhh!!!!! ini ada lanjutannya akhirnya yasshh ga percuma Kesel2 baca vascillate yg akhirnya super ngegantung ituuuu ughh gemeshhh. yayy ditunggu next chap nyaaaa kyaaa

  2. coolllll.. kereenn .. tp ko d.o ngmong gtu ya. apa jgn2 si do tmennya kai? eh tp deng si do kn d sowon ya bkn d seoul. ahh hnya author dan tuhan saja yang tau. good luckkk..!!

  3. okeee cerita baru setelah overshade dan sepertinya sama serunya nih
    disini saingan Kai bukan Sehun lagi tapi Kyungsoo haha
    keep writing dan semoga bisa update cepet🙂

  4. Sebenernya aku gak tau harus komentar apa, ff ini jd inget dulu waktu lee jin sama kai dan baca ff ini jd inget perasaan sesak waktu kai maried sama cewe lain huhu sebenarnya aku belum bisa move on sama ff sebelum ini tp mudah”an ff ini bisa menghilangkan bayang” kai . boleh minta nama akun twitter atau yg lain? Atau boleh follow twitter aku duluan @greenlatte

  5. Kyungsoo kenal ama jin? Dari awal crita nebak gua malah pas kyungsoo dateng dia ama kai eh trnyata enggak 😂😂 tapi kira kira kyungsoo kenalnya gimana ya ama lee jin? Jangan jangan kyung temennya kai? Terus ntar bakal ada kisah cinta antara mereka bertiga/? Wkwk 😂🔫 gasabar nunggu kalimat berikitnya dr kyungsoo…

  6. kok mereka begitu ya,apakah mereka saling mengenal dulu,atau apa???
    bingung??
    aku suka,penasaran sama kelanjutan

    annyeong author nim aku read baru,masalah diprotek kalau ga punya akun line bagaimana thor,minta lewat email aja apa boleh??

  7. Bener2 bikin penasaran. Kyungsoo udh pernah ketemu atau kenal sama jin sebelumnya ya??

    Okedeh ditunggu bnget ya next chapternya…
    gasabar pengen kai cepet ketemu jin ..,

  8. yeye, vacilate ada sequelny, seneeeng ahirny kisah kaijin lanjut lg.. haha
    pnsrn siapa tuh kyungsu, tmenya kai kah?
    dtunggu next chap, jgn lm2 ya updateny, haha

  9. Life still go on~ yeah..

    well, menunggu kisah hebat selanjutnya dari kak..
    gak sabar nunggu kejutan2 apa yang bakal ada diKisah lanjutan ini ^^

    and the best thing is… Do Kyungsoo!!!!
    i like Do kyungsoo but (i think) people so often write a d
    story where he is the main character..

    im so looking forward for the next story ^^

    Keep fighting !

  10. KAK PRITAAAAA😂😂😂
    akhirnya comeback juga😂
    Miss you kakk:”
    Seneng banget pas liat ada notice terus pas buka ffnya kak prita>.<
    Tp sayangnya aku ga pernah sempet baca, baru tadi pagi bacanya.

    Chapter satunya bikin penasaran sumpah. Baru chapter satu aja udah dibikin penasaran, gimana lanjutannya nanti.
    Aku seneng banget ini ternyata sequel dari vacillate yg endingnya bikin nyesek itu.
    I guess kyungsoo itu temen deketnya kai kan? Mungkin gara2 itu kyungsoo kaget ketemu jin. Bener kan kak?

    Ditunggu next chapternya kak.
    Sumpah ini belum cukup ngobatin kangen aku. Kurang panjang ini kak:3
    Fightingg^^

  11. Lanjut kak, yang bikin suka ff kakak itu ada family” nya gitu terus nyambung dari chap ke chap pas di cut juga bikin penasaran, semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s