[7th] Snapshots by slmnabil

snapshot-slmnabil-bycastorpollux

Author : slmnabil | Cast : Hong Seoljin (OC), Kim Jongin, Park Chanyeol

Genre : Romance | Rating : PG15 | Length : Chaptered

credit poster : CASTORPOLLUX@posterchannel

prolog : one dance | 1st | 2nd | 3rd|

4th | 5th  | 6th

SEVENTH SHOT

Aku tidak tahu kejutan siapa yang lebih mengejutkan. Chanyeol yang tiba-tiba ada di Korea padahal tadi pagi aku baru saja berbincang dengannya, atau aku—yang anehnya—ada di tempat seperti ini. Aku tak mampu berkutik, sedang pandanganku dan Chanyeol mengunci satu sama lain. Aku terlalu sibuk menyiapkan alibi untuk menebak-nebak isi pikirannya. Namun satu hal yang pasti, ini tepat menggambarkan peribahasa sekali membuka pura, dua tiga hutang terbayar. Aku mendapat keuntungan membuka dua rahasia, kepada dua manusia, dan dengan dua ancaman kesialan yang menungguiku.

“Kau … bagaimana … New York ….” Oh, sial aku bahkan kehilangan kemampuan untuk merangkai kata-kata.

“Kejutanmu,” sahutnya pendek. Ekspresinya menunjukkan keheranan sekaligus kecurigaan. Chanyeol menyunggingkan senyum tipis kendati kuyakin dia inginnya tidak begitu.

“Minumanmu.” Suara Jongin tiba-tiba masuk di tengah-tengah ketegangan kami. Dia tampaknya tak menyadari perubahan ekspresiku sejak ditinggalkan tadi. “Sayang sekali kau tidak punya pacar dan malah datang dengan mantan pacarmu ke acara semegah ini,” lanjut Jongin seraya mengagumi setiap objek yang bisa diamatinya.

Praktis aku mengejang di tempat. Kuperhatikan Chanyeol yang kedua matanya membulat karena terkejut. Sialan, Kim Jongin.

“Ada apa?” tanya Jongin begitu kembali memusatkan perhatiannya padaku. Barulah ia sadar bahwa aku dan Chanyeol tengah berpandangan. “Kau mengenalnya?”

Aku sangat ingin menutup mulutnya agar tak memperparah keadaan, tapi aku terlalu bingung sekaligus ketakutan. Aku tidak mau membiarkan fokusku terpecah, tapi Jongin terus saja mendesakku. “Seoljin,” katanya, yang mana kuhiarukan saja.

Dia ingin penjelasan, dan aku ingin menjelaskan segalanya pada Chanyeol. Mungkin terkesan tak tahu malu, tapi aku sungguh berharap kejadian malam ini hanya akan dianggap angin lalu oleh Chanyeol.

Ayolah, Seoljin! Bicaralah dan bukannya mematung seperti ini!

Kutarik napas panjang seraya menderap langkah mendekat ke arah Chanyeol. Namun sebelum aku sempat mengatakan sepatah kata pun, sekertarisnya tiba-tiba mendatanginya dan membisikkan sesuatu yang tak dat kudengar. Chanyeol mengangguk mengerti sebelum menatapku sekali lagi dan pergi, menghilang di balik pintu ke luar.

Jongin menyikut lenganku, berusaha mendapatkan atensiku. “Ada apa, Seoljin?”

Dia menuntut jawaban, tapi aku masih terdiam. Pikiranku tak berhenti menerka-nerka apa kira-kira yang sekertarisnya sampaikan hingga ia memilih meninggalkanku di saat seharusnya kami beradu argumen? Apakah itu artinya dia marah? Apakah kami bertengkar sekarang?

“Demi Tuhan, Seoljin! Bicaralah padaku!” Suara Jongin mulai terdengar panik. “Apa dia mengganggumu? Park Chanyeol itu?”

Mendengar nama Chanyeol ke luar dari mulutnya, praktis inderaku kembali siaga. “Bagaimana bisa kau mengenalnya?” tanyaku.

“Aku tidak mengenalnya, aku hanya tahu siapa dia. Dan makan malam ini diselenggarakan oleh keluarganya.”

Segera kupendarkan pandanganku ke sekeliling ruangan dan mendapati orang tua Chanyeol tengah menyapa beberapa orang. Lalu ke mana perginya pria itu sebenarnya?

Bodohnya aku! Kenapa aku tak mengejarnya tadi?

“Kau mengenalnya? Park Chanyeol?” tanya Jongin lagi.

Aku menolehkan wajahku dan menatap matanya. Kutarik napasku dalam-dalam. Baiklah, selesaikan saja malam ini. Toh, Chanyeol pun sudah tahu. Repot urusannya apabila kubiarkan Jongin tak mengetahui apa-apa. Chanyeol bisa semakin marah padaku.

“Dia tunanganku,” sahutku pendek.

Jongin terdiam, mulutnya terkatup padahal sebelumnya ia sudah siap mencecarku dengan kalimat- kalimat yang lain.

“Kau sudah bertunangan? Bagaimana bisa? Kupikir kau tidak punya hubungan dengan siapapun?” Jongin tak bisa menyembunyikan keterkejutan dan kekecewaan dalam suaranya.

Astaga, bagaimana sekarang?

“Aku tahu kau masih menyimpan perasaan terhadapku, Jongin. Dan aku tak ingin kau bersikap buruk lagi padaku selama masa kerja. Jika kuberitahukan aku sudah bertunangan, aku takut kau marah dan melakukan yang tidak-tidak,” jelasku.

Ia menatapku tajam. “Aku bahkan sedang merencanakan untuk melakukan yang tidak-tidak padamu,” katanya dingin.

Tiba-tiba seseorang muncul di sampingku. Praktis kutolehkan wajahku dan mendapati sekertaris ibu Chanyeol-lah yang mendatangiku.

“Nyonya Presdir meminta Anda untuk menemuinya di lantai dua puluh satu, kamar nomor 23,” katanya seraya menyerahkan kartu padaku. Kemudian ia menghilang.

Aku memeriksa kembali tempat orang tua Chanyeol terlihat sebelumnya, namun hanya mendapati Tuan Park saja yang tersisa di sana. Sial, dia benar-benar ingin menemuiku. Tapi untuk apa? Dan kenapa sekarang? Di saat perjamuan saja belum dimulai?

Aku hendak pergi ketika Jongin mencengkram lenganku, mencegahku meninggalkannya.

“Jongin, kumohon,” pintaku. Dia tak bergerak. “Aku harus pergi. Ibunya ingin menemuiku.”

“Apakah tunanganmu tahu?” tanyanya, tersirat keengganan. “Apakah dia tahu kau bekerja padaku? Pada mantan pacarmu?”

“Tidak. Dan karena itulah aku harus menjelaskan padanya,” sahutku tegas. Kuhempaskan cengkaramannya kasar. “Maaf, tapi aku benar-benar harus pergi. Akan kuhubungi kau nanti.”

Lalu aku meninggalkan ruangan dan berjalan cepat ke lift. Kutekan nomor dua puluh satu, lalu menunggu. Bayangan ekspresi Chanyeol sebelum meninggalkanku berputar-putar dalam isi kepalaku lagi dan lagi. Sudah jelas ia marah dan kecewa padaku. Ia menghukumku dengan mendiamkanku kebingungan.

Dan ibunya kini muncul menambah daftar orang yang harus kuhadapi. Tidak mungkin, kan, ia tahu soal Jongin? Chanyeol tidak tahu-menahu soal ini, tapi aku punya hubungan yang tidak baik dengan ibunya. Dulu saat pertama kali bertemu denganku, ia menyodorkan kertas berisi pengecekan latar belakangku. Makanya kini, aku agak khawatir dia akan melakukan apa.

Denting lift terdengar memecah pikiranku. Aku melangkahkan kaki ke luar dan menyadari kalau di sini rasanya sepi sekali. Tidak mungkin ibu Chanyeol menyewa satu lantai, bukan?

Kuderapkan kakiku menuju kamar nomor dua puluh tiga lalu menyentuhkan kartuku ke sensor. Pintu pun terbuka setelahnya.

Pandangan mataku masuk terlebih dahulu sebelum gerakan kakiku, dan saat itulah kudapati Chanyeol tengah duduk berhadapan dengan ibunya. Dengan kertas dan pulpen di meja di tengah-tengah mereka.

Aku bergabung dengan mereka. Namun Chanyeol sama sekali tidak melihatku untuk sekadar menyapa saat aku masuk. Sebaliknya ibunya menyunggingkan senyum tak tulus dan memelukku singkat.

“Duduklah,” katanya. Jadi kuambil tempat di samping Chanyeol, memperhatikannya cukup lama sampai kusadari dia tak akan balas menatapku.

“Selamat malam, Seoljin,” kata Nyonya Park memulai. “Aku agak terkejut saat melihatmu berada di sini malam ini. Apa yang membawamu ke mari? Chanyeol bilang bukan dia yang mengundangmu.”

Sial, dia bahkan tak mau repot-repot berbohong pada ibunya untuk melindungiku.

“Saya datang bersama atasan saya. Saya bahkan tak tahu ini acara perusahaan Park. Dan bahkan Chanyeol tak mengabari kalau dia sudah pulang,” sahutku, memberi penekanan di akhir dan menatapnya agak marah. Aku juga ikut kesal sekarang.

“Begitu,” kata ibu Chanyeol, namun suaranya tak menunjukkan ketertarikan. “Chanyeol bilang kalian akan menikah?”

Oh, aku terkejut ia sudah memberitahukan ini pada ibunya.

“Begitu rencananya,” sahutku. Aku menatap Chanyeol untuk memeriksa ekspresinya, namun dia tak berkutik. Pandangannya tampak kosong, bahkan terkesan tak peduli bahwa aku ada di sini.

Aku mulai menyerah. Aku akan pasrah saja. Aku tak akan memperjuangkannya kalau sekadar melirikku saja ia tak mau. Aku tahu benar, tindakanku tak tepat. Tapi apa boleh buat? Aku pun tak sanggup dihiaraukan seperti ini.

“Mungkin dia akan merubah pikirannya.” Aluran bariton itu ke luar dari mulutnya di tengah keheningan.

Sialan. Aku tak pernah melihatnya lebih putus asa daripada ini. “Jangan dengarkan dia,” kataku pada ibu Chanyeol. “Tidak ada yang berubah.”

“Begitukah?” Wanita itu tampak tak senang. “Kalau begitu, bagaimana kalau kau meninjau dokumen ini?” tanyanya kemudian. Ia menyodorkan kertas yang tadi kulihat ke hadapanku.

Sialan. Membaca judulnya saja membuatku ingin mengumpat.

PERJANJIAN PRA NIKAH

Antara calon mempelai pria (Park Chanyeol) dan wanita (Hong Seoljin.) 

  1. Harta yang didapat selama perkawinan adalah harta bersama.
  2. Harta bawaan ke dalam perkawinan, baik harta yang diperoleh dari usaha masing-masing atau warisan, dipisahkan menjadi harta milik pribadi.
  3. Semua hutang yang dibawa oleh suami atau istri dalam perkawinan mereka yang dibuat oleh mereka selama perkawinan tetap akan menjadi tanggungan suami atau istri.

Tidak, ini terlalu merendahkanku. Aku tidak bisa lanjut membaca sepanjang dua halaman penuh.

“Apa maksud Anda? Anda pikir saya akan menceraikan Chanyeol dan membawa lari hartanya?” tanyaku tak percaya. Aku beralih pada Chanyeol. “Kau tidak memercayaiku? Kenapa kau melakukan ini padaku?”

“Chanyeol pun baru tahu sekarang. Aku mencetak dokumen ini sebelum dia datang. Kalau kau setuju untuk menandatanganinya, kami akan mengumumkan pertunangan kalian malam ini.”

Pandanganku masih tak lepas dari Chanyeol. “Kau benar-benar ingin aku menandatanganinya?”

Dia tak menjawab. Ya Tuhan, bisa-bisanya mereka melakukan ini padaku? Aku tahu Chanyeol adalah pria yang kaya, namun pantaskah ia menganggap aku menikahinya untuk hartanya?

“Dia sudah menandatanganinya.”

Perkataan Nyonya Park persis menohok ulu hatiku. Chanyeol tak percaya padaku. Dia tega melakukan ini padaku. Sialan. Benar-benar tak berperasaan. Aku mungkin salah karena membohonginya, tapi yang dilakukannya ini … sungguh tak bisa kumengerti. Secinta itukah dia pada hartanya?

Aku menatap ibu Chanyeol marah. Baiklah, akan kubuktikan kalau aku bukan wanita murahan yang mengejar pria hanya karena kekayaannya. Kuraih pulpen dan membubuhkan tanda tanganku persis di samping milik Chanyeol. Aku menegakkan tubuhku dengan cepat dan berdiri.

“Permisi,” kataku, terluka. Kemudian aku memutar tubuh dan berjalan cepat ke luar. Aku butuh udara segar. Aku harus segera ke luar dari sini. Segalanya yang terjadi hari ini terlalu membuatku kewalahan. Aku ingin lari. Aku harus lari.

“Seoljin!” Adalah kalimat terakhir yang samar-samar kudengar sebelum menaiki lift dan menekan tombol turun ke lantai dasar. Persetan.

Aku tak sanggup untuk sekadar membayangkan apa saja yang kulalui hari ini, apalagi mendiktekannya pada Raeum. Melihat wajahku yang kacau setibanya di apartemen, dia tak banyak bicara. Raeum hanya mengikutiku ke kamar, masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat, lalu menyuruhku berendam. Aku tak mendebatnya, aku mengikuti permintaannya. Dia mengelus puncak kepalaku sebelum meninggalkanku di kamar mandi.

Aku ingin menangis, sekencang mungkin kalau bisa. Dan begitu selesai aku ingin bebanku, sakit hatiku semuanya menguap. Tidak bisakah kubuat aturannya seperti itu?

Kutenggelamkan kepalaku ke air beberapa detik, merasakan air hangat yang membuat wajahku terasa agak perih karena menangis sepanjang perjalanan pulang. Pengemudi taksi saja sampai tidak tahu harus berbuat apa.

Begitu mengangkat kepalaku lagi ke permukaan, terdengar suara gaduh samar-samar. Aku menduga bahwa itu Chanyeol, dia pasti mengejarku sampai ke apartemen. Suaranya jugalah yang memanggilku tadi.

“Sudah kubilang dia tidak mau bertemu denganmu,” kata suara Raeum yang terdengar semakin jelas. Kusadari kalau mereka berdua sudah berada di depan pintu kamar mandi.

Terdengar ketukan di pintu tiga kali. “Seoljin,” katanya kemudian. Aku benar, itu Chanyeol.

Alih-alih menyahut kutenggelamkan lagi kepalaku ke dalam air. Mari pikirkan ini (1) aku kesal karena dia tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan kesalahpahaman (2) dia persis berada di posisiku sebelumnya (3) apabila aku menghindarinya, apa bedanya aku dan dia? Dengan pertimbangan tersebut, kuputuskan kalau aku harus menemuinya. Apapun kemungkinannya.

“Aku akan menunggumu,” kata Chanyeol lagi. Beberapa detik kemudian suara pintu kamarku yang ditutup terdengar.

Kupersiapkan diri sembari membersihkan tubuh, wajah, dan rambutku selama kira-kira sepuluh menit. Lalu aku mengenakan jubah mandiku dan melangkah ke luar.

Pandanganku mendapati sosoknya. Chanyeol, duduk menunduk di tepi tempat tidurku. Pakaiannya basah, dia berantakan. Aku penasaran apakah di luar sedang hujan.

Pandangannya mencermatiku, ia tak mengalihkan perhatiannya begitu aku ke luar dari kamar mandi. Menghiraukannya, aku berjalan untuk membuka lemariku. Kukeluarkan pakaian yang ditinggalkannya di sini dan menyodorkannya padanya. Tak lupa kuraih handuk untuk mengeringkan dirinya.

Tak banyak bicara, ia mengikuti suruhanku dan bangkit, berjalan ke arah kamar mandi. Selagi menunggunya, aku berpakaian lalu duduk di depan meja riasku, mengeringkan rambut.

Beberapa menit kemudian Chanyeol ke luar. Ia duduk di atas ranjangku dan menatap lurus ke arahku lewat cermin. Aku berusaha menghindari kontak mata dengannya, kusibukkan diri mengarahkan pengering rambut ke sana ke mari sambil beberapa kali menyisir rambutku.

“Aku tidak mau pulang,” katanya.

Masih berusaha tak acuh, kujawab dia, “Aku juga tidak berniat menyuruhmu pulang.”

Aku mematikan pengering rambutku lalu berbalik, menghadap ke arahnya.

“Kita perlu bicara,” kataku.

Ya benar. Terlepas apapun yang bisa terjadi setelah pembicaraan kami, tapi ini harus diselesaikan.

 

TO BE CONTINUED

updated every saturday-sunday

  • follow wordpress pribadi nabil❤ slmnabil.wordpress.com

 

23 responses to “[7th] Snapshots by slmnabil

  1. haduhhhhh…. jongin kyak org bego deh s tau seoljin tunngn ma ceye… kyanya ni ff dh mw naik k konflik… bnr2 ngrendahin seoljin bgt tu ibuny ceye… msa tiba2 ktmu lnsg nyodorin surat prjnjian pranikah… haduhhh kya gk pny hrga dri bgt seoljin nih… mna d tndatngnin… tidaaakkkk…. skrg ceye maw gk ya dngrin aa yg mw seoljin jlzin…. bnr2 krisis dh nih…

  2. Iyasih kalo perjanjian pranikah itu emang wajar dikorea, tapi sbenernya ga juga ampe segitunyaa, kesannya emang ngrendahin pihak Seoljin, kaya takut kalo nantinya warisan bakal direbut Seoljin-_- Chanyeol jg lama2 ngbetein nihh huhhh, gada geraknya sama skali
    Tau ah, bete gue😥 wkwk
    Ditunggu next part ka, yg ini kependekan hehe *suka yg panjang wkwk
    Tengkyuu^^

  3. Konfliknya udah mulai terasa nih. Mamanya chanyeol tega banget ya. Trs semoga chanyeol-seoljin segera memeroleh pencerahan. Gatega liat mereka diem2an gitu.. Semoga hubungan mereka tetep beranjut..

    Okedeh ditunggu banget ya next chapternyaa

  4. Chanyeolnya tau ga sih kalo jongin itu mantanya seoljin?? Apa chanyeol ragu ya sama seoljin?? Atau dia mikirin surat pranikah itu??

  5. Kyknya ny.park gak setuju sama seoljin…chan lakuin ini supaya mrk jdi nikah…urusan harta belakangan…yg pnting ortu chan setuju dulu..

  6. Kenapa orang tua chanyeol harus ikut campur…
    Ini malah menjadi lebih rumit…
    Apalagi harus ada penjelasan tentang kejadian tadi…

  7. Aku kira konfliknya cm antara seoljin-chanyeol-jongin, ternyata ada emaknya yg gitu.. Ngeri banget sih emaknya…

  8. Keren 😍😍😍 tapi itu emaknya chanyeol kenapa sebwgitu nga sukanya sih? Ah aku kepo baru pertama baca 😐😐

  9. Arghhh
    gemes deh….
    cut nya di kondisi yg bener2 bikin penasaran …
    jadi makin penasaran banget nih.. but, oke … sabar.. sampe hari sabtu..

    susah emang ya mereka ini… seoljin emang salah dia mau jelasin, eh di kecewakan chan.. gimana lagi, chan emang gk pernah bisa bantah keluarga.. itu kelemahannya.(berharap suatu saat nanti bisa)
    akhirnya mereka jadi sama-sama salah…

    Semangat kak ! ditunggu kelanjutannya ^^

  10. ini jongin gk tau situasi banget yh, hehe emang dianya yg gak tahu
    jadi chan udah tahu kalo bosnya seoljin itu mantan terindahnya terus chanyeol ngambek dan langsung main setuju sama perjanjian pra nikah,
    hehe, mereka bertengkar lucu,

  11. Ga di drama-ga di ff, second lead male bikin gagal focus.

    Faktanya kalo scane sama jongin- pengennya seoljin sama jongin.
    Kalo scane sama chan pengennya sama chan, terus takut tiba2 perasaan seoljin ke jongin muncul lagi. Dia kan agak labil huuhu. Pokoknya-intinya aku nikmatin(?) Banget ff ini heeeee

  12. Aduh… Kok jdi rumit gitu ya urusannya. Padahal udah seneng seoljin mau nikah sama chanyeol. Dan bener kan klo jongin masih suka sama Seoljin. Modus tuh si jongin..
    Ditunggu next chap, kak…

  13. Wah kalo mertya ny kaya gtu mending sm jongin ajaa. Cy ny nyebelin juga ahhhh. Bkin hati seoljin cepat berpindah k jongin klo ky gy

  14. Baca chap ini sambil dengerin lagu “Down with your Love” entah kenapa kerasa fellnya😭. Apalagi perihal tanda tangan itu. Aku blm komen chap2 sebelumnya. Tapi aku akan coment, pasti. Soalnya bacanya Dini hari #gakmasukakal 😂

    • Haaai, Baeksena! Makasih loh udah nanya. Ini dilanjut kok, maaf ya dua minggu ngga update dan gaada kabar soalnya minggu minggu kemarin tuh pekan ulangan di sekolah. Awal november sudah kembali ke semula lagi kok🙂

      Maaf atas ketidaknyamanannya🙂 untuk semuanya juga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s