ALL I ASK [PART XVI] — by Neez

aias-copy

ALL I ASK

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho 

Lee Hana / OC || Baek Jinmi / OC || Kim Jongin / EXO Kai || Kim Jongdae / EXO Chen / Others

Alternative Universe, School Life, Family, Romance, Slight!Musical, Slight!Angst

PG || Chapters

 [PART XIV]

© neez

BETA : IMA

Beautiful Poster Cr : Kenssi at storyexo.wordpress.com

XVI

”Eyy, ini ulangtahunmu… tidak boleh cemberut begitu, Jaehee-ya.” Bujuk Hana sambil merapikan rambut gelombang Jaehee yang indah, dan sesekali berusaha melicinkan gaun malam Jaehee yang sudah tanpa cela sebetulnya. Sahabat Hana yang tengah berulangtahun itu mengenakan gaun malam indah berwarna putih, yang didesain langsung oleh ibunya sendiri. Gaun ini dibuat dengan konsep bidadari. Tanpa lengan, dengan renda yang menghiasi setiap tepinya, dan mengerut di bawah dada, kemudian jatuh mengembang hingga ke mata kaki. Sebagai tambahan, untuk memastikan bahwa putrinya adalah wanita tercantik malam hari ini, Haejin menyematkan sayap imitasi yang ditempelkan di bagian belakang gaun, yang membuat Jaehee benar-benar menjelma seperti bidadari.

   ”Huff… Eomma, Appa, dan Sehun benar-benar menguji kesabaranku, Hana-ya.” Jaehee menatap deretan pewarna bibir berbagai jenis yang ada di atas meja riasnya. ”Lagipula aku tidak pernah minta pesta ulangtahun yang meriah.”

   ”Hanya karena Joonmyun tidak bisa datang, kau tidak boleh lesu begitu, Jaehee-ya. Kau harus bahagia, masa kau tidak senang ada kami disini?” ledek Hana sambil pura-pura sedih. Gadis itu mengenakan gaun hitam ketat yang tidak mengekspos bagian tubuhnya sama sekali, namun gaun tersebut justru mengekspos bentuk tubuhnya, hingga ke bagian lekukan sekalipun.

   Jaehee cemberut. ”Tentu aku senang kalian datang, hanya saja… mereka melakukan ini bukan karena aku, Hana-ya. Aku tahu mereka melakukan ini untuk membuat kesal keluarga Kim, aku tahu itu!”

   ”Dwaesseo, tidak perlu dipikirkan. Yang harus kau pikirkan malam hari ini adalah bersenang-senang.” Ujar Hana sambil merangkul bahu sahabatnya. ”Nah, sekarang apa lagi yang kurang? Lipstik, eoh? Kau mau pakai lipstik warna apa? Atau mau pakai lipgloss?”

   Jaehee menatap deretan produk dihadapannya, dan wajahnya memerah mengingat hari dimana Joonmyun menciumnya karena lipgloss. Ah Joonmyun, batinnya lagi. Jaehee meraih lipgloss yang sama, yang ia kenakan di panggung saat memerankan Juliet.

   ”Kau mau pakai itu? Pakailah, kita harus segera turun sebentar lagi. Tamu sudah berdatangan, dan kau tidak boleh cemberut disini.”

   ”Iya, iya…” angguk Jaehee bosan sambil memutar tutup lipgloss berwarna merah muda bening tersebut, dan memulas bibirnya hati-hati agar tidak keluar dari bingkai bibirnya sendiri, atau ia akan menjadi Kylie Jenner dadakan.

   Hana kembali ke sisi Jaehee dan menyerahkan topeng putih cantik dengan aksen bulu, serta topeng hitam miliknya sendiri dengan gagang berwarna sama. ”Ini, satu-satunya yang boleh memakai putih hanya kau malam ini. Walau mengenakan topeng… tetap tersenyum, orang tetap akan tahu kalau kau sedang bad mood.”

   ”Kau tidak sedih Jongin tidak datang?”

   Hana tertawa mendengar pertanyaan Jaehee, dan balas menatap sahabatnya dalam-dalam sambil memiringkan kepalanya. Saat itulah ia benar-benar sadar, bahwa sahabatnya benar-benar telah jatuh cinta pada seorang Kim Joonmyun. Hana mengenal Jaehee sejak kecil, dan ia tahu gelagat Jaehee yang satu ini. Dulu, Jaehee memang tidak terbuka soal hubungannya dengan Sehun, Hana mengerti. Siapa yang mau dengan jujur mengatakan mengencani saudara sepupunya sendiri? Namun, Hana memperhatikan masa-masa Jaehee kala jatuh cinta pada Oh Sehun. Dan Hana heran, kenapa gadis ini senang sekali jatuh cinta pada pria yang salah?

   Tapi, setelah apa yang ia lalui dengan Kim Jongin beberapa pekan belakangan ini, Hana sedikit banyak memahami sudut pandang Jaehee, dan juga mulai membuka pikirannya mengenai seluruh perseteruan keluarga yang sudah diwariskan selama turun-temurun ini.

   Pertanyaan terbesar, bagi Hana, juga pasti bagi Jaehee, dan Joonmyun, juga Jongin adalah… apakah perseteruan ini benar-benar diperlukan? Memang dulu mungkin keluarga mereka berseteru, tetapi jika mereka melupakan masa lalu dan berdamai, bukankah hal ini akan jauh lebih indah?

   Mungkin, pikir Hana, dengan Jaehee dan Joonmyun yang saling jatuh cinta—ya, Hana yakin juga kalau Joonmyun jatuh cinta dengan Jaehee, karena yang benar saja, pria itu seperti bom waktu ketika melihat Sehun menempeli Jaehee, mereka berdua bisa mengakhiri seluruh perseteruan keluarga yang konyol ini. Dan mungkin lagi, Romeo dan Juliet di masa kini ini, tidak akan berakhir sedih.

   ”Kenapa malah tertawa?”

   Hana menggeleng, ”Jongin mengirimkan salam kok, dia minta maaf tidak dapat hadir. Kau mengundangnya, Jongdae, dan Joonmyun.”

   ”Mereka benar-benar tidak akan datang, ya?” tanya Jaehee, tanpa bisa menyembunyikan nada kecewa.

   ”Jaehee-ya, kau mau mereka dibunuh kalau melewati gerbang rumahmu?”

   ”Mereka tidak akan dibunuh, Hana-ya!”

   ”Aku tahu, tapi akan terjadi perseteruan lagi. Kau sendiri yang bilang kau tidak suka mendengar ayahmu mengatai Joonmyun padahal dia tidak melakukan apa pun.”

   Jaehee mendesah kecewa, ”Kau benar. Joonmyun bilang dia akan memberikanku kado. Humph,” dengusnya kesal, ”Sejak pagi, sejak tadi malam bahkan dia tidak menghubungiku dan mengucapkan selamat ulang tahun. Padahal kemarin kami sudah berbaikan di balkon lantai lima.” Gerutunya.

   ”Jinjja?” tanya Hana kaget. ”Dia belum mengucapkan selamat ulangtahun?” Jaehee mengangguk, menggembungkan pipinya. ”Mungkin dia sibuk. Tidak mungkin dia melupakan ulangtahunmu, tenang saja. Sekarang ayo kita turun.”

   Dengan digandeng Hana, Jaehee yang sudah memasang topeng putihnya keluar dari dalam kamarnya, bertemu dengan pelayan-pelayan rumahnya yang semuanya diberikan seragam khusus untuk pesta ulangtahun Jaehee malam ini, mereka pun mengenakan topeng dengan aksen-aksen berbeda. Semuanya tersenyum, dan memberikan selamat ulangtahun yang dibalas oleh ucapan terima kasih oleh Jaehee.

   Pesta ulangtahun Jaehee dilangsungkan di ruang tengah hingga ke ruang tamunya. Dua ruangan tersebut yang biasanya dipisahkan oleh lemari-lemari kaca, dan sofa-sofa besar, kini telah disulap menjadi layaknya ballroom hotel ternama, yang di dominasi dengan warna icy blue. Dari puncak tangga, Jaehee bisa melihat seluruh tamu undangan, yang didominasi oleh seluruh angkatan Hanlim, para guru, dan teman-teman bisnis ayahnya, semua tersebar di seluruh ruangan, menikmati hidangan yang disajikan, dan juga menikmati penampilan dari musisi-musisi top tanah air.

   ”Ah, itu Jaehee!”

   Jaehee menghela napas dalam-dalam, karena ini yang paling ia tidak suka dari acara-acara besar yang dibuat oleh orangtuanya. Ia akan dibawa dari satu kolega, ke kolega lainnya untuk diperkenalkan. Ibunya, yang mengenakan gaun sutra berwarna merah dan topeng berwarna emas menunggu sang ayah yang buru-buru naik ke tangga untuk menjemputnya.

   ”Aku akan bertemu denganmu di bawah, kulihat Jinmi, Hyesoo, dan Chanyeol sudah tiba.” Hana menepuk punggung Jaehee pelan, ”Tetap tersenyum.”

   ”Arasseo.”

   Hana melambai dan membungkuk pada ayah Jaehee, sebelum menuruni tangga dengan langkah anggun—yang tidak Hana sekali, sebetulnya. Sementara sang ayah menghampiri Jaehee dengan bangga.

   ”Kau cantik sekali, Nak.”

   Jaehee tertawa sumbang, ”Gomawo, Appa.”

   ”Kaja,” Ayahnya menawarkan lengannya, dan tepat saat itu juga sebuah lampu sorot menyinari wajah Jaehee hingga ia nyaris mengangkat tangannya untuk menghalau sinar tersebut. Ugh, Appa berlebihan. Pikirnya.

   Suara MC yang menggelegar menyetop suara musik yang bergema, ”Mari kita sambut yang berulangtahun malam hari ini, putri cantik dari Tuan Oh Donghae, Jaehee!” dan musik latar yang dimainkan saat Jaehee menuruni tangga sambil berpegangan dengan ayahnya adalah First Love, ya ampun. Mengapa oh mengapa ia membiarkan ayahnya menyusun pesta untuknya tanpa persetujuannya sama sekali, bahkan tanpa meminta pendapatnya sedikitpun. First Love?! Toh, para tamu undangan bertepuk tangan, dan Jaehee nyaris tersandung gaunnya sendiri karena gugup mendapati ratusan pasang mata menatap ke arahnya.

   ”Sebagai acara pembuka untuk malam ini, kami persilakan Tuan Oh dan Nona Jaehee untuk berdansa membuka pesta ulangtahun yang indah ini.” Sang MC melanjutkan begitu Jaehee dan Donghae sudah berdiri ditengah-tengah ruangan, masih dengan lampu sorot mengarah pada mereka.

   Sang ayah tersenyum dan menawarkan tangannya, dan Jaehee menghela napas namun toh tersentuh juga pada akhirnya. Biar bagaimana pun, ayahnya sukses membuatnya merasa seperti seorang putri (bidadari) hari ini. Cho Kyuhyun, salah seorang penyanyi yang disewa ayahnya untuk mengisi acara malam ini muncul diiringi tepuk tangan meriah, bersama penyanyi solo wanita Hweein, membawakan lagu A Whole New World.

   ”Jadi, apa mood-mu sudah kembali baik malam ini?” goda ayahnya saat memperhatikan putrinya mulai tersenyum sambil berdansa dengannya. Beberapa saat setelah mereka berputar, banyak pasangan-pasangan lain yang ikut turun, termasuk ibunya dan Sehun, ke lantai dansa.

   Jaehee berdecak, ”Jadi Appa tahu aku kesal dengan Appa?”

   ”Tentu Appa tahu. Kau selalu bersungut-sungut, dan pipimu berubah menjadi tembam jika kesal dengan Appa.” Kenang ayahnya akan masa kecil Jaehee dulu, ”Kau tidak akan bilang apa-apa, dan terus merajuk sampai Appa membelikanmu Barbie. Ya Tuhan, gadis pecinta barbie itu sekarang sudah delapanbelas tahun.”

   ”Ish.” Dengus Jaehee malu.

   Ayahnya tertawa lagi. ”Jadi, apa kau dan Sehun sudah berbaikan?”

   ”Appa…” keluh Jaehee. ”Dulu Appa bilang kami bersaudara, makanya kami tidak boleh berkencan! Kenapa Appa menarik kata-kata Appa sendiri, eoh?”

   Ayahnya terkekeh, ”Kalian boleh menikah, karena kalian tidak langsung berhubungan darah. Tapi dulu kalian masih kecil, Appa kira dengan kau bergaul dengan teman-teman lain kau akan mendapatkan pengganti Sehun, sampai akhirnya Appa merasa, Sehun mungkin yang terbaik untukmu.”

   “Appa, aku masih delapanbelas tahun. Masih panjang untuk memikirkan jodoh. Lagipula, aku sudah tidak menyukai Sehun lagi.”

   “Tapi Sehun masih menyukaimu. Kenapa tidak mencoba lagi?”

   Jaehee sebenarnya ingin mengonfrontasi maksud ayahnya melakukan semua ini, namun ini hari baik. Di depan banyak orang pula, maka ia memilih menelan kembali semua rasa penasaran dan marahnya, lalu memilih mengangkat bahu.

   ”May I have this dance?”

   Jaehee menoleh dan kaget, mendapati Yixing dalam balutan tuxedo hitam, kemeja putih, dan dasi kupu-kupu merah, juga mengenakan topeng. Donghae terkekeh dan menyerahkan tangan putrinya pada Yixing.

   ”Woah, Yixing-ah, kau tampan sekali…”

   Yixing terkekeh, ”Kau juga sangat cantik, Jaehee-ya… sangat-sangat cocok menjadi bidadari, aaahhh…” Yixing membawa Jaehee semakin ke tengah, dan tentu saja, Jaehee sedikit kalah langkah dengan salah satu dancer terbaik Hanlim.

   ”Gomawo.” Wajah Jaehee memerah. Apa dia memang segitu biasa-biasa saja jika di sekolah, sampai Yixing berkata seperti tadi? Bahkan Hana. Mereka berdansa cukup lama, hingga Park Chanyeol memberanikan diri untuk mengajaknya berdansa, dilanjutkan dengan Do Kyungsoo, dan Byun Baekhyun.

   Awalnya Jaehee menikmati, diajak berdansa oleh teman-teman yang ia kenal tentunya. Namun lama kelamaan, karena ia tidak terbiasa mengenakan sepatu bertumit tinggi, kakinya mulai terasa lelah. Hana yang berdiri bersama Jinmi dan Hyesoo memperhatikan gelagat tersebut, segera saja begitu pria terakhir selesai mengajak Jaehee berdansa, Hana memotong Oh Sehun yang sudah merapat ke arah sahabatnya itu.

   ”Gomawo,” Jaehee duduk di kursi kosong, di dekat Hyesoo dan Jinmi yang menyapanya dan mengucapkan selamat ulangtahun. Jaehee membalas ucapan mereka dengan penuh terima kasih, sambil memukul-mukul pahanya yang ikut terasa sakit.

   Hana membawakan segelas air putih untuk Jaehee dan gadis itu meminumnya hingga habis, sambil sesekali menonton Lee Ji Eun yang tengah bernyanyi di atas panggung. Ia sudah mulai bosan dengan pesta ini. Pesta ini benar-benar dibuat dengan gaya ayahnya, yang membosankan dan hanya memperhatikan status dan kalangan. Ayah ibunya juga hanya berbincang dengan kalangan teman bisnis, tidak peduli siapa-siapa saja teman putrinya, dan itu membuat Jaehee sebal lagi.

   ”Pesta ini sangat membosankan, geuchi?” tanya Jaehee merasa bersalah pada Jinmi dan Hyesoo, yang membelalak heran mendengar pertanyaannya. ”Sejujurnya aku tidak begitu suka pesta seperti ini. Maaf ya.”

   Jinmi terkekeh, ”Kenapa kau yang minta maaf? Kami menikmati pestanya kok, mungkin Hyesoo yang tidak karena dia terus menolak pria-pria yang mengajaknya berdansa.” Canda Jinmi, membuat wajah Hyesoo memerah, dan mendapatkan tawa berderai dari Hana serta Jaehee juga.

   ”Kau sendiri, kenapa menolak Chanyeol berdansa?!” balas Hyesoo.

   Jinmi menggeleng, ”Aku tidak bisa berdansa.”

   “Ah, semua orang bisa berdansa kok, Jinmi-ya… dance-mu bagus kemarin di studio, saat kita latihan,” ujar Hana mengedipkan matanya, ikut menggoda Jinmi membantu Hyesoo, sekaligus mengangkat mood Jaehee.

   Jinmi ternganga, mendapat serangan dari dua sisi. ”Yah, kau juga belum berdansa, Lee Hana! Kau menunggu siapa, eoh?”

   ”Aku tidak menunggu siapa-siapa!” seru Hana balik, mengangkat tangannya. ”Kau menunggu siapa memang?”

   ”Hyesoo menunggu siapa? Do Kyungsoo?”

   ”Anhi!”

   Dan mereka berempat tertawa bersama-sama. Jaehee mengangguk-angguk puas, setidaknya ketiga temannya ini membuatnya kembali bersemangat. Lama kelamaan, Park Chanyeol—yang Jaehee curigai menyukai Jinmi, karena selalu membuntuti Jinmi kemanapun, ikut bergabung setelah berdansa dengan adik kelas jurusan yang sama, saat melihat kelompok mereka, Do Kyungsoo dan Byun Baekhyun pun ikut bergabung.

   ”Aahhh, kenapa bidadari malah duduk disini dan tidak terbang? Mau menjemputku ke surga?” celotoh Byun Baekhyun saat menghampiri Jaehee, dan membuat mood Jaehee benar-benar terangkat. Semua ini, meski terasa asing di pesta yang dibuat ayahnya, Jaehee merasakan atmosfer sekolah. Atmosfer yang ia sukai, karena ia bersama orang-orang yang memiliki passion dan tekad yang sama, tanpa membedakan nama keluarganya.

   ”Sayang sekali tidak ada Jongdae, padahal kita bertiga bisa menyumbangkan lagu untukmu.” Celetuk Baekhyun yang membuat Kyungsoo, Chanyeol, bahkan Hyesoo memelototinya. Baekhyun buru-buru menekap mulutnya dan memandang sekeliling dengan takut.

   Jaehee tertawa, berusaha menenangkan. ”Gwenchana, Baekhyun. Aku tidak memiliki masalah dengan Jongdae. Juga dengan Jongin, juga dengan… Joonmyun.” suaranya sedikit memelan saat menyebutkan nama Joonmyun. ”Mereka juga temanku… itu masalah orangtuaku membenci keluarga mereka, tapi aku tak ada masalah. Kau tidak perlu sungkan menyebutkan nama mereka didepanku.”

   ”Yeoksi, kau memang gadis yang baik. Kukira dulu saat kita belum kenal, kau akan seperti anak chaebol pada umumnya, ternyata kau anak baik.”

   ”Baekhyun,” desis Kyungsoo malu.

   Jaehee tapi tertawa dan menggeleng, ”Gwenchana, oh iya… hanya tidak ada Minseok disini. Dia diundang, kan?”

   Hana mengangguk, ”Dia bilang dia diundang kok. Dia kan bukan klan Kim-nya Joonmyun?” bisik Hana memastikan.

   ”Hmm…”

   ”Jaehee-ya!”

   Semua menoleh, menatap ayah Jaehee yang melambaikan tangannya berusaha menarik perhatian putrinya. Semua temannya bisa mendengar Jaehee mendesah berat sebelum menggerutu, dan mengeluh. Untungnya teman-temannya menyemangati sehingga Jaehee berdiri dan berpesan agar mereka jangan pulang dulu, dan tetap menemaninya.

   Drrrtttt.

   Hana merasakan ponselnya bergetar di dalam clutch yang ia pegang. Pelan, ia menarik keluar ponsel tipisnya dan membaca pesan yang masuk itu. Kedua matanya melebar kaget, namun ia mendongak melihat wajah masam Jaehee yang dipaksa berdansa dengan Sehun.

   ”Hei, teman-teman… err, aku butuh pertolongan kalian.”

*        *        *

”Kalian tahu kan kalo ini gila?!”

   Jongin berdecak, ”Kau mau mengatakannya berapa kali, sih? Kami tahu ini gila! Makanya kami melakukannya, untukmu!”

   ”Aku masih tidak percaya,” Jongdae menggelengkan kepalanya di bangku depan, tepat di samping Jongin yang mengendarai mobil pribadinya sendiri, menuju rumah keluarga Oh, tempat pesta ulangtahun Jaehee diselenggarakan. ”Selama ini aku memang curiga, tapi aku… tidak pernah tahu kalau kau tahu soal si Romeo dan Julietnya ini.”

   Joonmyun mengacak rambutnya frustasi. Kapan dua sahabatnya ini mau mendengarkannya, sih? Malam ini, Jongdae dan Jongin datang ke kediamannya, dan memaksanya yang berbaring seharian di kamar untuk pergi keluar. Jika Joonmyun tahu, kalau Jongin—dalangnya, akan mengajaknya pergi ke rumah Jaehee, ia akan menolak keras. Tapi, kini tak ada jalan kembali, karena Jongin benar-benar membawa mobil dengan kecepatan gila-gilaan.

   ”Kau kira mereka bisa lancar darimana berakting di atas panggung jika tidak pernah berkomunikasi sebelumnya?” kekeh Jongin, ”Dan apa yang membuat Joonmyun uring-uringan semenjak kedatangan Oh Sehun itu, hmm?”

   Jongdae terbahak. ”Sudahlah, kau sudah tampan jangan acak terus rambutmu. Kita akan segera kesana, seperti Romeo!”

   “Ini gila! Romeo berbuat gila, dan aku tidak mau seperti Romeo!” desis Joonmyun. ”Kita bisa mati jika terlihat di gerbang rumah keluarga Oh, apa kalian lupa?!”

   ”Rileks, aku tahu apa yang akan kulakukan.” Jongin memelankan mobilnya begitu memasuki sebuah deretan pemukiman mewah, yang sisi kanan dan kirinya dipenuhi mobil-mobil mewah yang terparkir rapi. Banyak petugas keamanan dan polisi, yang berjaga-jaga, membiarkan mobil mereka lewat.

   ”Jongin-ah, tapi ada polisi!” seru Joonmyun cemas.

   Jongin melirik Jongdae, ”Buka dashboard, disitu ada tiga topeng. Pakai topengnya, dan ambilkan undangannya, palli!”

   ”Mwo?! Kita punya undangan?!”

   Jongin terkekeh, “Jaehee sudah bilang mengundang kita, bukan?”

   Jongdae membuka dashboard dan memgangsurkan topeng pada Joonmyun yang menerimanya dengan ragu-ragu. Jongin langsung memasang topeng perak di wajahnya, begitu juga dengan Jongdae.

   ”Joonmyun-ah, palli, mereka akan memeriksa mobil kita!” desis Jongdae sambil menoleh ke belakang.

   Joonmyun langsung memasangkan topeng hitam dengan aksen keemasan di wajahnya, tepat ketika mobil berhenti di gerbang tinggi mansion keluarga Oh. Seorang petugas keamanan berjas lengkap meminta Jongin menurunkan kaca mobil, dan mengulurkan tangannya meminta undangan. Jongin menyerahkan undangan berwarna icy blue yang diberikan Hana kepadanya kemarin.

   ”Oh, tamu teman dekat.” Gumam si petugas saat membaca isi undangan yang diberikan Jongin, “Silakan Tuan,” ia mempersilakan.

   Jongin mengangguk, menaikkan kaca jendelanya lagi dan membawa mobil maju ke lobi dimana petugas valet menunggu. Jongin memeriksa bayangan wajahnya di kaca, begitu juga dengan Jongdae, sambil merapikan tuxedo yang ia kenakan.

   ”Bersikap tenang saja.” ujar Jongin sambil mematikan mesin mobil dan mengantungi kuncinya, ”Temui Juliet-mu.” Kedip Jongin, melirik ke kursi belakang, dan mendapatkan decakan dari Joonmyun, serta tawa ringan dari Jongdae. ”Ingat, apa pun yang terjadi, jangan lepaskan topeng kalian, ara?”

   ”Siap!”

   Joonmyun pun tidak berniat melepaskan topeng tersebut. Setelah mobil Jongin benar-benar memasuki pekarangan rumah Jaehee yang luas, Joonmyun memutuskan untuk menikmati malam ini dan melihat si gadis yang berulangtahun. Ia tidak berani memikirkan untuk menghampiri gadis itu, karena pasti Jaehee akan bersama kedua orangtuanya. Joonmyun tidak ingin cari masalah, tidak pula ingin kedua orangtuanya mencari masalah dengan keluarga Oh, meski Jaehee memang mengundang mereka.

   ”Kita jangan terlihat gugup,” ujar Jongdae, padahal suaranya sendiri menyiratkan kegugupan.

   ”Iya, jadi kau juga jangan gugup!” desis Jongin sambil menepuk pundak Joonmyun, ”Ayo kita ke dalam.” Ajaknya, mengangguk pada Jongdae, dan bersamaan, keduanya mengapit Joonmyun masuk ke pintu ganda, yang dijaga dengan metal detector.

   Untunglah topeng yang diberikan Jongin tidak terbuat dari besi sehingga mereka bertiga tidak perlu melepaskan topeng tersebut, dan langsung dipersilakan ke dalam. Jongdae meletakkan kado untuk Jaehee di meja kayu jati besar yang disediakan memang untuk hadiah-hadiah. Setelah itu mereka benar-benar masuk ke area pesta.

   ”Wow,” decak Jongin datar. ”Ini pesta ulangtahun dengan rasa gala para orangtua.”

   Joonmyun tidak menjawab, matanya menelusuri wajah demi wajah yang tertutup topeng untuk mencari dimana Jaehee berada. Tak sulit memang, karena gadis itu tengah dibawa oleh ayahnya berkeliling ke relasi-relasi bisnis, yang wajahnya terkadang Joonmyun lihat jika ayahnya membawanya ke acara-acara penting, atau acara yang ayah-ibunya selenggarakan. Dan memang tidak sulit mencari sosok Jaehee yang bak bidadari diantara lautan manusia yang tak satu pun mengenakan warna putih.

   ”Itu teman-teman kita.” Tunjuk Jongdae ke salah satu sudut, mengenali teman-temannya meski seperti dirinya, semuanya mengenakan topeng dengan berbagai model. ”Apa kita harus kesana?”

   Joonmyun menggeleng. ”Kalau kita mendekat, kita bisa menarik perhatian orang.”

   ”Joonmyun-ah, mereka tidak akan curiga. Mereka akan mengira kita benar-benar teman Jaehee, karena berkumpul bersama mereka.” Jawab Jongdae, ”Jangan terlalu kaku begitu…”

   ”Andwae,” geleng Joonmyun menahan langkah Jongdae dan Jongin.

   Jongin menepuk bahu Joonmyun, ”Baiklah kalau kau tidak mau mendekat, kami akan kesana… kau mau disini saja, atau mau menyendiri sampai acara selesai tidak apa-apa. Yang penting selalu ingat ponsel, beritahu kami jika kau merasa ada yang mencurigaimu.” Joonmyun mengangguk, ia membiarkan Jongdae dan Jongin menembus kelompok adik-adik kelas yang bergerombol, mendekati teman-teman mereka.

   ”Jus anggur, Tuan?”

   Untung saja Joonmyun tidak memiliki penyakit jantung, tapi ia nyaris memaki pelayan yang menawarinya minuman itu karena telah mengagetkannya. Joonmyun mencoba tersenyum, dan meraih gelas tinggi diatas nampan. Joonmyun tahu mungkin ia hanya merasa paranoid saja, tapi ia memilih cari aman. Menaiki tangga spiral di sisi lain ruangan. Diatas jauh lebih sepi, hanya ada beberapa pelayan, dan beberapa tamu yang hilir mudik. Joonmyun memutuskan untuk berdiri dibalik pilar besar yang ada tepat disamping tangga spiral, dan mengawasi dari atas.

*        *        *

”Taruh saja kotaknya di kamar,” beritahu Sehun pada pelayan pribadi yang pamannya utus untuk melayaninya sejak ia tiba dari New York sepekan yang lalu. Ia kembali mengenakan topengnya, mengacak rambutnya sebelum keluar dari kamar, menyusuri koridor untuk kembali ke pesta. Ia masih belum berhasil mengajak Jaehee berdansa, karena gadis itu masih memancarkan aura permusuhan kepadanya.

   Sehun tidak mengerti. Ya, memang hubungan ‘terlarang’ mereka sudah berakhir, dan meski sempat marah padanya, Jaehee pada akhirnya bisa menerima keputusan bahwa mereka bersaudara, dan tidak bisa berkencan. Sehun tahu, Jaehee sempat marah padanya, karena ialah yang lebih dulu memutuskan tali asmara diantara mereka, dan mengacuhkan gadis itu. Semua itu karena permintaan sang paman. Memang mereka tidak langsung terikat tali saudara, meski masih dalam satu klan yang sama, sehingga sebenarnya diperbolehkan untuk berkencan atau bahkan menikah. Namun, menurut Donghae Samcheon, karena usia mereka masih sama-sama muda, menginginkan yang terbaik bagi putrinya, meminta agar Sehun memberikan kesempatan pada Jaehee untuk mencari pendamping yang tidak sedarah dengannya.

   Sehun menyanggupi, meski sedih kehilangan Jaehee, karena mereka begitu dekat, Sehun juga ingin memberikan kesempatan bagi Jaehee untuk mencari pendamping diluar sana, karena mungkin saja perasaan mereka ini hanya sepintas. Jaehee move on, dan Sehun masih menyukainya sampai sekarang.

   Sejujurnya ia heran kenapa Samcheon-nya membawanya kesini sebagai ’hadiah’ ulangtahun bagi Jaehee, karena sepertinya gadis itu tidak menganggapnya sebagai hadiah sama sekali. Jaehee seperti membencinya hingga ke urat nadinya, dan itu menyakiti Sehun. Apa salahnya? Memang ia yang memutuskan hubungan, tetapi Jaehee tahu itu atas permintaan ayahnya sendiri? Apa ia masih sakit hati? Tapi kemudian, Sehun memperhatikan. Ia tahu Jaehee semudah membalikan telapak tangannya, dan Jaehee serta teman-teman barunya juga terlihat tidak menutup-nutupi. Begitu juga peringatan dari Samcheon-nya, yang membuatnya tahu kenapa ia boleh kembali menjalin hubungan dengan Jaehee.

   Jaehee berteman dengan putra dari musuh keluarga mereka, Kim Joonmyun. Sehun yakin itu, dan saat ia hampir mengonfirmasinya dengan dua matanya sendiri saat Jaehee kabur dari studio kemarin, Lee Hana, sahabat Jaehee sendiri menahannya, begitu juga dengan Kim Jongin, yang Sehun ketahui adalah sepupu dari Kim Joonmyun sendiri. Sehun tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, disatu sisi, Jaehee tidak ingin berurusan lagi dengannya, dan disisi lain, Samcheon juga orangtuanya sendiri mendorongnya untuk kembali dengan gadis itu.

   Ia harus mengobservasi situasi yang ada sekarang, untuk menentukan langkah selanjutnya. Sehun tiba di ambang tangga. Pertama, malam ini ia harus mengajak gadis itu bicara empat mata terlebih dahulu, menyelesaikan masalah diantara mereka. Namun, sejak tadi Jaehee—dibantu Hana, berhasil menghindarinya saat ia mengajak berdansa.

   Baru saja Sehun hendak turun, matanya menangkap sosok pria yang berlari-lari kecil menaiki tangga, seolah tergesa-gesa. Matanya memicing, mengamati dari balik topeng peraknya untuk mengetahui siapa pria tersebut karena dari cara jalan hingga berlarinya saja terasa familiar. Dahi Sehun mengerut saat melihat pria itu memilih berdiri dibalik bayang-bayang pilar besar, sedikit tersembunyi, dan melihat ke bawah. Sehun menoleh ke bawah juga untuk memastikan siapa yang pria itu awasi, dan kedua matanya melebar.

   Pria itu mengawasi Jaehee yang tengah tertawa berdansa dengan seorang lelaki yang juga ia rasa familiar. Apakah itu teman sekolah…tunggu!

   Itu Kim Jongin, yang berdansa dengan Jaehee!!! Sehun menoleh kembali ke sosok pria yang masih berdiri dibelakang pilar, Sehun yakin pria itu tersenyum hangat melihat pemandangan dibawah sana!

   Kim Joonmyun! Apa yang ia lakukan disini?!

   Sehun buru-buru menuruni tangga spiral, dan berlari menyebrangi lantai dansa, tidak menyadari ia menabrak-nabrak beberapa orang dan mendekati pamannya, menarik lengan ayah dari Jaehee itu.

   ”Samcheon, ada yang ingin kukatakan!”

   ”Apa, Nak? Tidak bisa nanti saja? Kau tidak lihat, ini ada tamu dari jauh…” Donghae berusaha menolak dengan halus.

   Sehun menghela napas dengan kasar, ”Tidak bisa, Samcheon harus…” namun Pamannya sudah melambai dan pergi dari hadapannya, membawa dua tamunya beranjak ke lounge VVIP untuk dijamu. ”Samcheon, ada keluarga Kim disini.” Bisiknya pelan. Ia menoleh ke arah Jaehee yang masih tertawa dalam pelukan Kim Jongin di lantai dansa, dan melirik ke atas, ke arah Joonmyun yang masih menatap gadis itu.

   ”Kenapa mereka berani masuk kesini? Jaehee pasti tahu kalau ada Kim yang menyusup kesini… tapi, dia malah bergaul dengan mereka. Kenapa?” gumam Sehun sambil mengepalkan tangannya, ia melangkah mendekati Jongin dan Jaehee, siap memisahkan mereka berdua saat tiba-tiba saja tangannya ditarik, dan entah bagaimana, seorang gadis sudah ada dipelukannya.

   Dan ia bukan Jaehee.

   Gadis itu meletakkan tangannya di pinggulnya, dan satu tangan lain menggengam erat tangan gadis itu, dan mereka mulai berdansa. Kedua mata Sehun melebar dengan kaget! Baru ia hendak berseru, tapi gadis itu mendesis dan menginjak kakinya.

   ”Dansa saja!”

   ”Tapi… hei!” seru Sehun menoleh, mencari Jaehee dan Kim Jongin. Tapi gadis itu sudah raib, ”Apa yang kau lakukan?”

   ”Berdansa, duh!”

   Sehun berusaha membebaskan tangannya dari cengkraman ganas gadis di hadapannya, Sehun dibawa berputar semakin jauh, dan semakin jauh. Ia hanya sempat melihat sekilas ekor gaun putih Jaehee yang menghilang ke arah samping, namun cakar gadis yang ada dalam pelukannya ini tetap tidak mampu ia lepaskan.

   ”Yah, lepaskan!”

   ”Nope, tidak akan kulepaskan.” Geleng gadis itu keras kepala.

   ”Kalau tidak aku akan teriak!” ancam Sehun, ia tahu itu ancaman kacangan yang biasa dipakai seorang wanita, dan gadis ini pun menertawainya.

   ”Kau yakin? Akan mengancamku dengan berteriak? Oke, cobalah… suara nenek-nenekmu laporkan aku… aku akan lihat siapa yang orang-orang percayai melakukan pelecehan seksual. Oh Sehun atau aku?”

   Sehun benar-benar memberikan gadis yang memeluknya ini tatapan membunuh, tapi gadis itu hanya tersenyum. Saat ia tersenyum, barulah Sehun mengenalinya. Gadis ini adalah salah satu orang yang mencarinya di sekolah. Teman Jaehee.

   Ji Hyesoo.

   ”Yah, lepaskan aku! Aku punya urusan yang harus kubereskan.”

   Hyesoo menggeleng. ”Kau harus berdansa bersamaku.”

   ”Wae? Segitu inginnya kau berdansa denganku? Atau karena kau mau menyembunyikan teman-temanmu yang menyusup ke pesta ini?” balas Sehun dengan dingin. Dua mata Hyesoo dibalik topengnya melebar dengan kaget, ”Dengar, Ji Hyesoo, lepaskan aku sekarang atau kau akan ikut terkena kemurkaan pamanku.”

   Hyesoo tidak bergeming. ”Tidak bisa! Teman-teman Kim yang datang kesini atas undangan Jaehee. Kau tidak boleh mengekspos mereka!”

   ”Jaehee?” dengus Sehun.

   ”Ya, mereka kesini atas undangan Jaehee.” Hyesoo melepaskan tangan Sehun saat lagu berhenti mengalun dan membungkuk. ”Tidak seperti kau yang tidak diharapkan di hari ulangtahunnya. Jaehee mengharapkan Jongin, Jongdae, dan Joonmyun datang. Ekspos mereka jika kau memang tidak peduli pada gadis itu.”

   Sehun berdecak. ”Apa yang mereka lakukan disini?”

   ”Untuk merayakan ulangtahun Jaehee.” Hyesoo mengangkat bahu.

   ”Sampai membahayakan nyawa mereka sendiri?” tanya Sehun sambil mengangkat sebelah alisnya. ”Dimana mereka sekarang?”

   Hyesoo tersenyum sambil melipat kedua tangannya. ”Ini rumah pamanmu, kau juga menginap disini jika tebakanku benar. Kenapa kau malah tanya padaku?”

   ”Menyebalkan. Minggir!”

   Hyesoo memberi jalan pada Sehun yang langsung berlari ke arah terakhir ia melihat Jaehee pergi. Begitu Sehun pergi, Hyesoo mendesah berat dan memukul kepalanya sendiri karena tidak berhasil menahan Sehun jauh lebih lama. Ia mengangkat gaunnya sedikit tinggi sebelum menyusul Sehun, berdoa agar kejutan untuk Jaehee tidak rusak.

*        *        *

”Ah, gomawo, Jongdae-ya… sudah membawaku keluar dari dalam. Aku tidak menyangka aku akan merasa tercekik di pesta ulangtahunku sendiri.”

   Jongdae tersenyum, mulutnya membentuk lengkungan khas yang semakin membuat pria itu terlihat tampan. ”Aku tahu rasanya. Kita berasal dari tipe-tipe keluarga yang mirip. Tapi… ini keren lho, Jaehee-ya. Aku tidak punya kebun anggur di rumahku sendiri, dan udara disini menjadi nyaman karenanya…”

   ”Ne, tempat ini sering kugunakan untuk bermain-main dulu waktu masih kecil. Sekarang… sepertinya semenjak besar aku lebih senang bermain di dalam rumah, dan lupa rasanya kebun anggur ini bagaimana… johta,” Jaehee mendahului Jongdae berjalan ke dalam gazebo putih berhiaskan lampu-lampu kecil yang dibentuk seperti sulur-sulur tanaman melingkari pilar-pilar gazebo.

   Jongdae mendadak berhenti di tempatnya begitu Jaehee sudah duduk di kursi gazebo. ”Ah, Jaehee-ya… ponselku tertinggal di kantung Jongin. Aku ambil sebentar, oke?”

   ”Eoh?”

   Jongdae menambahkan, ”Sayang sekali kalau tidak ambil selca dengan gadis yang berulangtahun bukan?” kekehnya, membuat Jaehee ikut tertawa dan mengangguk-angguk mempersilakan Jongdae untuk kembali ke dalam rumahnya. Toh ia senang bisa pergi dari pesta yang sama sekali tidak seperti pesta, melainkan acara membosankan dimana para chaebol saling mengeratkan koneksi antara satu sama lain, atau mungkin acara pamer kekuasaan.

   Yang penting tidak ada Oh Sehun, batin Jaehee sambil menatap ke arah kebun yang nampak indah ditimpa cahaya bulan dan lampu.

   ”Hello Angel~”

   Jaehee yang tengah menatap kebun anggur, tidak mempercayai apa yang telinganya dengar barusan. Perlahan-lahan, ia menolehkan wajahnya, karena takut apa yang ia dengar tidak sama dengan yang ia harapkan. Tapi, tidak mungkin ia salah mengenali suara ini, kan?

   Berdiri di depannya, seorang pria dengan stelan tuxedo hitam, sepatu senada mengkilat, dan tentunya topeng yang tidak menyembunyikan dua mata cokelat hangat favorit Jaehee. Senyum kecil itu sangat khas, dan Jaehee tidak mungkin salah, kecuali saat ini ia sedang berhalusinasi. Tapi…

   ”J…Joon…”

   Joonmyun meletakkan telunjuknya di permukaan bibir gadis itu, saat Jaehee berdiri dan hendak mengonfirmasi sendiri identitas pria di hadapannya ini. Dengan main-main pria itu berkata, ”Bagaimana kalau malam ini… err, kau tidak perlu menyebut namaku?”

   ”Ah, mwoya…” Jaehee menghentakkan kakinya seperti anak kecil sambil memukul-mukul bahu Joonmyun berpura-pura kesal. Joonmyun tetap bisa melihat bahwa Jaehee tidak bisa menyembunyikan senyumnya, dan matanya yang bersinar saat melihat kehadirannya meskipun mulutnya mengomel.

   Joonmyun memundurkan tubuhnya dan mengangkat alisnya, beserta kedua tangannya dan bertanya, ”Apa? Kau tidak suka aku disini? Aku pulang saja?” godanya.

   ”Ahhhh kau jahat sekali! Katanya kau tidak mau datang!” Jaehee masih memukul-mukul bahu Joonmyun dengan gemas, meski sebenarnya untuk kedua kalinya, setelah melihat teman-temannya yang lain datang, ia merasa senang. Bahkan jaaauuuuuuhhhhh lebih senang lagi, jantungnya berdebar-debar, dan wajahnya memanas. Diberkatilah topeng yang menutupi setengah wajahnya dan riasan dengan perona pipi yang sedikit mengkamuflase rona merah di pipinya.

   Joonmyun menahan kedua pergelangan tangan Jaehee, yang semakin lama semakin sadis juga memukulinya, dan dengan cekatan meletakkannya untuk mengalungi lehernya, Joonmyun sendiri menarik gadis itu ke dalam dekapannya dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Jaehee.

   ”Tapi aku sudah disini sekarang, suka atau tidak suka kau harus senang. Kau tahu kan, aku mempertaruhkan nyawaku supaya aku bisa berada disini sekarang?”

   Jaehee mengerucutkan bibinya.

   ”Yah, kau harus senang aku ada disini,” Joonmyun dengan main-main menggoyangkan tubuhnya dan Jaehee ke kanan dan ke kiri.

   ”Ahahahaha,” akhirnya Jaehee memutuskan berhenti berpura-pura sebal, dan tertawa sambil meletakkan kepalanya di dada Joonmyun. ”Tentu aku senang. Kukira hanya Jongin dan Jongdae yang datang… padahal mereka mau datang, tapi kenapa kau tidak mau datang? Uh!”

   ”Aku datang tapi kan…”

   ”Ne, gomawo. Maaf pestanya membosankan sekali…”

   ”Keurae? Tapi kulihat kau sangat menikmati pestanya… berdansa dengan banyak pria-pria tampan…”

   Jaehee berusaha menahan tawanya, namun mengangguk-angguk, masih enggan mengangkat kepalanya, ”Hanya bagian itu yang menyenangkan, bagian lain tidak.”

   “Yah!” omel Joonmyun.

   Jaehee tertawa lagi. ”Wae? Kau kan bilang sendiri, aku menikmati pestanya karena berdansa dengan pria-pria tampan.”

   ”Tsk, gadis ini…”

   ”Wae?”

   ”Kalau begitu sana… berdansa lagi, dengan pria-pria tampan, eoh?”

   ”Ah jangan begitu,” Jaehee ganti yang mengeratkan pelukannya sambil tertawa-tawa geli. Joonmyun juga ikut tertawa bersamanya, dan membenamkan wajahnya pada rambut bergelombang gadis itu.

   Perlahan, ia bergerak-gerak, membawa Jaehee berdansa tanpa musik. Ia tidak mau kalah dengan para pria tampan yang tadi disebut Jaehee membuatnya senang, namun ia juga tidak berani mengambil resiko untuk berdansa dengan gadis itu di dalam sana. Jadi, biarlah meski tanpa musik, mereka bisa berdansa, di ulangtahun Jaehee ini.

   Jaehee yang mengerti maksud pria yang tengah memeluknya ini, mengangkat kepalanya, sambil tersenyum lembut.

   Sayup-sayup, mereka bisa mendengar suara musik. Seperti gitar akustik atau semi-listrik, menyenandungkan sebuah intro lagu yang rasanya familiar di telinga keduanya. Joonmyun menatap Jaehee heran, begitu pula sebaliknya, mereka menoleh ke kanan dan ke kiri, hingga menemukan dua orang yang berjalan membawa gitar. Keduanya melepaskan diri dari satu sama lain.

   Park Chanyeol dan Zhang Yixing.

The strands in your eyes that color them wonderful

Stop me and steal my breath

Emeralds from mountains and thrust towards the sky

Never revealing their depth

   Kim Jongdae, tanpa mikrofon, tanpa pengeras suara apa pun dengan lantang bernyanyi, menyuarakan suara indahnya pada dunia. Ia berdiri, bersama Byun Baekhyun, dan Do Kyungsoo menatap ke dalam gazebo, lagi-lagi membuat Jaehee dan Joonmyun terkejut.

Tell me that we belong together

Dress it up with the trappings of love

I’ll be captivated, I’ll hang from your lips

Instead of the gallows of heartache that hang from above

   Kali ini Byun Baekhyun yang ikut menyumbang suaranya, bernyanyi dengan gaya main-mainnya yang khas, namun tetap tidak melupakan suara indahnya yang sama jernih dan merdunya dengan suara Jongdae. Saat itulah Joonmyun berbalik dan kali ini, seperti sebagaimana harusnya, seperti bagaimana para pria-pria mengajak gadisnya berdansa, ia berdeham dan mengulurkan tangannya pada Jaehee.

I’ll be your cryin’ shoulder

I’ll be love suicide

I’ll be better when I’m older

I’ll be the greatest fan of your life

   Ketiganya, dengan Do Kyungsoo membagi tiga suara mereka dengan harmonisasi yang indah menyanyikan bagian refrain lagu milik Edwin McCain yang berjudul I’ll Be tersebut. Lagu ini, benar-benar mengingatkan memori masa kecil Jaehee dan Joonmyun, saat menyaksikan film adaptasi dongeng klasik Cinderella Story. Dimana, Chad Michael Murray mengajak Hillary Duff berdansa.

   ”WOOHOOOO…”

   ”JALHANDA, ROMEO!”

   “PPOPPO HAE, PPOPPOHAE, PPOPPOHAE…”

   Jaehee dengan kebingungan menoleh dan melihat banyak teman-temannya, yang tergabung dalam tim perwakilan sekolah, kecuali Seolhyun dan Minseok, juga Sehun, ternyata sejak tadi bersembunyi dibalik tanaman-tanaman. Mereka semua masih mengenakan topeng-topeng mereka.

   ”Yah…” baru saja Jaehee hendak mengomel, wajahnya ia yakini sudah melampaui kapasitas perona pipinya. Dan ia mendengar Joonmyun justru terkekeh, juga bersemu-semu mendengar sorakan teman-teman mereka. Melihat itu, Jaehee jadi menggigit bibirnya sendiri, berusaha menahan kebahagiaannya.

   ”Ayo, Romeo, tunggu apa lagi, sih?”

   ”Ppoppo hae, ppoppo hae…”

   Dan Joonmyun menggelengkan kepalanya tidak percaya, ”Ne, saengilchukae… My Juliet.” Dan Joonmyun mengecup kening Jaehee dalam-dalam sambil memejamkan matanya, diiringi suara indah trio Jongdae, Baekhyun, Kyungsoo, dan juga sorakan teman-teman lainnya.

-TAMAT GAK NIH? WKWKWKWKWK-

 

Lagu yang dinyanyiin sama Jongdae – Baekhyun – Kyungsoo, lagu dari Edwim McCain – I’ll Be, yang mungkin angkatan 90-an mungkin familiar sama lagu ini kalau pernah nonton film Cinderella Story-nya Chad Michael Murray dan Hillary Duff.

Aku mau curhat,

Aku berusaha semampuku buat update tiap minggu, paling kalau ada hal-hal diluar dugaan, aku gak bisa update, tapi tetep kepikiran karena aku udah biasa rutin update FF. I hate to say this over and over again, tapi sider bikin aku mulai gak pede. Serius deh. Alih-alih marah, aku bertanya ulang ke diri aku sendiri… apa mungkin FF yang aku buat udah gak menarik lagi? Kemaren sempet baca beberapa komen bilang FF ini ngebosenin dan gak seseru yang biasa aku buat, wah itu semacam pecutan keras buat aku. Aku akuin style ini emang baru pertamakali aku bikin, genre fluff begini pun bukan aku banget sebenernya, tapi I’ll do my best untuk bikin cerita AIA ini. Maaf ya kalau memang gak seseru ff aku yang biasanya, dan maaf juga kalau ngebosenin. Aku masih bersyukur kok masih banyak yang mau komenin, dan aku akan berusaha lebih baik lagi supaya gak mengecewakan kalian yang tetep bertahan baca ^^

Oke, selesai curhatnya… sampai ketemu di part 17, yang masih mau baca, semangat dan support buat aku, cukup tinggalin komentar kalian apa pun itu, saran atau kritik… aku akan berusaha menerimanya dengan baik, dan jadi author yang lebih baik lagi.

bye yeom,

XoXo

Neez,

64 responses to “ALL I ASK [PART XVI] — by Neez

  1. Hola holaaa. Ka neez jgn patah semangat. Ceritanya makin seru kata siapa ngebosenin? Semangat terus kaa..ffnya udh paling di nanti2, selalu di tunggu pokonya 😍
    ahhhh. Apa ini bener2 kado terbaik deh buat jaehee. Jongin + jongdae jjang!! Kalian emang terbaixx.. yaa meskipun mempertaruhkan nyawa apa sih yg engga buat sahabat.. lgian di pesta ada hana kan bang..
    cie junmyeon ciee bisa dansa sama jaehee di hari ultahnya haha😄 gimana bang senengnyaa?? Jaehee jg ciee dapet kado special. Selamat deh buat kalian berduaa. Moga aja cepet pada peka yaa. Biar lanjut ga cuman jd temen ajaa wkwk jd romeo dan juliet beneran tp dgn happy ending mogaa ajaa..
    Jadi ini ceritanya temen2 yg lain udh pd tau tentang jaehee junmyeon ohhh astaga.. mereka pd dukung yaa..
    tp oh sehun arghhh bikin kesel udh sehun deportasi ajaa balik ke asal. Biar jaehee bahagia sama sang pujaan hatinya.
    Apa sehun mau laporin? Please bang jgn. Nooo.. kalo ketauan paman oh udh deh tamat riwayat junmyeon dan dua konconyaa..
    Apa km ga seneng bang liat jaehee bahagia.. udh lepasin jaehee kan masih ada hyesoo haha jd ngakak sendiri sama tingkah hyesoo. Udh cocok sama sehun 😆
    Ahh sekian bacotnyaa. Empat jempol deh buat ka neez. Di tunggu selalu karya mu selanjutnya. Semangat terus good luck kaa 😘😀

  2. jumyun uda braninya sekarangg blak blak.an d dpan temen2nyaaa. trus kapan d resmiinnyaaa jun hahaha . dtgguu kak nisy klanjutannyaa.
    duh aku kmren ud komen tapi ga tau komenku masuk apa engga. jd aku komen lg hehehe

  3. AAKKKKAAAAA SOO SWEET BANGETTT YAWLAAA JAEHEE SAMA JOONMYEON😭😭😭 demi apapun kenapa chap ini berhasil bikin aku tambah tambah envy sama jaehe😄 secara kak neez berhasil ngebuat aku ngerasa ada didalam pesta itu dan sumpah apalagi pas bagian jaehee joonmyeon nya kerasa banget😭 so sweet banget mereka😭 dan akhirnya ada yg bisa ngertiin perasaan jaehee juga, hanna beneran jatuh cinta sama jongin. oh iya, aku serius gabisa ngelupain part terakhir ituu wkwk…
    sedih baca curhatan kak neez diatas. aku ngerasa ff ini bagus dan ff nya tuh bermutu banget untuk dibaca. tapi kenapa masih ada yg komen begitu😭
    pokoknya kak neez harus tetep semangat lanjutin AIA ini hehe
    fighting kak!!!💪💪

  4. semangat ya kak neez, apapun yg terjadi aku tetep dukung kakak!!!! Kata siapa ngeboseninnnnn??? malah dengan ada cerita genre fluff gini bikin ff kak neez lebih variatif. mungkin beberapa ada yg ngerasa alurnya agak lambat tp aku sih gak masalah selama banyak junhee momentnya hihi
    btw ngebayangin joonmyun pak topeng itu………………kyaaaaaaaa~~~

  5. Ff nya karen kok menurut ku ngga ngebosenin juga. Penyampaian dan gaya tulisan kakak udah kaya novel-novel gituuu suka bangeeettt 💞💞
    Jangan ditanggepin kak yg kaya gituu itu
    Tetep semangat ajaaa aku nunggu banget ff nya kak neez 💞💞
    Uwwwwwwww 😍😍😍😍😍
    Bacanya sambil senyum-senyum sendiri :))) bayangin mereka dansa bareng gitu yaampun betapa manisnya merekaaa :3
    Alur lambat kalo ceritanya jelas juga keren kok kak, daripada alur cepet tapi cerita ngelantur kemana-mana .-.
    Pokoknya semangat terus kak neez 💞💞💞

  6. yeaaay ternyata junmyeon dtng juga ke pesta ultah nya jae hee
    pasti jae hee seneng bgt deh
    moga aja joonmyeon , jongdae sm jong in g sampai ketauan sm keluarga oh
    makin seruuu critanya dan bikin penasaran sm chap selanjutnya

  7. Semangat Ka Neez! menurutku AIA ini ga ngebosenin. Seru bnaget, jarang-jarang aku nemuin cerita yg alurnya pelan tapi pasti. mungkin orang-orang kurang gereget sama momen keduanya. Tapi ini kan hak kaka mau bikin ceritanya kayak gimana. Aku ngerasa ff ini keren ka. Karena kaka juga pake gaya bahasa yang aku suka (y) Aku bakalan tetep jadi pembaca setia AIA😀 Jangan patah semangat ka!!

  8. cerita bagus gak ngebosenin kok yang bilang bosen mgkn karna gak suka genrenya apalagi ff ini slow update
    semangat authornim🙂

  9. Kak neez jangan gitu kak neez , sumpah cerita kak neez keren harus semangat kak , apalagi juga jarang ff cast nya joonmyun

    Di siniiiiii so sweeet astagaahhh aku sempettt senyum senyum sendiri pas bagian ny joonmyun sama jaehee

  10. K jangan pesimis ya.. Aku juga gak tahu knpa dgn readers skrng.. Tapi klo dri aku yg kuliah mmng sulit just baca ff sesering dulu.. Pokok nya k. Neez ttap nulis ya..
    Dn Gila k part in bkin bapar aku tmbah parah.. Gak kbyng kedpan hbungan mrka kyk gmana.. Nnggu aja de..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s