[6/6] Break My Fall : Break Our Fall

break-my-fall2

by Tamiko

Chaptered || Romance & Hurt/Comfort || PG-17

Cast :  Jooyoung (OC), Jaehyun (NCT), Sehun (EXO)

Support : Jennie (Blackpink), Doyoung (NCT), Kai (EXO) 

Disclaimer : I don’t own any of the cast beside the OC

No summer ever came back, and no two summers ever were alike. Times change, and people change; and if our hearts do not change as readily, so much the worse for us.- Nathaniel Hawthorne, The Blithedale Romance

Summary : Jooyoung jatuh cinta sebanyak tiga kali dalam hidupnya. Pada akhirnya dia hanya mendambakan kebahagiaan bersama salah satu dari ketiganya. Karena itu dia wajib memantapkan hati.

PreviousSummer of 17 || Surrogate || Devoted To You || Her Other First Thing || 9 Letter and 1

Warning : Suuuuper long chapter for the finalization but please enjoy it anyway😀

ℑζ

“Aku akan memberitahumu sebuah rahasia,” Jooyoung berbicara lambat sehabis menyesap bubble teanya.

Sehun yang duduk di hadapannya dengan sebatang rokok menempel di sela jemari hanya menaikkan alis, menyuruh Jooyoung melanjutkan dengan gesture sederhananya.

“Surat-surat yang kau kirimkan dulu…” Kemabli Jooyoung berbicara, dengan sengaja menggantung kalimatnya.

“Hm?”

“Aku baru saja membaca surat-surat yang kau kirimkan sepuluh tahun lalu.”

Sehun terdiam sejenak. Tampak berpikir. Kemudian dia meletakkan rokoknya yang sudah terbakar mendekati ujung filternya di atas asbak, meluruskan duduk dan menatap tepat ke mata Jooyoung. “Jadi dulu kau benar-benar tidak membacanya?”

Pertanyaan Sehun dibalas oleh Jooyoung dengan menggeleng lemah. Merasa sedikit bersalah dan malu di waktu yang sama.

“Lalu?” Sehun bertanya lagi.

Jooyoung tertegun. Kemudian mengernyitkan kening dan mengulang pertanyaan lelaki itu. “Lalu?”

“Bagaimana pendapatmu?”

“Aku…” Jooyoung berhenti. Mencoba memikirkan kalimat yang tepat. Pada akhirnya dia memilih untuk berbicara dengan hati-hati, “Tidak pernah tahu kalau perasaanmu seperti itu.”

Kemudian keduanya sama-sama terdiam. Jooyoung meraih gelas bubble tea yang sempat terlupakan dan menyeruput isinya. Menghindari mata Sehun. Sementara Sehun mengeluarkan kotak Dunhill dari saku dan mengambil satu batang lain untuk dihisap. Lelaki itu sama sekali tidak membalas perkataan Jooyoung. Merenungkan bagaimana dulu dia berusaha terlalu keras sedang Jooyoung dengan keras kepala menutup hati. Jooyoung benar-benar gadis yang buruk.

Hanya keheningan janggal yang mengisi sore mereka di kedai bubble tea setelah itu. Berputar-putar di sekitar atmosfer yang dipenuhi asap rokok Sehun. Dan ini terasa begitu canggung. Sama seperti tiap percakapan mereka lainnya.

Sehingga Jooyoung terpaksa merasa perlu untuk membuka suara lagi demi membunuh kecanggungan itu, “Berhentilah merokok. Mereka tidak baik untuk kesehatanmu.”

Mendengar perkataan Jooyoung yang disampaikan dengan serius seraya melotot kepada batang kanker di sela jemarinya membuat Sehun tertawa. Dia kembali menghisap rokoknya sebelum berkata, “Kau tahu apa yang lebih buruk untuk kesehatanku?”

“Apa?”

“Kau.”

.

.

Jennie memandang kepada Jooyoung dengan ekspresi menghakimi yang selalu dia gunakan setiap sahabatnya melakukan hal bodoh. Kedua tangan di letakkan di pinggang dan dahi dikernyitkan. “Kau ini bodoh atau apa?”

Yang ditanyai malah menundukkan kepala dan memandangi kopi hitam yang sudah setengah dingin di gelasnya. Terlalu takut untuk membalas tatapan Jennie. Dia tahu temannya itu marah. Dan dia tahu kalau dia pantas mendapat amukan dari teman yang dimaksud.

Tidak mendapat respon dari Jooyoung, Jennie mengerang frustasi. Menarik kursi yang berhadapan dengan gadis itu dan meletakkan pantatnya di atas kursi itu dengan gerak berlebihan. “Apa kau betul-betul sudah gila?” kembali dia bertanya.

Jooyoung tetap bergeming. Sibuk mengocok kopinya yang sebenarnya sudah tercampur sempurna. Hanya menjadi pendistraksi sementara demi menghindari pembicaraan ini dengan Jennie. Jooyoung sama sekali tidak ingin membahasnya.

“Ini ketiga kalinya dalam minggu ini kau keluar berdua dengan Sehun,” kata jennie lagi sambil menatap Jooyoung nyalang. Tidak peduli gadis itu tidak melihatnya, Jennie betul-betul sudah tidak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya. Sebenarnya apa yang ada di pikiran Jooyoung. “Kau itu sebenarnya mau apa sih?”

Jooyoung masih menolak menjawab, mengunci bibirnya dengan rapat dan tetap bersikeras mengalihkan perhatian kepada gelas kopinya sampai Jennie berbicara kasar, “Jawab aku Kim Jooyoung!”

Tanpa perlu mengangkat kepala untuk melihat langsung, Jooyoung tahu tatapan ingin membunuh sedang ditujukan oleh Jennie untuknya sekarang. Tapi itu tidak akan memberi pengaruh apapun. Memangnya apa yang harus dijawabnya? Bagaimana cara Jooyoung membalas pertanyaan yang diberikan oleh sahabatnya itu jika dia sendiri sama sekali tidak tahu jawabannya. Dia sudah tidak tahu lagi apa yang diinginkannya. Jaehyun, Sehun, atau mungkin Kai.

Jadi dalam kebingungannya Jooyoung berbicara sepelan mungkin, “Tidak tahu Jen, sebenarnya apa yang sedang terjadi?”

“Yang sedang terjadi?” Jennie membalas masih dengan emosi tinggi dalam suaranya. “Yang sedang terjadi adalah kau membawa hubunganmu sendiri menuju kehancuran hanya untuk masa lalu. Itu yang sedang terjadi, dasar idiot.”

Jika Jennie mengatakan itu pada hari biasa, pasti Jooyoung akan membalasnya dengan marah karena memanggilnya idiot. Tapi pada kondisi seperti ini, dia bahkan tidak bisa memikiran balasan tepat untuk perkataan sahabatnya. Akhir-akhir ini dia terlalu sering gagal menemukan balasan tepat untuk perkataan siapa pun dan itu membuatnya frustasi.

“Apa yang harus kulakukan?”

Mendengar pertanyaan Jooyoung yang disuarakan dengan gelisah membuat Jennie memutar bola mata. “Yang paling tepat untuk kau lakukan sekarang adalah menjauh dari Sehun. Fokus kepada Jaehyun. Seriously, Jaehyun tidak pantas menerima omong kosong ini darimu maupun saudaranya.”

Jooyoung meringis mendengar perkataan Jennie. Benar yang dikatakan olehnya. Jaehyun tidak pantas menerima ini. Dia terlalu baik untuk mendapat pengkhianatan dengan cara seperti ini. Teringat akan isi surat darinya yang ikut terselip di antara tumpukan surat Sehun. Itu semakin membangkitkan rasa bersalah Jooyoung. Tapi lagi, “Kurasa surat Sehun sedikit meluluhkanku.”

“Apa maksudnya itu?”

“Dia juga begitu mencintaiku. Tidak kalah dengan Jaehyun.”

“Apa Jaehyun pernah menyakitimu?”

“Tidak.”

“Apa Jaehyun meninggalkanmu?”

“Tidak.”

“Apa Sehun dulu membuatmu jatuh cinta?”

“Ya.”

“Apa dia meninggalkanmu?”

Jooyoung menahan napas untuk alasan yang dia sendiri tidak mengerti kala itu. Mendengar pertanyaan apa Sehun meninggalkannya entah kenapa mengiris hati Jooyoung. Membuatnya ingin berteriak marah. Tapi dia tetap menjawab tenang. “Ya.”

“Apa dia yang membuatmu hancur sampai menangis tidak menentu bertahun-tahun lalu? Apa dia menjelaskan selain dalam suratnya alasan dia harus pergi? Apa dia…” —jeda sejenak, Jennie menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan “…bahkan mengejarmu sore itu waktu kau meninggalkannya?

Pertanyaan beruntun Jennie mengalir di sela-sela otak Jooyoung. Dia mengambil waktu beberapa sekon untuk akhirnya menjawab satu per satu dengan urutan yang tepat. “Ya, tidak, tidak.”

Kemudian tatpan Jennie berubah melembut. Memandang bahu sahabatnya yang terkulai lemas. Dia kembali membuka suara, “Kalau begitu hanya satu nasihatku. Jangan pernah berlari kembali kepada orang yang sudah menghancurkanmu. Tidak ada yang tahu sewaktu-waktu sejarah akan diulang kembali olehnya.”

Jooyoung tidak lagi menjawab.

.

.

Jooyoung bukan pendengar yang baik. Sejak dulu begitu. Nasihat Jennie sekedar menjadi kata-kata pengisi acara minum kopi sore hari saja. Tidak benar-benar diresapi apalagi dipraktekkan. Jooyoung sama sekali tidak menghalau hatinya yang berteriak untuk mengejar Sehun. Malah mengikuti arus perasaannya dan membiarkan seluruh rindunya bermuara kepada pria itu.

Di sela-sela sibuk kegiatan kantor dan pertemuan dengan Jaehyun, Jooyoung tidak berhenti mengirim ribuan pesan teks dengan Sehun. Melakukan panggilan telepon larut malam dan bertualang dini hari ke laut. Jooyoung tahu ini salah. Tapi tiap kali kaki mereka diletakkan berjajar di atas pasir dingin di pantai pukul satu dini hari, Jooyoung tak pernah ingin memikirkan Jaehyun dan lesung pipinya lagi. Satu-satunya yang ingin dia lakukan selalu adalah mengulang kembali musim panas sepuluh tahun lalu. Membuat memori yang serupa.

Sehun selalu memiliki rasa lapar tak terjelaskan terhadap bibir Jooyoung, kulitnya, matanya, begitu juga suaranya. Dan lelaki itu menghabiskan banyak waktu untuk menciumi bibirnya, menyentuh tiap inci kulit gadis itu, tenggelam di dalam dua iris kelamnya dan mendengarkannya menyanyikan lullaby. Sehun tahu ini salah. Gadis di hadapannya ini sudah menjadi milik adiknya. Tapi dia sudah jatuh cinta dengannya jauh lebih lama dan baginya Jooyoung selalu hanya menjadi gadis musim panas miliknya. Setiap kali memikirkan itu, Sehun selalu menolak bayangan akan cincin berlian yang tersimpan rapi dalam kotak beludru kecil di laci nakas Jaehyun.

Jooyoung sekali berkata kepada Sehun pada malam mereka berbaring berdua di atas pasir sambil menghitung jumlah bintang yang mengintip perselingkuhan yang mereka jalani. “Terkadang aku masih membencimu, kau tahu?”

“Kenapa?” Sehun membalas tanpa mengganti fokus netranya dari bintang ke Jooyoung.

“Karena biar bagaimanapun sangat sulit melupakannya.”

“Apa?”

“Masa lalu.”

Hening sejenak. Keduanya begitu diam hingga suara ombak yang berada beberapa meter jauhnya dari tempat mereka berbaring terdengar begitu dekat. Lalu Sehun kembali bertanya, “Bagian mananya?”

Jooyoung tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Menarik napas panjang dan menata kalimatnya sebelum berbicara, “Waktu kau meninggalkanku. Aku ingat bagaimana aku menangisimu. Dan maksudku bukan hanya menangis dan aku sangat sedih. Tapi serasa akan tumbang dan berteriak-teriak frustasi kepada bintang.”

Sehun tidak menjawab. Menggerakkan tangan yang menggenggam rokok dan menghisapnya. Sambil menatap asap yang menutupi pemandangan bintang dari pandangannya, pria itu bertanya santai, “Apa kau betul-betul melakukannya? Berteriak pada bintang.”

“Tentu saja tidak. Itu hanya kiasan.”

“Begitu.”

“Lalu aku jatuh cinta dengan Kai,” Jooyoung berkata lagi. Kali ini memutar lehernya untuk bisa melihat ekspresi Sehun. Ada rasa puas saat melihat perubahan ekspresi lelaki itu saat Jooyoung menyebut nama sahabatnya itu.

“Lalu?”

“Dia adalah lelaki yang sangat baik. Tapi kami jatuh cinta pada keadaan yang salah. Komunikasi kami tidak lancar dan ada terlalu banyak kesalahpahaman. Kai meninggalkanku dalam kekacauan yang lebih parah darimu.”

Sehun meringis. Tapi segera menguasai diri lagi. Dengan santai kembali dihisapnya rokok Dunhill yang sudah terbakar setengah.

“Lalu? Bagaimana dengan Jaehyun?”

“Jaehyun…” Jooyoung menghela napas panjang. Memutar leher lagi untuk mengalihkan pandangan dari Sehun. Membicarakan kekasihnya itu dengan Sehun membuat Jooyoung merasa lebih buruk. Rasanya seolah mengkhianati pria itu sepenuhnya. Dan bukannya Jooyoung belum cukup khianat pada kekasihnya itu. Dengan ragu Jooyoung melanjutkan, “Dia adalah lelaki paling luar biasa yang pernah kutemui. Begitu sabar denganku yang mengalami krisis kepercayaan, menerimaku apa adanya. Aku dulu menutup diri terlalu rapat darinya, menolak membiarkan hatiku jatuh kepada kebaikannya. Tapi tidak peduli seberapa besar keraguanku, dia selalu tetap tinggal di sisiku. Mengatakan bahwa dia tidak akan pernah pergi kemana pun.”

Itu adalah kalimat paling panjang yang sudah diucapkan oleh Jooyoung secara beruntun malam itu. Dan Sehun mendengarkan dengan baik. Dia tahu itu. Dia tahu Jaehyun adalah manusia yang sangat luar biasa. Dia tahu seberapa besar Jaehyun mencintai kekasihnya dari panggilan-panggilan telepon dan pesan teks yang dikirim oleh adiknya setiap hari. Cintanya begitu sempurna. Kalau saja objek yang menjadi sasaran cintanya bukanlah orang yang sama dengan gadis yang sudah dimimpikan oleh Sehun selama bertahun-tahun.

“Apa kau mencintainya?”

Jooyoung memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Sehun langsung. Menimbang-nimbang dalam hati jawaban untuk pertanyaan itu. Setelah membisu beberapa saat akhirnya dia menjawab singkat “Kurasa.”

“Bagaimana denganku?”

Jooyoung terdiam sejenak. Kemudian membalas lagi, “Entah.”

“Baiklah.”

Pembiacaraan itu ditutup dengan hembusan residu rokok Sehun yang mengganti udara bersih di sekitar mereka dengan warna mega dari asapnya. Tapi bukan hanya udara yang penuh dengan asap, pikiran Jooyoung tak beda jauh. Seluruh otaknya serasa berkabut. Karena meski yang terucap adalah entah, ada jawab lain tertahan di ujung lidahnya. Dan Jooyoung lebih tahu untuk tidak usah menyebutnya.

.

.

“Apa yang mengganggumu akhir-akhir ini?” Jaehyun bertanya kepada Jooyoung di sela-sela iklan saat mereka duduk berdua menonton televisi di apartemen pria itu.

Jaehyun bahkan tidak bertanya jika ada sesuatu yang salah atau tidak. Malah langsung bertanya apa yang memenuhi pikiran Jooyoung akhir-akhir ini. Seperti dia memang sudah mengetahui dengan jelas sesuatu sedang mengganggu pikiran kekasihnya.

Tanpa menggerakkan kepalanya seinci pun dari lengan Jaehyun yang dijadikan sandaran oleh Jooyoung, gadis itu menjawab singkat, “Tidak ada.”

“Jangan berbohong.”

“Aku tidak berbohong.”

“Lalu kenapa?” Jaehyun bertanya lagi.

“Hm?”

“Akhir-akhir ini kau berbeda.”

“Apanya?”

“Entahlah. Seperti kau sedang memikirkan sesuatu setiap kali. Tidak bisa fokus, meski badanmu ada di sini rasanya kau tidak benar-benar di sini.”

Jooyoung tidak membalas. Menundukkan kepala sesaat untuk merenungi perkataan lelaki itu. Memang benar dia akhir-akhir ini seperti tidak tahu pijakannya. Pikirannya selalu berkelana ke tempat lain. Dan dia sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya dari Jaehyun. Jelas-jelas melamun setiap sedang bersama, menatap kosong ke belakang pemuda itu saat sedang berbicara. Bahkan jika Jaehyun tidak punya hobi aneh untuk selalu memusatkan perhatian kepadanya, Jooyoung yakin lelaki itu pasti akan tetap menyadari kejanggalan dalam tingkah Jooyoung.

Jooyoung mengangkat kepala untuk bisa berbicara seraya menatap Jaehyun. Seperti yang sudah diduganya, begitu mendongak hal pertama yang dilihatnya adalah mata hitam Jaehyun yang begitu fokus kepadanya. Selalu seperti itu. Tidak satupun dari mereka merasa repot untuk menghancurkan kontak mata mereka. Jooyoung malah membalikkan badan dan menggantinya ke posisi miring agar berhadapan langsung dengan Jaehyun. Hal itu memakan waktu lebih lama karena dia berusaha melakukannya sambil tetap menjaga pertemuan mata mereka. Saat sudah berhasil mengganti posisinya, Jooyoung kembali menyamankan kepala di atas lengan Jaehyun.

“Aku tidak tahu sebaiknya mengatakan ini atau tidak,” kata Jooyoung pelan kemudian.

“Apa?”

Jooyoung tidak langsung menjawab pertanyaan Jaehyun. Membiarkan otaknya menimbang keputusannya lebih lama. Mereka sama sekali belum pernah membicarakan ini dengan serius. Bahkan menyinggungnya pun tidak. Karena Jooyoung selalu menolak untuk melakukannya dengan Jaehyun. Lelaki itu hanya tahu sepenggal paragraf dari keseluruhan cerita masa lalu Jooyoung. Hanya tahu betapa buruk itu menghancurkan Jooyoung dari Jennie tanpa pernah benar-benar mendengar kisah langsungnya dari yang bersangkutan.

Menghela napas panjang adalah hal pertama yang dilakukan Jooyoung untuk melepas tekanan yang dirasakannya. Kemudian dia berbicara lambat “Tentang kepala pink.”

“Dia.”

“Ya. Dia.”

Tidak ada yang berbicara untuk beberapa detik. Jooyoung masih menatap mata Jaehyun seraya menggigit bibir bawahnya sedangkan Jaehyun tampak berpikir dalam. Mencoba menerka apa yang sedang berusaha disampaikan oleh Jooyoung.

Jaehyun yang kemudian memutuskan untuk membuyarkan keheningan itu. “Memangnya ada apa dengannya?” Dia bertanya dalam suara yang mendekati bisikan. Berusaha terlalu keras untuk menyembunyikan fakta bahwa dia merasa terganggu dengan Jooyoung menyebut mantan kekasihnya. Dan menekan kecemburuannya meski Jooyoung secara tidak langsung memberitahu bahwa Kepala pink lah yang sudah memenuhi otaknya beberapa hari terakhir. Tidak seharunya lelaki itu masih memiliki akses ke dalam kepala Jooyoung. Entah kenapa muncul kecemasan dalam dirinya begitu Jooyoung menyebutnya dalam pembicaraan ini. Seperti rasa was-was bahwa gadisnya akan lepas lagi dari pelukannya karena orang itu. Dan Jaehyun tahu kekhawatirannya terlalu konyol dan tanpa alasan.

“Tidak ada. Hanya saja….” Jooyoung menghentikan kalimatnya. Meraih ujung kaus Jaehyun dan mempermainkan jari untuk meremasnya lalu menggigit bibir bawahnya. “Akhir-akhir ini aku teringat dengannya.”

Rasanya seperti tertampar dengan keras oleh kata-kata Jooyoung. Jaehyun terdiam dan menelan paksa ludahnya dengan susah payah. Sebenarnya apa yang terjadi?

“Kenapa kau mengingatnya lagi?” Jaehyun bertanya. Kali ini tidak menyembunyikan ekspresi terluka di wajahnya maupun kecemburuan dalam suaranya.

Jooyoung menghela napas. Lalu menekukkan dahinya, seolah dia sendiri tidak tahu jawabannya.  “Entahlah,” katanya. Lalu menghancurkan kontak mata dengan Jaehyun. Menurunkan pandangan dari mata lelaki itu ke hidungnya, lalu bibirnya dan turun ke bawah sampai berhenti pada tulisan carhartt  di kaosnya, memandang bagaimana dada kekasihnya naik turun tidak teratur. Pada detik itu Jooyoung tahu bahwa ini sama sekali bukan topik kesukaan Jaehyun. Jadi dia segera berkata “Kita tidak harus membahasnya kalau ini mengganggumu.”

“Tidak,” Jaehyun segera menjawab cepat. “Itu sama sekali tidak menggangguku.” Bohong besar.

“Kau yakin?”

Jaehyun mengangguk.

“Baiklah,” Jooyoung kembali menenggelamkan gigi di bibir bawahnya sebelum berbicara, “Dia adalah cinta pertamaku. Aku melakukan banyak hal pertama kali dengannya. Ciuman, merokok, naik motor, dia pacar pertamaku dan orang pertama yang mengatakan cinta kepadaku. Dan hubungan kami walaupun hanya berlangsung selama satu musim panas adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Dia membawaku ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi,  memberi pengalaman-pengalaman baru dan semacamnya. Dia mengajariku banyak hal. Tapi yang paling utama adalah dia mengajariku bagaimana jatuh cinta dengannya meski lupa mengajarkan cara untuk berhenti.”

Itu adalah sebuah penjelasan panjang dari Jooyoung. Yang paling panjang yang bisa didapatkan oleh Jaehyun berkenaan masa lalu si gadis. Sejujurnya Jaehyun benci. Dan itu bukan kata yang sering digunakannya. Tapi dia betul-betul benci. Dengan kepala pink dan betapa kuat pengaruh yang dimilikinya terhadap gadis ini. Satu-satunya gadis yang dicintai Jaehyun. Yang dihabiskannya berbulan-bulan hanya untuk merebut hatinya. Gadis yang setelah perjuangan dan sabar berkepanjangan akhirnya bisa dia sebut miliknya. Benci bagaimana Kepala pink menghancurkan hati Jooyoung dan dia butuh waktu yang lama untuk memperbaiki hati yang rusak itu. Tapi lelaki itu masih tetap setia berkeliaran di seisi kepala Jooyoung. Tidak pernah benar-benar pergi. Bahkan setelah sekian tahun.

Ditambah perkataan terakhir Jooyoung yang tidak berhenti berngiang di kepalanya sejak lepas dari mulut si gadis.

Dia mengajariku bagaimana jatuh cinta dengannya meski lupa mengajarkan cara untuk berhenti.’

Jaehyun tidak tahu apa artinya itu. Dan dia ingin tetap mempertahankan ketidaktahuannya. Lupa mengajarkan cara untuk berhenti. Kenapa orang itu yang harus mengajarkan Jooyoung caranya? Bukankah Jaehyun sudah melakukannya? Apa dia saja tidak cukup? Jaehyun bergidik ketika memikirkannya. Dia sama sekali tidak siap untuk mendapat jawaban dari pertanyaan itu.

.

.

Jooyoung membiarkan hubungannya baik dengan Jaehyun maupun Sehun tergantung begitu saja. Dia akan menerima semua cinta yang diberikan Jaehyun. Setiap helai bunga yang diberi sebagai pembuka paginya. Membaca pesan teks berisi ribuan abjad yang membentuk rangkaian kata termanis dari Jaehyun hanya untuknya. Membiarkannya mencium bibirnya sebelum menghilang ke dalam apartemen.

Jooyoung masih tetap jatuh cinta dengan perasaan setiap berdekatan dengan lelaki itu. Tapi di saat yang sama dia tidak berhenti memikirkan aroma rokok Sehun yang entah bagaimana tercium dari diri Jaehyun. Mungkin karena mereka berbagi udara dalam ruang yang sama hingga bau lelaki yang lain menempel pada kekasihnya. Dan Jooyoung juga tidak pernah sekali pun menolak ajakan dari Sehun untuk berkendara di temperatur tiga puluh ke laut di bagian barat kota Seoul. Berbagi bir dan berbaring di atas hamparan pasir.

Terkadang keadaan ini mengingatkan Jooyoung akan sepenggal percakapan terakhir yang dia lakukan bersama Kai.

Waktu itu setelah menenggak habis cairan dari gelas tequila nya Kai menyinggung tentang bagaimana Jooyoung dengan setia membagi hatinya kepada dua lelaki. Dan betapa otak Jooyoung protes begitu keras dengan pendapat Kai itu. Ironis. Sekarang kata-kata lelaki berkulit tan itu menjadi kenyataan. Jooyoung betul-betul membagi hatinya. Hanya saja di antara dua objek penerima hati itu, Kai bukan lagi salah satunya. Sudah terlalu lama sejak mereka selesai. Betul-betul selesai. Yang menyebalkan adalah salah satu dari mereka masih tetap orang yang sama. Selalu orang yang sama. Hanya penyebutannya saja yang kali ini berbeda. Jika dulu dia adalah kepala pink sekarang dia adalah Oh Sehun. Sementara lelaki yang lainnya adalah Jung Jaehyun dengan nama tengah sempurna.

Jennie dan Doyoung agaknya sudah lelah dengan drama Jooyoung dengan kedua lelakinya. Terutama Jennie. Ah bukan. Terutama Doyoung. Lelaki itu benci bagaimana Jooyoung memperlakukan sahabatnya dengan sangat buruk.

Satu kali lelaki berparas mirip kelinci itu berbicara pada Jooyoung dengan rahang dikeraskan sehabis menenggak sunkist jeruk, “Berhenti menyakiti Jaehyun.”

Sama sekali tidak terdengar respon dari pihak Jooyoung. Dan itu terasa sangat janggal. Karena tipikal Jooyoung adalah membalas setiap kata dari temannya bahkan sebelum mereka selesai berbicara. Tapi sore itu dia mengunci bibir rapat. Karena Jooyoung tahu bahwa tidak ada pembelaan yang bisa dia berikan. Ingin berkata bahwa dia tidak menyakiti Jaehyun? Bukan seperti itu kenyataannya. Jadi dia membiarkan Doyoung melanjutkan bicaranya.

Lelaki itu menghela napas selayaknya sedang mengalami stres berat dan mungkin dia memang merasa sedikit tertekan melihat drama percintaan yang disuguhkan di depannya dari teman-teman terdekatnya ini. “Jangan buat aku menyesal sudah mengenalkannya denganmu.”

.

.

Terkadang rasa bersalah menggerogoti diri Jooyoung begitu besar hingga dia merasa ingin memukulkan kepala ke tembok kamarnya. Itu adalah malam-malam saat kata-kata jaehyun terlalu manis melewati telinganya sampai Jooyoung merasa jijik dengan dirinya sendiri yang tega memberi ruang kepada Sehun untuk menyelinap di antara hubungannya dengan sang kekasih.

“Aku tahu ini sudah sangat larut dan mungkin aku mengganggu tidurmu,” terdengar suara Jaehyun yang berbicara dalam bisikan di sambungan telepon mereka.

Jooyoung yang sesungguhnya tengah menunggu telepon dari Sehun menutup mata mendengar suara baritonnya. “Kau tidak mengganggu. Ada apa?”

“Aku merindukanmu,” kata Jaehyun sebagai balasan.

“Memangnya kapan kau tidak merindukanmu? Kau merindukanku setiap saat.”

“Aku tidak akan menyangkal itu.” ucapan Jaehyun diikuti tawa. Jooyoung pun turut tergelak mendengar Jaehyun yang sama sekali tidak mengelak. Kemudian tawa mereka mereda. Digantikan oleh diam dan suara napas Jaehyun yang terdengar menderu di ponselnya. Atau hanya perasaan Jooyoung. Dan laki-laki itu kembali berkata, “Aku tidak bisa berhenti memikirkan senyummu dan membayangkan matamu”

Jooyoung kembali terkekeh kemudian menjawab santai, “Eew cheesy. Ada apa lagi denganmu?”

Tidak ada jawaban dari Jaehyun untuk beberapa saat dan lagi-lagi Jooyoung mendengar suara napasnya yang begitu dekat dengan receiver. Dan Jooyoung merasa jantungnya seperti akan lepas dari tempatnya saat Jaehyun kembali berbicara.

“Hubungan kita sekarang begitu hambar.”

Sepenggal kalimat itu. Jooyoung sama sekali tidak tahu cara untuk membalasnya. Benarkah Jaehyun merasa demikian? Karena jika ya maka Jooyoung mengerti dengan baik bahwa dia yang bersalah untuk itu.

“Apa maksudnya itu?”

Terdengar helaan napas di seberang sana sebelum suara Jaehyun kembali mengudara “Aku sudah berusaha menerka apa yang sedang terjadi dalam kepalamu tapi tidak bisa,” jeda sebentar. ”Kau berubah Joo. Dan aku sama sekali tidak tahu apa yang menyebabkannya.”

Tidak tahu apa yang harus dikatakan Jooyoung untuk melakukan penyangkalan terhadap kata-kata itu. Sehingga dia membiarkannya begitu saja. Keheningan singkat menyelimuti panggilan telepon mereka sebelum lagi suara Jaehyun menggantinya.

“Tapi biar bagaimana pun aku ingin kau tahu bahwa aku tetap menginginkanmu. Hatiku ini, meski sakit melihatmu mengalihkan mata setiap pandangan kita bertemu, masih tetap belum hancur seluruhnya. Cintaku sama sekali tidak mati dan aku akan tetap berusaha memperbaiki hubungan kita. Tidak ada yang bisa menghentikanku.”

Jooyoung menelan ludah yang seperti bertumpuk di kerongkongannya karena tak mampu membentuk satu pun syllable pembalas buat kekasihnya. Tidak tahu harus menjawab apa, dia membiarkan Jaehyun melanjutkan.

“Kita pernah bahagia. Dan tidak ada perasaan yang lebih menyenangkan dari saat kita saling mencintai. Aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan menyerah akan cinta ini. Tidak akan menyerah dengan kita. Karena itu kumohon turutlah bekerja denganku untuk membuat hubungan ini berhasil lagi. Kali ini saja aku meminta sesuatu darimu.”

Dalam beberapa saat yang hening setelah Jaehyun menyelesaikan kalimatnya Jooyoung terpekur. Membiarkan tiap kata dari lelaki itu terproses dalam kepala. Entah bagaimana panggilan telepon manis dari Jaehyun berubah haluan menjadi topik menyedihkan begini. Joyoung sama sekali tidak menyangka demikian perasaan Jaehyun. Lelaki itu selalu terlalu baik dan memberi Jooyoung begitu banyak kata cinta. Yang dia lakukan sepanjang waktu adalah menjadi “Tuan Sempurna” yang tugas utamanya membahagiakan Jooyoung. Bahkan pada hari-hari yang sudah lama di mana Jooyoung terlalu keras kepala untuk membalas perasaannya dan membangun barikade yang begitu tinggi di hatinya, Jaehyun tidak sekali pun menunjukkan ketakutannya. Selalu dengan sabar membiarkan proses jatuh cinta Jooyoung berjalan lambat. Melihat sisi baru di diri Jaehyun seperti ini membuat Jaehyun akhirnya terlihat lebih seperti manusia dengan rasa. Bukan robot pembuat bahagia milik pribadi Jooyoung. Jooyoung merasa bahagia dan bersalah di saat yang sama.

.

.

“Apa ini baik-baik saja?”

Pertanyaan yang hampir ribuan kali diberikan oleh Jooyoung kepada Sehun. Di saat tangannya memeluk pinggang lelaki itu dalam perjalanan menuju laut. Saat mereka menghabiskan sore berdua di kedai bubble tea favorit Sehun. Saat mereka berjalan bersisian di pantai. Pukul satu malam saat Sehun berbaring di sampingnya, memandang bintang dan berbagi bir. Pukul dua berikutnya saat mereka menghabiskan malam berdua di motel tak jauh dari pantai. Kala Sehun menandai seluruh tubuhnya dengan jejak sentuhannya. Saat dia dengan hati-hati memberitahu Sehun untuk tidak meninggalkan bekas ciuman di bagian mana pun.

Jooyoung tidak bisa menahan diri untuk bertanya jika ini semua baik-baik saja. Karena jauh di lubuk hati dia mengerti bahwa ini salah. Bahwa membiarkan lelaki lain bermain dengan rambutnya sementara Jaehyun sedang lelap di kamar apartemennya adalah pelanggaran.

Kemudian satu pertanyaan yang sama selalu dibalas dengan satu jawab yang juga sama di setiap kesempatan.

“Semua baik-baik saja.”

Sehun akan berkata dengan rahang dikeraskan seusai menghembuskan asap rokoknya. Atau selepas meneguk birnya seolah dia butuh memabukkan diri untuk bisa memberi jawaban itu.

Baik Jooyoung maupun Sehun tahu dengan pasti. Tidak ada yang baik-baik saja. Empat kata penenang yang diberikan Sehun hanya dusta belaka. Sebagai endorfin sementara untuk membius keduanya dari pahit kenyataan bahwa mereka tidak baik-baik saja. Kebohongan mereka, pertemuan diam-diam, perjalanan pantai, senyum palsu, rasa sakit Jaehyun jika sampai menemukan fakta pengkhianatan mereka dan seluruh kepura-puraan ini. Ini semua sangat buruk.

Tapi untuk sementara selama Sehun berkata bahwa mereka baik-baik saja maka Jooyoung akan percaya. Dia akan mengambil botol bir di tangan Sehun, menenggak isinya dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Mereka berdua adalah aktor yang baik.

.

.

Rasa bersalah itu tidak akan hilang. Setiap hari malah semakin besar. Terutama jika Jaehyun tidak berhenti berusaha menjadi yang paling sempurna untuk Jooyoung. Terutama setiap kali dia memandang mata Jooyoung dan satu-satunya yang terpancar dalam pandangan itu adalah cinta yang begitu besar hanya untuk dirinya.

Doyoung dan Jennie juga membuat segala sesuatu menjadi lebih sulit. Dengan mempertanyakan keberadaan hatinya pada setiap kesempatan.

Jika tiba saat seperti itu maka Jooyoung ingin berhenti. Ingin mengusir lagi Sehun dari kehidupannya dan membiarkan lengan Jaehyun saja yang memeluk dirinya.

.

.

Pada akhirnya Jooyoung harus memilih satu dari dua. Karena tidak selamanya dia boleh tinggal dalam kepura-puraan. Waktu yang dia miliki terbatas. Sehun tidak akan tinggal di Korea selamanya. Sisa dua minggu sebelum lelaki itu harus mengemas kembali kopernya dan pulang ke Kanada. Dan saat itu tiba Jooyoung harus sudah bisa membuat pilihan. Untuk mengulang kembali hubungannya bersama Sehun dan meninggalkan Jaehyun patah hati. Atau membiarkan Sehun pergi bersama kisah cinta mereka yang tidak selesai dan tinggal bersama Jaehyun.

Jooyoung tidak ingin memilih tapi itu adalah sebuah keharusan. Dia sama sekali tidak bermaksud untuk meyakiti Jaehyun maupun Sehun terlalu dalam. Jennie benar. Dengan menjalani hubungan yang setengah-setengah bersama dua pria sekaligus hanya akan menyakiti semua pihak. Jaehyun akan terluka. Begitu juga Sehun. Bahkan dirinya sendiri pun demikian.

Sebab itu Jooyoung bertanya. Siapa yang pantas untuk dipilih?

Jawaban datang kepadanya senin malam kala mendengar radio di kamarnya. Bersama tumpukan berkas pekerjaan yang harus diselesaikan keesokan hari dan suara lembut seorang pria tak berwajah di saluran radio yang menemaninya, Jooyoung diberi petunjuk untuk masalah hatinya.

“Ini adalah kata-kata yang sudah sangat sering diucapkan. Aku sendiri mengutipnya dari internet.” Begitu si penyiar mengawali sehabis sebuah lagu dari penyanyi lokal selesai terputar. Kemudian dia melanjutkan, “Kalau kau mencintai dua orang, maka pilihlah orang kedua. Karena kau tidak akan jatuh cinta kepada orang kedua itu jika kau memang benar mencintai orang pertama. Orang pertama memang akan terluka. Tapi lebih baik melukai dia saja daripada melukai tiga hati sekaligus. Buat pilihanmu.”

Akhirnya sebuah titik terang di kisah cintanya yang begitu abu-abu.

.

.

Ternyata melakukannya jauh lebih sulit dari hanya memikirkannya. Butuh waktu empat hari dan ribuan panggilan tidak terjawab ditambah pesan teks dari Jaehyun yang diabaikan sampai Jooyoung memantapkan hati untuk bertemu muka dengan pria itu. Meminta waktu untuk bertemu di sabtu malam. Kencan berdua di pusat kota Seoul. Menonton film dan makan malam. Menghabiskan satu malam indah untuk terakhir kali dalam kegugupan.

Jooyoung akhirnya memutuskan untuk membuat pilihan. Dan Jaehyun bukanlah pilihannya. Maka dia memberitahu pria itu. Dalam mercedes hitamnya sehabis menyelesaikan kencan mereka.

Itu menjadi kejutan besar bagi Jaehyun. Mereka baru saja masuk ke dalam mobil saat Jooyoung mengatakannya. Dia bahkan belum memasang sabuk pengaman dengan benar. Kunci belum diputar dan Jooyoung berbicara dalam suara pelan.

“Kurasa sebaiknya kita mengakhirinya.”

Jaehyun menghentikan gerak tangannya yang berniat mengencangkan sabuk. Melepas kembali sabuk itu dan mengangkat wajah untuk bertemu mata dengan gadisnya. Yang ditatap malah sama sekali tidak membalas pandangannya. Menoleh pun tidak. Seperti beberapa minggu sebelumnya. Jooyoung hanya memakukan tatapannya ke arah area parkir di depannya. Bedanya kali ini yang dia tatap bukanlah parkiran kosong. Melainkan mobil-mobil lokal dan impor yang berjejer teratur dalam lapangan parkir yang sempit. Tapi itu sama sekali bukan hal yang relevan.

“Apa maksudmu?” Jaehyun bertanya.

Terlihat keraguan dalam gurat wajah Jooyoung. Namun hanya bertahan sebentar. Dia menghela napas dalam sebelum kembali membuka mulut, “Hubungan kita. Ayo kita akhiri.”

Bertolak belakang dengan pertanyaannya. Jaehyun mengerti dengan baik apa maksud Jooyoung kali pertama. Dia hanya bertanya untuk memastikan jika mungkin pendengarannya salah atau telinganya sedang bermain trik dengan otaknya sehingga dia merasa mendengar Jooyoung mengatakannya. Tapi memangnya siapa yang sedang dia candai. Tidak ada yang salah dengan pendengarannya. Dia mendengarnya dengan benar pada kesempatan pertama. Jooyoung mengatakan hal yang sama kali kedua namun dengan lebih jelas.

“Kenapa?” adalah satu-satunya kata yang mampu dibentuk oleh Jaehyun sebagai respon.

“Karena aku tidak bisa lagi menjalani ini denganmu. Aku hanya melukaimu.”

Seraya mengerutkan kening pertanda bingung, Jaehyun berkata “Aku tidak mengerti.”

Jooyoung mengerang keras. Menghempaskan tubuh ke sandaran kursi dan berbicara frustasi, “Apa kau tidak merasakannya?”

“Merasakan apa?” tanya Jaehyun. Kemudian melanjutkan dengan ragu, “Kalau kau berbicara tentang perubahan kita, ya aku tahu. Tapi bukankah sudah kukatakan dengan jelas kalau aku tidak akan menyerah?”

“Kau betul-betul sama sekali tidak mengerti.”

“Mengerti apa?”

“Jangan paksa aku mengatakannya Jae. Kumohon katakan ya saja. Ayo kita akhiri.”

“Tidak. Aku tidak bisa.” Sanggah Jaehyun dengan keras kepala. Tentu saja dia tidak bisa mengatakan ya begitu saja. Hatinya tidak akan terima.

“Jangan buat ini menjadi sulit.” Kefrustasian dalam suara Jooyoung masih begitu mendominasi.

“Kaulah yang membuatnya sulit. Sebenarnya apa yang salah? Kenapa kau berubah?”

“Aku sama sekali tidak berubah,” menghela napas lalu melanjutkan dengan lemah “Hanya kembali menjadi aku yang sebenarnya?”

“Dan apa alasan untuk itu?”

“Apa kau betul-betul ingin aku mengucapkannya?”

“Katakan.”

Jooyoung menarik napas begitu dalam dan wangi pengharum mobil Jaehyun begitu kuat memukul nostrilnya. Dia selalu benci wangi itu. Tapi dia terus menghirupnya hingga kepalanya terasa pening sebab baunya. Dia butuh banyak oksigen untuk mengatakan ini pada Jaehyun.

“Aku tidak mencintaimu Jae.”

Kata-kata Jooyoung kemudian diikuti oleh keheningan panjang. Hanya terdengar suara napas dari dua manusia yang duduk di sana. Dan suara samar dari luar mobil yang menyusup melalui celah jendela. Selain itu tidak ada yang berbicara.

Jaehyun memandang tidak percaya kepada Jooyoung. Berusaha mencari kebenaran dari raut wajahnya. Namun itu bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Tidak bisa melakukan analisa ekspresi hanya dengan memandang garis wajahnya dari samping. Jaehyun butuh menatap matanya.

“Tatap aku.”

Jooyoung bergeming.

“Joo, tatap aku saat kau mengatakannya.”

“Hentikan Jae. Ini sudah cukup sulit. Jangan memaksaku melakukan hal yang tidak kuinginkan.”

“Kau tahu itu adalah hal terakhir yang akan kulakukan.” Balas Jaehyun. Tidak ada marah dalam suaranya, kekesalan pun tidak. Hanya sedikit rasa kecewa yang diikuti kesedihan. “Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan apapun. Bahkan dulu aku juga tidak pernah memaksamu untuk mencintaiku. Tapi demi Tuhan. Kumohon katakan itu sambil menatap mataku. Karena aku akan selamanya menganggapmu sedang berbohong saat ini kalau kau tidak mau melakukannya.”

“Aku tidak berbohong.”

“Kalau begitu buktikan.”

“Bagaimana caramu membuktikan pada seseorang kalau kau tidak mencintainya? Apa dengan menyakitinya?”

“Jika memang harus, lakukan.” Jaehyun berkata getir. “Tapi untuk saat ini yang harus kau lakukan hanya membuktikannya dengan tidak menolak menunjukkan matamu saat kau mengucapkannya.”

Mobil itu kembali diisi hening setelah kata-kata Jaehyun. Jooyoung menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Menjalankan matanya untuk memandang apa saja yang bukan Jaehyun. Mengobservasi interior mercedes itu dan mengabaikan pemiliknya. Dia tidak sanggup melakukan ini. Dia tidak sanggup meyakiti Jaehyun. Bukan itu yang diinginkannya. Tapi kenyataannya itulah yang selalu dilakukan olehnya.

“Jooyoung, kumohon.”

Permohonan Jaehyun yang terdengar putus asa membuat Jooyoung semakin merasa bersalah. Dengan keraguan yang terlalu besar dan kekeraskepalaan Jaehyun, akhirnya Jooyoung menuruti permintaan pria itu. Membalik badan untuk bertatapan dengannya.

“Aku sudah melakukannya. Sekarang apa?”

“Ulangi.” Ujar Jaehyun. “Ulangi kata-katamu tadi sambil menatap mataku.”

Sekali lagi Jooyoung menggigit bibirnya. Meringis kecil saat merasa sakit giginya yang menancap di sana. Tapi sungguh bukan itu alasan ringisannya. Melainkan wajah terluka Jaehyun. Dan harap di matanya bahwa Jooyoung tidak akan bisa mengulang perkataan tadi jika harus dilakukan seraya membiarkan obisidian mereka berjumpa.

Tapi Jooyoung bisa. Dia sangat bisa. Bukan karena dia ingin tapi dia harus.

“Aku tidak mencintaimu, Jung Jaehyun.”

“Kenapa?”

“Karena rasa memang tidak bisa dipaksakan.”

Kembali hening singkat mengisi udara di antara mereka. Mata tetap berpaku pada satu sama lain. Dan Jooyoung hanya bisa menatap lara yang menyelimuti pandangan Jaehyun. Tanpa bisa melakukan apa-apa untuk menghapusnya seperti yang selalu dilakukan Jaehyun untuk dirinya. Ini begitu tidak adil.

“Lalu bagaimana dengan setahun yang kau habiskan di pelukanku? Mengaku kalau kau membalas perasaanku?” tanya Jaehyun dengan suara bergetar.

Jooyoung menggigit bibirnya. Mencoba menepis rasa besalah saat berbicara, “Sungguh, kukira dulu juga aku mencintaimu. Tapi sekarang aku sadar. Aku sama sekali tidak bisa melupakan masa lalu.”

“Jadi ini tentang itu? Jadi ini semua kembali lagi pada kepala pinkmu”

“Tidak ada hubungannya dengan kepala pink.” Dusta terbesar abad ini. “Hanya saja aku memang salah menginterpretasi perasaanku padamu.”

Hening lagi.

Jaehyun terlihat masih menunggu penjelasan lebih panjang darinya sehingga Jooyoung kembali mengambil kesempatan untuk berbicara.

“Kau begitu baik. Sempurna. Melakukan apapun untuk membuatku bahagia. Kau membuatku nyaman sebagai seorang teman dan aku sangat menyayangimu. Kita diam dalam hubungan tanpa status begitu lama. Aku senang tidak harus membuat komitmen dan kau tidak nampak keberatan. Lalu datang Kai. Malam itu, saat aku menciummu. Dia membuka kembali luka hatiku. Mendorongku untuk mengingat betapa buruk perlakuanku dulu kepadanya. Dan membuatku takut bahwa itu akan terulang denganmu. Aku takut kau akan pergi seperti Kai. Aku begitu terluka olehnya. Kata-kata Kai malam itu meruntuhkan semua pertahanan hatiku. Aku butuh seseorang. Dan kau ada di sana. Kau adalah pilihan paling aman. Paling baik. Ditambah sugesti semua orang kalau aku sebenarnya mencintaimu juga. Jadi aku memutuskan untuk mengikatmu.”

Jooyoung tersengal hebat begitu menyelesaikan kalimatnya. Ada air mata yang begitu licik mengkhianati dirinya dan keluar begitu deras melewati kelopaknya saat berbicara kepada Jaehyun.

Tidak ada suara yang keluar dari mulut Jaehyun selepas mendengar penjelasan panjang Jooyoung. Terlalu sakit untuk bisa menemukan kata demi membalas kekasihnya. Meski dia yang meminta Jooyoung untuk melakukannya, tapi kini Jaehyun berharap bahwa Jooyoung sama sekali tidak berbicara sambil menatap matanya. Karena gadis itu betul-betul sanggup melakukannya. Ini terlalu kejam.

“Apa benar itu yang kau rasakan selama ini?”

Jooyoung mengangguk. “Maafkan aku. Ini sangat tidak adil bagimu. Aku tidak bermaksud menyakitimu seperti ini. Sungguh. Aku minta maaf.”

Jaehyun sama sekali tidak menjawab Jooyoung. Pria itu menarik rambutnya sendiri dan mengerang frustasi. Tapi sama sekali tidak memberi balasan untuk perkataannya.

Ada sebuah rasa yang tidak bisa dijelaskan di dalam dada Jooyoung saat melihat reaksi Jaehyun. Luka dalam pandangannya dan bagaimana lelaki itu betul-betul terlihat hancur. Dia bahkan tidak repot membalas perkataan Jooyoung. Dan sesungguhnya itu sangat wajar untuk dilakukan. Jooyoung tidak berharap bahwa Jaehyun akan langsung mengatakan bahwa dia memaafkannya. Tapi juga tidak ingin terabaikan olehnya.

Mereka tidak lagi membicarakannya. Hanya ada Jaehyun yang berkata “Baiklah.” Lalu membiarkan udara kosong sebagai satu-satunya yang menemani mereka di dalam mobil mewahnya —tidak jelas baiklah untuk apa. Kemudian tidak ada lagi kata, tidak ada suara, bahkan menyalakan radio pun mereka tidak, tidak ada tangan yang tertaut, hanya Jooyoung yang menangis atas rasa bersalah telah menyakiti Jaehyun dalam diam. Sekali pun Jaehyun tidak memandang ke arah Jooyoung maupun menenangkannya atau menghapus tangisnya. Pembicaraan mereka selesai begitu saja, begitu pun hubungan mereka. Selesai dalam chaos dan ketidakjelasan.

Jooyoung memandang mobil Jaehyun yang menghilang ke dalam gemerlap malam Seoul sehabis menurunkannya di depan bangunan apartemennya. Tidak ada ucapan selamat malam atau selamat tinggal. Dan Jooyoung mengambil waktu lama untuk sampai ke kamarnya di lantai empat bangunan apartemen itu. Dengan sengaja memilih menaiki tangga satu demi satu sembari mengingat lengan Jaehyun yang melingkari bahunya beberapa jam sebelumnya. Tidak akan pernah ada lagi lengan itu untuk seterusnya.

Entah kenapa ini terasa lebih menyakitkan dari saat dia berjalan menjauhi Sehun sepuluh tahun sebelumnya.

.

.

Jennie sama sekali tidak memberi simpati akan air mata Jooyoung malam itu. Dan memang kata siapa dia pantas mendapatkannya?

“Baiklah,” Jennie membuka suara untuk pertama kali setelah membiarkan Jooyoung menumpahkan seluruh keluh kesahnya. “Baiklah, biar aku merangkum ceritamu. Jadi kau sering keluar berdua dengan Sehun akhir-akhir ini.”

Jooyoung mengangguk.

“Kalian pergi ke laut, kencan berdua, saling menelepon. Mengulang masa lalu.”

Mengangguk lagi sambil sesenggukan.

“Lalu kau memutuskan untuk memilih satu dari mereka.”

“Ya.”

“Dan kau pikir kau lebih mencintai Sehun karena kata-kata penyiar radio bodoh itu.”

“Dia tidak bodoh dan ya, benar begitu.”

“Dan kau memutuskan hubunganmu dengan Jaehyun. Mengatakan semua yang baru kau katakan tadi kepadanya.”

Jooyoung tidak menjawab maupun mengangguk kali ini. Hanya mengerang keras kemudian membiarkan tangisnya pecah.

Tapi Jennie seakan tidak peduli untuk meredam tangis sahabatnya. Jennie merasa muak. “Aku tidak mengerti. Kenapa sekarang malah kau yang menangis?”

“Aku tidak menangis.”

“Kau menangis.”

“Kubilang aku tidak menangis,” kali ini Jooyoung membalas dengan suara ditinggikan beberapa oktav. Histeris.

“Wow wow chill.” ujar Jennie seraya meletakkan tangan di depan dada Jooyoung. “Baiklah. Baiklah kau tidak menangis.” Kemudian gadis itu terdiam ragu sebelum kembali berbicara, “Tapi matamu sedikit berair.”

Jooyoung menggerakkan tangan untuk menghapus airmatanya dan berkata, “Ini bukan airmata.”

“Umm okay.

Mereka diam untuk sesaat. Jennie memandang sahabatnya yang tersengal dan menggigit bibir sebelum kembali meledak bersama airmatanya. “Dia mencampakkanku. Jen, Jaehyun mencampakkanku. Bagaimana dia tega?”

Jennie terperangah untuk sesaat mendengar teriakan Jooyoung dan air matanya yang mengalir jauh lebih deras dari beberapa saat sebelumnya. Tapi sekali lagi, Jennie sama sekali tidak memiliki simpati untuk air mata itu. Malah merasa bingung dengan kalimat terakhir dari Jooyoung. “Dude, kalau ada yang tercampak di sini, itu jelas bukan kau. Kau memutuskannya secara sepihak dengan alasan konyol. Harusnya Jaehyun yang sedang menangis sekarang. Bukan kau.”

“Dia…” Jooyoung menarik napas dalam. “Dia. Men. Cam. Pak. Kan. Aku. Apa aku butuh mengeja satu-satu untukmu? Dia mencampakkanku, membuangku seolah dia tidak pernah mencintaiku selama berapa tahun ini. Dia bahkan sama sekali tidak memandangku. Dan menurunkanku begitu saja di depan. Tidak menawarkan untuk mengantar ke kamar. Bukan saja dia tidak menjawab permintaan maafku. Kurasa sekarang dia membenciku. Dia tidak peduli lagi.”

“Joo,” Jennie memanggil pelan. Namun tidak ada jawaban dari yang dipanggil. Hanya intensitas tangisannya yang terasa semakin tinggi. Kemudian Jennie berbicara dengan hati-hati. “Kau baru saja mematahkan hatinya. Tentu saja dia bersikap seperti itu. Kau tahu sendiri bagaimana dia tergila-gila denganmu. Apa yang kau harapkan darinya? Tersenyum kepadamu dan mengatakan kalau dia baik-baik saja dengan caramu memperlakukannya? Bukan Jaehyun yang membuangmu. Tapi sebaliknya.”

Tanpa menghiraukan perkataan Jennie, Jooyoung menangis lebih kuat lagi. Membiarkan air mata merusak maskara dan make up nya seutuhnya.

Lalu terdengar suara Jennie berkata dengan begitu pelan mendekati sebuah bisikan. “Dude, kau betul-betul menangis sekarang.”

“Ya, aku memang menangis. Aku tidak peduli lagi. Karena jaehyun juga tidak peduli.”

Maka Jennie menghela napas dan menyerah.

.

.

Tidak ada telepon dari Jaehyun. Tidak ada pesan teks. Tidak ada sosoknya di depan pintu. Tidak ada bunga atau kata cinta diberikan kepada Jooyoung. Dia merasa kosong.

.

.

Sehun membawanya ke pantai minggu malam. Berkendara selama tiga jam menuju pantai yang cukup jauh dari pusat kota Seoul. Pantai yang sama sekali berbeda dengan yang selalu mereka datangi. Demi suasana baru kata Sehun. Pantai baru lagi. Pasir putih yang baru. Dengan orang yang sama.

Mereka tidak membicarakannya. Berakhirnya hubungan Jooyoung dengan Jaehyun. Jooyoung menutup mulut sepanjang perjalanan dan selama mereka berjalan menyisir pantai. Juga saat mereka berbaring di bawah langit. Hanya berbagi rokok dan bir dalam diam. Tapi Sehun mengerti apa yang mencuri kemampuan berbicara gadisnya itu sepanjang malam.

Sebaliknya Jooyoung tidak tahu lagi apa yang benar dan salah untuk hatinya. Rasanya dia sudah melakukan sebuah kesalahan. Dia pikir dengan memutuskan Jaehyun maka dia akan menghindari kehancuran tiga hati sekaligus. Dia pikir maka semua akan menjadi lebih baik setelah dia membuat pilihan. Dia pikir Sehun lah pilihan terbaiknya. Kenyataannya kini Sehun ada di sampingnya tapi Jooyoung merasa perlu menghisap nikotin untuk terdistraksi dari nyeri di dadanya. Dia tidak mengerti apa artinya itu.

.

.

.

.

Jennie memaksa Doyoung untuk membawanya mendatangi apartemen Jaehyun minggu malam. Meski awalnya menolak mempersilahkan dua tamunya masuk, Jaehyun akhirnya tetap menerima mereka. Membiarkan keduanya mondar-mandir di sekitar apartemennya sementara saudara tirinya keluar entah kemana. Dia tidak bisa memikirkan hal selain Jooyoung dan bagaimana gadis itu mematahkan hatinya dengan brutal.

Jaehyun terlihat sangat kacau. Beberapa botol alkohol kosong tidak bisa terabaikan begitu saja oleh Jennie dan Doyoung saat memasuki dapur.

“Bagaimana dia?” Jaehyun bertanya lemah saat mereka duduk diam mengelilingi meja makannya.

Terdiam dan menghindari tatapannya sejenak, Jennie akhirnya membuka mulut. “Baik-baik saja, kurasa.”

“Kau rasa?”

“Entahlah.” Jennie mengedikkan bahu. “Aku tidak ingin membicarakannya. Dia membuatku marah.”

“Jangan seperti itu,” kata Jaehyun “Jooyoung selalu butuh seseorang di saat seperti ini.”

“Lalu bagaimana denganmu?” tanya jennie dengan kening terkernyit. Sungguh, dia tidak paham dengan jalan pikiran Jaehyun. Di saat seperti ini masih sempat mengkhawatirkan orang lain. “Apa kau tidak butuh? Apa kau ingin bersedih sendiri di sini?”

“Aku bisa mengatasinya. Sebaiknya kalian berdua temani dia saja.”

“Dan membiarkanmu?”

Jaehyun tidak menjawab.

“Kalau definisi baikmu adalah meminum banyak alkohol untuk melupakannya maka aku tidak setuju,” Jennie berkata retoris.

“Aku tidak apa-apa.” Jawab Jaehyun malas. “Kalian berdua seharusnya tidak di sini. Siapa yang menemani Jooyoung di apartemen?”

Jennie begitu kesal. Betul-betul ingin tahu jika kepala Jaehyun isinya hanya Jooyoung seorang saja. Konyol. Jadi dia berkata dengan kesal, “Biarkan saja dia menangis sendiri.”

“Dia menangis?”

“Kemarin malam.”

“Karena aku?”

“Ng…”

“Astaga aku membuatnya sedih?” Ada kepanikan dalam pertanyaan Jaehyun.

“Jae, itu tdak…”

“Aku harus minta maaf. Apa dia menangis karena aku bersikap dingin?”

“Jaeh…”

“Padahal aku berjanji untuk tidak pernah menyakitinya, tapi aku sendiri malah..”

“Ya Tuhan Jaehyun berhenti. Berhenti, oke? Kumohon berhenti.” Jennie menggigit bibir dan memandang Jaehyun yang terlihat begitu ling lung dengan ekspresi yang berupa campuran marah dan sedih. “Kumohon jangan seperti ini. Kau membuat dirimu terlihat menyedihkan. Aku kasihan.”

“Tapi Jooyoung…”

“Hentikan Jae,” kali ini Doyoung yang berbicara. Setelah beberapa menit menonton dua orang lainnya yang terus bertukar kata dalam diam akhirnya dia sendiri tidak tahan untuk turut membuka mulut. “Jangan pikirkan dia.”

“Tapi aku menyakitinya. Dan dia menangis karena aku.”

“Jae jangan katakan itu. Kumohon,” kata Jennie. “ Jangan bersikap seolah kau tidak boleh menyakitinya. Berhenti bersikap begini. Berhenti menjadi kekasihnya yang sempurna. Kumohon. Sakiti saja dia. Sakiti sampai kau puas. Aku tidak peduli.”

“Jen, kau tidak masuk akal. Bukankah kau sahabatnya?” Jaehyun berseru dengan marah. “Kau tidak seharusnya mendukungku seperti itu. Kau seharusnya memarahiku karena membuatnya menangis. Apa bedanya aku dengan mantan-mantan kekasihnya kalau begini?”

Saat itu Jennie merasa bahwa dia sudah mendapat terlalu banyak omong kosong ini. Jadi dia berdiri untuk menangkup wajah Jaehyun di tangannya. Memaksa mata sayu lelaki itu yang sudah dikuasai alkohol setengahnya untuk membalas tatapan tajamnya.

“Kau itu manusia,” Jennie berbicara dengan rahang dikertakkan. “Kau tidak harus menjadi sempurna sampai akhir. Kau boleh membuat kesalahan. Kau boleh bersedih. Kau boleh menyakiti orang lain sesekali. Kau boleh merasa cemburu dengan masa lalunya. Jangan terlalu keras kepada diri sendiri. Jadi dirimu sendiri. Berhenti berusaha menjadi kekasih Jooyoung yang sempurna. Itu yang membuatnya begitu mudah melepasmu. Karena kau selalu terlalu baik. Tidak pernah marah atau terlihat terluka. Apapun yang dia lakukan untuk menyakitimu, kau selalu memaafkannya dengan besar hati. Kumohon jadilah manusia. Manusia boleh memikirkan dirinya sendiri. Boleh menyakiti orang lain untuk melindungi diri sendiri. Sakiti saja Jooyoung. Sakiti Sehun.”

Jaehyun mengernyit bingung mendengar kata terakhir. “Sehun? Hyungku? Kenapa aku harus menyakitinya?”

“Ya Tuhan.” Jennie terkesiap dan memandang Jaehyun tidak percaya. “Kau masih belum tahu juga?”

“Apa?”

“Jooyoung memutuskanmu karena Sehun.”

“Kenapa saudaraku membuatnya melakukan itu?”

“Kau betul-betul tidak tahu?”

Jaehyun semakin memperdalam kernyitan di keningnya indikasi semakin besarnya rasa bingungnya. Apa yang sedang dibicarakan oleh Jennie?

“Sehun adalah Kepala Pink, bodoh. Dia pacar pertama Jooyoung.”

Begitu kata itu terucap, Jaehyun segera kehilangan kata dari ujung lidahnya. Dia hanya setengah mabuk. Belum sepenuhnya pikirannya dipengaruhi oleh alkohol. Dan dia sama sekali tidak mempertanyakan kebenaran kata Jennie malam itu. Malah sebuah ingatan yang sudah sangat lama berkelebat di sepanjang ingatannya.

Sehun. Kepala Pink. Pacar pertama Jooyoung.

Seketika jaehyun merasa bodoh. Bagaimana dia melewatkan semua itu?

Jika ditimbang ulang, kepala pink memenuhi seluruh kriteria Sehun. Pertama kali mereka bertemu sepuluh tahun lalu pada minggu pertama Sehun di Kanada, Jaehyun ingat begitu terpana dengan helai-helai pink di atas kepala saudaranya. Berbeda dengan jaman sekarang dimana rambut segala macam warna adalah hal yang lumrah, tahun 2006 Sehun rasanya satu-satunya pemuda dengan rambut berwarna merah jambu yang pernah ditemui oleh Jaehyun. Itu adalah pertemuan pertama mereka dan Sehun bersama rambut pinknya meninggalkan kesan begitu dalam. Jaehyun selalu mengingatnya hingga bertahun kemudian. Tubuh Sehun selalu wangi rokok persis penggambaran Jooyoung akan kepala pinknya. Senyum yang menunjukkan taring itu. Eyesmile yang mirip dengan miliknya. Dan demi Tuhan bagaimana Jaehyun mengabaikan fakta singkat bahwa Sehun meninggalkan seorang gadis patah hati di Korea sebelum berangkat ke Kanada. Mata yang seperti laut di musim panas. Sekarang dia mengerti kenapa Jooyoung begitu mempermasalahkan sepenggal kalimat itu. Bukan hanya kebetulan bahwa gadisnya bernama sama dengan gadis musim panas Sehun.

Sekarang semua terpampang jelas di depan mata. Seperti sebuah puzzle yang tiba-tiba utuh di depan Jaehyun. Dan entah harus bagaimana dia menerima fakta itu.

Sehun adalah kepala pink Jooyoung.

Jooyoung adalah gadis musim panas Sehun.

.

.

Berpura-pura tidak tahu adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Sangat sulit bagi Jaehyun untuk memandang saudaranya dengan cara yang sama. Senin pagi saat Sehun memasuki apartemennya dengan wajah lelah dan terlihat tidak tidur semalaman Jaehyun tidak bisa berhenti bertanya dalam kepalanya kemana dan apa yang selalu dilakukan oleh Sehun setiap malam dia keluar. Dan saat memikirkannya maka hanya wajah Jooyoung yang melintas dalam kepalanya. Seluruh skenario pertemuan Sehun dengan Jooyoung berkelebat dalam kepalanya. Karena kata Jennie mereka selalu keluar berdua di malam hari. Seberapa lama hal tersebut berlangsung di belakang Jaehyun?

Perasaan Jaehyun begitu kontradiktif. Pada satu sisi dia begitu marah dengan apa yang sudah dilakukan oleh Jooyoung dan Sehun. Berselingkuh di belakangnya. Mengkhianati dirinya dengan kejam.

Pada sisi lain Jaehyun mengerti. Bahwa dua orang itu terlalu saling mencintai untuk mengabaikan satu dengan yang lain. Jaehyun tahu seberapa besar Sehun menaruh hati kepada Jooyoung. Sepuluh tahun nama itu terngiang dalam kepala saudaranya. Seperti sebuah gema yang tidak akan pernah hilang dari memorinya. Dan mungkin ternyata Jaehyun lah yang sudah menjadi orang ketiga dalam hubungan Sehun bersama Jooyoung. Karena dialah yang datang terakhir. Bukan sebaliknya.

Namun lagi jika berpikir tentang itu. Jaehyun sudah jatuh cinta dengan gadis yang sama pula selama sepuluh tahun itu. Gadis musim panas yang selalu ingin dia kembalikan senyumnya. Dan dia tanpa sadar sudah sempat berhasil melakukannya. Sebelum dia membawa Sehun kembali ke dalam hidup gadis itu. Dan membiarkan semua menjadi kacau lagi.

Jaehyun sama sekali tidak bisa membersihkan kekacauan yang terjadi dalam otaknya. Dan saat mereka duduk berdua di ruang tengahnya sambil menonton TV Jaehyun tidak menahan dirinya untuk berkata.

“Aku begitu patah hati.”

Tidak ada alasan spesifik dia mengatakannya. Bukan karena ingin menuding Sehun sebagai penyebab hatinya patah. Juga tidak ingin menyudutkan saudaranya atas kejahatan mencuri gadisnya. Hell, Jooyoung bahkan mungkin bukan gadisnya di mata saudaranya. Jooyoung adalah gadis musim panas milik Sehun.

Sehun tidak serta merta merespon. Dia memainkan jempolnya pada tombol remot televisi. Mengganti-ganti saluran untuk mendistraksi diri sendiri dari rasa bersalah.

“Patah hati adalah konsekuensi dari cinta,” ujar Sehun pelan. Tidak menemukan jawaban lain yang lebih tepat untuk Jaehyun.

“Cinta?” Jaehyun bertanya dalam suara yang begitu lemah. Pertanyaannya seolah lebih ditujukan kepada diri sendiri dibanding Sehun. Jaehyun merasa seolah tidak memahami lagi esensi dari satu kata itu. Seperti tidak tahu lagi pengertian dari kata itu dalam sebuah kamus kata dalam kepalanya. Cinta adalah satu-satunya perang yang tidak sanggup dia menangkan dalam hidupnya. Jooyoung adalah cinta pertamanya. Percaya atau tidak. Mungkin Jaehyun memang pernah menjalin kasih dengan wanita lain di luar sana. Tapi ini pertama kali dia memberi hati secara sungguh-sungguh kepada seseorang. Dan itu pun harus diambil darinya. Bahkan sebelum dia bisa mematenkannya sebagai miliknya. Cincin berlian di dalam nakasnya semakin tertimbun lama dan perlahan terlupakan. Tidak ada lagi jari yang akan menerimanya.

“Cinta….” Jaehyun berbisik di bawah napasnya. Ada rasa nyeri yang begitu menyelekit saat mengucapkannya. Perasaan yang sudah bertahan di dadanya selama berhari-hari. “Cinta terkadang terasa seperti sebuah sihir. Tapi terkadang,” Jaehyun berhenti sejenak untuk menghirup udara banyak ke dalam paru-parunya. Berharap dengan dada yang penuh oleh oksigen, dia tidak akan merasa sesak saat mengucapkannya seraya memikirkan Jooyoung. “Terkadang sihir itu hanyalah ilusi belaka.”

Mereka berdua tidak lagi berbicara sepanjang malam. Sama-sama terlalu larut dalam pikiran masing-masing. Berkenaan dengan satu gadis dengan mata seperti laut di musim panas yang menjadi sihir untuk keduanya.

.

.

Jika dipikir lagi Jaehyun adalah pihak paling menyedihkan dalam kisah ini. Dia sendiri tidak menyangkal hal itu. Karena bahkan setelah segala sesuatu yang terjadi, dia tidak bisa membawa dirinya untuk merasa benci. Baik kepada Sehun maupun kepada Jooyoung.

Bahkan Jaehyun setelah satu minggu sejak perpisahannya dengan Jooyoung masih mau dengan tabah menunjukkan muka di depan apartemen yang ditempati Jooyoung dan Jennie bersama demi melangsungkan tradisi menghabiskan malam minggu berempat.

Dia sempat tersenyum begitu manis seperti tidak mengalami patah hati sebelumnya dan berkata kepada Jooyoung yang nampak bersalah “Ini tidak apa-apa kan? Biar bagaimana pun aku tidak ingin memutuskan hubungan denganmu sepenuhnya.”

Jooyoung menjawab dengan ragu “Ya. Aku juga tidak menginginkan kita jadi seperti itu. Tapi apa kau betul tidak apa-apa seperti ini?”

Jaehyun kembali memamerkan senyum malaikatnya. “Aku tidak masalah. Rasanya hanya seperti kembali ke hubungan kita dulu saja.”

Jooyoung kemudian tidak menjawab.

Lalu Jaehyun kembali berbicara dengan lembut. “Karena kau sudah bukan milikku lagi, kurasa aku akan berpuas diri hanya dengan bermimpi bahwa suatu hari nanti kita akan kembali bersama. Meski kecil kemungkinan untuk terwujud.”

Tatapan sendu dalam iris kelam Jaehyun sungguh membangkitkan rasa bersalah lebih dalam pada diri Jooyoung. Tapi dia tidak melakukan apa-apa untuk menyingkirkannya. Ini adalah hukuman untuk dirinya yang sudah dengan lancang melukai Jaehyun yang selama ini begitu luar biasa untuk dirinya.

Jennie dan Doyoung begitu murka dengan Jaehyun yang terlalu baik. Dua orang itu tidak berhenti menceramahinya karena kenaifannya untuk tetap mencintai Jooyoung.

“Berhenti bersikap bodoh seperti itu.” Jennie akan berkata setiap kali.

Tapi Jaehyun sudah terlanjur bodoh dan dia tidak tahu cara berhenti. Sehingga dia hanya akan selalu menjawab dengan, “Aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri. Aku memang masih sangat mencintainya. Bukankah ini hebat? Bagaimana Jooyoung menghancurkan hatiku berkeping-keping tapi aku masih sanggup mencintainya dengan kepingan-kepingan kecil itu.”

Dan benar itu memang hebat. Tapi juga kelewat konyol untuk benar-benar dilakukan oleh Jaehyun.

.

.

Sementara kepada Jooyoung, Jennie dan Doyoung tidak berhenti bersikap sinis. Pada satu hari di mana Jooyoung merasa cukup kesal dengan perlakuan dua sahabatny dia mendelik kesal kepada Doyoung.

“Sebenarnya apa masalah kalian berdua?”

Dengan malas Doyoung menjawab, “Kau bertanya karena tidak tahu atau pura-pura?”

“Jangan balas aku dengan sarkasme.”

Doyoung menghela napas panjang sebelum berkata, “Aku benci dengan apa yang kau lakukan dengan Jaehyun. Atau bagaimana kau dengan tidak tahu malu masih berani menerima senyumnya.”

“Jaehyun tidak mempermasalahkannya.”

“Itulah masalahmu Joo,” geram Doyoung. Kemarahan begitu jelas dalam pandangannya. “Apa kau pernah memikirkan perasaannya? Apa kau sempat berpikir kalau seperti bagaimana sehun dan kai menghancurkanmu sampai kau tidak bisa mempercayai cinta lagi, maka kali ini kaulah yang akan membuat jaehyun tidak bisa lagi percaya kepada cinta. Luka yang kau tinggalkan akan menghalangi dia untuk membiarkan gadis manapun untuk memperbaiki hatinya yang rusak.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku adalah mungkin Jaehyun tidak akan bisa jatuh cinta lagi. Karena setiap perempuan yang akan dia temui nanti akan mengingatkannya kepadamu. Dia tidak akan bisa melupakanmu. Mungkin menangis setiap malam karena rasa cinta kepadamu yang terlalu besar, membenci diri sendiri karena dia tidak akan pernah bisa lagi memelukmu dalam lengannya atau mendengar tawamu. Apa ini terdengar cukup familiar untukmu? Karena ya aku memakai referensi dirimu. Selamat Joo, kau sudah menjadi kepala pink pertama untuk jaehyun.”

Tidak sanggup lagi Jooyoung untuk memberi argumen kepada Doyoung yang segera berjalan melewatinya seperti dia hanya udara kosong.

.

.

Meski butuh berhari-hari Jooyoung memberanikan diri untuk mengajak Jaehyun bertemu berdua dan berniat untuk benar-benar menyelesaikan masalah hati mereka berdua. Bukan karena rasa lelahnya dengan sikap kedua sahabatnya tapi karena perasaan bersalah setiap melihat wajah Jaehyun.

Dan yang didapatinya adalah rasa bersalah yang malah semakin dalam saat Jaehyun berbicara sambil tersenyum.

“Aku betul-betul baik-baik saja Joo. Jangan khawatirkan aku.”

Tapi Jooyoung tidak bisa berhenti khawatir. Jennie dan Doyoung memastikan dirinya tidak berhenti berpikir mengenai Jaehyun dan sakit hatinya. Mengenai seberapa buruk dia melukai lelaki itu.

“Bagaimana tidak khawatir? Aku betul-betul sudah melukaimu. Aku ini wanita yang sangat jahat.”

“Sssh…” Jaehyun berdesis sambil tersenyum. Memandang Jooyoung dengan teduh. “Jangan berkata begitu tentang dirimu sendiri.”

“Kenapa tidak boleh? Kenyataannya aku memang begitu.”

“Mungkin.” Jaehyun berkata tenang. “Mungkin awalnya aku juga berpikir begitu. Kau sangat egois. Sejak dulu begitu. Aku selalu bingung sebenarnya apa yang salah denganmu? Karena aku ada di sini, memberimu cinta. Tapi kau tidak bisa berhenti memandang ke belakang. Ke masa lalumu bersama Kepala Pink. Bersama Sehun hyung.”

Jooyoung terkesiap mendengar Jaehyun menyebut nama saudaranya. Memandang lelaki itu dengan horror dan rasa bersalah. “Bagaimana?”

“Jennie memberitahuku.”

“Maafkan aku.”

“Kau tidak bersalah.”

“Tapi aku memang bersalah. Tidak seharusnya aku melakukan ini padamu.” Ujar Jooyoung. Semakin merasa bersalah.

“Aku bisa mengerti posisimu dan Sehun hyung. Dan aku akan berbesar hati menerima semua ini.”

“Tapi aku…”

“Walau sangat sakit rasanya,” Jaehyun langsung memotong Jooyoung. Tidak memberi kesempatan gadis itu berbicara. “Tapi aku akan bertahan. Aku hanya ingin kau bahagia.”

“Meski kau tidak?”

“Meski aku tidak.”

“Semakin kau berkata begitu, semakin aku tidak bisa bahagia.” Sergah Jooyoung kemudian.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak akan pernah berhenti merasa bersalah.”

“Jangan berkata seperti itu,” jawab Jaehyun. “Hal terakhir yang kuinginkan adalah melihatmu tidak bahagia. Bukankah sudah kukatakan sejak sepuluh tahun lalu?”

“Sepuluh tahun?”

“Dalam surat yang kutulis untukmu.”

Jooyoung segera teringat dengan surat yang datang terakhir itu. Surat dari J. Jaehyun.

“Suatu hari nanti kau akan bertemu seseorang yang akan menyembuhkan luka hatimu yang dibuat oleh Sehun hyung. Entah itu dia sendiri atau orang lain. Dan aku senang sudah menjadi orang yang melakukannya untukmu. Musim panas sudah berlalu. Dan aku ingin menjadi musim semimu. Tapi apa yang bisa kulakukan jika musim favoritmu adalah musim panas? Seberapa indahpun bunga yang kumekarkan untukmu, kau hanya akan selalu memandang ke belakang. Ke pantai yang kalian selalu datangi bersama. Aku tidak akan bersikap egois dan memintamu bertahan denganku. Jika dia adalah kebahagiaanmu. Pergi dan dapatkan dia. Tersenyum dan berbahagialah.”

Pada detik itu Jooyoung mendapati lidahnya tertambat dan seluruh alfabetnya berkhianat akan dirinya. Melihat Jaehyun yang berbicara dengan tulus bersama senyum berlesung pipi dan eyesmilenya mencuri kemampuan berbicaranya seutuhnya. Juga mengambil napas Jooyoung sekali lagi. Seperti pada malam dia mencium Jaehyun. Jooyoung mendapati diri jatuh cinta sekali lagi kepada kebaikan hatinya.

.

.

Selama sisa minggu itu tidak ada lagi Jaehyun. Maupun Sehun. Atau Doyoung. Tapi ada jennie. Selalu ada Jennie. Tentu saja. Karena mereka berbagi ruang yang sama untuk hidup. Tapi Jennie juga tidak membicarakannya.

Dengan absennya keempat orang itu, Jooyoung mengambil waktu banyak untuk merenung. Mengulang seluruh rangkaian kisah cintanya. Dimulai dengan musim panas pada usia ketujuh belas. Hingga musim panas yang sedang mengudara di kota Seoul saat ini.

Dia jatuh cinta sebanyak tiga kali dalam hidupnya. Pertama kepada Sehun. Lalu kepada Kai. Dua orang itu memiliki kesamaan dalam perannya pada kisah cinta Jooyoung. Mencintainya begitu besar dan membuat Jooyoung mengembalikan perasaan itu dengan intensitas yang sama. Lalu menghancurkannya dengan brutal. Cinta ketiganya adalah Jaehyun. Satu-satunya yang berbeda. Jaehyun tidak menyakiti Jooyoung. Tapi sebaliknya.

Tapi jika dipikir lagi. Tidak seorangpun dari ketiga orang itu yang sudah menyakiti Jooyoung. Dialah yang melakukannya. Dia menyakiti Sehun dengan membiarkannya pergi dan menolak mendengar penjelasan darinya. Melukai perasaan Kai dengan menolak memberinya kata cinta. Sedangkan Jaehyun, bagaimana dia menghancurkan pria itu rasanya sudah tidak perlu dijelaskan lagi.

Kisah cintanya dengan Kai sudah selesai. Betul-betul selesai. Sementara bersama Sehun dan Jaehyun masih begitu abu-abu.

Dia mencintai Sehun. Sangat. Bahkan sampai sekarang dia masih mencintainya. Tapi juga ada Jaehyun. Hingga dua tahun dalam penyangkalan akan perasaan terhadap Jaehyun, kali ini Jooyoung mantap bahwa dia selama ini hanya membohongi diri sendiri. Pembicaraan bersama lelaki itu membuat Jooyoung mengerti. Bahwa meski tidak semenggebu saat bersama Sehun maupun Kai. Tapi dia memang benar jatuh cinta. Bertolak belakang dengan apa yang sudah diakuinya kepada yang bersangkutan pada malam dia mengakhiri hubungan mereka.

Yang menjadi masalah adalah siapa di antara kedua orang itu yang dia cintai lebih besar.

Sehun yang datang dan bangkit dari masa lalu. Atau Jaehyun yang menyelinap bersama suratnya sepuluh tahun lalu dan sudah setia menghapus luka dan air matanya dalam dua tahun belakangan ini.

Sehun adalah segala yang pertama bagi Jooyoung. Tapi Jaehyun membuatnya seribu kali merasa lebih baik.

“Aku tidak tahu lagi jika aku mencintai Sehun atau Jaehyun. Atau keduanya,” kata Jooyoung kepada Jennie suatu malam sehabis makan malam. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun sejak Jennie bersedia menyinggung topik itu kepada Jooyoung.

Jennie meringis. Dengan jelas menunjukkan ketidaksukaannya saat Jooyoung berbicara. “Aku tidak tahu kau berharap aku akan mengatakan apa.”

“Kurasa aku butuh nasihat.”

“Dan kurasa aku sudah lelah memberikannya kepadamu.”

“Kau satu-satunya yang bisa memberiku pencerahan tentang ini.”

Bullshit,” sergah Jennie kasar. “Tidak sekali pun nasihatku pernah kau dengar. Berhenti bicara omong kosong.”

“Jen, kumohon.”

Jennie memutar bola mata malas. Tapi dia kemudian mengobservasi wajah Jooyoung. Saat dilihatnya keseriusan dalam pandangan sahabatnya itu dan permohonan di matanya, akhirnya dia menyerah. Menghela napas dan berkata “Baiklah. Nasihat apa yang kau butuhkan?”

“Siapa yang harus kupilih antara Sehun dengan Jaehyun?” tanya Jooyoung tenang.

Jennie mengerutkan kening mendengar pertanyaan Jooyoung dan bertanya “Apa kau bercanda?”

“Tidak.”

“Sadarlah Joo.” Kata Jennie kemudian memutar bola mata. “Kau sudah membuat pilihan.”

“Dan kurasa itu masih bisa ditarik.”

“Kau gila ya?”

Jooyoung mengerang. “Aku belum sepenuhnya memilih.”

“Tapi kau sudah memutuskan Jaehyun!” Jennie berkata seraya memberi pelototan kepada sahabatnya. Dia begitu gemas dengan jalan pikiran Jooyoung.

“Karena kurasa lebih baik untuk menjaga jarak darinya,” bela Jooyoung. Dia menggigit bibir gugup sebelum melanjutkan, “Daripada terus mengkhianatinya seperti itu.”

“Kau sudah terlanjur mengkhianatinya. Kenapa melakukan pekerjaan setengah-setengah seperti itu?”

“Dan aku merasa bersalah. Makanya kuputuskan dia.”

“Itu hanya alasan yang kau buat-buat.” Tidak sadar bahwa Jennie sudah berbicara dengan nada yang sangat tinggi. Saat dilihatnya Jooyoung menciut, dia segera menenangkan emosinya dan bertanya dengan santai “Lalu bagaimana dengan Sehun?”

“Aku sama sekali belum membicarakan ini dengannya?”

“Yang benar saja?”

“Ya.”

“Kau tidak langsung berlari ke pelukannya begitu putus dengan Jaehyun?”

“Tentu saja tidak. Kau anggap apa aku ini?”

“Kau betul-betul….” Untuk sesaat Jennie membiarkan kata-katanya tergantung begitu saja. Menggunakan jari-jarinya untuk mengurut plipis. “egois, kau tahu? Kau tidak pernah memikirkan siapa pun selain dirimu.”

“Mungkin kau benar.”

“Sudahlah.” Ujar Jennie malas. “Sekarang nasihat apa yang kau butuhkan?”

Jooyoung mengambil jeda beberapa detik sebelum berbicara ragu “Kurasa aku masih mencintai Sehun.”

Jennie memutar bola matanya. “Aku sudah tahu itu.”

“Aku belum selesai. Jangan potong.”

“Baiklah. Lanjutkan.”

“Kau tahu bagaimana hubungan kami,” Jooyoung berbicara pelan. Menutup mata dan berusaha mengingat rangkaian kejadian dulu. “Dan bagaimana dia menghancurkan hatiku. Tapi kurasa sampai sekarang aku masih belum bisa melupakannya. Kurasa aku masih betul-betul sangat mencintainya. Ditambah dengan surat-surat yang dia kirimkan yang baru saja kubaca. Aku betul-betul merasa bersalah.”

“Lalu?’

“Lalu ada Jaehyun. Tidak perlu kuceritakan bagaimana. Kau ada di sana sepanjang cerita cinta kami. Kau tahu bagaimana aku padanya. Kukira aku tidak mencintainya. Membiarkan hubungan kami begitu saja selama setahun. Lalu tiba-tiba saja aku berubah pikiran. Membiarkannya mencintaiku dan membalas rasa cintanya itu. Kupikir aku sudah cukup mencintainya. Kupikir kami baik-baik saja. Aku benar-benar percaya kalau aku jatuh cinta dengannya Jen. Aku bahkan berpikir untuk menikah dengannya. Sampai Sehun datang kembali dan mengacaukan kompasku. Aku tidak tahu lagi kemana arah hatiku.”

Jennie mengambil waktu selama beberapa menit untuk membiarkan kata-kata Jooyoung terserap dalam kepalanya. Mencoba memahami apa yang hendak disampaikan sahabatnya. Kemudian dia berkata, “Kau tahu kalau Jaehyun juga berpikir untuk menikahimu kan?”

Jooyoung mengangguk.

“Kalau kau berpikir untuk menikah dengan Jaehyun, menurutmu itu artinya apa?”

“Apa?”

Jennie mengerang kemudian memutar bola mata. Kebiasaan yang tidak pernah bisa hilang. “Itu artinya kau memang mencintainya, bodoh.”

Tidak ada jawaban dari Jooyoung.

“Aku tidak menyangka aku akan mendiktekan ini untukmu. Aku sudah diam beberapa hari ini karena kelakuanmu sangat mengesalkanku tapi kali ini aku akan berbicara dan kau tidak boleh menyela satu kata pun. Dengarkan aku baik-baik.”

Jooyoung meluruskan duduknya kemudian. Demi mendengar apa yang akan dikatakan oleh Jennie. Dia tahu mungkin Jennie akan mengatakan banyak hal yang mungkin akan cukup menyakitinya. Sahabatnya itu tidak pernah punya filter dalam berbicara dan mungkin akan banyak singgungan-singgungan kejam ditujukan untuk Jooyoung. Tapi biar bagaimana pun Jennie adalah sahabatnya. Dan dia selalu memberi nasihat terbaik untuk Jooyoung. Sejak dulu begitu. Jadi meski sudah menolak mendengar selama beberapa waktu terakhir, kali ini Jooyoung akan mendengar.

Jennie juga ikut menegakkan tubuhnya. Menarik napas dalam sebelum mulai berbicara. “Baiklah. Aku akan mulai. Pertama soal Sehun. Aku tahu bagaimana perasaanmu padanya. Aku ingat persis tahun pertama kita tinggal di asrama. Saat pertama kali kau bercerita tentangnya. Aku tahu dia bukan sesuatu yang bisa begitu saja kau lupakan. Saat kau berkencan dengan Kai, kau sama sekali tidak memikirkan Sehun lagi. Jangan menyela. Aku selalu memperhatikanmu. Dan aku tahu kalau kau sama sekali tidak terpikir akan Sehun lagi saat menjadi kekasih Kai. Tapi saat dia meninggalkanmu, mau tidak mau kau kembali teringat dengan Sehun. Karena entah bagaimana, patah hati mengingatkanmu padanya.

“Bertahun-tahun kau tidak mau lagi jatuh cinta. Tapi jujur itu bukan karena Sehun saja. Kai terlibat dalam masalah itu. Sampai kau bertemu Jaehyun. Dan jatuh cinta dengannya. Kau dengan Jaehyun berbeda dengan kau bersama Sehun dan Kai. Tidak serta merta jatuh cinta kepadanya. Butuh waktu lama dan proses panjang. Sementara dengan Sehun dan Kai bisa dibilang semua terjadi begitu saja. Kau menutup mata dan voila! Tiba-tiba saja ada rasa baru di hatimu kepada keduanya. Tapi dengan Jaehyun prosesnya sangat lama. Sampai kau tidak sadar kalau kau sudah jatuh cinta. Karena perasaan itu tumbuh sedikit demi sedikit. Dan sangat perlahan. Jadi susah untukmu menyadarinya. Kau pikir itu bukan cinta. Ditambah ketakutanmu dengan cinta, kau jadi semakin gencar melakukan penyangkalan.

“Lalu di tengah kebingunganmu tiba-tiba Sehun datang kembali. Tiba-tiba seluruh hatimu ingat dengannya. Dan bagaimana luar biasanya cinta kalian dulu. Kau ingat bagaimana kau melakukan sangat banyak hal pertama dengannya. Biar bagaimana pun kisah cinta kalian sangat romantis dan penuh petualangan. Kalau aku jadi kau juga tidak mungkin bisa lupa dengan yang seperti itu. Tapi kalau aku boleh berpendapat, perasaanmu kepada Sehun bukan cinta.”

Jooyoung terperangah mendengar kata-kata jennie. Karena sahabatnya mampu mengungkapkan seluruh perasaan Jooyoung dalam kata. Di saat dia sendiri tidak bisa menjelaskannya. Semua terasa seperti benang kusut di kepala Jooyoung. Tapi jennie dengan entengnya melerai benang-benang itu.

“Bukan cinta?”

“Ya, bukan,” Jennie menganguk kemudian melanjutkan “Sudah sepuluh tahun berlalu Joo. Dan kau sudah pernah jatuh cinta kepada orang lain. Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk rasa cinta memudar. Aku tahu apa yang kulihat. Dan mungkin kau pikir aku sok pintar dengan mengatakan ini. Atau kalau aku sama sekali tidak mengerti. Tapi kurasa perasaanmu kepada Sehun lebih seperti rasa penasaran akan cerita cinta kalian yang tidak selesai. Dan saat kau membaca surat-surat yang dia kirimkan dulu kau tiba-tiba merasa terpukul. Dia tidak seburuk yang kau bayangkan. Kau merasa jahat dan membenci diri sendiri. Kau merasa sangat bersalah kepadanya dan merasa bahwa kaulah yang sudah mengkhianatinya dengan berkencan dengan Kai dan Jaehyun. Tapi sumpah. Kalau kau tanya aku, aku tidak akan berkata bahwa perasaanmu kepadanya memang benar cinta. Dan ini sama sekali bukan karena aku pro Jaehyun.”

“Lalu bagaimana kau menjelaskan perasaanku saat kami berbaring berdua di pantai?”

“Bagaimana kau akan menjelaskannya?”

“Aku berdebar jika bersamanya. Aku selalu merindukan bau rokoknya.”

“Apa kau pernah memikirkan Jaehyun saat bersamanya?”

Jooyoung terpekur sejenak. Tampak mempertimbangkan perasaannya. Lalu berbisik lemah. “Selalu.”

“Saat memutuskan hubungan dengan Jaehyun apa yang kau rasakan?”

“Entahlah.”

“Kenapa waktu itu kau menangis?”

Jooyoung menggigit bibir. “Tidak tahu.”

“Apa setelah berakhir dengan Jaehyun kau merasa lebih lega? Apa kau merasa ingin berlari ke pelukan Sehun? Apa kau kemudian berpikir ingin menghabiskan sisa hidupmu dengannya? Apa kau berpikir ingin menikah dengannya seperti apa yang sempat kau pikirkan dengan Jaehyun? Apa kau menggambarkan masa depan dengannya?”

Lagi-lagi Jooyoung diam. Memandang meja di depannya. Semakin menundukkan kepala sebelum menjawab. “Tidak.” Untuk semua pertanyaan itu.

Jennie kemudian menghela napas. Ada kelegaan yang tidak terucap dalam hembusan napasnya. Bersyukur akhirnya bisa memberi pengertian kepada sahabatnya. “Sudah kukatakan jangan berlari kembali kepada orang yang sudah membuatmu terluka. Meski kau tahu kalau dia ternyata baik, tapi itu bukan hal yang baik untuk dilakukan.”

Jooyoung masih diam. Dan Jennie melanjutkan.

“Ada banyak jenis cinta di dunia ini. Tapi tidak pernah cinta yang sama sebanyak dua kali. Itu berlaku untukmu. Juga Sehun. Dan Jaehyun. Kembalilah kepada Jaehyun. Sebelum dia lelah menunggu dan rasa cintanya terlanjur hilang.”

.

.

Bukankah perjalanan yang sangat panjang untuk kisah cinta Jooyoung bersama Sehun? Mereka hanya memadu kasih selama rentang satu musim panas. Tapi bekas yang ditinggalkan melekat sampai satu dekade.

“Aku minta maaf,” kata Jooyoung sore itu. Sabtu siang di pantai yang begtu jauh dari Seoul. Pantai yang sama dengan yang mereka datangi pukul satu dini hari sepuluh tahun yang lalu. Tempat Sehun menyatakan cintanya di bawah bintang. Juga tempat Sehun mematahkan hati Jooyoung. Pasir putih yang sama di mana Jooyoung melempar popsicle setengah cairnya karena rasa marah yang kian besar. Pantai yang hanya mereka datangi tiga kali — jika turut menghitung kesempatan ini — tapi selalu meninggalkan kesan terdalam. Pantai yang selalu menjadi saksi poin penting dalam kisah cinta mereka berdua.

“Aku mengerti,” jawab Sehun santai. “Dan lagi kau tidak bersalah. Tidak perlu meminta maaf.”

“Tapi aku harus.” Jooyoung berkata gusar.

Sehun hanya menghembuskan asap rokoknya dalam diam. Tidak tahu harus membalas bagaimana.

“Aku memang bersalah. Aku tidak tahu apa yang kuinginkan. Dan aku menyeret kau dan jaehyun dalam kebingungan ini. Aku mengacaukan semuanya. Seandainya aku tahu sejak awal apa yang kuinginkan semua tidak akan begini.”

“Sudahlah Joo,” balas Sehun. “Jangan menyalahkan diri seperti itu. Akulah yang bersalah. Tidak seharusnya aku muncul lagi di depanmu seperti ini setelah sekian tahun.”

“Tapi aku yang membiarkan perasaanku menyakiti kita bertiga. Kukira aku mencintaimu.”

Sehun tertawa masam. Menghisap rokoknya dalam-dalam dan bertanya tanpa memandang Jooyoung “Kau kira?”

“Saat kau muncul di depanku, aku begitu panik. Lalu aku melihatmu setiap hari dan rasa rindu menguasaiku setiap melihatmu dengan rokok yang selalu menempel di jarimu. Selama sepuluh tahun juga aku tidak pernah betul-betul melupakanmu jadi saat aku melihatmu di depan mata, aku salah menginterpretasikan perasaanku padamu sebagai cinta. Tapi itu bukan lagi cinta. Aku sudah jatuh cinta dengan orang lain.”

Jooyoung sadar. Setelah melakukan pertimbangan selama berhari-hari. Setelah mencoba memikirkan perkataan Jennie. Dia sudah salah dalam menerjemahkan kata-kata yang dia dengar di radio itu.

Kalau kau mencintai dua orang, maka pilihlah orang kedua. Karena kau tidak akan jatuh cinta kepada orang kedua itu jika kau memang benar mencintai orang pertama.

Jooyoung dengan ceroboh memilih Sehun. Tapi itu bukan pilihan yang tepat. Sehun bukan orang kedua. Dia sesungguhnya adalah orang pertama. Jaehyunlah orang kedua di antara cintanya dengan Sehun. Bukan sebaliknya. Dia tidak akan mungkin bisa jatuh cinta dengan Jaehyun seandainya dia memang benar masih mencintai Sehun maupun Kai. Jennie tidak salah. Rasa nyaman dan lamanya proses jatuh cinta kepada Jaehyun membuat Jooyoung gagal mengartikan perasaannya sendiri. Butuh waktu kosong dan keabsenan dari pria itu ditambah tamparan kata-kata dari Jennie untuk akhirnya Jooyoung betul-betul paham. Untuk dia merapikan kekacauan di dalam hatinya.

Sehun mungkin cinta pertamanya. Dan benar belum ada kisah cinta yang sehebat miliknya dan Sehun pada satu musim panas di usia tujuh belas. Tapi bukan Sehun lagi orang yang dicintainya. Hatinya sudah bukan lagi milik absolut lelaki itu seorang. Cinta lain sudah mengubahkan hatinya.

“Aku menginginkanmu kembali,” kata Jooyoung lagi dengan suara bergetar. “Tapi di saat yang sama aku juga tidak. Aku rindu dengan mata hitam malammu, tapi sekarang Jaehyun memandangku dengan mata hitam yang sama tapi dengan penuh perasaan melebihi dirimu. Dan aku jatuh cinta dengan dia yang seperti itu. Karena itu aku tidak bisa memilihmu.”

Selama beberapa detik Sehun tidak mengeluarkan suara sebagai jawaban. Lagi-lagi hanya mengangkat sebelah tangan untuk mengantarkan batang kanker di sela jemari untuk mencium bibirnya. Menghembuskan asap abu-abu itu dalam diam kemudian berkata, “Aku mengerti. Aku mengerti. Aku akan membiarkanmu Joo. Ini sangat berat. Tapi aku sangat menyayangimu. Aku juga tidak akan sanggup melihat Jaehyun terluka. Dia sangat kacau tanpamu. Kau yang paling tahu apa yang kau inginkan. Dan pada akhirnya mungkin itu bukan diriku. Meski aku sangat ingin kau bersamaku, tapi aku tidak bisa memaksakan perasaanmu.”

“Kita betul-betul terjebak dalam cerita cinta yang buruk.”

“Aku tidak akan menyangkal itu,” balas Sehun sambil tertawa getir.

Jooyoung menatap gurat kesedihan di wajah Sehun yang dengan sia-sia berusaha disamarkan di balik asap rokoknya. Ksedihan yang sama juga menghiasi wajah Jooyoung. “Seandainya kita bertemu dan menjalin cinta dalam keadaan yang berbeda, seandainya dulu kau menjelaskan dengan lebih baik, seandainya dulu aku mau mendengar, seandainya tidak ada salah paham bodoh ini….”

“Mungkin sampai sekarang kau masih milikku,” potong Sehun. Dia mengerti apa yang ada dalam kepala Jooyoung. Karena dia sudah jauh lebih lama memikirkan kemungkinan itu dalam kepalanya. “Mungkin selama sepuluh tahun sudah terlalu banyak cerita di antara kita. Atau mungkin juga tidak.”

Jooyoung mengangguk sedih. “Ya. Tapi ini terjadi. Dan tidak ada yang bisa kita lakukan lagi.”

Yeah, maybe you’re just not for me.”

“Mungkin memang bukan takdir kita untuk bersatu.”

“Mungkin satu musim panas sudah cukup untuk kita. Menyedihkan sekali ternyata aku tidak diberi kesempatan menghabiskan sisa hidupku denganmu.”

Lalu Sehun membuang puntung rokoknya. Seperti Jooyoung membuang popsicle sepuluh tahun yang lalu. Dia memutar wajah untuk memandang mata Jooyoung. Mata coklat yang merupakan kombinasi dari dua hal favoritnya. Laut dan musim panas. Kemudian dia tersenyum. Paling tulus dalam sepuluh tahun ini.

“Bolehkah aku menciummu untuk terakhir kali gadis musim panasku?”

Ragu sejenak, Jooyoung tetap mengganggukkan kepala sambil membalas senyum Sehun.

Sehun sama sekali tidak membuang waktu. Segera menghapus jarak di antara mereka begitu diberi persetujuan. Meraih wajah Jooyoung, menangkupnya di antara kedua tangan dan menempelkan bibir mereka dengan cepat. Merasakan bibir itu untuk kali terakhir. Tidak ada nafsu dalam ciuman itu. Hanya pertemuan bibir yang jauh dari kata gairah. Bibir Sehun bergerak lembut di atas milik Jooyoung. Menempelinya begitu lama seakan tidak rela untuk melepas. Sama seperti ciuman mereka yang terasa seperti berasal dari jutaan tahun lalu. Selalu terasa seperti rokok. Aroma filter Dunhill memenuhi nostril Jooyoung. Dan itu kembali mendamaikan hatinya. Jooyoung membiarkan tangannya bergerak untuk melingkari leher Sehun. Menutup mata. Membiarkan diri terbuai dalam ciuman perpisahan itu. Hanya untuk sementara ini.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Sehun melepaskan tautan bibir itu. Memandang mata Jooyoung sekali lagi dan tersenyum menunjukkan taring beserta eyemilenya.

“Aku melepaskanmu,” kata Sehun lembut. “Kau sudah move on. Jatuh cinta dengan lelaki lain. Dan aku harus bisa menerimanya.”

“Ya.” Jooyoung juga membalas dengan senyuman.

“Mulai sekarang teruslah tersenyum dan berbahagia.”

“Baiklah. Kau juga. Temukan gadis musim panas yang baru.”

“Jangan bercanda,” Sehun terkekeh, menatap Jooyoung jenaka kemudian mengedipkan sebelah mata dan berkata “Kau tetap satu-satunya gadis musim panasku.”

Selanjutnya Sehun mengeluarkan kotak Dunhill dari saku jeansnya. Mengambil satu batang dan menyalakannya. Menghisapnya begitu dalam. Membiarkan nikotin memenuhi paru-parunya. Ah dia selalu baik dalam membantu Sehun mengabaikan perih di dada akibat gadis ini.

“Berhentilah merokok.” Terdengar Jooyoung berkata di sebelahnya dengan nada kesal yang begitu kentara.

Sehun tertawa ringan. “Suatu saat nanti. Kalau kau sudah kulupakan.”

Jooyoung sama sekali tidak membalas lagi. Alih-alih dia meraih tangan Sehun dan menjalankannya untuk mengantar rokok yang terselip di jari pria itu menuju ke bibirnya sendiri. Menghisap begitu dalam dari batang kanker itu. Sehun memandangnya dengan tatapan terhibur. Ini sama seperti sepuluh tahun lalu. Rasa rokok Sehun tetap sama. Tidak ada yang beubah. Rasa pahitnya masih membakar paru-paru Jooyoung dengan kejam. Tapi di saat yang sama mendistraksi Jooyoung dari rasa pahit lain di dadanya.

Meski sulit tapi ini adalah pilihannya. Jooyoung pada akhirnya sudah menjatuhkan pilihan. Kali ini dia tidak akan menariknya kembali secara tidak bertanggung jawab. Karena biar bagaimana pun, seberapa indah pun kenangan itu, hatinya sudah berubah. Atau setidaknya kini dia sudah mengerti. Musim panas sudah berlalu. Dan ada musim lain menunggu bersama orang yang dicintainya. Tapi itu bukan Sehun.

Kisah cinta selama sepuluh tahun ditutp dengan asap rokok Sehun yang mengisi ruang pernapasan keduanya. Selesai bersamaan dengan Dunhill yang akhirnya terbakar hingga ujung.

Saat matahari terbenam dan Sehun akhirnya menyuruh Jooyoung untuk menaiki sepeda motor besarnya untuk berkendara kembali ke Seoul, keduanya memaklumi dalam hati. Musim panas untuk mereka berdua sudah selesai.

.

.

Jooyoung dengan tidak tahu malu menelepon Jaehyun beberapa malam kemudian. Dan secara mengejutkan pria itu setuju begitu saja untuk berkendara menuju apartemennya dan membawanya mengelilingi kota Seoul hanya untuk mencari tempat yang tepat untuk berbicara. Tentu saja. Dia adalah Jaehyun. Memangnya apa yang kau harapkan?

“Kurasa aku tidak pantas untuk melakukan ini,” Jooyoung memulai pembicaraan dengan ragu. Jaehyun duduk di depannya mendengar dengan seksama. “Kurasa kau sangat pantas untuk membenciku.”

“Tapi aku tidak membencimu,” balas Jaehyun dengan tenang. Dan memang tidak ada kebencian dalam suaranya maupun di balik matanya. Membuat Jooyoung meringis dengan rasa bersalah. Kenapa jaehyun harus seluar biasa ini?

Jooyoung menghela napas dan menutup mata untuk menghindarkan migrain ringan yang menyerang sistemnya akibat terlalu baiknya kekasihnya itu. “Benci saja aku, kumohon. Aku pantas untuk itu.”

“Sebenarnya apa yang sedang berusaha kau sampaikan?”

“Maaf.” Kata Jooyoung lemah.

Jaehyun mendengus. Lalu berkata “Kau sudah pernah mengatakannya.”

“Ya aku ingin mengatakannya lagi.”

“Kau tidak perlu melakukannya. Aku tidak marah.”

“Tapi aku memang perlu,” balas Jooyoung dengan keras kepala. “Karena aku butuh kau memaafkanku sebelum aku memintamu melakukan hal lain untukku.”

Jaehyun mengernyitkan kening bingung. “Memangnya apa yang kau ingin aku lakukan yang perlu maaf dariku dulu?”

“Kau tidak akan percaya.”

Jaehyun mencoba menerka apa yang yang akan dikatakan oleh Jooyoung berikutnya. Apa ini berhubungan dengan hubungannya dengan Sehun? Dia hampir sama sekali tidak membicarakan tentang Jooyoung dengan saudaranya. Terlalu kejam jika dia harus membicarakan tentang itu dengan Sehun. Meski berkata dia baik-baik saja tapi Jaehyun tidak mampu begitu saja langsung mendiskusikan topik sensitif itu. Sangat sakit rasanya.

“Memangnya apa?” Jaehyun bertanya setenang mungkin, berusaha mengabaikan nyeri di dadanya saat memikirkan Sehun dan Jooyoung.

“Janji kau tidak akan menertawaiku atau menghakimu atau semacamnya kalau sudah kukatakan,” Jooyoung berkata sambil menggigit bibir bawahnya. Akhir-akhir ini dia banyak melakukan itu setiap berbicara.

Melihat kegugupan Jooyoung semakin membangkitkan rasa penasaran Jaehyun, “Kau tahu aku tidak pernah melakukan hal seperti itu. Katakan saja.”

Menarik napas panjang, Jooyoung berusaha mengumpulkan keberaniannya bersama besarnya volume oksigen yang dipasoknya ke dalam paru-paru. Berharap mereka cukup banyak untuk mencegah kematian tiba-tibanya kalau sampai Jaehyun menolak permintaannya.

“Akutahuinikonyoldanakulahyangsudahmemutuskanmuakusangatkejamdankauseharusnyamembencikutapiakuinginkembalibersamadenganmu.” Ujar Jooyoung cepat dalam satu hembusan napas sambil menghindari mata Jaehyun saat berbicara. Wajahnya terasa sangat panas.

Jaehyun melongo. Berusaha memahami makna perkataan Jooyoung yang dikatakan melebihi kecepatan shinkansen. “Apa kau bisa mengulanginya?”

Jooyoung mengerang keras. “Tidak bisa.”

“Tapi aku tidak menangkap satu kata pun yang kau ucapkan,” protes Jaehyun.

Entah kenapa Jooyoung kehilangan keberaniannya seketika. Dengan lemah dia berkata, “Lupakan saja kalau begitu.”

“Hah? Kenapa tidak jelas begitu?”

“Aku tidak bisa mengulanginya.”

“Kenapa?”

Jooyoung menundukkan kepala. Mencoba menyembunyikan semburat merah di wajahnya. “Aku malu.”

“Malu karena?”

“Karena ini sangat memalukan.”

“Kau hanya berputar-putar dari tadi,” ujar Jaehyun. Memutar bola mata. Dan itu bukan hal yang dia lakukan setiap hari.

“Baiklah akan kukatakan lagi,” Jooyoung akhirnya menyerah. “Tapi berjanjilah tidak akan menghakimiku.”

“Kau sudah mengatakan itu tadi.”

“Berjanjilah.”

“Baiklah aku janji.”

“Sumpah?”

“Ya, sumpah.”

“Baiklah.” Jooyoung mengulang ritualnya sekali lagi. Menarik napas panjang dan berbicara. Kali ini dengan tempo diperlambat sepersepulhnya dan memangkas begitu banyak kata dari kalimat originalnya. “Aku mencintaimu.”

Pada detik yang sama Jaehyun langsung terperangah. Menghentikan seluruh gerakan dari tubuhnya. Bahkan organ dalam sekali pun. Jaehyun bisa merasakan jantungnya serasa berhenti berdetak. Apa dia salah mendengar? “Apa?”

Jooyoung sekali lagi mengerang frustasi. “Aku tahu kau sudah mendengarku saat pertama. Kenapa selalu menyuruhku mengulanginya sih?”

“Karena itu terlalu tiba-tiba dan aku tidak yakin aku mendengarnya dengan benar.”

“Aku mencintaimu,” kata Jooyoung sekali lagi dengan lugas.

“Tapi…’

“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku akan mengatakannya ribuan kali sampai kau tidak bertanya lagi. Aku mencintaimu.” Jooyoung menatap kepada Jaehyun dengan ragu. Kemudian berbicara lagi dengan lembut. “Aku mencintaimu. Dan aku minta maaf.”

“Kenapa tiba-tiba..”

“Aku sudah bersikap bodoh. Aku salah. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”

“Bagaimana dengan Sehun hyung?”

“Aku… tidak. Perasaanku kepadanya bukan seperti itu. Butuh waktu lama tapi sekarang aku sadar. Kaulah yang kucintai. Maafkan segala yang kulakukan. Aku tidak pantas dimaafkan. Tapi aku berharap kau mau melakukannya. Dan mengulang semuanya denganku.”

Jooyoung terdiam setelah itu. Menunggu balasan dari Jaehyun dengan was was. Sementara pria itu duduk terpekur di depannya. Keterkejutan menguasai ekspresinya. Seperti berusaha menyadarkan diri kalau ini bukan mimpi. Kenyataannya ini memang bukan mimpi. Tapi tetap saja ini terlalu bagus untuk menjadi sebuah kenyataan.

“Apa kau serius?”

Jooyoung mengangguk mantap.

“Kau yakin?”

Menangguk lagi.

“Tidak akan berubah pikiran?”

“Ya.”

“Kau betul-betul mau menjadi kekasihku lagi?”

Jooyoung mengangguk dengan antusias.

“Tapi kali ini aku akan berbeda. Bukan lagi seperti Jaehyun yang dulu.”

“Maksudnya?”

Jooyoung memandang takut kepada Jaehyun. Dia pantas mendapatkan ini. Semua rasa sakit yang dia berikan pada jaehyun, lelaki itu pantas untuk berubah. Sama seperti dirinya yang berubah setelah patah hati bersama Sehun dan Kai. Tapi sebagian hatinya yang begitu serakah tetap tidak rela jika jaehyun bukan lagi kekasihnya yang baik hati itu.

“Kali ini aku akan menjadi kekasih yang posesif,” kata Jaehyun. “Dan kau harus siap dengan kecemburuanku. Aku juga terkadang bisa sedih. Terluka. Dan kalau kita mulai lagi, aku tidak akan mau mengakhirinya. Kali ini kau tidak akan pernah bisa lepas lagi. Walau kau berhenti mencintaiku, atau kau kembali teringat dengan cinta pertamamu, apa pun yang terjadi, walau kau memohon pun, aku tetap tidak akan mau melepaskanmu. Kau selamanya terjebak denganku. Dan aku akan menghujanimu dengan cinta yang berlebihan. Jauh lebih dari yang dulu. Apa kau siap dengan itu?”

Jooyoung menatap Jaehyun tidak percaya. “Berubah apanya? Kau sudah dari dulu seperti itu.”

“Kali ini naik level.”

“Baiklah,” Jooyoung mengangguk setuju. “Aku tidak keberatan. Lagi pula aku juga tidak akan mau berpisah lagi darimu.”

“Sungguh?”

“Ya, karena itu jangan lepaskan aku juga. Miliki aku sampai kau puas. Kurung aku selamanya di hatimu.”

“Haha sekarang kau terdengar lebih seperti aku.”

“Aku tidak peduli,” ujar Jooyoung acuh. Ini terdengar sangat klise tapi siapa yang peduli. “Aku baru menyadari betapa hampa aku tanpamu. Aku selalu membutuhkanmu setiap waktu. Bukan orang lain. Hanya kau. Dan aku sudah dengan bodoh melepaskanmu. Dan malah merasa hilang sendiri setelah itu. Karena itu kali ini, jangan abaikan aku lagi. Telepon aku setiap hari, kirimi aku pesan setiap menit, beri aku bunga dan seluruh cintamu. Kumohon genggam tanganku sampai akhir.”

Sejujurnya ini begitu tiba-tiba. Dan jika harus berkonsultasi bersama Jennie dan Doyoung, Jaehyun tidak yakin dua orang itu akan membiarkannya untuk langsung menerima Jooyoung bersama permintaannya dengan tangan terbuka. Mereka pasti akan memaksanya untuk menunggu. Memberi hukuman untuk Jooyoung karena menyia-nyiakannya. Tapi Jaehyun tidak peduli. Dia tidak akan sabar dengan itu. Dia tidak mau menunggu lama untuk kembali mendapati Jooyoung dalam pelukannya. Karena itu sambil tersenyum dan membiarkan lesung pipinya terbentuk bersama eyesmile kesukaan gadisnya, Jaehyun menjalankan tangannya untuk meraih tangan Jooyoung. Melingkupi tangan yang lebih kecil dengan miliknya. Menyentuh kulitnya dengan mesra.

Saat Jooyoung merasakan jari-jari Jaehyun di kulitnya, dia mengangkat kepala untuk behadapan dengan pria itu. Memandang tepat ke matanya. Sekali lagi itu adalah pertemuan mata paling intim yang pernah dia lakukan.

“Aku tidak akan melepasmu lagi. Kau memilikiku. Selalu. Bahkan sampai bintang terakhir di galaksi ini mati, kau tetap memilikiku.

.

.

Jooyoung jatuh cinta tiga kali dalam hidupnya.

Di musim panas 2006, Jooyoung tidak pernah lupa. Dia jatuh cinta untuk pertama kali. Dengan seorang pemuda bermata sehitam malam dan wangi rokok yang dibenci Jooyoung. Dengan sebatang Dunhill menempel setia di antara bibir dan topeng angkuh di wajahnya, dia adalah seorang aktor yang tidak pernah tahu kapan untuk berhenti bersandiwara. Di antara bir yang mereka bagi bersama, dia menyalakan rokok pertama Jooyoung dan menciumnya seolah tidak mengenal hari esok. Dia memanggil Jooyoung gadis musim panasnya ― tidak disangka panggilan itu memang diartikan secara harafiah. Cintanya seperti hujan badai di suatu sore musim panas di Seoul. Dahsyat dan cepat berlalu. Meninggalkan hati Jooyoung tidak tertata. Butuh waktu lama hingga Jooyoung kembali mengingat namanya. Sesungguhnya cinta mereka berhenti dalam sebuah chaos dan kesalahpahaman. Sangat disayangkan. Terkadang takdir memang begitu kejam mempermainkan dua insan.

Di umur dua puluh satu Jooyoung jatuh cinta dengan tulus untuk kali kedua. Dengan pria eksentrik yang selalu mewarnai rambutnya mencolok. Pria yang tidak mau berhenti menghisap ganja. Entah sekarang dia masih begitu atau sudah berhenti. Tubuhnya wangi mint segar dan Jooyoung sangat menyukainya. Dia adalah pecinta yang sangat luar biasa. Dengan bisikan-bisikan lembut dan kata cinta di telinga Jooyoung setiap kali. Dia mencintai Jooyoung seperti anak kecil menyukai permen. Rakus dan terburu-buru. Di sela-sela kopi hitam kesukaan pria itu, dia selalu tidak luput melempar komentar-komentar romantis kepada Jooyoung. Cintanya seperti riak air di hari hujan. Mengalir lembut sampai perlahan menguap tidak berbekas. Meninggalkan hati Jooyoung mengering sedangkan pipinya basah. Hingga akhir Jooyoung tidak sempat mengungkapkan rasa cintanya. Meski hadir hanya seketika, dia adalah yang terbaik dan paling normal dari cinta yang lain. Menjadi penengah dari rasa sakit terhadap cinta pertama dan mengantarkan Jooyoung untuk menerima cinta ketiganya.

Cinta ketiga Jooyoung datang begitu terlambat. Dia berumur dua puluh lima saat itu terjadi. Kepada seorang pria yang lima bulan lebih muda. Dia adalah semilir angin yang menghembus rok Jooyoung dengan santai, perlahan tapi pasti menjatuhkan hati Jooyoung dengan kelembutannya. Keteduhan dalam matanya menghapus segenap insekuriti Jooyoung. Dia menyimpan Jooyoung aman dalam pelukannya. Mendamaikan hatinya, seperti stasiun radio lokal yang begitu familier. Setiap kali jemarinya berjalan di sekujur tubuh Jooyoung, rasanya seperti menghapus segala luka yang ditinggalkan pria lain. Dia sering kali membuat Jooyoung lupa bahwa kulitnya adalah miliknya sendiri. Dan dia membuat segala sesuatu terasa seperti pertama kali untuk Jooyoung. Dia selalu hangat dan aromanya seperti kue coklat panas yang baru dipanggang. Cintanya adalah pohon sakura di musim semi. Menutupi sungai duka Jooyoung dengan kelopaknya. Untuk pertama kalinya Jooyoung merasa bahagia semenjak bertahun-tahun lamanya. Dan dia hanya ingin terpenjara dalam hati Jaehyun untuk selamanya.

Pada akhirnya Jooyoung menutup cerita musim panasnya dengan ikhlas. Memberi kesempatan bagi musim semi memenuhi hatinya. Ini adalah kisah yang sempurna. Meski banyak rasa sakit dan air mata.

Terkadang saat menutup mata Jooyoung akan teringat kembali akan suatu musim panas dimana dia begitu muda dan jatuh cinta kepada seorang pemuda yang mencintainya kembali dengan antusias. Itu bukan sesuatu yang salah untuk dilakukan. Dia tidak harus menghapus kisanya dengan pemuda itu secara total. Sekarang kisah mereka bukan lagi sesuatu yang harus dikenang oleh Jooyoung dengan air mata. Dia boleh tersenyum jika mengingat kepala pemuda itu yang berwarna pink —asalkan tidak lupa untuk tetap mencintai kekasihnya jika sudah membuka mata.

Dia adalah cinta pertamanya. Mereka bertemu pada keadaan yang salah. Dan terlalu banyak kesalahpahaman di antara mereka. Dan meski rasanya takdir mereka sangat tidak adil, Jooyoung berusaha memakluminya. Mungkin seluruh alam raya membawa dia bertemu dengan pria itu dan membiarkan mereka menjalani kisah yang luar biasa hanya untuk menunjukkan bahwa cinta pertama tidak selamanya abadi. Atau seberapa besar pun kau menginginkan sesuatu, terkadang mereka bukanlah untukmu dan kau harus bisa menerimanya.

Terkadang beberapa hal memang tidak ditakdirkan untuk bersama.

-final-

A/N:

Oke don’t hate me. Please😄

Pada akhirnya Jooyoung memilih dia. Gak nyangka kan? Atau udah pada nyangka?._.

Jangan benci aku karena endingnya yang tidak memuaskan tapi serius aku ngerasa lebih baik ngasih akhir kayak gini.

Pas awal bikin cerita ini aku sebenernya emang udah pengen endingnya gini, tapi aku selalu galau kalau udah mengeksekusi tiap chapter. Kadang aku pengen akhirnya sama Sehun, kadang sama Kai kadang sama Jaehyun.

Sepanjang nulis chapter ini juga aku udah berkali-kali ganti draft. Aku punya alternative ending, tapi akhirnya milih yang ini karena lebih sreg.

Anyway terima kasih buat Nathaniel Hawthorne atas quote yang sudah menginspirasi setengah bagian dari chapter penutup ini dan mirai yang sudah ngasih tahu aku quote itu. Aku letakin quote nya di atas tuh😄

Terima kasih buat semua pembaca yang udah setia membaca dan menunggu ff dariku ini. Maaf gak bisa nyebut satu-satu tapi aku mengingat setiap username kalian. Terutama beberapa orang yang sangat luar biasa dalam memberi feedback. Gak perlu nyebutin nama tapi kalian pasti tahu kalau kalian yang aku maksud hehe.

Jangan lupa kasih feedback berupa komentar atau like ya. Serius aku pantas dapet itu😦 Jangan pelit-pelit ngasih feedback dong. Ini udah ditulis dengan susah payah😥 Maaf tetiba OOC tapi kan sedih kalau gak dihargain heuheuheu

Tunggu karyaku selanjutnya ya^^

Lots of Love,

Tamiko

46 responses to “[6/6] Break My Fall : Break Our Fall

  1. Woowww seriusly ini bener bener kerennn dan wow aku ga nyangka ffnya jadi kek gini,, ini bener bener jadi ff favorit aku, sama kaya jooyoung mungkin aku bakal susah buat move on dari ff ini,, aku bener bener suka sama kamuu /apasih?alaydehwkwk/

    Sudah aku pastiin aku akan menantikan ff kamu selanjutnya, walaupun aku baru tau kamu dari ff ini doang, sebenernya aku juga ga tau sih kamu udah bikin ff lain sebelum ini,, jadi aku tunggu cerita berikutnya ya ^^

    Hwaiting ^^

  2. Uuuyeee…
    Hahhah endingnya panjang banget…
    Sampe perih mata ini…
    Tapi sangat amat memuaskan kok…
    Jadi kebayar rasa lelahnya…

    Suka banget dengan penggambaran seorang jaehyun yang sempurna…
    Apalagi dia sangat baik hati…
    Walaupun sudah disakiti, tetep aja ngak bisa ngebenci orang itu…

    Awalnya sih aq marah pas jooyoung milih si sehun…
    Kenapa harus dia, padahal cinta jaehyun lebih baik dari sehun…
    Tapi ternyata ngak berhenti sampe situ…
    Cerita kebawah masih panjang…

    Pengen juga ikut si jen marahin jooyoung…
    Soalnya kalo dikasih tau ngak mau ngedengerin…
    Untungnya endingnya bikin jingkrak2…
    Jooyoung dapet ilham, dan memilih orang yang tepat…

  3. Terpanjanggggggg hehehe
    Sebenernya rada sedikit ga terima juga ya kalo akhirnya jooyoung milih jaehyun😩😩😩 #prosehun 😀😀
    Hmmm tapi sudahlah setelah liat penjelasan dari jennie yg super panjang tadi aku jadi kek yang ngangguk” iya juga ya kalo dipikir , pada akhirnya jaehyunlah yg bener” dicintai jooyoung, ” terkadang beberapa hal tidak ditakdirkan bersama” dan ya “tidak selamanya cinta pertama akan abadi” pokoknya aku juga seneng deh yang terbaik buat mereka ber-3 💕

    Pastilah akan kutunggu karya lainnya , semangat ✊👍

  4. kalo kemarin ak mau gantung diri di pohon toge. kali ini ak mau terjun bebas aja dari air terjun niagara. atau gak tenggelemin diti di lautan pasifik.

    jujur ya. ini sejujur jujurnya. aku gak suka endingnya. why???why???why???? sehun yg gans dan dan yg. …yg okay kamu emang yg paling fix buat cerita yg MENOHOK gini. dan fix juga bikin ak benci sama charanya si jooyoung!!!!!!!

    lebih bagus kalo endingnya si jooyoung gak pilih siapa2. gak sehun, gak kai (karna dia sdh punya someone special/abaikan/) dan gak jaehyun.

    tapi mau gimana lagi. inilah ending dan sebagai reader ak harus melapangkan hati walau nangis bombay bacanya. uhuhuhu. . . sehun kok cinta lu berakhir tragis siih. sini sama noona aja. …

    Dah aaah komen ak udah kek drable aja niih. . .
    pesen dikit buat authornya. . kalo bikin cerita jangan bikin anak orang nangis doong. kesian persedian tisu abis ntar. okay??? ehehe

    ditunggu karya lainnya^^

    hwaiting!!!!!

  5. Uhh pdahal berharap nya jooyoung pilih sehun,tpi gpp deh,kasian jga sma jaehyun dngn pngrbanan cinta dy slama ini..
    Bikin sequel donkk,tntng jaehyun yg brubah jdi posesif..hhe

  6. khususnya aku katakan bahwa ini begitu berharga.🙂 dari awal ceritanya selalu bikin speeclessh sampai di akhir pun speechles. sangat konsisten. seru banget asli. baca ini berasa real. satu hal disini sehun merokok ngebayanginnya berasa kenyataannya. dan sesungguhnya aku mau banget sesosok karakter jennie disamping ku. serius lagi. moodboster sekaliiii cerita muu~ . waaah speechless .masih ga kebayang ini kaya real gini. ceritanya bikin buat belajar ato nambah pengalaman tentang cintaa eaaa.

    aku pernah baca kata2 si pernyiar. yg memilih antara orang pertama dan orang kedua di drakor. bedanya di drakor tetap milih cinta pertamanya. tapi ini ya jelas berhak laah jaehyun memiliki jooyoung. sangat pantas. huuuh aduuuh hoalaah…..

    good job buat kamuuuu~. terimakasih atas persembahan ceritanyaaa. like this yoooo like thiiis. semangat terus buat berkarya lagiiiii~

  7. Sedih si kalo jadi jooyoung T_T rasa rasanya pengen punya dua duanya huaaaa
    Aku lebih setuju sama jaehyun, cinta dia ke jooyoung kaya besaaarr banget.
    Keren ka:)

  8. Parah praahh… ini ending yang paling ku tunggu. Asli deh kerennya minta ampun, kereenn!! Jooyoung terbaik, Jaehyun terbaiiikkk!! Suka bangeet sukaaa

  9. sorry for too late leaving a comment in this fanfic. tapi bukan berarti aku ga ingin memberi feedback, hanya saja… ff ini terlalu bagus untuk diberi kritikan, believe me, it’s true:’)
    awalnya aku kira Jooyoung ini endingnya akan sama Sehun, karena Sehun ini kan cinta pertamanya, tapi kemudian setelah baca part yang penyiar radio memberi kuotasi, aku punya feeling bahwa Jooyoung akan bersama dengan Jaehyun, soalnya kan kuotasi itu berbunyi “jika kamu mencintai dua orang bersamaan, maka pilihlah yang kedua. karena jika kamu memang mencintai yang pertama, tidak akan ada orang kedua” nah Sehun itu kan cinta pertamanya, maka seharusnya Jooyoung tetap dengan Jaehyun, tapi pas aku tau Jooyoung memilih mengakhiri hubungan dengan Jaehyun, i feel a bit dissapointed. dan kesel juga sih, soalnya aku yakin Jooyoung pasti salah meng interpretasikan, dan ternyata my feeling was right and i feeling soo happy.

    Keep writing, author-nim! I will support your project no matter what! And i promise, i’ll leave a comment on your next project!^^

  10. aaaahhh, di bikin greget banget sama authornya, waktu di bagian jooyoung dengerin radio tuhhhh, dr awal qu dah nebak sama jaehyun,, eehhhh ko malah jd sama sehun,, klah aku jd jenei aku jg bakalan marahin kaya gitj, rasanya pengin ikut neriakun ke jooyoung karena dah tega bikin jaehyun yg baiknya mnta ampun patah hati,
    ff nya dah sukses bikin aku baper, kesel tp jg seneng,
    seneng krena akhirnya seperti yg aku harapkan

  11. Akhirnya, aku puassss bangeeeeet sama ending nya…awal a aku kira bakalan sama sehun, karena aku memang lebih milih jooyong sama jaehyun karena menurut aku hubungan mereka lebih indah daripada sama sehun atau kai….chap ini penyampain nya keren banget, makin cinta sama authotnim,, ★♡♡..kalo ada kesempatan aku pengen baca karya lain a dari author dengan maincast jooyong-jaehyun lagi, karena aku sudah jatuh cinta sama pasangan ini…hehhehe…makasih untuk ffnya authornim yang sudah sangat menghibur….
    Semangaat ….

  12. AMAZING!! ff ini ud ditgu2_mlam ini ps tw FFnya ada q lgsg tegang!_cuaca disini jg pz lg hujn _takut_smcm firasat mgkn?n it’s true!Sjjurny q brhrp joo sm Sehun,tp ktika ending sprti ini awlx sedih bgt! Tp Author dg HEBATNYA mmbuat q_n ykin bgt REaders lain mengikhlaskan dg seiklas-iklasnya alur endingx sprti ini!diakhir2 q sedih tp q sxum,htiq lega n bhgia bgt bcax_smpe2 q nangis diakhir klimt! _Jaehyun&Jooyoung_betapa indah cinta klian… Sehun, thkz ud ikls_ Author thnk U! ditugu bgt krya lainx_LoVE U! :*

  13. Bnran panjannnhgggg bgt…but like this..setuju ko jooyoung sama jaehyun…sedih emang bwt sehun tp bnr juga ko…smua y masa lalu…dan jaehyun udh paling baik..bnr bwt jooyoung…kata2 penyiar y bnr bgt..pdhl aku juga udh kepikiran pasti milih jaehyun malah milih sehun..dia slh mengartikan…but really2 like this..

  14. Wah keren bgtttttt. Endingnya sesuai ekspetasikuuuuu😘😘😘. Awal2 rada males juga kenapa dgn teganya jooyoung selingkuh dan nyakitin jaehyun. Apalagi mutusin jaehyun. Duh pgn banting hp aja.
    Tapi lama2 akhirnya jooyoung sadar juga klw dia bener2 kehilangan jaehyun, dan disini jenny berperan sangat penting bgt buat jooyoung. Jempoll buat jenny👍👍👍
    Endingnya jooyoung sm jaehyun aja sudah bikin hati adem tentrem deh. Salut bgt sm jaehyun. Kira2 si jaehyun punya saudara kembar gak ya? Klw ada kembarannya boleh dong buat aku hehee😂😂😂

    Ffnya keren bgt, bagussss bgt. Suka bgtttt.
    Semoga ff selanjutnya gak kalah bagusnya yaa. 👏👏 ditunggu project selanjutnyaaa😍😍😍😙

  15. Finally..
    Tp agak terkejut ternyata Jooyoung ama Jaehyun #prosehun.. Sehun kasian sekaliii, selama 10 tahun sehun bahkan belum dapet cinta baru lg seperti Jooyung yg udah bisa merasakan cinta kai dan jaehyun 😢 krna sehun masih stuck sama jooyoung.. Tp cerita ini bagus juga, salut buat author 👍
    Kirain ff yg dibuat author bakal Sehun yg jd pemeran utama, soalnya namanya kan “Sehunblackpearl” hehehe biasa kan begitu.. klo bisa bikin epilog gtu ato apa gtu buat ngobatin mata dan hati ini utk Sehun yg tdk terpilih 😢 nyesek ni sehun kasiaaann 😭

  16. Yaampun ka, bantal gue basah, selimut gue basah, guling gue juga basah, tisu gatau abis brapa lembar…
    Seriusan, ini fanfict yg cuma 6 part tp permasalahan dari akar ampe ke pucuknya clear banget! First fanfict yg tiap partnya slalu nyajiin keidiotan Jooyoung yg bisa bikin baper kalo udahan bacanya! Swear, nyaris speechless!!!
    Tiap partnya main tebak2an, entah nantinya Sehun-Kai-Jaehyun-Sehun-Jaehyun lagi, teruss muter ampe buat PR diotak sendiri *hiks
    Dari 2 part terakhir gue sempet comment milih Sehun tp hati milih Jaehyun, trus sempet Sehun ehh balik lg ke Jaehyun, and the ending is Perfectly Jaehyun!
    Naksir banget ama kalimat penyiar radio, ngena banget sumpah, apalagi tambahan penjelasan dr Jennie, behh ampe mewek2 sambil bayangin Sehun-Jaehyun (but dominan Jaehyun)
    Seriously gue sempet ngrasa kecewa pas dipertengahan cerita Jooyoung milih Sehun, tp rada ikhlas si pas dapet embel2 dia masa lalu Jooyoung yg belom kelar, tp akhirnya dapet luapan rasa overhappy liat Ending yg super kecehh *standingApplause
    Jujur gue tadi jg rada nyesek pas cintanya Sehun ternyata emang jd pengertian harfiah yg brarti ya cuman Cinta Di Musim Panas, no more! Tp teteplah Jaehyun kebanggan, soalnya gue cinta banget ama musim semi, gugur, dingin, baru deh musim panas (soalnya Indonesia kan tiap hari musim panas wkwk) *curcol ehh? Ha-ha.
    Serumit itu penjabaran kisah cinta Jooyoung, padahal kesimpulan cuma satu, ‘kau tidak akan mencintai orang pertama jika kau memang benar mencintai orang kedua’ yegakk?
    Much love from me^^ Makasih banget buat kaka yg udah bikin fanfict se-(keren, keceh, bagus, mengagumkan, perfect) ini ditambah ending yg sama skali ga mengecewakan! Terpuaskan! Akhirnya nemu titik terangnya Jooyoung buat masa depannya *cieelah *colekJaehyun
    Thanks banget ya ka, serius gue seneng bangett^^
    LuvU, LuvU, LuvU, LuvU,LuvU, kaaaa! :*
    #HappySatNite #BestEnding #LuvJooJaeHun #JennieYoung #ImOverHappy

    • Eitsss ka, ditunggu banget next projectnya, yg lebih complicated, yg makin bikin otak+hati kelabakan mikirin nyari jawaban terselubung yg bikin penasaran wkwk

  17. Kak, cowo yang kayak jaehyun bener2 ada gak? Masih ready stock? Duhhh mau satu dong hahaha
    Tadi nya aku selalu kasihan sama jooyoung eh jadi kesel tinggat dewa pas dia milih lebih dengerin suara radio daripada suara hati wkwkwkw
    Pokoknya best best best deh buat ff ini😀
    Ditunggu karya lainnya kak. Oh atau ditunggu sequel nya hahahaha

  18. Kak, cowo yang kayak jaehyun bener2 ada gak? Masih ready stock? Duhhh mau satu dong hahaha
    Tadi nya aku selalu kasihan sama jooyoung eh jadi kesel tinggat dewa pas dia milih lebih dengerin suara radio daripada suara hati wkwkwkw
    Pokoknya best best best deh buat ff ini😀
    Ditunggu karya lainnya kak. Oh atau ditunggu sequel nya hahahaha

  19. kisah cinta yang sangat rumit:”
    sebenernya ga rela sih endingnya joo sama jaehyun maunya sama sehun:v tapi yasudahlah toh jaehyun sosok yang sempurna banget ga kaya sehun yg bastard wkwkwk.. overall ff nya bagus banget dari chapter awal sampe akhir selalu dibikin baper dan ceritanya ga bisa ketebak. aku suka banget sama ff ini.. keep writing ya kak!! ditunggu project selanjutnya & lanjutan ff between the linenya jangan lupa:v

    • Wkwk tbh aku jg maunya jooyoung sm sehun tp ntah knp gak pas aja kalo mereka disatuin di ending😄 oke oke between the line bakal dilanjut berhubung yg ini udh finish hehehehe

  20. Tuhkannn apa gue bilang joo… Mending ama jae😄
    Sebenernya mah kalo endingnya sm jae ya bukan tebakan aku eonn, tp harapan aku sih joo mending sm jae aja hehehee
    Aku kalo jd joo juga bakal milih jae. Ya sehun sih emang cinta pertama, tp kan kita hidup ke depan bukan kebelakang…
    Dan endingnya puas rasanya hahahaha yahh meskipun sempet greget pas joo malah milih sehun trus mutusin jae x_x tp untunglah happy ending \(^ 0 ^)/

    Oke, next projectnya ditunggu eonn! Keep writing, hwaiting^0^)9

  21. Waaah terbaik…
    Dari awal ampe ending semua penggambarannya detail banget,,kebayang semua sifat karakter disini, dari jooyoung yg labil dan keras kepala sampe jaehyun yang perfect banget..
    Kesel juga dia salah ngartiin kata2 penyiar itu buat milih sehun, tapi seneng endingnya dia sadar dan milih jaehyuun,,
    Ku tunggu ff selanjutnyaa

  22. Huaaaa endingnya bikin terhura:’) oke aku jujur kalo dari awal emang maunya joo sm sehun aja. Tp setelah baca chapter terakhir ini aku jadi sadar, kalo jaehyun itu emg yang terbaik buat jooyoung huehue😭
    Part yang berhasil buat aku tereak” gaje pas si jooyoung mutusin jaehyun T^T entah kenapa harusnya aku seneng kalo jooyoung milih sehun tp kok jadi nyesek gak terima gini ya ? Ngebayangin perasaan si jaehyun itulohh saoloh pasti retak nyess nyess /apaan sih💔
    Dan aku mau ngucapin WOW buat kakak krn ff ini berhasil masuk ke dalam daftar ff favoritkuuuu 🙌🙌🙌 /lebay . demi apa kak aku suka bgt sama ff ini. Mulai dr alur,plot,bahasa, serta karakter masing” cast di ff ini. Aku suka sehun yg rela membiarkan joo sm jae padahal dalam atinya dia masih syggg sm gadis musim panasnya. Ataupun jaehyun yg super baik bgt jadi cowo astaga╥﹏╥ mana ada cowo sebaik dia di dunia rl._. Dan juga jooyoung disini yg akhirnya bisa memilih dan gk nyia nyiain yg cinta mati sm dia. Aku juga suka karakter jennie disini, menurut aku jennie ini sahabat yg the best:D walaupun ngomongnya ya agak kasar tp yg namanya sahabat selalu punya solusi dan ikut bantu dalam menyelesaikan masalah sahabatnya /ehakk.

    Sejujurnya aku masih pengen kelanjuttan cerita ini T^T. Pengen jooyoung ketemu sm sahabat lamanya , si krystal hehe. Aku juga pengen kaistal balikan gituu pls kak T^T /maksa. And..si sehun begimana nasibnya?
    Komenan gue kepanjangan ga sih? Yodah sampe sini dulu. Pokoknya kk salah satu author favoritku jadi aku bakalan nunggu karya” kk selanjutnya! Keep writing okay? Hwaiting!!ヽ(*⌒∇⌒*)ノ

    *maaf kalo komenannya gaje atau apalah krn aku juga ga terlalu pandai berbicara /yaelah curcol/ atau menyampaikan sesuatu dgn baik :)) hehe

  23. finally, jaehyun sama jooyoung
    bener dugaan aku haha
    kak kenapa lama baru sekarang endingnya
    jadinya aku ga terlalu ngefeel padahal di chap sebelumnya aku nangis apalagi pas jooyoung sama kai
    yaudah gapapa
    kak sequel dongg biar faedah .g

  24. Mulai baca dr awal ud yakin pasti bakalan ama sehun tp gw kok ngerasa id jooyoung bru sadar kqlo selama ini jaehyunlah yang udah kasih obat untuk patah hati parahny si jooyoung.. batu sadar kalo jaehyun emang pantas buat dipertahankan, pantas untuk dicintai lebih lagi..

    Jujur mik aku terharu sumpah ama ff km ini.. penyampaian kisah patah hatiny jooyoung bgitu dramatis dan realistis #ceilehh.. dan emang setuju bgt jooyoung harus sama si jahe.. krn sehun is mine.. wkwkwkwk #ketawajahat bercanda.. puas bgt ama endingny..apalagi ama kuote yg jika diperhadapkan sama dua org yg sama2 kamu cintai, pilihlah nomer dua karna org kedua ini yg bs bkin kamu berpaling dari org pertama..

  25. daaannn ini bner2 ending.. gk niat bikin squel gtuh *senggol author. atau nambah part lagi maybe(ini kn udh ending plis). hhaha 3/3 dan jadi 6/6. btw gue seneng ,krna critanya itu brsa nyta aja. oke endingnya sm si jahe bkn sma si ohseh. dan ini emng ending pling rasional di abad 21. krna klo mlih s sehun jgn2 ntar klo musim panas nya end hub mrka jga end lg. beda lagi kn klo sma s jahe yg cintanya unlimited. btw nasib si ohseh gmna blik ke kanada trus ngpain? jual cilok berboraks(?) atau meratapi nasib sbg jmblo. ah trserah lo sih y hun. pdhal sjjurnya pas awal gue ngrepin lo blikn ama s joo. but yeah, you are just her past.yà gusti sediain gue satu aja cwok kya si jahe, ko kayanya tanpa cacat gtu ya.oh oh itu yg d blang sma pnyiar radio ugh ngena bnget d hati. krna yahh yg mmpu brthan smpai akhirlh yg jd juaranya(gk nymbung gusti). btw ini memuaskannn.. love love buat authornim. !! trus berkarya yaa..
    (btw komem aku ntah knpa jrang masuk T_T) syedihhh aing.

  26. Legaaaa! Akhirnya permasalahan cinta jooyoung kelar😀 Bikin selametan haha
    Aku dibuat gemes sama pola pikir jooyoung. Pas bagian joo bilang jaehyun ‘mencampakkan’, ini joo bego atau apa?! Sempet agak was was takut endingnya joo sama jae jadi gila betulan gara gara cinta mereka. Pas bagian kata kata mutiara dari penyiar radio, terus joo milih sehun. Aku speechless, kok bisa sehun jadi orang kedua?! Plis deh joo😦
    Tapi aku berharap jae nunjukkin sedikit aja kemarahannya, jgn kelewat baik😦
    Overall, akhirnya memuaskan! Sangat! Uwaaa! Salut banget sama tulisan kamu! Ff ini termasuk ff yg ga aku lupa chapter sebelumnya walaupun updatenya lama.
    Terima kasih untuk kerja keras kamu untuk ff ini. sangat menghibur. Jadi oase ditengah hirukpikuk tugas.

  27. Finally,,,
    Akhh aku puas bgt sama chapter ini,
    Meskipun juyong plinplan nyebelin kek gtu pd akhirny dya sadar kalo jaehyun paling the best..
    Jadi intinya kalo kamuu mencintai dua orang pilihlah orang kedua..
    Aku jadi makin cinta sama jae,,,
    Thankz for a great story authornim, iloveyou..
    Bikinin sequel dong.. Hihihi

  28. “Ini adalah kisah yang sempurna. Meski banyak rasa sakit dan air mata” kalimat ini bener-bener merangkum semua isi cerita ini. begitu banyak rintangan buat jooyoung sblm menyadari perasaannya pd jaehyun. endingnya memuaskan dg feel yg dpet bgt. pas bagian joo mutusin jaehyun n jaehyun bsa menyimpan rasa sedihnya sndirian itu sumpah bkin nyesek bgt….overall ini ff bner2 ‘Daebakkk’. d tunggu ff karya author-nim selanjutnya…

  29. Wah daebak, dan aku pun ga nyangka endingnya gini. Diputer puterin akhirnya sama jaehyun juga hihi
    Setidaknya kisah cinta kai sama sehun clear ngga digantungin hehe
    Sehun keren dah bisa ikhlas ngelepasin joo dan jaehyun keren bgt bisa sabar bgt ngadepin joo, adakah cowo kaya jaehyun didunia ini haha
    Ditunggu next projectnya😀

  30. Uhhh yaampun 😌😌 akhirnya ending juga! Ini panjang bett, bikin baper sendiri tau ga sii > < serasa sakit ati nya tuh sanpe sini 🙏 wkwk
    Ga tau knapa tau jaehyun seriusan baik bangett, gue kalo jadi jooyoung jga bingung buat nglakuin apapun. Sunpah seriusss, ini feel nya dapet bettt. Tapi aku agak sedih karena end nya ga sama my sehunnie 😆 aku kira bakalan sehun. Tapi kalo dipikir pikir sehun pernah jahat ke dia ampe kek bgitu. Dann yg ngbuat jooyoung ancur itu kan juga sehun yakk 😑 dudduduh. Ini sumpah udah serasa baca novel ihh, seru bett, baper baper. Tapi ga papa lahh. End nya mereka bahagia. Akhirnya ada yg sanggup "break my fall" nya si jooyoung. Daebakkk!! Ditumggu slanjutnyaaa

    • Akhirnya ending /tumpengan/
      Aku jg baper loh nulisnya 😂 Malah jaehyunnya trlalu baik deh 😢 takutnya ooc huhu. Aku awalnya mau bikin sama sehun tp yakin kalian yg ada pasti bakal jd benci jooyoung bgt jd aku milih endingnya sm jaehyun wkwk. Yap akhirnya yg ngebreak my fall nya jooyoung adalah sehun dan diikuti jaehyun dan jooyoung ngebreak fall nya mereka bertiga 😂 Makasih yaaa udh nungguin cerita ini 😊

  31. huaaaaaa kakakk!!!!!

    ini serius ya ampun jaehyunnnnnnnn :(((( ada banget suer cowo kaya jaehyun ada ga ?ada ga? ada ga? ada ga??? apa perlu ikut po😦 wkkwkw

    aku masih ga nyangka banget ini udh series terakhir :((( dari awal chap pas jooyoung ngerasain cinta pertama yang penuh menyakitkan /eaaa udh ngebaper duluan😦 terus pindah hati sama kai diseries selanjutnya serius deh sempet jatuh hati juga aku sama kai sampe ga tau harus masuk team mana 😂😂😂 nah ini loh yg paling baper ketika jaehyun muncul dikehidupannya jooyoung wkwkw aku baper loh sampe tiap hari mampir kesini cuman pengen tau cerita ini udh update apa blom wkkwkw tapi beneran deh aku beneran suka sama jaehyun gimana dia sabar sama jooyoung walau jooyoung juga blm lupa sama mantan. emg yah mantan itu haram disebut/eh.

    dri series kemaren beneran menurutku udh ngecampur adukkan perasaan readers 😁😁 bingung pilih jaehyun apa sehun. jaehyun yanh sempura atau sehun yang selalu memikat hati adeuhhlah.

    awalnya aku pengennya sih jooyoung sama sehun karna sehun sendiri kan oc nya jadi aku mikir jooyoung bakal balik lagi sama sehun tpi ternyata oh.. ini diluar dugaan tpi hasilnya ga bikin kecewa karna dari series sebelumnnya emg jooyoung lebih cocok sama jaehyun dan jaehyun juga sayanhnya kebangetan sama jooyoung aku iri masa😦 malah menurut aku justru kalo jooyoung ga jadi sama jaehyun kesannya malah jooyoung kaya cewe ga tau berterimakasih yg ngelukain hati siapa yang nyembuhin siapa wkkww maafkan mungkin agak kasar._.

    tpi yah yg paling aku suka tuh jennie ya ampun ada yah orang macam dia blakblakan masih sabar ngeladenin jooyoung yg labil sama perasaannya temen kaya gini jgn ditinggalin lah :”.

    buat jaehyun aku ga tau ngomong apa sama dia😦 terlalu sempurna lah udh lah aku baper bgt sama dia😦. perjalanan kisah cinta yang dramatis lah jooyoung ini 3 kali jatuuh cinta yang beneran ninggalin kesan mendalam buat dia terharu aku tuh :”.

    aku kira pas jooyoung ngajak balikan jaehyun bakal ngelamar jooyoung wkkw kan sayang itu cincin ga dipasangin malah disimpen wkwk. terus juga aku kira ada bagian jooyoung sama jaehyun nikah terus datang sehun-cielah sehun datang kenikahan mantannya hahaha-

    aku juga penasaran loh kalo jooyoung jadinya sama sehun ._. ku ingin tau nasib jaehyun kaya gimana /jahat/. tpi masih ada harapan dong jooyoung sama sehun di BTL yah kan? yah kan? iyain aja deh kak wkwkkw 😂😂

    maafkan mungkin aku kepanjangan kali yah wkwkw tpi gimana sebenernya aku juga masih ada yang mau diketik soal cerita ini yg bikin baper kaya mau pilih paha ayam atau dada ayam haha pokoknya aki tunggu loh karya lainnya 😳😳😳😳

    • Huaaaaa komennya panjang dan aku senyum2 bacanyaaaaaa. Kamu baru buat hariku jd seribu kali lbh baik heuheuheu. Makasih yaaaa buat feedbacknya :” Aku smpe speechless pas buka komennya dan panjang. Oke aku jg ganyangka akhirnya bisa nyelesaiin series ini. Baru sekali ini akutuh galauuuu bgt bikinin endingnya ff gmn. Sampe akhir aku masih susah milih antara jaehyun sm sehun tbh. Krn yalord jooyoung itu milik Sehun 😳 Baru sekali ini dia jd milik org lain. Salah aku sih yg nulis gini. Terlanjur bikin karakter jaehyun jd cowok yg kalo dia tersakiti pasti pembaca bakal marah dan aku sndiri gatega nyakitin karakter dia 😢 Jujur aku smpat mikir gmn kalo dikasih sm kai aja jooyoungnya 😂😂😂 supaya gak ada yg dipilih baik jaehyun atau sehun 😂 Yap jennie, aku suka pake bgt sm karakter dia, berharap sahabtku kaya jennie masa wkwkwk. Oh iya aku jg mikir mau buat adegan melamar di sana tp aku mengurungkan niat krn ntar maksa bgt. Yakali jaehyun bawa2 cincin pdhl mantan cuman ngajak ketemuan 😂 yap tenang msh ada btl kok. No spoiler buat btl ya tp tunggu aja hubungan sehun jooyoung di btl 😂
      Makasih bgt ya buat komennya 😍😗 Aku seneng bacanya hehehe

  32. Seandainya adalah kata yg sangat didambakan dalam sebuah penyesalan…
    kisah cinta yg rumit, dan tanpa disadari sumber kesakitannya itu adalah drinya sndiri..
    seeogoisnya jooyoung dan sbruk2nya apa yg dia lakukan, aq suka kamu mmbuat jooyoung bisa menyadari keslahannya..
    keep writing ^^

  33. Huwaaa akhirnya dipost juga!!
    Setuju banget sama quote nya, kalau kita nggak bakalan mungkin jatuh cinta sma yg kedua, klw kita cinta sma yg pertama. Dan juga setuju klw yg jennie katakan itu benar, itu bukan cinta, cuman penasaran krn kisah cintanya nggak berakhir baik2.
    Pengen banget punya sahabat kayak jennie.
    Kalau ada cowok yg kayak jaehyun di dunia, aku mau satu dong.
    Kasihan sma sehun nya, tp emang ceritanya lebih srek klw akhirnya jooyoung sma jaehyun.
    Makasih nggak bikin sehun menderita banget, saat diputusin sma jooyoung.
    Tp jangan jg pura2 baik2 aja, kayak jaehyun. Dia mah malaikat. Hehehe
    Aku baru baca pas perjalanan ke kampus, dan itu baru setengahnya. Kemudian dilanjut pas pulang kampus, dengan suasana hujan2. Aduh lama gantungnya. Pas lagi belajar, sibuk mikir jooyoung milih siapa yah. Jaehyun atau sehun.
    Turut berduka cita u/ hatinya sehun.
    Btw, sehun nya sama aku aja. Kan lbih srek.. eaaa~
    Biar semuanya punya pasangan.
    Kan happy ending..
    Clap clap buat authornya yg udah kerja keras bikin ff keren ini.
    Ditunggu karya selanjutnya~
    Ditunggu sequel nya hehehe..
    Himne!

  34. Tarik nafas. Hembuskan~

    Oke ini ff yang SANGAT AMAT membekas. Serius kak. Selain karna ceritanya pake kehidupan orang barat (btw aku suka banget cerita kehidupan orng barat yg wild and free-tp nggak minat ngepraktekin, jelaslah- aku jg dulu pernah bilang di chapter sebelumnya, walaupun aku yakin kakak nggak inget😂) penggunaan bahasanya itu enak banget. Cantik. Pembawaannya juga santai. Feelnya dapet banget sampe kebawa mewek atau senyam senyum sendiri atau jengkel sampe pengen banting hp.

    Serius ini nggak ketebak kalo endingnya bakal dikemas dengan sangat apik. Dari chapter pertama dibuat nangis sama pengen punya cowo kaya sehun, di next chapter dibuat baper sama pengen punya cowo kaya kai, di hampir last chapter dibuat greget, sangat baper, iri, dan pengen banget nget nget punya cowo kaya jaehyung😂

    Kakak dapet inspirasi darimana sih kok bisa buat kisah romance yg genrenya pasaran jadi berkualitas gini😂😂

    Good job kak💕
    Aku menikmati banget ceritanya.
    Aku juga mau bilang makasih udah ngeluangin waktu buat nyelesain cerita ini, makasih udah bekerja keras buat ff ini. Makasih banyak kak *bow

    Ditunggu karya selanjutnya kak^^
    always support you kak.

    P.s.
    Kak di toko mana ya aku bisa dapet cowo kaya jaehyun?😂😂😂😂

  35. ya ampun jooyoung apa yang kamu pikirkan
    melepas jaehyun melepas sehun
    entahlah mau bagaimana nasib percintaan jooyoung
    dia egois dia terjebak masa lalu dia terjebak kebaikan hati dan cinta jaehyun
    maunya ada sequelnya
    please ya saengi

  36. Her being with Jaehyun is the most rational decision (of Jooyoung) ever. Reading this I was so frustated-_- kayak masalah Jooyoung itu labirin yang gak ada jalannya walau udah muter2, BUT you made the way, author, and I’m so relieved.

    Beneran deh, kalo aku jadi Jooyoung mungkin udah frustasi gak mau makan, pengen kabur aja kali ya. I was so absorbed with this story, really like it :’) thanks for writing and finishing this!

  37. Terpanjanggggf
    Butuh bbrpa hari buat baca wkwkwk
    Kak sumpah kerennn
    Walaupun dukungnya jooyoung sma kai
    But jaehyun deserve it really
    Huwaaa ditunggu cerita lainnya kak kkj

  38. Aku nggak tahu udah berapa kali bilang ‘yaampun’ waktu baca final chapter ini. Habis Jaehyun itu, cari dimana cowo kaya gitu ya?😄 Masih sempet mikirin Jooyoung saat dia sendiri udah ancur gitu. Husband material sekalee~
    Aku suka penyelesaiannya yang panjang dan detil banget. Kurasa itu emang penting biar dapet ending yang ngelegain🙂 Dan serius ini ‘plong’ banget endingnya. Ngga sadar aku jadi lebih suka Jooyoung sama si Jae, padahal awalnya netral-netral aja.
    Anyway, ini keren sekali kak! Konflik batinnya Jooyoung itu hebat banget. Salut buat kakak yang udah deksripsiin sedemiakian detail (y) Keep writing😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s