(Jongin-Jiyoon) Between Good and Evil

14033706_1675949852730991_941468352_n

Author : Jongchansshi (http://thejongchansshi.wordpress.com)

Before : Start, Characters

Related to : Amour Obsede, Hamartia (berkaitan tapi bukan lanjutan)

Cast : Kim Jongin (EXO’s Kai), Song Jiyoon (OC, you can imagine her whoever you want)

Genre : Marriage Life, Slice of Life

Rating : PG

Length : Series

“Kalau butuh sesuatu, panggil saja aku, nek.”

“Kau benar-benar anak yang baik, Jongin. Aku ingin sekali memiliki cucu sepertimu.”

“Kau bisa menganggapku sebagai cucu-mu.”

“Benarkah?”

“Ya.”

Kemudian mereka berdua saling berpelukan erat, kepala bersandar di bahu satu sama lain.

Jiyoon tidak tahu sejak kapan dia berdiri di dekat pintu apartemen yang letaknya disebelah apartemennya dan Jongin yang baru mereka tempati seminggu. Dari dia bangun tidur, perempuan itu tidak mendapati Jongin dimana-mana dalam apartemen mereka. Beruntung ketika dia memutuskan keluar, Jiyoon langsung mendapati suara Jongin dari apartemen yang pintunya tidak tertutup sebelah. Ia yang tadinya ingin mengetuk pintu dan masuk secara sopan, menghentikan niatnya dan memilih untuk berdiri ditempatnya dan memperhatikan diam-diam. Dia menyaksikan banyak hal dengan mata kepalanya sendiri, dari kedua orang itu bercerita hal-hal random dan tertawa keras hingga suasana berubah menjadi lebih dramatis seperti sekarang.

“Aku akan menjaga nenek.” Ucapnya sungguh-sungguh dengan senyum manis yang merekah di bibirnya.

“Terimakasih, Jongin. Terimakasih banyak. Andai aku punya anak perempuan yang seumuran denganmu, aku pasti akan menjodohkannya denganmu, kau lelaki sopan, penyabar dan penyayang, siapapun pasti beruntung apabila memilikimu.”

Bagaimana bisa Jongin bertingkah seperti anak anjing yang polos didepan orang-orang padahal aslinya dia serigala menyeramkan? Dasar psikopat berkepribadian ganda.

Jiyoon mengeluarkan decakkan yang ternyata cukup keras untuk didengar Jongin sehingga pria itu sadar atas keberadaannya. Dia pelan-pelan melepaskan pelukan hangat si nenek dan mendekati Jiyoon yang berada di pintu. Melihat gadis itu menatapnya dengan pandangan menyebalkan begitu, cepat-cepat Jongin menjelaskan dengan suara pelan, “Kalau kau mengiraku berselingkuh, kau salah paham. Aku hanya menganggapnya nenek sendiri. Pelukan itu bukan apa-apa, sumpah!”

Jiyoon memutar bola matanya kesal, “Ya! Aku juga tahu soal itu. Siapa yang salah paham?” tanya perempuan itu judes. Jongin menghela napas lega, lagipula perempuan ini mana mungkin cemburu dengannya. Jiyoon bahkan pernah menangkap dia berpelukan (tidak sengaja) dengan gadis cantik dan masih muda, tapi perempuan itu sama sekali tidak marah ataupun menuduhnya yang tidak-tidak. Coba saja kalau hal itu berbalik dan Jongin yang melihat Jiyoon begitu, mungkin Jongin akan menghabisi Jiyoon seperti sebelum-sebelumnya.

“Kenapa kau berdiri disini dan tidak masuk?”

“Aku mau masuk sekarang.” Jiyoon menjawab dengan nada suara judes yang sama.

Gadis itu memaksakan senyum kepada si wanita tua berusia pertengahan 70an yang duduk di ruang tamu, dia biasa dipanggil Nenek Choi, Jiyoon pernah menemuinya dan memberikan kue sebagai tanda perkenalan tetangga baru, tapi dia tidak terlihat secerah ini. Tetangga lain yang berada di lantai yang sama, si perempuan 30an yang berprofesi sebagai model papan atas memberitahunya kalau si nenek menjadi tertutup dan dingin semenjak kematian anak bungsunya 2 tahun yang lalu, sekarang wanita tua itu tinggal dengan cucu perempuannya yang masih SMA dan jarang kelihatan.

“Kau istrinya Jongin, kan? Apakah kau sudah makan? Tadi aku membuat Bibimbap, kau mau aku menyiapkannya untukmu?” tanya nenek itu lembut, dia bahkan memegang hangat bahu Jiyoon. “rasanya enak, iyakan, Jongin?” pria itu memberikan persetujuan dengan mengangguk sembari tersenyum manis.  Astaga, mereka benar-benar terlihat akrab, seperti nenek dan cucu sedarah yang sudah mengenal lama.

“kau harus mencobanya, itu enak sekali.” Ucap Jongin meyakinkan.

Jiyoon menggeleng dan menolak secara halus, “terimakasih nek, tapi tadi aku sudah makan.”

“Ah, sayang sekali.” Nenek itu menunjukan raut kecewanya. “bagaimana kalau nanti kalian makan malam disini? Aku akan menyiapkan masakkan spesial buat kalian.”

Jongin langsung menyetujui tanpa berpikir, ia menatap Jiyoon dengan tatapan mengintimidasi agar Jiyoon mau tidak mau mengatakan ‘ya’, alhasil perempuan itu mengangguk tidak iklas pada akhirnya.

Suasana kembali seperti tadi, Jongin dan Nenek Choi bercerita tentang hal-hal tidak penting, Jongin bahkan memberitahu nenek tentang kejadian-kejadian memalukan dalam hidupnya di New York dan bagaimana New York merupakan kota metropolitan yang sangat sibuk dan ramai, tapi dipenuhi oleh manusia-manusia kesepian.

Walaupun dia tidak ikut campur dalam pembicaraan mereka,  bibir Jiyoon tanpa sadar merekahkan sebuah senyum. Entah kenapa, melihat Jongin dan nenek Choi yang saling bercerita dan tertawa heboh membuatnya merasa…hangat.

Perempuan itu tiba-tiba teringat dengan tujuan utamanya kenapa keluar dari apartemen.

“Nenek, aku permisi duluan. Aku mau ke minimarket.” Pamitnya. Jiyoon berdiri, diikuti Jongin yang berdiri juga. “kau disini saja.” Bisiknya pada Jongin. Tapi, sejak kapan Jongin mendengarkan ucapannya?

“Aku juga pamit, nek. Dia akan tersesat apabila kubiarkan pergi sendirian.” Nenek Choi tertawa ringan, dia menganggukkan kepalanya menyetujui. Kedatangan Jongin pagi ini benar-benar membuatnya merasa jauh lebih baik. Lelaki itu kemudian keluar duluan dengan sebelumnya memeluk nenek Choi sebentar, Jiyoon masih disana karena nenek Choi ingin membicarakan sesuatu kepadanya.

“bolehkah aku meminta sesuatu padamu?” pintanya sembari memegang lembut tangan kanan Jiyoon. Gadis itu menaikki satu alisnya, mata memelas nenek Choi yang memandangnya pada akhirnya membuat Jiyoon mengangguk ragu, “Jaga Jongin baik-baik dan jangan menyakiti dia. Dia anak yang baik. Kau bisa melakukannya, kan?

Dalam hatinya yang busuk, Jiyoon langsung mencelah, ‘nenek belum lihat saja bagaimana sisi monster Kim Jongin, dia tidak pernah sebaik itu.’ Gadis itu menghembuskan napasnya yang terasa berat dan terpaksa tersenyum, “baik, nek. Aku akan melakukannya.” Jawab Jiyoon terpaksa, setelahnya dia langsung keluar dari apartemen nenek Choi, mendapati Jongin menunggunya di depan pintu dengan kedua tangan ia selipkan di dalam saku celana.

“Aku bisa pergi sendiri dan tidak tersesat, tahu.” Ucapnya kesal.

“Aku tahu. Tapi aku juga ingin keluar.” Balas Jongin cuek.

“Kau bagaimana bisa seakur itu dengan nenek Choi? Aku sama sekali tidak disapanya ketika mengunjungi apartemennya pertama kali.”

Jongin menghela napas berat sebelum bercerita, “Tadi pagi ketika aku keluar apartemen, aku mendapatinya terjatuh di depan lift. Kemudian aku menanyakan dia mau kemana, aku berniat untuk mengantarnya. Dia bilang dia mau ke atap gedung untuk bunuh diri. Aku tidak mungkin menyetujui permintaan bodoh itu, makanya aku membawanya kembali ke apartemennya, dia menceritakan tentang hidupnya yang menyedihkan dan kesepian.” Jongin kembali menghela napas sebelum melanjutkan, “aku kasihan sekali padanya. Dia selalu ditinggalkan oleh orang-orang yang dia sayangi.

Jiyoon tersenyum tipis, awalnya, dia menduga kalau Jongin hanya cari muka dan pura-pura baik kepada nenek Choi, he is that two faced bastard, anyway. Tapi mendengar ceritanya dan bagaimana dia bercerita, Jiyoon merasa kalau Jongin berbuat begitu karena itu memang sifat dan karakternya. Well, dia harus mengakui kalau Jongin mungkin memang seperti yang dikatakan nenek Choi, dia lelaki baik, sopan, penyabar dan penyayang. Buktinya, dia selalu begitu kepada Yura, Yeri, Sehun, pelayan-pelayannya dan lain-lain.

“Dia menyukaimu karena kau baik.”

Jongin mengangguk setuju, “dia mungkin membenciku kalau aku jahat.”

“Kau hanya berbuat jahat kepadaku.” Gumamnya pelan, tanpa sadar mengungkapkan isi pikirannya. Oh sial, apa yang baru dia katakan barusan? Jiyoon sama sekali tidak bermaksud mengatakan itu dan mengungkit hal-hal yang seharusnya dia dan Jongin lupakan.

Ia dapat merasakan kalau mata tajam Jongin sedang memperhatikannya, sementara perempuan itu sebisa mungkin berkelakuan santai disaat jantungnya tengah berdegub kencang. Suasananya benar-benar menjadi tidak enak. Kenapa mulutnya selalu menjadi bencana, sih? Bagaimana kalau Jongin tiba-tiba menjadi monster lagi seperti dulu kemudian menyiksanya? Sampai sekarang, Jiyoon masih yakin kalau Jongin tidak mungkin sepenuhnya berubah. Dia bisa tiba-tiba kembali menjadi monster lalu menyakitinya, kan?

“Kau masih mau hidup bersamaku meskipun aku jahat, terimakasih.” Dan jauh dari dugaan Jiyoon, lelaki itu malah tersenyum manis ketika Jiyoon melirik kearahnya. Dia bahkan merangkul bahu Jiyoon erat-erat, tidak membiarkan perempuan itu melepaskannya meskipun ingin sekali. “omong-omong, apa yang nenek Choi katakan padamu?”

“Kau mau tahu? Tidak ada informasi yang gratis di dunia ini.” Jiyoon mengembalikan pernyataan Jongin tempo hari ketika dia ingin tahu sesuatu tapi Jongin tidak memberitahunya. Senjata makan tuan, kan?

“Aku akan memberitahumu tentang Kang Sora.” Jongin menawarkan, dia yakin kalau Jiyoon tidak akan tertarik. Tapi gadis itu langsung menganggukkan kepalanya. Apakah dia sepenasaran itu tentang Sora?

“Nenek Choi memintaku untuk tidak menyakitimu.” Ucapnya pelan, matanya memandang kearah bawah. Jongin yang sesekali masih memperhatikannya sambil berjalan mengeluarkan tawa yang sebisa mungkin ia tahan. Tapi disaat yang bersamaan, dia menjadi tidak enakkan kepada JIyoon dan ingin memeluknya. Sayangnya, dia tidak berani memeluk gadis itu.

“Ya, makanya, jangan sakiti aku.” Bisiknya dengan nada menyebalkan.

Jiyoon dengan kasar melepaskan rangkulan Jongin, Berhenti bertingkah kekanakan, Jongin. Itu menjijikan.”

“Kau lebih mau aku bertingkah jahat, ya?” tanyanya main-main. Jiyoon berjalan lebih cepat, dia merasa darahnya akan semakin mendidih apabila terus-terusan meladeni Jongin yang menyebalkan begini.

“Cherie.” Jongin memanggilnya, itu adalah sebutan yang paling Jiyoon benci. “Hey, Jiyoon!” pria itu memanggil Jiyoon yang nyaris berlari itu, tapi tidak dihiraukan. Akhirnya, Jongin ikut berlari untuk menghampiri.

“Kau tembus.” Ungkap Jongin pelan, alhasil Jiyoon langsung berhenti tiba-tiba ditempatnya. Tanpa perlu mengecek, dia tahu kalau Jongin tidak berbohong. “Pantas kau sensian daritadi.” Jongin berbisik lagi, tapi nada suaranya penuh ejekkan. “kau kembali saja ke apartemen, biar aku yang membelikanmu pembalut.” Tawarnya, Jiyoon tentu saja setuju, dia tidak mungkin keluar disaat celana biru muda nya penuh bercak darah. Untung Jongin berbaik hati untuk meminjamkan sweater yang tadinya ia pakai untuk melapisi kaosnya kepada Jiyoon.

thanks.” Ucap gadis itu tidak iklas sebelum berbalik dan berjalan ke arah lift. Bagaimanapun, Jongin telah sangat membantunya karena dua hal.

“Hati-hati, ma Cherie!” ujarnya pelan.

Ma Cherie. Jiyoon ingat tiap kali Jongin memanggilnya begitu, pria itu memiliki rencana sinting untuk menyiksanya sampai dia memohon untuk memintanya berhenti, tapi Jongin tidak akan berhenti. Jiyoon membenci panggilan itu setengah mati, dia juga membenci orang yang memanggilnya begitu. Dia membenci Jongin mungkin lebih banyak dari pria itu membencinya. Dan dia harap, dia masih membenci Kim Jongin sampai sekarang.

“Hati-hati juga, malaikat kegelapan.” Gumamnya pelan, sengaja agar tidak didengar Jongin, tentu saja dia hanya sedang gila dan mengingat Jongin yang sadis, tapi tidak lagi membencinya sebanyak dulu.

***

Ku kangen berat sama Jongin bajinganku huhuhu. kalau masih banyak yang minat, akan kulanjutkan (tapi gajanji cepet dan panjang, iam kinda busy with skripsweet)

Sebenci2 apapun aku sama Jongin di Amour Obsede ternyata dia ngangenin banget, sialan emang TT. yang brengsek selalu lebih diingat lol.

Kalau diliat sih, emang segitu yang harus dibayar Jiyoon buat bersama Jongin. secara Jongin indah banget kalo ngga jahat mah.

Advertisements

105 responses to “(Jongin-Jiyoon) Between Good and Evil

  1. Ahh emang nih si Jongin ngangenin wkwk. Ngakak pas dia bilang kalo Jiyoon tembus fakk sekali hahahha. Suka suka sukaa~

  2. Aaaa setelah sekian lama ga sempet baca2 ff, aku ktmu ff ini di tempatmuuuu wkwkwk kangen parah sama couple ini. Ternyata Jongin yg dulu bukanlah Jongin yg sekarang (?) Jiyoon nya juga lucu judes2nya wkwkw pokoknya gapernah bosen sama cerita2 soal mereka. Good job, kak! Wkwkwkk

  3. Ohhhh jadi jonginn sama jiyoon pindah ke new york? Pengen cepet2 bisa buka tuh gembok hamartia biar tahu bagaimana endingnya

  4. sekian lama gk baca karya kakak author kesayangan..
    tetep bagus kak,feelnya masih kayak dulu..
    lucu nya juga dpt,mmng karya kakak selalu luar biasa…
    ttp semangat kak! mmng jongin terlalu tampan haha..
    yang brengsek selalu lebih diingat 😀 #ckck #betul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s