Unspeakable Secret | 10th Chapter

unspeakable mancay

:: UNSPEAKABLE SECRET ::

(말할 없는 비밀)

 

STORYLINE BY NISA

POSTER BY dyzhetta @ Art Fantasy

 

MAIN CAST :

Oh Sehun

Kim Leera

 

Support Cast : EXO’s Members, OC, Various Artist || Genre : Drama, Family, Romance || Rating : PG 17

 

Previous Chapter

[BAB 1] || [BAB 2] || [BAB 3] || [BAB 4] || [BAB 5] || [BAB 6] || [BAB 7] || [BAB 8]  || [BAB 9]

 

 

HAPPY READING😀

 

Jongin memarkirkan porsche putih kesayangannya di pelataran parkir sebuah hotel berbintang lima dimana tempat pernikahan Taemin dan Jiyeon dilangsungkan.

Sedari tadi Nami yang sudah terduduk disebelah Jongin dengan balutan dress putih berkesan elegant rancangan Somi tak dapat lagi mengulum senyum bahagianya. Entah ia sendiri tak mengerti dengan perasaannya yang senang bukan main kala menatap pengemudi tampan disebelahnya. Bahkan mungkin Nami terlihat lebih bahagia dari kedua pengantin di dalam sana.

“Sesenang itu kah kau menghadiri pernikahan mantan kekasihmu sampai sedari tadi kau tak bisa berhenti tersenyum bodoh seperti itu?” ujar Jongin yang otomatis membuyarkan hayalan-hayalan manis yang sedari tadi berkeliling diatas kepalanya. Berkhayal diajak dansa oleh Jongin didalam sana nanti misalnya.

Nami mendelik salah tingkah ke arah Jongin yang sedang melepas sabuk pengamannya. “Enak saja mengatai senyumku bodoh, awas kau!!” balasnya.

Mereka berduapun turun dari kereta mesin putih Jongin dan tanpa perintah dari siapapun Nami langsung mengalungkan tangannya di lengan Jongin. Jujur, Jongin kaget, bahkan ia sempat terperanjat saat merasakan tangan Nami sudah bertengger manis disana.

“Biar terlihat lebih realistis,” jelas Nami—tanpa Jongin minta. Jongin hanya membalasnya dengan senyuman tipis lalu keduanya kembali melangkah menuju ke ballroom hotel tempat acara di gelar.

 

***

 

Beberapa pasang mata tertuju pada pasangan serba putih alias Jongin dan Nami. Pasalnya, hampir seluruh pengunjung yang datang mengenal Nami dan mengetahui fakta bahwa gadis itu merupakan mantan pacar dari Taemin.

Kisah percintaan Nami dan Taemin dulu bisa dimasukkan dalam kategori hubungan yang paling didambakan oleh setiap insan, khusunya wanita. Pasalnya, Taemin dan Nami dulu hobi sekali mengumbar kemesraan dimanapun mereka berada. Apalagi sifat romantis dan penuh kejutan Taemin yang tak ada habisnya, membuat para wanita mendambakan sosok kekasih sepertinya. Tampan, mapan, dan mengejutkan, mendekati sempurna bukan?

Sayang sekali kisah percintaan yang berlangsung selama enam tahun tersebut harus kandas ditengah jalan karena kehadiran orang ketiga yang merupakan sahabat terdekat Nami sendiri, yaitu gadis yang kini bersanding dengan Taemin di pelaminan, Go Jiyeon.

Hal tersebut terjadi awalnya disebabkan oleh Nami yang harus melanjutkan studi masternya di Jerman, sehingga ia dan Taemin terjebak dalam hubungan Long Distance Relationship yang menyebabkan hubungannya dengan Taemin semakin renggang seiring berjalannya waktu.

Kala itu, malam dimana peringatan hari jadi mereka yang ke enam tahun, Nami sengaja pulang ke Seoul tanpa memberi tahu siapapun karena ingin membuat kejutan pada pujaan hatinya tersebut, Lee Taemin.

Tanpa pernah ia sangka sebelumnya, ia justru menemukan Taemin yang sedang bercinta dengan Jiyeon diruang tamu apartement pria itu. Kejadian itu merupakan akhir dari hubungan percintaannya dengan Taemin dan akhir dari hubungan persahabatannya dengan Jiyeon, akhir dari segalanya.

Oke, sudah selesai bernostalgianya.

Nami dengan bangganya berjalan di karpet merah menuju altar masih dengan lengan yang mengalung di lengan kekar Jongin. Ia merasa bangga ia berhasil menunjukkan pada semua orang bahwa ia tidak dicampakkan, dan ia sudah berhasil move-on dari si brengsek itu.

Tidak munafik, Nami akui, sebenarnya ia berhasil moveon dari Taemin baru satu tahun belakangan ini. Oh ayolah, enam tahun hubungan mana bisa dilupakan hanya dalam waktu satu dua malam ‘kan?

“Lihat, Do Nami datang bersama pria lain, sepertinya kekasih barunya,” bisik seseorang yang berhasil memasuki pendengaran Nami.

Seorang wanita yang sedang berada di stand minuman juga terlihat membisikkan sesuatu kepada temannya, “Siapa pria yang bersama Do Nami itu? Dari gayanya bisa dibilang pria itu termasuk kelas atas, namun sepertinya ia bukan chaebol?”

Tanpa memperdulikan bisikan demi bisikan yang sampai ketelinganya, Nami terus berjalan menuju tempat dimana Taemin dan Jiyeon berada untuk menyapa serta memberikan selamat pada kedua mempelai tersebut.

“Nami-ya!!!” pekik sebuah suara nyaring dan berhasil menghentikan langkah Nami dan Jongin. Mereka menoleh ke arah datangnya suara?

Mata Nami membulat serta bibir seksinya langsung tersenyum sumringah kala ia mendapati seorang gadis berdress merah dengan corak bunga tulip di bagian roknya berjalan kearah mereka. “Kang Jinhee!!!” balas Nami tak kalah nyaring.

Keduanya langsung berpelukan khas wanita. Mata gadis bernama Jinhee tersebut langsung beralih pada Jongin yang berdiri disebelah Nami. “Nami-ya, ini siapa? Jangan bilang… kekasih barumu?” tanya Jinhee sedikit berbisik, namun masih terdengar oleh Jongin.

Tanpa menjawab, Nami menganggukan kepalanya sembari tersenyum lebar. Bukannya memberi selamat pada Nami, Jinhee justru menatap lekat-lekat Jongin dari ujung kaki hingga ke kepala, entah apa yang dilakukan oleh gadis ini.

Jinhee kembali mendekatkan bibirnya pada telinga Nami. “Yak! Jangan bilang kau masih belum bisa move-on dari Taemin?” bisik gadis itu lagi.

Alis Nami berkerut mendengar perkataan temannya itu, “Enak saja! Jelas-jelas aku sudah mempunyai pengganti si sialan itu, mana mungkin ‘kan aku masih menaruh hati padanya?” balas Nami.

“Kau tidak membohongiku ‘kan? Baguslah kalau begitu, aku harap kau tidak menjadikannya sebagai pelampiasan semata,” ujar Jinhee lagi.

“Tentu saja tidak akan!!” jawab Nami bersemangat. “—oh ya, aku ingin memberi selamat dulu pada kedua pengantin, nanti mengobrol lagi ya,” tambah Nami.

Jinhee mengacungkan jempolnya kedepan wajah juga mengedipkan sebelah matanya, “Oke!” ujar gadis itu.

 

***

 

Tepat pukul delapan kurang lima menit Leera menjatuhkan bokongnya di salah satu sofa empuk berwarna merah marun yang terdapat di lobby hotel tempat mereka menginap selama beberapa hari ini.

Leera melirik ke arah jam tangannya dan ia bernapas lega karena ia tidak terlambat. Ia takut kalau ia terlambat Sehun akan membatalkan rencana kepergian mereka ke Bangkok hari ini. Kalian harus tahu bahwa Leera ingin sekali pergi ke Bangkok sejak dulu. Sebenarnya tabungannya sudah cukup untuk berlibur ke Bangkok. Namun ia lebih memilih untuk menyimpan tabungannya untuk hal-hal yang lebih penting daripada berlibur.

Gadis itu mengedarkan pandangannya sejauh mungkin untuk mencari sosok pria berkulit pucat yang tak lain adalah Oh Sehun. Tangannya terangkat keatas dan dilambaikannya dengan antusias saat ia mendapati sosok Sehun yang baru saja keluar dari lift dengan setelan santai yang melekat begitu sempurna ditubuh semampainya. Sehun mengenakan kaos putih polos beserta bomber jacket berwarna hijau tentara yang akhir-akhir ini menjadi tren di dunia fashion. Sedangkan kaki jenjangnya ia balut dengan jeans berwarna biru.

“Sudah sejak kapan kau disini? Kau terlihat begitu semangat, asal kau tahu,” ujar Sehun saat ia sampai dihadapan Leera.

Leera melirik sekilas kearah jam tangan berwarna putih yang ia kenakan, “Sekitar lima menit yang lalu mungkin,” jawabnya.

“Sudah siap menjelajah Bangkok bersama bos tampanmu ini?” tanya Sehun dengan tangan kiri yang ia letakkan di dagunya.

Leera melihat kesekelilingnya dan terlihat sedikit bingung. “Kita berdua saja?” tanyanya.

“Tentu saja. Memangnya kau mau mengajak seluruh manusia yang ada di hotel ini untuk berangkat ke Bangkok bersama kita, huh?” Sehun terkekeh geli setelahnya.

“Tidak, aku pikir kita akan berangkat bersama rekan lainnya. Pantas saja sedari tadi hanya diriku sendiri yang berada disini. Bahkan Sooyoung masih tertidur karena hari ini tidak ada jadwal pekerjaan apapun,” ujar Leera–masih dengan raut wajah kebingungan.

Sehun menempeleng lembut kepala Leera, “Dasar bodoh, kita ‘kan akan pergi berkencan, mana mungkin ‘kan rekan kerja lainnya ikut serta?” sahut Sehun frontal. Bahkan kini ia melingkarkan lengannya di pundak Leera.

“Apa-apaan ini?” protes Leera sembari menepis rangkulan Sehun di pundaknya.

“Sudah kubilang kita sedang berkencan, jadi jangan merusak suasana dengan protesan naifmu itu. Biarkan begini atau kita batal pergi ke Bangkok?” ancam Sehun, disertai pula dengan seringaian andalannya.

Leera menggerutu sebal dan menggembungkan pipinya. Otaknya memikirkan sesuatu yang dapat membalas ulah semena-mena Sehun.

Tiba-tiba gadis yang kini mengenakan blus berwarna peach yang dipadukan dengan rok tennis berwarna violet tersebut menghentikan langkahnya hingga mau tak mau Sehun pun ikut menghentikan langkahnya. “Ada apa?” tanya Sehun setelahnya.

“Aku juga punya syarat. Kau boleh merangkulku seperti ini seharian asalkan kita ke Bangkok naik Bus Umum. Bagaimana?”

Leera menyeringai licik. Ia tahu serangan balik ini akan berhasil karena tentu saja Sehun akan menolak mentah-mentah permintaannya. Ia tahu betul Sehun yang begitu membenci hal-hal yang berbau sederhana dan kurang privasi.

Sepertinya perkiraan Leera benar. Lihatlah, kini wajah Sehun benar-benar terlihat keberatan dengan syarat dari Leera barusan. Dahinya yang berkerut seribu itu sudah cukup menggambarkan pikirannya saat ini. Yaitu ke-be-ra-tan.

“Kenapa diam? Kau tidak setuju? Kalau begitu silahkan lepas—“

“Siapa bilang? Aku setuju kok. Deal, kita naik bus umum ke Bangkok,” putus Sehun pada akhirnya.

Leera hanya bisa mengaga mendengar putusan tak terduga dari Sehun. Padahal sebelumnya ia yakin seratus persen bahwa Sehun akan menolak keras persyaratan darinya. “Bodoh kau, Kim Leera. Harusnya kau memberikan persyaratan yang lebih tidak masuk akal. Kalau begini kau sendiri yang dirugikan,” rutuk Leera dalam hati.

 

***

 

Kini mereka berdua sudah berada didalam Bus Umum menuju ke Bangkok. Jarak dari Pattaya ke Bangkok sekitar 140 kilometer yang akan menghabiskan waktu perjalanan kurang lebih tiga jam perjalanan.

Mereka sudah menghabiskan waktu sekitar satu jam perjalanan sejak tadi, dan yang dilakukan oleh Leera dan Sehun adalah sibuk dengan diri mereka masing-masing. Leera yang sibuk dengan ponsel serta sepasang headset yang menggantung di telinganya, sedangkan Sehun sedari tadi terlihat sibuk mengerjakan urusan perusahannya melalui sebuah tablet berukuran sepuluh inch tersebut.

Leera tiba-tiba saja menguap karena ia tak dapat lagi membendung rasa kantuknya. Perlu kalian ketahui, semalam gadis itu hanya tidur selama empat jam. Ia tak bisa tertidur semalam karena terlalu sibuk membayangkan hal-hal apa saya yang akan ia lakukan di Bangkok.

Sehun yang tidak menyadari gerak gerik Leera tetap sibuk pada tablet di tangannya dengan alis yang saling tertaut membaca kata demi kata yang terpampang di tabletnya sampai pada akhirnya ia merasakan kepala Leera tumbang tepat di atas bahu kirinya.

Ia awalnya terperanjat kaget karena pergerakan Leera yang begitu tiba-tiba, dan untungnya ia tak sampai menjatuhkan tablet berharganya tersebut. Kini fokus Sehun berpindah pada wajah damai Leera yang bersandar nyaman pada pundaknya, bukan lagi pada laporan pekerjaan yang sedari tadi menyita habis perhatiannya.

Sehun meletakkan tabletnya diatas paha lalu tangan kanannya yang kini kosong tergerak untuk mengelus kepala Leera. Ia juga menyelipkan rambut Leera yang terjuntai menutupi wajah cantik gadis itu kebalik telinganya.

“Ternyata gadis ini cantik juga. Sayangnya kau harus terlahir dari rahim wanita jalang seperti itu,” gumam Sehun pelan sembari menatap wajah Leera lekat-lekat.

Tiba-tiba saja bus yang mereka tumpangi mengerem mendadak dan dengan sigap Sehun melingkarkan tangannya kepundak Leera agar gadis itu tidak terjatuh dari duduknya. Sehun bahkan merelakan tablet berharganya harus jatuh menyapa lantai karena tak sempat ia pegang.

DEG

Gelanyar aneh serta degupan jantung yang menggila seketika menghinggapi Sehun. Rasanya aneh dan… asing. Ya, Sehun tak pernah merasakan hal ini dalam hidupnya selama ini. Hal ini ia rasakan karena jaraknya dan Leera yang begitu dekat saat ini dan juga pelukan eratnya yang tulus pada Leera yang terlihat tidak terusik sama sekali dengan apa yang terjadi barusan.

“Tidak. Debaran ini pasti disebabkan aku shock dengan bus yang mengerem mendadak. Bukan karena Leera. Bukan. Bukan. Bukan. Ya, sudah jelas Bukan.” Sebisa mungkin Sehun menenangkan dirinya yang lagi-lagi bereaksi aneh.

Sadarlah Oh Sehun, sesuatu yang tak pernah kau bayangkan telah terjadi padamu. Ya, kau sudah tertarik pada Leera tanpa kau sadari.

 

***

 

Leera dan Sehun akhirnya dengan selamat menginjakkan kaki mereka di ibukota Thailand, Bangkok.

Leera tak dapat menahan senyumannya kala bus yang mereka tumpangi berhenti di Stasiun Bangkok.Ia menuruni bus dengan tidak sabaran bahkan tanpa ia sadari ia hampir meninggalkan Sehun di dalam bus.

“Hei, kau harusnya lihat-lihat dulu sebelum berjalan. Nanti kalau kita sampai terpisah bagaimana? Kau kan tidak bisa berbahasa Thailand,” sungut Sehun pada Leera yang aku yakin sudah tidak mendengarkan ocehan Sehun lagi karena pikirannya sudah berlari menghayal tentang hal-hal yang akan ia lakukan hari ini di Bangkok.

“Aku baru tahu kalau Bangkok bisa membuat orang menjadi gila,” sindiri Sehun. Kali ini Leera meresponya, “Mianhaeyo, Sehun-ssi. Aku begitu bersemangat sampai aku tidak bisa berhenti tersenyum, jadi jangan heran jika aku tersenyum sekalipun aku terjatuh hari ini,” ujar Leera berlebihan, namun sebenarnya ia mengutarakan perasaannya yang sebenarnya.

“Ya, aku tahu kau sangat senang akhirnya bisa ke Bangkok. Tapi tetap perhatikan keselamatanmu, oke? Aku tidak mau kau celaka, Stellee…” ujar Sehun lembut sembari memegang pipi Leera dengan sebelah tangannya.

Perkataan Sehun barusan tentu saja membuat jantung Leera berparade tanpa pamrih. Entah kenapa perkataan penuh kekhawatiran itu terdengar begitu manis ditelinga Leera. Sehun… benar-benar sudah membuatnya jatuh. Tapi Leera masih terlalu gengsi untuk mengakuinya dan ia juga masih merasa sangat-sangat tidak pantas untuk mendapatkan seorang Oh Sehun yang mendekati sempurna.

“Hei, kenapa sekarang kau justru diam? Katanya ingin mengeksplor kota ini secepatnya?” ujar Sehun yang berhasil memecah narasi-narasi Leera dengan dirinya sendiri.

“Ah, ya. Kajja, Sehun-ssi,” ujar Leera yang tanpa sadar menggandeng tangan Sehun untuk berjalan bersamanya.

 

***

 

Kini Leera dan Sehun sudah sampai di Kuil Buddha Berbaring atau biasa disebut Wat Pho yang berarti sama dalam bahasa Thailand. Kuil ini merupakan Kuil tertua di Bangkok. Selain itu, di Wat Pho ini terdapat Reclining Buddha; nama lain untuk patung Buddha yang sedang berbaring, terpanjang di Thailand. Yaitu sepanjang 46 meter dengan tinggi 15 meter dan perlu kalian ketahui, patung ini terbuat dari bata, gips dan lapisan emas. Telapak kakinya dilapisi dengan 108 lakshana; lambang suci Buddha, yang terbuat dari mutiara.

Di koridor aula tempat patung ini berada, terdapat 108 mangkuk perunggu yang melambangkan sifat-sifat keberuntungan Buddha, sehingga menjatuhkan koin di mangkuk ini dipercaya dapat membawa keberuntungan.

Meskipun Leera tidak begitu percaya dengan yang namanya mitos serta legenda-legenda semacam itu, ia tetap tidak ingin melewatkan tradisi melempar koin kedalam mangkok tersebut. Karena… siapa tau benar-benar terealisasikan, right?

Leera merogoh sakunya dan ia mendapati dua buah koin yang sudah disiapkannya sejak tadi. Gadis itu menoleh ke arah Sehun yang masih menatap bangunan dihadapannya dengan wajah datar. Entahlah, sepertinya pria ini terlihat cukup bosan.

Leera menyenggok lengan Sehun dengan sikutnya. “Sehun-ssi, mau melempar?”

“Melempar apa?” tanya Sehun dengan wajah yang super-duper kebingungan. Oh ayolah, ia benar-benar bingung dengan perkataan Leera barusan. Apa yang mau dilempar? Bukankah tidak sopan melempar sesuatu ke benda bersejarah seperti ini? Apa gadis bernama Kim Leera ini sudah gila? Yap, begitulah sekiranya spekulasi yang Sehun ucapkan sendiri didalam hati.

“Tentu saja koin ini. Masa melempar sepatu? Bisa-bisa kita di deportasi dari Thailand,” balas Leera yang saat ini tertawa sendiri atas candaannya.

“Untuk apa melempar koin? Memangnya patung ini butuh uang?”

PLETAK

Leera baru saja menghadiahi Sehun dengan sebuah jitakan yang cukup keras dikepala pria itu. Maaf, Leera tidak bisa lagi menahan rasa geramnya pada Sehun yang mendadak bodoh. Bagaimana bisa patung yang merupakan benda mati membutuhkan uang? Apa dia tidak punya pikiran lain?

“Aww!! Sakit, Kim Leera!!” Sehun balas menjitak kepala Leera. “Hei, kenapa kau menjitakku balik?!” sungut Leera tak terima.

“Kau juga kenapa tiba-tiba menjitak kepalaku?”

“Karena omonganmu begitu bodoh, Sehun-ssi. Mana ada patung yang membutuhkan uang. Bahkan disekujur tubuh patung ini dilapisi emas.”

Sehun mengangkat bahunya dan menjawab, “Ya kan siapa tahu? Lalu, kalau memang dia tidak butuh uang, untuk apa kita melempar koin?” tanya Sehun lagi.

“Konon katanya, kalau kita melempar koin kedalam mangkok itu, keberuntungan akan datang pada kita. Well, aku tidak terlalu percaya sih. Tapi… ya siapa tahu?” ucap gadis itu dengan pandangan penuh harap ke arah mangkok yang dimaksudnya tadi.

“Oh begitu. Boleh juga di coba, cepat berikan aku koin,” balas Sehun tak kalah bersemangat.

 

***

 

Chatuchak Market merupakan pasar terbesar di Thailand. Chatuchak Market, yang juga dikenal sebagai JJ Market, memiliki lebih dari 8000 kios yang terbagi di 27 area. Paling tidak ada 8 jenis barang yang dijual di Chatuchak Market, yaitu: makanan kering, keramik, buku, pakaian, barang antik, home decoration, tanaman, dan binatang.

Chatuchak Market ini hanya beroperasi pada akhir minggu yakni hari sabtu dan juga minggu saja. Berhubung hari ini adalah hari Sabtu, Sehun dan Leera berkesempatan untuk mengunjungi pasar terbesar di Thailand ini.

Lagi-lagi Sehun terlihat kurang tertarik dengan destinasi pilihan Leera yang ke empat setelah Wat, Arun, Wat Pho dan Grand Palace yang sudah mereka kunjungi tadi. Hal itu terlihat jelas dari wajah Sehun yang selalu saja tanpa ekspresi alias datar sejak tadi, dan benar-benar berbanding terbalik dengan gadis mungil yang berada didalam genggaman tangannya saat ini.

“Kenapa kita tidak ke Platinum Fashion Mall atau MBK Center saja, eo?” ucap Sehun yang dengan jelas mengatakan keberatannya sebelum memasuki Chatuchak Market yang terlihat begitu dipadati pengunjung.

“Disini lebih tepat untuk berbelanja, Sehun-ssi. Selain banyak pilihan juga harganya murah dan masih bisa di tawar. Kau tahu, temanku bilang tempat ini adalah surga belanjanya Thailand!!” seru gadis itu sembari melompat kecil dan Sehun hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali menghadapi tingkah kekanakkan Leera yang terlihat begitu menggemaskan.

“Di Platinum Market juga banyak pilihan, Leera-ya. Dan untuk urusan harga, kau tidak perlu khawatir. Aku pasti akan membayar tagihan belanjamu berapapun itu asal kita jangan berbelanja disini, oke?” pinta Sehun dengan wajah super murungnya.

Sumpah demi apapun, Sehun benci tempat ramai apalagi harus sampai berdesak-desakkan!

“Oh ayolah, Oh Sehun. Mengalah sedikit kepada perempuan, oke? Katanya… kau menyukaiku? Tapi berkorban sedikit untukku saja keberatan, dasar payah!!” hasut Leera dengan wajah menyindir khasnya. Leera sendiri tidak tahu mengapa perkataan konyol yang terdengar tak tahu diri seperti itu bisa terucap begitu saja dari mulutnya.

Sehun terdiam untuk beberapa saat, mungkin ia sedang berpikir. Hingga akhirnya ia menjwab keputusannya. “Oke, aku mengalah, kita berbelanja didalam sampai kau puas dan aku berjanji aku tidak akan mengeluh sedikitpun. Tapi sebagai gantinya… kau harus mengabulkan tiga permintaanku,” ucap Sehun yang kini tersenyum miring penuh arti.

“Hei, mana bisa seperti itu. Kau tidak adil!! Aku kan hanya memintamu melakukan satu hal yaitu ikut aku belanja ke dalam dan kau meminta tiga balasan?” sungut Leera keberatan.

“Ya sudah kalau tidak mau ya kita tidak masuk.”

Leera yang saat ini terdiam dan sibuk dengan pikirannya, seperti Sehun tadi. Ia bingung ia harus apa? Memenuhi kemauan hatinya untuk berbelanja di Chatuchak Market tetapi harus memenuhi permintaan Sehun yang ia sadari pria itu akan meminta yang macam-macam, atau merelakan keinginanya untuk berbelanja di Chatuchak Market dan terbebas dari permintaan macam-macam Sehun? Ya Tuhan, semoga pilihanku tidak salah, batin Leera.

“Oke, aku terima tawaranmu. Tapi—“

“Tidak ada tapi-tapian. Jawab terima atau tidak saja,” potong Sehun cepat.

“Oke, aku terima. Puas kau?! Dasar otak pebisnis, tidak mau rugi sama sekali,” cibir gadis itu sebelum akhirnya mereka berdua melanjutkan langkah mereka kedalam Chatuchak Market yang benar-benar padat hari ini.

 

***

 

Percaya atau tidak, Leera dan Sehun sudah menghabiskan waktu lima jam di dalam Chatuchak Market. Hingga kini matahari sudah mulai bersiap kembali kedalam cangkangnya. Chatuchak Maket yang pada saat pertama kali mereka masuki terlihat sangat dipadati oleh pengunjung kini sudah terlihat lengang. Wajar saja, karena kurang dari satu jam lagi pasar ini akan tutup, yakni tepat pada pukul enam sore.

Sepertinya Leera benar-benar berbelanja besar hari ini. Terlihat jelas dari tujuh buah kantong belanjaan berukuran besar dan sedang yang kini berada dalam genggaman tangannya dan juga Sehun.

“Kau… apa kau selalu kalap seperti ini setiap berbelanja?” tanya Sehun dengan nada kelelahannya.

“Hm, tergantung. Yang pasti, aku selalu kalap saat melihat diskon dan barang yang bagus namun murah, seperti ini,” ucapnya sembari mengangkat kantong belanjaan yng berwarna-warni tersebut.

“Sekarang mau kemana lagi, Nona Gila Belanja?” tanya Sehun; sekaligus menyindir.

“Siam Center dan Siam Paragon!!” pekik Leera tanpa terdengar lelah sama sekali.

Sehun membulatkan matanya, terkejut dengan perkataan Leera. “BELANJA LAGI?!?!” pekik pria itu.

Dengan senyuman tanpa dosanya Leera menganggukan kepala dengan cepat. “Dangyeonhaji (tentu saja)!!”

Dalam hitungan menit, Sehun dan Leera sudah berpindah tempat dari Chatuchak menuju ke Distrik Siam yang merupakan daerah paling berkelas di Thailand. Berbanding terbalik dengan Chatuchak, dari bangunannya saja Siam Center ini sudah terlihat kelas atasnya. Dan Sehun suka tempat seperti ini, sejuk, bersih dan juga nyaman.

“Nah, kalau tempatnya seperti ini aku suka,” ucap Sehun yang ikut tersenyum riang seperti Leera.

“Ayo masuk kalau begitu, tapi kita jangan terlalu lama disini, oke? Setelah ini kita masih harus ke Khaosan Road, hehe,” ucap Leera yang bahkan sudah memikirkan destinasi mereka selanjutnya.

“Tunggu,” tahan Sehun dan berhasil menginterupsi langkah semangat Leera.

Leera menoleh ke arah Sehun dan bertanya menggunakan gerakan alisnya. Sehun pun langsung menjawab, “Tidak mungkin ‘kan kita masuk kedalam dengan kantong belanjaan sebanyak ini? Bisa-bisa kita disangka ingin menggelar dagangan kaki lima didalam sana,” ucap Sehun.

“Lalu mau kita letakkan dimana? Disini?” balas Leera.

Sehun mendecakkan lidahnya. “Aku tahu, ayo ikut aku,” ucap pria itu tanpa pikir panjang dan langsung berjalan mendahului Leera, dan gadis dengan blouse berwarna peach itu hanya bisa mengekor dibelakang Sehun.

Ternyata Sehun membawa Leera kesebuah bangunan yang tak kalah megahnya dengan Siam Center tadi dan ternyata tempat itu adalah The Siam Hotel. Hotel termahal di Distrik Siam yang dimana kita harus merogoh kocek sekitar tujuh ratus ribu won atau jika dikalkulasikan dengan rupiah yakini sekitaran tujuh juta lima ratus ribu rupiah permalamnya. Tentu saja uang segitu tidak terlalu berarti untuk pebisnis tinggi sekelas Sehun.

“Kenapa kita ke hotel?! Kau… jangan aneh-aneh!!” ucap Leera yang menghentikan langkahnya tepat didepan pintu utama hotel megah tersebut.

“Ingat, kau harus memenuhi permintaanku? Dan ini permintaan pertamaku, ayo kita check-in lalu letakkan barang belanjaanmu yang segudang ini dan kita kembali ke Siam Center,” ucap Sehun yang sudah lelah dengan protesan-protesan Leera yang tak kalah banyak dengan belanjaannya.

“—lagipula ini masih terlalu petang, aku tidak akan berbuat yang macam-macam,” lanjut Sehun dan senyuman miring khasnya tersebut sudah bertengger diwajah tampannya.

“Masih terlalu petang? Jadi maksudmu jika sudah malam ia akan berbuat yang macam-macam, begitu?!” protes Leera yang seketika jadi merinding mendengar perkataan santai namun berarti tidak santai yang Sehun ucapkan.

“Hm, mungkin?”

Setelah itu Sehun kembali melanjutkan langkahnya dan langsung masuk kedalam The Siam Hotel. Seakan sudah mengenal siapa pria dibalik bomber jacket berwarna hijau tentara tersebut, empat orang karyawan hotel yang bertugas sebagai penyambut tamu di depan pintu masuk langsung memberikan salah hormat mereka dan langsung mengalungkan rangkaian bunga khas Thailand ke leher Sehun, begitu juga dengan Leera yang kini berdiri satu meter dibelakang Sehun.

Sawatdee Krap (Selamat Datang), ada yang bisa kami bantu?” ucap bagian resepsionis saat Sehun dan Leera tiba dihadapan mereka.

“Aku ingin sebuah suite room yang menghadap ke view paling indah untuk satu malam,” ucap Sehun dengan bahasa Thailand yang lancar namun aksennya masih terdengar cukup kaku.

“Baik, Tuan. Silahkan tunggu sebentar.”

Setelah menunggu sekitar tiga menit, Sehun menyerahkan kartu kredit unlimitednya yang berlaku diseluruh negara di Asia setelah itu sang resepsionis menyerahkan sebuah kunci yang berupa kartu tersebut pada Sehun. Barang belanjaan yang tadinya berada dalam genggaman mereka berduapun kini sudah dibawakan oleh roomboy menuju ke suite room mereka.

 

***

 

Setelah puas berfoto-foto di Madame Tussauds dan juga mengunjungi Siam Ocean World yang merupakan aquarium besar yang terdapat didalam Mall Siam Paragon serta melakukan shopping lanjutan di kios kios bermerk seperti Zara dan lain-lain di Siam Paragon, Sehun dan Leera kini sedang berada dalam perjalanan menuju ke Khaosan Road, tempat yang memang tidak se elite distrik Siam, namun tempat ini merupakan tempat yang paling wajib dikunjungi apabila kita berlibur ke Thailand, dan tempat ini paling pas dikunjungi saat malam hari.

Menurut Leera, Khaosan Road merupakan Hongdae versi Thailand. Suasana di tempat ini percis seperti suasana di Hongdae pada malam hari. Namun bedanya, Hongdae terlihat lebih higenis dan tertata rapi daripada Khaosan Road.

Sehun awalnya mengajak Leera untuk menghabiskan waktu makan malam mereka disebuah restoran elite di daerah Siam—dekat penginapan mereka malam ini. Ya, Sehun dan Leera memutuskan untuk menginap malam ini dan tentu saja Leera tidak bisa menolak karena ‘hutang janji’nya dengan Sehun.

“Sehun-ssi, ayo beli es krim kelapa itu!! Aku pernah melihat videonya di SNS dan terlihat benar-benar enak!!” ajak Leera yang tanpa persetujuan Sehun langsung menarik pria itu menuju ke pedagang es krim kelapa muda yang memang terkenal di Bangkok. Namun timingnya kurang tepat saat ini, karena es krim kelapa muda ini seharusnya dinikmati saat siang hari yang benar-benar terik seperti tadi siang.

“Ini sudah malam, Leera-ya. Aku tidak mau kau sakit,” cegah Sehun sebelum ia memesankan es krim tersebut untuk Leera karena gadis itu benar-benar buta bahasa Thailand.

“Tapi aku benar-benar menginginkannya, Sehun-ssi. Ne, ne?!” pinta Leera dengan mata berbinar penuh harapnya.

Sehun menghembuskan nafasnya dan menatap dalam kearah mata itu. Kuberitahu, kali ini Sehun benar-benar tulus dengan perkatannya. “Kim Leera dengar aku, ini sudah malam dan sejak pagi kita belum menyantap apapun selain sandwich yang tadi kupesan di hotel dan sekarang… kau ingin langsung mengisi usumu dengan es ini? Aku hanya tidak ingin kau sakit, Stellee, itu saja.”

DEG

Jantung Leera berdegup kencang mendengar perkataan serta tatapan teduh yang Sehun layangkan padanya, ditambah lagi dengan panggilan dari Sehun yang begitu ia sukai. Sumpah demi apapun matanya berkaca-kaca saat ini dan dengan cepat Leera mengedipkan matanya berkali-kali untuk menghalau kemungkinan ia akan meneteskan air mata. Ia tidak mau terlihat bodoh didepan Sehun.

“O—oke, kita beli yang lain…” ucap Leera begitu saja seakan terhipnotis oleh Sehun.

“Anak baik.” Sehun mengacak rambutnya dengan gemas lalu merangkul leher gadis itu dan hengkang dari hadapan sang pedagang es krim yang sejak tadi kebingungan mendengar percakapan Sehun dan Leera dalam bahasa Korea yang tak ia mengerti sama sekali.

Pada akhirnya Sehun menjatuhkan pilihannya pada Pad Thai, mie goreng berkuran besar khas Thailand yang digoreng bersama tauge dan kucai. Namun dijaman yang semakin maju ini, Pad Thai mulai disajikan dengan cacahan kecil daging sapi atau ayam dibeberapa kios. Seperti yang saat ini sudah tersedia dihadapan Sehun dan Leera.

Tanpa basa basi Sehun langsung menyantap Pad Thai miliknya yang masih beruap panas tersebut dan berujung dikeluarkannya kembali karena dinding mulutnya tak sanggup menahan rasa panas yang menusuk.

“Sial, panas sekali!!” rutuk Sehun yang kini sedang mengipas-ngipas daerah mulutnya dengan telapak tangannya.

“Astaga, Sehun-ssi!! Apa kau tidak bisa sedikit bersabar, eo? Kalau nanti kau sariawan dan panas dalam bagaimana?” ucap Leera khawatir sembari memberikan segelas air dingin pada Sehun.

Pria itu langsung meneguk air putih pemberian Leera sampai habis setelahnya ia menghembuskan nafas banyak-banyak dengan mulut terbuka; mengeluarkan hawa panas yang masih bersarang di rongga mulutnya.

Leera mengambil alih sendok tersebut dari tangan Sehun dan menyendok kembali Pad Thai yang masih terkepung asap tersebut lalu meniupnya berulang kali sampai asap tersebut tak terlihat lagi. “Buka mulutmu,” ucapnya seraya mengarahkan sesendok Pad Thai ke arah mulut Sehun.

Sehun langsung membuka mulutnya begitu saja dan menerima suapan dari Leera tersebut. Lalu ia mengunyah dengan semangat Pad Thai-nya yang tidak panas seperti tadi. “Ah, enak sekali!!” gumam pria itu setelah ia menelan suapan pertamanya.

“Lihat, makan perlahan-lahan kan bisa. Dasar rakus,” cibir Leera yang saat ini tangannya sedang menyapu saus disudut bibir Sehun.

Sial!

Ada apa dengan jantung Oh Sehun hari ini? Mengapa jantungnya begitu mudah menggila hari ini? Apa karena dia selalu berada di dekat Leera? Jadi maksudnya… Leera adalah penyebab utama mengapa jantungnya selalu berdegup kencang layaknya parade hari ini, begitu?

“Tidak mungkin…” gumam Sehun tanpa sadar sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali,

Leera yang mendengar gumaman spontan Sehun tersebut langsung mengerutkan dahinya dan bertanya, “Apa yang tidak mungkin?”

Eo? Apa ya? Hm itu… aku langsung merasakan panas di tenggorokkan ku, tapi… tidak mungkin kan aku langsung panas dalam? Jelas-jelas aku memuntahkan kembali Pad Thai panas tadi,” sahut Sehun begitu gelisah. Bola matanya bergerak liar kemana-mana, menghindari mata Leera.

“Ah begitu. Sudah, ini lanjutkan makanmu, aku juga ingin makan.” Leera menyerahkan kembali sendok tersebut kepada pemiliknya dan mulai menyantap Pad Thai miliknya dengan lahap. Ternyata benar kata Sehun, Pad Thai memiliki tingkat kenikmatan yang setara dengan jjajangmyeon.

Sehun dan Leera mulai disibukkan dengan aktifitas mengisi rasa lapar mereka masing-masing sampai keduanya tidak bersuara lagi sejak tadi. Yang ada hanya suara dentingan antara sendok dan piring kaca berbentuk persegi tersebut diantara mereka.

Hingga sebuah suara yang cukup familiar ditelinga Leera terdengar. “Kim Leera? Benar! Kau Leera ‘kan?”

Leera mendongak dan saat itu juga dunia seakan-akan berhenti. Ditambah lagi dengan nafasnya yang tercekat saat mata rusanya bertemu dengan mata tajam milik seorang pria yang dibalut oleh kaos polo berwarna hitam tersebut.

Tatapan itu… tatapan yang paling Leera ingin lihat namun yang paling ingin ia lupakan juga. Tatapan mata yang hanya dimiliki oleh seseorang di masa lalunya yang sudah lama sekali sejak ia terakhir melihatnya. Tatapan mata yang selalu berhasil menjungkir balikan dunianya.

“Ji—Jisoo Oppa?!” ucap Leera begitu saja pada pria dengan rahang lancip yang kini berjalan mendekat kearahnya.

Sontak Leera menjatuhkan sendok serta garpu yang tadi ia pegang keatas piringnya begitu saja. Membuat Sehun yang berada disebelahnya semakin kebingungan akan siapa pria itu dan mengapa Leera bersikap seperti ini?

“Kau benar-benar Kim Leera ‘kan?! Astaga aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini, Leera-ya.” Tanpa meminta izin dengan dua orang yang ada dihadapannya Jisoo menjatuhkan bokongnya begitu saja untuk duduk dihadapan sebelah Sehun serta dihadapan Leera.

Karena Leera tak kunjung menjawab, Jisoo kembali bersuara. “Aku… aku merindukanmu, Kim Leera. Sangat merindukanmu,” ucap pria itu dengan ancang-ancang hendak meraih salah satu tangan Leera, namun dengan sigap Sehun menahannya.

“Kau siapa?” suara parau Sehun lebih dulu merespon perkataan Jisoo.

“Oh hai, aku Kim Jisoo, teman lama Leera yang hm—cukup spesial,” ucap pria itu dengan santainya, tentu saja membuat rahang Sehun mengeras dan tatapan mata pria itu semakin tajam mengarah pada Jisoo.

“Kalau kau siapa?” tanya Jisoo balik.

“Aku—“

Belum sempat Sehun menyelesaikan perkataannya Leera langsung memotong perkataan pria itu. “Senang bertemu denganmu disini, Oppa. Perkenalkan ini Oh Sehun, atasanku di kantor. Kebetulan aku sedang ada urusan kantor disini,” ucap Leera yang berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan rasa sedihnya dengan senyuman yang saat ini terlihat begitu canggung.

“Ah, atasanmu ya? Aku kira kau sudah memiliki penggantiku,” balas pria itu lagi.

Dapat kita lihat tangan Sehun yang sudah terkepal diatas pahanya karena mendengar celotehan-celotehan orang asing yang kini duduk disebelahnya. Kalau saja ini di Korea mungkin Sehun langsung meninju Jisoo begitu saja. Namun berhubung ia sedang berada di negeri orang dan juga ia sedang ada bisnis yang cukup besar dinegara ini, ia menahan rasa egonya yang sudah hampir memuncak hingga keubun-ubun.

“Memangnya kau barang yang rusak dan membutuhkan pengganti?” canda Leera sembari tertawa paksa.

“Ah, ya. Aku dan Sehun-ssi harus segera kembali ke Pattaya, karena bus terakhir akan berangkat setengah jam lagi. Kalau begitu kami permisi, Oppa. Sampai jumpa lagi,” ucap Leera seraya bangkit dari kursinya diikuti pula dengan Sehun.

“Sebentar, Kim Leera. Boleh aku meminta kontakmu? Seperti ID LINE atau Kakaotalk?” tanya Jisoo yang kini juga ikut berdiri.

Sure, add LINE-ku saja. Id-nya : LeeraStar,” ucap Leera.

“Oke, selamat tinggal, Leera-ya. Semoga kita berjumpa lagi dan bisa berbincang lebih banyak. Kebetulan akhir bulan ini aku akan ke Seoul,” balas Jisoo dengan senyuman manis yang bertengger diwajah imut sekaligus maskulin miliknya.

“Aku justru berharap kita tidak bertemu lagi, Jisoo Oppa. Karena bertemu denganmu…sama saja seperti mengiris-iris hatiku sendiri dengan pisau belati…” lirih Leera dalam hatinya dan mengeratkan genggamannya pada tangan Sehun untuk menguatkan dirinya.

 

***

 

Sehun dan Leera sudah sampai di suite room yang akan mereka tempati malam ini. Sejak dalam perjalanan menuju ke hotel, Leera hanya diam, sama sekali tidak menjawab hujanan pertanyaan dari Sehun mengenai pria bernama Jisoo yang hampir saja Sehun bunuh saat itu juga.

Kini gadis itupun masih enggan berkata apa-apa selain mulai menangis dan mengeluarkan suara yang awalnya samar-samar terdengar menjadi cukup keras. Sehun yang geram sekaligus iba langsung menari paksa tangan Leera yang terduduk di sofa dan memeluk gadis itu.

Seperti biasa, Leera yang begitu lemah dengan pelukan saat ia menangis, langsung menangis kencang kala ia merasakan tangan kekar Sehun melingkar ditubuhnya. Ia bahkan tak melayangkan protes apapun saat Sehun mengangkat tubuhnya dan meletakkannya diatas pangkuan pria itu. Yang ada Leera semakin mengeratkan pelukannya dan melanjutkan tangisnya.

“Cerita padaku, Kim Leera. Tidak baik menyimpan semuanya sendiri di saat kau memiliki seseorang untuk berbagi,” bisik Sehun yang masih mengelus lembut punggung Leera.

Tak lama kemudian Leera menjauhkan wajahnya dari balik bahu Sehun dan menatap sendu ke arah pria itu. Ia mengelap air matanya sebentar sebelum akhirnya mengeluarkan perkataan pertamanya, “Kau mau mendengar ceritaku?” tanya Leera ragu-ragu.

“Tentu saja, kenapa tidak?”

Leera mengambil nafas banyak-banyak lalu menghembuskannya kembali. “Jadi… Jisoo Oppa… adalah cinta pertamaku, Sehun-ssi.”

Rahang Sehun semakin mengeras dan rengkuhannya pada punggung Leera juga semakin erat saat mendengar perkataan Leera.

“Dia adalah kakak kelasku saat duduk dibangku SHS dulu. Aku begitu mengaguminya sampai-sampai aku rela mengikutinya kemana-mana. Namun… suatu hari ia meninggalkanku karena ia mengetahui rahasia terbesarku… yakni aku pernah diperkosa dan aku tidak perawan lagi…” nada bicara Leera kembali bergetar begitupun dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.

“Sial, pria macam apa dia itu!! Pengecut sekali!!” gerutu Sehun emosi saat mendengar perkataan Leera.

“Dan yeah… ini pertama kalinya aku kembali bertemu dengan Jisoo Oppa sejak enam tahun yang lalu. Kau tahu… melihatnya tadi benar-benar membuat dadaku seperti tertancap jarum, aku tidak bernapas untuk beberapa saat, Sehun-ssi,” lanjut Leera.

“Apa kau masih menyukainya?”

“Aku tidak tahu… hatiku bimbang saat ini karena aku… karena aku…” Leera terlihat begitu ragu untuk melanjutkan perkataannya dan ia memilih untuk melanjutkan perkataannya didalam hati. “—karena aku… mulai menyukaimu juga saat ini, Oh Sehun.”

“Karena kau kenapa? Jangan bilang dia yang membuat aku begitu sulit untuk masuk kedalam hatimu? Jadi, aku, seorang Oh Sehun berhasil dihalangi oleh brengsek yang pengecut seperti si Jingoo, Jisoo atau siapalah itu namanya,” protes Sehun tak terima

Oh ayolah, bukannya ia terlalu percaya diri atau apa. Namun Sehun rasa dirinya jauh lebih baik daripada pria masa lalu alias cinta pertama Leera tersebut. Tapi.. bisa-bisanya Leera menyukai pria itu sebegitu lamanya bahkan setelah ia ditinggalkan begitu saja.

Leera terdiam tak dapat menjawab pertanyaan Sehun. sebenarnya ia ingin memberitahu Sehun bahwa pria itu sudah hampir sukses membuatnya berpaling dari Jisoo. Namun Leera sendiri masih cukup ragu dengan perasaannya. Ia juga masih terlalu takut ditinggalkan. Ya, ia takut Sehun juga mencampakkan dirinya seperti Jisoo dulu. Karena menurut feeling Leera, Sehun justru lebih berpotensi besar melakukan hal yang menyakitinya.

“Kenapa diam? Jadi benar? Aku sulit masuk kehatimu karena si brengsek itu? Perlukah aku membunuhnya dulu agar kau bisa melihatku sepenuhnya, eo?” ujar Sehun lagi, dengan tatapan mata yang begitu menuntut.

CHU

Leera yang sudah kehilangan kata-kata hanya menempelkan bibirnya begitu saja kebibir Sehun dan berhasil membuat pria yang sedari tadi melayangkan berbagai protesannya itu terdiam. Saat Sehun hendak membalas ciuman Leera, tiba-tiba gadis itu menarik dirinya dari Sehun serta menurunkan tubuhnya dari tubuh Sehun.

“Aku harap kau mengerti maksudku,” ucap Leera sebelum ia akhirnya pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian menjadi pakaian tidur yang ia beli tadi di Chatuchak Market.

 

 

:: To Be Continued ::

 

===

bantu NONTON dan LIKE video ini dong guys : https://www.youtube.com/watch?v=m2IPGD9LDBI dan tebak aku yang mana!!!

===

 

#PREVIEW FOR NEXT CHAPTER

“Tidur disini saja,”

“Kau tidak penasaran kenapa aku pergi saat itu?”

“Tapi tunggu… kenapa aku jadi uring-uringan seperti ini? Ini sama sekali bukan gaya Oh Sehun. Ya, ini semua aku lakukan karena aku takut rencanaku hancur, ya, pasti!!”

“Ini diriku, aku yang tahu apakah aku berubah atau tidak. Mungkin yang tidak berubah adalah dirimu, karena aku sudah tidak mencintaimu sedikitpun seperti beberapa bulan yang lalu, di saat aku masih berhasil dibodohi olehmu.”

===

HELOO SEMUANYAAA😀

Sudah lama tidak berjumpa hahaha, maaf yah aku baru sempet update sekarang, karena well… belakangan ini emang agak sibuk nih😦 Hm, gimana chapter ini? Sorry kalau di chapter ini banyak jelasin tentang tempat wisata yang mereka kunjungi juga. Soalnya kan aneh gitu kalo Sehun – Leera ke Bangkok cuma belanja doang gak ngapa-ngapain dan tiba-tiba ketemu sama si masa lalu gitu.

Kira-kira apa ya maksud dari ciuman Leera? Lol.

DAN KYAAA PRIA MASA LALUNYA LEERA ADALAH JISOO OPPA-KU /tebar love di udara/ YAK AYO UCAPKAN SELAMAT DATANG PADA TOKOH BARU KITA😀

 

37 responses to “Unspeakable Secret | 10th Chapter

  1. Sehun ga mengakui klo dia suka sama Leera… tp benar jg sih… orang yg berpotensi paling besar meninggalkan Leera ya Sehun sendiri… bahkan Sehun udah niatan mau bunuh Leera kan???
    Jongin sama Nami cocok jg jd pasangan kak… hehehe

  2. Hmm, iya kebanyakan nyritain liburan mereka. Mg chap depan uda masuk ke konfliknya yaa. Uda g sabar pengen tau ttg wanita yg katanya ibu leera dan sehun benci..

  3. Aahh
    mereka berdua masih ragu untuk ngakuin kalau sebenernya mereka saling suka nih….
    waahh.. penasaran chap berikutnya nih kak..
    ditunggu kelanjutannya ya kak..
    semangat! ^^

  4. Jisoo nggk bakal jd org ketiga kan? Lbh cocok kl Jongin:( Wkw *cuma opini ak, plis jgn marah kak* wk. Btw masalalunya nami sm leera knp sama2 ngenes ya, yg satu perkosa yg satu lg ngeliat pacarny lg gituan sm sahabatnya:'( sehun ini udh jatuh cnta tp nyangkal trs ya. Wkw. Dtgg next chapt nya kak. Smgt^^

  5. Waaah akhirnya update jugaaaaa hihiww
    Ah Sehun nih ngga mau ngakuin kalo dia udah mulai tertarik sama Leera
    Leera jugaa sih kenapa cium2 kalo ngga mau ngaku wkwkw
    Lanjut aja deh lanjut w kepo selanjutnya gimanaaa.. Tambah ada Jisoo pula wkakaka pastii tambahh seruuuuu

  6. Huahhhhh masa lalu leera dtg juga..ehh2 ko sehun 7dh mulai nigh tanda2 y..hemmmm tp g mw akuin juga..crt jongin nami seru juga hihihi…gmn reaksi taemin y….

  7. Sehun nggak usah nyangkal kalo emang suka😀
    Maksudnya Leera apaan coba :3
    Jisoo alias masa lalu udah muncul. Mungkin kehadirannya bisa buat si Sehun sadar😀
    Ditunggu next chapternya ^^

  8. Uwaa makasih ceritanya thor-nim. Gapapa nyeritain Thailand, sekalian dapet ilmu hehehee. Si Sehun udah mulai kesemsem sama Leera ya? Ditunggu next chapteenya yaaa, hwaiting!!

  9. Yasudahlah yaaa sehun lupakan ajaaaa tentang balas dendamnyaa, itu kaan lo rasanyaa udah mulai suka sama leera :”

    Bisaa jugaa ya abang sehun modusnyaa meluk2 leera hmm hahaha

    Kira2 apa yaa 2 permintaan sehun yg lain? Jangan permainin leera deh yaa, kasihan tuh anak

  10. Kyaaaaaa,,lee ra,,tar Sehun tau lho klo kamu suka,,,,!!!tp dasar Sehun,hati nya yg beku sulit sekali dia sadari klo memang sedikit mencair dng adanya Lee ra,,sepertinya dendam kesumat nya Sehun dah bener bener mengakar ,,huhuu moga kasih sayang dari hati yg tulus bisa membuat Sehun tersadar…wqwqwqwwq.
    — cieee Jisoo,,bergabung disini juga,,,,jng jng masih suka ma Lee ra ya…hemmm sayang sekali,Lee ra dh tersakiti…
    – bakalan lbh serru ni ,,bagaimana dng Jongin dan peran pacar bohongannya ya..!???

  11. welcome to unspecable secret jisoo ya,eh jeongmal jeongmal bikin baper hah,knp si to cowo muncul ga karuan dhadapan leera sehun,bikin org emosi aj,sehun mulai jatuh cinta tuh hahahah

    wah daebak

  12. Leera yg msih trauma…sehun sbnernya jga udah mulai suka sama leera…jongin nurut aja ya sama nami….nami n jongin udah mulai ada tnda lopelope 😍😍😍

  13. Aaa akhirnya yg ditunggu2 update juga…😀 jln2 berdua aja ya? mereka udh kaya psgn lg kencan aja… haha sng deh Si Sehun tulus bgt prhtian sm Leera… adegan pling bkin melt itu yg pas Leera niupin mknn sehun n nyuapin ke dy, trus ngebersihin bibirx sehun hehehe….. Itu juga ad org ketiga…! bkln seru klo dy mw balik sma Leera.. wah gmn y respon Sehun??? *Wondering* ah smkin nyemplung sm FF ini… Ditunggu update slnjutxnya author… semoga cpet ya wehehehehe ..😉

  14. aih nih sehun ngeselin….plus aku itu berharap smoga sehun tuh gk balas dendam lg, kan yg salah ibunya bukan leeranya –” oke Keep writing and hwaiting!~

  15. Duhh ini makin seru aja dehh. Sehun knapa hatus jahat sama leera sii 😑😑 udah dehh, mereka bersama aja!! Aku dukung bangett!! Duhh ada jisoo oppa. Keknya sehun bakalan tersaingi dehh. Duh si leera udah berani ciun cium suami gue yakk >.< wkwk
    Next ditunggu sangatt!!

  16. Liburan ke bangkok adalah penolong leera wkwkwkw karna udah buat sehun sedikit sadar sama perasaannya. Walaupun sehun masih nolak perasaannya sendiri wwwwwww… Ga sabar nunggu chapter selanjutnya 😂

  17. rasanya pengen gue siram pake air dingin tu sehun biar sadar klo dia tu udh suka ma laera tpi msh nyangkal aja ihhhhhh bikin gemes awas aja lho hun

  18. gills semoga kedepan leera gausah ketemu jisoo lagi deh udah. sehun mah mulutnya bisa aja. dia udah tau kalo leera mulai ada perasaan sama dia trus manfaatin momen leera ketemu jisoo ini. dasar leera lagi kalap juga she has no idea jadinya nyium sehun deh

  19. wajar si lera masih ragu sama sehun feelingnya si kuat banget kalo sehun berpotensi nyakitin lera lebih parah dari jisoo
    cie sehun yg hatinya mulai ser seran wkwkwk kamu suka manaya sma lera hun
    udah si jangan dilanjutin bales dendamnya

  20. Ohhhh where the devil oh sehun go ?
    Manissssss banget suka banget devipnya jadi manis, tapi kayaknya netx devipnya bakal sakit hati, #sok tahu. Hehe
    Waiting for next eonni ^^

  21. ciyeeh, mreka berdua kencan😓
    Sehun ampe ngerelain tabnya jatoh buat Leera biar ga jatoh juga. uugghh, Sehun jdi perhatian gitu:V beruntungny Leera-yg sama Sehunnya. ngakak😂 masa patung minta uang?!?!? ga nyangka Sehun yg gitu sempet kepikiran patung minta uang😄😄Sehun check-in hotel yg super mahal-tdk berlaku untuk Sehun- buat naroh barang” segudangny Leera dlu. oke, Sehun kaya, aku tau itu. klo tetep di bawa kiranya mau jualan kaki lima😂😁 ga segitunya juga kaiik:”V wkwkwkwk Sehun maah-
    ketemu cinta pertamany Leera. buat Sehun tmbh panas dalam niiih(?) mreka berdua sweet amat siih di Bangkok:’V ngiri daah😪😪
    ya ampuuun, ada apa dengan Leera, dia nyium Sehun?? untung udh ngejauh duluan, klo ga kayaknya Leera ga selamat(?) akakakakak
    di tunggu bgt next nya!!!>< iya siih, chap ini ceritain liburan mreka-bgt-. gpp, yg ptg byk Sehun-Leera scene. hahaha, tpi aku juga ga ngelupain Kai kook:'V
    pokoknya di tunggu yaaa^^ hehe

  22. Cieeeee akhirnya mereka kencan juga, yaa walaupun Sehun masih pura-pura-,-
    Sehun bodoh ni. Masa ga peka sama perasaan sendiri padahal udah jelas Sehun suka sama Leera.
    Dan yeaaaay~ Leera juga suka sama Sehun. Kkkk.
    Semoga Sehun cepet sadar yaa, supaa Leera ga sakit hati lagi.

    Ditunggu next chapternya, samangaaaaaat~

  23. Selamat datang Jisoo oppa, makin bnyk ningol yah biar si Sehun makin kesel.
    Sehun dan Leera sama2 membatasai perasaan masing2, tapi maksud ciuman ya Leera cuma sekedar bikin Sehun diam kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s