[CHAPTER 1] SALTED WOUND by Heena Park

salted-wound-1

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance-Incest-PG15-Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Blog : HeenaLicious World

.

Notes : ff ini juga aku share di Wattpad 

.

.

Prev :

-TEASER-

.

 

 

Duduk di sudut ruangan seorang diri sambil menyesap satu cup coklat hangat, memandang hujan dari balik jendela kaca, Hee-Ra bersila, tak memiliki niat untuk beranjak. Masih terbayang dalam benaknya kejadian setengah jam yang lalu, saat salah satu kakinya tiba-tiba tak seimbang hingga terkilir dan jatuh begitu saja.

 

Sedih? Tentu saja.

 

Pentas tarinya akan digelar Minggu depan, tapi kakinya malah terkilir. Kalau sudah begini ia harus apa? Latihannya selama berbulan-bulan akan sia-sia kalau pada akhirnya Emma  yang tampil.

 

Walau tadi kakinya telah mendapat perawatan setelah terjatuh, tapi tetap saja. Bisakah kakinya sembuh hanya dalam jangka satu minggu? Mimpinya seolah runtuh begitu saja, ia tak akan bisa mendengar tepuk tangan bangga dari kedua orang tuanya. Ia harus menunggu tahun depan jika ingin kembali memiliki kesempatan untuk menari di sana, di panggung impian yang telah membuatnya melangkah sampai sejauh ini.

 

“Shin Hee-Ra!”

 

Teriakan khawatir dari Jong-In membuatnya menengok. Kini pria itu tengah menatapnya nanar di ambang pintu bercahayakan sinar temaram. Napasnya tersenggal-senggal, Hee-Ra bisa menyimpulkan kalau Jong-In langsung bergegas kemari setelah mendengar bahwa kakinya terkilir.

 

“Kau datang?” tanya Hee-Ra, berusaha menutupi kesedihannya.

 

Jong-In mendekat perlahan, ia duduk tepat di samping Hee-Ra dan mengusap lembut pipi kanannya, “Aku akan mengantarmu pulang, kita tinggalkan mobilmu di sini, ya?”

 

Hee-Ra menggeleng cepat, “Tidak, aku masih bisa berjalan dan berkendara,” ia menarik tas lengan yang berada tepat di sampingnya dan berusaha berdiri, menahan rasa sakit pada kaki kanannya yang terus berdenyut ketika tubuhnya mencoba bangkit.

 

Baru saja menumpu tubuhnya beberapa detik, Hee-Ra megaduh kesakitan dan kembali terhuyung ke lantai, untungnya Jong-In lebih tanggap, sebelum Hee-Ra terjatuh, ia sudah lebih dulu menggunakan kedua tangannya untuk menumpu gadis itu.

 

“Jangan paksakan dirimu, kumohon,” Jong-In memindahkan tangan kirinya di antara paha dan betis Hee-Ra lalu menggendongnya.

 

Tangisannya tanpa bisa ditahan akhirnya pecah, Hee-Ra terisak dalam pelukan Jong-In. Hari ini terasa sangat tak adil baginya, semangat hidupnya hancur begitu saja, mimpi-mimpinya lenyap bersamaan dengan kaki yang kini tak bisa diajak bekerja sama itu.

 

“Sekarang bagaimana? Pentas kita akan berlangsung Minggu depan dan aku malah tak berguna seperti ini,” isakannya semakin keras, suaranya terpatah-patah seolah menandakan betapa dalamnya kesedihan Hee-Ra, “aku sudah tak bisa diandalkan lagi, aku tak punya kesempatan untuk pementasan Minggu depan..”

 

Sstt,” Jong-In buru-buru menenangkan Hee-Ra. Gadisnya memang telah lama memiliki cita-cita untuk menjadi bintang utama dalam pementasan tari yang rutin diadakan sanggarnya setiap setahun sekali. Bukan pementasan biasa karena mereka yang datang didominasi oleh kalangan atas serta yang hebat dalam bidangnya.

 

“Aku yakin kau akan mendapatkan kesempatan lagi,” ia berhenti sebentar dan mengamati keadaan sekitar. Hujan rupanya sudah tak sederas tadi. “Sekarang kita pulang, kau harus beristirahat agar kakimu cepat pulih, Shin Hee-Ra.”

 

Kali ini tidak ada penolakan dari Hee-Ra, gadis itu hanya menunduk pasrah dan mengikuti saran Jong-In. Ia meninggalkan mobilnya di sini dan pulang bersama pria itu.

 

Tidak ada percakapan antara mereka sepanjang jalan. Jong-In memaklumi keadaan Hee-Ra, gadis itu pasti memerlukan waktu untuk bisa menenangkan diri. Lagipula, siapa yang tidak sedih kalau berada di posisi Hee-Ra?

 

Begitu mobil berhenti di depan gerbang, Jong-In segera turun dan membukakan pintu untuk Hee-Ra. Ia dengan sigap kembali menaikkan Hee-Ra dalam gendongannya, “Istirahatlah setelah ini, aku akan ke sini lagi besok,” perintah Jong-In sembari membawa Hee-Ra berjalan.

 

Tidak bisa dipungkiri kalau Hee-Ra sangat bahagia karena memiliki Jong-In, ia selalu ada saat Hee-Ra sedih maupun suka. Jong-In tak pernah mengeluh, terlalu mengatur penampilan, atau bersikap kekanakan.

 

“Maafkan aku karena telah menyusahkanmu hari ini,” ia mendesah berat, “seharusnya kau langsung pulang setelah dari kampus, tapi malah menjemputku ke sanggar.”

 

Jong-In menggeleng, “Tidak apa-apa, lagipula aku juga ingin melihat anak-anak.”

 

Ya, mereka memang sama-sama berlatih di sana. Sebenarnya Jong-In juga ikut andil dalam pementasan Minggu depan, tapi hari ini dia harus absen karena ada urusan.

 

Mereka berhenti di depan pintu, Jong-In menggerakkan kepalanya, “Kau membawa kunci atau tidak?”

 

Hee-Ra menaikkan kedua pundaknya bersamaan dan sedetik kemudian mencari-cari di manakah kunci rumahnya, namun tak kunjung ketemu.

 

“Tadi aku ingat mengambil kunci kok sebelum berangkat,” ia menggaruk kepalanya frustasi, “tapi kenapa tidak ada ya?”

 

Belum sempat membalas perkataan Hee-Ra, pintu rumah sudah lebih dulu terbuka.

 

Sesosok pria berbadan tinggi-besar, bermata tajam seolah ingin membunuh siapapun yang mengganggunya, serta dagu yang mengeras berdiri di ambang pintu. Ia tidak menyalakan lampu sama sekali sehingga terkesan menyeramkan.

 

Dan Jong-In tahu bahwa pria di depannya adalah Se-Hun—kakak laki-laki Hee-Ra.

 

“Kenapa kau baru pulang?” suara dingin yang terkesan memojokkan itu berhasil membuat Hee-Ra terkesiap.

 

Ia mendongak, mendapati Se-Hun tengah menatapnya marah. “Kenapa kau menggendong adikku? Apa dia tidak punya kaki untuk berjalan?”

 

Jong-In mendecak kesal, ia tidak begitu menyukai Se-Hun. Pria arogan yang selalu bersikap semaunya, berkata seenaknya tanpa peduli apakah melukai seseorang atau tidak.

 

“Kakinya terkilir,” Jong-In menunjuk kaki kanan Hee-Ra dengan dagunya. “Seharusnya kau menjaga omonganmu, kau adalah kakaknya.”

 

“Cih,” Se-Hun tertawa hambar, tak terima akan nasehat Jong-In. “Pulanglah, biar aku yang menggendongnya.”

 

“Tidak, kau tidak perlu melakukan itu. Aku sanggup membawanya sampai ke kamar.”

 

“Oh?” Se-Hun mendekatkan kepalanya ke arah Jong-In, “Kau lupa kalau aku adalah kakaknya?”

 

Skakmat. Se-Hun telah berhasil membuat mulutnya menutup.

 

Hee-Ra yang hanya diam sedari tadi, akhirnya mulai mengeluarkan suaranya, ia meminta agar Jong-In menurunkan tubuhnya.

 

“Aku akan masuk sendiri, kalian tidak perlu berdebat tentang ini,” ia berhenti sebentar dan melemparkan senyum ke arah Jong-In, “pulanglah, aku tidak apa-apa, kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku,” gumamnya lembut.

 

Terdiam sebentar dan terlihat berpikir, Jong-In akhirnya mengangguk. Ia membelai rambut Hee-Ra sekali sebelum mengecup keningnya cepat.

 

Melihat hal itu, Se-Hun hanya mendecak kesal. Ia tak suka lelaki bernama Kim Jong-In ini menyentuh Hee-Ra. Ia tak suka apa yang menjadi miliknya malah tergapai oleh orang lain.

 

“Aku pulang dulu, istirahatlah. Aku akan menghubungimu setelah sampai rumah, mengerti?”

 

Hee-Ra mengangguk dua kali dan mengiyakan perkataan Jong-In. Tidak butuh waktu lama, pria itu sudah berjalan kembali menuju mobilnya.

 

Sementara ia dan Se-Hun masih terdiam di tempat. Tak tahu harus melakukan apa. Sebenarnya Hee-Ra bisa saja langsung pergi tanpa mempedulikan Se-Hun, tapi untuk saat ini, hal itu tak mungkin dilakukan, mengingat keadaan kakinya.

 

“Senang?”

 

Se-Hun menumpu dagunya di atas pundak Hee-Ra, “Kau sepertinya sangat menikmati digendong oleh pria itu.”

 

Jantungnya berdebar kencang. Kelakuan Se-Hun membuatnya tak bisa berpikir jernih, tubuhnya menegang, suaranya tergagap.

 

“Dia hanya mengantarku pulang dan kakiku terkilir.”

 

“Aku tahu, dia sudah mengatakannya tadi. Kau pikir aku tuli?”

 

Hee-Ra harus menghindari pertikaian dengan Se-Hun, ia menundukkan kepalanya, “Aku lelah.”

 

“Aku tahu.” Dalam sekali hentakan, Se-Hun mengangkat Hee-Ra dalam gendongannya, membuat gadis itu terpekik kaget dan hampir terjatuh.

 

“Apa yang kau lakukan?!”

 

Se-Hun megerutkan keningnya seolah tak terima karena Hee-Ra melontarkan protes, “Kau menanyakan sesuatu yang sudah jelas. Aku akan mengantarmu ke kamar, memang apalagi?”

 

“Tidak, kau tidak perlu melakukannya,” elak Hee-Ra cepat-cepat.

 

“Oh, jadi kau menolaku menggendongmu dan malah tersenyum senang ketika digendong pria itu?” Matanya menyala, suara yang semula keras perlahan menjadi bisikkan, “Ingat Shin Hee-Ra, aku adalah kakakmu.”

 

Ya, tanpa diingatkanpun Hee-Ra sudah tahu bahwa Se-Hun adalah kakaknya. Kakak yang telah lama menghilang dan tiba-tiba kembali. Kakak yang beberapa tahun lalu sempat menghancurkan hatinya. Kakak yang saat ini bersikap seolah-olah Hee-Ra adalah miliknya.

 

Tak kunjung mendapat balasan, Se-Hun agak mengerang, “Kau tahukan kalau mama dan papa tidak ada di rumah? Jadi menurutlah padaku dan aku tak akan menyakitimu, sayang.”

 

Ucapan Se-Hun barusan berhasil membuat bulu kuduk Hee-Ra berdiri. Setiap kata yang dilontarkan diberi penekanan hingga membuatnya terus berputar di kepala. Tentu Se-Hun tidak asal bicara. Ia bukanlah pria yang hanya mengandalkan omong kosong, namun perbuatan.

 

“Akan sangat tidak menyenangkan bagimu apabila mendengar kabar kalau lelaki pujaanmu itu kehilangan nyawanya, benar?”

 

Hee-Ra tak mampu berkutik, ia hanya memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Ia harus menurut pada Se-Hun kalau tidak mau Jong-In kenapa-napa.

 

“Baiklah, aku akan menurut. Tapi kumohon jangan lukai Jong-In, dia tidak ada hubugannya dengan semua ini, Oh Se-Hun.”

 

Se-Hun tertawa hampa, ia senang melihat Hee-Ra menyerah. Sangat-sangat senang.

 

Well, karena kau meminta… aku tidak akan melukainya.”

 

 

•••

 

 

Malam mulai larut, setelah memastikan Hee-Ra benar-benar terlelap, Se-Hun kembali ke kamarnya. Senyumnya merekah setelah membaca pesan dari Kang So-Hee—ibunya—bahwa mereka akan sampai di rumah besok pagi.

 

Kali ini matanya beralih kepada amplop coklat di atas meja, ia meraih amplop tersebut dan membukanya. Sempat berpikir selama beberapa detik sebelum akhirnya difoto dan kemudian berkas aslinya dibakar begitu saja.

 

“Aku tidak ingin membuang terlalu banyak waktu malam ini,” Se-Hun mengambil mantel coklat miliknya, “aku tidak akan meninggalkan gadisku terlalu lama,” gumamnya pada diri sendiri.

 

 

•••

 

 

6 Years Ago

Soondae High School, South Korean.

 

 

Berkali-kali Hee-Ra mengutuk Yi-Soo. Gadis itu entah bodoh atau yang lebih parahnya lagi tolol, tanpa berpikir panjang mebeberkan perasaan Hee-Ra pada senior mereka, Oh Se-Hun.

 

Hidupnya yang nyaman kemungkinan akan segera berubah, melihat pandangan-pandangan mencemooh dari orang di sekitarnya, seolah berkata bahwa gadis sepertinya tak layak untuk memiliki perasaan pada Se-Hun, terlebih lagi pria itu telah memiliki kekasih yang jauh lebih cantik dan menarik dari Hee-Ra.

 

Jung Soo-Ah, kekasih Se-Hun telah menunggu Hee-Ra di gedung belakang sekolah. Bukan untuk berbicara baik-baik, namun untuk memberi perhitungan atas perasaan Hee-Ra.

 

Ya, Se-Hun memang milik gadis itu, tapi apakah itu berarti Hee-Ra tak boleh memiliki perasaan lebih pada kekasih orang? Cih, mereka bahkan belum menikah, tapi kenapa si perempuan bersikap seolah Se-Hun sudah menjadi hak patennya?

 

“Jadi kau yang sedang dibicarakan oleh anak-anak saat in?” gadis bernama Jung Soo-Ah itu mendecak beberapa kali sambil menggeleng, tak lupa melemparkan tatapan mencemooh, “dan kau pikir Se-Hun akan membalas perasaanmu?”

 

Demi apapun Hee-Ra tak berniat untuk menggoda atau mengambil Se-Hun dari Jung Soo-Ah yang jelas-jelas lebih cantik darinya. Tubuhnya bagaikan gitar Spanyol, matanya biru muda, rambut panjang sebahu bewarna hitam gelap, apalah Hee-Ra jika dibandingkan dengan Soo-Ah?

 

Soo-Ah tak suka diacuhkan, emosinya semakin naik ketika Hee-Ra tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Anak itu baru berusia enam belas tahun dan sudah berani mengabaikan perkataan kakak kelasnya? Sudah jelas sangat kurang ajar!

 

Soo-Ah menjentikkan jarinya, “Telanjangi dia.”

 

Sontak Hee-Ra mebelalakkan matanya, telinganya tidak salah dengar, kan? Soo-Ah menyuruh kedua temannya untuk menelanjangi Hee-Ra? Apa dia sudah gila?!

 

Belum sempat menyelamatkan diri, kedua teman Soo-Ah sudah lebih dulu mengunci tangannya, mereka tanpa permisi langsung menyobek seragam Hee-Ra hingga tinggal dalaman dan kaus tipis.

 

Sementara Soo-Ah tertawa terbahak-bahak di belakang, gadis itu seolah meremehkan tubuh Hee-Ra yang jelas tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengannya.

 

“Lepaskan aku!” teriak Hee-Ra meronta, ia berusaha mendorong kedua teman Soo-Ah, namun semakin melawan, tangannya akan semakin dipelintir.

 

Tak berhenti sampai di situ, kedua teman Soo-Ah kembali menyobek paksa kaus tipis yang membungkus tubuhnya hingga tinggal dalaman yang masih tersisa. Soo-Ah mendekat dan menjambak rambut Hee-Ra ke belakang dengan kasar, “Memalukan, kau pikir Se-Hun akan tertarik dengan milikmu yang bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku? Bermimpilah, Shin Hee-Ra!”

 

Tangisnya pecah, ia tak menyangka hanya karena memiliki perasaan pada Se-Hun akan dilecehkan habis-habisan seperti ini. Sekarang bagaimana Hee-Ra bisa pulang kalau pakaiannya sobek? Kenapa mereka jahat sekali? Bahkan pada adik kelas sendiri?

 

“Kumohon…maafkan aku..,” pintanya lemas dengan suara terpatah-patah. Walau tahu Soo-Ah tidak akan menggubrisnya, tapi hanya meminta yang bisa Hee-Ra lakukan saat ini.

 

“Maaf?” Soo-Ah memicingkan matanya, “Ok, aku akan memaafkanmu..tapi setelah kau telanjang bulat hahahaha,” tawanya semakin pecah, ia sangat senang melihat Hee-Ra menangis tersedu. Lagipula siapa yang menyuruhnya memiliki perasaan pada Se-Hun? Berani sekali gadis kecil itu.

 

Soo-Ah mengambil gunting dari dalam tasnya, bersiap untuk menyingkirkan rok yang dikenakan adik kelasnya tersebut, “Kau harus menda—“

 

“Jung Soo-Ah!”

 

Selamat, mungkin itulah yang ada dalam pikiran Hee-Ra sekarang. Soo-Ah yang semula memfokuskan pandangannya pada Hee-Ra kini berbalik, menengok ke belakang dan mendapati Se-Hun tengah berdiri di ambang pintu.

 

“Apa yang kau lakukan?” suara dingin Se-Hun berhasil membuat Soo-Ah tergagap, tubuhnya berusaha menutupi Hee-Ra di belakang.

 

Ia tertawa renyah, gugup karena Se-Hun mendekat dan terus mencari celah untuk mengetahui apa yang terjadi. “Tidak ada, aku baru saja ingin mencarimu.”

 

Bukan Se-Hun namanya jika gampang percaya pada seseorang, terlebih lagi mempercayai Jung Soo-Ah, gadis egois yang selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau.

 

Tidak begitu berbeda dengan Se-Hun, sejujurnya kepribadian mereka hampir sama.

 

“Apa yang ada di belakangmu?” tanyanya tanpa basa-basi.

 

Hee-Ra hanya bisa menunduk, kepalanya ditekan ke bawah, ia tak boleh mengeluarkan suara sedikitpun.

 

“Minggir,” tanpa basa-basi Se-Hun langsung mendorong Soo-Ah untuk menjauh. Matanya membulat begitu mendapati Hee-Ra tengah berada di antara ketiga wanita gila itu, dan apa yang membuat mereka tega menelanjangi seorang adik kelas? Se-Hun benar-benar tak mengerti.

 

“Apa yang kalian lakukan?” tanpa memalingkan muka dari Hee-Ra, Se-Hun menuntut jawab dari mulut ketiga wanita tadi. Entah kenapa amarahnya memuncak, ia menarik lengan Hee-Ra untuk berdiri, melepaskan kemejanya dan memaksa Hee-Ra untuk menjauhkan kedua lengannya dari tubuh polosnya itu.

 

Namun Hee-Ra menolak, ia tetap berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua lengan karena Soo-Ah terus menatapnya marah.

 

Semakin Hee-Ra menolak, semakin Se-Hun mengeraskan cengkeramannya hingga salah satu lengan gadis itu berhasil di singkirkan dari dadanya. Ia dengan paksa memakaikan kemejanya ke tubuh Hee-Ra, masih tetap dalam keadaan marah, ia tak suka Soo-Ah membuat adik kelasnya menangis dan bahkan bisa saja trauma.

 

“Pulanglah.”

 

Perintah Se-Hun agaknya membuat Hee-Ra bernapas lega, ia tanpa ragu langsung meraih tas dan berlari secepat mungkin keluar gedung, takut kalau tiba-tiba Soo-Ah dan temannya mengejar.

 

Gara-gara kejadian itu Hee-Ra sempat mogok sekolah selama empat hari, ia juga tak menceritakan apapun pada kedua orang tua atau teman-temannya. Ia tidak ingin masalahnya dengan Jung Soo-Ah semakin melebar. Dan sejak itulah ia memutuskan untuk sejauh mungkin dari Se-Hun.

 

 

•••

 

 

Hee-Ra mengamati kruk yang tersandar di lemari, menyadari betapa menyedihkannya dia saat ini. Seorang penari yang kakinya tak berfungsi.

 

“Sampai kapan kau akan seperti itu?”

 

Tak tahu sejak kapan Se-Hun sudah berdiri di ambang pintu, menyilangkan kedua lengannya dan menatap Hee-Ra dingin.

 

Pria itu mengenakan kemeja putih, rambutnya disisir rapi, tubuh indahnya terbungkus pakaian dengan pas, otot lengannya sesekali menonjol ketika bergerak. Tidak heran kalau banyak gadis akan menengok dua kali ketika melihat Se-Hun.

 

“Apa yang kau lakukan di sini?” Hee-Ra menuntut jawab, ia tak suka aura Se-Hun mendominasi kamarnya.

 

“Menjemput adikku yang tak berdaya,” ia melangkah dan berlutut di depan Hee-Ra yang tengah duduk di pinggir kasur. Senyum liciknya merekah, “Tenanglah, kau selalu tegang ketika bersamaku. Aku bahkan tak melakukan apapun, adikku.”

 

“Tutup mulutmu, Oh Se-Hun! Kau bahkan tak pantas disebut manusia!”

 

“Begitukah?” nada mencela jelas terdengar. Se-Hun menempelkan telunjuk dan ibu jarinya di bawah dagu, “Ya, kau benar. Aku memang jahat, tapi kelihatannya kau tak takut padaku? Kau hanya terus menghindariku selama empat tahun kita bersama.”

 

Racun di dalam madu, itulah Oh Se-Hun. Mereka yang hanya tahu luarnya pasti bertekuk lutut dan rela melakukan apapun demi Se-Hun, tapi Hee-Ra bersumpah bahwa pria yang tengah bersamanya ini bukanlah orang biasa. Ia menyimpan dendam dan kejahatan di dalam hatinya.

 

“Lebih baik kau membunuhku daripada aku terus tinggal bersama manusia sepertimu!”

 

Se-Hun tertawa puas. Membunuh? Gadis kecil ini sudah siap mati? Sungguh kekanakan.

 

Ia menekan kedua dagu Hee-Ra dengan tangannya, “Membunuhmu? Ide yang bagus, Shin Hee-Ra,” Se-Hun berhenti sejenak, matanya berkilat mengatakan bahwa ia sanggup melakukan apapun. “Tapi sayangnya aku tidak akan membunuh gadis yang aku suka,” lanjutnya dan kemudian melepaskan cengkeramannya pada Hee-Ra kasar.

 

Se-Hun bangkit, ia mengambil kruk milik Hee-Ra dan meletakkan itu di sampingnya, “Cepatlah turun, aku akan mengantarmu ke kampus. Mama dan papa sudah menunggu kita di bawah.”

 

Hee-Ra terdiam, ia menutup kedua matanya sesaat setelah Se-Hun pergi. Hidupnya yang indah telah dihancurkan oleh pria berdarah dingin itu.

 

Sungguh, Hee-Ra masih tak menyangka dan tetap tak percaya bahwa Se-Hun adalah kakaknya. Orang yang dulu pernah mengambil hatinya, orang yang dulu pernah membantunya, orang yang dulu pernah ia coba jauhi, dan orang yang telah membuat Hee-Ra sadar bahwa wajah tampan tak menjamin kemurnian hati seseorang.

.

 

TO BE CONTINUED

 

102 responses to “[CHAPTER 1] SALTED WOUND by Heena Park

  1. Ahaha gak tau knp tapi suka bgt liat cara “cemburunya org yg dingin” haha its like pengen care tapi harus ttp jaga image and stay cool hahaha😂
    But…
    DUNIA SEMPIT VROHH!!
    gilee cowo yg dulunya heera suka trnyata KAKAKNYA menn😲 yah walaupun kaka tiri
    Sehun disini kyk psycho gituu yahh? Trus nnti heeranya gimana?

  2. Pingback: [CHAPTER 4] SALTED WOUND by Heena Park | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Kepo sama masa lalu mereka berdua, apa hanya karna itu dia menjauhi sehun atau masih ada hal lain? Terus gimana ceritanya mreka bisa jadi adik kakak? Kepo kepo kepo dan jongin juga sejak kapan jadi pacarnya hae ra? Banyak banget yang belum jelas dan nggak sabar buat ngelanjutin ceritanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s