Offenbaren — #1 : Bad Decisions

picsart_10-01-07-00.jpg

::— Offenbaren —::

.

.

(Part 1 : Bad Decisions)

By kreyafe

—Staring

[EXO] Park Chanyeol || [OC] Min Soyeon

       [BTS] Min Yoongi | [EXO] Oh Sehun | [TWICE] Hirai Momo

AU! | Friendship | Dark | Family | Campus-life | Romance

Chapter | Teen

‘my life became maze since the first day i met you’

Inspired by some of kdrama’s, fanfiction, and anime

Prologue

Pagi hari di kota Seoul kali ini terasa hangat sejak sang mentari mendominasi bumi dengan sinar keemasan yang begitu menyilaukan mata. Tiap lalu lintas padat dengan kendaraan beroda empat ataupun beroda dua, aktivitas membuat kendaraan berlalu lalang. Beberapa jalur jalan dihadiahi genangan air, sepertinya genangan air itu adalah hadiah dari hujan yang kemarin membasahi rata kota Seoul.

Sinar matahari di awal hari memang begitu menyilaukan, bahkan sukses menembus kaca di sebuah ruang yang khas dengan bau obat. Gadis yang tubuhnya direbahkan di ranjang bersebelahkan alat medis sesekali mengangkat tangannya karena merasa sinar matahari menganggu. Meskipun sinar matahari pagi bagus untuk kesehatan, namun kelihatannya gadis itu membencinya.

Min Soyeon—21 tahun. Untuk pertama kalinya di tahun ketiga komanya, akhirnya bisa merasakan hidup kembali setelah tertidur layaknya tokoh disney Sleeping Beauty, Aurora. Namun Soyeon lebih cocok disebut mayat yang tertidur karena kondisinya yang berkali-kali tak memungkinkan, dan tentunya wajahnya sangat pucat seperti orang mati.

Kedua netranya memandang sayu lurus, wajahnya tak berekspresi apapun. Jujur Soyeon tak mengerti keadaan sekarang dan ia juga tak tahu mengapa sekarang ia menjadi salah satu pasian rumah sakit. Bahkan ketika ditanyai tentang kecelakaan, Soyeon tak ingat apapun. Dokter Kim, selaku dokter yang mengangani Soyeon saat ini tengah memeriksa keadaannya lebih lanjut. Kondisi Soyeon memang sudah sangat memungkinkan untuk sadar jika dilihat dari grafik perkembangannya ketika koma. Dokter Kim dan beberapa perawat terlihat senang karena akhirnya Min Soyeon telah sadar.

“SOYEON!”

Hampir seluruh manusia yang berada di ruangan itu menoleh kearah pintu akibat suara -pekikan secara tiba-tiba, termasuk Soyeon ia juga ikut menoleh. Soyeon mengerutkan dahinya pelan ketika perlahan terlihat sosok diambang pintu, namun seperti semula, wajah Soyeon kembali pada awalnya ketika mengetahui siapa yang datang.

“Min Yoongi! Ini rumah sakit, bukan kafe tempatmu biasa manggung!” Tegur Dokter Kim, wanita itu terlihat kesal karena pemuda di depannya membuat kegaduhan sesaat.

I’m sorry, ma’am.” Pemuda itu—Min Yoongi mengunggah cengiran sembari menggaruk tengkuk.

Soyeon menatap nanar konversasi singkat antara Dokter Kim dan Min Yoongi. Sedari ia terbangun—sadar belum sama sekali menyuarakan sepatah kata pun, gadis itu hanya memberi sinyal seperti;—mengangguk atau menggeleng saja. Padahal dokter Kim telah memeriksa tak ada masalah pada pita suara Soyeon, namun gadis itu terlihat enggan mencetus satu kata dari mulutnya.

“Kakak…” Ucap Soyeon pelan, kedua netra terfokus pada sosok pemuda bersurai blonde.

Dokter Kim yang menangkap suara  Soyeon di gendang telinganya spontan mengunggah senyuman, akhirnya gadis itu mau bersuara meski baru satu kata, omong-omong dokter Kim  baru pertama kali mendengar suara Soyeon. Sekon berikutnya, dokter Kim melangkahkan tungkainya berirama hingga mendekat tepat di sebelah ranjang Soyeon.

Nah, Min Soyeon perbanyak berkomunikasi langsung dengan orang ya? Kau juga harus menggerakan tubuhmu agar kembali terbiasa.” Ujar Dokter Kim. Soyeon kemudian mengangguk mengiyakan.

“Dan kau Min Yoongi, tolong untuk tidak membuat kegaduhan sedikit pun, jangan juga memaksa Soyeon mengingat-ingat kejadian yang ia tak ingat karena akan memperburuk kondisinya. Karena efek lanjutan, mungkin beberapa kejadian ada yang ia tak ingat.” Dokter Kim sedikit menekan kata-katanya, memperingatkan Yoongi. Personalitas Yoongi memang agak ceroboh meski pemuda itu terlihat dingin dan tak peduli.

Omong-omong, Min Yoongi—22 tahun adalah kakak kandung Soyeon. Pemuda itu yang menemani Soyeon ketika koma, hampir setiap hari dikarenakan tak ada satupun anggota keluarganya yang bisa menemani Soyeon. Ibunya sudah tiada ketika ia berumur 12 tahun dan Soyeon 10. Ayahnya yang berstatus sebagai direktur perusahaan terkenal tak terlalu mengurusi kedua buah hatinya, hanya memberikan sejumlah uang yang dirasa pria karier itu cukup untuk kebutuhan sehari-hari kedua anaknya.

Merasa sudah ada yang menunggu—menjaga Soyeon di ruangan, dokter Kim beserta beberapa perawat mengangkat kaki—meninggalkan ruangan. Meninggalkan ruangan bernomorkan 301 itu membuat ruangan semakin hening. Bahkan setelah sepuluh menit Yoongi dan Soyeon tak kunjung membuat konversasi. Yoongi yang terkesan cuek tak tahu harus membuat topik apa, sedangkan Soyeon pun juga bingung harus membahas apa.

“Kakak..” Panggil Soyeon.

“Ya?” Yoongi mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk.

“Aku sudah tertidur berapa lama? Dokter tadi tak memberi tahuku.” Tanya Soyeon pelan, ia belum terlalu bertenaga untuk mengeluarkan suara yang lebih kencang.

Yoongi tersenyum tipis kemudian menyodorkan ponsel pintar miliknya. Soyeon awalnya menatap Yoongi bingung, mengapa kakaknya itu memberikan ponselnya. Namun pada akhirnya gadis itu menerima dan menyalakan ponsel tersebut. Baru mengamati sebentar segala bentuk yang tertera pada layar, obsidian gadis itu melebar.

“Sekarang sudah tahun 2016?” Soyeon terperangah tak percaya. Yoongi kemudian membalasnya dengan anggukan singkat.

“Aku koma 3 tahun? Ya tuhan.” Soyeon benar-benar terperanjat. Gadis itu kemudian merebahkan tubuhnya lagi sembari mengusap wajah dengan kedua tangan, disusul dengan netra yang terfokus pada langit-langit ruangan.

“Apa kau tak ingat sedikitpun apa yang kau lihat terakhir saat itu?” Yoongi mulai memberikan pertanyaan, membuat topik dengan adiknya. Gadis itu menggeleng pelan.  “Sepertinya kau memang butuh proses untuk kembali mengingat.”

-Offenbarren-

Deru nafas terengah-engah ketika ia telah menghentikan kedua tungkainya yang sedari tadi tak ada henti-hentinya berlari kencang. Seperti kompetisi lari marathon yang harus mati-matian berlari super kencang agar mendapatkan medali emas kejuaraan, namun ini berbeda karena ia melarikan diri.

Fajar baru saja menyingsing namun ia sudah lebih dulu menghabiskan energi. Jika tidak seperti ini, mungkin nyawanya sudah melayang. Bangun ketika matahari belum tampak dan keluar rumah diam-diam, namun tetap saja meskipun seperti itu nyawanya seakan ingin melayang tadi.

Bayangkan ia ditembaki dengan senapan—pistol.

Di rumahnya sendiri.

Park Chanyeol—22 tahun. Mahasiswa semester akhir yang hampir tiap harinya hampir menemui ajalnya. Sebenarnya sih tak tiap hari juga, karena si ‘keparat’ itu tak dirumah setiap hari. Sekitar 4 hari dalam sebulan Chanyeol harus menyiapkan dirinya agar tak cepat-cepat menemui ajalnya di usia yang masih sangat muda. Tentu saja Park Chanyeol tak ingin secepat itu mati. Urusan di kehidupan rumitnya masih banyak.

Sedari kecil Chanyeol harus menerima didikan keras yang hampir mempertaruhkan nyawa. Bayangkan, umur 9 tahun ia dihajar habis-habisan karena menolak latihan menembak dengan revolver. Dilain tempat kebanyakan anak berusia 9 tahun hanya bermain robot-robotan, makan ice cream, bersepeda, dan hal-hal lazim untuk kebanyakan anak-anak. Tapi tidak dengan Chanyeol. Ia sudah dilatih menjadi seorang seperti; mafia, pembunuh, buronan negara, dan hal lain yang bersifat negatif.

Penyebabnya adalah Mr. Park, ayah Chanyeol sendiri. Setelah ibunda Chanyeol ditembak tepat di dada wanita itu dengan kedua indera pengelihatan serta alat indera pendengar yang mendukung suara peluru diluncurkan dari senapan, Chanyeol merasa hidupnya sudah tak berarti. Tak ada ibunya, itu berarti ayahnya yang mendidik Chanyeol sebagai gantinya. Menembak dengan revolver ataupun pistol, latihan bela diri, dihajar habis-habisan karena membangkang. Itu semua ayahnya yang melakukan, pria yang paling Chanyeol benci seumur hidupnya.

Persetan ia adalah ayahnya, tapi bagi Chanyeol ayahnya adalah gudang neraka hidup baginya. Bahkan sampai sekarang juga ia tak tahu apa pekerjaan ayahnya. Meskipun ayahnya memberikan pelatihan bak penjahat, Chanyeol masih diberikan pendidikan sepenuhnya. Menjadi seorang pemusik adalah impiannya sejak dulu, omong-omong ibunya adalah seorang pianis terkenal. Tentu saja ayahnya menentang keras, menurut pria itu musik adalah hal yang tak penting dan menyia-nyiakan waktu. Ingin kabur? Percuma karena ayahnya pasti akan menemukannya.

Sebagai contoh saja, tadi pagi ia harus diam-diam keluar rumah untuk kuliah. Ayahnya yang kala itu sedang singgah dirumah tentu saja tak menyukai putranya kuliah ketika ia di rumah. Apalagi jurusan kuliah yang Chanyeol ambil adalah hal yang dibenci ayahnya. Chanyeol terlalu nekat melarikan diri, alhasil ia dihadiahi beberapa peluru ketika berlari. Beruntung karena tak ada satupun dari peluru itu melukai dirinya, hanya saja kedua tungkai pemuda itu rasanya seperti ingin patah karena kelelahan berlari. Bayangkan saja ia sudah berlari 2 km selama 30 menit.

Kini Chanyeol sudah lumayan ‘agak’ tenang, posisi ia sekarang sudah lumayan jauh dari tempat tinggal yang super mengerikannya itu. Pemuda itu merogoh saku celana yang ia kenakan, mengeluarkan sebuah earphone putih yang kemudian dua kepala earphone tersebut menyumbat kedua lubang telinga Chanyeol.

Irama tungkai kaki langkah Chanyeol sudah kembali seperti biasa, suara detak rongga organ berotot memompa darah miliknya juga sudah terdengar stabil, meski deru nafasnya masih agak terengah-engah. Chanyeol yang kala itu sudah berada di halte bus hendak naik, melupakan sesuatu.

Ah, sialan aku tak membawa uang cash.” Pemuda itu mengumpat. Ia baru ingat bahwa uang cashnya ada di lemari bajunya, pulang kesana sekarang juga sama dengan bunuh diri pada hari ini. Chanyeol tak ingin ambil resiko.

Pemuda itu diam sejenak namun ia gelisah. Bagaimana bisa ia pergi ke kampusnya yang masih berjarak 5 km lagi sedangkan saat ini sudah 15 menit sebelum kelas dimulai. Ia tak mau meninggalkan kelas lagi, sebentar lagi ia akan lulus dan Chanyeol ingin menikmati setiap kelas-kelas mata kuliah.

‘TIN’

Lamunan Chanyeol kemudian terhenti tepat ketika suara klakson mobil mendominasi sekilas indera pendengaran Chanyeol. Senyuman tipis—puas diunggah tepat jelas di wajah tampannya. Ini dia yang dinamakan keberuntungan pada hari yang paling sial.

“Kau terlihat seperti orang tolol berdiri di halte bus dengan pikiran kosong” Komentar si pengemudi tepat ketika kaca mobil diturunkan.

“Diam kau Oh—cadel—Sehun.” Chanyeol balik mengejek.

“Cepat dan masuk sialan.” Sehun—yang duduk di bangku pengemudi tersenyum meremehkan.

Ferrari LaFerrari berwarna merah terang tersebut dengan cepat melaju, berbaur bersama mobil-mobil lainnya di jalan raya. Terlihat jelas mobil yang mereka kendarai kastanya sangat tinggi dibandingkan dengan mobil-mobil lainnya yang mendominasi jalan.

Omong-omong, Oh Sehun—21 tahun. Sama seperti Chanyeol ia juga seorang mahasiswa, tentunya Sehun satu tingkat dibawah Chanyeol, ia masih semester 6. Dilihat dari benda-benda yang Sehun pakai, khususnya mobil yang kini ia pijak sudah terlihat jelas Sehun adalah seseorang yang memiliki dompet tebal. Jelas sekali, keluarga besarnya memiliki usaha butik fashion hingga ke pelosok negeri tetangga, ditambah lagi ayah Sehun memiliki kursus musik terkenal di Korea. Sudah tak diragukan.

“Kemana motormu itu? Apa ayahmu membakarnya?” Celetuk Sehuna setelah melantunkan lagu yang diputar pada mobilnya.

“Masuk akal, tapi sayangnya aku sudah menyembunyikan barang itu pada tetangga 2 blok setelah rumahku.” Chanyeol membalasnya santai. “Aku ditembaki beberapa peluru tadi.” Lanjut Chanyeol.

Sehun melebarkan kedua netra sebelum akhirnya salah satu tungkai miliknya menginjak rem dengan mendadak, Bahkan dahi Chanyeol hampir menyentung kaca depan mobil karena ulah Sehun yang mengerem mendadak. Sialan.

“Kurasa kata-kataku benar, ayahmu sudah tak waras. Sekejam-kejamnya ayah tak mungkin sampai ditembaki peluru.” Komentar Sehun, Chanyeol terlihat tersenyum tipis. Lamat-lamat roda mobil mulai berjalan lagi setelah tadi Sehun mengerem.

“Kau kan sudah tau Hun, my father is a different species.” Ujar Chanyeol sembari menghela nafas kasar. “Sebenarnya aku tak mau mengakui dia sebagai ayahku, persetan meski dia ayahku.”

Sehun tergelak. “Omong-omong jika aku menjadi ayahmu, sepertinya lebih baik aku langsung membunhmu dibanding harus menembaki tiap hari.” Chanyeol memukul pundak Sehun.

“Sialan kau bayi, kuharap kau besok tak pernah ada lagi.” Umpat Chanyeol disusul tawa pecah Sehun.

“Ei, tapi aku benar kan? Daripada menyiksa perlahan-lahan lebih baik membunuh langsung agar tak merasakan tiap sakit yang dirasa.”

Baru saja Sehun menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol tergelak—tertawa kencang tak tanggung-tanggung. Bahkan Sehun harus memukul kepala Chanyeol agar temannya yang sudah setengah miring itu diam, ia merasa diejek.

“Sejak kapan kau memiliki stok bahasa puitis? Di gendang telingaku terdengar menjijikkan.” Sehun memutar kedua bola mata.

“Sejak aku bertemu denganmu OPPA!!” Pekik Sehun genit dengan nada layaknya perempuan, ditambah lagi ia melakukan v sign yang membuat Chanyeol jijik.

“OH SEHUN ENYAH KAU.”

-Offenbaren-

Waktu sudah menunjukkan 10 pagi di jam rumah sakit yang menempel di dinding ruang rawat Soyeon. Gadis itu sudah terbangun sedari 3 jam yang lalu dan kemudian menerima sarapan yang dibawakan oleh kakaknya—Min Yoongi, Soyeon menuturkan bahwa ia bosan dengan makanan rumah sakit sehingga Yoongi membawa makanan dari luar. Tentunya yang sudah disarankan dokter Kim dan bukan makanan sembarangan.

Sudah seminggu setelah Soyeon membuka mata untuk pertama kali di akhir tahun ketiga komanya. Kesehatannya sudah mulai membaik, grafik perkembangan juga diluar dugaan, Soyeon cepat sekali berkembang. Gadis itu juga sudah mulai lebih banyak bergerak dan berkomunikasi dengan orang-orang sekitar meskipun hanya sebatas orang-orang rumah sakit. Personalitas Soyeon yang mudah berbaur dan ramah membuat orang lain nyaman berkonversasi dengannya.

Saat ini ia berkutat benar dengan alat musik yang ia sudah ingin-inginkan kemarin untuk dimainkan, gitar. Kakaknya—Yoongi baru membawakan barang kesukaannya ini semalam setelah mampir kerumah lagi untuk mengambil beberapa pasang pakaian dan barang Soyeon. Jemari gadis itu sedikit agak kaku karena sudah lama sekali tak bermain, bayangkan saja selama tiga tahun ia hanya tertidur tanpa kepastian. Tentu saja pastinya jarinya agak asing menekan senar gitar.

Sesuai dengan anjuran dokter Kim, Soyeon melakukan banyak aktivitas baru termasuk yang baru ia catat sebagai jadwal baru di rumah sakit, bermain gitar sampai jam makan siang, tepat sebelum Soyeon melakukan terapi. Bermain gitar seperti ini membuat Soyeon mulai merindukan aktivitasnya dulu selagi ia masih sehat dan belum menjadi korban kecelakaan.

Kala itu ia masih diawal semester satu, dengan penampilan cupu dan terlihat menyedihkan di depan senior-senior menyebalkan yang mengospek mereka. Baru sekitar 2 minggu ia resmi menjadi mahasiswa baru Soyeon harus koma selama tiga tahun. Jelas sekali ia tertinggal banyak materi pelajaran, tentunya juga Soyeon tertinggal semester kuliah.

Yoongi bilang; karena Soyeon masih terdaftar dalam list mahasiswi kampusnya, Soyeon masih bisa kuliah disana. Hanya saja harus menjadi yang paling tua di kelas kuliahnya karena ia ketinggalan semester. Uh, andai saja Soyeon tak ditimpa kejadian yang merubah hidupnya itu pasti ia sekarang sudah menikmati masa-masa senior yang menyenangkan di semester yang hampir menyentuh semester akhir.

Namun hingga saat ini Soyeon masih belum bisa mengingat apapun tentang kecelakaan yang dilontarkan Yoongi serta dokter Kim saat itu. Soyeon berulang kali memaksa Yoongi untuk bercerita namun pemuda itu enggan bercerita. Tiap kali Soyeon meminta, Yoongi akan menjawab ‘Itu kan masalahmu, coba ingat sendiri agar kau bisa tau bagaimana kejadiannya.’

Selalu sama sampai-sampai Soyeon bosan mendengar jawaban Yoongi. Sebenarnya ada baiknya juga karena membantu Soyeon mengingat kembali memori yang hilang dalam kotak memori pada otaknya. Memaksa untuk mengingat selalu membuatnya pusing, karena itu Soyeon belajar untuk bersabar. Jujur Soyeon sangat penasaran. Yoongi telah memberi tahu dokter Kim agar tak memberi tahu bentuk kejadian yang dialami Soyeon, karena itu ia tak bisa berkutik.

Mari berpindah dari masalah yang tak kunjung Soyeon ingat. Besok gadis berusia 21 tahun ini sudah diperbolehkan pulang. Itu berarti peluang Soyeon untuk kembali melihat-lihat lingkungan kota lebih luas semakin besar. Ah, Soyeon rindu keramaian kota Seoul. Untuk soal aktivitas kuliahnya, Soyeon langsung bisa kembali mengikuti kelas. Beruntung Soyeon bangun dari koma tepat saat semester baru dimulai. Ia tak perlu menunggu semester baru untuk kembali masuk kuliah.

Sembari bermain gitar, Soyeon sesekali menoleh kearah televisi yang menempel di dinding tepat di depan ranjang, hanya berjarak 1 meter setelah ranjangnya. Film yang kala itu disajikan membuat Soyeon tertarik, Film bergenre action, thriller, crime menjadi satu adalah kesukaan Soyeon. Bahkan karena Soyeon ingin bermain gitar dan menonton televisi bersamaan, gadis itu melihat ke arah televisi sembari memetik senar gitar. Benar-benar!

“eoneu sungan sori eopsi

 (Suddenly without a sound)

 

Nunbusin haessalcheoreom geudaega

(Like dazzling sunlight, you

 

Haruedo myot beonssik

(Several times a day)

 

Geudaewa na saireul

(Between you and me)

 

Gidareul hage dwae maeil

(Makes me so excited)

 

Dalkomhan kkumeseo kkaeji anhdorok

(So i wont wake from this sweet dream)

 

Ireoghae gudae gyeote na isseulge

(I will stay by your side like this

 

Gidarige doejanha eojeboda

(Im starting to wait, more than yesterday)

 

Wae guereonyago gyesok naege mutjiman

(They ask me why im being like this)

 

Mallyeobwa ontong gudae saenggage

(Try to stop me because)

 

Jom mot deuneu i bame han georeume dallyeoga

(Thoughts of you stop me from sleeping)

 

Saranghandago malhalkka bwa”

(So im running to you, about to tell you i love you)

 

(Ahn Hyun Jung – You And Me)

Soyeon menyelesaikan nyanyian singkatnya dengan petikan dramatis dengan gitar classic miliknya. Lagu milik Ahn Hyun Jung dari ost drama W berhasil menarik perhatian Soyeon setelah menyelesaikan menonton drama W. Seperti kebiasaannya sejak dulu, Gadis itu nekat ngebut menonton drama W yang sudah lama tamat, sebenarnya beberapa bulan yang lalu.  Lagipula beberapa potongan scene film tadi terlihat membosankan, membuat Soyeon agak jenuh dan akhirnya terfokus dengan bermain gitar sembari bernyanyi. Netra hazel Soyeon melirik jam dinding yang menempel jauh di atas televisi.

Ah, 15 menit lagi aku harus terapi, waktu berjalan cepat sekali.” Gumam gadis itu sembari meletakan gitarnya di bawah.

Dikarenakan ia harus terapi berjalan lagi agar peluang untuk berjalan lancar seperti biasa semakin cepat, Soyeon berhenti bermai gitar dan beralih kembali menonton film. Volume televisi yang ia anggap terlalu kecil reflek ia besarkan. Kali ini Min Soyeon terlihat sangat serius. Setelah scene membosankan penuh basa-basi yang tak penting tadi, sekarang scene klimaks mulai ditayangkan.

‘DOR’

Suara tembakan yang hampir mendominasi ruangan terdengar di telinga Soyeon, ini ulahnya karena menyetel Volume televisi terlalu kencang. Jantungnya bahkan berdegup lebih cepat setelah mendengar suara tembakan yang berasal dari film. Namun entah mengapa Soyeon merasakan kepalanya teramat pusing setelah mendengar suara tembakan tadi. Seperti memberi efek samping lanjutan setelah membuat jantungnya berdebar lebih cepat.

.

.

”Iya kak aku akan segera pulang.”

.

.

SAA

.

.

‘DOR!’

.

.

‘BRAK!’

.

.

 

“ARGH…!!” Spontan gadis itu menjerit disusul cairan liquid bening yang meluncur—membasahi pipi.

“SOYEON!!”

Bersamaan dengan jeritan Soyeon yang mencuat, Yoongi kebetulan berada di depan pintu—hendak masuk. Mendengar jeritan Soyeon memancing Yoongi untuk masuk, ia terkejut mendengar adiknya menjerit tiba-tiba. Dengan posisi Soyeon yang memegangi kepala dengan kedua tangannya sembari menangis membuat Yoongi penasaran.

“Kau kenapa?!” Ujar Yoongi menghampiri Soyeon dengan langkah besar-besar.

Menggeleng pelan masih dalam keadaan menangis adalah hal yang dilakukan Soyeon kini. Selang sekon-sekon berikutnya hanya terdengar sesenggukan disela-sela penasaran Yoongi yang semakin meluap. Adiknya ini kenapa sih?

“Kau kenapa?” Ulang Yoongi untuk kedua kalinya, disusul dengan gerakan tangan—menyodorkan segelas air untuk Soyeon.

Soyeon menarik nafas panjang di iringi sesenggukan. “Aku..” lagi-lagi gadis ini menarik nafas yang lebih panjang. “Aku mulai mengingat sedikit.”

Yoong melebarkan kedua pasang netra, mata sipit—minimalis miliknya malah sekarang terlihat membesar. “Soyeon kau serius?!” Soyeon menjawab dengan anggukan. “Syukurlah ya tuhan, ini perkembangan baik untukmu.

Gadis ini bukannya terlihat senang malah justru menggeleng kembali. “Aku merasakan pusing yang teramat.” Soyeon mengangkat tangan kanannya guna mengusap cairan yang tadi membasahi pipi. “Potongan scene yang aku ingat juga sangat menyiksa.”

Kini giliran Yoongi yang justru menarik nafas panjang disertai kedua tangan yang mengusap penuh wajah. “Sepertinya memang aku harus memberi tau bentuk kecelakaanmu.”

Soyeon yang semula menunduk kini mulai mengangkat kepala, disusul unggahan senyum yang terlihat memaksa. “Jangan sekali-kali kau memasang mimik seperti itu, kau terlihat menyedihkan.”

Mengunggah ulang senyum yang lebih natural sedikit melegakan hati Yoongi, adiknya terlihat sangat miris. Menarik kembali nafas yang panjang untuk kesekian kalinya, Yoongi sebenarnya tak berencana menceritakan kronologi kecelakaan Soyeon. Ia justru takut segala potongan scene menggilakan yang netranya liat dari CCTV justru menganggu Soyeon dan mengakibatkan trauma tetap.

“Kecelakaan klasik, kau adalah korban tabrak lari.” Soyeon mengernyitkan dahinya sembari berpikir.

“Kecelakaan klasik dihadiahi dengan satu peluru yang tepat mengenai organ tubuh terpentingmu.”

—to be contiuned

.

.

Aku gak tau ini apaan, alurnya dirasa maksa banget ya? Maapin kreyafe ini yang imajinasinya selalu abal abal T.T aku masih nyoba-nyoba buat bikin ff action but seems this is failed. Selama aku jd author udh ada 3 ff chapter yang gagal tamat dan berakhir ke tong sampah, dan kalo aku bener-bener ga mood mungkin ff ini bernasib sama (?)

Sorry for the typo(S)

—Kreyafe

6 responses to “Offenbaren — #1 : Bad Decisions

  1. ini yg kemaren chanyeol d rumah sakit d kiranya jadi malaikat itu yaaa hahaha salah tebak trnayata.
    ..d tunggu klanjutannya aja deh,, ceritanya susah d tebak jadi makin penasaran

  2. Ya ampun bapaknya cenyol segitunya helahhhhh tega bangettt tiap hari bikin senam jantung anaknya bukan senam jantung lagi sh malahan 😂 duh dek tehun dimana mana kok kamu mah jadi orang kaya mulu deh ga bosen 😮 itu kecelakaan pasti ada hubungannya sm cenyol kan apalagi terkena tembakannya next lahhh di tunggguuu

  3. aku harap ini berlanjut terus thor huhu… jgn” ini ada hub. nya sma chanyeol? huwaaaa aku gk sabar ih mau liat kelanjutannya… gimana ama soyeon ya? ahhh keep writing and hwaiting!

  4. Ditunggu next part nya…🙂 Msih blur diawal part_ Perlu pnjelasan lbih di next part ttg sp Chanyeol n bapak sadis¿nya ituuuh! wkk
    Yg nabrak seoyeon siapa?? msih ad hub. ny dgn Chanyeol kh?? *curious

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s