[CHAPTER 2] Salted Wound by Heena Park

salted-wound-cover

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun


.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD. And thanks to Byun Hyunji for this awesome poster!

.

.

Prev :

TEASER

CHAPTER 1

.

Semua orang memiliki sisi gelap, semua orang memiliki rahasia, semua orang memiliki kelemahan—Hee-Ra adalah kelemahannya.

Gadis itu mengetahui rahasia terbesarnya, walau tak tidak penuh. Gadis itu membuatnya terpaksa mengawasi hingga perasaan yang tak seharusnya ada perlahan muncul begitu saja.

Gadis itu bagaikan narkoba, merusak indranya secara pasti, membuatnya ketagihan hingga terobsesi.

Se-Hun mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut pria berwajah Eropa di layar laptopnya.

“Habisi saja dia. Kau membuang-buang waktu dan malah terperangkap pada ilusi.”

 “Kau tidak memiliki hak untuk memutuskan.”

Pria di layar itu tergelak mendengar jawaban Se-Hun, “Kita semua tidak memiliki hak untuk memutuskan, tapi nyatanya kita tetap melakukannya, bukan?”

“Aku tidak sama denganmu, Bruce.”

Pria yang dipanggil Bruce itu mendecak, “Benarkah? Kurasa kita sama-sama menikmatinya.”

“Aku dijual padamu oleh ayah—bukan, tapi si bajingan itu, dan kaulah yang merubahku. Aku hanya terpengaruh olehmu.”

“Ah, benar. Kau memang terpengaruh olehku. Tak heran kehebatanmu dalam hal ini sedikit lebih unggul dariku, dan kau tahu kenapa? Karena sesungguhnya kau sangat menikmatinya.”

“Tutup mulutmu Bruce Waylon!”

Se-Hun tak tahan lagi pada kebenaran yang terus keluar dari mulut Bruce. Ya, dia tak akan bersikap munafik karena pada kenyataannya Se-Hun sangat menikmati pekerjaan sekaligus hobby-nya ini.

Dendam dan kebenciannya pada sang ayahlah yang membuat Se-Hun kejam. Terlebih lagi ayahnya menjual Se-Hun kepada Bruce yang notabene-nya adalah pembunuh berdarah dingin. Sejak berumur sepuluh tahun, Se-Hun dipaksa untuk masuk ke salah satu organisasi pembunuh berantai dan hasrat liarnyapun muncul.

Ia berkali-kali ditugaskan untuk membunuh orang. Ketampanan dan kelihaiannya menjadi nilai tambah, terutama untuk melumpuhkan target wanita.

“Jangan pernah  berani menyentuhnya sedikitpun. Dia milikku, Bruce. Dan aku akan melindungi apapun yang menjadi milikku.”

Bukannya bergidik ngeri, Bruce malah semakin terbahak. Ia menyadari betapa miripnya Se-Hun dengannya, tidak rugi kalau dulu Bruce membeli anak itu dengan harga mahal.

“Well, kita lihat saja nanti,” berhenti sejenak, ia mendekatkan mulutnya ke layar dan berbisik, “jaga milikmu baik-baik.”

Tak berniat menjawab omongan Bruce, Se-Hun langsung menutup laptopnya. Ia kembali mengenakan jas yang sempat dilepas ketika sampai.

Se-Hun tak bisa sering datang ke mansion ini. Mansion yang dibelinya empat tahun lalu, tentu saja tanpa Hee-Ra dan keluarganya ketahui.

Mansionnya diurus oleh Park Young-Lee. Orang kepercayaannya sejak mereka masih tinggal di Korea.

Se-Hun sengaja membeli mansion ini sebagai tempat persembunyian serta tempatnya biasa menerima perintah dari ketua organisasi.

Selama empat tahun tinggal di London bersama Hee-Ra dan keluarganya rupanya tak membuat mereka curiga tentang pekerjaan Se-Hun sebenarnya. Yang keluarganya tahu, ia adalah kepala cabang di salah satu perusahaan milik ayah tirinya—Shin Jae-Woo.

Semenjak kedatangannya ke London empat tahun lalu, dan mengaku sebagai anak kandung Kang So-Hee dengan berbagai barang bukti yang meyakinkan, Se-Hun diperlakukan sangat baik, ia begitu disayangi oleh Kang So-Hee dan Shin Jae-Woo. Terutama Kang So-Hee, akibat rasa bersalahnya yang sempat meninggalkan Se-Hun setelah lahir kepada kekasih yang juga telah menghamilinya, ia merasa harus menebus semua kesalahan itu.

Sayangnya, ada satu masalah. Ketika Kang So-Hee dan Shin Jae-Woo sangat menyayanginya, ada Hee-Ra yang begitu membencinya.

Tentu saja Hee-Ra membenci Se-Hun bukannya tanpa alasan, karena sesungguhnya gadis itu tahu kalau Se-Hun pernah membunuh orang. Dan karena itulah Se-Hun tak akan melepaskan Hee-Ra.

Shin Hee-Ra adalah miliknya.

“Park, siapkan kamar utama dengan baik. Nanti malam aku akan membawa jalang murahan itu ke sini,” ujar Se-Hun tanpa menatap lawan bicaranya.

Sementara Park Young-Lee yang sejak tadi berdiri di depannya langsung mengangguk.

Lelaki itu bergegas pergi dan menyuruh bawahannya untuk segera membeli barang-barang yang sekiranya perlu digunakan tuannya malam ini.

Alasan inilah yang membuat Se-Hun sangat menyukai Young-Lee sebagai orang kepercayaannya. Ia pintar, cekatan dan tidak banyak bicara.

Well, sekarang saatnya bagi Se-Hun untuk menjerat korbannya. Ia sangat menyukai jika sang korban adalah wanita, biasanya mereka akan sangat terbuka pada ketampanan Se-Hun, dan sebelum menghabisi korban, setidaknya Se-Hun bisa mencoba tubuhnya dulu.

 

•••

 

 

Jong-In menaruh nampan berisi nasi, daging sapi, sop dan lemon tea di depan Hee-Ra. Ia menumpu tubuhnya dengan kedua lengan di meja, “Makanlah, aku tidak mau kau sakit.”

Ia paham kesedihan Hee-Ra yang mendalam masih tersisa. Tapi bukan berarti harus mengorbankan jam makan siangnya, bukan? Gadis itu bahkan belum menelan makanan sedikitpun sejak pagi.

“Aku ingin ke studio,” Hee-Ra mendongakkan wajahnya, menatap Jong-In penuh permintaan.

Seharusnya Jong-In tidak menuruti kemauan Hee-Ra, tapi menolak sama saja dengan membiarkan Hee-Ra terus mogok makan.

“Baiklah, tapi kau harus menghabiskan makananmu dan setelah itu kita pergi, setuju?”

Tanpa menunggu balasan Hee-Ra, Jong-In langsung menarik kursi dan duduk di samping gadis itu. Ia menyendok nasi dan daging kemudian mendekatkan sendoknya ke mulut Hee-Ra, “Sepertinya kekasihku ingi disuapi, eh?”

Pipinya memerah, Hee-Ra mendengus pelan dan mengambil sendok dari tangan Jong-In, “Ya! Aku bisa makan sendiri tahu,” balasnya lalu memukul pelan lengan Jong-In yang kemudian disambung tawa keduanya.

Inilah Jong-In, ia selalu berusaha memperbaiki suasana hati Hee-Ra, berbeda dengan Se-Hun yang selalu menekan dan mengancamnya.

Kedekatan mereka berawal saat Hee-Ra masuk ke sanggar. Jong-In adalah satu-satunya murid yang berasal dari Korea, dan kebetulannya lagi usia mereka tidak berbeda jauh, otomatis teman pertama Hee-Ra adalah Jong-In.

Mereka sering menghabiskan waktu bersama, bahkan tak jarang keduanya saling mengunjungi rumah satu sama lain, sehingga tak ayal kalau orang tua Hee-Ra lumayan akrab dengan Jong-In, begitupun sebaliknya, Hee-Ra selalu disambut baik oleh paman dan bibi Jong-In.

Rupanya Hee-Ra tak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan makanannya. Sesuai perkiraan Jong-In, gadisnya pasti kelaparan.

Melihat Hee-Ra menyantap makanannya dengan lahap sudah cukup membuat Jong-In tersenyum senang. Ia mengusap rambut Hee-Ra lembut, “Good girl,” ujarnya manis.

Setelah Hee-Ra menyelesaikan makanannya, Jong-In segera membantu Hee-Ra berjalan menggunakan kruk. Mereka segera pergi dari kafetaria kampus menuju ke studio.

Dilihat dari banyaknya kendaraan yang telah terparkir, bisa disimpulkan bahwa mereka sudah berkumpul untuk latihan. Tiba-tiba hatinya kembali sakit, mengingat kemarin ia masih bisa menari dengan bebas, sedangkan hari ini? Berjalanpun susah bagi Hee-Ra.

Jong-In menyadari perubahan air muka Hee-Ra, ia merangkul pinggang Hee-Ra dan mengecup pipi kirinya, “Mrs. Sanders pasti sedih kalau melihat ekspresimu,” ia menunjuk ke arah studio dengan dagunya.

“Maaf…”

Jong-In menggeleng, mereka kembali melangkah. Kali ini terlihat seorang gadis duduk di tengah sekumpulan orang yang membentuk lingkaran. Kelihatannya mereka sedang rapat.

Sampai akhirnya salah satu dari mereka menyadari kehadian Hee-Ra dan Jong-In. Wanita berambut pirang di pinggir ruangan menghampiri Jong-In dan Hee-Ra.

“Kau telat Mr. Kim,” celetuknya.

Oh?” Jong-In tertawa hambar sambil menggaruk  kepalanya, “Ah…Maafkan aku Mrs. Sanders, kau tahukan dosenku agak rewel.”

Orang yang dipanggil Mrs. Sanders  itu mendecak beberapa kali. “Cepat ganti baju, Emma sudah menunggumu,” perintahnya yang langsung diiyakan oleh Jong-In.

Sementara Jong-In berganti baju, Mrs. Sanders mengajak Hee-Ra untuk diduk di pinggir, sejujurnya ia sendiri juga sedih karena salah satu penari terbaiknya tak bisa tampil Minggu depan.

“Bagaimana keadaanmu, Shin Hee-Ra?”

Hee-Ra memandang kaki kanannya sebentar dan kembali fokus pada Mrs. Sanders, “Sudah lebih baik dari sebelumnya,” senyumnya tak pernah pudar, “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,” lanjutnya.

Semburat kemerahan rambutnya yang dicat beberapa waktu lalu meluncur begitu saja melewati wajahnya ketika Mrs. Sanders menunduk, “Seharusnya kemarin aku tidak memaksamu untuk latihan lebih lama, kalau saja—“

“Tidak Mrs. Sanders, ini tidak ada hubungannya dengan itu,” Hee-Ra paham akan rasa berlasah yang jelas tersirat dari raut Mrs. Sanders, ia mengusap punggung tangan wanita berusia akhir tigapuluhan itu, “Mungkin memang belum saatnya aku tampil di sana, toh ada Emma yang bisa menggantikanku. Aku juga tak ingin memaksakan diri,” cih, tak ingin memaksakan diri? Hee-Ra jelas berbohong. Ia bahkan menangis semalaman kemarin.

Pembicaraan mereka terpotong ketika ponsel Hee-Ra berbunyi. Ia segera merogoh sakunya. Oh? Sebuah pesan dari Se-Hun?

 

‘From : Oh Se-Hun

Aku ada di depan studiomu. Jangan lari karena aku akan segera masuk dan mengajakmu ke suatu tempat.’

 

“Oh shit!” umpatan keluar begitu saja dari mulutnya, lupa kalau Mrs. Sanders masih duduk bersampingan dengannya.

Pardon?”

Hee-Ra buru-buru meluruskan segalanya, Mrs. Sanders pasti berpikiran yang tidak-tidak, “Maaf Mrs. Tapi kurasa, aku harus pergi.”

“Eh? Kau tidak ingin melihat kekasihmu?” ia melirik Jong-In yang sudah berada di tengah-tengah lingkaran.

Hee-Ra menggeleng cepat, “Aku masih ada urusan lain,” suaranya tergagap, “aku—“

Mrs. Sanders?”

Suara bariton seorang pria memotong ucapan Hee-Ra. Pria itu melangkah dengan percaya diri, membuat para wanita yang tadinya akan memulai latihan jadi terhenti.

Itulah Oh Se-Hun, kedatangannya selalu membuat para wanita tak bisa berpaling. Ketampanannya seolah menyihir semua orang, ditambah lagi sikapnya yang baik, bahkan pada orang yang belum dikenalnya sekalipun—tentu saja terkecuali pada Hee-Ra. Gadis itu sudah tahu seperti apa sifat Se-Hun yang sebenarnya.

Jujur ia muak dengan topeng sok baik dan berwibawa yang selalu digunakan oleh Se-Hun. Ingin sekali rasanya Hee-Ra membongkar kedok pria jahat yang selalu menekan hidupnya, tapi kembali pada kenyataan, Hee-Ra tidak mungkin menghancurkan hidup kakaknya sendiri.

“Maaf aku telah mengganggu kalian,” Se-Hun meraih tangan kanan Mrs. Sanders dan mengecupnya lembut. Tentu saja sebagai perempuan yang diperlakukan semanis ini oleh lelaki tampan dan kaya raya mampu membuat Mrs. Sanders merona.

“Tapi aku berniat mengajak adikku untuk pergi, bolehkah?”

Hee-Ra tak menyangka Se-Hun akan datang secepat ini, bahkan sebelum dirinya mampu bergerak.

Sayangnya, Mrs. Sanders yang terlalu terlena oleh rayuan maut Se-Hun langsung mengiyakan, “Tentu saja, nak,” ia melirik Hee-Ra sejenak, “pantas saja Hee-Ra tadi berkata akan segera pergi, ternyata kakaknya sudah menjemput.”

“Benarkah?” Se-Hun menampilkan senyum kemenangan. Ia tahu pasti bahwa yang dimaksud Hee-Ra untuk pergi adalah menghindarinya, tapi rupanya ia datang lebih cepat dan berhasil menggagalkan rencana Hee-Ra.

“Aku senang kau sudah meminta izin pada pelatihmu, bahkan sebelum aku datang. Good girl,” ejeknya.

Hee-Ra melihat kilatan itu, ia peka akan ejekan kemenangan Se-Hun. Dan sekarang tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain mengikuti apa yang diinginkan pria itu.

Tanpa meminta persetujuan, Se-Hun langsung melingkarkan lengannya di pinggang Hee-Ra, membuatnya terkejut dan hampir membeku.

“Terima kasih Mrs. Sanders, kuharap Hee-Ra tak pernah menyusahkanmu karena ia terkadang sangat keras kepala,” ujarnya.

Mrs. Sanders tertawa, ia mencuri kesempatan untuk bisa menyentuh pundak Se-Hun dengan memukulnya pelan. Well, Hee-Ra bahkan bisa membaca dari raut wanita berambut pirang itu, ia memang telah tertarik pada Se-Hun sejak lama. Mrs. Sanders memang menyukai daun-daun muda.

“Dia adalah salah satu penari terhebatku, kau harus bangga padanya,” puji Mrs. Sanders

Se-Hun mengangguk, kedua bola matanya menatap intens Hee-Ra yang tengah menunduk, “Tentu, aku sangat bangga pada adik kesayangangku.”

Obrolan mereka berakhir saat Se-Hun akhirnya pamit. Ia menekan pinggang Hee-Ra dengan kuat, seolah berkata bahwa Hee-Ra sudah jatuh ke tangannya dan tak akan pernah bisa pergi.

Tatapan mereka sempat bertemu dengan tatapan tak suka Jong-In, namun ia juga tak bisa berbuat apapun, pasti Mrs. Sanders akan menganggap Jong-In sebagai kekasih yang terlalu posesive apabila tidak membiarkan Hee-Ra pergi bersama kakaknya.

Keadaan ini terasa sangat menarik bagi Se-Hun. Ia bisa mempermainkan banyak orang dalam lingkungannya, ia suka melihat raut pasrah Hee-Ra, dan ia sangat-sangat suka pada tatapan emosi Jong-In. Pria yang telah berani menggapai miliknya.

Se-Hun mendekatkan bibirnya ke telinga Hee-Ra, “Gagal sayang? Sudah sering  kukatakan, bukan? Kau adalah milikku, dan kau tak akan pernah bisa lari dariku.”

 

 

•••

 

 

Seorang gadis baru saja keluar dari terminal kedatangan Internasional Bandara Heathrow. Tangan kanannya sibuk mendorong troli berisikan koper, sementara tangan kirinya melepas kaca mata yang sedari tadi terus menutupi mata hazel indahnya.

Surai kecoklatannya bergerak lembut diterpa angin, setelah membiarkan sopir taksi memasukkan kopernya ke bagasi, ia segera masuk dan mengambil ponselnya.

Bruce Waylon pasti tak akan menyangka kalau ia datang secepat ini, batinnya dalam hati.

“Antar aku ke Kensington,” perintahnya dengan suara seanggun mungkin. Well, gadis cantik ini memang terkenal dengan keanggunan dan keroyalannya.

Tubuh tinggi indahnya bak gitar spanyol, surai kecoklatan, mata hazel, kaki jenjang mulus tanpa luka sedikipun, hampir sempurna untuk dikatakan sebagai dewi.

Taksi yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah rumah berdinding putih, gerbangnya terlalu tinggi hingga tak memungkinkan orang dari luar dapat melihat seperti apa rumahnya.

Ia menarik salah satu sisi bibirnya, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun ia akan kembali bertemu dengan Bruce Waylon, orang yang telah membuatnya sehebat dan sekejam ini.

Seolah telah mengetahui kedatangannya, gerbang rumah besar itu terbuka otomatis. Ya, ia yakin Bruce telah melihat wajahnya dari CCTV, dan benarkan? Pria bermata biru itu tengah menunggunya di depan pintu.

Melihat sang gadis tengah berjalan ke arahnya, Bruce Waylon mendecak senang, “Jasmine Rochester,” panggilnya.

Wanita yang dipanggil Jasmine itu mengangguk, “Lama tidak bertemu, Bruce.”

“Biar kutebak,” Bruce meletakkan jari kanannya di bawah dagu, “Tidak, ternyata aku gagal menebaknya. Jadi, apa yang membuatmu datang kemari dan menemui pria tua ini?”

Jasmine tertawa renyah, Bruce tidak kelihatan tua. Mata biru dan rambut hitam pekat Bruce masih sama seperti dulu, ia tetap tampan meski usianya telah menginjak akhir empat puluhan.

“Di mana dia?”

Oh ayolah, Jasmine rupanya tak suka berbasa-basi dan memilih untuk langsung mengatakan maksudnya.

Bruce tentu paham pada apa yang dimaksud Jasmine barusan. Jadi, dia jauh-jauh datang dari Australia hanya untuk mencari lelaki itu? Oh baiklah, Bruce baru ingat kalau Jasmine pernah berkata ia menyukai si lelaki Asia yang dulu dibeli mahal oleh Bruce.

“Masuklah dulu, kita bicara di dalam,” gumam Bruce yang kemudian berjalan mendahului Jasmine.

Setelah menunjukkan kamar untuk Jasmine, Bruce duduk di sofa ruang tengah, diikuti oleh gadis bersurai coklat itu.

Mereka duduk bersampingan di sofa, sementara salah seorang pelayan Bruce telah menyajikan dua cangkir teh hangat.

“Dia ada di sini, sibuk bersandiwara di tengah keluarga barunya.”

Perkataan Bruce membuat Jasmine senang, instingnya tidak pernah salah soal Se-Hun. Ia yakin pria itu ada di London, dan kenyataannya ia benar.

“Aku tak menyangka kalau perasaanmu padanya akan bertahan selama ini,” Bruce berhenti sejenak, menyesap teh hangat di cangkir dan kembali meneruskan ucapannya, “tapi kurasa kau sedikit terlambat.”

Terlambat?

Apa maksudnya?

Tidak mungkin kan Se-Hun telah menikah? Usianya masih dua puluh empat tahun, terlalu muda untuk menikah.

Air muka Bruce berubah serius, “Dia terobsesi pada seseorang yang pernah melihatnya membunuh. Awalnya Se-Hun berniat menghabisi gadis itu, tapi niatnya diurungkan kala ia sadar pada perasaannya.”

Bruce tertawa hambar, “Lucu, bukan? Sang singa telah jatuh cinta pada rusa buruannya.”

Jasmine tak menyukai ini. “Dan kau membiarkannya begitu saja?”

“Ya…,” Bruce mengangkat kedua pundaknya bersamaan, “dia tak pernah membiarkanku mendekati gadis yang diincarnya itu. Bisa dibilang kalau gadis itu berada di bawah lindungannya.”

Seorang Oh Se-Hun melindungi gadis sampai seperti itu?

Jadi, ia benar-benar menyukainya?

Mata hazelnya berkilat, “Aku akan menunjukkan padanya, siapa yang harus dijaga dan siapa yang harus dilenyapkan,” gumam Jasmine, lebih pada dirinya sendiri.

 

 

 

•••TO BE CONTINUED•••

69 responses to “[CHAPTER 2] Salted Wound by Heena Park

  1. Ternyata sehun pembunuh..huahhh oantesan heera tkt bgt ma dia..hmmm..tp heera ma sehun cma saudara tiri khan..apa bkn???
    Wahhhh mdh2an heera baik2 adja ya..ko jd ngeri denger kata2 jasmine…

  2. Kyknya sehun cuma manfaatin keluarga heara deh…kyknya sehun diem2 selidikin keluarga haera secara haera pnrh liat sehun ngebunuh..tpi apa sikap sehun ke haera krn cinta n ngelindungin agak ambigu jga sih…

  3. Busyet… jd Sehun it killer??? nah ud mulai mncul bau2 org ketiga nih! ngmong2 adegan Sehun cium tgan Mrs. Sanders… itu Eropa klasik bgt…. apa msih umum y hal tsb dilakuin dijman modern bgini? hahahah😀 Next part ditunggu author

  4. alamam,ternyata sisehun pembuhun,toi romance juga ya kalo si pembunuh berdarah dingin lg jaruh cinta,apa menurutku aj ya??🙂
    eh aku bingung deh ap y bkln dilakukan si jasmind ya?
    penasaran keep writing authornim🙂

  5. kirain sehun saudara tiri, ternyata cuma sandiwara,,,
    jasmine jangan macem” dehh.. d bacok sehun baru tau rasa lo entar

  6. Weheheheee makin hari makin keren aja, seriuss auranya Jasmine bikin penasaran banget, keknya kaya Angelina Jolie gitu ya wkwk sama2 pembunuh asuhan Bruce ya?
    Duhh ditunggu banget ka nextnya, kerennn^^ tengkyuu

  7. Really a good story, kak… penasaran sama lanjutannya. Jong in gk bisa berduaan sama Heera klo Sehunnya kayak gitu. Sehun terlalu posesif sama Heera nya.
    Keep writing ya, kak…!!

  8. ouw jadi ternyata sehun itu pembunuh dan heera tau pekerjaan sehun itu jadinya kenapa heera selalu menjaga jarak dan gak bersahabat dengan sehun…..hemmm pastilah heera takut dan gak percaya lagi dengan sehun
    tapi untunglah ada cewek lain yang suka sama sehun jadinya nanti sehun sama jasmine aja dan heera jongin tentunya bersama….hihhihihi
    tapi pasti seru lagi kalo udah jasmine disini. karena tentunya jasmine gak akan melepaskan heera begitu aja karena heera udah bisa meluluhkan sehun

    sipppp makasih ya udah update dan ditunggu lanjutannya

  9. woooww ceritanya rumitt banget ya . kasian si heera ketindess ma sehun. ya lord itu si sehun jahatt bangett ternyata dia jadi semacem psikoo ya di sini .jangan sampe si heera di sakitin ama jasmine

  10. Woow, jd ini settingnya diluar korea ya kak. Baru ngeh, ak kira dkorea. Sehun sadis bgt-,- tp ak suka karakter yg kek gini, possesive namja. Udh ada aja yg mau jahatin Heera, semoga nggk knp2-,- dtgg lanjutannya kak. Smgt!^^

  11. WEW OHSEHUNN HEERA MAU DIAJAK KE MANSION??
    JASMINE JASMINEE PREKETEKK KM SAPA YHAA PERGI JHAA KM🔫🔫 JANGAN MACAM2 SAMA HEERA🔫🔫 OHSEHUN BEGAL JHA DIA BEGALL.

  12. muncul lagi orang yg nyebelin –” dan bertambah lah orang yg mau ngancurin Heera
    Tapi itu serius keluarga aslinya Sehun!!!!

  13. Ini cerita yang kebanyakan teka-teki atau emang akunya yang rada lemot yaa?? Jadi sebenernya itu sehun bukan kakak kirinya? Dia hanya nyamar gitu? Iya gak sii? Jadi penasarann. Wah bahaya kalo sampe sera ketemu jasmine nanti pasti sera di celakain sama jasmine dehh

  14. Jadi sehun bukan kakak tirinya sera? Dia cuman sandiwara aja? Gak nyangka ya sehun seorangpembunuh berdarah dingin, pantesan sera benci baget sama sehun, ternyata dia pernah ngliat sehun ngbunuh orang. Wah bisa gawat nih kalo sera ketemu sama jasmine, pasti dia nanti dicelakain sama jasmine deh

  15. njirrrrrr si hee ra kasihan bgt hidupnya apa lagi muncul nenek gombreng psti mau nyelakain dia huahhhhhh apa sehun bisa melindungi hee ra sampai akhir

  16. sehun se keji itu ternyata.dimana-mana emang kalo wajah ganteng badan perfect tuh emang cocok banget yah kalo dikasih cast yang keak gini macam sehun.
    di tunggu next chapternya…

  17. kasian banget si heera idupp di bawah bayangann kejem sehun . ya lord bang lu disini sadis bangettt ya ..
    uuh lanjutt unn kayaknya bakal tambahh seru dengan kehadiran jasmine yg sama seremnya ma sehun

  18. sulit ya klo ganteng gtu… aihh tp pas kesan badboy gmana gtu.. aku msih peenasaran mksd jln crita nya ap… oke ditunggu next ny… keep writing and hwaiting!~

  19. Waduhh, sehun pernah jdi pembunuh! Dan ini sangat menegangkan.Aku coba2 baca ff author yg ini dan aku langsung baca di part 2 jdi aku gatau awalny hehe. Salam kenal thor, aku new reader dan izin baca

  20. masi ga ngerti kenapa heera bisa sama sehun. kenapa dia bisa liat sehun lagi bunuh org? hmmm… ceritanya bagus banget. jangan lama lama update nya heheh fighting

  21. oke seru .apalagi dgn kedatangan jasmine. “siapa yg harus dijaga siapa yg harus dilenyapkan” . so curious… semoga heera dan sehun baik2 saja.

  22. cetarr ceritanya, keren 👏🏻👍🏻 suka bgt qlo Sehun punya peran kek gini, makin ganteng wkwkkw👍🏻 cepet dnext yoo 😘🎉

  23. Pingback: [CHAPTER 3] SALTED WOUND BY HEENA PARK | SAY KOREAN FANFICTION·

  24. Waahhh gimana nih. Ad jasmine. Kyny perenpuan ini bakal ngelukain heera. Mending sm jogin aja klo gtu kaburr k negara lain hahaha

  25. Ouww jongin cocuitt bgtt😙 tpi sayang at least bukan dia yg trbaik buat heera *eeaaaa😄
    Andd…
    Ladies and Gentlemen, please welcome the THIRD PERSON, JASMINE ROCHESTER. And the new drama has begun👏👏
    Sbenarnya paling gk suka klo ada org ketiga gituu, tapi justru org ketiga yg bikin ffnya lebih gregettt

  26. Pingback: [CHAPTER 4] SALTED WOUND by Heena Park | SAY KOREAN FANFICTION·

  27. Owalah ternyata sehun pembunuh, dan haera pernah liat sehun ngebunuh makanya haera takut dan benci sama sehun, dan ternyata sehun bohongin nyokapnya haera kalo dia anaknya . Oh gitu. Oh ada sesuatu. Hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s