My Perfect Girl (Chapter 3) – by Choi Yura

mpg-chap-1

Author: Choi Yura │ Cast: Oh Sehun, Park Jang Mi (OC) │Other Cast: Park Chanyeol, Kim Jong In, Lu Han │Genre: Romance, Drama │Rated: PG-17

****

Previous Chapter : Prolog │ Chapter 1 Chapter 2

****

Sehun segera turun dari mobil ketika sudah memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Kakinya mulai melangkah memasuki gedung kantor dan membaur bersama para pegawai lainnya yang sedang sibuk berlalu lalang di kantor itu.

Begitu sampai di ruangannya, Sehun pun buru-buru menutup pintu dan duduk di meja kerjanya dengan perasaan yang tak menentu. Sebelumnya, selama di perjalanan menuju ke kantor, Sehun mencoba untuk tidak memikirkan kejadian semalam. Tapi setelah dia berada di ruangannya yang hanya terdengar detikan jam dinding, entah mengapa pikiran kacaunya kembali muncul.

Ya Tuhan, coba saja dia tidak terpancing emosionalnya mungkin semalam tidak akan menjadi malam terpanas di sepanjang sejarah hidupnya. Dan tiba-tiba saja memori akan kejadian tadi malam terputar kembali, membuatnya harus melonggarkan dasi kerjanya yang terasa sedang mencekiknya.

Jari Sehun memegang bibirnya dan tanpa diduga tubuhnya merasakan sensasi aneh.

Sehun menyalahkan gadis itu. Ini semua tentu karena ulah gadis itu yang telah menciumnya lebih dulu tanpa permisi. Tapi bagaimanapun juga gadis itu hanya sedang tidak berada dalam logikanya, terlebih lagi obat perangsang yang diberikan teman prianya masih bereaksi di tubuhnya. Sampai-sampai Jang Mi merasa kepanasan dan langsung menanggalkan pakaiannya begitu Sehun sudah meletakkan tubuhnya di tempat tidur.

Jika saja Sehun membawa Jang Mi pulang ke rumah kakeknya, ada kemungkinan besar kakeknya akan marah besar dan langsung menyelidiki mengenai insiden yang sedang menimpa cucunya itu. Dengan berat hati Sehun membawa Jang Mi pulang ke apartemennya dan memiarkan gadis itu menggunakan kamarnya. Namun gadis itu malah menggodanya dengan langsung mengalungkan kedua lengannya di leher Sehun dan menariknya untuk tidur di tempat tidur. Saat itu juga Jang Mi melayangkan ciumannya yang panas di bibir Sehun.

Awalnya Sehun sempat menolak namun tubuh Jang Mi yang hanya mengenakan pakaian dalam membuat jiwa lelaki yang sudah lama tertidur di dalam dirinya mendesak keluar, membuat Sehun mau tak mau hanyut dalam ciuman panas itu dan mulai mengeksplorasi setiap lekuk tubuh  gadis itu sampai-sampai meninggalkan beberapa tanda kepemilikannya di leher dan dada Jang Mi. Gairahnya semakin menggelora ketika Jang Mi mendesah. Terdengar seksi di telinga Sehun.

Tangannya nyaris membuka kaitan bra Jang Mi kalau saja alarm di kepalanya tidak berbunyi.

Sifat waspada Sehun pun mulai kembali.

Dengan cepat Sehun melepaskan ciumannya dan menyingkir dari tubuh Jang Mi yang mulai melemas. Pria itu berdiri di samping tempat tidur, sementara Jang Mi merengek kepada Sehun untuk melanjutkan ciuman mereka dengan cara  menarik-narik lengannya.

Tidak. Dia tidak boleh tenggelam hanya karena godaan gadis itu. Sehun tidak boleh terlibat lebih jauh lagi dengan gadis itu. Baginya, Jang Mi hanya sebuah kunci yang akan membukakan jalan untuknya agar bisa bertemu kembali dengan adiknya, Oh Semi.

Sehun memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan menuju lemarinya untuk mengambil satu buah kemeja. Tanpa berkata apa-apa pria itu langsung mengenakannya di tubuh Jang Mi. Setelah selesai mengancingkan kemeja itu, Sehun pun pergi meninggalkan gadis itu dengan rasa panas di tubuhnya, terpaksa harus menahan gairahnya.

Kenangan-kenangan itulah yang telah mengusik pikirannya. Sehun pun mengusapkan wajahnya dengan kedua tangan guna menghapus pikiran kacaunya. Namun sama sekali tidak bekerja, sampai akhirnya Sehun memutuskan ke toilet untuk membasuh wajahnya, berharap  air dapat membantunya menghapus sebagian dari ingatannya akan insiden tadi malam.

***

Berulang kali Jang Mi melirik arlojinya dan waktu telah menunjuk pukul empat sore.

Sebenarnya ke mana si pria berengsek itu?

Hari ini Jang Mi sengaja tidak masuk sekolah dan tidak berniat pulang ke rumah. Setelah keluar dari apartemen Sehun, gadis itu langsung pergi ke butik langganannya untuk berganti pakaian.  Gadis itu mengenakan jaket kulit, celana jeans dan topi berwarna hitam, membuatnya menjadi pusat perhatian. Jang Mi pun semakin menenggelamkan wajahnya di balik topi.

Sudah setengah jam Jang Mi menunggu di luar gerbang sekolah, kakinya terasa ingin patah, ditambah lagi batang hidung Baekhyun tak kunjung terlihat. Tapi tak lama kemudian, dia mendapati Baekhyun sedang berjalan keluar gerbang bersama teman satu gengnya.

Dengan sigap Jang Mi menghampirinya sambil bersedekap, “Hey, berengsek!”

Mereka berhenti dan menoleh. Teman satu gengnya menatap kedatangan Jang Mi dengan bingung, sementara Baekhyun menunjukkan wajah terkejut. Perlahan pemuda itu mundur beberapa langkah. Dan tanpa aba-aba segera berlari meninggalkan teman-temannya dan Jang Mi.

Tentu saja teman-temannya bingung melihat Baekhyun yang berlari tiba-tiba. Mereka bertanya-tanya mengapa Baekhyun takut dengan gadis yang saat ini sedang menjadi incarannya itu?

Kemarahan Jang Mi meningkat ketika melihat Baekhyun berlari menjauhinya. Segera Jang Mi pun berlari mengejarnya. Gadis itu berteriak memanggil Baekhyun dengan panggilan berengsek, membuat beberapa pejalan kaki di pinggir jalan menoleh ke arahnya dan mulai berbisik-bisik.

Sesekali Baekhyun menoleh ke belakang, dan yang benar saja! gadis itu masih terus mengejarnya. Baekhun mengumpat. Tanpa sadar pemuda itu telah membuat seorang wanita tua terjatuh karena menabraknya. Wanita tua itupun merintih kesakitan. Namun Baekhyun tidak memedulikannya. Pemuda itu malah mengumpat kepada wanita tua itu dengan wajah kesal sebelum kemudian berlari kembali dan  langsung menyeberangi zebra cross ketika lampu merah menyala.

Jang Mi langsung berhenti sasampainya di dekat wanita tua itu. Kebenciannya semakin terlihat nyata. Selain berengsek dan mesum, pemuda itu juga tidak punya hati nurani dengan orang lain. Sangat egois.

Segera Jang Mi membantu wanita tua itu berdiri sambil bertanya, “Nenek baik-baik saja?” dengan penuh perhatian.

Wanita tua itu tersenyum kepada Jang Mi di balik wajahnya yang sedang menahan sakit. “Ya, aku baik-baik saja, Nona.”

Jang Mi membersihkan debu yang menempel di pakaian wanita tua itu “Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja. Tadi sepertinya Nenek terjatuh dengan cukup keras,” usulnya khawatir.

“Tidak apa-apa, Nona. Sekarang aku harus segera pergi ke pemakaman anakku. Aku harus cepat-cepat mencari taksi. Lagi pula pemuda tadi sepertinya sedang terburu-buru. Jadi aku tidak mempermasalahkannya,” jelas wanita itu lembut.

Tidak ada sedikitpun amarah ataupun kesal di wajahnya yang sudah mengeriput, membuat Jang Mi terpaku sejenak.

“Kalau begitu aku akan mencarikan taksi untuk Nenek.” Jang Mi tersenyum ramah kepada wanita tua itu dan menuntunnya mendekati jalan besar.

Di sana mereka berdua sedang menunggu taksi. Beberapa detik kemudian Jang Mi berhasil menemukan sebuah taksi dan membukakan pintu untuk wanita tua itu. Gadis itu pun mengatakan pada sang supir untuk membawa nenek itu ke pemakaman dan berinisiatif membayar biaya taksinya tanpa bertanya lebih dulu kepada wanita tua itu.

Awalnya wanita itu keberatan, tapi Jang Mi tetap bersih-kukuh sampai akhirnya wanita tua itupun mengalah dan mengucapkan terimakasih.

Taksi itu mulai bergerak meninggalkan Jang Mi yang kini menatap kepergiannya dalam diam.

Sehun yang berada di dalam mobil tengah menunggu lampu merah berubah menjadi hijau. Saat ini pria itu sedang memandang ke arah Jang Mi yang masih berdiri di dekat jalan besar. Ternyata Sehun sudah melihat kebaikan Jang Mi yang sedang menolong wanita tua. Tatapan dan mimik wajah pria itu tak tertebak sedikitpun ketika melihat rangkaian kejadian tadi.

Tak lama kemudian lampu hijau menyala, pria itupun mengembalikan fokusnya dan melanjutkan perjalanannya lagi.

***

Chanyeol menyandarkan punggungnya di kursi kerja miliknya. Wajahnya tampak tenang dengan mata terpejam. Sementara seorang pria yang sedang berdiri di samping meja kerjanya menatap dirinya takut-takut.

“Di mana gadis itu? Bukankah kau sudah kuperintahkan untuk menjaganya dengan ketat saat perjalanan ke Korea?” tanya Sehun pelan.

Pria yang merupakan salah satu pengawalnya itu segera memasang wajah panik yang coba disembunyikannya. Sebenarnya dia bingung akan menjelaskan apa kepada tuannya itu, namun pria itu mencoba memberanikan diri, “Maafkan kami, Tuan. Mungkin ini salah satu kelalai kami hingga gadis itu bisa kabur ketika baru saja tiba di bandara Incheon.”

Mata Chanyeol terbuka dan melirik pria itu tajam. “Mungkin katamu? Kalian semua memang tidak becus dan kau sebagai ketua seharusnya bisa membuat anggotamu bekerja lebih baik.” Nadanyapun tidak kalah tajamnya.

Pria itupun hanya dapat meminta maaf.

“Maafmu itu sama sekali tidak penting. Di mana dia sekarang? Apakah kalian masih belum menemukannya?” tanya Chanyeol sambil menegakkan punggungnya dan menopang sikutnya yang tertekuk di atas meja. “Kalian baru kuperintahkan untuk menjaga gadis lemah bukan kuperintahkan untuk menjaga seekor singa,” lanjutnya sarkastis.

Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan dari luar pintu yang tertetutup. Membuat perhatian keduanya teralihkan. Chanyeol langsung menyuruh orang yang berada di balik pintu itu untuk masuk.

Pintu terbuka. Dua orang pengawal pria berada di sisi kanan dan kiri seorang gadis. Awalnya gadis bergaun putih itu memasang ekspresi cemas. Tapi setelah melihat wajah Chanyeol, alisnya mulai mengerut marah.

8294fd7b-f867-4b83-b61c-f6b7efd0d77b

Tanpa perasaan, mereka mendorong gadis itu masuk ke dalam ruangan itu dan mamaksanya berdiri di depan meja kerja Chanyeol.

Chanyeol tersenyum tipis. “Hei, gadis kecil. Sudah puas bermain petak umpetnya?” tanya Chanyeol selembut mungkin.

Gadis berwajah sendu itu menatap Chanyeol berang dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Kedua tangannya berada di sisi tubuhnya, mengepal seolah sedang mencoba menahan amarahnya.

“Dasar iblis,” desis gadis itu menghina.

Tubuh Chanyeol berubah kaku seolah terkejut dengan penghinaan gadis itu. Matanya menatap lurus gadis itu sebelum berkata, “Sekarang kau sudah berani berbicara seperti itu kepadaku, ya.” Chanyeol tertawa sejenak.

Setelah itu, Chanyeol langsung melayangkan perintahnya kepada pengawal-pengawalnya, “Kalian bertiga boleh keluar.”

Ketiga pengawal pria itupun membungkuk sebelum pergi dan menutup pintu ruangan itu. Kini hanya ada Chanyeol dan gadis itu di ruangan ini.

“Iblis? Siapa? Aku?” senyum miring mulai terukir di bibir Chanyeol.

Napas gadis itu memburu, dahinya mengerut. Tapi tak ada yang dapat dilakukannya selain hanya berdiri di tempatnya sambil terus menatap Chanyeol sinis.

Lagi-lagi Chanyeol tersenyum, merasa geli dengan tatapan sinis dari gadis itu. Pria itupun berdiri. Menghampiri gadis itu dan berdiri di depannya.

Tangannya bergerak, memegang rambut gadis itu dengan sentuhan lembut, “Sebelumnya aku sudah mengingatkan bahwa kau akan tahu akibatnya jika kau mencoba kabur dariku. Ancamanku sebelumnya tidak pernah main-main. Coba pikirkan lagi sebelum kau mencoba hal yang sama seperti saat di bandara.” Tangan Chanyeol beralih memegang dagu gadis itu, “Aku tidak ingin gadis manisku berubah menjadi seorang pemberontak.”

Senyum yang tadi menghiasi bibir pria itu seketika menghilang ketika selesai memperingatkan gadis itu.

Chanyeol menyuruh pengawalnya masuk dan dua orang pengawal langsung masuk.

“Kau tahu kenapa aku membawamu Ke Korea? Padahal di sini tempat yang berbahaya untuk keberadaanmu, tapi aku tidak bisa berpisah terlalu jauh darimu. Maka itu aku membawamu ke sini.” Mata Chanyeol menilik gadis itu dari kepala hingga ujung kaki dan berkata, “Usiamu sudah tujuh belas tahun dan kau sudah mampu untuk melayaniku, bukan?” senyum aneh Chanyeol kembali mengembang.

Tubuh gadis itu menegang karena takut. Kepalanya menggeleng-geleng. Terus saja mengatakan tidak dan sekali lagi mencoba kabur. Namun kedua pengawalnya langsung mencegahnya dan memegang lengannya. Gadis itu mencoba memberontak dengan cara menggerakkan tubuh serta tangannya agar terlepas dari cengkeraman kedua pengawal itu. Tapi semua itu hanya sia-sia.

“Jangan takut, aku tidak akan kasar.” Chanyeol bersedekap dan segera mentitahkan pengawalnya, “Kalian bawa dia ke kamarku dan kunci dia di sana. Tunggu dan jaga dia di luar sampai aku datang.”

***

“Jong In Sunbae,” Yura berlari kecil mengejar Jong In yang sedang berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.

Kim Jong In menoleh dan tersenyum geli saat melihat Yura tiba di depannya. Wanita itu kini tengah mencoba mengatur napasnya.

df946c88448f0b4cc94c37e7e5cc11b6eqa02r4y0ej21da1yf7g3

“Aku baru ingat bahwa kau tidak ada jadwal malam hari ini di rumah sakit. Maka itu aku cepat-cepat berlari sebelum kau benar-benar pergi,” celetuk Yura dengan napas yang masih sedikit memburu.

Sebelah alis Jong In terangkat, “Kenapa kau tidak menelpon saja?”

Yura bersedekap sambil bersungut-sungut, “Aku sudah menelponmu berulang kali. Tapi kau tidak mengangkatnya. Aku bahkan sampai rela berlari sambil terus menghubungimu, membuatku harus rela juga ditegur oleh dokter umum yang merupakan rekan kerja terdekatmu itu.”

Tawa Jong In meledak, “Oh, Kim Minseok.” Pandangannya selalu melembut ketika bersama Yura.

Karena tawa Jong In tak kunjung selesai, Yura pun segera menyodorkan sebuah map kepada Jong In. “Ini mengenai catatan operasi yang kau minta.”

Jong In menerima map itu dan tersenyum. “Terima kasih.”

Yura mengangguk dan melihat Jong In tengah mengenakan sweater putih dan celana jeans. “Setelah ini kau akan ke mana? Pakaianmu terlihat sangat santai,” tanya Yura kemudian.

“Kau tahu, aku sudah melakukan operasi sebanyak tiga kali hari ini. Jadi aku ingin minum di bar untuk menghilangkan sedikit rasa stresku karena pekerjaan.”

“Jangan minum terlalu banyak,” saran Yura merasa khawatir.

Entah mengapa tatapan jahil Jong In muncul, “Kalau begitu, temanilah aku minum agar kau dapat mengontrolku.”

Yura tertawa geli, “Aku sudah punya suami. Lebih baik kau cari wanita lain yang lebih dari aku. Kau itu tampan, pintar, ulet. Bahkan rumah sakit terbesar di Seoul ini adalah rumah sakit milik keluargamu. Wanita mana saja pasti akan langsung menerima perasaanmu jika kau mau membuka hati pada mereka.”

“Kalau begitu kenapa kau tidak memilihku pada saat itu?” tanya Jong In tiba-tiba.

Suara Jong In terdengar serius di telinga Yura, membuat gadis itu terdiam sejenak dan menjadi salah tingkah.

Melihat reaksi Yura, Jong In pun melanjutkan, “Aku hanya bercanda. Kau berhak memilih siapa pasangan yang akan mendampingi hidupmu. Dan kau tidak salah karena lebih memilih Lu Han dibandingkan aku.” Pria itu tersenyum meyakinkan.

Yura membalas senyumannya dengan kaku. “Kalau begitu aku permisi. Malam ini giliran jadwalku di rumah sakit. Semoga harimu menyenangkan, Sunbae,” pamitnya sebelum membungkuk.

Segera Yura melangkah pergi sambil melambaikan tangan pada Jong In. Tubuh tinggi wanita itu mulai menghilang di ujung koridor rumah sakit. Sementara Jong In tersenyum kecut sambil melihat map pemberian Yura.

Jika mengingat kenangan beberapa tahun yang lalu, saat mereka masih menjadi mahasiswa, entah mengapa membuat perasaan Jong In menjadi tidak enak. Bukannya Jong In belum ikhlas dengan status pernikahan Lu Han dan Yura, tapi ini lebih kepada cintanya yang bertepuk sebelah tangan dengan wanita itu semasa mereka masih menempuh pendidikan di universitas yang sama.

Jong In mulai tertarik pada Yura saat mereka dipertemukan di semester ganjil. Saat itu Jong In adalah senior Yura dan termasuk mahasiswa semester lima, sementata Yura mahasiswa semester awal. Namun pada waktu yang sama juga, wanita itu ternyata sudah mengenal Lu Han lebih dulu dibandingkan dirinya. Padahal Lu Han dengan mereka berbeda fakultas.

Ya, biarkanlah masa lalu itu menjadi kenangan.

Setelah Jong In pikir-pikir, saran dari wanita yang pernah dicintainya itu ada benarnya juga. Jong In yang telah mulai menata hatinya kembali akan coba membuka hatinya untuk wanita lain. Lagi pula saat ini usianya sudah menginjak 27 tahun.

Cepat atau lambat dia memang harus melupakan Yura yang sudah menjadi isti sah Lu Han.

***

Malam ini, bar langganan Jang Mi terlihat sedikit sepi. Hanya ada beberapa orang yang berada di bar itu. Ketengan langsung melingkupi Jang Mi karena suasananya  tidak terlalu ramai.

Jang Mi yang sudah sejak tadi duduk di meja dekat bartender telah menghabiskan empat gelas dan kembali memesan minuman dengan porsi yang agak besar. Kepalanya mulai pusing dan siapapun tahu bahwa setengah dari logika gadis itu mulai menghilang, dapat dilihat dari mata sayu gadis itu dan tangannya terus-terusan menopang kepalanya.

Seorang pria yang baru saja tiba segera duduk di sebelah kursi Jang Mi dan memesan satu gelas koktail kepada seorang bartender. Dan pria itu adalah Kim Jong In. Tak lama kemudian minumannya datang. Ketika Jong In sedang menyesap minumannya, tiba-tiba saja sebuah suara gerutuan dari seorang gadis yang berada di sebelahnya mau tak mau mengundang perhatiannya.

Jong In menatap gadis itu heran. Gadis itu cegukan sambil terus menggerutu tidak jelas. Namun Jong In tidak memedulikannya dan kembali asik dengan minumannya.

Tapi tanpa diduga-duga, gadis itu malah menarik sweaternya dan meneriakinya.

“DASAR KAU BERENGSEK! KENAPA KAU DI SINI, HUH?! KAU MENGIKUTIKU?! INGIN MENABURKAN OBAT PERANSANG LAGI DI MINUMANKU?!”

Segala teriakan Jang Mi diselingi dengan umpatan. Segala upaya dilakukannya untuk memukul Jong In, membuat pria itu mengerang kesakitan. Karena hal itu, semua mata tertuju pada mereka dan saling berbisik satu sama lain.

“Hei, siapa kau? Kenapa kau memukulku seperti ini?” Jong In bertanya sambil mencoba melindungi dirinya dari kebrutalan Jang Mi.

Jang Mi tidak ingin berhenti, umpatan terus saja dia layangkan kepada Jong In sampai akhirnya membuat Jong In jengah. Dengan segera Jong In memutar tubuh Jang Mi dan memeluknya dari belakang sambil memegangi kedua tangannya agar tak kembali memukulya.

Tidak terima dihentikan, Jang Mi pun berusaha untuk terlepas dari kungkungan Jong In. Karena kasihan dengan gadis itu, Jong In pun mulai mengendurkan pelukannya dan berkeinginan melepaskannya. Tapi belum sempat dia melakukannya, sebuah tangan dari belakang tubuhnya sudah lebih dulu menariknya menjauh dari gadis itu.

Jong In sedikit tersentak dan pandangannya langsung bertemu dengan mata tajam milik seorang pria. Pria itu adalah Oh Sehun.

“Sedang apa kau?” tanya Sehun penuh perhitungan tapi tetap dengan sifat tenangnya.

Sebelum Jong In menjawab, Jang Mi sudah lebih dulu menerjangnya kembali dengan beberapa pukulan. Meski gadis itu sedang dalam keadaan mabuk, pukulannya tetap saja terasa sakit dan bertenaga.

Menyadari kelakuan anarkis Jang Mi, Sehun pun segera menarik gadis itu dan menghentikannya dengan cara memeluknya dari belakang, seperti yang dilakukan Jong In sebelumnya.

“Sepertinya tanpa kujelaskan lagi kau sudah tahu duduk permasalahannya. Apa gadis ini adikmu atau kekasihmu?” tanya Jong In yang entah mengapa bisa melayangkan pertanyaan itu. Ketika sadar akan pertanyaannya yang aneh, Jong In pun mengelak, “Entahlah itu bukan urusanku. Intinya gadis ini yang menyerangku lebih dulu. Jadi kau tidak punya bukti jika ingin menuntutku. Tatapanmu tadi seakan aku lah pihak bersalah di sini.”

Jang Mi mulai marah-marah pada Sehun sambil meronta-ronta, “Kenapa kau menghentikanku?! Akan kubunuh si  berengsek itu.”

Sehun pun semakin mempererat pelukannya.

“Aku tidak akan menuntutmu. Sebagai pengacara keluarganya, aku hanya ingin melindunginya. Jadi aku meminta maaf atas namanya. Aku juga akan mengganti semua kerugian yang kau alami.” Sehun mencoba bijaksana dalam menyelesaikan masalah itu sambil terus menahan tubuh Jang Mi yang meronta-ronta.

Jong In melirik Jang Mi sekilas sebelum berkata, “Sebaiknya kau cepat membawa gadis ini pulang. Alkohol sudah membuatnya kehilangan akal. Kau juga tak perlu mengganti kerugian apapun, karena aku tidak akan menuntut apapun.”

Segera Jong In membayar minumannya dan pergi dari bar itu dengan mimik wajah kurang menyenangkan. Bukannya malah menghilangkan stres, tapi dia justru bertambah stres. Terlebih lagi saat ini dia menjadi pusat perhatian banyak orang.

Sementara Sehun masih berada di sana dan masih sedang menahan amukan gadis itu.

Sehun menghela napas dalam-dalam sebelum kemudian memutar tubuh gadis itu dengan kasar. Memegang bahunya dan memandangnya serius.

“Dia bukan teman priamu. Dia orang lain. Sadarlah!” seru Sehun kesal.

Jang Mi yang mendengar seruan itu tiba- tiba saja terdiam dan mulai memegang kepalanya. Saat ini kepalanya pusing. Tidak lama tubuhnya pun mulai terhuyung, kehilangan keseimbangan dan Sehun segera menopang tubuh gadis itu.

Ketika dia sedang berusaha menyadarkan gadis itu, pandangan Sehun tak sengaja melihat sekelilingnya dan pusat perhatian masih saja tertuju pada mereka. Tanpa ingin berlama-lama lagi, dia langsung menggendong Jang Mi dan membawanya keluar dari bar itu.

.

.

.

―TBC―

Ternyata FF ini banyak banget sidersnya ._. aku sedih sebenernya seperti merasa gak dihargai usahaku menulis ini. Aku sih pengennya tuh tulisanku diapresiasiin dan dihargai dalam bentuk komenan. Aku makasih banget sama readers setia yang selalu menghargai tulisan ku dengan memberi sebuah komenan.

Agak kecewa sih karena banyak siders, tapi yah gimana lagi siders sulit bertobat. Padahal sesama manusia kan kita harus  saling menghargai karena sebenernya menulis cerita gak segampang memberikan sebuah komenan loh.

Yaudalah liat responnya dlu di chap ini. Kayaknya saya udh gak niat lagi ngancem2. Jadi cuma respon yg memegang nasib ff ini🙂

BTW, Visual gadis yang sama paman ceye itu Kim Yoojung yang baru aja main drama moonlight drawn by clouds hehehe. wajah2 sendunya itu yang buat cocok. Disarankan juga membaca dari prolog soalnya dari prologlah awal semua cerita ini bermula. dan konflik di prolog yang membuat cerita ini berjalan…

57 responses to “My Perfect Girl (Chapter 3) – by Choi Yura

  1. author ditunggu lanjutannyaa yaa… ini masih bingung masalah antara jangmi sama chanyeol.. trus apa hubungannya samiii? authorrr banyakin jonginn nya😊😊😊😊 keep writing authorniim

  2. Author kalau ff ini di update di Wattpad kayanya bakalan lebih banyak pembaca yang gak sider deh. Soalnya wattpad tuh lebih praktis kalau kita pengen ninggalin jejak. Aku saranin sih publis di wattpad. Author Jjang!!

  3. Oh my God, kepe banget sama lanjutannya, pagi ini langsung baca dari awal sampe chap ini, udah lama gak baca fanfict ini hati jadi lebih mudah baper :’) btw, incredible kak fanfictnya, keep writing ya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s