[Vignette] Pay The Debt! ― ShanShoo

tumblr_inline_msizrj4u7x1qz4rgp

It’s a fanfiction by ShanShoo

Sehun x OC

failed!comedy, friendship // vignette // PG-13

personal blog : ShanShoo

disclaimer : I just own the plot!

-o-

Pagi-pagi buta, aku sudah dikejutkan dengan suara gedoran keras di pintu rumahku. Kalau aku berniat tak acuh, aku bisa saja membiarkan seseorang di luar rumahku itu terus menggedor seperti orang kesetanan, dan memfokuskan diri untuk membenahi wajahku yang kusut dan terasa bengkak sehabis menangis semalaman. Tapi aku masih punya otak, dan aku tak mau seseorang di sana memiliki niat jahat karena aku tak kunjung membukakan pintu. Seperti, mendobrak pintunya dengan sekuat tenaga, atau yang lebih parahnya lagi, dia bisa saja membakar rumahku lalu pergi melarikan diri.

Baiklah, ini sudah hampir sepuluh kali―menurut perhitunganku―sosok di sana belum menghentikan aksinya. Tambahkan teriakan tak mengenakkan yang terlontar dari bibirnya. Suaranya terdengar berat dan penuh ancaman. Entahlah, mungkin telingaku memang sedang bermasalah atau aku benar. Maka, dengan berat hati seraya berharap bahwa ia tak menyadari bagaimana keadaanku saat ini, aku melangkah lamban. Menghampiri pintu rumahku tanpa bersuara, membiarkan sosok itu terus menggeram hingga akhirnya aku membuka pintu, membuat kami saling bersemuka dan saling bersitatap dalam keheningan yang tiba-tiba saja datang menyeruak.

“Nah, akhirnya kau membuka pintunya juga!” mataku yang terasa bengkak ini terasa sulit sekali untuk dibuka. Iya, mataku beneran bengkak seperti habis disengat ribuan lebah. Bahkan mungkin saja warnanya merah dan mengeluarkan air mata tanpa bisa kutahan―enggak, aku enggak nangis, kok. Sumpah! Inilah akibatnya kalau aku terlalu lama menangis kemarin malam. Mataku berakhir menyedihkan dan terasa pedih dan kering dan … rasanya sakit.

“Kapan kau mau membayar utangmu?” yah, meski aku tak bisa membuka mata sepenuhnya, aku tetap memaksakan diri untuk mendongak, mencoba untuk bersitatap lagi dengannya seraya membuka mata semaksimal mungkin. Kudapati mimik wajah Oh Sehun yang tidak bersahabat di pagi buta ini. dengan tampang ganteng sepertinya yang dipadukan dengan ekspresi seperti itu beneran tidak cocok! Akan lebih baik kalau ia memasang senyuman lebar lalu menyapaku ceria, seperti, “Selamat pagi, Park Eunhee! Bagaimana kabarmu hari ini? lalu bagaimana dengan acara kencanmu kemarin? Apakah berhasil?” alih-alih menghujamku dengan tagihan utang dari bibirnya beserta nada bicara yang kelewat menyebalkan.

“Memangnya enggak bisa nanti, ya?” aku menguap, peduli amat kalau ia merasa tak nyaman dengan bau mulutku saat ini. Yah, aku sih berharap Sehun cepat meninggalkanku, atau kalau bisa pingsan saja, deh. Biar dia tidak terus membicarakan perihal utangku padanya.

“Apa? Memangnya kau lupa dengan janjimu tiga hari yang lalu, huh?” Oh Sehun, dengan bibir bawahnya yang sepertinya ia gigiti keras-keras, mengembuskan napas penuh kekesalan. Hei, memangnya cuma dia saja yang merasa kesal di sini? Aku juga sama, tahu! Rasanya tak enak kalau pagi-pagi begini harus terbangun karena gedoran keras serta tagihan utang yang bersumber dari tetangga dua rumah dariku ini.

“Katanya kalau kau selesai kencan, esok paginya kau akan membayar utangmu. Tapi mana? Cepat berikan uangnya! Hari ini aku enggak dikasih uang bulanan dulu oleh ayahku karena ia sedang sibuk.” Awalnya aku berharap kalau penglihatanku salah. Tapi ternyata tidak, kulihat dengan begitu jelas telapak tangan kanannya yang putih bersih ditengadahkan di depan perutku. Jari-jemarinya bergerak tak sabaran, menanti uang dariku, katanya.

Dua detik setelahnya, aku benar-benar mencoba membuka mataku lebar-lebar demi menyempurnakan ekspresi memohon yang akan kuperlihatkan sekarang padanya. Dengan debaran jantung yang begitu cepat serta kecemasan tinggi tiada tara, aku memegang ujung kaos bagian bawah yang ia kenakan untuk berujar, “Oh Sehun, kalau seminggu lagi saja, bagaimana? Enggak mungkin juga, kan, aku membayar utangnya secepat ini. apalagi uangnya lumayan banyak.” Kataku, yah, berharap semoga Sehun berbaik hati memberiku keringanan dan merasa iba karena kondisiku. Tapi, sepertinya nihil. Karena tak lama, Sehun mengempaskan tanganku tanpa ampun dan kembali menyemburku tak tanggung-tanggung.

“Suruh siapa kau berjanji membayar hari ini dan pagi ini tepat pukul setengah enam? Kau sendiri kan yang bilang. Secara sadar pula,”

Oke. Sepertinya tampang ganteng namun sangar sudah selayaknya menyatu dalam dirinya. Aku tak akan menolaknya lagi, deh.

“Iya, tapi, kan, waktu itu aku lagi terdesak karena ingin kencan dengan Hanbin―”

“Iya, tapi tetap saja kau harus membayarnya sekarang. Se-ka-rang!” Sehun mendesah frustasi. Kuakui kalau ini memang murni kesalahanku. Tapi … tapi … apa yang harus kulakukan kalau aku tak ada uang untuk membayar pinjamanku pada Sehun, bekas kencanku dengan Hanbin?

“Aku enggak ada uang,” sahutku setelah kurasa suaraku kembali. Menggaruk tengkukku yang terasa gatal saja terasa menyakitkan dan menyengat. Ah, efek dari cemas serta urusan utang-piutang dengan Oh Sehun beneran membuatku lelah. Aku menyesal telah meminjam uang darinya. “Kencanku kemarin malam saja gagal total. Pacarnya Hanbin mengetahuinya dan menyusul kami. Cewek itu bahkan enggak segan menunjuk mukaku dan mengatakan kalau aku ini perusak hubungan orang lain,” keluhku, sedikit berbasa-basi. Sembari hati berharap Sehun melupakan permasalahan ini dan kembali ke rumahnya.

“Lalu apa urusanku? Sudah jangan banyak bicara! Cepat bayar saja utangnya kalau kau enggak ingin tetangga sebelah mendengar perseteruan ini.” lagi-lagi Sehun menyodorkan tangannya padaku, kali ini terlihat penuh pemaksaan. Percuma saja kalau aku memasang wajah memelas lagi, Sehun tak akan goyah pada pendiriannya.

Tambahan, wajah ganteng tapi sangar dan tidak mempunyai hati juga cocok untuknya. Iya, sangat cocok! Karena mulai sekarang, aku tidak akan memuji kegantengannya lagi!

“Pasti bakal kubayar. Tapi enggak sekarang, Hun,” aku bingung harus membela diri dengan cara apa lagi. Otakku buntu dan tak mampu memikirkan ide lain. Bahkan sepertinya kalau Sehun berniat menerjangku hingga ke bulan, aku akan pasrah saja.

“Jadi kapan?”

Wow, tapi untuk kalimat yang satu itu, otakku mulai berfungsi untuk mencernanya. Kalau boleh berasumsi, agaknya Sehun mulai berbaik hati memberi keringanan padaku lewat pertanyaannya barusan. Yah, semoga saja.

“Seminggu lagi, deh, ya?” mataku mengerjap beberapa kali, syukur-syukur kalau Sehun peka terhadap kodeku ini lalu ia mengangguk mengiakan tanpa perlu berdebar lagi.

“Seminggu? Kelamaan. Aku butuhnya secepatnya!” gagal total! Kerjapan mataku barusan tidak mempan.

“Uh, gimana kalau lima hari?”

“Kelamaan―”

Please? Janji, deh, lima hari aku bakal bayar semua utangnya.” Tidak, aku tidak mau Sehun mengurangi waktuku untuk membayar utang padanya. Yang kulakukan sekarang padanya agak memalukan juga, aku … aku menggerakkan seluruh badanku, meminta keringanan dan membiarkanku membayar dalam waktu lima hari. Seperti anak kecil merengek minta dibelikan permen. Ugh, memalukan, bukan?

Sehun terlihat menimbang, matanya turun memerhatikan kedua tanganku yang masih kukuh menggenggam lengannya. Dapat kupastikan kalau saat ini dia sedang memikirkan ucapanku.

“Oke, lima hari!”

Yess!

“Tapi dengan satu syarat!”

Enggak jadi yess!

“Apa?” tanyaku, was-was. Takut kalau Sehun memberiku syarat yang aneh-aneh dan memalukan dan melukai harga diriku.

“Nanti siang temani aku membeli kado untuk pacarku, oke?”

Emm, jadi yess saja, deh! Lagi pula, syaratnya tidak susah-susah amat. Hanya menemaninya pergi membeli kado? Oke!

“Oke!” kuulangi satu kata itu yang telah terucap dalam hati. Segera aku mengumbar senyum lebar padanya sebagai tanda terima kasih. Tak dapat kupungkiri, aku senang karena akhirnya, aku berhasil menaklukan kekukuhan Sehun dan membuatnya menerima keputusanku. Well, semoga saja aku bisa melunasinya. Secepatnya juga aku sangat bersyukur sekali.

“Awas saja kalau kau enggak mau! Maka aku akan memintamu membayar dalam waktu dua hari lagi!” ancamnya tak tanggung-tanggung.

“Tenang saja, Hun! Aku enggak mungkin enggak mau atau kabur begitu saja! Aku pasti akan menemanimu!” ujarku, antusias, meyakinkannya.

Jeda tiga detik keheningan sebelum akhirnya Sehun memilih beranjak meninggalkan ambang pintu rumahku dengan sangat terhormat (translate : tidak mengucap salam apa pun padaku). Selepas ia pergi, aku menutup pintu dengan terburu-buru dan berteriak senang. Lupakan saja deh urusan gagal kencan bareng Hanbin si adik kelasku itu. Peduli setan dengan pacar sialannya serta mata bengkak ini.

Di tengah rasa bahagiaku, aku kembali membuka pintu cepat dan mengukir senyum lebar. Mataku memindai area pekarangan rumahku dan mendapati Sehun baru saja mencapai pagar rumah.

“Hei, Oh Sehun tetanggaku yang baik hati!” dipanggil begitu, Sehun menoleh dan memandangiku dengan raut tak senang. Karena mungkin ia mengerti nada bicaraku di akhir kata yang terkesan dibuat-buat.

“Apa?”

Aku menyengir, lalu, “Kalau kau putus dengan pacarmu itu, aku siap, kok, menggantikannya!”

Sehun tampak kaget setengah hidup. Dan aku menikmati ekspresi kekagetannya.

“Kaubilang apa?”

“Maksudku,” aku berdeham beberapa kali. Biar saja kalau Sehun menyebutku cewek gila karena dengan beraninya aku mengatakan hal itu padanya, pada sang peminjam uang yang jahat. “Kau ganteng, dan sepertinya aku suka padamu. Dah!”

Blam. Pintu pun kututup dan kukunci dua kali.

Boleh, tidak, aku berharap lagi?

Emm, harapannya tidak besar, sih. Aku hanya berharap semoga Sehun memberiku keringanan lebih setelah ia mendengar pengakuan setengah iya setengah menolak yang aku katakan lima detik tadi.

Jadi, katakan selamat tinggal saja pada kencan gagal sialan itu! Dan selamat datang … calon cowok yang akan kujadikan pacar! (translate : Oh Sehun!)

-end

Thanks for reading!

Wanna to drop some review, then? 😉

6 responses to “[Vignette] Pay The Debt! ― ShanShoo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s