Wolf’s Eternal Love (Chapter 1)

img_7071

A collab fiction by Ferrina & Angelina Triaf

Wolf’s Eternal Love

(Scent of the Beauty)

Huang Zitao, Oh Sehun (EXO) with Park Cheonsa, Zhen Yilyn (OC) | Fantasy, School-life, Romance, Myth | PG-17 | Chaptered

0o0

Menempel bagaikan anggrek dengan pepohonan, itulah umpamaan yang tepat untuk menggambarkan Cheonsa beberapa hari ini. Ia sama sekali tak pernah mau jauh dari Tao. Ke manapun Tao pergi, entah itu ke perpustakaan, lapangan, laboratorium dan semua ruangan lainnya di sekolah ini—kecuali kamar mandi, tentunya—Cheonsa akan dengan senang hati mengikutinya.

Oh, Cheonsa bukanlah seorang stalker yang mengidolakan Tao. Hanya saja, gadis manis itu kini tengah ketakutan dan mati-matian menghindari pemuda tampan bernama Oh Sehun, murid yang baru pindah beberapa hari lalu—sialnya dia adalah teman sebangkunya. Berada di dekat Sehun saja sudah membuat Cheonsa bergidik ngeri. Aura Sehun sungguh mengerikan.

Lagi pula, Tao sepertinya juga berusaha untuk menghindarkan Cheonsa dari Sehun. Seperti ayah protektif yang akan selalu mengawasi anaknya dengan cara apa pun. Begitulah seharusnya sahabat bertempat, ‘kan?

Tao memang sudah tahu jika ada yang tak beres dengan Sehun. Pemuda itu memiliki tatapan aneh, yang entah ini hanya perasaan Tao saja atau bukan. Sehun seperti bukan manusia. Maksudnya, jika yang dimaksud manusia itu adalah fisiknya, Sehun secara gamblang dapat disebut manusia. Definisi manusia di sini adalah—sebuah jiwa yang mengaturmu untuk tercipta seperti apa dan bagaimana.

Sehun bukan manusia, dan Tao mengetahui hal itu. Tentu saja, karena secara harfiah Tao juga bukan seorang manusia. Makhluk aneh yang diberi julukan shifter, itulah jati diri Tao sebenarnya. Shifter adalah nama untuk seorang manusia yang dapat berubah wujud menjadi sosok lain—biasanya binatang. Darah binatang itu mengalir dengan sempurna di tubuhnya, mengikuti arus nadinya dari jantung ke seluruh tubuhnya, dan betapa beruntungnya Tao, ia dilahirkan sebagai wolf-shifter.

Adalah kedudukan shifter tertinggi. Kekuatan dan kekuasaan, itulah keberuntungan yang dimiliki para shifter berwujud serigala. Pernah melihat seekor serigala berbulu cokelat keemasan yang sangat indah di dataran Eropa sana? Yap, kurang lebih itulah penggambaran diri Tao.

Kembali lagi pada kasus Cheonsa saat ini. Tao semakin mengetatkan pengawasannya pada Cheonsa. Bahkan Tao rela mengorbankan waktu tidurnya hanya untuk mengawasi rumah Cheonsa dari kejauhan, memastikan sahabatnya itu tidur tenang tanpa kehadiran Sehun.

Hei, jangan salahkan Sehun jika tiap malam ia selalu berusaha untuk menerobos kamar Cheonsa hanya untuk sekadar melihat bagaimana gadisnya itu tertidur lelap. Cheonsa sudah menjadi candu tersendiri bagi Sehun. Cheonsa hanyalah miliknya seorang. Hanya dia. Jika hal itu terjadi, Tao akan dengan sigap menghadang Sehun dan membawanya ke bukit dekat sekolah hanya untuk berkelahi tak jelas.

Apalagi semalam adalah bulan purnama pertama di bulan ini. Tao dengan emosinya yang membuncah merubah dirinya menjadi serigala besar berbulu cokelat yang sangat cantik. Ternyata Sehun sama dengan Tao—wolf-shifter, hanya saja Sehun berubah menjadi serigala berbulu seputih salju dengan mata merah rubi yang mengkilat.

Karena hal itu, pagi ini Tao sudah seperti mayat hidup. Berjalan di koridor dengan pandangan sayu. Jangan salahkan lingkaran mata hitamnya, pagi ini lingkaran itu terlihat semakin buruk, dan Cheonsa tak cukup bodoh untuk menyadari hal itu.

“Tao, sudah kubilang kan untuk jangan terlalu sering menonton pertandingan bola sampai larut? Kau terlihat mengenaskan pagi ini.”

Ingin rasanya Tao menjitak kepala Cheonsa atas ucapannya barusan. Seandainya saja Cheonsa tahu jika Tao jadi seperti ini karena menjaganya semalam, belum lagi perkelahiannya dengan Sehun baru berakhir pukul lima dini hari, saat rembulan perlahan pulang ke peraduannya.

Tao hanya mengangguk pasrah pada Cheonsa. Ia tak mungkin bilang hal yang sebenarnya, bisa-bisa Cheonsa menjadi semakin tak tenang dan tak bisa tidur nyenyak. Akhirnya melanjutkan perjalanan mereka dalam diam, Tao terlalu lelah dan Cheonsa tengah sibuk mengedarkan pandangannya, takut jika Sehun tiba-tiba muncul dan membawanya pergi seperti kemarin lusa.

Saat mereka baru saja melewati lapangan tengah, Tao melihat seorang gadis yang tengah membawa tumpukan buku. Bukunya sangat banyak, bahkan sampai menghalangi pandangannya. Karena tak tega, akhirnya Tao meminta izin pada Cheonsa untuk membantu gadis itu. Antara rela tak rela, Cheonsa membiarkan Tao pergi. Dengan secepat kilat Cheonsa berlari menuju kelas karena takut bertemu dengan Sehun.

Mungkin Dewi Fortuna sedang merindukan Tao saat ini. Ternyata gadis yang tengah kesulitan itu adalah Lyn, siswi kelas 11-3 yang pernah terkena lemparan bola basketnya beberapa hari yang lalu. Lyn pun sama terkejutnya saat melihat Tao, namun akhirnya ia hanya bisa tersenyum saat Tao mengambil alih sebagian besar buku yang ia bawa—menyisakan kisaran tiga buku tebal untuk dibawanya.

“Ternyata kau hobi mengangkat banyak buku, ya.”

Gurauan Tao disambut oleh tawa Lyn. Bahkan semilir angin pagi hari ini ikut meramaikan suasana. Mereka berjalan menuju perpustakaan. Ternyata buku-buku ini akan Lyn kembalikan karena waktu pengembalian sudah tiba. Sebanyak itukah Lyn meminjam buku dan membacanya?

Tanpa sadar, Tao terus mengikuti Lyn yang kini sedang memilih buku baru untuk dipinjamnya. Ia tampak seperti orang bodoh yang kehilangan arah. Hanya senyum-senyum sendiri sambil memerhatikan wajah serius Lyn yang sedang memilih buku. Sebegitu besarkah pesona Lyn hingga mampu membuat Tao seperti itu?

Cerita tak akan menarik tanpa sebuah sisi lain. Cheonsa masih terus berlari seperti dikejar-kejar penagih hutang. Aneh, mengapa ia tak kunjung sampai di kelasnya? Mengapa lorong ini terasa sangat panjang untuknya? Karena lelah, akhirnya Cheonsa menghentikan larinya dan diam sejenak untuk mengatur napasnya.

Namun sial, hal itu tak bertahan lama karena ada orang yang dengan seenaknya menarik tangannya dengan cepat, membawanya ke sebuah ruangan dalam sekolah ini. Oh tidak, jangan lagi. Semoga saja bukan Sehun.

Tapi mungkin Tuhan terlalu sibuk hanya untuk sekadar berbaik hati padanya. Cheonsa menyadari jika ia kini sedang berada di ruang klub dance. Sangat kentara oleh banyaknya kaca di tiap sisi dindingnya. Ruangan ini cukup gelap. Cahaya matahari yang menerobos ventilasi pun belum cukup untuk menyinari ruangan ini.

Cheonsa semakin bergidik ngeri saat ia melihat mata merah berkilau itu menatapnya tajam. Sehun. Tubuh tinggi pemuda itu hanya samar-samar terlihat, namun matanya bersinar terang dan itu sudah cukup menjadi bukti kehadirannya.

Semakin dekat, Cheonsa semakin merasakan kehadiran Sehun. Cheonsa terus mundur perlahan seiring tubuh Sehun yang terus berjalan mendekatinya. Juga—lagi-lagi—kesialan menimpanya. Tubuhnya sudah tak dapat berpindah ke mana-mana lagi karena membentur dinding kaca di belakangnya.

“Jangan melihatku seperti itu, Sehun!”

Lampu tiba-tiba menyala, membuat Cheonsa dapat melihat dengan jelas wajah Sehun yang kini hanya berjarak beberapa senti darinya. Tubuh tinggi Sehun menjulang di hadapannya, membuat pemuda itu harus sedikit menundukkan kepalanya agar wajahnya sejajar dengan Cheonsa—yang justru membuat Cheonsa risih dan ingin menangis.

Cheonsa terus menundukkan kepalanya, enggan menatap Sehun yang sedari tadi hanya diam memandanginya. Akhirnya setelah beberapa menit terdiam, Sehun menaikkan dagu Cheonsa dan membuat gadis itu menatapnya. Mata Sehun telah kembali menjadi cokelat seperti semula, dan kini tengah menatap Cheonsa, menyelami pikiran gadis di hadapannya.

“Rupanya kau benar-benar takut padaku, ya? Tenanglah.”

Sehun mengusap pipi Cheonsa dengan jemarinya. Senyumnya lembut, namun entah mengapa terlihat menakutkan di mata Cheonsa. Sehun semakin mendekatkan wajahnya pada Cheonsa, dan bibirnya kini tepat berada di samping telinga Cheonsa, membisikkan kalimat yang terasa mengerikan untuk didengar.

“Kau milikku. Dari jarak yang sangat jauh pun aku sudah tahu jika kau milikku, My Princess.”

“Sehun, hentikan…”

Gadis itu merasa risih saat Sehun kini sudah mulai memainkan bibirnya di lekukan lehernya. Apa sebenarnya mau Sehun? Apa yang diinginkan Sehun darinya? Sehun melakukan hal itu selama kurang lebih lima menit. Setelah itu Sehun meninggalkan Cheonsa begitu saja.

“Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku?”

0o0

Tao berlari secepat mungkin menuju kelas. Bodoh, mengapa ia bisa sampai melupakan Cheonsa dengan mudah? Pesona Lyn memang benar-benar membuatnya hilang akal. Sehun pasti menghadang Cheonsa tadi, dan Tao tak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Cheonsa.

Saat ia memijakkan langkah pertamanya di kelas, ia menghela napas lega karena Cheonsa duduk dalam keadaan utuh di kursinya—kursi Tao. Cheonsa akhir-akhir ini memang tak pernah mau duduk di sebelah Sehun, kecuali jika jam pelajaran telah dimulai.

Setelah mengatur napasnya, Tao menghampiri Cheonsa dengan berjalan santai. Cheonsa yang menyadari kehadiran Tao langsung bangkit dari duduknya dan memberi tempat untuk Tao duduk. Beruntunglah teman sebangku Tao sedang keluar kelas sehingga Cheonsa tak langsung kembali ke tempatnya dan kini duduk di samping Tao.

“Kau baik-baik saja?”

Cheonsa hanya mengangguk lesu untuk menjawab pertanyan Tao. Tao tersenyum dan mengacak rambut Cheonsa seperti biasanya. Namun betapa terkejutnya Tao, ia menyadari ada yang berbeda dengan Cheonsa. Atau lebih tepatnya, leher Cheonsa.

“Cheonsa, ini apa?”

Tao memegang leher kanan Cheonsa yang di sana terdapat sebuah gambar layaknya tato. Gambar itu kecil, berbentuk spiral abstrak berwarna biru terang. Cheonsa segera mengeluarkan kaca dari dalam tasnya dan melihat apa yang dipertanyakan Tao. Nihil, Cheonsa tak melihat apa pun.

“Apa? Tak ada apa pun di leherku.”

Mendengar itu, Tao langsung membulatkan matanya. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada Sehun yang ternyata sedari tadi memerhatikan mereka. Sehun menunjukkan smirk-nya pada Tao, dan Tao langsung tahu apa yang terjadi pada Cheonsa.

“Tadi kau diganggu Sehun lagi?”

“Iya.”

Helaan napas berhasil lolos dari mulut Tao. Ternyata Sehun tak bisa dianggap remeh. Ia benar-benar menginginkan Cheonsa. Ini semua karena kelalaian Tao menjaga Cheonsa. Jika sudah seperti ini, bahkan Tao pun sudah tak dapat berbuat apa-apa selain pasrah menerima keadaan.

“Hun, aku pinjam Cheonsa sebentar.”

Dengan tatapan malas, Tao meminta izin pada Sehun, membuat Cheonsa bingung dengan apa yang Tao ucapkan. Untuk apa pula minta izin pada Sehun? Tetapi Sehun hanya tersenyum lalu mengangguk. Mungkin Sehun tak seburuk apa yang Tao pikirkan.

Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin Cheonsa tanyakan, namun Tao sudah terlanjur menarik tangannya dan membawanya ke luar kelas. Cheonsa hanya bisa pasrah dan mengikuti ke mana Tao akan membawanya. Ternyata Tao membawa Cheonsa ke lorong dekat ruang klub dance, tempat tadi Sehun membawanya.

Tao duduk di bangku terdekat, dan ia juga menyuruh Cheonsa untuk duduk. Agak lama, mereka larut dalam pikiran masing-masing—Cheonsa yang bingung dengan Tao dan Tao yang bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada Cheonsa.

“Cheon, masih ingat dengan wolf-print yang pernah aku ceritakan?”

Wolf-print? Tentu saja Cheonsa masih ingat. Maka ia mengangguk, dan Tao tersenyum padanya.

Wolf-print adalah sebuah tanda yang wolf-shifter—biasanya laki-laki (karena perempuan hampir tak pernah memberikan wolf-print)—berikan pada seorang gadis yang sudah ia anggap sebagai miliknya. Semacam hak milik, dan jika seorang wolf-shifter sudah menandai gadisnya, berarti tak seorang pun boleh merebutnya. Entah itu manusia biasa, sesama shifter atau bahkan makhluk lainnya. Sekarang Cheonsa memiliki wolf-print itu, pemberian Sehun.

“Kau memilikinya, dan itu dari Sehun.”

Kaget, tentu saja. Cheonsa menatap Tao, berharap sahabatnya itu hanya bercanda dan nantinya akan langsung tertawa saat melihat wajah Cheonsa yang jelek saat kaget. Namun Tao serius, dan Cheonsa sepertinya ingin menangis sekarang juga.

“Manusia biasa tak dapat melihatnya. Tanda itu untuk melindungimu dari makhluk lain. Yang perlu kau tahu, Sehun itu sama denganku. Itulah sebabnya matanya bisa berubah menjadi merah mengkilat.”

Cheonsa masih terdiam. Ia bingung ingin berkata apa. Semuanya terlalu aneh untuk disebut sebagai kenyataan, dan terlalu nyata untuk sebuah mimpi buruk. Ia syok. Perasaan ini sama persis dengan saat Cheonsa pertama kali mengetahui jika Tao adalah shifter dan dengan gamblangnya menunjukkan wujud serigala besar menakutkan di hadapannya.

Tapi ini berbeda. Tao adalah sahabatnya sejak kecil, dan ia selalu melindungi Cheonsa. Cheonsa tak merasa keberatan atau takut dengan Tao karena ia sudah sangat mengenal Tao. Jadi wajar saja jika saat ini Cheonsa kaget karena tiba-tiba saja ada makhluk aneh yang dengan seenaknya melabeli ia sebagai miliknya. Apa haknya?

Tiba-tiba Cheonsa memeluk Tao dan menangis. Ia terlalu takut dan kaget dengan semua ini. Tao hanya membiarkannya dan balas mengusap pundak Cheonsa. Ia jadi teringat saat dulu Cheonsa juga hampir menangis saat mengetahui siapa Tao sebenarnya.

“Hei, apakah kau tahu sesuatu? Jika seorang shifter sudah berani berbuat seperti itu, berarti ia serius dan akan menjaga gadisnya bagaimanapun caranya. Itu artinya Sehun serius denganmu.”

“Tapi aku―“

“Sudahlah, aku juga masih terus menjagamu. Jangan takut lagi, ayo cepat kembali ke kelas sebelum guru datang.”

Tao mengacak poni Cheonsa lalu kembali menarik tangannya agar gadis itu mengikutinya kembali ke kelas. Langkah Cheonsa menjadi berat. Sangat berat. Cheonsa tak tahu lagi bagaimana nasibnya nanti. Cheonsa tak mau terikat dengan Sehun. Hal itu terlalu sulit untuk dilaluinya.

Mereka kini sudah sampai di kelas, bertepatan dengan bel yang berbunyi dan guru yang masuk ke kelas. Tao segera kembali ke tempat duduknya, begitu pula dengan Cheonsa. Gadis itu langsung duduk dalam diam, enggan menatap Sehun atau berkontak apa pun dengannya. Sehun tahu pasti Tao telah menceritakan semuanya pada Cheonsa, terlihat dari betapa lesunya gadis di sampingnya itu. Tapi, melihat wajah Cheonsa yang seperti itu justru membuat Sehun tersenyum. Biasanya banyak gadis yang mengejarnya, namun Cheonsa sama sekali tak tertarik dengannya, dan itu membuat Sehun semakin menyukai Cheonsa.

“Insting memang tak pernah salah. Scent of beauty miliknya juga begitu terasa. Tunggu saja, aku akan membuatmu mencintaiku juga.”

Ternyata gumamam Sehun terdengar oleh Cheonsa. Gadis itu menoleh pada Sehun dan mendapati bahwa Sehun juga tengah menatapnya. Cheonsa mengerutkan keningnya, membuat Sehun tersadar dari lamunannya.

“Kau mengatakan sesuatu?”

“Tidak. Hanya saja kau terlihat semakin cantik.”

Sehun tersenyum, dan itu membuat Cheonsa merasakan hal aneh dalam dirinya. Sehun yang tersenyum saat ini terlihat manis, berbeda dengan saat Sehun menatapnya dengan mata merah terangnya. Sehun yang ini lebih terlihat seperti bayi yang tersenyum, dengan mata menyipit seperti bulan sabit. Cheonsa langsung mengalihkan pandangannya ke papan tulis, membuat Sehun tertawa kecil melihat pipi Cheonsa yang bersemu kemerahan. Ia terlihat sangat manis saat sedang seperti itu.

Di arah lain, Tao sempat melirik ke arah mereka berdua. Benar, ternyata Sehun tak seburuk yang Tao kira. Sepertinya Tao bisa sedikit tenang dengan kehadiran Sehun yang berusaha mendekati sahabatnya. Tao hanya bisa berharap semoga saja Sehun bisa menjaga Cheonsa dengan baik.

“Mereka lumayan serasi.”

Tao tersenyum lalu kembali memerhatikan pelajaran yang gurunya terangkan di papan tulis. Setidaknya ia bisa sedikit bernapas lega dengan kedekatan Sehun dan Cheonsa.

0o0

Pelajaran terakhir telah usai lima menit yang lalu. Kelas sudah mulai kosong karena murid yang lain lebih memilih untuk langsung pulang ke rumah dan bersantai ketimbang menghabiskan waktu berharganya untuk berlama-lama di sekolah.

Tao tertidur di mejanya sedangkan Cheonsa hanya menggelengkan kepala saat melihatnya. Pelajaran terakhir tadi adalah Sejarah, pelajaran yang membosankan bagi Tao. Jadi wajar saja jika Tao sampai tertidur seperti itu. Gadis itu merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas lalu beranjak dari kursinya untuk membangunkan Tao.

“Tao, bangun. Ayo pulang.”

Berkali-kali Cheonsa mengguncangkan bahu Tao, namun sang pemilik nama masih belum sadar dari alam mimpinya. Sehun yang melihat hal itu ikut bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka. Cheonsa bingung karena tiba-tiba saja Sehun menghampirinya, namun Cheonsa hanya diam saja menunggu apa yang akan Sehun lakukan. Sehun dengan santai menarik telinga Tao. Ajaibnya, Tao langsung terbangun dan kini tengah mengusap kedua matanya dan menyesuaikan pandangannya. Sehun lalu tersenyum pada Cheonsa dan kembali duduk di kursinya untuk merapikan bukunya. Cheonsa hanya diam karena kebingungan.

“Eh? Kau kenapa diam seperti itu?”

“Hei, Tao! Kau yang membuatku seperti ini! Ayo pulang…”

Cheonsa menarik-narik tangan Tao, namun Tao menyadari sesuatu. Sehun menatapnya seolah ingin mengatakan sesuatu.

“Tao, aku saja yang mengantar Cheonsa pulang.”

Kurang lebih begitulah telepati yang Sehun kirimkan untuk Tao. Tao lalu menghela napas dan segera merapikan bukunya tanpa menghiraukan Cheonsa yang masih terus berteriak-teriak mengajaknya pulang bersama.

“Kau pulang dengan Sehun saja, ya? Aku masih ada urusan lain.”

What?! Tao!”

Cheonsa hanya bisa mengembungkan pipinya karena Tao benar-benar pergi meninggalkannya. Kelas ini sepi, hanya tinggal Cheonsa dan Sehun yang tersisa. Tak lama, Sehun sudah berdiri di samping Cheonsa dan tanpa seizinnya langsung menggenggam jemari Cheonsa dengan miliknya.

“Ayo pulang. Ah, sebelumnya aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”

Entah mengapa Cheonsa tak bisa bersuara jika berada di dekat Sehun. Ia hanya bisa pasrah saat Sehun sudah mulai berjalan dan menarik tangannya agar mengikutinya. Tangan Sehun terasa hangat, sangat berbeda dengan kepribadiannya yang dingin.

“Tentu saja hangat. Dia kan shifter bukan vampir,” gumam Cheonsa saat menyadari pikiran bodohnya.

“Kau mengatakan sesuatu?”

Sadar karena berbicara terlalu keras, Cheonsa hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Sehun. Akhirnya mereka berjalan menuju lapangan parkir untuk mengambil mobil Sehun. Cheonsa membulatkan matanya saat menyadari kendaraan di hadapannya.

“Kau membawa mobil?”

“Iya. Sudahlah, ayo masuk.”

Di sepanjang perjalanan pun Cheonsa hanya terdiam. Ia masih merasa tak nyaman berdekatan dengan Sehun, apalagi sekarang satu mobil dengannya. Sehun yang menyadari ketidaknyamanan Cheonsa hanya tersenyum. Sebentar lagi Cheonsa akan mengetahui sisi rahasia seorang Oh Sehun.

Mobil pun berhenti. Ternyata mereka sampai di perbukitan yang cukup jauh dari sekolah. Perbukitan ini berada di pinggiran kota. Cheonsa mulai panik saat menyadari ke mana Sehun membawanya. Mau apa orang ini?

“Wajahmu jelek jika panik seperti itu. Ayo keluar.”

Sehun langsung keluar dari mobil tanpa menunggu Cheonsa. Gadis itu masih berkutat dengan pikirannya, apakah ia akan menuruti Sehun atau tidak. Bukit ini sepi—yang benar saja. Apa yang mau Sehun tunjukkan padanya? Karena seingat Cheonsa yang ada hanyalah deretan pohon dan sebuah danau yang terletak di lembah bukit ini.

Baiklah, Cheonsa sudah memantapkan hatinya. Baru saja Cheonsa membuka pintu dan melangkahkan pijakan pertamanya di rerumputan, ia dikagetkan dengan sesuatu yang langsung membuatnya terdiam. Tepat di hadapannya, berdiri seekor serigala besar berwarna putih dengan mata merah rubi yang sedang menatapnya.

“Se-Sehun?”

Tanpa sadar Cheonsa menggumamkan nama Sehun. Jika benar apa yang Tao katakan tentang Sehun, berarti serigala besar yang berada di hadapannya ini adalah wujud Sehun. Serigala itu menundukkan tubuhnya, seolah meminta Cheonsa untuk naik ke punggungnya. Dengan hati-hati Cheonsa akhirnya keluar dari mobil dan naik ke punggung serigala itu.

Setelah memastikan Cheonsa berpegangan dengan benar, serigala itu langsung berlari membelah deretan pohon menuju puncak bukit ini. Cheonsa yang kaget refleks memeluk serigala itu dengan erat. Tentu saja, serigala itu—atau Sehun—tersenyum senang karena Cheonsa memeluknya erat.

Hanya butuh waktu beberapa menit untuk mereka sampai di puncak. Cheonsa perlahan turun saat serigala itu kembali menundukkan tubuhnya. Belum sempat Cheonsa berkedip, wujud serigala itu menghilang, digantikan oleh sosok tinggi Sehun yang masih berseragam sekolah sama seperti dirinya.

Sehun lalu mendekat ke arahnya dan langsung duduk di batu besar tepat di samping Cheonsa. Gadis itu dengan takut-takut kini ikut duduk di sampingnya. Semilir angin menemani keheningan mereka. Cheonsa merasa nyaman dengan suasana saat ini. Di lubuk hatinya, ia berterima kasih pada Sehun karena telah membawanya ke tempat yang indah ini.

“Tak usah berterima kasih, aku hanya ingin membuatmu nyaman.”

“Berhenti membaca pikiranku!”

“Hahaha.”

Cheonsa memukul lengan Sehun agar pemuda itu berhenti tertawa. Tepat saat pukulan yang ketiga, tangan Sehun dengan sigap menangkap lengan Cheonsa, membuat tubuh mungil Cheonsa ditarik mendekat ke arahnya.

Tak butuh waktu lama, bibir mereka bertemu. Sehun memegang tengkuk Cheonsa agar gadis itu tak bisa lari. Tak ada yang bisa Cheonsa lakukan selain memejamkan mata dan mengikuti ritme pergerakan bibir Sehun. Pikiran Cheonsa buyar, yang ada hanya mengapa Cheonsa terdiam dan tak mencoba melakukan penolakan.

Di atas bukit, dengan angin yang sejuk, Sehun sudah berhasil membuktikan rasa cintanya pada Cheonsa. Perlahan, Cheonsa mulai menyadari perasaan aneh yang bergejolak dalam dirinya. Bahwa sepertinya kehangatan cinta Sehun berhasil meluluhkan hatinya secara perlahan.

I love you.”

0o0

Setelah tidur cantiknya di kelas, kepala Tao rasanya berkunang-kunang dan pusing. Ia belum sadar sepenuhnya, namun ia harus segera pergi dari kelas agar Cheonsa percaya padanya dan ikut pulang bersama Sehun. Jadilah kini Tao berjalan sambil memegangi kepalanya yang pusing dan tak melihat jalanan di depannya.

BRUK!

Tao menabrak sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang. Setelah menormalkan pandangannya selama beberapa detik, kini Tao dapat melihat jelas siapa yang ia tabrak.

“Ya Tuhan, Lyn?”

Terduduk dengan posisi mengenaskan dan buku yang jatuh menyebar di lantai, itulah keadaan Lyn saat ini. Tao dengan sigap langsung membantu Lyn untuk mengumpulkan kembali buku-buku yang berantakan. Mereka lalu bangkit berdiri dan duduk di bangku terdekat.

“Mengapa kita selalu bertemu dengan insiden buku seperti ini?”

Tao mengusap tengkuknya, merasa tak enak karena mereka selalu bertemu di saat yang tidak tepat. Lyn juga ikut tertawa karena menyadari hal itu. Pertemuan yang selalu diakibatkan oleh insiden buku terjatuh. Tak lama setelah tawa mereka reda, Lyn langsung bangkit dari duduknya dan hendak mengambil buku-bukunya sebelum tangan Tao menginterupsi hal itu.

“Biar aku saja.”

Hanya ada sekitar lima buku, bukanlah hal yang berat untuk Tao bawa seorang diri. Lyn mengangguk dan jadilah mereka berjalan beriringan di koridor itu.

“Mau pulang? Bagaimana jika kuantar?”

“Eh? Tak usah, aku―“

“Sudahlah, ayo!”

Lyn hanya bisa geleng kepala melihat Tao yang kini berjalan mendahuluinya. Baru beberapa hari mengenal Tao dan Lyn seperti merasakan kenyamanan saat berada di dekat pemuda itu.

“Dia orang yang lucu.”

“Hei, Lyn! Besok aku akan menjemputmu, kita akan jalan-jalan!”

Tao tiba-tiba berbalik dan kini berjalan mundur sambil menatap Lyn. Wajahnya saat ini sangat lucu seperti anak kecil. Mendengar itu, Lyn menjadi kaget dan terdiam sejenak.

“Apa?! Tao, jangan seenaknya!”

Gadis cantik itu berlari mengejar Tao yang kini tengah tertawa karena berhasil membuat Lyn bingung. Apakah ucapan Tao itu benar? Apakah mereka benar-benar akan jalan bersama keesokan harinya?

TBC

10 responses to “Wolf’s Eternal Love (Chapter 1)

  1. kyaaa udah dtandai aja ma sehun,,, kyanya sehun kgk jhat ya,, buktinya tao yg overprotek tiba2 nyerahin shbtny sndri dgn sukarela.. hahaha capek2 begdang jgain cheonsa eh akhirny drestuin jg.. dtunggu next chapny thor… keep writing

  2. Kereen thorr..
    Aku kira Cheonsa bakal Sama Tao akhirnya. Wkwk~ di tunggu next chapnya thor, Jan lama-lama yahh kkk~

  3. kereenn… aku sukaa…
    kkk~ aku kira Cheonsa bakal sama Tao..
    jadi penasaran kann:v wkwk~ di tunggu next chapnya thor^^

  4. wahhh aku suka ama ff ini ihh.. keren bagi aku >o< aaa sehun so weet~ suka ih suka❤ heheh ditunggu kelanjutannya ^^ Keep writing and hwaiting!~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s