#1 Intro: Girl Meets Evil [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla

blood-sweat-tears

ohnajla | romance, school life, songfic, drama, friendship, family, brothership, teen | G | chaptered |

All member BTS

Oh Sena (OC)

All member EXO (cameo)

“Bayangan akan segelas wine, hancur sudah begitu pria itu menampakkan batang hidungnya. Oh bagus, bagus sekali, sepertinya ini tidak akan seindah yang ia bayangkan kemarin malam. Sial, setelah lolos dari kandang macan, kenapa ia bisa-bisanya tersasar ke kandang buaya? Oh sh*t!”

Blood Sweat & Tears concept

#1 Intro: Girl Meets Evil

Hari itu adalah minggu pertama di bulan Maret. Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun menempuh sekolah menengah pertama, Sena berhasil keluar dari rumah bibinya. Ia tak lagi harus berhubungan dengan banyak anak kecil. Ugh, mengurus mereka benar-benar menyebalkan.

Dan karena dia sudah dinyatakan lulus sekolah menengah, maka ia tidak harus tinggal di sana lagi. Dari Daegu dia pergi ke Seoul. Di sana dia tinggal di rumah keluarga asuh barunya. Byun Baekhyun, itulah nama samchon yang akan menjadi walinya saat dia bersekolah di sana. Eit jangan salah, samchon ini bukan sembarangan samchon. Karena pria bernama Byun Baekhyun itu adalah seorang solois yang paling terkenal di masa mudanya.

Sena bersemangat sekali saat tahu kalau dia akan tinggal di rumah mantan solois. Dengar-dengar, si solois ini punya seorang anak laki-laki tampan yang seusia dengannya. Ah … membayangkan tinggal di bawah atap yang sama dengan pria tampan bagaikan sedang masuk dunia dongeng saja. Dia merasa seperti Cinderella Daegu yang dipinang oleh Pangeran Seoul. Aih … pipinya memerah membayangkan itu semua.

Bibi mengantarnya ke stasiun kereta api dengan naik taksi. Wanita itu tidak bisa mengantarnya ke Seoul karena banyak sekali anak kecil yang harus diurusnya, selayaknya pekerjaan seorang ibu panti asuhan. Jadi terpaksa, Sena harus berangkat sendiri ke sana. Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya kalau dia akan pergi ke luar kota seorang diri.

“Sampai di sana langsung cari taksi dan tunjukkan alamat yang bibi berikan, oke? Jangan beli makanan banyak-banyak. Hati-hati juga menyimpan uang,” ucap bibinya sambil menyelipkan satu box berisi snack bar ke dalam ransel Sena. Ia tahu Sena menyukai makanan itu jadi sekalian saja dia beli banyak, lumayan, dengan begitu Sena tidak perlu menghambur-hamburkan uang untuk beli makanan ringan di sana.

Arasseo. Aku pergi dulu bibi, sampai jumpa.”

Dia dan bibinya saling melambaikan tangan. Ia pun segera masuk ke dalam kereta, setelah mendengar adanya pemberitahuan dari pengeras suara kalau kereta akan berangkat sebentar lagi. Sambil menyeret koper merahnya, dia berjalan menyusuri jalan tengah gerbong untuk mencari tempat duduk. Sebenarnya ada banyak tempat yang kosong, tapi semuanya terisi anak-anak, dia paling tidak mau berhubungan dengan anak-anak lagi. Jadi pilihannya pun jatuh pada tempat paling belakang di gerbong itu. Di tempat yang hanya terisi oleh seorang pria muda.

“Hai, permisi. Boleh saya duduk di sini?” tanyanya dengan sopan.

Pria itu yang semula menatap lurus ke luar jendela langsung menoleh. Tatapannya begitu dingin meski ia tahu Sena sedang mencoba ramah terhadapnya.

“Tidak boleh.”

Sena membelalak tak percaya. Astaga, bisa juga ya jawabannya seperti itu. Cih, apakah orang ini tidak pernah diajari sopan santun oleh orangtuanya? Apa dia tidak tahu apa itu tata krama?!

Ah sial. Pria itu sudah kembali melihat keluar jendela saat dia mau membalas ucapannya. Ck, dasar. Sekarang dia harus duduk di mana? Begitu ia menoleh ke belakang, semua tempat yang semula kosong ternyata sudah diisi penuh oleh orang lain. Masa iya dia harus berdiri?

“Kereta akan berangkat lima menit lagi. Para penumpang diharap untuk segera duduk.”

Sena mulai cemas. Ugh … bagaimana ini?

Seorang petugas menghampirinya. “Nona, kereta akan berangkat sebentar lagi. Cepatlah duduk.”

Hati Sena seketika lega. Akhirnya, ia bisa duduk di sana tanpa harus berdebat panjang dengan pria judes itu. Si petugas membantunya menyimpan koper di loker atas. Sementara dia dengan senyum penuh makna, duduk di hadapan pria judes itu sambil membanting ranselnya ke atas meja. Berpura-pura membuka dan melihat isi tasnya ketika pria itu meliriknya sebal.

Perjalanan ke Seoul pun dimulai.

Perjalanan ini membutuhkan waktu maksimal tiga jam. Tentu saja akan sangat membosankan kalau hanya dipakai untuk duduk diam seperti orang bodoh. Maka dari itu, Sena mengeluarkan tablet hadiah dari ayahnya. Untuk apa lagi, tentu saja bermain game. Semalam kemarin dia hampir tidak melakukan apa pun selama 4 jam hanya untuk mendownload aplikasi-aplikasi game. Bahkan dia sampai lupa waktu makan malam. Sungguh perjuangan yang tidak sia-sia.

Tiga jam berlalu dengan cepat, tak terasa kereta sudah sampai di stasiun Seoul. Buru-buru gadis itu memasukkan tabletnya ke dalam ransel, menggendongnya di punggung, bangkit, mengambil koper, lantas beranjak keluar mengikuti yang lain. Oh ya, tentang si pria judes itu, dia benar-benar tidak mau membahasnya, bahkan untuk peduli saja tidak mau. Kali ini dia maafkan pria itu karena dia yakin mereka tidak akan pernah bertemu lagi untuk selama-lama lama lamanya.

Sesuai apa yang disarankan bibinya, dia langsung pergi keluar stasiun untuk mencari taksi. Tidak sulit, begitu menginjakkan kaki di luar sana dia langsung menemukan seorang pria berseragam yang sedang merokok di dekat sebuah taksi sambil menunggu penumpang. Dengan senyum mengembang, ia pun berlarian mendekat. Tepat satu meter di depan sopir itu, seseorang juga baru saja datang. Lengan mereka tak sengaja saling bersinggungan. Sena yang merasa itu salahnya, langsung menoleh.

“Oh maaf, saya … eh? Kau?!!”

Orang yang bertabrakan dengannya hanya menatapnya dengan sorot mata datar. Heol! Pria ini? Pria judes di kereta tadi!

Ahjussi, antar aku ke alamat ini.” Tanpa merasa perlu merespon pekikan Sena, pria itu melangkah lebih dekat pada si sopir sambil menunjukkan sebuah kertas yang ia keluarkan dari saku jaketnya.

Melihat itu, Sena tentu saja tidak terima. Enak saja, taksi itu miliknya.

Ahjussi! Aku datang lebih dulu darinya.” Entah dapat kekuatan dari mana, dia yang tubuhnya mungil bisa dengan mudahnya mendorong tubuh jangkung pria judes itu. Hampir saja pria itu terjerembab ke jalanan. Cih, benar-benar.

“Tolong antarkan saya ke alamat ini.” Sena pun menunjukkan kertas yang ada di tangannya.

Belum sempat ahjussi itu membacanya, tiba-tiba kertas yang dipegang Sena terbang dibawa angin. Oh tidak, dia tidak boleh kehilangan kertas itu. Dengan berat hati ia terpaksa meninggalkan sopir itu untuk mengejar kertasnya. Untung tidak sampai menyangkut di pohon. Ia menggenggam erat kertas itu sambil menghela napas.

“Aih syukurlah. Kau hampir saja membuatku gila,” gumamnya pada kertas di tangannya itu. “Baiklah, sekarang mari kita … eh? Eh?! Ahjussi!! Ahjussi tunggu aku!!”

Mampus, dia lupa kalau di sana tadi ada pria judes itu. Sial, dia kalah cepat. Ahjussi itu, bersama taksinya pergi meninggalkannya dengan membawa pria judes yang saat ini sedang memamerkan lidahnya dari kaca belakang yang terbuka lebar. Oh my god. Pria itu benar-benar….

Tapi ya sudahlah, toh mereka tidak akan bertemu lagi setelah ini. Hei pria judes, berterima kasihlah karena aku sudah memaafkanmu dua kali hari ini.

Sena memutuskan untuk mencari taksi yang lain. Untungnya tidak susah-susah amat. Tapi sepertinya dia harus merelakan isi dompetnya demi taksi ini, karena taksi yang ia temukan kali ini adalah taksi yang mahal. Sial.

Mulut Sena terus menganga lebar menatap pemandangan di sekitarnya. Wah … benar-benar besar, jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Mungkin inilah yang namanya kediaman seorang artis. Bayangan akan seorang Cinderella yang datang ke pesta dansa kerajaan, sepertinya benar-benar terwujud saat dia berjalan menyusuri jalan setapak di halaman depan rumah ini. Sayangnya di sini tidak ada pengawal atau maid yang menyapanya. Rumah ini praktis sepi. Hanya patung pancuran air saja yang memberinya ucapan selamat datang.

Sampailah dia di hadapan sebuah pintu raksasa. Sengaja dia menyebutnya begitu karena tingginya yang lebih dari dua meter. Bayangkan saja, sekecil apa tubuh 150 sentinya ini dibanding pintu berkayu jati itu? Beruntung, gagang pintunya tidak diletakkan pada ketinggian 2 meter, bisa gila dia kalau sampai pintunya dibuat seperti itu.

Tanpa perlu mengetuk atau menekan bel, dia langsung memutar gagang pintunya. CKLAK! Bunyinya nyaring sekali. Begitu ia mendorongnya ke dalam, KRIEET! Gila, pintunya berat. Mana suaranya juga begitu. Namun semua keluhan itu seketika menguap ketika dia melihat pemandangan di depannya.

“Wah….”

Benar-benar seperti istana kerajaan. Dindingnya, ornamennya, furniture-nya bahkan lantainya, semua memakai tema klasik. Bahkan ia bisa mendengar alunan piano dari kejauhan. Astaga, ini membuatnya pusing sendiri. Sebenarnya ini rumah artis apa kerajaan sih? Jangan-jangan dugaannya benar, kalau dia diundang oleh seorang pangeran untuk mengikuti pesta dansa di sini. Ah! Fantasinya berlebihan sekali.

Begitu pintu kembali ditutup, tiba-tiba saja muncul seseorang tak jauh di depannya. Orang itu tak lain adalah seorang pria, yang hanya memakai jubah mandi dan sandal bulu. Rambutnya tampak basah dan hampir menutupi seluruh matanya. Apakah ini anak dari Byun Baekhyun itu? Wah … tampan juga.

“Selamat datang, Oh Sena. Bagaimana perjalananmu? Menyenangkan?”

“A-ah tentu saja. Eung, kalau aku boleh tahu, kau ini putra dari Byun Baekhyun itu ya?”

Dahi pria itu mengerut sebentar, lantas tertawa. “Ya ampun, sebegitu mudakah wajahku? Hahaha, sepertinya aku harus mengecewakanmu Nak, karena aku ini Byun Baekhyun.”

CTAR!

Oh shit!

“Maafkan saya. Tolong maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu apa-apa.”

Baekhyun hanya terkekeh melihat Sena yang terus-terusan membungkuk sambil mengucapkan kata maaf. Menurutnya gadis ini sangat lucu. “Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan itu. Sudah sudah, kau bisa pusing nanti.”

Sena yang memang merasa pusing dalam sekejap kembali menegakkan punggungnya. Baekhyun pun menyuruhnya untuk duduk. Meski Baekhyun sudah bilang tidak apa-apa, tapi Sena tetap merasa tak enak hati. Haduh, baru datang saja dia sudah berulah ke tuan rumah. Bagaimana kalau nanti kecerobohannya terus berlanjut? Bisa-bisa Baekhyun menendangnya dari rumah ini.

“Pasti lelah perjalanan dari Daegu, ‘kan? Kau bisa istirahat di kamarmu nanti. Tapi sebelum itu, aku ingin mengenalkanmu pada semua penghuni rumah ini. Hayoung pasti tidak memberitahumu. Jadi daripada nanti kau terkejut, lebih baik kuberitahu sekarang saja.” Baekhyun pun meraih horn telepon rumah di dekatnya, lalu bicara pada seseorang di seberang sana.

“Jadi maksudnya ada banyak orang yang tinggal di sini?” tanya Sena setelah Baekhyun selesai bicara di telepon.

Pria 40 tahun itu mengangguk. “Banyak sekali. Mereka akan datang sebentar lagi.”

Sena mulai berasumsi kalau yang dimaksud Baekhyun itu adalah anak-anak. Haduh, semoga saja bukan. Tapi kalau memang anak-anak, bukankah seharusnya rumah ini ramai? Apa mungkin…. Dia menggeleng cepat, tidak, sudah pasti tidak mungkin kalau orang-orang yang tinggal di sini adalah para lansia. Masa iya rumah sebesar ini aslinya adalah panti jompo? Tidak lucu!

Orang-orang yang dimaksud Baekhyun itu datang satu persatu. Mereka mulai memenuhi ruangan, seketika membuat suhu tubuh Sena meninggi. Oh tidak! Oh tidak! Ini benar-benar….

“Mulai sekarang inilah orang-orang yang akan tinggal denganmu di sini. Oh ya, kalau kau penasaran, anak inilah putra dari Byun Baekhyun. Lihat, kami benar-benar mirip ‘kan?”

Seorang pria jangkung yang duduk tepat di samping Baekhyun, tersenyum ramah padanya sambil melambaikan tangan. Benar, pria itu saaaaaangat mirip dengan Baekhyun. Tapi entah kenapa, bentuk wajahnya jauh lebih dewasa dari ayahnya.

“Namanya Taehyung. Tahun ini dia juga akan masuk SMA sepertimu.”

Sena merasa tubuhnya ada di sana tapi jiwanya entah melayang kemana. Astaga … yang benar saja. Dia akan serumah, satu sekolah, dan satu angkatan dengan pria tampan satu ini! Oh my god ! Oh my god ! Ini sungguh sebuah keajaiban !

Annyeong, aku Byun Taehyung. Kuharap nanti kita masuk kelas yang sama.”

Aish, semoga itu terjadi. “A-aku Oh Sena.”

“Aku sudah tahu,” balas pria itu sambil tersenyum simpul. Ugh … senyumnya bikin wajah memanas saja.

“Dan ini adalah teman-teman anakku. Yang ini Park Jimin, lalu ini Kim Jungkook, dua anak ini juga seangkatan denganmu. Lalu yang sebelah sana itu Jung Hoseok, sebelahnya ada Kim Namjoon, sebelahnya lagi ada Kim Seokjin, mereka sudah setahun tinggal di sini, dan akan jadi kakak kelasmu nanti. Hm … sebenarnya bukan hanya tiga anak itu saja, masih ada satu lagi. Kemana anak itu?” tanya Baekhyun pada Taehyung.

“Aku sudah memanggilnya, sebentar lagi mungkin dia akan turun,” jawab Taehyung sambil menoleh ke belakang.

“Ah baiklah. Intinya mulai sekarang, Sena, kau akan tinggal dengan semua anak-anak ini selain denganku. Bagaimana menurutmu? Kau keberatan? Kalau kau keberatan aku akan carikan apartemen untukmu. Aku tahu pasti sangat tidak nyaman bagi seorang gadis belia sepertimu untuk tinggal dengan banyak pria seperti ini.”

Harusnya Sena mempertimbangkan jawabannya dulu, tapi karena dia terlalu senang melihat pangeran-pangeran tampan di sekelilingnya, tanpa sadar dia langsung menggeleng. “Tidak apa-apa, Samchon. Aku tidak keberatan.”

“Kau yakin? Aku benar-benar tidak mau membuatmu tidak nyaman tinggal di sini, Sena. Aku mengenal baik ayahmu, jadi tidak apa-apa katakan saja yang sebenarnya.”

Tapi Sena tetap pada pendiriannya. Yang benar saja, untuk apa dia harus merasa keberatan tinggal bersama mereka? Ini jackpot! Kapan lagi coba dia bisa mendapat keajaiban ini?

“Baiklah, karena itu keputusanmu. Oh ya, jangan sungkan memberitahuku kalau mereka berbuat yang tidak-tidak. Bahkan meskipun itu Taehyung, aku tidak akan tinggal diam.”

Samchon, kau selalu saja tidak memercayai kami,” celetuk seseorang yang bernama Jimin. Sejak tadi dia duduk tak jauh dari Sena. Sementara di sebelahnya ada Kim Jungkook.

Baekhyun melirik anak itu sedikit kesal. “Kalian memang sulit untuk dipercaya. Termasuk kau, Park Jimin. Sudah berapa banyak piring yang kau pecahkan di rumah ini? Haish, kau baru saja datang tapi sudah membuat ulah.”

Jimin mengerucutkan bibirnya. “Aku tidak sengaja, Samchon. Lagi pula aku hanya memecahkan dua piring. Masih lebih baik daripada Namjoon hyung.”

Namjoon yang disebut namanya langsung mendongak. “Aku hanya merusak barang-barangku sendiri, aku tidak sama sepertimu, babo-ya.”

“Barang-barangmu apanya? Siapa coba yang kemarin membuat penyok tempat sampah? Kau tidak bisa membohongiku, hyung. Aku melihat semuanya.”

“Aish sudah sudah.” Baekhyun pun merentangkan kedua tangannya. Menatap Jimin dan Namjoon secara bergantian. “Kalian berdua itu sama saja, yang satu suka memecahkan piring, satunya suka menendang barang-barang. Ck, kalau kalian tidak mau kuusir dari sini lebih baik diam.”

Jimin dan Namjoon pun tutup mulut. Mereka jauh lebih takut ancaman Baekhyun daripada mengutamakan ego masing-masing.

Baekhyun menghela napas. Ia pun memperhatikan para pria muda di sekelilingnya secara bergantian. “Ke mana si Yoongi? Kalian benar-benar sudah membangunkannya?”

“Aku di sini.”

Semuanya langsung menoleh ke asal suara, termasuk Sena.

DEG!

Oh yang benar saja! Bukannya pria itu adalah pria judes yang ditemuinya di Daegu tadi?!

“Kau!!” Sena seketika bangkit dan mengarahkan telunjuknya pada pria itu. Serius, dia tidak salah lihat. Pria itu benar-benar pria yang tadi.

Sementara itu, si judes berambut hitam hanya menatapnya datar. Tanpa pikir panjang langsung bergabung dengan yang lain, duduk di sebelah Jungkook. Ekspresi wajahnya yang tenang-tenang saja, berkebalikan dengan ekspresi horor Sena, membuat semua orang di sana bertanya-tanya.

“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Baekhyun akhirnya.

“Tidak.” “Tentu saja!”

Semua orang makin dibuat bingung. Jadi siapa yang benar di sini?

“Apanya yang tidak?! Yaa! Kau ini orang yang sama yang sudah melarangku duduk di kereta dan yang mencuri taksiku! Kenapa sih kau selalu muncul di depanku?!” pekik Sena tak terima.

Semua mata tertuju pada Yoongi, tapi Yoongi hanya membalasnya dengan gendikkan bahu. Oh astaga, tingkah sok cool nya ini makin membuat Sena panas saja.

“Baiklah, baiklah. Mari kita selesaikan masalah ini. Sena, duduk dulu,” ujar Baekhyun kemudian. Mau tak mau Sena pun kembali duduk, tapi tidak dengan ekspresi bahagia seperti beberapa menit lalu. Ia melipat kedua tangan di atas perut sambil menatap Yoongi sebal.

Ruang tamu menjadi hening untuk beberapa saat. Semua mata menatap Yoongi dan Sena secara bergantian. Kalau dilihat-lihat Yoongi memang berlagak seolah mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, tapi Sena mengatakan hal yang sebaliknya. Seperti ada ketidaksukaan berlebih di mata gadis itu. Makin diperhatikan makin membingungkan saja.

“Kau bilang kalian bertemu di kereta ‘kan, itu artinya kalian datang dari kota yang sama, begitu?” sahut Taehyung tiba-tiba. Sena mengangguk.

“Aku benci mengatakan ini tapi kami berangkat dari Daegu bersama-sama.”

Yoongi sontak menoleh. “Kami? Bersama-sama? Yang benar saja. Aku bahkan sudah duduk di kereta 2 menit lebih awal darimu.”

Sena mendelik tak suka. “Tapi itu sama saja ‘kan!”

“Bodoh, apanya yang sama.” Pria itu menyeringai sinis sambil kembali menoleh ke depan.

Sebelum Sena makin meledak Jimin pun berusaha menengahi mereka. “Sudah, sudah. Kita ‘kan bisa membicarakannya baik-baik.”

Sena menghela napas keras. “Dengar ya, Judes. Kau sudah melarangku duduk, mencuri taksiku, mengejekku. Hish … seharusnya kau tidak perlu kumaafkan saja.”

Yoongi bukannya kesal justru menyeringai. “Lagi pula siapa juga yang meminta kau memaafkanku? Kurasa aku tidak berbuat salah apa pun padamu.”

“Sial! Kemari kau br******! Ba******! Mati kau!! Kemari kalau kau berani! Yaa!

Jimin seketika bangkit untuk menahan tubuh Sena. “Ey ey, tenanglah nona.” Tapi karena Sena sedang dalam mode buas, Jimin yang notabene seorang pria pun sampai terjerembab begitu wajahnya tak sengaja dipukul Sena. Melihat Jimin tumbang, Jungkook dan Seokjin langsung bangkit untuk bergantian menahan Sena. Oh astaga, bahkan dua pria saja Sena masih mungkin untuk melepaskan diri.

Baekhyun yang sejak tadi menonton, lekas bangkit dan langsung menjewer telinga Sena dan Yoongi dengan kedua tangannya. Jungkook dan Seokjin langsung melepaskan tubuh mungil itu.

“Ah ah, Samchon sakit….” rengek Sena sambil berusaha melepaskan tangan Baekhyun dari telinganya.

“Kenapa aku juga?” dengus Yoongi di sela-sela desisannya.

Baekhyun menghela napas, lalu melepaskan jewerannya bersamaan. “Dengar ya kalian berdua, kalau sampai aku dengar umpatan-umpatan seperti itu lagi, kalian akan benar-benar kutendang dari sini. Mengerti?!”

Sena pun mengangguk. Haish, telinganya panas sekali.

“Ini tidak adil. Yang mengumpat itu dia, kenapa aku- akh!! Baik baik! Aku mengerti, Samchon!”

Sekali lagi Baekhyun menghela napas. “Mulai sekarang kalian akan tinggal di bawah atap ini bersama, jadi mulailah untuk saling berbaikan. Dan untuk Sena, samchon tidak mengerti kenapa kau bisa punya ungkapan kasar sebanyak itu. Samchon sangat kenal ayahmu dan samchon yakin ayahmu tidak pernah bicara seperti itu pada siapa pun. Kau harus memperbaiki kata-katamu mulai sekarang. Mengerti?”

Gadis itu mengangguk lemah. Ugh … kecerobohannya benar-benar membawanya kepada kesialan yang tak berujung. Bagaimana kalau nanti Baekhyun mengadukan ini pada ayahnya? Ah … Sena bodoh! bodoh!

“Ya sudah, semuanya bisa kembali ke aktifitas masing-masing. Sena, ikut aku.”

Sena mengangguk lagi. Sebelum itu dia mendelik pada Yoongi. Seolah mengatakan “awas kau”. Sementara Yoongi mengangkat tangannya seolah ingin memukul Sena.

.

.

TBC

21 responses to “#1 Intro: Girl Meets Evil [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla

    • Pas kamu bilang “emg cocok sma bwaan wjah.a” aku langsung cek gambar dia, nyari di mana letak cocoknya :”D
      Makasih loh ya udah baca + komen + support :*

  1. Huaaaaaaa joha!! Neomu Joha!!
    Tapi kurang suka si sama main cast nya si suga. Kenapa gak jimin ,seokjin atau taehyung kak? Wae? Wae? *itu terserah authornya dodol* oke maafin hayati kak 😂😂
    Tapi berkat tulisan kakak aku jd gak mempermasalahkan cast cwo nya siapa. Syukak sama tulisan dan alurnya. Dan byun baekhyun, woaaahh dia si mirip susana yg selalu awet muda bhaks :v
    Kak, ada akun pribadi? Kayak fb gitu. Biar enak ngobrolnya trus enak juga nanyain ff nya hehe.

    • Cast utamanya ada 3 say :”D itu di cover udah keliatan, Jimin x Taehyung x Suga :”D Tapi beda peran aja, nanti juga tahu apa aja peran si Jimin ama Taehyung :”D Aku cuma lagi coba cast baru, udah banyak yg pake Taehyung, ff ku dulu juga pake Taehyung (ft Jungkook) :”D nah sekarang gantian deh. ih makasih banget loh ya supportnya > https://www.facebook.com/ohnajla.byun.do
      Namaku sering ganti2, tapi sekarang namanya Min Najla Di Raizel, potonya bang Agus.
      sekali lagi makasih ya udah baca + komen :*

      • Wkwkkw oh ternyata ada 3 ya. Abisnya yg pertama kali ketemu sena kan suga, jadi aku pikir si suga maincast nya heheh. Oh ya uda aku add ya kak. Makasih loh kak uda ngasi tau fb nya hoho.
        Semangat terus ya kak 😄

  2. Wah gak ngebayangin itu bapak rasa kakak.. hahaha
    kyknya seru main castnya yoongi, karakternya cocok sama wajahnya yg judes2 tp tetep ganteng

  3. Si suga aduh cocok dah kalo jadi yang dingin2(?) wkwk. Sebenarnya aku pengennya taehyung huhu. Tapi ya gapapalah ye yg penting taehyung nya mah masih ada😀😀 Bagus ceritanya😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s