#2 Begin [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla

2-begin

ohnajla | romance, school life, songfic, drama, friendship, family, brothership, teen | G | chaptered |

All member BTS

Oh Sena (OC)

All member EXO (cameo)

“Bayangan akan segelas wine, hancur sudah begitu pria itu menampakkan batang hidungnya. Oh bagus, bagus sekali, sepertinya ini tidak akan seindah yang ia bayangkan kemarin malam. Sial, setelah lolos dari kandang macan, kenapa ia bisa-bisanya tersasar ke kandang buaya? Oh sh*t!”

Blood Sweat & Tears concept

#1 Intro: Girl Meets Evil

#2 Begin

Hari sekolah akhirnya datang juga. Sena sudah siap dengan seragam barunya. Terlihat sangat cocok dan pas di tubuh. Hm … tidak sia-sia juga dia menyandang marga ‘Oh’. Sepertinya dia harus berterima kasih pada sang ayah yang telah memberinya kulit putih bersih dan bentuk wajah yang indah. Meskipun dia harus rela memiliki tinggi tubuh yang rata-rata dari ibunya. Setelah menambahkan jepit bermotif sepatu sneakers, ia pun bergegas keluar dari kamarnya.

Baekhyun serta tujuh remaja pria berseragam lainnya ternyata sudah menunggu di lantai bawah. Sena menghampiri mereka dengan langkah riang. Benar-benar tidak tahu diri kalau dia sudah membiarkan mereka menunggu lama.

Yoongi yang sudah kesal sejak tadi langsung menyentak. “Yaa! Cepatlah sedikit! Dasar lambat!”

Senyum di wajah Sena mendadak pudar. Cih, pria itu benar-benar. Tapi Sena berusaha untuk tidak mengumpat, ia tidak mau pergi dari sini hanya gara-gara pria judes itu. Ia pun menghampiri yang lain. “Maaf sudah membuat kalian menunggu.”

Taehyung memperhatikannya dari bawah ke atas. “Wah … kau cantik sekali.”

Pipi Sena spontan memerah, reflek kedua tangannya menangkup pipi. “Ah terima kasih.”

“Jepitmu lucu,” celetuk Hoseok sambil menyentuhnya. Jimin dan Jungkook yang ada di dekatnya juga bergantian menyentuh jepit itu. Mereka tertawa geli sambil menggumamkan “kawaii”.

Baekhyun tersenyum tipis. “Kalau sudah ayo kita berangkat.”

Yoongi pun bangkit dari duduknya. “Apanya yang lucu? Kalian pikir itu masuk akal? Sepatu itu dipakai di kaki, bodoh. Bukan di kepala.”

Mendengarnya Sena langsung mendelik sewot. “Apa katamu? Yaa!! Memangnya kau ini sejenius Einstein?! Jangan seenaknya menyebutku bodoh ya! Aku ini langganan juara parallel sejak sekolah dasar! Dengar itu Judes!”

Yoongi hanya terus melenggang sambil mengorek kupingnya sebagai ungkapan “aku tidak dengar apa pun”. Jelas saja hal itu membuat Sena kesal.

“Ya, begitu saja terus! Kudoakan telingamu jadi tuli!”

Para pria di sana terkekeh, merasa terhibur. Baekhyun pun menyuruh mereka untuk mengikutinya. Sena menoleh ketika Jimin meraih lengannya. Pria itu tersenyum tipis sambil menggumamkan, “Kaja.”

Pipi Sena memerah. Mereka pun berjalan bersandingan mengikuti kemana Baekhyun pergi. Rupa-rupanya mereka akan pergi ke sekolah dengan menaiki sebuah bus. Agak aneh memang, tapi begitu dilihat bagian dalamnya, ternyata ini bukanlah bus biasa. Ini bus termahal dan termewah yang ada dalam sejarah. Yang benar saja, apa mungkin kita bisa merasakan sensasi masuk hotel berbintang 5 khas Dubai saat masuk bus? Jawabannya sudah pasti tidak mungkin, tapi bagi bus ini jelas mungkin. Karena itulah yang dirasakan Sena saat masuk ke dalamnya. Bus ini sangat hebat!

Bukan Baekhyun yang menyetir, tapi seorang ahjussi yang memakai tuxedo hitam lengkap dengan sunglass. Baekhyun malah duduk di belakang, bergabung bersama yang lain. Saat bus mulai melaju, semuanya sibuk dengan dunia masing-masing. Taehyung dan Jungkook asyik bermain playstation dari layar TV utama. Seokjin dan Namjoon sibuk menyimak berita hari ini dari layar TV kedua. Jimin dan Hoseok mengobrol tentang dance. Sementara Baekhyun ada di belakang, membuat kopi.

Sena sendiri sibuk memperhatikan sekitar. Ini adalah pertama kalinya dia masuk ke sebuah bus yang sehebat ini. Sungguh tidak disangka dia akan menemukan bus seperti ini. Benar-benar seperti hotel mewah, bahkan ia tidak merasa sedang ada di sebuah bus yang berjalan dengan kecepatan 70 km/jam.

Baekhyun menghampirinya dengan segelas kopi panas. Pria itu langsung duduk di sampingnya tanpa banyak bicara. Kesempatan ini digunakan Sena untuk bertanya.

Samchon, busnya keren sekali. Berapa harganya?”

“Hm … Dua koma lima juta … US Dollar.”

Ne?! Jeongmal-yo?!”

Pria itu mengangguk. Lalu menyesap kopinya dengan nikmat. “Taehyung menyukainya, jadi aku pun membelinya.”

Sena dengan segera mengeluarkan ponsel, membuka situs konversi mata uang, lalu mengetikkan nominal itu di kolom US Dollar. Dengan sekali klik, nominal won Korea pun keluar. Matanya membelalak saking terkejutnya.

“Woah! Daebak! Kau pasti saaaaangat kaya sekali, Samchon. Woah … nol nya sampai sebanyak ini….” bibirnya bergumam menghitung jumlah nol yang tertera.

Yoongi yang sejak tadi berbaring di sofa yang berada tepat di hadapan Sena, melirik gadis itu sambil pasang ekspresi kecut. Gara-gara pekikan gadis ini, tidur singkatnya jadi terganggu. “Ck, kampungan.” Matanya pun kembali terpejam.

Sena mendesis kesal. Mengganggu kebahagiaan orang saja. Lagian sejak tadi bukannya pria itu tidur terus? Memang semalam dia melakukan apa sampai harus tidur di pagi hari seperti ini? Ah … kenapa juga harus ia pikirkan? Itu kan urusannya sendiri.

Tiba-tiba sebuah ide menarik melintas di kepalanya. Sambil tersenyum misterius, ia pun melakukan sesuatu di ponselnya. Lalu dengan diam-diam mendekat, mengarahkan sound ponsel ke telinga pria itu dan….

FIREEEEEEE!!!

Yoongi sontak terlonjak diikuti dengan derai tawa dari Sena. Gadis itu terlihat sangat puas. Ia bahkan sampai berurai air mata, efek terlalu heboh tertawa. Baekhyun hanya mengamati mereka sambil menyeringai tipis. Dasar anak-anak. Sementara yang lainnya, ikut tertawa tapi tidak seheboh tawa Sena. Yoongi sendiri hanya bisa mengumpat dalam hati. Sialan kau, Oh Sena. Tunggu pembalasanku nanti.

follow blog baru author => ohnajla blog

Tak lama kemudian sampai juga mereka di halaman depan SMA Hanyang. Bus berputar-putar sebentar sebelum kemudian berhenti. Mereka selain Baekhyun langsung berbaris untuk bergantian keluar. Yang ada di barisan depan sudah pasti para senior. Sedangkan Sena, menjadi pemisah antara senior dan junior, lebih tepatnya dia berdiri diantara Yoongi dan Taehyung.

Yaa! Cepatlah sedikit! Kau ini lambat sekali ya!” teriak Sena sambil berjinjit untuk menjangkau telinga Yoongi. Ia sengaja melakukannya. Tadi sudah telinga kanan, sekarang giliran telinga kiri.

“Tutup mulutmu, pendek,” balas Yoongi singkat sambil menutup telinga kirinya. Gara-gara suara keras dari ponsel Sena tadi, telinga kanannya jadi sering berdengung. Sialan, mana mulai hari ini dia akan menjadi ketua klub musik pula, bagaimana kalau sampai telinganya kenapa-napa?

Mirror please! Kau ini juga paling pendek dari mereka semua, jangan kira aku tidak tahu itu! Sama-sama pendek dilarang saling menghina!” Sena benar-benar tidak peduli mau gendang telinga Yoongi rusak atau tidak. Yang pasti melakukan ini membuatnya puas. Hahaha, akhirnya dia bisa membalas semua perlakuan pria ini waktu itu.

Taehyung terkekeh. Sena pun menoleh, ikut terkekeh bersamanya.

“Kau ini lucu sekali,” gumam pria itu sambil mengacak rambut Sena pelan.

“Terima kasih.”

Yoongi mendecih. “Dasar penggoda.”

Sena pun mendelik sewot. Tepat di saat itu Yoongi sedang menuruni tangga bus. Aha! Kesempatan! Tanpa perlu pikir panjang dia langsung melompat dan….

Grep!

Bruk!

“Akh!!”

Sena pun berguling ke kanan sambil tertawa lepas. Dia segera berdiri, menunjuk-nunjuk Yoongi dengan tawa kerasnya. Bahkan sedikit pun dia tidak merasa bersalah. Yoongi yang merasa bahwa beberapa bagian tubuhnya lecet, benar-benar tidak terima diperlakukan seperti itu. Seperti sedang kesetanan dia pun berdiri, membanting tasnya ke jalanan dan langsung mengejar kemana perginya si Sena.

Yaa! Berhenti di sana!”

Sena terus berlari sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memamerkan lidahnya. Dia terlihat sangat bahagia, berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Yoongi.

Sementara itu, Taehyung, Jimin dan Jungkook yang sudah turun dari bus langsung bergabung dengan tiga seniornya, hanya bisa mematung menonton aksi kejar-kejaran mereka berdua. Demi apa, Sena benar-benar usil. Pemandangan ini adalah pertama kalinya bagi mereka melihat Yoongi lari-lari di pagi hari. Padahal Yoongi paling tidak suka disuruh membuang-buang tenaga kalau masih pagi.

Yoongi pun kembali tanpa membawa hasil. Berputar-putar seperti itu ternyata melelahkan juga. Dadanya naik turun, wajahnya perlahan memerah. Dia pun memungut tasnya, membersihkannya lebih dulu, baru mencangklongnya di punggung.

“Gadis sialan.”

“Ini pertama kalinya aku melihatmu lari pagi, hyung,” ujar Jungkook tanpa basa-basi. Didekatinya Yoongi, lalu ditepuknya bahu pria itu sebanyak dua kali.

“Diamlah. Gadis sialan itu benar-benar cari mati denganku.”

Yaa! Hanya segitu saja kekuatanmu?! Cih! Fisikmu pria, tapi kekuatan wanita! Huuu~~”

“Sialan!”

Sekali lagi tas hitam itu dicampakkan kembali oleh pemiliknya. Terjadilah aksi kejar-kejaran untuk kedua kalinya. Namun untuk kali ini para penonton sudah bosan. Mereka memutuskan untuk masuk duluan, meninggalkan sejoli itu juga tas hitam yang sedang menangis dalam diam. Bel akan berbunyi sebentar lagi.

**

SMA Hanyang menjadi SMA paling favorit dari yang terfavorit di Seoul. Mahalnya harga SPP perbulannya sebanding dengan fasilitas yang disediakan. Sena tak hentinya berdecak kagum saat melihat semua kemewahan di depan mata. Tidak aneh, ini kan Seoul. Beda lagi kalau Daegu. Meskipun sudah masuk kota metropolitan di Korea Selatan, sekolah terfavoritnya masih kalah mewah dari sekolah ini. Mungkin karena ini berkorelasi dengan ekonomi masyarakatnya.

Siswa kelas satu akan melakukan orientasi, itulah kenapa sekarang Sena pergi menuju aula bersama Taehyung, Jimin dan Jungkook. Dia berjalan lima meter di belakang mereka. Agak sungkan sebenarnya kalau harus berjalan di samping mereka. Oh plis, dia tidak sedang syuting Boys Before Flower, oke? Jadi untuk apa dia harus sok-sok-an bergabung dengan para flower boys ini? Lagi pula dia sadar dengan tinggi badannya yang masuk kategori ‘ironis’ ini.

Lima menit berlalu, sampailah mereka di gedung aula. Gedung ini sangat besar, kalau menurut Sena, tempat ini malah terlihat seperti gedung resital musik. Dengan panggung permanen di ujung ruangan, dan atap tinggi yang memperlihatkan lantai dua di sayap kanan dan kirinya. Kalau saja didukung dengan red carpet, bisa-bisa tempat ini malah terkesan seperti ballroom kerajaan dibanding aula sekolah.

Ia duduk di barisan keempat dari depan, tepat di sebelah Jimin. Kehadirannya membuat Jimin terkejut. Yang benar saja, sejak tadi dia terus mengobrol dengan Jungkook dan Taehyung jadi mana dia sadar kalau ada ‘makhluk lain’ yang mengikuti mereka.

“Kupikir kau masih kejar-kejaran dengan Yoongi hyung,” celetuknya setelah Sena duduk.

“Pria judes itu sudah menyerah mengejarku. Astaga, baru kali ini aku melihat pria yang sangat lemah sepertinya,” balas Sena sembari mengambil ikat rambut dari dalam tas. Tanpa sekalipun menoleh pada Jimin, ia pun langsung menyatukan semua helai rambutnya menggunakan ikat biru muda itu.

Jimin tersenyum tipis. “Kalian sepertinya sangat dekat, ya? Ini pertama kalinya ada seseorang yang berani memanggilnya begitu.”

“Oh ya?” Sena meliriknya sekilas. “Jadi aku yang pertama memanggilnya begitu?”

Eo. Karena kau yang pertama jadi kupikir kalian dekat.”

Gadis itu tersenyum sinis. “Tentu saja tidak. Apa untungnya aku dekat dengan pria seperti itu? Baru lari sedikit saja sudah hampir pingsan, ckckck. Benar-benar mengenaskan.”

Jimin tertawa pelan. “Kalau kau bicara seperti itu di depannya, dia akan saaangat marah. Kau tahu, dia itu kapten basket di sekolah ini.”

Jeongmal-yo?” Sena membelalak tidak percaya. “Ah … tidak mungkin.”

“Apanya yang tidak mungkin, dia yang mengajariku basket,” sahut Taehyung yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka. Sena langsung meliriknya, anehnya pipinya tiba-tiba memanas.

“B-benarkah?”

Jungkook mengangguk. “Yoongi hyung adalah seorang atlet.”

Sena tak mampu untuk berkata-kata lagi. Yang benar saja, mana mungkin pria lemah seperti itu adalah atlet. Ck, entahlah, akan dia buktikan nanti kalau dia bisa melihatnya sendiri.

Beberapa orang berseragam yang tak lain adalah kepala sekolah, guru serta senior, tiba-tiba masuk ke ruangan dan naik ke atas panggung. Seketika ruangan yang gaduh pun berubah senyap. Sound berdengung nyaring. Acara orientasi peserta didik baru pun dimulai.

Setelah dibuka dengan sambutan dan pidato para petinggi sekolah, para siswa baru pun di kelompokkan menurut barisan duduk masing-masing untuk melakukan tour singkat keliling sekolah. Satu kelompok terdiri dari tiga barisan. Itu artinya Sena berserta tiga pria di sampingnya berada di kelompok dua. Mereka dikawal oleh seorang senior yang datang sedikit terlambat ke aula ini. Dan orang itu adalah….

“Oh?! Yoongi hyung!” pekik Taehyung semangat. Karena suaranya sangat berat dan keras, semua orang yang ada di kelompok itu pun langsung membuang pandangannya pada sosok pria yang tampak santai berjalan mendekati mereka.

Oh sial. Sena pun segera bergeser ke belakang Jungkook. Kenapa sih harus orang itu lagi?

Yoongi membalas sapaan Taehyung dengan senyum tipis. “Senang bertemu denganmu lagi, Taehyungie.”

Taehyung tersenyum lebar.

“Oke, aku akan mulai dengan perkenalan diri. Namaku, Min Yoongi. Kalau kalian penasaran, aku duduk di kelas 2-1, pemimpin tim basket sekolah dan ketua club musik klasik yang baru. Jadi bagi kalian yang nantinya berminat untuk masuk dua ekstrakulikuler itu, silahkan temui aku di kelas 2-1. Ah ya, hari ini aku mendapat tugas untuk memandu kalian. Sebelum itu, bisakah kalian berbaris? Byun Taehyung, kau pimpin mereka membuat barisan.”

Taehyung pun merangsek maju dengan bangga. Tentu saja dia senang karena mendapat perhatian lebih dari hyung serta seniornya ini. Dengan suara lantang, dia langsung memerintahkan semua temannya untuk membuat tiga barisan. Yoongi hanya berdiri di dekatnya sambil memperhatikan wajah para juniornya satu persatu.

Semua berbaris dengan tenang dan rapi, tapi ada satu yang terus-terusan gelisah. Yoongi memicingkan mata, kemudian mengambil langkah untuk mendekat.

Sementara itu masih di belakang Jungkook, Sena tampak tidak bisa diam. Gadis itu sampai tidak mendengar apa yang diperintahkan Taehyung. Haduh bagaimana ini, kalau dia tahu aku di sini bisa-bisa…

“Hei nona, kau sedang tidak enak badan?”

Sena terkesiap. Oh tidak, suara ini….

Saat dia mengangkat kepalanya, tatapan Yoongi yang tajam pun langsung menusuk iris matanya. Astaga … mengerikan sekali. Tidak sampai dua detik, dia kembali menatap ke bawah.

“Ti-tidak.”

“Lalu kenapa kau terlihat gelisah seperti itu?”

Hiks, rasanya seperti ingin menangis saja. Oh ayolah, kenapa dia tiba-tiba seperti ini? Bukankah sebelum-sebelumnya justru dia yang menantang pria ini? Tapi kenapa sekarang situasi jadi berbalik?

“Kalau ada orang yang bicara itu dengarkan. Tatap matanya.”

“Ma-maaf.”

Yoongi menyeringai. Puas. Sekarang dia tahu di mana kelemahan seorang Oh Sena.

“Baiklah, mari kita mulai tour-nya.” Ia pun berbalik dan mengomando yang lain untuk mengikutinya. Sena menghela napas lega. Ah … akhirnya berakhir juga.

“Kau tidak apa-apa?”

Gadis itu reflek menoleh. Jimin, yang ada tepat di sebelahnya, tampak sedang memasang ekspresi khawatir. Ia pun menggeleng sambil tersenyum meyakinkan.

“Yakin?”

Ia mengangguk.

“Baiklah. Kaja.”

Sena mengusap peluh di keningnya sebelum mengikuti langkah yang lain. Hah … yang benar saja. Apa dia setakut itu pada Yoongi sampai Jimin menghawatirkannya? Oh astaga … ternyata efek peristiwa itu masih terbawa sampai sekarang.

Yoongi melakukan tugasnya dengan baik. Tidak seperti senior lainnya yang hanya menjelaskan secara umum, pria ini menjelaskan semua tempat dengan rinci dan jelas. Karena itulah dia tidak mendapat banyak pertanyaan. Tour mereka berakhir 90 menit kemudian. Tiga puluh menit lebih lama dari kelompok yang lain.

Setelah tour berakhir, semuanya diharap kembali ke aula. Kini saatnya pengumuman pembagian kelas. Pembagian ini dilakukan berdasarkan prestasi yang dimiliki masing-masing siswa. Sena mendengar namanya disebut untuk kelas 1-1. Lalu diikuti Taehyung, Jimin dan Jungkook. Kelas ini akan dipandu oleh seorang wanita berkepala tiga selama satu tahun ke depan. Setelah semua kelas terbentuk, masing-masing wali kelas mengomando anak muridnya ke ruangan yang akan ditempati untuk proses belajar mengajar.

“Aku sangat setuju kalau Sena yang masuk kelas ini. Tapi kita bertiga?” celetuk Jimin tiba-tiba. Mereka dalam perjalanan menuju kelas 1-1, kali ini Sena tidak berjalan di belakang lagi.

“Aku juga tidak tahu. Malah kupikir kita akan ditempatkan di kelas yang berbeda,” sambung Jungkook.

“Anggap saja ini semacam mukjizat,” balas Taehyung ala kadarnya. Sontak tiga lainnya termasuk Sena tertawa.

“Mungkin kalian hanya tidak sadar. Bisa jadi prestasi kalian ada di atas rata-rata.” Sena berucap sekadar untuk menyemangati mereka.

“Di atas rata-rata apanya, haha.” Jimin tertawa. “Peringkat paralelku sewaktu SMP hanya bertahan di 50 besar. Dan aku tidak pernah ikut lomba apa pun.”

“Itu masih lumayan,” sahut Jungkook. “Kalian tahu? Peringat tertinggi yang pernah kudapat itu 150. Nomor 11 dari bawah.”

Jimin tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. “Ya, itu benar. Aku tidak pernah melihat namanya di peringkat atas, jadi kupikir seonsaengnim lupa kalau dia juga murid di sekolah itu. Haha. Tapi itu tidak masalah, kau ini sangat berbakat di olahraga.”

“Kalian mau tahu peringkatku?” celetuk Taehyung tiba-tiba.

“Berapa?” tanya Sena, Jimin dan Jungkook hampir bersamaan.

“Satu.”

“…”

“Dari bawah.”

“Hahahahaha.”

Siswa lain yang ada di sekitar mereka tampak terganggu. Tatapan mereka seolah mengatakan, “orang-orang ini kenapa sih?” “apanya yang lucu?” “kampungan”.

Tawa mereka mereda setelah sampai di ruangan yang bertuliskan ‘1-1’. Semuanya dipersilahkan untuk memilih pasangan duduk masing-masing. Empat anak ini langsung memboking dua bangku paling belakang. Sebelum duduk, mereka memutuskan untuk menentukan pasangan dengan batu gunting kertas.

“Batu gunting kertas!”

“…”

“Batu gunting kertas!”

“…”

“Batu gunting kertas!”

“…”

“Batu gunting kertas!”

“…”

“Sampai kapan kita akan seperti ini?” keluh Jimin akhirnya.

“Batu gunting kertas!”

“…”

“Jungkook out,” seru Taehyung sambil mendorong Jungkook untuk pergi dari lingkaran.

“Batu gunting kertas!”

“…”

“Oh? Aku kalah. Baiklah, jadi aku dengan Jungkook, kau dengan Sena,” ujar Jimin kemudian.

“Kalian berempat cepat duduk,” sahut wali kelas dari muka kelas.

“Baik, seonsaengnim.”

Sempat ada cekcok sebentar antara Taehyung Sena soal posisi duduk. Tapi setelah ditentukan dengan batu gunting kertas –ronde kedua, akhirnya mereka pun duduk dengan tenang. Taehyung duduk di dekat jendela, Sena ada diantaranya dengan Jimin, sementara di ujung sana ada Jungkook. Posisi ini membuat Sena banyak tersenyum. Tidak menyangka kalau dia akan duduk dengan Taehyung mulai sekarang. Ah … pipinya panas sekali….

.

.

TBC

9 responses to “#2 Begin [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla

  1. aku sih bukan army… tapi kyknya ff ini keren… oke ijinkan aku baca ya thor~ ditunggu kelanjutannya… keep writing and hwaiting ^^

  2. enak banget njir itu jadi sena 😂 dikelilingi cogan cogan, uuh apalagi kalo udah punya pacar kaya yoongi hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s