[CHAPTER 3] SALTED WOUND BY HEENA PARK

salted-wound-cover

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPADAnd thanks to Byun Hyunji for this awesome poster!

.

.

Prev :

TEASER

CHAPTER 1

CHAPTER 2

.

 

Se-Hun membawa Hee-Ra menuju salah satu Rumah Sakit. Mereka bertemu seorang dokter yang rupanya sangat dikenal baik oleh Se-Hun.

Paul Roberto—seorang pria keturunan Perancis-Amerika, berambut coklat sepundak dan selalu diikat ke belakang, matanya abu-abu, ia begitu sopan dan menawan.

“Sebagai seorang penari tidak heran kalau terkilir seperti ini.” Paul kembali duduk di kursinya, membiarkan Hee-Ra tetap di atas ranjang periksa. “Lukamu cukup parah, untung kau cepat mengobatinya kemarin. Aku akan buatkan resep,” lanjutnya kemudian mulai menulis.

Hee-Ra bangkit, ia meraih kruk dan berusaha duduk di depan Paul.

“Apa aku bisa sembuh dalam Seminggu?”

Paul memicingkan matanya, berpikir sebentar. “Bisa, tapi kau harus beristirahat dan tidak boleh menari paling tidak dua Minggu.”

Dua Minggu? Yang benar saja!

Paul menyodorkan secarik kertas resep. “Sejujurnya aku sangat terkejut saat Se-Hun menghubungi dan berkata akan kemari dengan kekasihnya,” ia menaikkan kedua pundaknya bersamaan. “Well, aku tak pernah melihatnya bersama gadis selama ini, aku sempat mengira dia adalah gay.” Paul tertawa.

Sementara Hee-Ra hanya mengerutkan keningnya. Apa maksud Se-Hun berkata kalau Hee-Ra adalah kekasihnya?

Apa dia mulai sinting?

“Dia adalah pria yang baik Shin Hee-Ra, aku bisa berkata seperti ini karena telah mengenalnya tiga tahun belakangan. Aku yakin kau sangat istimewa baginya.”

Oh ya ampun, rupanya Paul sudah dibodohi oleh Se-Hun. Jelas saja Se-Hun bersikap baik di depannya, sangat berbeda dengan apa yang dirasakan Hee-Ra selama ini.

Andai saja Paul tahu bahwa Se-Hun adalah pria berdarah dingin, arogan, dan selalu bersikap semaunya sendiri. Bisakah ia berkata seperti itu?

Tak lama setelah Paul menyelesaikan kalimatnya, pintu terbuka. Sosok Se-Hun muncul dari sana, ia tanpa permisi langsung duduk di samping Hee-Ra.

“Tenanglah, aku tak akan menggoda kekasihmu,” Paul melirik Hee-Ra sebentar.

Mendengar ucapan Paul, Se-Hun tertawa pelan. “Dia sangat sulit digoda, asal kau tahu.”

“Ya…aku tahu itu,” Paul mengangguk-anggukkan kepalanya, “ia bahkan tak tertarik sedikitpun padaku, aku sakit hati melihatnya,” balas Paul sambil memasang wajah sedih.

Well, apa kalian sudah selesai?” tanya Se-Hun tanpa basa-basi.

“Aku baru saja memberikan resep untuknya. Sepertinya kau sudah rindu sekali dengan Hee-Ra, padahal kalian baru berpisah sepuluh menit.”

“Tentu, aku selalu rindu dengannya,” dan aku tak ingin gadis ini berkata yang tidak-tidak, “kalau begitu, aku bisa segera menebus resepnya, bukan?”

“Oh? Tentu,” Paul berhenti sebentar, ia menunjukkan senyumnya yang paling manis kepada Hee-Ra. “Cepat sembuh Shin Hee-Ra, glad to meet you.”

Hee-Ra hanya membalas tersenyum, keberadaan Se-Hun di sampingnya membuat Hee-Ra terpaksa diam. Ia tak boleh sampai salah bicara.

Begitu keduanya berpamitan dan menebus resep, Se-Hun tak melepaskan Hee-Ra begitu saja. Mereka pergi ke taman, duduk di bangku dekat air mancur, sebuah pohon besar melindungi mereka dari panasnya terik matahari.

“Apa maksudmu berkata kalau aku adalah kekasihmu pada dokter Paul?”

Se-Hun tidak langsung menjawab, ia merenggangkan otot lengannya sebentar. “Kau tidak suka?”

Ya!

Jelas Hee-Ra tidak menyukainya.

“Oh Se-Hun, aku tidak peduli dengan otakmu yang entah berfungsi atau tidak itu, tapi kita adalah saudara! Kita lahir dari ibu yang sama!”

Se-Hun melengus, ia tak suka dibilang lahir dari ibu yang sama oleh Hee-Ra.

“Lalu?”

Lalu? Apa pria ini sudah benar-benar gila? Apa dia tidak bisa berpikir?

Berusaha menahan amarahnya, Hee-Ra menarik napas dalam-dalam dan menghebuskan perlahan. “Kau tidak mungkin memilikiku, Oh Se-Hun.”

“Tidak!” elakan keras terlontar dari mulut Se-Hun, ia menengok, mencengkeram erat kedua pundak Hee-Ra. “Kau adalah milikku, Shin Hee-Ra. Selamanya akan tetap seperti itu.”

Berakhirnya ucapan Se-Hun dilanjutkan dengan mendekatnya kepala pria itu ke arah Hee-Ra. Tanpa bisa bergerak atau meronta, Se-Hun sudah lebih dulu menempelkan bibirnya di bibir Hee-Ra serta melumatnya kasar.

Tidak peduli dengan orang yang lewat, tidak peduli dengan tubuh Hee-Ra yang menegang, tidak peduli dengan apapun yang ada di dunia ini.

Selama beberapa detik Hee-Ra hanya diam, ia terlalu terkejut untuk melakukan apapun. Sampai akhirnya kesadaran itu kembali. Sekuat mungkin Hee-Ra berusaha mendorong Se-Hun dan melemparkan tamparan keras tepat di pipi kanan pria itu.

Wajahnya memerah, bekas dari tamparan yang dilayangkan Hee-Ra.

Bukannya meringis kesakitan, Se-Hun malah tertawa mengejek, ia mengusap pelan pipinya. “Aku akan pergi selama beberapa hari. Jaga dirimu dari semua pria yang berusaha mendekatimu, bibirmu sudah menjadi hak milikku, sayang.”

 

•••

 

Setelah diantar Se-Hun sampai rumah, Hee-Ra langsung masuk ke kamarnya. Bersandar pada headboard, memikirkan kejadian yang baru saja ia lewati.

Se-Hun menciumnya.

Ia tak habis pikir bahwa Se-Hun akan senekad itu. Jujur saja ia merasa dilecehkan.

“Sayang?”

Suara lembut ibunya berhasil membuat Hee-Ra tersadar. Wanita itu duduk di pinggir kasur, membelai rambut panjang Hee-Ra penuh kasih sayang.

“Mama tahu kau pasti sangat terpukul dengan kejadian ini, tapi itu bukan berarti semuanya berakhir, sayang.”

Ibunya memang begitu. Sosok wanita yang selalu berusaha menguatkan orang terdekatnya. Begitupula pada Hee-Ra. Kang So-Hee mengerti seberapa besar keinginan Hee-Ra untuk berdiri di sana, panggung yang selalu ia bicarakan empat tahun belakangan dengan wajah sumringah.

“Aku tidak apa-apa, mungkin sekarang memang belum saatnya,” ia terdiam sebentar, mendongakkan kepala dan menggigit bibir bawahnya. Salah satu cara yang dilakukan Hee-Ra untuk menahan tangisnya.

Lantas, So-Hee menarik Hee-Ra dalam pelukannya. “Mama dan papa bangga padamu sayang, begitupula kakakmu.” Ia melonggarkan pelukannya dan menangkup kedua pipi Hee-Ra. “Kakakmu sangat bangga padamu, dia sangat mencintaimu, sayang.”

Kakaknya?

Pasti hanya sandiwara belaka.

“Mama tahu kalau Se-Hun adalah anak hasil perbuatan haram mama sebelum bertemu papamu, tapi mama mohon, sayangilah dia, karena bagaimanapun Se-Hun adalah bagian keluarga kita.” Tangisnya pecah, walau hanya sekedar isakan kecil, namun rasa bersalah jelas nampak di wajah Kang So-Hee. “Mungkin mama adalah ibu paling tidak bertanggung jawab di dunia ini. Bagaimana mungkin mama bisa melupakan darah daging mama sendiri?”

Hee-Ra tak suka ibunya menangis. Selama empat tahun ibunya selalu menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan Hee-Ra sering melihat ibunya datang ke kamar Se-Hun saat malam, ia diam-diam mengintip sang ibu yang menangis dalam kegelapan sembari mengusap kepala Se-Hun, juga mengucapkan maaf berkali-kali.

Hee-Ra menggelengkan kepalanya, menolak opini dari sang ibu, “Tidak ma, yang penting sekarang dia sudah bersama kita..”

Kang So-Hee mengangguk, ucapan Hee-Ra memang benar. Setidaknya, mulai saat ini ia bisa memperbaiki dan mencurahkan kasih sayang pada putranya.

Kang So-Hee menatap mata putrinya dalam-dalam, terlihat kesungguhan dalam kilatan mata itu,.”Mama harap…kau bisa benar-benar menerima Se-Hun sebagai kakakmu…karena bagaimanapun,” Kang So-Hee terhenti, ia menundukkan kepalanya, menahan tangis yang terus mengalir. “Bagaimanapun juga…dia adalah darah daging mama..”

Kenyataan memang terkadang tak seindah harapan. Dua sisi saling bertolak belakang yang ada dalam diri Hee-Ra saling menguat. Satu sisi berkata sangat membenci Se-Hun, tapi sisi lain mengingatkan bahwa Se-Hun adalah kakaknya.

Kakak yang harus ia hormati, kakak yang harus ia sayangi, kakak yang kemungkinan telah kehilangan kewarasannya karena kurang cinta dari seorang ibu hingga menjadi sekejam itu.

Hee-Ra terdiam sesaat, ingin sekali rasanya menguak kebenaran pada sang ibu, tapi ia tak sampai hati untuk menghancurkan perasaan ibunya.

“Iya ma…aku…aku menyayanginya…”

 

•••

 
Tiga hari berselang tanpa kehadiran Se-Hun rupanya menyenangkan. Hidupnya tak lagi tertekan, Hee-Ra bisa bernapas panjang dan pergi dengan Jong-In tanpa takut Se-Hun melakukan sesuatu yang berbahaya.

Charlie Sullivans—seorang chief kepolisian yang juga merupakan paman Jong-In tengah sibuk memandang berkas di atas meja. Hee-Ra yang kala itu baru sampai bersama Jong-In langsung duduk di sampingnya.

“Bagaimana keadaanmu, little girl?” tanya pria yang langsung menyadari kehadiran Hee-Ra.

Meringis sebentar. “Sudah lebih baik daripada sebelumnya.” Ia melirik ke arah tumpukan berkas. “Kasus baru lagi, paman?”

Charlie mengangguk mantap. “Orang hilang, ada kemungkinan diculik atau pergi atas keinginannya sendiri.”

Jawaban Charlie membuat Hee-Ra makin penasaran, ia mendekatkan kepalanya dan menatap foto dari wanita cantik berambut hitam, netranya hijau menyala, cantik bak putri di Negeri Dongeng.

“Dia Janetha Loussandro, salah satu calon pewaris LS,” Jong-In yang tiba-tiba datang sambil membawa segelas sirup langsung menyahut begitu saja. “Team paman sudah mencari sejak beberapa hari yang lalu, namun belum ada petunjuk. Kemungkinan dia pergi ke luar negeri, tapi tidak ada informasi mengenai kepergiannya. Jadi, bisa saja ia pergi secara ilegal.”

Tercengang akan kelihaian Jong-In, Hee-Ra membulatkan mulutnya. Ia selalu berpikir kalau kekasihnya memang cocok berkarir di bidang militer.

Well, hampir seluruh anggota keluarga Jong-In bekerja sebagai polisi dan tentara. Hanya dia saja yang memilih dance sebagai tujuan hidup.

“Minumlah,” Jong-In menyodorkan segelas sirup dingin pada Hee-Ra yang langsung diterima dengan senang hati oleh gadis itu.

Mrs. Sanders bilang tiket untuk pertunjukan kita sold out.”

“Benarkah?” Hee-Ra membulatkan matanya. “Aku belum memesan untuk keluargaku.”

“Tenang,” Jong-In mengedipkan sebelah matanya. “Aku sudah memesan empat tiket untukmu.”

“Dan kau melupakan pamanmu yang tampan ini?” celetuk Charlie tiba-tiba.

“Oh?” Jong-In tertawa. “Aku juga sudah memesan dua tiket untuk paman dan bibi. Ekslusif, kalian ada di baris paling depan,” jawabnya senang.

Sementara Hee-Ra sibuk pada pikirannya. Jong-In bilang, ia memesan empat tiket, itu artinya? Se-Hun juga dihitung!

Seolah bisa membaca pikiran Hee-Ra, Jong-In mendekatkan kepalanya dan berbisik, “Aku ingin memperbaiki hubungan dengan kakakmu. Bagaimanapun juga, kalau aku ingin menikah denganmu, aku harus mendapat restu dari saudaramu.”

 

•••

 
Menikmati dan ketagihan, mungkinkah Se-Hun seperti itu?

Ia meneguk segelas vodka di gelas bewarna emas miliknya. Jubah tidur bewarna satin nan lembut membalut tubuh indahnya.

Ia tersenyum tipis melihat seorang gadis tengah terbaring di ranjang. Gadis itu meronta dan terus meronta, meminta Se-Hun untuk segera memuaskannya.

Dengan percaya diri, Se-Hun membuka ikatan jubah tidurnya. Ia berjalan pelan ke arah gadis itu. “You want me, huh?”

Gadis itu meracau, tubuh polosnya sudah panas dingin. Tanpa disadari, Se-Hun menyampurkan obat yang akan membuat gadis itu terus meminta untuk dipuaskan.

“Oh Se-Hun, aku benar-benar menginginkanmu…kumohon, sayang..”

Se-Hun menempatkan dirinya di atas Janetha. Ia mengangkat tubuh gadis itu hingga kulit mereka saling bersentuhan.

“Oh..ya..di situ sayang, aku menginginkanmu..,” racau Janetha.

Ia memeluk erat punggung Se-Hun serta sesekali mencengkeram lengannya, bibirnya seolah tak bisa diam. Ia langsung menelurusi setiap inci leher Se-Hun, meninggalkan bekas kepemilikan di sana.

Tanpa permisi, Se-Hun mengubah posisi. Ia membiarkan Janetha menindihnya. “Lakukan sesukamu sayang, aku milikmu.”

Janetha tersenyum senang. Tak perlu banyak basa-basi, ia langsung menenggelamkan kepalanya pada leher Se-Hun, menjambak rambut pria itu sambil terus mendesah.

Membiarkan Janetha larut dalam kenikmatan, Se-Hun meraih pisau lipat di dalam laci. Dalam satu hentakkan keras, pisau tersebut telah tertancap tepat di punggung Janetha.

Tawanya mulai menggelegar, seolah tak cukup sekali, Se-Hun melepas dan kembali menusukkan pisau tersebut hingga Janetha kehilangan kesadarannya.

Tubuh yang semula terjaga itupun ambruk ke dada Se-Hun. Matanya melotot, rasa sakit akibat tusukan Se-Hun rupanya membuat Janetha terkejut hingga berakhir kehilangan nyawa.

“Tidur yang nyenyak, sayang.” Se-Hun mengecup sekilas bibir merah Janetha, kemudian mendorong tubuh polos gadis itu ke samping.

“Yah…setidaknya aku memberikan kenikmatan padamu sebelum meregang nyawa,” matanya berkilat. Se-Hun segera bangkit dan menali jubah tidurnya.

Ia membersihkan tangan dan pisaunya dari cipratan darah Janetha menggunakan tissue.

Lantas, ia mengambil ponsel dan menghubungi Park Young-Lee, “Park, bereskan gadis ini. Bakar lalu buang abunya,” perintah Se-Hun melalui telepon.

Ia melirik sebentar mayat Janetha, kemudian berkacak pinggang. “Sayang sekali anggun wajahmu tak sebanding dengan sifatmu. Pantas saja mereka ingin kau mati, jalang.”

Sepersekian detik kemudian terdengar ketukan pintu, Se-Hun langsung membuka dan mempersilahkan Park Young-Lee melakukan pekerjaannya. Sementara ia duduk santai di sofa, menekan beberapa angka di layar ponsel.

Sambil menunggu panggilannya diterima, Se-Hun meraih topeng di atas meja dan mengenakannya. Ia tidak suka wajahnya diketahui klien.

Detik berikutnya, wajah seorang pria berusia akhir tiga puluhan nampak di layar. Tanpa basa-basi Se-Hun langsung mengatakan maksudnya, “Aku sudah menghabisi gadis itu,” gumamnya datar.

Selama beberapa saat, pria di layar ponsel itu membulatkan mulutnya, seolah tak percaya pada ucapan Se-Hun barusan. Namun, dengan cepat ia mengubah ekspresinya, begitu puas pada pekerjaan Se-Hun. Tak salah kalau bayaran Se-Hun memang sangat mahal.

“Aku akan segera mentransfer kekurangannya,” ia berhenti sebentar, mendekatkan bibirnya ke layar. “Senang bekerja sama denganmu, Mr. Oh.”

Tak ada respon berlebihan dari Se-Hun, ia hanya menaik-turunkan alisnya beberapa kali sebelum akhirnya mengakhiri panggilan. Well, pekerjaannya sudah beres, kan? Kalau begitu Se-Hun ingin segera pulang dan kembali pada Hee-Ra.

Ia sangat merindukan Hee-Ra. Ia rindu menekan Hee-Ra, ia rindu melihat raut ketakutan Hee-Ra, ia rindu berkata dengan tegas bahwa Hee-Ra miliknya. Sangat-sangat rindu.

 

.

•••TO BE CONTINUED•••

77 responses to “[CHAPTER 3] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Sadisnya kamu dek menghabisi korbanmu pantas heera takut sama kamu tapi seru juga lihat kamu kayak gitu dek, lain dari cerita lainnya….
    dan andai heera tau kalo sehun bukan saudara kandungnya pastilah heera akan senang tapi susah juga sih karena sehun telah mengklai heera sebagai milknya dan gak akan melepaskan heera begitu aja setetlah tau pekerjaan sehun….huffftthhh kasihan heera

    ok fitunggu ya kelanjutan ceritanya dan semangat!!!!!

  2. Oh Em Jeeee Sehun…. kamu lebih mengerikan ketimbang drakula alias vampir yg prnh q tonton… omona…. sbnrx dy kena apa sih? kelainan mental?? kok ngeri ya? okelah penasaran bgt dg lnjutannya😀 Authornim semangat nulisnya…😀

  3. Aduu sayang banget sii. Ganteng ganteng kejam heuhh 😌 si sehun possesive banget yakk. Ga kebayang kalo dia beneran kk nya si heera. Aksian heeranya yaampun. Duh next nyabyakk. Ga sabar hehe

  4. Saya suka dgn ff ini…alurnya susah ditebak..bikin penasaran..klo baca kya gini aja kliatannya sehun jahat..but..who knows..dibalik pkerjaannya itu ada suatu hal yg disembunyikannya??

  5. Ahh jadi jadi sehun itu pembunuh bayaran. Ehh
    Kalo mama nya tau sehun bkn anak nya, kesian jg nanti.., bakalan nambah benci si heera nya.
    Ini nambah menarik ceritanya..
    Keep fighting authornim

  6. njirrrrrr sehun pembunuh bayaran sih duhhhh klo haera tau bisa tbh benci dia bingung gue mau ngedukung apa gx yg penting mereka bisa bahagia gitu aja

  7. Ya ya ya! Otak psikopat emang beda, slalu ada kepuasan tersendiri liat kematian ama darah wkwk alig!
    Pantes aja Heera gabakal nerima Sehun diluar karna dia kakaknya, tp juga gegara kerjaan Sehun yg cuma megang piso ama pistol doang-_- ishhh! Serius Sehun pembunuh berdarah dingin

  8. Iihhhh ngeri bgt sehun…mereka emang sodara y???1 ibu gitu..trzz bkn y dlu heera sempat suka ma sehun sblm tw klo sehun kakak y…aduhh jd mkn penasaran nanti y mereka gmn..mdh2an sehun emang bnr jatuh cinta ma heera y..

  9. Sehun pembunuh bayarann?? Sadisnyaaa… Semoga akhirmya nanti hera sama sehun ya gak sama jongin, gak ikhlas kalo nanti akhirnya sama jonginn😥

  10. Oh My God,sehun sadis, sesadisx manusia y paling sadis adalah Oh Sehun,Hiiiiiiii….😀, wah,ga ngebayangin deh kalo sehun itu adalah abang aku,tampan si memang tampan tapi kalo pekerjaannya ky gt siapa ya ga bergidik ngeri😛

    makin menarik aja nih ff makin penasaran sm jln critax😛

    keep writing Authornim

  11. OMG.. sehun tega banget,, kasian sama kluarga hee-ra apa lagi ibunya kek beneran nyesel dan sayang banget sama sehun.. nggak kebayang kalau nanti mereka tau kalau sehun udah bohong sama mereka..sehun kenapa sih harus jadi pembuhun bayara berdarah dingin,, kapan berhenti hun..

  12. Sehun sadis bgt. Nggk bs ngebayangin, yg biasany kiyut jd pmbunuh brdarah dngin disini. Wkw. Btw suka momentny Sehun-Heera tp knp dikit:( jd bgg mau ngedukung Sehun-Heera apa Jongin-Heera:/ wkw. Dtgg lanjutannya kak, lanjutannya Show You jg:( smgt kak^^

  13. sehun ini… baikk tapi sadis? apa gimana? aku masih penasaran… elahhh gk sabar sma lanjutannya… keep writing and hwaiting!~

  14. Woww daebak.. apa sehin pembunuh bayaran???? Yah bgtlah ksimpulan pmbunuh bayaran…
    Pntesan hee ra takut padanya.. dan apa benar sehun mnyukai hee ra mrka kan saudara…

  15. Heera benci amat sama sehun gimana mau bersatu??? Au auu
    Sebenernya sehun mo ngapainnnn
    Sebenernya ada pann hnggg gila lama2 w tuuu

  16. Oh Sehun, kapan kau akan bertaubat? Tapi yang parah kapan aku akan bertaubat menyukai ff yang castnya Sehun jadi jahat, hah entahlah…. Jadi si Sehun itu pembunuh bayaran? Aku berharap ada suatu kejadian yang bikin Sehun jadi baik. Heena Park, ayo tunjukin titik lemahnya Sehun. Kutunggu, lho

  17. Serammm bgtt ya sehun jd pengen scene sehun jahat sm heera smp2 kebablasan trss heera ny ketakutan dan nangis. Dan sehun sadar bhw oerbuatanny salah namun heera menjauhiny dan membuat sehun galau hahahahahah

  18. Sehun seremmm😣😣
    Tapi pas baca chapter ini kok karakter sehun mengingatkan daku kepada healer?😄😄😄
    Ahh tapi ttp aku gak peduli mau karakternya jadi jahat, dingin, psycho, pembunuh bayaran, atau apalahh itu semua asalkan dia sehun, aku ttp sukaaa😗😗

  19. Pingback: [CHAPTER 4] SALTED WOUND by Heena Park | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s