#4 STIGMA [BLOOD SWEAT & TEARS] ~ohnajla

4-stigma

ohnajla | romance, school life, songfic, drama, friendship, family, brothership, teen | G | chaptered |

All member BTS

Oh Sena (OC)

Member EXO (cameo)

“Bayangan akan segelas wine, hancur sudah begitu pria itu menampakkan batang hidungnya. Oh bagus, bagus sekali, sepertinya ini tidak akan seindah yang ia bayangkan kemarin malam. Sial, setelah lolos dari kandang macan, kenapa ia bisa-bisanya tersasar ke kandang buaya? Oh sh*t!”

Blood Sweat & Tears concept

#1 Intro: Girl Meets Evil

#2 Begin

#3 Lie

#4 Stigma

Sekolah dibubarkan pukul 9 malam. Sena langsung naik ke dalam bus mewah yang sudah menunggu di pelataran depan sekolah. Ia langsung pergi ke kamar yang tersedia dan bruk! Ah … nyamannya. Akhirnya punggungnya bisa berleha-leha setelah sekian lama dipaksa duduk.

Sayangnya, kenyamanan itu tidak bisa dia nikmati untuk waktu yang lama. Karena tiba-tiba seseorang juga melakukan hal yang sama pada ranjang itu. Tepat di sampingnya. Membuat tubuhnya melayang dalam 0.75 detik.

Buru-buru dia menoleh.

OMO!” Seketika duduk. “K-kau-”

Seseorang itu tak peduli. Langsung terpejam, sambil menggumamkan kata-kata yang sulit dimengerti.

“A-apa? Kau bicara padaku?”

Ani,” balasnya singkat.

Dahi Sena mengerut. “Kau mengagetkanku tahu tidak?”

Tidak ada respon. Pria itu masih santai memejamkan mata.

“Di sana masih ada banyak sofa. Kau bisa gunakan semuanya. Lagi pula samchonjuga bilang kalau tempat ini khusus untukku. Kau sengaja ya? Dasar mesum.”

Pria yang tak lain Yoongi itu perlahan membuka mata. Seperti biasa, datar, dingin dan menusuk. “Mesum? Yaa, aku bahkan tidak tertarik padamu sedikitpun. Di luar semuanya sudah dipakai. Santai sajalah, kalau kau tidak suka kau bisa pergi dari sini.”

Sena mendengus kesal. “Seharusnya aku yang bicara begitu.”

“Terserah.” Yoongi pun membalik tubuhnya, memunggungi Sena dan kembali terpejam.

Sena masih tampak tidak terima. “Yaa, kau memang selalu seperti ini, ya? Di kereta itu juga, kau pikir itu tempat dudukmu sendiri? Kau tahu, semua orang yang mendengarnya akan kesal padamu. Seharusnya kau memberi kesan pertama yang baik ke orang yang baru kautemui. Gara-gara kau, hari pertamaku di Seoul jadi tidak menyenangkan.”

“Diamlah. Aku mau tidur.”

“Kau bisa melakukannya di rumah nanti,” seru Sena.

“Tidak bisa.”

Wae? Kau berniat hidup seperti kelelawar? Memangnya apa yang kau lakukan setiap malam? Pergi clubbing? Bermain dengan wanita-wanita bar?”

“Aish! Kubilang diam!!”

Sentakan itu membuat Sena berjengit. Wajahnya mendadak pucat ketika tatapannya tertabrakan dengan tatapan pria itu. Sigh … dia langsung membuang pandangan. Mengerikan, mata sipit itu terlalu mengerikan.

“Kau tidak tahu apa-apa tentangku. Diam atau keluar dari sini.”

Setelah bicara begitu Yoongi kembali berbaring. Huft … setidaknya sebelum sampai di rumah, dia harus bisa tidur dulu. Apa yang akan dikerjakannya nanti sangatlah membutuhkan banyak konsentrasi, jadi dia harus tidur sebentar agar nanti dia bisa terjaga lebih lama.

Sementara itu, Sena memutuskan untuk kembali berbaring, posisi memunggungi Yoongi juga. Ada perasaan aneh saat dia berada di ranjang yang sama dengan seorang pria. Tapi yang lebih aneh lagi justru karena rasa takutnya. Dia masih belum terbiasa dengan pria itu.

**

Batang hidung Baekhyun tidak tampak di mana pun. Suasana rumah nyaris sepi saat Sena dan yang lainnya sampai. Seokjin langsung menjatuhkan tasnya ke salah satu sofa ruang tamu. Juga melepas blazer dan dasi. Lengan kemeja putih dilipat sampai siku setelah bagian bawah kemejanya dikeluarkan dari celana. Sena menghampiri.

Oppa, sepertinya kau hendak melakukan sesuatu.”

Seokjin menoleh. Tersenyum. “Tebakan yang tepat. Aku akan memasak untuk kalian.”

“Memasak?” Sena membelalak. “Kau benar-benar akan melakukannya?”

Jungkook tiba-tiba menghempaskan tubuh di sofa itu. “Jangan lupa tambahkan garam, hyung.”

“Tidak mungkin aku lupa, hari ini aku hanya akan memasak ramyeon saja.”

“Boleh aku membantumu?” sela Sena tiba-tiba.

“Tentu saja boleh. Itu akan lebih efektif. Ah, ini sudah hampir jam 10, kaja. Sudah tidak baik lagi kalau makan di atas jam 10.” Seokjin pun melenggang menuju dapur. Sena mengikutinya setelah melepas blazer juga dasi. Tepat saat dua orang itu sampai di dapur, Yoongi datang dan duduk di sebelah Jungkook tepat di dekat tas Sena. Kesadarannya masih belum sepenuhnya kembali.

“Kau akan begadang lagi, hyung?” tanya Jungkook sambil melepas sepatu.

“Ya … hari H-nya makin dekat. Kalau aku tidak sering latihan, aku akan kalah lagi seperti tahun kemarin.” Tanpa pikir panjang Yoongi langsung mendaratkan kepalanya di tas milik Sena. Melanjutkan tidurnya yang sempat terputus.

“Oh. Hyung fighting!” seru Jungkook sebelum memutuskan pergi ke kamar. Rencananya, sambil menunggu Seokjin dan Sena selesai memasak, dia akan bermain game sebentar. Lumayan, Baekhyun membelikannya game baru kemarin, jadi apa salahnya mencoba?

Sementara itu, dapur sedang dalam keadaan sibuk. Tidak hanya Seokjin dan Sena saja di sana. Jimin juga ikut bergabung. Kondisinya tidak jauh beda dengan mereka berdua. Tapi toh mereka tidak peduli. Setelah dilakukan pembagian tugas, semuanya pun sibuk dengan urusan masing-masing.

Sena mendapat tugas memasak nasi. Pekerjaan yang tidak sulit. Selama tinggal bersama bibinya dia sudah terbiasa memasak nasi dengan berbagai cara. Jadi dia tidak membutuhkan waktu lama dalam menyiapkan berasnya. Hanya tinggal dicuci sampai bersih, lalu dimasukkan ke dalam rice cooker dan selesai. Ia pun menghampiri Jimin yang sedang menyiapkan alat-alat makan di meja makan.

Diraihnya satu pack sumpit lalu dibagikan ke tiap-tiap mangkuk. Jimin menyadari apa yang dilakukannya setelah posisi mereka hampir berdekatan.

“Kenapa kau yang melakukannya? Ini tugasku,” ujar Jimin sambil mendekat untuk mengambil kotak itu. Tapi Sena buru-buru melompat menjauh.

“Aku ingin membantumu.”

“Tapi itu tugasku.”

Sena menggeleng cepat. “Aku ingin membantu. Tugasku sudah selesai, dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Jadi biarkan aku membantumu sekali saja.”

Jimin menggaruk kepala belakangnya, lantas mengangguk. “Baiklah. Kalau begitu selesaikan.”

Sena mengangguk semangat. Ia pun melanjutkan tugasnya membagi sumpit ke mangkuk yang belum kebagian. Sedangkan Jimin memutuskan untuk menyiapkan peralatan yang lain.

“Wah … sepertinya aku mencium bau ramen ala Kim Seokjin….”

Suara itu, Byun Baekhyun, datang dari pintu depan sambil menenteng segelas kopi. Pria itu tersenyum pada Sena serta Jimin yang menoleh. Ia pun mendekat, memperhatikan mangkuk-mangkuk yang sudah berjejer di atas meja.

“Tidak sia-sia kalian tinggal di sini.”

Sena tersenyum tipis. “Jadi karena ini Samchon tidak menyewa maid?”

Baekhyun menyesap kopinya dengan nikmat. “Ya … begitulah. Terlalu banyak orang di rumah ini akan terasa sangat menyebalkan. Lagi pula tidak mungkin kan ada seorang maid laki-laki? Kau adalah perempuan pertama yang tinggal di sini, Sena.”

Gadis itu langsung menoleh. Membelalak. “Benarkah? Lalu bagaimana dengan ibunya Taehyung?”

Baekhyun menarik kursi yang paling dekat dengannya, lantas duduk. “Tidak ada, Taehyung tidak punya ibu.”

Mendengar itu tentu Sena terkejut. Kenapa? Kenapa tidak punya ibu?

“Apa ibunya sudah meninggal?”

“Tidak, dia masih hidup. Hanya saja….”

Abeoji.

Sena langsung menoleh ke asal suara. Itu Taehyung, datang hanya dengan memakai jubah mandi dan tanpa sandal. Tidak ada jejak-jejak air di wajahnya, dia masih belum mandi.

Wae?”

Taehyung berhenti tepat di belakang ayahnya. Mengabaikan pandangan Sena. “Kau tidak lupa kalau besok adalah ulangtahun Yoongi hyung ‘kan?”

“Oh? Besok ya?” Baekhyun mendongak.

“Ah … sudah kuduga.” Taehyung menarik kursi di samping ayahnya. Duduk. “Tinggal dua jam lagi, Appa. Tidak mungkin di waktu sesingkat itu kita bisa membuat pesta.”

“Besok ulang tahun Yoongi?” tanya Sena memotong pembicaraan mereka.

Baekhyun menoleh. “Ya, dua jam lagi ulang tahunnya. Ah … tentu saja kau tidak tahu. Kalau begitu, tolong panggilkan yang lain kecuali Yoongi untuk berkumpul sekarang.”

Perintah itu sebenarnya untuk Taehyung, tapi Sena salah paham. Justru dia yang pergi dari sana, melesat ke ruangan lain untuk memanggil siapa-siapa saja yang tidak ada di ruang makan itu. Taehyung hanya nyengir melihat kepergiannya. Baiklah, setidaknya dia tidak harus membuang-buang tenaga untuk ini.

Begitu semuanya sudah berkumpul di ruang makan, rapat mendadak pun dimulai. Tidak ada waktu untuk berdebat. Baekhyun dengan tegas langsung membagikan tugas pada tiap-tiap orang. Seokjin disuruhnya untuk tetap di rumah, melanjutkan memasak dan berakting seolah tidak ada apa-apa. Jungkook dan Hoseok ditugaskan untuk pergi ke toko alat-alat pesta, dan harus kembali pukul 11 nanti. Sena diperintahkan untuk pergi ke toko kue membeli kue tart bersama Jimin. Sedangkan dia dan Namjoon akan menyiapkan peralatan yang lain di rumah.

Setelah diberi uang, Sena dan Jimin pun langsung berangkat. Mereka memutuskan untuk jalan kaki saja, toh tokonya juga dekat. Tidak sampai satu kilometer.

Malam itu langit terlihat begitu cerah. Bulan purnama dengan mutiara-mutiara yang bertaburan di sekitarnya. Sena dan Jimin berjalan bersandingan, menyusuri jalanan kompleks yang nyaris lengang.

Suara ketukan sepatu mereka menggema. Sena mengantongi kedua tangannya dalam saku blazer. “Aku tidak tahu kalau si Judes itu lahir di bulan ini.”

Jimin menoleh. “Kupikir kau sudah tahu.”

Sena menggeleng. “Sudah kubilang aku tidak dekat dengannya.”

“Hm. Oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu.”

“Apa itu?” Sena melirik.

Jimin membuang muka ke depan. “Aku selalu melihatmu ketakutan setiap Yoongihyung berbicara denganmu di depan banyak orang. Padahal, di awal bertemu dengannya kau tidak seperti itu.”Ia pun menoleh, “Apa terjadi sesuatu di antara kalian?”

“Oh itu….” Sena nyengir. “Tidak terjadi apa-apa sebenarnya. Hanya saja, aku tidak suka menjadi perhatian banyak orang. Itu akan mengingatkanku pada kejadian di masa lalu.”

Wae-yo? Apa yang terjadi denganmu di masa lalu?” cemasnya.

“Yah … begitulah. Sulit untuk dijelaskan.” Sena menggaruk kepala belakangnya sambil terus menyeringai.

Jimin pun mendekatkan tubuhnya sampai lengan mereka bersinggungan. “Kau bisa cerita padaku.”

Gadis itu menggeleng pelan. “Ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya.”

“Karena itu sangat menyakitkan untukmu?”

Senyap sebentar.

“Ya … kurang lebih seperti itu. Yang jelas, aku tidak mau mengingatnya lagi.” Ia pun menoleh sambil tersenyum. “Lagi pula kalau aku menceritakannya, kau tidak akan bisa melihat senyumku lagi. Kau tahu, bagian tubuh yang paling disukai laki-laki adalah senyumku. Aku tidak mau mengecewakan mereka dengan wajah sedihku.”

Jimin tersenyum simpul. “Memangnya siapa laki-laki yang bilang begitu?”

“Entahlah. Yang pasti banyak.”

Jimin tertawa. “Kurasa yang bilang begitu adalah kau sendiri.”

Sena menggendikkan bahu, nyengir.

Sampailah mereka di toko kue. Setelah memilih kue yang paling bagus dan sesuai selera Yoongi –tentunya, mereka langsung pulang.

Di rumah, semuanya kecuali Yoongi dan Seokjin tampak sibuk menyiapkan pesta. Sena membantu Hoseok meniup balon. Di sela-sela itu mereka mengobrol santai. Sena selalu menampakkan senyum lebarnya saat mendengar celetukan Hoseok. Pria itu lucu.

Mendekati tengah malam, penerang ruangan yang dipakai sebagai tempat pesta yang tak lain adalah kamar Yoongi, langsung dipadamkan. Semuanya stand by di tengah-tengah ruangan, sambil menunggu Seokjin datang bersama si pemeran utama. Hanya ada cahaya lilin yang menerangi ruangan itu.

Tidak butuh waktu lama. Pintu tiba-tiba dibuka. Semuanya fokus pada seseorang yang masuk setelah Seokjin.

.

.

BIIIIIP!

“Selamat ulang tahun!!”

Hoseok dan Taehyung serempak melempar confetti padanya. Jimin mendekat, memasangkan topi ulang tahun. Lalu semuanya kecuali Yoongi menyanyikan lagu ulang tahun bersama-sama.

Si pemegang kue, Sena, melangkah lebih dekat padanya, sambil mengangkat kue dengan lilin angka 17. Keduanya terlibat acara saling pandang untuk beberapa saat. Untuk kali ini tidak ada ekspresi sebal di wajah Sena. Sempurna penuh senyum.

“Kenapa kau juga di sini?”

Wae? Tidak boleh? Ini hari yang paling bermakna buatmu. Memangnya kau rela kalau aku merusak harimu?”

Pria itu nyengir. “Ternyata kau masih sama saja.”

“Ah sudahlah. Cepat tiup lilinnya, tanganku pegal.” Sena pun mengangkat kue di tangannya makin tinggi.

Puh….

Lampu utama dinyalakan. Yoongi tampak terkejut melihat ruangannya yang sudah disulap menjadi ruangan yang ramai dengan balon berwarna-warni. Astaga, kamarnya jadi tidak jauh beda dengan kelas taman kanak-kanak.

“Bagaimana caranya aku membersihkan semua ini?” gumamnya sambil menggaruk kepala belakang. Saking fokusnya berpikir dia sampai tidak sadar kalau gadis di depannya sedang merencakan sebuah ide jahat.

Matanya bergulir ke bawah saat sadar ada sesuatu yang menyentuh pipinya dalam sekelebat. Oh sial, dia lengah. Gadis di depannya cekikikan dengan bahagia, menertawakan wajahnya yang sudah belepotan dengan krim.

Aigoo uri Yoongi~~” Baekhyun pun mendekat, ikut-ikutan mengoles krim ke wajah Yoongi. “Selamat ulang tahun, eo? Sukses untuk lomba pianomu nanti.”

Ekspresi wajahnya berubah saat bertatapan dengan Baekhyun. “Terima kasih,Samchon. Kali ini aku pasti akan menang.”

“Yeah, kau harus melakukannya.” Ditepuknya bahu pemuda itu dua kali.

Taehyung dan yang lain juga ikut mendekat. Berebut mengoleskan krim ke wajah Yoongi, bahkan ada juga yang hanya mengambil chery untuk dimakan sendiri. Berdiri di antara para lelaki ini benar-benar membuat Sena seperti kurcaci yang sedang dikelilingi para raksasa.

“Oh ya, karena ini hari ulang tahunnya, apakah di antara kalian ada yang ingin disampaikan padanya?” tanya Seokjin tiba-tiba.

Yoongi langsung angkat tangan.

“Maksudku bukan kau,” balas Seokjin cepat.

“Biarkan saja,” sela Baekhyun. “Aku penasaran apa yang ingin dikatakannya.”

Yoongi tersenyum lebar, lantas memusatkan pandangannya pada satu-satunya gadis di antara mereka. “Ada yang ingin kusampaikan pada orang di depanku ini.”

Semuanya langsung memusatkan pandangan pada gadis yang sedang membelalak di sana. Sena? kenapa?

Sebelum itu, Yoongi mengoleskan krim ke wajah gadis itu. “Dengar ya. Aku ini setahun lebih tua darimu. Kau tahu, negara ini sangat menjunjung tinggi usia seseorang. Jadi mulai sekarang, berhenti berbicara seenaknya padaku. Berhenti menggunakan kata ‘Yaa’, karena yang bicara begitu harusnya aku, babo-ya.”

Sena mengerucutkan bibirnya sebal. Dasar. Sepertinya Yoongi memang sengaja ingin balas dendam padanya. Lihatlah, wajahnya jadi penuh dengan krim. Sialnya dia tidak bisa melawan karena kedua tangannya sedang memegang kue.

“Aku seperti sedang menonton drama romansa,” celetuk Namjoon mencairkan suasana. Yoongi meliriknya kesal.

“Apa masih disebut romantis kalau begini?” Yoongi tiba-tiba mencuil kue itu dan PLOK! Kena sudah wajah Sena. Tindakan yang tidak disangka-sangka. Namjoon sampai menutup mulutnya yang menganga saking terkejutnya.

Pria sialan!

PLOK!

Balas dendam yang lebih mengerikan. Wajah Yoongi makin penuh dengan krim. Tidak terima, akhirnya perkelahian antara mereka pun tak terelakkan.

“Bang***! Kau bilang kau tidak akan merusak hariku, omong kosong!”

“Kau yang memulainya duluan, ba**ng**!”

“Cari mati?!”

“Kau pikir aku takut denganmu?!!”

Hari itu pun berakhir dengan hukuman dari Byun Baekhyun.

 

TBC

9 responses to “#4 STIGMA [BLOOD SWEAT & TEARS] ~ohnajla

  1. Hahah ngira.a mereka bakal akur krna saling oandang beberap saat td. Eehh trnyta dma ajaa😑😑
    Gk berubahhh. Whoaaa kaciaaan dhkum sma samchon baek yaakk. Gk nyangka aj baek jd samchon.a anak2 bangtan hehehe
    Dtggu mext chapt.a kk. Mdh2an d next chap lbh panjang lg yaakk kk. Hwaiting^^♡♡♡♡

  2. Ibu taehyung kmana? Dan masa lalu sena kenapa? Seprtinya chap ini mulai mengundang rasa penasaran.

    Mereka emang tom and jery. Baru baikan nda sampe 1 jam eh kelai lagi. Dan berakhir dg hukuman baekhyun. Rusak sudah hari ultahnya si suga wkwk.

    Pendeknya kaaaaakkkk 😢😢😢😢
    Tapi gpp sih. Ada moment SeMin pas beli kue kkkk~

    Hwaiting ne kak utk chap selanjutnyaaa~ 🙌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s