Sad Movie: The Second Chance

kai-krystal-2-1

Part:

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Sehun, Jung Nara, Oh Jino, and Kim Suho | Marriage Life, Romance, and Family | PG 15 | Chaptered | LINE@: @NYC8880L (use @)

Aku tetap tinggal. Tetapi juga tetap pergi.

Sinar matahari menelusup melalui sela-sela jendela yang bergorden. Ranjang berderit. Ada sesuatu yang memelukku erat. Mata mengerjap ringan, terbangun dari tidur. Biasanya, ranjang seluas ini hanya terisi tubuhku. Kali ini berbeda. Saat mata menggelepar terbuka. Aku mendapati seorang anak laki-laki tengah berada di dekapanku. Gerak refleks bibir membentuk lengkungan senyum. Perlahan aku melepaskan eratnya kungkungan si anak laki-laki. Tanganku membelai surai hitamnya. Mengamati raut anak laki-laki itu yang terlihat seperti malaikat—yeah aku memang belum sekali pun bertemu malaikat, anggap saja malaikat versi Jung Nara.

Kecupan singkat di puncak kepalanya, menjadi akhir kegiatan merusuh tidur nyenyaknya. Aku hendak bangkit dari tempat tidur, namun teringat sesuatu. Tanganku menyentuh dahi Jino. “Demamnya sudah hilang,” gumamku.

Pikiran ini jadi melayang. Memutar kembali adegan yang terjadi tengah malam lalu. Sehun menggedor pintu kamar hotel sembari menggendong Jino. Ia nampak panik. Rasanya raut Sehun lebih pucat dari Jino. Tergesa-gesa, Sehun mengutarakan jika Jino demam tinggi dan menginginkan ibunya.

Perlahan mata Jino terbuka lalu berbisik, “Mom jangan pergi.” Perkataan malaikat kebahagianku itu, memerkuat alibi ayahnya.

Well, seharusnya hari ini aku kembali ke Paris. Dua hari lalu, aku telah menghadiri pernikahan Soojung. Tujuan tersuratku datang ke Seoul sudah terpenuhi.

Lalu, untuk apa lagi aku di sini?

Menepati sebuah janji.

Janji yang mengikatku selama seminggu ke depan. Aku menjanjikan tetap berada di Seoul pada Jino selama tujuh hari dari sekarang. Pria kecil itu nampak dewasa saat membuat perjanjian. Dialog Jino terdengar berputar kembali, “Mom bisa ke mana saja, setelah satu minggu bersamaku. Aku juga berjanji tidak demam lagi kalau Mom setuju.”

Senyumku terulas sekali lagi, laki-laki kecilku tumbuh dengan baik. Hati ini bergumam agar Jino tidak mempermainkan wanita seperti ayahnya. Soalnya, kebiasaan itu dapat menurun. Bicara soal ayah Jino, mataku langsung mengerling ke arah pria yang sedang meringkuk di sofa. Oh, kakinya memang panjang, sofa itu tidak cukup untuk menampung tubuh Sehun. Aku mendengus. Sehun memaksa ikut menginap, katanya ia takut kalau-kalau aku membuang Jino ke pinggir jalan. Astaga, yang benar saja, mana tega aku melakukan itu.

Aku beranjak dari ranjang. Jam di nakas masih menunjukkan pukul enam pagi. Kakiku berhenti, sebenarnya aku hendak menuju kamar mandi—membersihkan diri. Akan tetapi, pemandangan itu menghentikanku. Sehun tertidur tidak kalah damai apabila dibandingkan dengan anak laki-lakinya.

Hm, mereka benar-benar sama!

Tangan kurang ajarku bergerak merapikan surai cokelat Sehun yang berantakan. Benarkan, Sehun selalu menarik. Padahal, aku sudah berusaha untuk mengendalikan diri. Sekarang malah terlalu terbuai dengan rautnya.

Sepasang mata Sehun tiba-tiba terbuka lebar. Aku kaget setengah mati, hampir terjungkal ke belakang. Untung saja, tangan pria itu meraih jemariku. Aku bernapas lega sembari melotot kesal ke arahnya.

“Kau menggangu tidurku,” ucapnya dengan suara serak.

Aku menghentakkan tangan kami yang bertaut, tidak nyaman. Jantungku seperti terkena sengatan aneh. Lama tidak merasakan debaran ini. Rasanya aku harus ke dokter.

“Aku hanya melihatmu. Kau saja yang terlalu sensitif,” balasku acuh. Kemudian aku melenggang masuk kamar mandi, menutupi kegugupan serta semburat merah di pipi.

Terdengar samar-samar perkataan Sehun, “Apa kau sedang demam Nara? Kenapa pipimu memerah?”

Oh ya ampun, Sehun berengsek.

Segar rasanya setelah mengganti gaun tidur dengan pakaian bersih. Kantuk yang tadinya menerorku, tersisihkan. Bukan gayaku terbangun sepagi ini. Mungkin karena tidak biasa tidur seranjang berdua. Aku jadi terusik atau gelisah karena harus memikirkan demam Jino?

Entahlah.

“Kau sudah bangun, Sweetheart. Good morning,” sapaku pada Jino.

Pria kecilku terduduk di atas tempat tidur. Ia mengusap matanya yang jelas masih terkena kantuk. Surai hitamnya awut-awutan. Ia memberikan tatapan khawatir padaku. Alisnya bertaut. Sangat menggemaskan.

Beruntung sekali Sehun dapat menatap perkembangan Jino setiap hari. Sesuatu yang patut menimbulkan rasa iri serta penyesalan berlipat-lipat di dalam hati.

“Jino kira, Mom pergi meninggalkan Jino,” katanya.

Tunggu dulu, ada yang aneh pada nada suaranya. Putraku terisak. Aku mendekatinya. Ikut duduk di atas ranjang.

Jino menangis?

Siapa yang telah membuatnya berduka?

Apa Sehun yang membuatnya sedih?

Atau dia kesakitan?

Bahunya naik turun. Aku panik. Bingung apa yang harus kulakukan. Tubuhku memeluk Jino. “Tidak, Sayang. Tentu, Mom akan memberitahu dulu sebelum pergi. Maafkan Mom.” Aku berkata sembari mengusap air matanya yang mengalir.

Ia membalas dengan anggukan kepala. Berusaha mengendalikan diri, kelihatannya. Sedu sedannya itu masih ada saat ia berucap, “Dad selalu bilang kalau Jino tidak boleh menangis. Tapi, Jino takut Mom pergi.”

Aku terenyuh mendengarnya.

“Maaf, Honey.” Berulang kali aku mengucapkan kata maaf sembari mengelus kepalanya. Jino lebih tenang setelah mendapatkan perwujudan kasih sayang berupa sentuhan dariku.

“Di mana Dad?” pertanyaan muncul di sela keheningan.

Jino menunjuk ke arah balkon. Aku mengikuti telunjuknya. Sehun sedang menerima telepon. Aku bergumam oh tanda mengerti.

Kemudian aku menangkap Jino memegangi perut. “Apa perutmu sakit? Apa ada yang sakit?” tanyaku panik.

Ia menggeleng, “Mom, aku lapar.” Jino mengucapkan kalimat itu amat pelan.

Aku tersenyum. “Tentu saja, Mom akan memesan makanan. Tunggu sebentar,” ucapku sembari mengecup pipinya. Jino kembali mengangguk semangat. Kesedihannya tadi hilang tertelan sejuknya udara pagi.

Aku meraih gagang telepon yang berada di meja samping ranjang. Membuka pembicaraan dengan layanan hotel. Cukup banyak pesanan kami. Di tengah-tengah percakapan, Jino memotong meminta tambahan pesanan. Apa saja yang membuatnya senang, aku pasti melakukannya!

Apa ini yang disebut naluri seorang ibu?

Sehun bergabung denganku dan Jino setelah makanan kami sampai. Ia mengambil tempat di sebelah kiri sementara Jino disebelah kanan. Kami makan di kamar hotel.

Aku menatap Jino yang lahap menyantap ayam goreng. Merasa diperhatikan, Jino nyengir menampilkan giginya yang berlubang. Jino tampak menelan lalu berucap, “Mom, cepat makan. Ayam goreng ini enak.” Aku hendak membalas, namun Sehun lebih cepat.

“Ibumu sangat suka ayam goreng. Dulu dia bisa habis lebih dari sepuluh ekor,” ujar Sehun sembari melahap ayam gorengnya.

Aku berdeham ringan lalu menggigit kecil paha ayam goreng. Yeah, itu kebiassanku delapan tahun lalu. Sekarang telah berubah. Bahkan bisa dibilang aku tidak pernah lagi makan ayam goreng.

Kenapa?

Ayam goreng selalu mengingatkanku tentang Sehun dan itu tidak terlalu baik untuk kesehatan.

Ah, sudahlah hal kecil saja jadi membuatku berpikir yang bukan-bukan.

“Dad, tadi telepon dari siapa?” tanya Jino membuka percakapan.

Sehun mengangkat bahu, “Dari nenekmu.”

Mendengar jawaban itu, Jino merubah posisi duduknya menghadap Sehun. Rautnya sumringah. “Apa kata nenek?”

Aku pura-pura sibuk dengan makanan di piringku. Telinga ini tetap mencuri dengar.

“Dia mengundang kita makan malam di rumahnya,” jawab Sehun.

Jino bertepuk tangan, “Mengundang Jino, Mom, dan Dad?” Anak laki-laki itu memastikan.

“Yeah.”

Aku tersedak. Menatap Sehun meminta penjelasan.

“Apa?” tanya pria itu. “Ibumu mengundang kita makan malam, Nara. Dia merindukan dan ingin bercakap-cakap denganmu. Seingatku kalian hanya saling bertukar pandangan saat pernikahan Soojung. Turuti saja,” Sehun melanjutkan.

Aku melotot ke arahnya. “Tidak mau,” jawaban dengan nada dingin, terdengar melewati bibirku.

Oh, yang benar saja. Bertemu keluargku lagi.

Tidak akan.

Cukup pertemuan kami di pernikahan Soojung.

Memangnya kenapa?

Apa hubungan kami buruk?

Tidak.

Apa keluargaku membenciku?

Tidak.

Hanya saja aku merasa kurang nyaman berada di tengah-tengah keluarga itu. Tidak terasa rumah yang menggembirakan berada di dekat mereka. Delapan tahun perpisahan pasti akan terasa sangat canggung. Bahkan, kemarin saat aku bertemu dengan Ibu, aku memalingkan muka lalu pergi. Makan malam bersama hanya menambah kecanggungan serta keengganan untuk terus berada di Seoul.

Jadi, lebih baik tidak.

“Padahal Jino ingin bertemu Nenek. Jino rindu Nenek, ” gumam Jino, nadanya sedih.

Aku memperhatikan parasnya yang tadi ceria, menjadi bermuram durja. Ada rasa tercubit aneh yang menyebabkan aku ikut berduka atas kesedihan putraku.

Apa ini juga disebut naluri seorang Ibu?

Aku tidak peduli dengan apa itu naluri ibu yang jelas perasaan ganjil itu menggerakkan bibir agar menyetujui, “Baiklah kita akan pergi ke rumah nenekmu, Sayang.”

Bukan hanya sekedar kalimat mengiyakan, seulas senyum juga menjadi bumbu. Seolah aku telah menantikan, kegiatan berkunjung menemui keluargaku lagi.

Sial, umpatku dalam hati saat melihat cengiran kemenangan Sehun. Ia menggunakan Jino untuk mengendalikanku.

“Lagi pula Nara. Nanti waktu kita menikah lagi. Kau juga butuh restu Ibu dan tangan Ayah untuk menyeretmu ke altar,” kata Sehun sembari mengulum senyum.

Aku kehilangan kosa kata untuk membalasnya. Hanya gerakan non-verbal yang kugunakan sebagai respon untuknya. Kakiku dengan cekatan menginjak kaki pria jangkung itu.

Rasakan Oh Sehun, batinku ketika Sehun memekik pelan menahan sakit.

Pulasan make up tipis, gaun pendek bewarna merah, dan rambut tersanggul dengan hiasan menjadi pilihan. Berulang kali, aku mematut diri di depan cermin sembari menunggu para pria menjemput. Sehun dan Jino pulang ke rumah untuk berganti pakaian.

Aku baru ingat, jika ini hari Minggu. Pantas saja Sehun enggan pergi satu langkah pun dari sofanya. Dulu, kala kami masih menjadi pasangan suami istri, Sehun seperti tidak menyebut kediaman kami sebagai rumah. Mungkin baginya, hunian yang kami tinggali adalah neraka karena adanya kehadiranku.

Lalu sekarang?

Pria itu malah menolak beranjak. Ia enggan pergi dari kamar hotel kalau saja Jino tidak menyeretnya sembari merengek—meminta ganti baju karena bau.

Anak laki-lakiku itu sangat memerhatikan penampilan—mirip sekali dengan Sehun. Yeah, semoga saja mereka tidak terlalu lama mondar-mandir di depan cermin higga terlambat. Aku tidak suka menanti. Lebih baik pertemuan itu digagalkan daripada menunggu lama.

Kenapa aku terlihat sangat antusias bertemu keluargaku?

Entahlah, mungkin disebabkan virus suka cita Jino yang mulai menjalar.

Berulang kali mataku mencuri pandang pada jam dinding. Mereka terlambat sepuluh menit. Tidak tahu berasal dari mana perasaan khawatir mulai muncul. Jangan-jangan terjadi apa-apa pada Sehun dan Jino. Suara dengungan di dalam kepala sangat menggangguku.

Kekhawatiranku meredup saat kembali mengingat, bagaimana Sehun sering sekali datang terlambat dan mengingkari janjinya. Kebiasaannya saat kami masih menjadi suami istri. Dia memang tidak pernah berubah.

Cukup lama aku menggerutu tentang sikap Sehun di masa lalu, hingga terdengar ketukan dari pintu kamar. Tidak perlu menebak siapa yang datang, aku segera membuka pintu. Well, satu-satunya tamu yang berkunjung ke kamarku ialah Sehun dan Jino. Mereka memamerkan cengiran lebar.

Aku mengerjapkan mata. Sempat tidak dapat mengendalikan ekspresi kagum ketika menatap penampilan Sehun dengan kemeja hitam dan jeans hitam. Pria itu selalu tampan memakai apa saja. Putraku mengenakan pakaian yang sama seperti ayahnya. Jino tidak kalah rupawan.

Lantaran mengucapkan pujian atas penampilan mereka, aku malah memberengut kesal. “Kalian terlambat sepuluh menit.”

Cengiran Sehun pudar, Ia menatapku dari atas sampai bawah. “Gaunmu itu terlalu pendek,” katanya tidak suka.

Aku berkacak pinggang. O, jadi dia ingin mengalihkan topik pembicaraan yang membahas soal keterlambatannya dengan topik yang menyalahkanku, begitu?

“Bukan urusanmu,” jawabku sembari melotot ke arahnya.

Sehun menghembuskan napas kasar—kebiasaannya saat akan melontarkan kata-kata sengit. Aku sudah menyiapkan kalimat yang lebih kejam. Bibir kami hendak tebuka, namun, Jino melerai. “Dad dan Mom membuat kita semakin terlambat. Berhenti bertengkar!” serunya. Jino menarik tangan kami berdua untuk segera beranjak.

“Ibumu yang membuat kita terlambat!”

“Kau menyalahkanku? Jelas kau yang membuat kita terlambat!”

“Gaunmu itu terlalu pendek. Tidak sadar usiamu itu sudah berapa tahun!”

“Bukan urusanmu!”

“Gadis ini benar-benar—”

“—DIAM! Mom dan Dad harus diam!”

Suasana di dalam kendaraan tidak kalah menjengkelkan. Aku duduk di kursi penumpang samping pengemudi. Bolak-balik aku mengalihkan tatapan dari Sehun yang sedang mengendarai mobilnya. Sesekali melirik Jino yang sibuk bersenandung kecil, sembari menatap ke jendela mobil. Aku memilih mengikuti kegiatan Jino, minus bersenandung. Langit kota Seoul telah menggelap. Terang saja, sudah hampir pukul delapan malam. Hanya lampu-lampu yang dapat aku perhatikan. Membosankan.

Aku membuka tas kecil, meraih ponsel di dalamnya. Tidak ada yang menarik. Hanya beberapa pesan singkat dari Soojung yang memertanyakan kedatanganku di acara makan malam keluarga. Aku sudah akan memasukkan kembali ponsel ke dalam tas, saat tiba-tiba Jino menyela. “Mom, boleh Jino lihat ponsel itu?” Ia meminta sembari menunjuk ponsel.

“Tidak ada yang menarik dari ponsel ini, Sayang,” kataku lalu menyerahkan ponsel ke tangan Jino.

Jino mengangkat bahu, “Jino hanya ingin memasukkan nomer ponsel Dad. Nanti siapa tahu Dad dan Mom bisa berjanjian untuk berkencan.” Pria kecilku itu berucap dengan nada polos.

Aku kembali melotot pada Sehun. Memberikan tatapan selidik. Siapa yang mengajari anak berumur delapan tahun soal berkencan?

“Bukan aku,” kata Sehun, menjawab pertanyaan di dalam kepalaku.

Aku memutar bola mata. “Siapa yang mengajarimu kalimat itu, Sayang?” Tanyaku.

Jino menghentikan kegiatan mengetiknya di ponsel. Menatapku sebentar dengan mata bulat lalu menjawab, “Bibi Soojung.”

Refleks aku mendengus sebagai tanggapan atas jawaban Jino. Tentu saja, Soojung. Aku seharusnya sudah dapat menebak dari awal.

“Mom sedang berfoto bersama siapa ini?” tanya Jino sembari menunjukkan layar ponsel kepadaku. Di sana terpampang foto diriku dengan salah satu rekan kantor. Bisa dibilang kami sangat akrab, mengingat sama-sama berasal dari Seoul.

“Oh, itu Paman Suho teman kantor Mom.”

Alis Jino bertaut, “Kenapa Mom berpelukan dengan Paman Suho kalau dia hanya teman? Jino melihat Bibi Soojung dan Paman Luhan juga berpelukan, kemudian mereka menikah. Apa Mom juga akan menikah dengan paman ini?”

Aku melongo mendengar pertanyaan Jino yang diliputi rasa ingin tahu tinggi. Bagaimana aku harus menjelaskan? Memaparkan kalimat yang cocok untuk anak laki-laki berusia delapan tahun—aku tidak pernah melakukannya. Well, hubunganku dengan Suho memang hanya sebatas pertemanan. Berteman selama lima tahun, memang semuanya berubah di musim gugur tahun lalu. Suho mencintaiku. Ia memintaku menjadi kekasihnya. Setelahnya, aku menolak dan kami berteman kembali. Teman yang kadang berciuman satu dua kali—kalau-kalau sedang kelepasan. ‘teman’ versi dewasa.

Kebiasaanku saat panik, menggigit bibir tampaknya ditangkap oleh Sehun. Pria itu terbatuk kecil, kemudian membantu menjawab, “Mungkin Ibumu berteman dekat dengan Paman itu, Jino. Jadi, mereka berpelukan.”

Aku mengangguk-angguk.

“Apa itu artinya Mom tidak akan menikah dengan Paman Suho?” Jino bertanya, nampaknya ia belum menyerah. “Jino tahu Dad dan Mom tidak seakrab orangtua teman-teman yang lain. Bibi Soojung, bilang kalian berpisah. Jino ingin Dad dan Mom bersama-sama, tidak akrab juga tidak apa-apa,” Jino melanjutkan ucapan panjang lebarnya.

Aku tertegun mendengar penjelasan anakku. Menunduk, menatap cincin pemberian Suho yang tersemat di jari manis tangan kananku. “Tidak, Sayang. Kami hanya berteman seperti Jino berteman dengan teman sekolah Jino,” ucapku sembari menoleh ke arahnya. Biarkan aku berbohong, menutupi definisi teman versi dewasa itu.

“Dad hanya ingin menambahkan, Jino. Pria dan wanita dewasa tidak mungkin berteman biasa. Kau tahukan seperti di drama yang sering kau lihat dengan Bibi Soojung.”  Sehun menyela adegan mengharukanku dengan Jino.

“Berciuman?” tanya Jino sembari menelengkan kepala.

“Yap, mereka biasanya—”

“—Ya! Oh Sehun, menyetir saja dengan benar. Jangan mengajari anakku macam-macam!”

“Aku kan hanya menjelaskan kebohonganmu itu.”

“Aku tidak berbohong.”

“Hanya orang bodoh yang percaya.”

“Tentu saja. Hanya pembohong profesional yang selalu peka dengan kebohongan orang lain. Kau pem—”

“—Baiklah, sudah sampai, saatnya turun,” ucap Sehun, memotong perkataanku yang akan menuduhnya.

Aku bersungut-sungut menatap keluar melalui jendela mobil. Ia menghentikan kendaraan yang kami tumpangi di depan rumah berpagar hitam. Rumahku.

Makan malam berjalan di luar rencana. Aku mengira seluruh anggota keluarga akan hadir, ternyata tidak. Ayah sedang melakukan perjalanan bisnis ke Jepang bersama suami Soyeon. Pasangan Soojung juga melakukan perjalanan bisnis, bedanya ia pergi ke Jerman. Hanya ada Ibu, Soojung, dan Soyeon yang menggendong bayi. Ibu menyambut dengan hangat. Bahkan, Ibu segera memelukku erat. Ia memerlakukanku seperti gadis remaja yang baru saja pulang, setelah tersesat sekian lama. Aku sempat kaget sewaktu ibu berlinang air mata.Tentu saja, secara naluriah aku merasa menjadi anak yang kurang ajar.

Ibu mengajukan beberapa pertanyaan seputar kehidupan delapan tahun yang aku lalui. Perlahan dengan sabar aku memberikan jawaban. Jino berulang kali bersikap manja pada ibu, seperti meminta disuapi atau dipotongkan daging asap kecil-kecil. Sehun hanya menikmati santapan sembari menyela berkali-kali ucapan Soojung yang sedang melucu. Soyeon nampak sangat anggun seperti biasa. Ia tidak terlihat layaknya wanita yang baru saja melahirkan. Aku belum memulai percakapan mendalam dengannya. Ia hanya tersenyum, setelh itu menanyakan kabar. Canggung, seperti orang asing.

Soojung bercerita banyak saat ia menarikku ke halaman belakang. Soojung ingin menunjukkan halaman belakang rumah kami yang telah di renovasi. Adikku itu mengajak duduk di salah satu bangku favorit kami dulu.

“Kak, lihat. Dad menambahkan kolam ikan di halaman belakang rumah kita. Katanya agar selalu mengingatmu,” ucap Soojung sembari membenarkan rambut hitam panjang miliknya. “Ia selalu meyakinkan pada Mom suatu saat kau akan pulang,” lanjutnya.

Aku tersenyum mendengarnya. Ayahku memang selalu begitu.

“Ibu merawat Jino sampai umurnya lima tahun. Setelah itu menyerahkan tanggung jawab penuh Jino pada Sehun,” kata Soojung.

“Aku tahu, Jino sepertinya sangat sayang pada neneknya.” Aku menanggapi.

Soojung menggeleng, “Jino sangat mencintaimu. Kami hanya mengenalkan sosok Ibu melalui foto. Kami menceritakan apa saja mengenai dirimu. Jino anak yang cerdas.

“Kau tahu Soojung, aku merasa tidak memiliki hak apa-apa atas Jino. Ibu macam apa aku ini.”

“Tidak. Kau masih dapat merubahnya. Aku tahu kau dan Sehun hanya salah paham. Kalian saling mencintai, tapi tidak ada komunikasi yang berjalan lancar. Sehingga kalian hanya saling menduga.”

Aku menatap Soojung lekat.

Saling mencintai?

Apa Soojung sedang bercanda?

“Kau bercanda, Soojung.”

“Soojung tidak bercanda, Nara.” Suara lain menyela percakapan. Kakak perempuanku—Soyeon, melangkah ke arah kami.

Soyeon duduk di sampingku. Sekali lagi memberikan senyum lembut. “Adikku terlihat semakin cantik,” ucapnya sembari menggenggam perlahan tanganku. “Kami selalu merindukanmu. Sehun yang lebih parah. Tetapi, kebodohan dan gengsinya justru mengambil kendali. Ia malah membiarkanmu pergi.”

Badanku kaku menerima perlakuan dari Soyeon. Apa kakakku ini tidak sadar jika ia yang menyebabkan kami berpisah?

“Sehun terlihat baik-baik saja.”

“Terlihat baik-baik saja, bukan berarti benar-benar baik-baik saja.”

Benar, Soyeon selalu tahu isi pikiran dan hati Sehun. Selalu demikian. Sehun hanya membagi hidupnya pada Soyeon. Cukup. Aku tidak peduli. Aku tidak ingin mengetahui apapun. Kebiasaan-kebiasaan kecil itu yang menyingkirkanku dari sisi Sehun. Ada kerenggangan di antara kami. Aku tahu, kami akan berdiri di garis yang berbeda.

“Aku tidak ingin membicarakan itu sekarang,” kataku lalu beranjak dari bangku. Aku hendak melenggang pergi, namun tangan Soyeon mencegah.

“Maafkan aku, Nara. Maafkan kesalahanku yang lalu. Aku benar-benar menyesal,” gumam Soyeon. Tatapan mata kami beradu.

“Bukan salahmu. Salahkan saja, Sehun yang dulu mencintaimu lebih besar daripada istrinya,” aku menjawab sembari menghentakkan tangannya kasar.

Luka masa lalu yang aku kira sudah terobati, ternyata belum sembuh. Sebenarnya, aku terlalu bingung dengan perasaan yang bergulat di dalam hati. Seharusnya, aku mengerti. Kesalahan mereka hanya terjadi di masa lalu. Toh, Soyeon sudah memiliki orang lain dalam hidupnya. Lebih penting lagi, Soyeon tidak pernah mencintai Sehun. Hanya pria itu yang mengejarnya.

Namun, mengapa rasanya aku enggan menerima?

Apa karena tidak ada pernyataan cinta secara gamblang dari Sehun?

Apa karena masa laluku begitu ingin memiliki Sehun?

Dan aku belum dapat melupakannya?

Begitu?

Semua pertanyaan dan ketidak pastian di kehidupan masa laluku, menyebabkan keraguan untuk tetap tinggal. Menarikku kembali bersembunyi serta enggan menampakkan diri lagi.

Aku tidak tahu skenario Tuhan akan membawaku kepada akhir yang bagaimana ….

-oOo-

Part selanjutnya dapat dibaca di Twelveblossom Sad Movie atau di Twelveblossom’s Wattpad. Permintaan password dan pertanyaan lainnya bisa ditanyakan melauli LINE@ (@NYC8880L). Terima kasih sudah membaca 🌸🌸🌸.

19 responses to “Sad Movie: The Second Chance

  1. Baguss bangett
    Sedih banget bacanya
    Ya ampun jino masih kecil kok ngerti banget sama keadaan ortunya 😭😭😭
    Ini ada lanjutannya kan kak?

  2. kirain sehun nara pisah karena sehun selingkuh dengan orang lain? ternyatta sama kakaknya sendiri! yaampun ngesek banget-, kasian kalau diposisinya nara.lanjug ya to thor ceritanya seru apalagi dengan jino makin komlit heheh

  3. kyakx in pernah dipost ,tpi dmna ya……?????Lupa,abaikan aku suka banget sm crita in,udah bc entah sampe mn trus ad y dprotek,lunturlah sudah harapanku utk mmbca lanjutan crita ff in

  4. Ini ending versi lain ya? Waktu kmrn2 bca keknya uda tamat… Aku bingung tapi tetep suka ama ceritanya hehehe…

  5. yaampun ada sad movie disini, haloo kak aku udah baca si di wordpress pribadi kakak dan aku sangat mengapresiasinya, good job.
    hwaiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s