#5 First Love [Blood, Sweat & Tears] ~ohnajla

4-stigma

ohnajla | romance, school life, songfic, drama, friendship, family, brothership, teen | G | chaptered |

All member BTS

Oh Sena (OC)

Member EXO (cameo)

“Bayangan akan segelas wine, hancur sudah begitu pria itu menampakkan batang hidungnya. Oh bagus, bagus sekali, sepertinya ini tidak akan seindah yang ia bayangkan kemarin malam. Sial, setelah lolos dari kandang macan, kenapa ia bisa-bisanya tersasar ke kandang buaya? Oh sh*t!”

Blood Sweat & Tears concept

#1 Intro: Girl Meets Evil

#2 Begin

#3 Lie

#4 Stigma

#5 First Love

Sejak malam itu, Sena dan Yoongi tidak diperbolehkan tidur di dalam rumah sampai minggu depan. Ketentuannya, mereka juga tidak diperbolehkan menginap di hotel termasuk di rumah orang lain. Hukuman ini tidak sekadar hukuman, akan tetapi didasarkan pada sebuah strategi yang dibuat oleh Baekhyun agar mereka berdua menjadi rukun. Dan caranya adalah dengan memberi mereka satu tenda besar lengkap dengan alat-alat kamping yang ditempatkan di halaman depan. Kalau mereka butuh kamar mandi, silahkan saja gunakan kamar mandi luar, jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk menjejakkan kaki di rumah selama satu pekan ke depan.

“Ini tidak masuk akal!!” erang Yoongi sambil mengacak rambutnya hingga berantakan. Dia dan Sena sedang ada di dalam tenda, duduk di dua sudut yang saling berjauhan.

“Semua ini karenamu. Kalau kau mau dihukum, jangan ajak-ajak aku!” balas Sena sambil melempar bantal hingga mengenai kepala Yoongi. Jujur, dia juga kesal setelah tahu kalau hukumannya akan seperti ini. Andai tadi dia bisa mengontrol emosinya, sudah pasti dia tidak akan meringkuk di sini bersama si Judes itu.

Bantal itu dilempar balik, melesat dari sasaran. “Kau yang mulai!”

“Aku?!” Dahinya mengerut. “Yaa! Rupanya kau benar-benar tidak tahu diri. Jelas-jelas kau duluan yang menjejalkan kue ke mukaku! Aku hanya membalas apa yang sudah kau lakukan padaku!”

Yoongi mendecih sambil membuang muka. Kali ini dia kalah. Ugh … tapi hukuman ini benar-benar tidak masuk akal. Kenapa juga harus satu minggu? Kenapa tidak dua hari saja? Ck.

Sena menata kembali bantal yang barusan dipakai lempar-lemparan ke tempat semula. Ia pun menggelar kasur lipatnya. Sudah larut malam, matanya sudah mulai terasa berat.

Yoongi memperhatikan apa yang dilakukannya. “Kau masih bisa tidur di saat-saat seperti ini?”

“Memangnya kenapa? Aku sudah mengantuk, jadi apa salahnya aku tidur? Lagi pula kalau aku memaksa tidak tidur seharian, memang samchon akan membatalkan hukumannya? Aku tidak peduli kau mau tidur atau tidak, itu bukan urusanku.”

“Memangnya siapa juga yang memintamu peduli?” Yoongi membuang pandangan sambil menggaruk rambutnya.

“Oh ya, dan satu lagi. Mulai hari ini, tempatku di sebelah sini, dan kau di sebelah sana. Batasnya adalah garis itu.” Menunjuk garis hijau yang membelah tenda menjadi dua sisi. “Jadi jangan coba-coba untuk melewati garisnya. Tidak akan kumaafkan kalau kau sampai melakukannya.”

“Baik. Dan peraturan itu juga berlaku untukmu!”

“Tentu,” balas Sena enteng. “Aku tidak sepertimu yang suka melanggar aturan.”

Yoongi menggertakkan giginya geram. “Sepertinya mulutmu itu perlu dirobek sesekali.”

Sena hanya angkat bahu tak peduli. Ia pun berbaring, menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal nan hangat. “Jalja.”

“Semoga kau tidak akan bangun lagi,” gumam Yoongi sebelum bangkit dan bergegas pergi dari sana. Malam itu, dia menghabiskan waktunya di studio terdekat sampai fajar menyapa.

Sena bangun tepat saat Yoongi baru saja pulang dari studio. Gadis itu mengerutkan dahi bingung. Ia terus memperhatikan Yoongi sampai pria itu terlelap di bawah balutan selimut. Merasa tidak perlu menanyakannya, ia pun segera membereskan lahan tidurnya kemudian tancap gas ke kamar mandi. Dia selalu mandi di jam-jam ini. Karena menurutnya, air di waktu-waktu seperti ini sangat menyehatkan untuk tubuh. Dia menghabiskan waktu selama hampir 30 menit hanya untuk membersihkan diri.

Kembali ke tenda, ditemukannya Yoongi masih dalam posisi yang sama. Ia memilih tidak peduli, dan memutuskan untuk bersiap-siap pergi sekolah saja. Ah ya, dia baru ingat kalau tugas rumahnya kemarin belum selesai. Haduh … untung bangun pagi.

Suara gaduh-gaduh dari luar membuatnya sadar kalau hari semakin siang. Ketika dilihatnya jam weker di atas meja kecil itu, dia menemukan waktu telah menunjuk angka 7. Oh tidak, dia hanya punya waktu 30 menit untuk pergi ke sekolah. Buru-buru ia pun memasukkan semua bukunya ke dalam tas. Tepat saat dia akan berdiri untuk keluar, Baekhyun tiba-tiba menjulurkan kepalanya dari jalur masuk tenda.

“Oh?! Samchon, hampir saja aku cemas kalau kau meninggalkanku,” sahut Sena sedikit lega. Ia pun segera bangkit.

“Berhenti di situ, Sena.”

Gadis itu melakukan apa yang diperintah. “Apa ada sesuatu yang kulupakan, Samchon?”

Baekhyun mengangguk syahdu. “Kau melupakan sesuatu, honey. Hukuman. Kau ingat hukumanmu?”

“Hukuman? Tidak boleh masuk rumah sampai minggu depan? Tapi Samchon, aku ‘kan mau pergi ke sekolah, jadi….”

“Ya, itu maksudku. Itu artinya kau juga tidak bisa pergi ke sekolah naik bus bersama yang lain. Jadi mulai hari ini sampai masa hukumanmu habis, kau dan Yoongi, berdua harus pergi sekolah bersama-sama.”

“Apa?! Itu tidak masuk akal!!”

Suara itu, bukan berasal dari Sena. Tapi Yoongi, yang tiba-tiba bangun seakan dia baru saja dirasuki roh jahat. Lihat saja, bahkan matanya belum sepenuhnya terbuka.

Sena berjengit kaget. Baekhyun mengerutkan kening.

“Terserah, mau naik taksi, bus atau jalan kaki. Yang penting kalian tidak boleh berangkat atau pulang sekolah secara terpisah. Oke? Ya sudah. Semoga hari kalian menyenangkan. Sampai bertemu lain waktu.”

Baekhyun menutup jalur masuk itu rapat-rapat sebelum melakukan sprint ke bus mewah yang sedang menunggu di pekarangan. Di dalam tenda, dua remaja itu tampak heboh sendiri. Berebut menarik tuas resleting –yang akhirnya dimenangkan Sena- dan berlari keluar mengejar bus yang sudah melesat meninggalkan pekarangan. Oh sial, mereka terlambat.

Keduanya saling pandang, satu detik kemudian langsung membuang pandangan.

“Semua ini gara-gara kau!”

Yoongi kembali menoleh. Kesal. “Yang mengumpat tidak hanya aku, kau juga.”

“Aku tidak akan mengumpat kalau kau tidak mengumpatku!” balas Sena, ikut menoleh.

“Jadi semua ini salahku? Ya, baiklah! aku yang salah! Aku! sekarang kau puas!” Sambil menghentakkan kaki, Yoongi segera kembali ke dalam tenda. Tidak lama, karena setelahnya dia keluar dengan berbagai peralatan mandi lengkap. Tanpa menoleh sedikit pun, ia melenggang santai ke kamar mandi, tak peduli semasam apa wajah Sena. Astaga … pria itu benar-benar menyebalkan.

Rasanya kaki Sena sudah kesemutan ketika Yoongi kembali dengan kondisi yang lebih baik dan seragam yang melekat di tubuh. Gadis itu langsung bangkit, memegangi tali tasnya dengan bibir yang tak henti-hentinya mengerucut.

“Tidak bisakah kau sedikit lebih cepat? Kau pikir sudah jam berapa ini?!!”

Yoongi menoleh sambil sibuk mengeringkan rambut dengan handuk. “Aku tidak menyuruhmu menunggu.”

Gadis itu mendengus. “Yaa! Bukan itu masalahnya! Aku sama sekali tidak tahu kota Seoul, bagaimana bisa aku pergi ke tempat yang tidak kutahu namanya?! Lagi pula … aku tidak punya uang untuk ongkosnya….” Ia menunduk, memperhatikan ujung sepatunya yang sedang menggurat lantai tenda.

Yoongi berdecak. Menyampirkan handuk basah di tali jemuran luar, asal mengatur rambut, ambil tas, dan pasang sepatu. “Jadi maksudmu kau ingin aku mengongkosimu pergi sekolah? Cih, memang kau dan aku punya hubungan sedekat apa sampai-sampai aku harus melakukan itu?”

Samchon tidak memberiku uang sepersen pun. Dompetku juga tertinggal di kamar. Yaa, lagi pula kalau kau berangkat sendiri dan meninggalkanku, hukuman ini tidak akan pernah selesai. Sudah jelas-jelas ‘kan, Samchon menginginkan kita-ah! maksudku kau dan aku untuk pergi sekolah bersama, jadi….”

“Ya, ya, ya.” Yoongi menyela sambil bangkit. “Telingaku kelu mendengar suaramu. Oke, hanya hari ini aku akan berbaik hati padamu, karena ini hari ulang tahunku. Jadi, kau harus melunasinya nanti. Setuju?”

Tanpa pikir panjang Sena mengangguk. “Setuju. Sekarang kemarikan dompetmu.”

Wae? Wae? Kau mau apa dengan dompetku?” Meski begitu, dompet cokelat kesayangannya dikeluarkan juga dari saku. Sena langsung merebutnya, dan tanpa banyak bicara mengambil setengah uang tunainya di sana. Dia hanya bisa melongo saat dompet itu kembali ke tangannya.

“Di saat-saat seperti ini, kau harus berbagi pada rekan senasibmu. Kupinjam dulu, eo?

Melihat dengan mata kepalanya sendiri, uang 15ribu won hasil jerih payahnya selama sebulan lebih masuk ke dalam tas polkadot pink gadis itu tanpa banyak memberontak. Oh astaga, ini benar-benar tidak masuk akal. Kenapa gadis itu bisa bertingkah seenaknya?

Yaa! Kenapa kau masih berdiri di sana?! Ini sudah hampir jam 8! Cepatlah sedikit, Siput!”

Giginya bergemerutuk kuat, gadis itu, awas dia. Menghela napas, lantas menghentakkan kaki menyusul gadis itu. Pagi ini mereka sungguhan pergi ke sekolah dengan bus umum. Tidak ada lagi bus mewah seperti kemarin-kemarin.

Gerbang sekolah sempurna tertutup saat mereka sampai. Seorang penjaga sekolah tampak sedang berjaga di sana sambil menepuk-nepuk tangan kiri dengan tongkat. Menunggu kedatangan murid terlambat lain selain anak-anak yang sedang push up di depannya.

08.30, Sena dan Yoongi terlambat total. Saat ini, mereka tengah bersembunyi di balik semak-semak yang ada di dekat gerbang sekolah. Melihat situasi, mencari celah masuk yang lebih aman.

“Sebenarnya ada jalan masuk lain selain gerbang itu. Tapi….” Yoongi menoleh pada gadis di sampingnya. “Sepertinya kau tidak akan bisa lewat sana.”

Sena mengerutkan dahi bingung. “Wae? Kenapa cuma aku yang tidak bisa?”

Yoongi mengarahkan dagunya ke rok gadis itu. Sena menunduk, spontan menutupi pahanya yang terekspos. Mendengus. “Jadi maksudmu karena aku memakai rok?”

Pria itu mengangguk, mengalihkan pandangannya ke depan lagi. “Tidak mungkin juga kalau aku mengangkatmu.”

“Apa tidak ada jalan lain? Kau ‘kan sudah setahun bersekolah di sini, masa tidak tahu jalan lain seperti lubang tikus? Biasanya di sekolah-sekolah banyak jalur seperti itu.”

“Ini bukan Daegu, tidak ada yang seperti itu di sini. Kau pikir kenapa sekolah ini disebut sekolah terfavorit? Memangnya mungkin ada tempat-tempat seperti itu? Aish … Yaa! kalau bukan karena samchon aku tidak akan mau memikirkanmu! Cih, lain kali bawa celana ke sekolah! Perempuan selalu saja menyusahkan.” Yoongi mengacak rambut sampai berantakan. Ck, menyebalkannya di saat-saat seperti ini kakinya kesemutan. Ugh, makin memperburuk suasana saja.

Sena mengerucutkan bibir tak suka. “Lalu ibumu itu bagaimana? Dia juga perempuan, bukan? Apa yang menyusahkan darinya, huh? Yang ada justru kau itu yang menyusahkannya.”

Yoongi menoleh cepat. Kedua alisnya terpusat di tengah. “Kenapa tiba-tiba membawa ibuku? Ini tidak ada urusan dengannya.”

“Tentu saja ada. Kau ini baru saja menyinggung soal perempuan. Cih … pantas saja kau masih sendiri sampai sekarang. Kutebak, pasti para gadis itu langsung ilfil begitu mengetahui sifat aslimu.”

“Kali ini aku sedang tidak berselera berdebat denganmu,” ujar Yoongi sambil membuang pandangan. “Lagi pula tidak ada seorang pun gadis yang menarik perhatianku, apalagi kau.”

“Cih, siapa juga yang mau denganmu.” Sena menjauhkan tubuhnya dari Yoongi. Cemberut.

“Bisa saja. Bukannya sejak awal kau selalu mencari gara-gara denganku? Bohong kalau kau tidak menyukaiku,” balas Yoongi sambil menopang dagu.

Sena menoleh. Mendesis tak suka. “Percaya dirimu tinggi sekali. Tapi maaf ya, sejentik jari pun aku tidak punya perasaan itu padamu.”

Yoongi angkat bahu tak peduli. “Biasanya juga perempuan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kata hatinya.”

“Aku tidak begitu!”

“Oh.”

Grrr, Min Yoongi. Tangannya sudah mengepal kuat, tinggal menunggu kapan energinya dilepaskan. Pria itu, benar-benar bikin kesal.

“Tahun ini adalah hari ulang tahunku yang paling mengenaskan. Di usir dari rumah gara-gara gadis jadi-jadian, dipaksa tinggal dengan gadis tak tahu sopan santun di sebuah tenda jelek, setengah uang sakuku bulan ini dicuri orang yang sama, terlambat bersama orang yang sama, cih. Kenapa dunia ini sempit se-AH!!”

Sena makin ganas menarik rambut Yoongi. Nih rasakan! RA.SA.KAN! Semoga harimu makin rusak, Min Yoongi!!

SRAT!

“Apa yang kalian lakukan di sini?!!”

Kedua remaja itu hanya melongo. Kedua tangan Sena masih berada di kepala Yoongi, sedangkan kepala Yoongi ada di dekat dada Sena. Oh tidak, si penjaga sekolah salah paham! Buru-buru Sena mendorong kepala Yoongi hingga pria itu terjerembab ke belakang. Ia pun bangkit.

“I-ini tidak seperti yang ahjussi bayangkan. Sungguh. Kami tidak melakukan apa pun.” Kedua telapak tangannya saling menempel, memohon dengan tampilan puppy eyes.

Yoongi juga ikut-ikutan berdiri di sebelahnya, pasang wajah memohon meski sebenarnya itu sangat tidak cocok dengan kondisinya sekarang. “Ahjussi, kau saaaangat mengenalku dengan baik. Apa mungkin kau akan menganggapku telah melakukan sesuatu padanya? Tidak ‘kan? Lihatlah, gadis ini sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. Dadanya juga kecil. Ayolah ahjussi, jangan hukum aku. Kalau dia, silahkan saja.”

Sena mendelik begitu mendengar tentang dadanya. Sial, pria ini.

Tapi si ahjussi sepertinya tidak peduli. Pria itu langsung menyeret dua anak itu ke area sekolah. Menyuruh mereka push up 200 kali di depan pos jaga dengan tas di punggung masing-masing. Demi tidak diadukan ke guru soal kesalahpahaman tadi, keduanya terpaksa menerima hukuman itu dengan ringan hati.

Baru di saat istirahat sekolah, Sena akhirnya bisa kembali ke kelas. Kondisinya benar-benar buruk. Rambut berantakan, baju basah oleh keringat, wajah memerah. Taehyung, Jimin dan Jungkook yang akan pergi ke kantin pun terpaksa menunda keberangkatan mereka demi menyambut kedatangan gadis itu. Taehyung dan Jimin menghampiri.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jimin sambil memperhatikan wajah Sena. “Sini, kubantu membawa tasnya.”

Sena tidak menolak ketika tas itu diambil alih oleh Jimin. Matanya pun beralih pada Taehyung.

“Kupikir kau dan Yoongi hyung tidak akan sampai di sekolah,” ujar Taehyung sembari membantunya merapikan rambut. Pria itu sama khawatirnya dengan Jimin.

Dua pria itu terkejut saat Sena tiba-tiba memegangi lengan Taehyung erat. “Taehyung-a, bisakah kau minta samchon membatalkan hukumannya? Aku benar-benar sudah tidak kuat. Gara-gara pria itu aku terpaksa harus push up 200 kali. Bayangkan, 200 kali! Ini sungguh tidak masuk akal. Bagaimana kalau besok, lalu besoknya lagi dia tetap membuatku melakukannya? Ah!!! Aku bisa gila!!”

Taehyung hanya bisa menatapnya prihatin. Sedikit menyesal karena tidak bisa membantu apa pun. Sebenarnya kemarin dia juga sudah mengajukan protes pada Baekhyun, tapi karena Baekhyun bukanlah tipe pria yang mudah luluh, jadi protesnya pun sia-sia.

Jungkook yang sejak tadi hanya berdiri di belakang, akhirnya ikut bergabung. “Bagaimana kalau sekarang kau ikut kami ke kantin? Sepertinya kau lebih membutuhkan makan ketimbang jawaban.”

Sena menoleh, bersitatap sebentar dengan Jungkook, juga dengan Jimin dan berakhir di Taehyung. Lalu ia mengangguk.

Mereka pun pergi ke kantin bersama setelah Jimin menyimpan tas Sena di bangku gadis itu.

Sekolah yang panjang dan melelahkan akhirnya berakhir saat waktu sudah mengarah di angka 9. Sena masih tidak bisa pulang bersama yang lain. Dia masih harus pergi ke studio musik dulu untuk mengikuti ekstrakulikuler. Ya, hari ini, adalah jadwal masuk klub itu. Yang artinya, dia akan bertemu dengan Yoongi di sana.

Dari luar, studio tampak sudah penuh dengan para anggota baru. Sena termasuk di dalamnya, duduk di barisan paling belakang menunggu si ketua club datang. Hanya dia satu-satunya yang berasal dari kelas 1-1. Entahlah, sepertinya banyak siswa kelasnya yang lebih memilih organisasi dan English club daripada klub ini. Alhasil dia hanya bungkam selama masa menunggu.

Yang ditunggu akhirnya datang. Min Yoongi, dengan dandanan bad boy nya langsung disambut dengan heningnya suasana. Pria itu melempar tas sembarangan, lalu berdiri menghadap para anggota baru.

“Maaf membuat kalian menunggu. Langsung saja, hari ini, karena sudah cukup malam, aku hanya akan membagi kalian dalam beberapa sub. Sudah pasti tidak semuanya akan mempelajari bidang yang sama, jadi kupikir akan lebih baik kalau dikelompokkan dalam bidangnya masing-masing.”

Tiba-tiba lima senior lain datang, langsung bergabung dengan Yoongi di muka studio.

“Di kanan dan kiriku ini adalah ketua dari masing-masing subklub. Jadi total subklub di sini ada enam, termasuk aku. Untuk mempersingkat waktu, begini, angkat tangan kalian jika kalian berbakat atau berminat di bidang yang kusebutkan. Untuk yang pertama, biola dan cello. Silahkan ikuti Nam Woohyun.”

Enam orang gadis ditambah dua orang pemuda, berdiri, lalu mengikuti kemana perginya senior berhidung mancung yang sejak tadi menyapa semua orang dengan senyum manisnya.

“Selanjutnya, harpa, silahkan ikuti Seo Joo Hyeon.”

“Saxophone, flute, oboe, clarinet, dan basson bersama Hwang Mi Young.”

“Trombone, horn dan trumpet, bersama Jung Eun Ji.”

“Timpani bersama Kang Min Yeon.”

“Dan untuk piano, kalian tetap di sini bersamaku.”

Hanya tersisa lima orang di ruang itu ditambah Yoongi. Sena juga termasuk di antaranya, menggaruk kepala sambil berusaha mengalihkan perhatian asalkan tidak melihat ke depan.

“Kalian bisa duduk di barisan depan. Yang paling belakang, kemarilah.”

Merasa dipanggil, Sena pun mendongak, lantas berdiri dan bergegas pergi ke barisan depan. Dia duduk bersebelahan dengan seorang gadis berambut pendek.

Yoongi menarik kursi, lalu duduk. Diperhatikannya anak baru di depannya satu persatu. Tiga pemuda dan dua gadis. Dia tidak begitu lama memperhatikan Sena.

“Baiklah. Hari ini, sebenarnya aku sedang tidak bisa memulai pembinaan untuk piano. Beberapa pekan lagi aku akan mengikuti kompetisi piano di Busan jadi aku perlu banyak berlatih untuk itu. Maka dari itu, hari ini apakah kalian tidak keberatan untuk tidak latihan dulu?”

Hampir semuanya mengangguk, termasuk Sena.

“Oke, sebagai gantinya aku akan memberi kalian tugas rumah. Kita akan mulai latihan minggu depan, jadi sambil menunggu hari itu datang, di rumah, mulai hari ini kalian harus membuat aransemen musik sendiri. Terserah mau membuat yang seperti apa, mau mengubah komposisi musik yang sudah ada juga tidak apa, membuat yang baru juga tidak masalah. Asalkan kalian sudah menyelesaikannya minggu depan. Anggaplah ini sebagai tes pertama kalian. Bagaimana? Kalian bersedia?”

Tidak ada yang menunjukkan rasa keberatan. Akhirnya pertemuan itu pun ditutup.

Satu persatu siswa keluar dari sana, menyisakan Yoongi dan Sena yang masih duduk di kursi masing-masing.

“Kau tidak pulang?” tanya Yoongi tiba-tiba.

Sena mendongak. “Kau sendiri?”

“Aku akan di sini sampai tengah malam,” jawabnya seraya bangkit. “Memangnya kau bersedia menunggu?”

Angkat bahu. “Mau bagaimana lagi.”

“Bus terakhir jam 11, kau yakin tidak mau pulang duluan?” Yoongi memasukkan kedua tangan ke dalam saku, bersabar tetap berdiri di sana.

“Naik taksi juga bisa, ‘kan?”

Yoongi menggeleng. “Aku tidak punya uang sebanyak itu untuk naik taksi.”

Sena melotot. “Jadi maksudmu, jalan kaki?” Membayangkan pulang ke rumah Baekhyun dengan jalan kaki benar-benar membuatnya langsung bergidik ngeri. Bayangkan saja, dari sekolah ke rumah, naik bus menghabiskan waktu 20 menit, bagaimana kalau jalan kaki?

Pria itu melenggang memasuki sebuah ruangan. “Kalau kau tidak sanggup, aku tidak masalah kalau kau mau pulang duluan. Anak manja sepertimu mana mungkin sanggup berjalan sejauh itu.”

Sena menggeram tak suka. Apa katanya? Anak manja? Hah! Yang benar saja. Akan dia buktikan pada pria itu kalau dia bukanlah anak manja. “Baiklah! Aku akan di sini menunggumu sampai selesai! Akan kubuktikan padamu kalau aku bukan anak manja!”

Tidak ada sahutan dari pria itu. Yoongi sempurna ditelan oleh ruangan tersebut.

Menyisakan Sena yang cemberut dengan ejekan Yoongi barusan.

Satu jam Sena di sana. Mulai lelah menunggu. Bosan dengan ponselnya, ia pun bangkit, pelan-pelan melangkah mendekati ruang yang tadi dimasuki Yoongi. Semakin dekat dari ruang itu, semakin terdengarlah alunan piano darinya. Moonlight Sonata. Bulu kuduk Sena sontak meremang. Dari balik kaca, bisa dilihatnya punggung Yoongi yang terpaku pada piano. Pria itu tampak sangat menikmati permainannya.

Bagaimana bisa dia memainkan itu di tengah malam seperti ini? keluhnya.

Namun meski begitu, Sena tetap menikmati permainannya. Di saat tempo berubah cepat, tanpa sadar kepalanya mengangguk-angguk kecil. Jujur, permainan Yoongi benar-benar hebat.

Di tengah-tengah permainan, tiba-tiba Yoongi menoleh. Menunjukkan ekspresi datarnya yang misterius. Mau tak mau Sena menatapnya. Terkejut, juga terpesona. Pria itu masih bisa bermain dengan baik meskipun sedang melihatnya. Kemampuan yang seperti ini bisa dibilang mustahil. Oh ayolah, permainan pianonya makin cepat. Apa mungkin?

Senyum tipis tercetak di wajah pria itu, kembali menoleh ke depan. Permainan pun berakhir.

Sesuai janji Yoongi sebelumnya, mereka baru keluar dari sekolah itu tengah malam. Bertepatan dengan si penjaga yang akan mengunci sekolah.

“Kenapa kalian baru keluar sekarang?” tanya pria berkepala lima itu sambil memperhatikan mereka dengan curiga. Dia tidak lupa siapa dua siswa yang ditangkapnya terakhir pagi tadi.

Yoongi melirik sampingnya sekilas. “Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Ahjussi.”

Sena mengangguk setuju. “Aku hanya menunggunya, tidak melakukan apa-apa.”

“Kalian membuatku curiga,” ujar si penjaga itu sambil mengeluarkan kunci gerbang dari saku. “Ya sudah, cepat pulang. Jangan pergi ke mana-mana lagi. Langsung ke rumah.”

“Baik,” jawab dua anak itu bersamaan. Mereka pun bergegas pergi, menyusuri trotoar menuju rumah Baekhyun.

“Serius jalan kaki?” tanya Sena tiba-tiba.

Yoongi menoleh ke kanan kiri, sibuk memperhatikan beberapa toko yang masih buka. “Aku ‘kan sudah bilang tadi.”

Sena menendang kerikil yang menghalangi jalannya dengan bibir mengerucut. “Pasti akan lama sampai rumah.”

“Kalau kau tidak mau ya sudah, cari taksi, bayar sendiri.”

Gadis itu menoleh kesal. “Memangnya mereka mau dibayar tiga ribu won?”

Yoongi hanya menggendikkan bahu. Lalu tanpa ada peringatan, dia langsung berbelok, memasuki sebuah kedai kecil. Mau tak mau Sena juga ikut masuk.

Yaa, yaa, kenapa kau tiba-tiba masuk ke sini?” tanyanya setelah berhasil menarik tas Yoongi. Dia menoleh ke kanan kiri, agak merinding karena bersitatap dengan banyak pria dewasa.

“Ya untuk apa lagi? Tentu saja makan. Lepaskan.” Dengan paksa ia pun melepaskan cengkraman Sena dari tasnya. Melenggang santai ke sebuah meja kosong, memanggil seorang ahjumma, memesan samgyetang dengan kimchi.

Karena tak tahu harus pergi ke mana, Sena terpaksa menempati kursi kosong di meja yang dipilih Yoongi. Dia mengganti posisi tasnya di depan, untuk dipeluknya erat. “Tempat ini mengerikan.”

Yoongi melepas blazernya sekaligus melipat lengan kemeja sampai siku. Datar saja memperhatikan Sena. Tas dan blazer dia simpan di kursi sebelahnya.

“Kedai ini memang langganan para pria, kalau kau mau tahu.”

Sena mendelik, merentangkan leher ke depan, berbisik, “Kau serius?”

“Ya. Kau akan tahu alasannya sebentar lagi.”

“Apa maksudmu?”

Tepat saat itu, seseorang keluar dari belakang. Sena pun menoleh. Melotot. Ia sama sekali tidak berkedip hingga orang itu sampai di meja ini. Menghidangkan dua mangkuk samgyetang dan satu mangkuk kecil kimchi. Yoongi hanya menyeringai saat orang itu berbicara di dekat telinganya.

Baru saat orang itu kembali ke belakang, Sena angkat bicara. “Oh astaga! Dia … dia … heol!

Yoongi tersenyum tipis. “Itu termasuk strategi penjualan yang manjur ‘kan?”

Sena menatapnya tak habis pikir. “Jadi kau juga datang ke sini untuk melihatnya?”

Pria itu mengangkat bahu sambil menyeringai. “Setidaknya di sini tidak akan ada para gadis berisik sepertimu.”

“Apa katamu?!!”

Sena langsung meminta maaf pada para pelanggan lain yang terganggu. Lalu mengulang pertanyaan yang sama dengan nada lebih rendah.

Yoongi memilih tak peduli dan langsung menyantap pesanannya. Ia sengaja beli dua, satu untuknya, satu lagi untuk Sena. Tapi kebaikannya hanya sampai di situ, untuk kimchi, dia beli untuk dirinya sendiri.

Sena mengerucutkan bibir gara-gara pertanyaannya tidak dijawab. Tanpa banyak bicara lagi dia menghabiskan porsi samgyetang-nya. Diam-diam mencoba mencuri kimchi tapi gagal. Terpaksa dia memakan samgyetang tanpa kimchi.

Setelah membayar, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Sena tak hentinya mengeluh. Lelah. Lelah. Lelah. Sayangnya Yoongi terlanjur cuek. Alhasil, usai menempuh setengah perjalanan, Sena terpaksa tutup mulut karena lelah bicara.

Ada saat di mana mereka melewati kawasan bukan perumahan. Sena yang notabene takut suasana seperti itu tanpa sadar berusaha mendekatkan dirinya pada Yoongi. Setiap ada suara aneh dari balik pepohonan, reflek tangannya merangkul lengan pria itu. Ia baru mau melepaskannya saat Yoongi memaksa.

Yaa! Yaa!” Ini sudah yang keempat kalinya Yoongi bergidik karena Sena tiba-tiba merangkul lengannya. Sayangnya yang kali ini susah dilepas.

“Tidak mau!” seru gadis itu saat Yoongi menyentaknya.

Yaa! Orang-orang akan salah paham nanti! Lepas tidak?!” Yoongi tetap tidak menyerah untuk membebaskan tangannya.

“Biarkan saja! Memangnya apa peduli mereka?! Kau pikir aku mau seperti ini? Ada sesuatu di sana … aku takut….”

Nada yang makin melemah membuat Yoongi luluh. Mendengus, ia pun membiarkan gadis itu memeluk lengannya. “Bukannya tadi sudah kubilang? Kalau kau tidak sanggup, tidak usah menungguku. Aish! Menyusahkan saja.”

“Aku hanya melaksanakan apa yang diperintah samchon. Kalau bukan karena dia, aku juga tidak akan mau menunggumu.”

“Dia tidak akan tahu kalau kau melanggarnya sesekali. Memangnya kau pikir darimana dia tahu aku pulang denganmu atau tidak? Pokoknya aku tidak mau tahu, besok jangan lagi memaksa pulang bersamaku! Kau ini hanya menyusahkan, lepas!”

Setelah lengannya berhasil bebas, Yoongi langsung mempercepat langkah. Membuat gadis itu tertinggal beberapa langkah di belakang, dan terpaksa berlari untuk bisa menyejajarinya.

 

TBC

10 responses to “#5 First Love [Blood, Sweat & Tears] ~ohnajla

  1. Hahah kasiaan. Gkpapa laah. Dgn hukuman ini mana tau mereka berdua bsa tmbah akrab. Dan gk bertengkar lg. Yoongi oppa! Semangat lomba piano.a yaakkk. Menang menang menang!
    Dtggi nex chapt.a
    Hwaiting eonni..smga next chapt lbh panjang lg hihihi^^

  2. Ebusyettt Yoongi jahanam banget sii, gatau ye kalo Sena ampe keteter gitu ngejarnya, mana cape banget jalan jauhh wekk gada perhatiannya sama skali-_- eww
    Tp kalo udah kaya gini mungkin bener2 bisa bikin Yoongi ama Sena ga kaya kucing-tikus wkwk ya pelan2 aja pendekatannya

  3. suka banget sama karakter mereka disini hohooo 😍😍😍 ditunggu lanjutannya, pokoknya mereka lucu njir wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s