[CHAPTER 4] SALTED WOUND by Heena Park

salted-wound-cover

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD. And thanks to Byun Hyunji for this awesome poster!

.

.

Prev :

TEASER

CHAPTER 1

CHAPTER 2

CHAPTER 3

VIDEO TRAILER

.

6 Years Ago.

Soondae High School, South Korean.

 

Prom Night, tak ada satu siswapun yang berusaha meninggalkan tempat kecuali Hee-Ra. Seluruh angkatan mulai dari kelas satu sampai tiga berkumpul dalam ruangan, menggunakan gaun serta tuxedo terbaik mereka, tak lupa topeng karena tema Prom Night kali ini adalah ‘Who Are You?’

Gaun hitam metalik serta high heels sepuluh centi rupanya bukan pilihan yang benar bagi Hee-Ra. Ia duduk di bar seorang diri setelah Yi-Soo dan Hae-Jin pamit untuk berdansa dengan pasangan mereka.

Ah, single saat Prom rupanya lumayan buruk. Kalau saja si brengsek Chan-Yeol tidak memutuskannya tiga bulan lalu dan berpaling pada gadis lain, Hee-Ra pasti tak sendirian malam ini.

Terlebih, netranya kini mendapati sosok brengsek itu tengah tertawa lepas bersama gadis pujaannya. Serius, apa mereka memang berniat pamer kemesraan di depan Hee-Ra?

Oh, Chan-Yeol dan Bo-Ra memang menggunakan topeng, tapi hanya sebatas mata dan hidung, sehingga tak aneh kalau Hee-Ra dapat mengenalinya dengan mudah.

Cih, kalau mereka sampai putus, Hee-Ra adalah orang pertama yang akan menertawakan keduanya.

“Alone, young lady?”

Hee-Ra terkesiap, vokal seseorang membuat kekesalannya pada Chan-Yeol dan sang kekasih pudar sejenak. Ia menengok, mendapati seorang pria tengah berdiri di sampingnya. Tuxedo hitam dengan dalaman putih melekat sempurna di tubuhnya.

“Boleh aku duduk?” tanyanya lagi.

“Oh?” Hee-Ra agak kaku, ia menatap kursi kosong di sebelah dan mengangguk, “tentu.”

Setelah mendapat persetujuan, pria itu segera duduk. Tubuhnya agak condong ke Hee-Ra, berniat untuk mengatakan sesuatu.

“Tidak punya teman kencan saat prom rupanya cukup buruk,” ia tertawa.

Hee-Ra mengangguk setuju. Prom seorang diri memang sangat menyedihkan. “Ini prom pertamaku di SMA, kau?”

“Terakhir,” pria itu berhenti sejenak dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Aku meninggalkan pasanganku yang membosankan.”

“Oh?” Hee-Ra tertohok. Mungkinkah pria yang berada di sampingnya hampir mirip dengan Chan-Yeol? Si brengsek yang pergi setelah bosan?

“Dia terlalu posesif dan berpikir kalau aku hak patennya,” seolah mengerti pikiran negatif Hee-Ra, ia mencoba menjelaskan. “Player, aku tahu dia sering bermain di belakangku,” tawa hampanya kembali terdengar.

Merasa tak enak telah memikirkan yang tidak-tidak, Hee-Ra berniat untuk meminta maaf. Matanya menatap penuh makna, setulus hati mengatakan permintaan maafnya, “Maafkan aku…”

“Tidak masalah,” senyuman manis terukir di bibir sang pria. Tak nampak perasaan tersinggung sama sekali dari suaranya.

Sepersekian detik kemudian, pria itu bangkit, ia berdiri di depan Hee-Ra sembari mengulurkan tangan. “Mau berdansa?”

Wanita mana yang tidak luluh ketika seorang pria memintanya berdansa dengan semanis itu? Tanpa pikir panjang Hee-Ra mengangguk, ia menyambut uluran tangan sang pria yang kemudian dituntun menuju lantai dansa.

 

Lagu Thinking Out Loud milik Ed Sheeran diputar. Hee-Ra melingkarkan kedua lengannya ke leher pria itu, sementara ia memeluk lembut pinggang Hee-Ra.

Aneh memang, tapi inilah faktanya. Entah sihir apa yang telah memantrai otaknya, tapi Hee-Ra sangat menikmati dansa mereka.

Kedua mata yang saling bertemu, begitu dalam dan mencari kejujuran. Wanginya aroma parfum yang tercium dari tubuh pria itu mampu menyihir Hee-Ra untuk terus tinggal. Ia ingin terus seperti ini.

“Kau suka dengan aroma citrus?” tanya pria itu tiba-tiba.

Tatapan Hee-Ra melembut. “Aku menyukai apapun yang menyegarkan.”

“Kemarilah.” Pria itu menuntun kepala Hee-Ra untuk menyandar di dadanya, tangannya semakin erat memeluk pinggang Hee-Ra. “Kau bisa mencium dengan lebih jelas sekarang.”

Pipinya merona, Hee-Ra tak pernah diperlakukan semanis ini sebelumnya. Pria itu memeluknya erat namun tetap lembut, memberikan kehangatan yang begitu nyaman dan memabukkan. Pikirannya melayang, harapan untuk terus bersama hadir begitu saja dalam benak Hee-Ra.

Walau ia tak tahu seperti apa rupa pangeran yang tengah menjadikannya putri, tapi siapa yang peduli pada penampilan kalau sudah nyaman pada sifatnya?

DOR!

Tiba-tiba suasana berubah kacau. Seseorang yang entah berasal dari mana meluncurkan tembakan ke arah lampu hingga membuat semua orang terkejut. Mereka berlarian, berusaha keluar ruangan dan menyelamatkan diri, sementara bunyi peluru masih terdengar menembak ke segala arah.

Hee-Ra kebingungan, tiba-tiba tangannya ditarik oleh pria itu, menembus kerumunan orang panik sama saja dengan bunuh diri. Bisa-bisa sebelum keluar malah mereka tertembak lebih dulu.

“Tetap bersamaku!” perintah pria itu, tubuh besarnya melindungi Hee-Ra. “Aku berjanji kau akan selamat, tetaplah bersamaku dan jangan panik.”

Hee-Ra mengangguk, ia mengikuti apa yang diperintahkan oleh pria itu. Mereka berdiri di pojok, menempel ke dinding, sementara Hee-Ra terus dipeluknya erat.

Mereka bisa melihat kilatan wajah orang-orang yang tertembak ketika cahaya lampu hidup-mati dalam sejenak. Hee-Ra berdiri kaku, bibirnya memucat melihat darah di mana-mana. Pembunuhan terencana, kenapa harus anak SMA yang menjadi sasarannya? Apa salah mereka?

Hee-Ra merasakan sesuatu terjatuh di kepalanya, ia mendongak, mendapati topeng pria itu terlepas. Dan rasa terkejutnya semakin besar ketika Hee-Ra menyadari bahwa pria yang tengah memeluknya, pria yang napasnya tersenggal-senggal dan pria yang berusaha melindunginya adalah dia..

“Oh Se-Hun?”

 

•••

 

Melihat Jong-In tengah menari bersama Emma dengan gerakan seintim itu membuat Hee-Ra agak mengerutkan keningnya.

Beberapa kali ia sempat menyadari tatapan penuh arti yang dilemparkan Emma pada sang kekasih. Bukan bermaksud negatif, tapi bukankah mata tak bisa berbohong?

Emma memang telah memiliki kekasih. Seorang pria London berambut pirang, matanya biru bening dan berperawakan tinggi besar. Tapi menurut kabar yang beredar, mereka selalu bertengkar dan memutuskan untuk break beberapa kali.

Kembali muncul penyesalan dalam hati Hee-Ra. Seharusnya hari ini dialah yang sedang gladi bersih, dialah yang seharusnya tengah berada dalam pelukan Jong-In, dialah yang seharusnya dipandang penuh perasaan oleh Jong-In.

Dalam kegundahannya, tiba-tiba ponsel Hee-Ra bergertar. Ia mengangkat alis, sudah lama Se-Hun tidak menelpon, tapi hari ini pria itu kembali muncul. Mungkinkah ia sudah kembali?

Dengan malas Hee-Ra menekan tombol jawab, oh tentu ia memang tidak menyukai sikap Se-Hun, tapi bukan berarti Hee-Ra tidak akan mengangkat kalau pria itu menghubungi.

“Halo?” Hee-Ra memulai lebih dulu.

“Ada apa dengan suaramu?”

“Aku?” Hee-Ra membuang napas kesal. “Katakan, apa maumu?”

Seolah tak mendengar pertanyaan Hee-Ra, Se-Hun kembali mengulangi pertanyaannya, “Ada apa denganmu? Kenapa nada bicaramu seperti itu?”

Sejujurnya Hee-Ra terkadang merasa kalau Se-Hun sangat peka terhadap perubahannya. “Katakan saja apa yang kau mau, Oh Se-Hun.”

Ah,” Se-Hun mendesah. “Pasti gara-gara kekasih yang kau banggakan itu akhirnya menatap gadis lain dengan perasaannya.” Ia tertawa. “Sudah kubilang kau seharusnya tak menjalin hubugan dengannya, sayang.”

“Dan kau seharusnya tidak terlalu banyak bicara.”

Tawa Se-Hun kembali meledak, Hee-Ra berbicara demikian? Wow, pasti moodnya benar-benar buruk.

Well,” Se-Hun menggantung perkataannya selama beberapa detik. “Pulanglah sebelum jam tujuh. Aku ingin makan malam denganmu.”

“Aku tidak janji,” matanya kembali melirik ke arah Jong-In dan Emma. “Kusarankan kau makan malam lebih dulu karena mungkin saja aku tidak berniat bertemu denganmu.”

Begitukah?” nada sarkasme jelas terdengar. “Aku akan menunggumu, Shin Hee-Ra.”

“Terserah.” Begitu menyelesaikan perkataannya, Hee-Ra langsung memutus panggilan tanpa izin. Ia segera memasukkan ponselnya ke tas lagi.

Saat kedua matanya mencoba mencari keberadaan Jong-In dan Emma, keduanya tak ada. Hee-Ra mengedarkan pandangan, mendapati Jong-In tengah berbicara dengan Mrs. Sanders di pinggir panggung. Sementara Emma tak tahu di mana.

“Shin Hee-Ra?”

Seseorang menepuk pundaknya, Hee-Ra menengok dan mendapati Emma tengah berdiri di sampingnya. Tangan kanannya menjinjing sepatu, sedangkan tangan kirinya memegang tas.

“Aku tidak membawa mobil hari ini, jadi aku meminta tolong pada Jong-In untuk mengantarkanku pulang. Tapi dia bilang aku harus mendapat persetujuan darimu,” ia berhenti sebentar. Senyumannya merekah lebar. “Padahal itu mobilnya, tapi karena ia sangat menghargaimu, jadi kuputuskan untuk meminta izin. Bagaimana?”

Tunggu dulu, apa Emma tengah mengatakan kalau seharusnya ia tidak perlu meminta izin pada Hee-Ra untuk pulang bersama Jong-In?

Hee-Ra menaikkan kedua pundaknya bersamaan, mengikuti alur permainan Emma. “Kalau dia tidak keberatan, akupun begitu.”

“Oh?” mata Emma berbinar. “Baiklah, akan kukatakan kalau kau memberiku izin.” Emma megedipkan sebelah matanya. “Aku akan pergi menemui Jong-In dulu,” gumamnya dan langsung berlari meninggalkan Hee-Ra begitu saja.

Wanita seperti Emma memang selalu mengatakan tujuannya dengan gamblang. Kelihatannya gadis itu agak tertarik pada Jong-In. Tapi entahlah, Hee-Ra berharap perasaannya salah.

Beberapa detik kemudian, Hee-Ra merasa namanya dipanggil. Ia mendapati Jong-In tengah melambaikan tangan padanya.

Tidak lama kemudian, pria itu berlari ke kursi penonton, menghampiri Hee-Ra yang tengah berusaha berdiri menggunakan kruk.

Am I needed?” napasnya agak tersenggal, Jong-In mengulurkan tangannya dan merangkul pinggang Hee-Ra.

“Kau memberi izin pada Emma, hm?” Jong-In sesekali melirik Hee-Ra sembari terus membantu gadis itu menuruni tangga.

“Kita harus membantu orang yang butuh, kan?”

Jong-In tertawa, ia mengacak-acak pelan rambut Hee-Ra. “Good girl,” pujinya.

Mereka segera menuju ke parkiran, Emma sudah berada di sana, tengah berdiri di samping mobil Jong-In.

Begitu keduanya sampai, Emma mengubah rautnya. “Aku tidak biasa duduk di belakang, bolehkah aku di depan?”

Jong-In langsung memandang Hee-Ra penuh tanya. Sebelumnya tak ada seorangpun yang meminta padanya untuk melakukan ini.

“Bolehkan, Shin Hee-Ra?” Emma mengedip-kedipkan matanya, bibirnya mengerucut.

Hee-Ra tidak ingin kelihatan seperti kekasih yang terlalu sensitif. Ia mengangguk. “Boleh, aku akan duduk di belakang,” balasnya kemudian langsung masuk. Membiarkan Emma kesenangan karena duduk di depan.

Adanya Emma dalam mobil membuat suasana lebih gaduh. Gadis itu terus-terusan mengoceh, bukan pada Hee-Ra, tapi Jong-In.

“Kudengar ada restoran enak di dekat sini, sebenarnya aku agak lapar.” Emma mengelus perutnya, sok kelaparan.

Jujur saja hal itu membuat Hee-Ra cukup jijik. Apa dia memang suka cari perhatian seperti itu?

Sedangkan Jong-In yang notabene-nya tidak menyadari sikap berlebihan Emma malah membalas, “Kau mau kita berhenti untuk makan malam?”

“Boleh juga!” Emma menepuk kedua tangannya antusias. “Kita tidak pernah makan bersama, bukan?”

“Aku tidak bisa ikut,” Hee-Ra menyahut.

Emma yang baru saja selesai bicara langsung menengok, menatap Hee-Ra layaknya berbicara bahwa ia tidak mengundangnya untuk ikut makan malam. Dalam artian, Emma hanya berniat makan bersama Jong-In. Menjijikkan sekali gadis itu.

“Kenapa?” pertanyaan Jong-In berhasil mengalihkan fokus Hee-Ra pada Emma.

“Aku ada janji makan malam dengan kakakku,” jawab Hee-Ra singkat.

Jong-In menaikkan alisnya. “Se-Hun sudah pulang?” tidak biasanya kau bersemangat menemuinya. “Makan malam keluarga?”

Hee-Ra menggeleng, “Mama dan papa sedang berada di luar kota.”

“Hanya kalian berdua?” ada nada tak senang dari pertanyaan Jong-In.

Hee-Ra mengangguk. “Begitulah..”

Emma tak mengerti pada arah pembicaraan Jong-In dan Hee-Ra. Mereka membicarakan kakak laki-laki Hee-Ra layaknya pengganggu.

“Kalau begitu kita langsung pulang saja,” Jong-In kembali memandang ke jalan. “Kelihatannya makan malam kalian sangat penting.”

 

•••

 

Setelah melambaikan tangan pada Jong-In yang telah berjanji akan langsung mengantarkan Emma pulang, Hee-Ra menutup matanya sembari menarik napas dalam-dalam. Keputusannya untuk pulang sebelum jam tujuh mungkin akan segera disesali. Kalau saja tadi Emma tidak menumpang, kalau saja gadis itu tidak terlalu banyak mengoceh, dan kalau saja Hee-Ra tidak merasa muak, pasti sekarang ia masih bersama Jong-In, bukannya malah membiarkan pria itu berduaan dalam mobil dengan Emma.

“Kau sudah pulang?”

Vokal familiar seorang Oh Se-Hun terdengar. Pria itu keluar dari balik gerbang. Selama beberapa saat Hee-Ra mencoba mengenali, tidak, ia bukannya lupa pada wajah Se-Hun, hanya saja ada yang berbeda dari sang kakak hari ini.

Se-Hun mengenakan sweater merah marun, rambutnya dicat pirang, matanya memiliki lingkaran gelap sebagai tanda akhir-akhir ini ia sering kerja lembur.

“Kau bilang tidak ingin bertemu denganku, eh?”

Hee-Ra memalingkan wajahnya begitu mendapati senyum menang dari Se-Hun. “Aku hanya ingin menjadi adik yang baik,” ia berhenti sebentar. “Kakakku baru pulang dari bekerja selama beberapa hari dan di rumah tak ada orang, pasti sangat buruk bagimu.”

Se-Hun terkekeh. “Tidak juga.” Ia mendekat ke arah Hee-Ra, tangan kanannya mengulurkan sebuket bunga berisi beberapa batang anyelir merah, akasia kuning dan tulip kuning. Tunggu dulu, tidak ada mawar?

“Aku mampir ke toko bunga tadi,” Se-Hun menunduk. “Sang penjual bilang aku harus memberikan kekasihku mawar merah, tapi sayangnya kau bukan kekasihku. Jadi kubelikan kau anyelir, akasia dan tulip ini.”

Hee-Ra memicingkan matanya, tak langsung menerima buket bunga dari Se-Hun.

“Kau tidak perlu khawatir, aku tidak memberi racun atau mantra pada bunga ini kok.” Se-Hun meraih tangan kanan Hee-Ra, menuntunnya agar mau memegang buket bunga darinya. “Kau tidak pernah mempercayai perasaan yang selalu kuucapkan dengan kata-kata, kuharap bunga ini bisa menggambarkan bahwa yang selama ini kau dengar dari mulutku bukanlah omong kosong belaka.”

Tak ada penolakan dari Hee-Ra, ia menjilat sebentar bibirnya yang mulai kering. Mata itu…untuk pertama kalinya selama beberapa tahun belakangan, Hee-Ra melihat kesungguhan di sana. Se-Hun yang ada di depannya malam ini bukanlah Se-Hun yang kejam, melainkan Se-Hun yang pernah membuatnya jatuh cinta saat masa SMA.

“Senang melihatmu lagi, Shin Hee-Ra,” Se-Hun menarik kedua ujung bibirnya bersamaan. Senyuman manis nan polos yang dulu membuat jantung Hee-Ra berdebar sangat kencang untuk pertama kalinya, seolah kembali lagi.

Memang bayangan tentang masa lalu kelam mereka masih terbayang dalam benak Hee-Ra, dan tentu saja hal itu tak akan bisa dilupakan. Bagaimanapun, melihat pria setampan Se-Hun membunuh menggunakan tangannya sendiri pasti membuat siapapun trauma, bukan? Terlebih lagi, dulu Hee-Ra masih memiliki perasaan pada pria itu.

Se-Hun menatapnya dalam-dalam, ia menarik dagu Hee-Ra agar mendongak. “Shin Hee-Ra, aku memang jahat, tapi aku tak akan pernah melukaimu.”

Hening selama beberapa detik, Se-Hun berniat mencium Hee-Ra, mengatakan betapa rindunya ia pada gadis itu, tapi sebisa mungkin ditahan. Ia hanya tidak ingin mendapat penolakan, itu saja.

Se-Hun menurunkan tangannya, ia bergerak menuju lengan Hee-Ra dan menggenggam erat tangan kiri gadis itu. “Jangan lari lagi, Shin Hee-Ra. Kau milikku, mengerti?”

Hee-Ra membiarkan Se-Hun menggandengnya ke mobil, ia juga tak mengeluarkan suara sedikitpun untuk membalas perkataan Se-Hun barusan. Toh, Se-Hun tak pernah mendengarkannya, bukan? Lagipula Hee-Ra juga sudah terlalu lelah untuk menolak dan terus menolak.

Se-Hun berkendara dengan santai, walaupun tidak ada percakapan atau hanya sekedar basa-basi antar keduanya, entah bagaimana perasaan hangat tiba-tiba menyelimuti. Mereka hanya saling terdiam, tiada rasa canggung atau takut. Hee-Ra sendiri tak mengerti, mungkinkah selama ini ia rindu pada Se-Hun? Sehingga saat bertemu dengan pria itu malah kehangatan yang menyeruak dalam hatinya.

Mereka berhenti di salah satu restoran. Jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumah, walaupun begitu, Hee-Ra maupun Se-Hun belum pernah ke sini sebelumnya. Se-Hun langsung membukakan pintu untuk Hee-Ra, membantu gadis itu keluar, mengingat keadaan kaki sang adik.

Hee-Ra memang hanya mengenakan satu kruk, kakinya sudah jauh lebih baik dari beberapa hari lalu. Ia bahkan berpikir untuk tidak menggunakan kruk esok hari.

Se-Hun mengeluarkan kartu bewarna emas dari saku dan menunjukan pada seorang pelayan. “Aku sudah memesan tempat atas nama Oh Se-Hun,” gumamnya.

Lantas, sang pelayan membuka daftar nama tamu VIP. Ya, di restoran ini memang terdiri atas beberapa ruangan dengan dua fasilitas. Delapan puluh persen ruangan bisa didatangi kapanpun, layaknya restoran biasa. Namun dua puluh persen lainnya hanya bisa digunakan apabila sang pembeli telah memesan.

“Saya akan mengantar anda Mr. Oh,” sang pelayan menyunggingkan senyum dan berjalan mendahului keduanya.

Mereka mengikuti sang pelayan dari belakang. Hee-Ra cukup terkejut melihat betapa ramainya restoran ini. Tentu saja, tiap hari ia selalu lewat dan memang restoran ini tak pernah sepi, banyak mobil berderet bahkan sampai berada di luar batas parkir. Tapi Hee-Ra tidak menyangka kalau di dalam rupanya lebih ramai dari apa yang dipikirkannya.

Matanya memicing, bayangan dua orang anak manusia yang tak asing membuat Hee-Ra menghentikan langkahnya. Seorang wanita dan pria duduk di dekat jendela kaca, jauh di keramaian, tenggelam dalam suara berisik juga alunan musik.

“Jong-In?”

Ia menatap Se-Hun sebentar, meminta izin untuk mendekat ke arah pria dan wanita yang berada cukup jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Walau Se-Hun telah menggelengkan pelan kepalanya, bukan Hee-Ra jika ia menurut.

Gadis itu tetap pada pendiriannya, ia berjalan mendekati Jong-In dan Emma. Bukankah mereka bilang akan langsung pulang? Kenapa malah berhenti dan makan malam di tempat ini?

“Jong-In?” suaranya bergetar, pria yang tadinya tertawa bersama dengan wanita di depannya langsung berhenti. Matanya membulat seolah tak percaya Hee-Ra ada di tempat yang sama dengannya. “Kukira kau langsung mengantarnya pulang,” lanjut Hee-Ra, masih dengan nada yang stabil, tidak terdengar kemarahan di dalamnya.

“Shin Hee-Ra?” pekik Jong-In, ia langsung bangkit dan keluar dari meja, berdiri tepat di samping Hee-Ra. “Aku..eh..kami—”

“Aku yang mengajaknya makan,” Emma memotong, “Maaf, tapi aku tadi kelaparan dan kebetulan ada restoran tak jauh dari rumahmu. Aku yang memaksa Jong-In untuk berhenti.”

Oh, tentu. Tanpa diberitahupun Hee-Ra sudah sangat yakin kalau Emma-lah yang meminta untuk berhenti. Tapi kenapa Jong-In harus tertawa selebar itu? Ia kelihatannya senang sekali. Ia bahkan tidak mengirim pesan setelah mengantarkan Hee-Ra ke rumah dan malah menghabiskan waktu bersama Emma.

Jong-In buru-buru menarik kursi. “Duduklah, kau mau pesan apa?” tanyanya sambil mengulurkan tangan pada Hee-Ra.

Bukannya menerima, Hee-Ra malah terdiam. Ia membiarkan tangan Jong-In hampa tanpa selama beberapa saat.

“Tidak perlu, aku datang bersama kakakku,” akunya.

“Se-Hun?” Jong-In mengedarkan pandangan untuk mencari tahu keberadaan Se-Hun. Benar saja, netranya berhasil menemukan sesosok pria bersweater merah marun yang tengah berjalan ke arahnya.

“Halo,” Se-Hun melambaikan tangannya, “tak kuduga kita bertemu di sini.”

“Hee-Ra mengatakan kau sudah pulang dan mengajaknya makan malam,” gumam Jong-In.

“Dan kau makan malam dengannya karena Hee-Ra memutuskan untuk pergi denganku?” Se-Hun menaikkan alisnya, senang melihat ekspresi tegang dan kesal yang ditunjukkan Jong-In.

Well,” Se-Hun nampak berpikir sebentar. “Aku sudah sangat lapar. Maaf tak bisa bergabung dengan kalian karena aku sudah memesan tempat untuk kami. Kuharap makan malam kalian menyenangkan.”

Mungkinkah Se-Hun berniat memanasi Hee-Ra dengan berkata seperti itu? Ia seolah mendikte bahwa Jong-In adalah pria brengsek yang meninggalkan kekasihnya di rumah, sementara ia malah bersenang-senang dengan gadis lain.

Dagunya mulai mengeras, namun ia masih berusaha menutupi kekesalannya. “Kami pergi dulu,” ucap Hee-Ra cepat dan kemudian berbalik.

“Aku akan menghubungimu setelah ini,” gumam Jong-In penuh perasaan.

Hee-Ra menengok sebentar, ia sengaja tak memandang Jong-In, “Habiskan saja makananmu dulu, jangan mengantar Emma pulang terlalu malam, Kim Jong-In,” balasnya kemudian mulai melangkah pergi.

 

•••TO BE CONTINUED•••

Advertisements

106 responses to “[CHAPTER 4] SALTED WOUND by Heena Park

  1. kesel deh ama emma gatau kenapa ihh suka banget goda goda jongin untung heera pengertian. sehun kayaknya puas bngt ngeliat jongin ama emma smpe manas2in heera gtu haha

  2. Siapa yg nyerang anak sma kek gitu, terus apa lagi tujuan.a.
    Apa mereka musuh sehun? :S

    terus, kapan hee ra liat sehun mbunuh orang?.
    N siapa orang yg di bunuh?
    Apa pas kejadian penyerangan itu?

    ——–

    Iiisshhh……….
    Walapun aku enggak mendukung hee ra-jongin, tapi kesel juga sama emma.
    Iisshh… Dasar cwek pengganggu, ngeselin….

    Udah, ambil aja jongin.
    Hee ra juga masih punya sehun. :@

  3. Kenapa sehun sweet banget :)) pantes hee ra suka sama sehun sebelum tau profesinya…
    Jongin nya ngeselin 😦

  4. Emma gak sadar dirinya padahal dia kan numpang terus Jongin udh punya cewek masih aja genit sama cowok orang

  5. Ah, emang perasaan pertama itu terkadang bener, ya? Aku ngerasa aneh ke Kai… dia calon playboy, kah? *reader nething 😂😆✌… Atau emang Emma yg mulai?
    Bunganyaaa 😍.. Ada yg berarti ‘cinta rahasia’, kan?
    Sweet bgt, Sehuuuun….
    Aku next ya, Kaak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s