#6 Reflection [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla

6

ohnajla | romance, school life, songfic, drama, friendship, family, brothership, teen | G | chaptered |

All member BTS

Oh Sena (OC)

Member EXO (cameo)

“One day we’re talking, the next it’s like we’re total strangers”

Blood Sweat & Tears concept

#1 Intro: Girl Meets Evil

#2 Begin

#3 Lie

#4 Stigma

#5 First Love

#6 Reflection

Esok harinya, Yoongi hanya bisa pasang wajah sebal melihat Sena yang duduk tenang di studio musik. Gadis itu, seolah tidak bersalah, melipat kedua lengannya di atas perut dengan kaki kanan yang menindih kaki kiri sambil menatapnya datar. Gadis keras kepala, kata-kata Yoongi kemarin sepertinya hanya angin lalu saja untuknya.

“Kau ini mengerti bahasa manusia ‘kan?” tanya Yoongi sambil mendekat.

“Tentu saja, aku ini manusia.”

“Kalau kau mengerti, kenapa sekarang ada di sini?” Pria itu berhenti dua langkah di depan gadis itu, mengantongi tangan kanan di saku celana.

Sena membusungkan dada, makin menghayati perannya sebagai putri angkuh. “Memangnya kemarin aku bilang setuju? Tidak ‘kan? Aku tidak peduli mau nanti jalan kaki lagi atau tidak. Yang terpenting, karena samchon menyuruhku pulang denganmu, maka aku juga akan menunggumu sampai selesai. Aku ini anak yang patuh, tidak sepertimu.”

“Dengar ya, hari ini aku berencana tidak pulang. Apa setelah mendengarnya kau masih akan menungguku?” Yoongi memicing nakal, berusaha menakut-nakuti Sena yang sekarang mulai pucat.

“Te-te-tentu! Aku juga tidak akan pulang! Kau pikir setelah mendengarnya aku akan langsung berubah pikiran? Huh, sepertinya kau meremehkanku.”

Yoongi menyeringai. “Baiklah. Siapkan diri saja.” Ia tiba-tiba mencondongkan wajahnya mendekati gadis itu. Menyeringai lebar. “Kudengar sekolah ini angker. Apalagi tempat ini. Kuharap kau tidak akan terkejut kalau bertemu dengan salah satu dari mereka.”

Dia kembali menarik tubuhnya. Tersenyum simpul melihat reaksi Sena. Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung melenggang memasuki ruang kedap suara.

Tepat saat dia akan menutup pintu, Sena tiba-tiba sudah ada di dekatnya, memaksa untuk masuk dengan wajah ketakutan. Meskipun sedikit kesal, Yoongi hanya membiarkan. Ya sudahlah, asalkan tidak membuat keributan.

Pintu pun ditutup. Tak lupa, dikunci.

“Bagaimana caranya kalau mau tidur?”

“Apa iya aku harus tidur di lantai?!”

“Ah dingin!!”

“Kyaaa! Laba-laba!! Pergi dariku! Pergi!!”

Yoongi menghela napas panjang. Sial, berisik sekali gadis itu. Menoleh ke belakang, menatap tajam gadis yang sedang melompat-lompat tak karuan seperti orang gila, menghindari laba-laba yang bahkan tidak mau dekat-dekat dengannya. Cih, sepertinya membiarkan gadis itu di sini adalah pilihan yang salah.

Matanya melotot saat tiba-tiba gadis itu melompat ke arahnya, memeluk punggungnya sambil berteriak ketakutan. Bukan lagi soal laba-laba, tapi capung yang entah dari mana bisa ada di sini.

Y-yaa! Kau ini kenapa sih?! Lepas tidak?!”

Andwae! Andwae! Cepat singkirkan hewan itu!! Hiyaa!! Eomma!!!

Yoongi reflek meraih sebuah buku partitur dan PAK! Capung yang tak berdosa itu pun terpukul jauh dan terkapar tak berdaya di pojok ruangan. Mengumpat Yoongi dengan suaranya yang lirih.

“Dia sudah kubuang, cepat lepas!”

“Benarkah?” Sena mengangkat kepala. Terlihat jelas sekali ketakutan di matanya.

“CE.PAT LE.PAS.KAN A.KU!”

Dan Sena pun langsung melepasnya, menjauhkan diri sambil berpura-pura tidak terjadi apa-apa barusan. Yoongi menghela napas.

“Ja-jangan salah paham. A-aku tidak sedang mencari kesempatan,” ujar Sena sambil sesekali melirik Yoongi.

Pria itu menoleh cepat. Tatapan kesalnya membuat Sena ketakutan dan terpaksa harus menunduk seperti seorang pendosa. BRAK! Buku partitur itu pun terbanting keras ke permukaan atas grand piano. Yoongi kembali duduk, menatap tuts pianonya tak berselera.

“Saat ini gerbang masih belum dikunci. Pulanglah. Tidak usah pedulikan samchon. Aku yang akan bertanggung jawab nanti. Akan lebih baik begitu daripada kau terus membuat keributan di sini.”

Sena menggaruk lehernya yang berkeringat sambil cemberut. “Maaf. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku hanya-”

PATS!

Saluran listrik tiba-tiba terputus. Sena mematung, masih terkejut akan kejadian yang tiba-tiba ini. Baru beberapa detik kemudian, dia bergeser cepat ke tempat Yoongi berada. Sebisa mungkin berdiri sangat dekat dengan pria itu.

Helaan napas berat terdengar, Sena yakin suara itu berasal dari Yoongi karena terdengar sangat dekat dengannya.

“Ini membuatku gila.”

Sena berkedip-kedip cepat. Sia-sia saja, yang dia lihat hanyalah kegelapan. Ia pun mengulurkan tangannya. DUG! Oh astaga! Dia baru saja memukul kepala Yoongi. Buru-buru tangannya ditarik kembali.

“Ma-maaf.”

“Bisakah kau sekali saja tidak bertingkah ceroboh? Ck, diam saja di situ. Jangan bergerak. Aku akan cari senter dulu.”

Greek.

Tap tap tap.

Dug!

“Akh!”

Sena ingin menghampirinya tapi tidak jadi. Dia tidak bisa melihat apa pun. Pada akhirnya dia pun hanya bisa mengatakan, “Kau baik-baik saja?”

“Diam di sana!”

Gadis itu reflek menutup mulutnya sendiri.

Tap tap tap.

Tap tap tap.

Krieet!

“Di mana sih?” Sena bisa mendengar keluhan Yoongi dari kejauhan. Bola matanya bergulir ke asal suara, sayang dia masih tidak bisa melihat apa pun.

“Ah. Ini dia.”

CKLIK!

Tap tap tap.

Sinar putih bergerak menghampirinya. Tidak terlalu terang, tapi setidaknya bisa membuatnya sadar kalau dia tidak buta. Langkah kaki Yoongi makin dekat. Sampai ia pun akhirnya mampu melihat pria itu berdiri di depannya, menyorot wajahnya dengan senter.

“Hey hey,” keluhnya sambil melindungi matanya dari cahaya senter.

Dan Yoongi pun menyimpan senter itu di atas piano, berpindah menyorot dinding. Menghasilkan bayangan tubuh mereka berdua di sana.

“Jangan berisik lagi seperti tadi.”

Sena menoleh, lantas mengangguk malu. “A-asalkan tidak ada serangga.”

Yoongi memutar bola mata sambil menghela napas. “Itu juga tidak boleh. Sama-sama berisik, tahu!”

Gadis itu berjengit, dan mengangguk lagi.

“Haaaaaaaah! Padahal aku berniat latihan semalam suntuk, ck! Kalau begini bagaimana aku bisa menang!”

Sena hanya diam sambil menonton kemarahan Yoongi. Pria itu tampak frustasi. Mengacak rambut, menghentakkan kaki, mengumpat. Sangat mengerikan.

“Kau ‘kan tetap bisa latihan. Berlebihan sekali.”

Yoongi meliriknya sebal. Tiba-tiba menendang kursi piano, lalu sambil berpaling mengatakan, “Diam dan duduk saja. Aku sedang tidak berminat membuat keributan denganmu.”

Tanpa banyak protes Sena langsung duduk. Lega, akhirnya dia bisa duduk juga.

Pria itu menghela napas. Menjatuhkan dirinya di atas lantai, tidak peduli mau lantai itu kotor atau tidak. Dia masih kesal dengan kondisi. Bisa-bisanya saat dia mau latihan serius masalah terus berdatangan. Cih, apa masih tidak cukup kalau hanya gadis itu saja yang mengacaukan harinya?

Bosan memandangi Yoongi, yang bahkan tidak bisa dia mengerti, Sena pun memutar badannya, menghadap grand piano yang selalu setia berdiri di sana setiap hari. Hitam dan putihnya tidak terlihat begitu jelas. Meski begitu, Sena tetap mengulurkan tangan, merenggangkan jari-jarinya. Ting!

Yoongi reflek menoleh. “Kau sedang apa?”

Gadis itu juga ikut menoleh. “Tentu saja bermain piano. Menurutmu aku akan memakannya?”

Yoongi melotot tak suka. Lantas kembali menatap langit-langit studio. “Jangan lupa tugas dariku kemarin. Meskipun aku mengenalmu, aku tidak akan sudi memberimu dispensasi dalam bentuk apa pun kalau kau tidak mengerjakannya dengan baik.”

Arasseo, arasseo. Kau pikir aku sebodoh itu sampai harus memohon keringanan padamu?”

Setelah bicara begitu, permainan yang indah pun dimulai. Bukan Fur Elise, bukan juga Moonlight Sonata. Tapi melodi dari sebuah lagu yang terdengar cukup asing di telinga Yoongi. Pria itu berusaha menebak lagu apa yang sedang dimainkan, tapi tiga menit berlalu, ia tetap tidak menemukan jawaban. Penasaran, ia pun bertanya.

“Apa yang barusan kau mainkan itu?”

Sena menunduk, memperhatikan garis-garis hitam putih beraturan di bawahnya. “Aku juga tidak tahu. Tapi aku menyebutnya ‘Nabi’.”

Yoongi mengerutkan dahi. “Kau membuatnya sendiri?”

“Yah … ibuku sering memainkan lagu ini sewaktu aku kecil,” menyeringai. “Bagaimana? Bagus tidak?”

Pria itu mengubah posisinya menjadi duduk. “Kalau itu buatan ibumu, harus kukatakan itu bagus. Jangan bilang kalau kau akan memainkannya nanti.”

Sena pun menoleh. “Tentu saja tidak. Aku sudah menyiapkan lagu baru untuk itu, dan aku tidak akan membiarkanmu mendengarnya sampai hari itu datang.”

Ekspresi Sena yang berani sekaligus menantangnya membuat Yoongi menyeringai. “Ah … begitu? Baiklah. Akan kutunggu sampai hari itu tiba. Awas saja kalau hasil aransemenmu mengecewakan.”

Sena hanya membalasnya dengan gendikan bahu. Kembali menoleh ke depan, memainkan sebuah lagu lagi yang asing di telinga Yoongi. Tidak ada yang bisa dilakukan pria itu kecuali mendengarkannya dengan tenang. Menghafal setiap nadanya, menyimak setiap cerita yang disampaikan, hingga tak terasa permainan pun berakhir.

Yoongi bertepuk tangan dalam hati.

02.30 AM. Sena bisa merasakan ponselnya bergetar. Segera dikeluarkannya benda itu dari saku. Jimin calling. Tanpa pikir panjang langsung digesernya ikon horn telepon warna hijau.

Ne?”

“Kalian ada di mana sekarang?”

Sena melirik pria yang sedang tidur di lantai tak jauh darinya. “Di sekolah.”

Mwo?! Kenapa kalian masih di sana? Kalian terkunci?”

Gadis itu menggeleng. “Kami sengaja mau menginap di sini.”

W-wae?”

Geunyang….” Sena menggaruk kepalanya, bingung mau menjelaskan bagaimana.

“Ah begitu. Baiklah. Eum … sekarang aku sedang ada di depan tenda kalian. Aku membawa tiga mangkuk ramen. Haha, sepertinya semua ramen ini harus kuhabiskan sendiri.”

“Ah maaf. Harusnya tadi aku memberitahumu dulu. Aku benar-benar minta maaf.”

“Ey, tidak apa-apa. Mendengar kalian baik-baik saja, aku sudah merasa tenang. Apa Yoongi hyung sudah tidur?”

Gadis itu mengangguk, menoleh kembali ke tempat di mana Yoongi berada. “Dia sangat tidak bertanggung jawab.”

“Haha, wae? Dia membiarkanmu tidur di lantai?”

Eo. Mengesalkan sekali.”

“Jadi itu kenapa kau masih bangun sampai sekarang? Ah … andai samchon memperbolehkanku keluar, aku akan membawakanmu tempat tidur lengkap dengan selimut dan bantalnya.”

“Haha, tidak perlu. Aku baik-baik saja. Kau sendiri kenapa belum tidur?”

“Yah … Hoseok hyung memberikan tugas berat di hari pertama club. Dia meminta semua anak baru untuk membuat satu koreografi berdurasi tiga menit. Gara-gara itu aku tidak bisa tidur sampai sekarang. Jadi aku kemari untuk mengajak kalian makan. Sayangnya kalian sedang tidak ada di sini.”

Sena menarik kakinya, memeluknya dengan satu tangan. Suhu makin dingin. “Sekali lagi aku minta maaf. Aku juga tidak tahu kalau hari ini aku akan di sini bersamanya. Dingin sekali, kau masih ada di sana?”

“Hatsyi! Ah … haha, yah dingin sekali. Kau baik-baik saja? Katakan padaku kalau kau membutuhkan sesuatu. Akan kubawakan nanti pagi ke sekolah.”

“Oh ya, bisa kau ambilkan jaketku? Sepertinya aku akan mati, dingin sekali astaga. Ah, jangan lupa jaket untuk hyungmu juga. Meski sebenarnya aku benci padanya tapi setidaknya aku masih punya hati untuk tidak membiarkannya ikut mati.”

“Haha, baiklah. Akan kubawakan. Ya sudah, sepertinya aku sudah bisa melihat matahari di sini, haha. Sampai jumpa. Jalja.”

Eo. Cepatlah masuk.”

“Baik, Sena-nim. Annyeong.”

Klik. Gadis itu mengusap layar ponselnya sambil tersenyum tipis. Telepon pertama dari seorang pria.

Yaa.”

Kepalanya reflek menoleh. Melotot. Lantas mengumpat tanpa suara. “Kau ini mengagetkanku saja.”

Pria itu sama sekali tidak merasa bersalah. Hanya menatapnya datar sambil melipat kedua tangan di atas perut. “Siapa yang meneleponmu barusan?”

Sena pun mengantongi benda kotak itu ke saku blazernya kembali. “Bukan urusanmu.”

“Tentu saja itu urusanku. Aku tahu kalian sedang membicarakanku barusan.”

“Aish, barusan itu Park Jimin! Puas?!”

“Oh, kupikir barusan itu namjachingu-mu. Ah! Yang benar saja, mana mungkin gadis kasar tapi penakut sepertimu akan punya hubungan seperti itu dengan seorang pria. Ck, sudah dada rata, tidak cantik, pendek, penakut, sombong-”

BUG!

“Akh! Yaa! Kau pikir kau siapa berani melakukan itu padaku, huh?!”

“Kau itu yang siapa?! Beraninya menghinaku!”

“Itu kenyataan! KENYATAAN! Kalau kau punya otak, kau tidak akan tersinggung mendengarnya, bodoh!”

Sena mengangkat tasnya, berniat ingin memukul wajah Yoongi lagi. Tapi tidak jadi. Yang ada tas itu malah dijatuhkan ke lantai. Sementara si pemilik hanya menatapnya.

Yoongi mengusap kepalanya yang barusan kena pukul keras dari tas polkadot itu. Sakit. Mana saat dipukul kepalanya sedang ada di lantai, alhasil, double attack.

Yaa, apa isi tasmu sampai seberat itu? Akh, sial, sakit sekali.”

Tanpa perlu menjawab, Sena lantas berbaring berbantalkan tas itu. Dia tidak peduli lagi mau lantainya dingin, kotor, penuh serangga, yang pasti sekarang dia ingin dalam posisi seperti ini. Bisa menatap langit-langit ruangan yang nyaris hitam.

“Hey, aku tanya padamu. Kau ini punya telinga tidak, huh?”

“Aku dengar! Ck, kau sangat menyebalkan saat matamu terbuka.”

“Mengacalah.”

“Tidak ada kaca di sini.”

“Selain tuli, ternyata kau juga buta. Hah, kenapa orang sepertimu harus hidup?”

Sena melayangkan death glare. Pria itu. Semakin dibiarkan semakin minta dibunuh saja. Huh … tidak Sena, kau tidak boleh tersulut emosi. Tenangkan dirimu. Di sini kalian hanya berdua, tidak ada siapa pun lagi. Kau harus tenang, dengan begitu kau bisa memanfaatkan pria ini sebaik-baiknya.

“Yah … terserah kau mau bilang apa. Tapi yang pasti, setiap manusia yang dilahirkan pasti ada alasan dan tujuannya. Setidaknya aku tahu alasan kenapa aku dilahirkan di dunia ini.”

Yoongi tidak berkomentar banyak saat menyadari kalau Sena sedang berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia justru bersyukur. Karena dia menginginkan hal itu sejak tadi. Menghela napas, kembali berbaring. Sejajar dengan gadis itu, beda 50 senti. Karena tasnya entah ada di mana, dia memutuskan untuk menggunakan lengannya sebagai bantal.

“Begitukah?” tanyanya basa-basi.

“Ya. Kau pasti juga menyadari itu ‘kan? Yah … setidaknya kau pernah memikirkannya sekali dalam hidupmu.”

“Aku sudah memikirkannya sejak usiaku 13 tahun, setiap hari, setiap jam, setiap menit dan setiap detik.”

“Wah … puitis sekali,” sindir Sena sambil nyengir. Yoongi memilih untuk tidak menggubris.

“Sayangnya selama itu aku belum pernah sekalipun menemukan jawabannya.”

Wae?”

“Aku hanya … merasa belum menjadi seseorang yang berguna untuk kehidupan ini. Masih ada banyak hal yang belum bisa kuraih.”

“Seperti apa contohnya?”

Hening. Detak jam berbunyi nyaring, ditingkahi oleh suara jangkrik yang entah berasal dari mana. Dingin makin menusuk kulit. Waktu telah menunjukkan pukul 3 pagi.

“Mimpi. Impian. Cita-cita.”

“Ah … itu. Yang benar saja, tidak mungkin di usia seperti ini kau bisa mendapatkan semua itu bersama-sama. Tidak hanya kau saja, tapi aku juga. Kau pikir aku tidak punya mimpi, cita-cita dan impian? Tentu saja setiap orang yang hidup punya semua itu di pikiran mereka.”

“Yah … kau benar. Tapi kau harus tahu, tidak semua dari mereka yang memilikinya akan memerjuangkannya. Seorang anak, bercita-cita ingin menjadi dokter saat masih taman kanak-kanak, mereka adalah makhluk yang naïf, berpikir kalau segala hal akan tercapai begitu saja saat mereka mengatakannya dengan lantang. Tapi begitu dia dewasa, di saat semua urusan menjadi tanggung jawabnya sendiri, dia akan dihadapkan pada dua pilihan berat. Tetap berjuang menjadi dokter atau menyerah dan berpaling ke cita-cita yang lebih mudah diraih. Manusia itu gampang berubah, dan mereka sangat serakah. Di saat mereka sadar bahwa tebing yang didakinya terlalu sulit, mereka akan menyerah dan lebih memilih untuk tetap di bawah atau mendaki tebing yang lebih mudah. Semua orang seperti itu. Tidak terkecuali kau dan aku juga.”

“Bahasamu terlalu sulit untuk kucerna,” balas Sena sambil memijat kening.

“Intinya, aku tidak akan menjadi orang seperti itu. Karena aku sudah berani bermimpi, maka aku juga harus berani mewujudkannya. Dengan begitu, aku akan tahu apa alasan aku dilahirkan ke dunia ini.”

Gadis itu menoleh. “Hey, bukannya jawabannya sudah jelas? Tentu saja kau dilahirkan untuk menjadi bintang. Aku tidak tahu apa impianmu, tapi dari caramu bicara aku sudah bisa menyimpulkan kalau kau dilahirkan untuk menjadi bintang. Kau terus membicarakan tentang mimpi, impian, cita-cita. Orang-orang yang banyak memikirkan itu biasanya memang terlahir untuk menjadi bintang. Yah … itu sih menurut pandanganku saja.”

“Kenapa kau bisa bicara begitu? Kau bahkan belum melihat berhasil tidaknya.”

Sena kembali menatap langit-langit studio. “Memangnya hasil itu penting ya? Kurasa yang paling penting itu prosesnya. Hasil yang baik tanpa proses yang baik, menurutku sia-sia saja. Seperti kau menang kompetisi basket karena tim lawan mengalami diskualifikasi. Bukankah itu sia-sia? Jadi untuk apa kau harus latihan dua bulan penuh kalau akhirnya tim mu menang karena keberuntungan semata?”

Yoongi terdiam. Mencerna. Ya, ada benarnya juga. Dia dan timnya dulu juga pernah merasakan hal itu. Meraih kemenangan karena tim lawan didiskualifikasi akibat ketahuan bermain curang. Benar-benar kemenangan yang tidak memuaskan. Kenapa dia tidak menyadarinya sejak hari itu? Kenapa dia baru menyadarinya sekarang? Dari mulut gadis yang lebih muda darinya bahkan.

“Hoam … aku mengantuk. Kau tadi sudah tidur ‘kan? Sekarang giliran aku. Kali ini waktumu berjaga. Jalja.” Sena pun membalik tubuhnya ke kanan, memunggungi Yoongi dan mulai tidur. Tapi belum satu menit, dia menoleh lagi. “Oh ya, nanti Jimin ke sini membawakan jaket. Kau jangan tidur lagi.”

Pria itu hanya menatapnya datar. Tidak merespon.

Dan itu dimaknai Sena sebagai jawaban ‘iya’.

Pagi datang dengan cepat.

Sena terbangun saat mendengar suara gaduh-gaduh di sekitarnya. Benar-benar mengganggu. Ketika dilihatnya sekitar, matanya seketika membelalak. Eh? Kenapa tiba-tiba aku ada di atas?

Di saat dia bangkit … kluk! Sesuatu jatuh ke lantai. Eh? Jaketku!

“Oh? Sena sudah bangun?”

Suara itu membuatnya menoleh. Byun Taehyung! Hampir saja dia kena serangan jantung. Pria itu tampan sekali hari ini. Berdiri di depannya dengan tubuh sedikit membungkuk.

Sadar dengan posisinya yang masih berbaring, Sena pun lekas merubah posisinya menjadi duduk. Menutup pahanya dengan tas. “Kenapa aku bisa ada di atas?”

“Oh? Memangnya kemarin kau tidur di mana?”

Gadis itu mengedarkan pandangan, baru sadar kalau dia sekarang sedang tidak berada di studio piano, tapi studio utama. Pantas saja ada banyak kursi di sini. Ya, kursi-kursi itulah yang menjadi tempatnya tidur.

Belum sempat menjawab, seseorang tiba-tiba muncul. Ah tidak hanya satu, tapi dua dengan satunya lagi yang muncul paling akhir. Mereka tak lain tak bukan adalah Yoongi dan Jimin. Yoongi hanya menatapnya sekilas, lalu pergi memasuki studio piano. Sementara Jimin menghampirinya sambil tersenyum.

“Pagi, Sena-nim. Woah … tidurmu pasti nyenyak sekali.”

Sena membalasnya dengan senyuman. “Bagaimana denganmu?”

“Yah … aku hanya punya kesempatan tidur tiga jam. Anak ini tiba-tiba membuat rusuh di kamarku. Dia membuatku tidak bisa tidur lagi,” jawabnya sambil menepuk sekaligus mencengkram bahu Taehyung.

Taehyung mengaduh kesakitan, Sena tertawa pelan. Tawa itu tidak bertahan lama, karena dia lagi-lagi penasaran kenapa dirinya bisa tidur di atas padahal dia yakin tadi dia tidur di bawah, lantai studio piano.

“Jimin-a, apa kau yang memindahkanku ke atas?”

Mata Jimin yang membelalak membuat dahi Sena mengerut.

“Bukan. Saat aku ke sini bersama Taehyung aku sudah melihatmu tidur di situ.”

Tepat saat itu Yoongi keluar dari studio piano sambil mencangklong tas. Dia sudah mengganti seragamnya dengan seragam hari ini, yaitu kemeja putih yang dibalut rompi abu-abu tua dan celana abu-abu panjang. Sambil mengantongi tangan kanannya ke dalam saku, ia pun melenggang keluar tanpa mengucapkan apa pun.

“Dari gelagatnya sepertinya itu ulah Yoongi hyung,” ujar Taehyung yang sontak membuat Sena membelalak.

“Eum. Menurutku juga begitu. Sejak datang kemari aku tidak menemukan siapa pun di sini kecuali kalian berdua.”

Sena membuang pandangannya ke sebuah pintu yang menjadi penghubung antara studio musik dengan lorong luar. Yang benar saja, apa yang membuat Yoongi mau bersusah-susah memindahnya ke tempat yang lebih tinggi? Antara percaya dan tidak. Ia pun hanya bisa menggaruk tengkuknya.

 

TBC

3 responses to “#6 Reflection [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s