[8th] Snapshots by slmnabil

snapshot-slmnabil-bycastorpollux

Author : slmnabil | Cast : Hong Seoljin (OC), Kim Jongin, Park Chanyeol

Genre : Romance | Rating : PG15 | Length : Chaptered

credit poster : CASTORPOLLUX@posterchannel

prolog : one dance | 1st | 2nd | 3rd|

4th | 5th  | 6th | 7th

EIGHTH SHOT

“Kita tidak bisa bicara di sini—atau tepatnya aku yang tidak bisa. Kau, aku, dan tempat tidur bukan kombinasi yang baik,” kata Chanyeol.

Aku sangat ingin menanggapinya dengan, “Kalau dalam situasi sedang bertengkar memang tidak, tapi di luar itu aku meragukannya.” Namun, menyadari kalau ini bukan waktu di mana aku bisa bergurau, kuhilangkan pikiran itu secepat mungkin.

Langkah kakiku mendahului gerakan Chanyeol menuju ke ruang tamu. Aku tidak tahu ke mana perginya Raeum, tapi kini aku meragukan keberadaannya di apartemen. Dia itu punya semacam indera keenam—atau bisa saja hanya karena sangat peka terhadap situasi.

Aku hendak ke dapur untuk membuatkannya minuman hangat sebelum menyadari: kalau aku melakukannya, ini akan seperti aku ingin membuat Chanyeol merasa senyaman mungkin. Padahal, konsep malam ini adalah memberikan pelajaran berlipat ganda. Jadi, kuurungkan niatku dan menunggunya bicara tanpa menghadapkan wajahku ke arahnya.

Untuk sesaat yang kudengar hanyalah deru napas kami yang keluar-masuk bergantian. Sesekali, aku menangkap suara detak jantungku sendiri yang terhitung pelan dibandingkan yang seharusnya. Di tengah ketegangan, biasanya aku akan mulai berkeringat.

Berselang beberapa menit setelahnya, akhirnya Chanyeol memecah keheningan yang menggantung. Dengan alunan baritone khasnya yang menyebabkan vibra di pendengaranku.

“Aku minta maaf,” katanya. “Untuk meninggalkanmu seperti itu, untuk membuatmu mengalami perlakuan buruk ibuku, dan untuk membuatmu kecewa.”

Aku menyimak.

“Sebenarnya aku sudah di Korea sejak pagi, namun karena ibuku tiba-tiba mengatakan kalau ia akan menyelenggarakan acara makan malam dengan beberapa rekan bisnis, aku belum memberitahumu. Aku tidak mau kencan pertama kita setelah kau mengatakan bersedia menikah denganku dilakukan di acara itu, terlebih aku sangat tahu kalau kau tidak nyaman berada di sekitar orang-orang yang tidak kau kenal. Jadi, aku bermaksud memberimu kejutan sepulangnya dari acara itu. Dan kautahulah, kita sama-sama terkejut, bukan?”

Ia menyisipkan tawa ironi di akhir perkataannya. Aku bersumpah, aku bisa saja melempar diriku kepadanya kalau ia tidak segera bicara lagi.

“Ketika aku mendengar kalau dia adalah … mantan pacarmu”—ia menghela napas sejenak—“aku tak bisa memikirkan kemungkinan lain selain kau berselingkuh. Apalagi dengan fakta kau baru saja menerima lamaranku, kekecewaanku menjadi dua kali lipat. Aku mengira bahwa kau membohongiku, dan kautahulah tiap kali merasa seperti itu aku paling tidak mampu berpikir jernih.

“Saat ibuku memintaku untuk menemuinya, pikiranku sama sekali tidak tertuju padanya”—pandangannya mengunciku—“tapi padamu. Apa yang kau pikirkan, apa yang kira-kira akan kaulakukan, apa yang akan kulakukan jika kau meninggalkanku. Aku tidak bisa membayangkannya,” tuturnya.

Begitupun denganku. Aku juga tak bisa membuat gambarannya.

“Dia tiba-tiba memintaku untuk menandatangani surat perjajian pranikah. Aku sempat tak percaya dan marah karena dia melakukannya. Aku tidak bisa membiarkannya melakukan ini padamu. Tapi, ketika ia bilang bahwa lelaki yang bersamamu adalah atasanmu, aku menjadi semakin marah. Karena kau tidak memberitahuku soal itu. Dan dia meyakinkan apabila dengan surat itu, aku bisa tahu bahwa kau tulus padaku atau malah sebaliknya. Tapi, yah, setelah kau menandatanganinya aku tahu aku sangat bodoh.”

Chanyeol mengulurkan tangannya, lalu menangkup jemariku di antaranya. Karena aku menginginkannya, aku membiarkannya. Meski aku agak terusik dengan fakta kalau ibu Chanyeol ternyata penguntit kelas atas.

Aku berdeham dan menghela napas panjang sebelum memulai. “Namanya Kim Jongin. Aku putus dengannya beberapa tahun yang lalu, dan sekitar seminggu yang lalu dia mempekerjakanku untuk menjadi fotografer album konsernya di Korea—dia seorang penari.

“Aku ingin menyelesaikan masa laluku—mengingat aku tidak putus dengannya secara baik-baik—tanpa sepengetahuanmu. Aku ingin menjadi wanita yang pantas sebelum memulai awal yang baru lagi denganmu, tapi kautahu sendiri bagaimana kelanjutannya. Tamat, tidak banyak yang perlu kuceritakan. Menurutku itu tidak penting.”

Chanyeol meremas tanganku, protektif. “Kau masih memiliki perasaan terhadapnya?”

Aku menggeleng. “Dia yang masih.”

“Kalau begitu, itu masalahnya. Kau tidak bertanggung jawab atas segala kerusakan”—ia tersedak tawa dengan kalimatnya sendiri, yang setelah kupikir-pikir banyak pemilik toko yang mengutip itu.

Aku mengangguk mengiakan, kendati kilasan wajah Jongin muncul secara mendadak. Tapi ini bukan karena aku merindukannya atau ingin menyanggah perkataanku tadi, ini lebih seperti perasaan simpati dan bersalah.

Barangkali menyadari raut wajahku, Chanyeol menarik lenganku mendekat sehingga jarak kami hanya terpaut beberapa senti saja.

“Kau ingin aku membiarkanmu menyelesaikan pekerjaanmu?” tanya Chanyeol, aku bisa merasakan aliran pernapasannya di wajahku.

“Apakah aku ingin jadi pekerja professional? Ya. Apakah aku ingin menuntaskan masa laluku? Ya.”

Ia melarikan jemarinya di sepanjang rambutku. Aroma sabunku yang menguar darinya membuatku memejam, mengingat betapa aku merindukan lelaki ini. Ketika telapak tangannya menangkup wajahku, dan mulutnya mengartikulasikan, “Aku merindukanmu, Seoljin,” begitulah awal mulanya.

Siapa yang menyangka kalau aku dan Chanyeol akan baik-baik saja?

Aku terbangun pagi ini, ketika sorotan matahari berebut masuk melalui celah jendela kamar yang lupa kututup semalam (mana aku sempat?). Berguling ke samping, pandanganku menangkap Chanyeol yang berbaring telungkup dengan mata memejam dan punggung yang naik turun.

Kulirik jam di samping kiri nakas dan hampir terlonjak melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh. Aku sedikit mengkhawatirkan Jongin mengingat aku masih terikat kontrak dengannya, namun aku lebih memilih mengenyahkan pikiran itu dan memusatkan perhatianku pada Park Chanyeol mengingat:

(1) Dia harus bekerja;

(2) kalau dia tidak segera bangun, Chanyeol akan terlambat;

(3) Chanyeol terlihat begitu nyenyak dan damai dalam tidurnya;

(4) aku agak enggan membangunkannya;

(5) aku sangat menikmati fakta kalau aku terbangun di sampingnya pagi ini.

Suara ponsel yang menyalak cukup nyaring membuatku terperanjat. Kupikir, itu milik Chanyeol—siapa tahu sekertarisnya merasa ada yang tidak beres. Tahunya, ponselku-lah yang berdering. Aku menggerapai meja untuk meraih ponselku, sekaligus cepat-cepat ingin menghentikan deringnya takut-takut bisa membangunkan Chanyeol.

Tapi, tahu apa yang membuatku lebih takut? Ini panggilan dari Jongin.

Meraih pakaian Chanyeol di lantai dan memakainya cepat, aku menyingkap selimut dan buru-buru berjalan menuju meja bar di dapur untuk mengangkat panggilan. Di sana ternyata ada Raeum yang tengah menyiapkan sarapan. Ia berseri-seri begitu mendapatiku masuk ke ruangan yang sama dengannya.

“Halo,” sapaku, yang pasti terdengar jelas kalau aku baru bangun tidur.

Raeum mengisyaratkan padaku dengan menggerakan jari-jarinya di sekitar rambut, yang akhirnya kusadari kalau ia mengatakan betapa kacaunya aku terlihat pagi ini. Tapi tak masalah, kubalas ia dengan ulasan senyum di bibirku.

“Aku terjaga semalaman karena kau bilang kau akan menghubungiku,” sahut Jongin dengan suara lemas, nyaris kehilangan tenaga.

Aku terperanjat. Benar, aku menjanjikan itu padanya sebelum pergi semalam. Sial sekali. Alih-alih memperbaiki hubungan, aku malah menciptakan perkara baru.

“Aku … lupa. Maaf, aku tidak bermaksud begitu.”

Di seberang sana kudengar Jongin tertawa. “Tentu saja kau lupa. Apa yang kuharapkan?”

Aku menghela napas panjang. Mau tak mau, gelombang rasa bersalah menghantamku tiba-tiba. “Jongin … aku benar-benar menyesal.”

“Temui aku sekarang di rumahku,” sahutnya. “Kau bilang kau menyesal.”

“Aku ….”

Perkataanku menggantung di udara ketika tiba-tiba merasakan tangan Chanyeol di bahuku dan meremasnya pelan. Ia meninggalkan kecupan singkat di puncak kepalaku sebelum duduk di kursi yang ada di sampingku.

Aku membisikkan ‘Jongin’ padanya, yang ia jawab dengan anggukan singkat. Chanyeol tersenyum, dan sekarang aku yakin kalau ia benar-benar percaya padaku.

Pandanganku beralih pada tubuh bagian atasnya yang tidak dilapisi apa-apa, merasa sedikit terusik.

“Setidaknya kau bisa memakai pakaianmu,” bisikku sembari melirik Raeum.

Ia menunjuk pakaian yang kukenakan dengan dagunya. “Seseorang mencurinya, jadi ….”

Aku memutar bola mata, kesal. Di sisi lain, kudengar Raeum tertawa tertahan sembari menyodorkan secangkir kopi yang asapnya masih mengepul pada Chanyeol.

“Aku akan menemuimu di kantor,” ujarku pada Jongin, setelah bersusah payah melepaskan pandanganku dari Chanyeol yang tengah menyesap minumannya.

“Aku tidak akan ke kantor,” kata Jongin.

Baiklah, ini tidak bisa dibicarakan di sini karena akan melibatkan perkataan yang harus membuat Jongin nyaman—yang aku tak yakin kalau Chanyeol ingin mendengarnya.

Aku sudah menegakkan tungkai dan hendak beranjak kalau Chanyeol tidak tiba-tiba menarikku. Ia mendudukkanku di pahanya sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku memekik pelan ketika dia melakukannya.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku, setelah menjauhkan ponsel.

“Di sini saja,” katanya. Menurutku suaranya terlampau keras—atau ia sengaja begitu agar Jongin tidak berani macam-macam. Seolah ia mengisyaratkan, “Dia milikku. Kau pergi sana ke neraka.”

Aku menghiraukannya saja dan memilih kembali pada percakapan seriusku dengan Jongin. “Apakah kau baik-baik saja?” tanyaku. Ini bukan pura-pura, aku tahu jelas kalau aku mengkhawatirkannya.

“Karena kau bertanya, tidak. Aku tidak baik. Aku ingin kau ke sini dan menjelaskannya,” jawab Jongin, kini suaranya terdengar agak marah.

“Oke. Pertama, aku tidak bisa ke rumahmu—tidak ‘sekarang juga’ seperti yang kau bilang. Aku perlu mandi, ganti pakaian, dan naik taksi—hei, aku bahkan tak tahu alamat rumahmu. Kedua, kau harus menjamin kau tidak akan melakukan hal bodoh baik terhadapku dan terutama dirimu sendiri,” tuturku panjang, butuh beberapa tarikan napas untuk mengatakannya.

“’Hal bodoh’ dalam perspektif kita bisa saja jadi sesuatu yang berbeda. Membawamu lari, misalnya. Itu tidak masuk ‘hal bodoh’ dalam kamusku, tapi termasuk ‘hal yang pantas memasukkanku ke neraka’ dalam pikiranmu,” kata Jongin.

Aku menyisir rambutku kasar, yang mana mengenai pipi Chanyeol saat aku melakukannya. “Kalau begitu, biar kuterapkan batasan—hei, geli”—perkataanku terdistraksi oleh gerakan Chanyeol yang tiba-tiba menempelkan hidungnya di rambutku—“batasanmu, maksudku. Kau tidak boleh melakukan—diam dulu, Ya Tuhan”—kini penyebabnya karena Chanyeol memilin-milin rambutku, yang tak sengaja menjambak sebagian kecilnya—“kulanjut, tidak boleh melakukan hal-hal kriminal.”

Kudengar Jongin menggeram rendah. “Kalau kau tidak segera pergi darinya, aku tak bisa menjamin.”

Praktis, aku melemparkan pandangan kesal pada Chanyeol, yang malah tersenyum menang. Sial sekali memang. “Oke, beri aku tiga puluh menit. Kirimkan alamatnya.” Lalu kututup panggilannya sepihak.

Bodoh benar kalau aku berpikir Chanyeol akan berhenti menggangguku.

Aku meletakkan ponselku di meja bar sebelum memalingkan wajahku ke arah Chanyeol.

“Kau tidak bekerja?” tanyaku.

“Kau yakin kau akan sampai dalam tiga puluh menit?” ia balas bertanya.

“Kau tidak akan memakai bajumu?”

“Kau tidak akan melepaskan bajumu?”

Aku mendengus ketika melihat wajah Raeum jadi merah muda, geli kutebak. “Aku sebaiknya pergi,” katanya, sebelum meninggalkan kami berdua.

“Kurasa itu bukan ide yang bagus,” gumamku begitu mendapati Chanyeol menyunggingkan senyum—yang sungguh kelewat lebar.

“Tidak di meja bar, Chanyeol. Aku menolak,” ujarku ngeri.

Tapi, yah, itu sama sekali tidak mengubah isi pikirannya—yang kutebak sudah ia rencanakan sejak tadi.

Kalau kau penasaran bagaimana keadaannya ketika calon pendampingmu seumur hidup mengantarkanmu pada mantan pacarmu, kuberitahu: sejauh ini semuanya berjalan lancar. Atau sementara waktu akan begitu.

Aku meremas-remas tanganku sendiri, berusaha menghilangkan kegugupan yang menyergapku dari mana-mana. Di sampingku, ada Chanyeol dengan satu tangan memegang setir dan satunya lagi meremas bahuku pelan.

“Kau sungguh akan masuk?” tanyanya.

“Kau sungguh akan membiarkanku masuk?” aku balas bertanya.

Kupikir ia akan menjawab tidak, jadi ketika Chanyeol tersenyum meyakinkanku sembari menggangguk, aku cukup terperanjat. “Kau serius?”

“Harus ada yang jadi orang dewasa di sini,” katanya.

Secara tak langsung, aku tahu ia tengah menyindir Jongin. Sikapnya yang terlalu menuntut ternyata sangat membuat Chanyeol marah. Sepertinya, ia ingin aku segera menyelesaikan ini sehingga Jongin bisa membiarkan kehidupanku kembali damai bersama Chanyeol.

Kuhela napas panjang sekali lagi, dan sekali lagi yang lain, dan yang lain lagi setelahnya. Aku berusaha menormalkan detak jantungku yang berdegup cepat, antara kegugupan, ketakutan, dan ingin lari saja.

“Tahu begini, kau tadi akan memilih sofa ruang tamu daripada pergi, ya ‘kan?” goda Chanyeol.

Sontak, kurasakan wajahku memanas. “Tutup mulut. Aku tidak boleh menunjukkan semburat merah muda di hadapan Jongin.”

“Karena dia akan cemburu?”

“Karena dia bisa saja melakukan yang tidak-tidak.” Kupelototi Chanyeol. “Kau yakin ingin membiarkannya melakukan yang tidak-tidak pada calon istrimu?”

Chanyeol berjengit. “Memikirkannya pun jangan,” katanya.

Aku melepas sabuk pengaman yang kukenakan lalu memajukan tubuh untuk meninggalkan jejak-jejak singkat di kening, pipi, dan bibir Chanyeol. Menarik napas panjang sekali lagi, aku membuka pintu mobil dan melangkah ke luar.

Angin pagi menampar-nampar wajahku, yang cukup untuk membuat rambutku yang sengaja kuriapkan menjadi berantakan. Setelah menyisirnya kasar, aku melangkah yakin ke dalam tanpa menoleh untuk melihat Chanyeol sebelum ia pergi.

Aku takut kalau aku bisa saja melemparkan diriku dan memaksanya membawaku pergi sejauh mungkin. Padahal, ada sesuatu yang perlu kuselesaikan di sini.

Sekalipun terpaksa.

Sekalipun enggan melakukannya.

Kalau ingin kehidupanku tak lagi diganggu,

aku harus melakukannya.

—to be continued.

  • Mohon maaf sebesar-besarnya atas keterlambatannya, karena belakangan saya disibukkan oleh kegiatan di sekolah
  • Maaf lagi karena sepertinya ini tidak bisa rutin sabtu-minggu seperti sebelumnya mengingat uas dan un sudah dekat
  • Bagi yang masih menunggu dan akan terus menunggu, saya berterima kasih dan berusaha memberikan yang terbaik

 

24 responses to “[8th] Snapshots by slmnabil

  1. Ya ampun akhirnya ff ini di post juga,udah kangen sama mereka bertiga!! Suka banget sama moment Chanyeol dan Seoljin!!

  2. Hey hey hey! Chanyeol diem2 nakal juga ya wkwk
    Seriusan Seoljin bakal bener2 tuntasin ‘urusan’nya ama Jongin? Dan keukeuh ama Chanyeol? Gue ko rada ragu tp juga yakin bakal ama Chanyeol(?) Gimana yaa
    Gue sempet ngira perasannya Seoljin ama Jongin kaya masih ada sisa banyak banget, buat Chanyeol juga. Imbang dongg huhuuu
    Okay ditunggu next part ya ka, Tengkyu^^ Semangadd!!!

  3. huaaaaa, aku histeris sendiri, tiap hari aku mampir skf cuma mau baca snapshots dan akhirnya ke posting juga,

    chapter ini jadi moment chan-jin, ckck mentang-mentang udah mau nikah yah, haha padaha kirain mereka bakalan marah berkepanjangan, tapi dibalik kebahagiaanku melihat chanyeol ama seoljin baikan aku rada ragu kalau seoljin bisa tetap kukuh sama keinginannya yang ingin menuntaskan masa lalu di jongin dan melanjutkan masa depannya di chanyeol karena aku yakin seratus persen masih ada secuil rasa buat jongin di hati seoljin dan karena memang dari awal ff ini emang untuk seoljin dan jongin ( tp gk papa, chanyeol-nya sama aku aja :D) tapi part ini jadi part paling lucu+menegangkan yang bercampur jadi satu, semangat aja deh buat seoljin, semoga bisa cepat kelar dan bisa jelas perasaannya ke siapa dan semangat buat author, jangan ke ganggu sama ff-mu yh fokus aja sama UN-nya tapi jgan lupain kami juga hehe, nggak sabar mau baca kelanjutannya ^^

  4. Nabiiiil…???!!!
    Sini peluk dulu (ce ileh)

    Duh sukses ya ndu’ buat ujiannya, semangat dong!

    Dan selamat ditengah kesibukan masih bisa sempetin posting ini. Yang mana masih tetep keren

  5. Akhirnya di lanjut… Hahahah
    Iyaa ak msh nungguin.. Ini ceritax kerem lg thor..
    Ak team chanyeol lha..
    Dsni bner2 dewasa karakterx..
    Ideal tipe bgt..
    Hahaha
    Semoga bsa ttp d lanjut ya critax smpai the end
    Gaya bahasa, ide cerita, n smwx menarik menurut ak..
    Author jjang!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s