I Married To My Enemy [I] -by ByeonieB

i-married-to-my-enemy

I Married To My Enemy

ByeonieB©2016

“You Crazy Bastard!”

Main Cast:: Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun, OC/You/Readers as Han Minjoo || Additional Cast:: Han Hyojoo (Actress) as Han Hyojoo, Sehun of EXO as Oh Sehun, Lee Yubi (Actress) as Lee Yubi, Chanyeol of EXO as Park Chanyeol and many more || Genre:: Marriage Life, Romance, A Slight of Comedy, Drama || Length:: Chapter || Rate:: PG-17—PG-19+ || Before:: [Prolog] || Poster by Jungleelovely

Notes:: Just reminding about this quotes, “The one who knows what’s good and what’s bad for you is just yourself.” Please take a deep look into the rate and this notes.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ 

March, 1997

“Minjoo-ya, mari kita membuat janji!”

 

“Janji apa, Baekhyun-ah?”

 

“Jika kita sudah dewasa nanti, kita harus menikah..”

 

“Eum….?”

 

“Ayolah, Minjoo-ya! Kita harus berjanji untuk menikah di masa depan, dengan begitu kita bisa bermain untuk selama-lamanya!”

 

“…”

 

“Minjoo-ya?”

 

“Baiklah mari kita berjanji seperti itu, Baekhyun..”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ 

[Chapter 1]

5 Days Before The Night

 

“Satu..”

“Dua..”

“Tiga!”

“Ah!”

“Puji Tuhan!”

Ya, begitulah kelakuan mereka jika saat menjelang istirahat seperti ini. Selalu si kepala sekertaris, Han Minjoo, yang mengajak para bawahan—sekaligus sahabat dekatnya—untuk memainkan games kekanakan seperti mengambil salah satu dari empat pulpen dengan tiga pulpen yang tertutup dan satu laginya terbuka. Tujuan nya satu, hanya untuk mendapatkan seorang tumbal untuk dijadikan kasir pembayaran saat mereka makan siang jika ada yang mengambil pulpen terbuka itu.

Oh Sehun, si korban tumbal hari itu merengek dan merujuk pada Minjoo dengan wajah tampannya.

“Noona, aku benar-benar sedang tidak punya uang! Jangan aku.. kumohon..” ia kali ini hampir mengeluarkan air matanya mengingat dompetnya sedang tidak dalam keadaan membaik.

Si temannya yang berkuping besar mengejek dan tertawa lalu menimpali perkataan Sehun, “Ya! Tak usah berbohong! Kau kemarin baru saja berbelanja bulanan untuk apartemenmu kan!? Kau pastinya sedang banyak duit, Sehun-ah..”

“Justru karena aku baru saja berbelanja bulanan itu, Chanyeol hyung! Aku tak punya uang barang 1000won pun saat ini..” Ia kemudian memohon lagi pada Minjoo yang masih tertawa-tawa melihat dirinya, “Kumohon noona.. Jangan aku..”

“Jangan kabulkan, Eonnie!” Lee Yubi, salah satu gadis yang menjadi ‘geng’ dengan umur yang sama dengan Sehun menimpali sambil tertawa pelan, “Sehun-ah, aku akan mengamini perkataanmu mengenai 1000won itu, hm!?”

Minjoo yang tak tega melihat Sehun pun meredakan tawanya, “Sudah-sudah, kalian ini senang sekali mengerjai adik kita yang satu ini…” Ia pun memajukan tubuhnya dan mencubit pipi Sehun dengan gemas, “Aigoo.. adik kita yang manja, manis…” Minjoo kemudian menyentil dahi Sehun dengan kencang, “Namun, playboy! Hahahaha..”

Sehun pun hanya meringis kesakitan dan mendengar gelakan tawa dari Minjoo, Chanyeol dan Yubi dengan kencang.

“Baiklah, aku saja yang traktir kalian hari ini! Kebetulan kemarin Ayahku memberikan sedikit bonus untukku.. hihi.”

Chanyeol terkekeh pelan melihat aksi temannya, “Han Minjoo.. Han Minjoo..”

.

.

.

“Selamat datang di Bandara Internasional Incheon.. Saat ini suhu udara Seoul, Korea Selatan 37’ celcius…”

 

Bukan Seoul namanya jika cuacanya tidak panas. Terlebih, ditambah kali ini musim panas, semakin memperkuat fakta dari suara wanita di speaker itu. Tentu saja dengan cuaca sepanas itu membuat seluruh umat manusia—tak terkecuali yang di bandara sekali pun—mengenakan kaos berlengan pendek, tanpa langan, celana pendek atau short pants.

“Baekhyun-ah!”

Tapi, ada satu pria yang baru saja keluar melalui pintu penerbangan Internasional menggunakan jaket kulit serta celana panjang dan kacamata bertengger di hidungnya. Demi Tuhan, semua orang melihatnya dengan tatapan aneh sembari berbisik dalam hati ‘Apakah dia tak kepanasan?’

“Noona!!” Begitu riangnya suara Baekhyun, lelaki yang mengenakan pakaian ala musim dingin tadi memanggil kerabat yang menjemputnya. Jika kalian mendengar dari cara pemanggilannya berarti dia memanggil kakak perempuannya bukan?

Gadis berusia sekitar 30tahunan yang memanggil Baekhyun tadi tersenyum cerah sembari melambaikan tangannya. Membuat Baekhyun turut tersenyum lebih cerah lagi lalu berlari ke arah gadis itu.

“Noona, aku merindukanmu!” tuturnya seraya memeluk Han Hyojoo dengan erat tepat saat ia mencapai keberadaannya. “Noona apa kabar? Noona sehat saja kan selama aku pergi?”

Hyojoo pun terkekeh pelan, “Aigoo.. adikku yang satu ini merindukanku ya..” lalu kini Hyojoo membelai rambut Baekhyun dengan lembut meskipun ia harus menjinjitkan jempol kakinya, “Aku baik, Baekhyun-ah.. London Bagaimana?”

Mendengar pertanyaan Hyojoo membuat Baekhyun meringis kesal hingga ia melepaskan pelukannya pada Hyojoo, “Noona! Kenapa kau malah menanyakan Londonnya ketimbang diriku?! Apa Noona tidak merindukanku?!”

Hyojoo tertawa lagi. “Aigoo.. Byun Baekhyun tidak pernah berubah ya.. selalu manja.. ck ck.” Perkataan itu membuat Baekhyun semakin mempout bibirnya seperti anak kecil.

“Baiklah, bagaimana kabarmu? Kau baik saja? Ah tanpa kutanya kau baik-baik saja pasti..”

“Noona!”

Hyojoo terkekeh pelan lagi, “Ya.. sebenarnya kenapa kau ingin sekali aku menanyakan hal itu, hm? Kau tidak mau bertanya padaku tentang Han Minjoo apa?” ucap Hyojoo seraya memancing dengan senyuman bak orang menggoda.

“Kau tidak ingin tahu kabar gadis itu bagaimana….apa yang dilakukannya… seperti itu?”

Mendengar penuturan kata dari Hyojoo pun membuat Baekhyun terdiam selama beberapa detik. Mukanya sedikit kusam sesaat Hyojoo menyebut nama adiknya itu.

“Tidak. Untuk apa aku mengetahui kabar gadis itu, hanya buang-buang waktu saja untuk memikirkannya pun.” Ucapnya dengan ketus. Lalu dengan wajah yang kusut, Baekhyun menarik kopernya dan pergi dari hadapan Hyojoo.

“Ayo kita pulang, aku ingin tidur.”

Melihat tingkah Baekhyun yang seperti itu pun membuat Hyojoo geleng-geleng kepala.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berdua?” ucap Hyojoo sambil menggigit bibirnya dan memerhatikan Baekhyun.

“Omong-omong… Ya! Byun Baekhyun! Apa kau tidak kepanasan memakai baju seperti itu, huh?!”

.

.

.

“Aku pulang!” seru Minjoo sesaat ia membuka pintu apartemennya. Apartemen yang Minjoo tinggali ini adalah milik dirinya dan kakak perempuannya, Han Hyojoo. Mereka memutuskan untuk tidak tinggal bersama orang tua mereka sekitar 2 tahun yang lalu. Tenang, alasannya bukan karena ada masalah keluarga di antara mereka—bahkan rasanya mereka lebih sering tidur di rumah orang tuanya dibanding di apartemen mereka—tapi mereka ingin belajar mandiri untuk tidak hidup bersama orang tua terus menerus.

“Ah, kau sudah pulang!” tutur Hyojoo yang sedang sibuk memakai anting hiasnya. Minjoo tampak terkejut dengan menaikkan satu alis kanannya ke atas saat Hyojoo muncul dengan pakaian bak orang mau ke pesta.

“Eonnie mau pergi kemana? Kenapa begitu rapi sekali?” tanya Minjoo berkerut-kerut sambil tersenyum. Dia berpikir bahwa ‘Eonnie’-nya itu akan pergi berkencan. Suatu hal yang ajaib jika Hyojoo mau pergi berkencan karena selama ini Hyojoo selalu menolak untuk pergi berkencan. Entahlah, yang jelas Minjoo percaya bahwa kakaknya itu bukan seorang penyuka sesama jenis.

“Ya.. kau tidak ingat hari ini ada sesuatu yang spesial?” ucap Hyojoo yang telah selesai memakai antingnya dan kini berjalan untuk mencari sepatunya. “Lebih baik kau sekarang mandi dan bersiaplah. Pakai gaun!” tekannya di akhir kata.

“Spesial?” Minjoo tidak langsung menuruti perintah Hyojoo yang menyuruhnya bersiap-siap karena ia tidak mengerti maksud dari hari yang spesial itu. “Siapa yang ulang tahun? Ayah? Ibu? Ini kan bukan bulan April ataupun Juni…” terangnya dengan kebingungan saat menyebutkan bulan ulang tahun kedua orang tua mereka. “Spesial apanya, Eonnie?”

Hyojoo pun berhasil menemukan sepatunya. Satu sepatu ia pasang ke kaki kirinya, satunya lagi ia angkat sambil menunjuk galak pada Minjoo.

“Siap dalam 10 menit atau sepatu ini akan melayang di wajahmu!” dan itu berhasil membuat Minjoo lari masuk ke kamarnya dengan decakan lidah di akhir pembicaraan mereka.

.

.

.

“Eonnie hari spesial apa sih sebenarnya?” Minjoo masih tidak mau menyerah untuk tahu—atau lebih tepatnya masih amnesia dengan hari ini. “Apa jangan-jangan eonnie sesungguhnya sudah punya pacar lalu sekarang eonnie akan memperkenalkannya pada ayah, ibu, dan aku?!”

“Ya!!” Hyojoo berteriak satu sentakan sambil tetap memfokuskan dirinya menyetir mobilnya. Mereka sedang dalam perjalanan rumah mereka. “Kau mau mati?!”

Minjoo menyengir kuda sambil membenarkan kembali duduknya menghadap depan, “Maaf.” Masih tak tahan, detik selanjutnya dia menghadap Hyojoo kembali sambil mengalungkan tangannya pada lengan Hyojoo. “Aish, lalu apa hari spesialnya eonnieee..”

Hyojoo melepaskan tangan Minjoo dari lengannya sambil terkekeh, “Ya! Aku sedang menyetir! Lagipula, kau benar-benar lupa huh?!”

Minjoo mengangguk-angguk bodoh. Nyatanya dia memang selupa itu.

“Haha. Kita lihat saja nanti, nih kita sudah sampai.” Ucapnya lalu memasukkan mobilnya ke dalam rumah mereka. Saat Hyojoo memarkirkan mobilnya di dalam rumahnya, Minjoo bisa melihat jika ada satu mobil milik entah siapa yang sudah terparkir disana.

“Eonnie, itu mobil siapa?” tanya Minjoo sambil keluar melalui pintu mobil mereka disusul Hyojoo setelahnya. Hyojoo tak kuasa menahan tawanya dan dia hanya menjawab, “Kau akan liat nanti siapa.”

“Paling-paling itu mobil pacar eonnie..” celetuk Minjoo dengan canda dan itu sukses membuat Hyojoo memutar tubuhnya menghampiri Minjoo lalu memukul kepala Minjoo sedikit. Minjoo meringis sambil terkekeh dan akhirnya mereka berdua pun memasuki rumah kedua orang tua mereka.

“Ayah, Ibu, Tante Byun, Paman Byun! Anak perempuan kalian telah sampai!” teriak Hyojoo saat masuk ke dalam rumahnya dan itu membuat Minjoo menaikkan alisnya kebingungan.

“Tante Byun? Paman Byun?” tanyanya namun belum sempat Minjoo mendengar jawaban dari Hyojoo, orang yang Minjoo pertanyakan tiba-tiba muncul dari ruang tengah mereka dengan senyum merekah.

“Aigoo! Anak perempuan kesayangan kita, yeobo!” ucap Nyonya Byun sambil memeluk Hyojoo dan Minjoo serentak. Tuan Byun hanya tersenyum cerah, “Hyojoo, Minjoo.. kalian apa kabar? Apa kalian sehat? Apa kalian makan dengan baik? Tidur dengan baik?”

“Tentu saja, Paman!” Ucap Hyojoo dengan senyum tak kalah cerah juga meski Nyonya Byun masih memeluknya dengan erat. “Paman bagaimana? Paman sehat juga kah? Tidur dan makan dengan baik juga kah?”

“Paman hidup dengan sehat, Hyojoo-ya! Paman kan tidak mau membuat kalian khawatir jika tidak sehat..” ucap Tuan Byun.

Minjoo yang tidak mengerti keadaan—lebih tepatnya tidak mengerti mengapa Tuan dan Nyonya Byun ada di rumah mereka—sesaat setelah Nyonya Byun melepas pelukannya ia langsung bertanya, “Paman, Tante.. kenapa bisa ada di rumah kami?” Lalu ia menolehkan kepalanya kepada Hyojoo, “Apa hari ini ulang tahun Paman dan Tante, eonnie? Jika iya, aku belum membeli kado..” ucapnya sedikit menggigit bibirnya tak enak.

Mendengar ucapan Minjoo, Tuan Byun langsung menyambar, “Ulang tahun kita kan bukan bulan Agustus sayang.. masa Minjoo lupa pada ulang tahun paman dan tante?” kekehnya. “Kita datang kemari untuk merayakan dan membicarakan sesuatu, Minjoo-ya..”

Minjoo menyatukan alisnya sambil tersenyum bingung, “Merayakan sesuatu.. apa..?”

“Merayakan kepulanganku, bodoh.”

Minjoo kenal persis suara ini. Suara yang dahulu pernah mengisi hari-harinya di masa kecil hingga masa sekolahnya 6 tahun yang lalu.

Dia menolehkan kepalanya dan Minjoo benar-benar tersedak oleh jantungnya.

“Annyeong, Han Minjoo.” Ucap Baekhyun sambil menyenderkan tubuhnya di dinding rumah mereka. “Long time no see, huh?”

Minjoo pun membulatkan mata dan mulutnya.

“Ya.. Byun Baekhyun?!”

.

.

.

Kalian semua pasti bertanya-tanya mengapa kedua keluarga ini—Keluarga Han dan Keluarga Byun—bisa sangat dekat. Mungkin diantara kalian mengatakan ‘oh mungkin mereka adalah saudara’ atau ‘oh mungkin mereka kerabat yang sangat dekat’. Nyatanya, jawaban kedua ini benar namun lebih tepatnya mari kita simpulkan seperti ini: Keluarga Han dan Keluarga Byun adalah kerabat dekat yang bisa dianggap seperti saudara.

Han Junghoon, ayah dari Han Minjoo dan juga Han Hyojoo adalah sahabat karib dari ayah Byun Baekhyun, Byun NoHyun. Mereka telah berteman lebih dari 50 tahun, lebih tepatnya dimulai saat mereka berumur 14 tahun karena mereka pernah tinggal bersebelahan saat kecil dahulu. Tidak pernah sekalipun mereka putus hubungan meski mereka terpisah jarak seperti saat Ayah Minjoo harus pergi belajar ke negeri patung liberty ataupun seperti saat Ayah Baekhyun harus pergi mengejar gelar magisternya ke negeri kincir angin.

Untuk mempererat hubungan mereka itulah, mereka memutuskan untuk membangun sebuah perusahaan elektronik berbasis intel yang kini adalah salah satu perusahaan terbesar di Korea Selatan dan telah mendapatkan penghargaan sebagai perusahaan yang paling berpengaruh di dunia selama 10 tahun.

“Jika aku mengingat hari dimana kita mendirikan HanByun Corporation, rasanya aku ingin menangis terus Junghoon-ah..” ucap Tuan Byun saat makan malam keluarga mereka.

“Aku pun sama, Nohyun. Rasanya perjuangan itu masih terekam jelas baik di hati dan otakku.” Tambah Ayah Minjoo sembari menyuapkan satu sendok makan ke mulutnya.

Minjoo masih tidak percaya dengan kehadiran seorang pria yang berada disampingnya, Byun Baekhyun. Meski hanya enam tahun lamanya tidak berjumpa, Minjoo tetap merasa kehadiran Baekhyun adalah suatu keanehan untuknya.

Ah, kita lupa menceritakan Byun Baekhyun, Han Minjoo dan Han Hyojoo. Byun Baekhyun adalah anak tunggal dari keluarga Byun. Nyonya Byun sangat susah sekali untuk memiliki anak dan itu membuat Baekhyun menjadi anak yang sangat dimanja di keluarganya saat pertama kali dia dilahirkan ke dunia. Han Minjoo dan Han Hyojoo tentunya anak dari tuan Han dan nyonya Han. Minjoo berumur sama dengan Baekhyun dan Hyojoo berumur 4 tahun lebih tua daripada mereka.

Enam tahun yang lalu, Baekhyun pergi meninggalkan Korea Selatan untuk mencari ilmu di kota London. Entahlah, jangan tanya Minjoo kenapa Baekhyun memutuskan untuk pergi ke London saat itu. Meninggalkan keluarganya dan juga dirinya tanpa alasan yang sampai detik ini Minjoo tidak ketahui. Yang Minjoo ketahui pasti dari enam tahun yang lalu adalah Baekhyun meninggalkan dirinya dengan pertengkaran yang juga masih bertahan sampai detik ini.

“Aku masih tampan, benar?” celetuk Baekhyun saat merasakan Minjoo tidak berhenti menatapnya. “Matamu tidak bisa berbohong, Han Minjoo.”

Mendengar celetuk itu, tentu Minjoo tidak bisa menahan decakan lidahnya dan menatap sebal Baekhyun. Minjoo memang tidak melamun, makanya gadis itu langsung membalas “Asal kau tahu, Byun Baekhyun.” Minjoo mengangkat jarinya lalu memutarnya di hadapan wajah Baekhyun. “Wajahmu semakin kusam dan buruk rupa. Pantas saja tadi aku tidak mengenalmu.”

“Oh kalau begitu kau mengakui kalau dahulu aku tampan ya?” celetuk Baekhyun dengan menang dan itu membuat Minjoo tersedak dengan kesal.

“Ya!!”

Semua orang langsung berhenti berbicara dan melihat ke arah mereka berdua karena demi Tuhan suara Minjoo sangat kencang. Minjoo tahu, saat itu Minjoo adalah orang paling memalukan di dunia.

“Maaf Ayah, Ibu.. Tante Byun dan Paman Byun..” Minjoo menyengir terpaksa dan ia menemukan Hyojoo menatapnya. Ini semua karena Hyojoo, kakaknya itu membuat dirinya duduk bersebelahan dengan Baekhyun dengan alasan yang Minjoo sangat ketahui: untuk menyatukan kembali mereka.

“Sudah kubilang aku tidak pernah bisa akur dengan bocah ini!” Minjoo mendumel tanpa suara pada Hyojoo namun Hyojoo hanya mengacuhkannya.

“Baekhyun-ah, apa kabarmu? Apa kau sehat selama ini di London?” tanya Tuan Han setelahnya namun itu langsung disambar dengan ucapan sinis Minjoo, “Appa.. anakmu baru kembali tapi kau tidak menanyakan sedikitpun keadaanku?!”

Baekhyun yang mendengar perkataan Minjoo pun terkekeh pelan lalu menolehkan tatapannya sedikit pada Minjoo, “Ya.. tadi pun orang tuaku lebih menanyakan keadaanmu dahulu padahal anaknya baru pulang setelah enam tahun lamanya di London..” ucapnya sambil sedikit melihat Tuan dan Nyonya Byun dengan mendelik sedetik lalu sedetik selanjutnya ia menatap Minjoo sebal, “Tidak usah sok-ingin-diperhatikan, Han Minjoo.”

“Ck.. kau tahu Baekhyun-ah, kehidupanku dan kehidupan paman dan tante Byun menjadi lebih tentram saat kau pergi!”

“Ya!!!”

Prang

“Bisakah kalian tidak selalu bertengkar?!” Hyojoo menyalak galak kepada mereka berdua, menghentikan seluruh kegiatan makan malam dua keluarga saat itu. “Ini sudah enam tahun lebih sejak kalian pertama bertengkar! Kenapa kalian belum akur juga!? Tidak ingatkah kalian bahwa kalian dahulu itu—“

“Kami tidak ingat!” ucap Baekhyun dan Minjoo serentak, sama-sama menghindari untuk mengingat kenangan sebelum enam tahun silam—dimana mereka pertama kali bertengkar. “Lagipula, ini semua karena Baekhyun yang memulai!” tambah Minjoo kemudian yang tentunya langsung menyalakan amarah Baekhyun.

“Aku!?” ucapnya lalu berdiri dengan kesal, “Tidak ingatkah jika kau yang memulai semuanya, Han Minjoo!!” teriaknya kemudian sambil memandang rendah Minjoo disampingnya.

“Ck..” Minjoo ikut berdiri dalam satu hentakan. “Kau, Baekhyun! Kau yang memulainya! Kau yang memulai semua peperangan di antara kita!!”

“Jangan malu untuk mengakui dosamu, Han Minjoo!”

“Ya! Aku tidak malu untuk mengakui dosaku, kau yang tidak mau jujur bodoh—“

“BERHENTI!!” teriak Hyojoo lagi sambil menggebrak meja makan. “Berhenti bertengkar kalian anak kecil yang bodoh!! Kalian itu akan dijodohkan kenapa kalian masih bertengkar terus seperti inii!!”

Minjoo dan Baekhyun terdiam menatap Hyojoo. Pertama, mereka takut karena jika noona ‘mereka’ ini sudah berteriak, artinya dia sudah sangat marah besar. Tidak ada satupun dari mereka yang mau melihat Han Hyojoo marah termasuk kedua orang tua mereka.

Kedua, mereka tahu ada yang ganjal dari kalimat yang baru saja Hyojoo teriakkan. Baik Baekhyun maupun Minjoo menolehkan wajahnya untuk saling menatap mata mereka..

Dan mengulang perkataan Hyojoo dalam suara yang sama..

“Di..jodoh..kan?”

“APA?! DIJODOHKAN!?”

.

.

.

“Appa kenapa harus aku yang dijodohkan!?” rengek Minjoo pada Ayahnya saat ini. Makan malam telah berakhir, keluarga Byun telah pulang saat Minjoo langsung mengatakan bahwa dia tidak mau dijodohkan dengan Baekhyun. “Kenapa? Kenapa!?” rengeknya semakin menjadi-jadi di hadapan meja kantor tuan Han.

Demi Tuhan, gadis ini tidak pernah berhenti merengek dari sehabis makan malam keluarga mereka. Minjoo terus mengikuti kemana pun Tuan Han pergi, mengait di lengan ayahnya tanpa mau melepasnya sampai tuan Han mengeluarkan alasan dari mulutnya. Terang saja, Minjoo seperti di-anak-tirikan saat ini. Mengapa harus Minjoo yang dikorbankan untuk dijodohkan dengan pria yang menurutnya paling gila di dunia itu?

Menghembuskan nafasnya dengan berat, tuan Han menyerah. Tadinya.. tuan Han ingin menjelaskan semuanya pada Minjoo saat gadis itu benar-benar sudah berbaikan dengan Baekhyun—dengan begitu dia akan menerima tawaran perjodohan ini. Namun, melihat kondisi tadipun rasanya tuan Han harus pusing tujuh keliling agar Minjoo mau menerima perjodohannya dengan Baekhyun.

“Dengar Han Minjoo..” tuan Han mengambil satu nafas lalu ia hembuskan sambil menutup matanya sebelum menjelaskan semuanya pada Minjoo.

“Ayah dan Paman Byun ini sudah tua.. kita merasa jika kita sudah tidak bisa lagi untuk mengurusi perusahaan ini..” ucapnya dengan lembut, mencoba untuk menenangkan Minjoo dari arranged-marriage-panic-syndromenya. “Minjoo ingat bukan jika 1 tahun yang lalu Ayah di operasi karena jantung Ayah sudah lemah? Dan beberapa bulan ini Paman Byun pun sudah sering masuk rumah sakit karena gula darahnya yang terus meningkat..”

“Paman Byun dan Ayah sudah tidak sanggup lagi untuk terus mengurusi perusahaan dan sudah waktunya kami berdua istirahat di rumah, Minjoo-ya..”

Minjoo terdiam dan ia merasa tersendu mendengar perkataan Ayahnya. Ia ingat sekali saat satu tahun yang lalu dimana Ayahnya di operasi jantung. Demi Tuhan, Minjoo tidak mau kembali pada hari itu karena hari itu adalah salah satu hari terburuk dalam hidupnya.

“Lalu…?” Minjoo mencoba memelankan suaranya, mencoba sedikit mengalah pada Ayahnya. “Lalu mengapa perjodohan dan harus aku dengan Baekhyun, Appa…”

“Kami berdua memang sudah mengatur semuanya, Minjoo-ya.. dari saat kami menikah, kami sudah berjanji bahwa anak kami harus ada yang dipasangkan agar penerus dari perusahaan ini berpindah tangan pada cucu kami kelak.,.”

“Dan… memang dari saat aku dan Nohyun melihat pertama kali kalian bermain bersama saat kalian kecil, aku mengatakan pada Nohyun ‘Kita berhasil, Nohyun-ah. Penerus kita akan lahir dari cucu kita berdua.’ Dari situlah memang kalian sudah kami jodohkan untuk menikah di masa mendatang atau kita bilang..” Ayah Minjoo mencoba melembutkan pandangannya, “..sekarang sudah pada waktunya..”

Untuk meyakinkan Minjoo kembali, Ayah Minjoo menggenggam erat tangan Minjoo.

“Minjoo.. bisakan menerima perjodohan itu demi Appa?” ucapnya, “Selain itu.. Appa tahu bahwa ada ikatan yang tidak pernah Appa tahu di antara kau dan Baekhyun dan Appa tahu ikatan itu begitu kuat meskipun—“

“Appa.. tolong..” Minjoo memotong perkataan Appanya dan sebelum melanjutkannya, dia menutup matanya sebentar. Jujur Minjoo sedikit merasa bersalah atas apa yang akan ia katakan, tapi ini menyangkut masa depannya. Menyangkut kehidupannya dan Minjoo tidak bisa main asal terima saja suruhan Ayahnya jika itu tidak sesuai dengan kehendak hati Minjoo.

“Aku dan Baekhyun tidak pernah punya ikatan yang Appa tidak pernah tahu. Aku dan dirinya pernah hanya menjadi sebatas sahabat dan tidak pernah lebih. Dan untuk sekarang..” Minjoo terdiam beberapa detik, “Aku tidak bisa, Appa. Aku tidak bisa menikahi Baekhyun. Aku… tidak menyukainya.”

“Minjoo-ya..”

“Kumohon Appa.. jangan paksa aku untuk melakukan hal yang tidak aku suka. Aku tahu aku terlihat egois tapi apakah Appa mau melihat anak perempuannya menderita seumur hidup hanya karena menikahi pria yang tidak disukainya?”

Ayah Minjoo terdiam, termenung dengan seluruh perkataan Minjoo. Sedikit teriris hatinya karena selama ini itulah yang Ayah Minjoo harapkan, melihat Baekhyun dan Minjoo menikah lalu cucunya akan menjadi penerus dari keluarga mereka.

“Tolong.. pertimbangkan lagi untuk menjodohkanku dengan Baekhyun jika Appa benar menyayangiku sebagai putri Appa..” tutur Minjoo terakhir kali sebelum setelahnya ia mengangkat tubuhnya berdiri dan berputar meninggalkan ruangan tuan Han.

“Kenapa kalian bisa bertengkar, Minjoo-ya?” ucap Ayah Minjoo menghentikan langkah putrinya. “Appa tahu.. pasti ada alasan yang lebih masuk akal dibanding kau tidak mau menikah dengannya karena tidak menyukainya. Seperti yang Appa bilang, Appa percaya bahwa ada ikatan spesial di antara kau dan Baekhyun yang tidak pernah Appa tahu..”

Minjoo mendecakkan lidahnya dengan kesal lalu memutar badannya kembali, “Appa, berhenti! Berhenti berharap bahwa aku dan Baekhyun memiliki ikatan apapun itu karena nyatanya kami tidak pernah memiliki ikatan seperti itu!” tegasnya.

“Alasan kami bertengkar itu urusan aku dan Baekhyun. Appa tidak perlu mengetahuinya dan tidak perlu mengurusinya. Sekarang yang perlu Appa lakukan adalah untuk menghentikan perjodohan ini!”

Setelah mengatakan itu, Minjoo langsung berlari keluar dari ruangan Ayahnya. Tidak mau Ayahnya terus berfantasi liar akan hubungannya dengan Baekhyun.

“Ikatan spesial..” Minjoo terkekeh pelan dengan pandangan yang kosong sesaat ia telah berada di luar pintu.

“Aku dan Baekhyun.. memiliki ikatan spesial..” kekehnya lagi namun detik selanjutnya, pandangannya jatuh ke bawah seiring dengan diam membisunya diri Han Minjoo.

.

.

.

“Putraku.. bangun, sayang.” Titah Nyonya Byun pada Baekhyun yang masih tengkurap diatas kasur dan di dalam selimutnya. Sambil membuka tirai jendelanya, Nyonya Byun berucap lagi dengan lembut, “Bangun, Baekhyun-ah.. bukannya hari ini adalah hari pertama kau training di perusahaan Ayah?”

Baekhyun merenguh, mengeluh karena dia masih sangat lelah. 9 jam perjalanan dalam pesawat bukanlah hal yang mudah. “Aku masih sangat lelah, eomma..” rengeknya.

Nyonya Byun terkekeh pelan lalu menghampiri Baekhyun di kasurnya.

“Aigoo.. umurmu sudah satu perempat abad lebih tapi masih bisa merengek seperti itu pada Eomma, hm?” Lalu Eommanya mengelus-elus rambut Baekhyun dengan lembut, “Bangun nak.. nanti kau kesiangan..”

“Iya..iya, 5 menit lagi aku bangun Eomma..” tutur Baekhyun lalu memutar tubuhnya hingga membuat Nyonya Byun menghadap punggungnya. “10 menit lagi aku akan ada di meja makan, ok? Biarkan aku memejamkan mata 5 menit lagi saja..” ucapnya lalu menarik selimutnya lebih dalam sedikit lagi.

Eommanya tersenyum dan menuruti perkataan Baekhyun. Nyonya Byun pun memutar tubuhnya untuk keluar dari kamar Baekhyun namun tepat saat Nyonya Byun melewati meja nakas Baekhyun, Nyonya Byun menemukan sebuah bingkai foto yang tampak tak asing olehnya.

“Siapa ini..” Nyonya Byun mengambil foto itu dan memerhatikannya dengan seksama.

Satu detik setelah itu, Nyonya Byun tersenyum merekah sambil melihat ke arah Baekhyun.

“Ternyata kau masih menyimpan foto kalian, hm?” kekeh Nyonya Byun di akhir kata lalu menaruh bingkai foto dimana terdapat sepasang gadis kecil dan bocah lelaki sedang berfoto bersama sambil menggandengkan tangan mereka serta senyum dari gigi-gigi kecil yang menghiasi wajah mereka tersebut.

.

.

.

“Sehun-ah, gadis kemarin siapa eoh?”

Sehun dikagetkan dengan Chanyeol yang tiba-tiba menghampiri meja kerjanya sambil membawa penggaris panjang. “Saat kita tak sengaja berjumpa di supermarket kemarin…”

Sehun terdiam sambil berpura-pura memfokuskan pekerjaannya pada monitor computer, “Bukan siapa-siapa, hyung..”

“Eiy, kau bohong pasti..” ucap Chanyeol menggoda lalu memainkan rambut Sehun dengan penggaris. “Kau punya gadis baru lagi?”

Merasa risih dengan penggaris Chanyeol di rambutnya, Sehun pun meringis sebal, “Sudah kubilang bukan siapa-siapa, hyung!” Tapi Chanyeol tidak mau berhenti mengerjainya maka akhirnya Sehun pun menghadang penggaris itu dari kepalanya. “Berhenti menggodaku dan fokus pada kerjaanmu kembali, hyung!!”

Chanyeol tertawa pelan lalu kemudiannya ia melirik ke arah Yubi yang mejanya persis berada di belakang badan Oh Sehun. “Ya, Lee Yubi.. biasanya kau paling senang menggodai Sehun jika dia sudah ketahuan berkencan dengan gadis baru lagi?”

Yubi menjawab dengan nada yang malas, “Aku sudah lelah menasehati Oh Sehun untuk tidak memperlakukan gadis seperti barang lagi.”

“Ya!” Sehun tidak terima dengan perkataan Yubi yang menjelekkannya. Memangnya Sehun sekejam itu apa? “Aku tidak memperlakukan gadis seperti barang!” ucapnya sambil menolehkan tubuhnya ke belakang, melihat ke arah punggung Yubi.

“Ck. Mengencaninya lalu jika kau tidak puas akan langsung membuangnya.” Yubi kemudian melakukan hal yang sama dengan Oh Sehun, memutar tubuhnya. “Apakah itu bukan artinya kau memperlakukan gadis seperti barang?”

“Ya!!”

“Kalian bisa diam tidak?!”

Baik Yubi dan Sehun langsung terdiam saat Minjoo menyentakkan kalimat tersebut. Untuk ukuran ruang kerja yang hanya diisi oleh mereka berempat, itu cukup membuat ruangan bergema.

“Kepalaku sedang pusing, jangan bertengkar disini kumohon!” teriaknya lagi lalu menundukkan kepalanya sempurna ke atas meja seperti sebelumnya.

Perjodohan itu belum dihentikan dan ini sudah menginjak hari ketiga. Sumpah, setiap harinya Minjoo tidak bisa tidur dengan tenang memikirkan dirinya menikah dengan Baekhyun.

Dia benci perjodohan, terlebih dia benci jika dia harus dijodohkan dengan seorang Byun Baekhyun. Mantan sahabat yang kini telah menjadi musuh abadinya selama enam tahun.

“Ah, benar.. kalian sudah tahu bahwa Minjoo akan dijodohkan?” ucap Chanyeol berbisik pada Sehun dan Yubi. Berusaha agar tidak membuat Minjoo mendengar dari mejanya yang berada di pojok tengah sebagai kepala sekretaris mereka.

“Apa!?” Sehun hampir berteriak namun Chanyeol langsung menutup mulutnya sebelum Minjoo mengamuk lagi. Yubi yang berada di sebrang mereka tentunya ikut membulatkan mulutnya.

“Dijodohkan?!” tanya Sehun pelan-pelan meskipun Chanyeol tahu ia ingin berteriak.

“Dengan siapa?!” Yubi yang sudah menghampiri meja Sehun pun sama seperti Sehun. “Kenapa eonnie tidak bercerita pada kita!?”

“Aku tidak tahu, dia tidak bilang dengan siapanya.” Ucap Chanyeol melihat Minjoo dengan iba. “Dia ingin memberitahu kalian hanya saja kemarin kalian sudah pulang dan aku yang masih bersama dengannya mendengarkan ceritanya.”

“Omo..” Yubi menatap Minjoo dengan iba juga. Terlebih kali ini Minjoo sedang memukul-mukul kepalanya pada meja, membuat mereka bertiga menatap Minjoo dengan ngeri sekaligus iba. “Pantas saja dia dari kemarin ini murung. Kasihan eonnieku.. pasti dia tertekan sekali.”

“Tapi menurutku, orang tua noona tidak mungkin menjodohkan dengan pria yang tidak-tidak.” Ucap Sehun menatap Minjoo dengan menyipitkan matanya, berpikir. “Pasti dari kerabat perusahaan yang besar.. orang pintar.. dan pastinya tampan.” Lanjutnya.

“Kita tidak tahu..” ucap Chanyeol masih memerhatikan Minjoo juga. “Tapi ya semoga saja perkataanmu benar, Sehun-ah. Semoga pria yang dijodohkan dengan Minjoo itu tampan, pintar dan tidak playboy seperti dirimu.”

“Hyung!!”

Kring. Kring.

Telepon dari meja Minjoo berdering, membuat Minjoo meringis sebal dan mengangkatnya penuh dengan amarah.

“Kenapa!?” ucapnya. Ya mungkin Minjoo bisa berlaku se-enak-nya seperti itu karena ini perusahaan milik keluarganya. “Aku sedang pusing jadi eonnie telepon Park Chanyeol saja!”

“Ya! Kau berani berbicara seperti itu pada eonniemu!? Cepat kemari, ada kerjaan baru untukmu!” ucap eonnienya melalui telepon itu. Ah, kita lupa menceritakan bahwa eonnienya, Han Hyojoo, adalah direktur utama Hanbyun Corporation. Kenapa Minjoo tidak mendapatkan posisi lebih tinggi dibanding menjadi kepala sekretaris? Alasannya simple, Minjoo menyukai pekerjaannya sebagai sekretaris dan tidak menyukai untuk mendapatkan jabatan lebih untuk mengurus perusahaan ayahnya. Malas katanya.

“Eonnie! Eonnie tidak tega apa menyuruhku melakukan pekerjaan baru disaat aku sedang pusing memikirkan perjodohan itu!?”

Let it flow, Minjoo-ya! Kenapa kau harus ambil pusing sih mengenai perjodohan itu?”

“Kenapa aku harus ambil pusing?” Minjoo mengulang perkataan Hyojoo dengan sarkastik. “Eonnie, aku tidak menyukainya! Apakah eonnie merasakan posisi dimana kau dipaksakan menikah dengan orang yang tidak kau sukai!?

“Aish! Berhenti mempermasalahkan itu dan cepat kemari ke ruanganku!” lalu telepon dimatikan sepihak oleh Hyojoo. Meninggalkan Minjoo yang semakin memuncak amarahnya.

“Aish! Han Hyojoo menyebalkan!!” teriaknya lalu ia menghentakkan kakinya keras-keras saat berjalan meninggalkan meja dan ruangan sekretaris. Jangan lupakan pintu yang dibanting di sepeninggal Minjoo dari ruangan.

“Aku benar-benar tidak mau berurusan dengan Minjoo noona jika dia sedang marah..” ucap Sehun menatap ngeri kepergian Minjoo.

“Aku juga sama, Sehun-ah..” tutur Yubi juga sambil perlahan-lahan kembali ke mejanya.

“Ya..” Chanyeol memerhatikan Sehun dan Yubi yang menatap ngeri pada sosok Minjoo tadi. “itu Minjoo eonnie dan noona kalian! Kenapa kalian takut!?”

Setelah mengatakan itu, Chanyeol melihat ke arah pintu yang baru saja Minjoo tinggalkan.

“Han Minjoo.. Han Minjoo..” lalu Chanyeol terkekeh pelan diakhir katanya.

.

.

.

Minjoo membuka pintu ruangan Hyojoo dalam satu tarikan emosinya. Saat di dalam ruangan itu, Minjoo tahu bahwa Hyojoo sedang tidak sendirian.

Ada seseorang yang duduk di sofa tamu ruangannya, memunggunginya, serta Hyojoo yang duduk di sebrang orang yang Minjoo ketahui seorang pria itu.

“Eonnie, ada apa?” ucap Minjoo to the point. Terkesan sangat tidak sopan tapi sumpah hari itu Minjoo sedang tidak mood sama sekali.

“Kemari dahulu, Minjoo-ya.” Hyojoo mengajak Minjoo untuk duduk di sebelahnya. “Ada yang perlu kita bicarakan.”

Mendengus sebal, Minjoo pun menuruti perkataan Hyojoo dengan melangkahkan kakinya menuju mereka.

“Bicara—ya!” Minjoo tersentak kaget saat ia mengetahui siapa pria yang duduk di hadapan Hyojoo.

“Kenapa ada kau disini!?” ucap Minjoo sambil menunjuk-nunjuk Baekhyun, si pria yang duduk di hadapan Minjoo.

“Kenapa ada aku disini?” Baekhyun mengulang perkataan Minjoo dengan sarkastik, “Kau tidak lupa apa jika perusahaan ini adalah perusahaan ayahku juga!?”

Minjoo terdiam seribu bahasa. Pria yang paling ia benci untuk lihat ditambah si pelaku utama mengapa Minjoo selalu sakit kepalanya beberapa hari ini ada di hadapannya. Padahal, Minjoo sudah sekeras mungkin untuk tidak bertemu Baekhyun tempo hari yang lalu saat orang tuanya mengajak untuk makan keluarga besar—lagi—bersama keluarga Byun. Minjoo tahu, emosinya hanya akan meledak jika melihat Baekhyun.

“Duduklah dan jangan memancing keributan, Han Minjoo..” ucap Hyojoo dengan tenang menghadapi mereka. Demi Tuhan, Hyojoo juga tak kalah pusing dengan Minjoo yang harus selalu menjadi penengah di antara mereka. “Dengarkan apa yang mau aku bicarakan terlebih dahulu.”

Minjoo menyerah, dia sedang sangat lelah untuk mengencangkan urat nadinya dengan Baekhyun. Dengan menghembus nafas yang panjang, ia lalu duduk dalam satu hentakan di sebelah Hyojoo.

“Begini Minjoo-ya..” Hyojoo berusaha berbicara setenang mungkin. Ia tahu, mungkin setelah ia mengatakan semuanya Minjoo akan meledak lagi dengan emosinya.

“Aku.. akan turun dari jabatanku sebagai direktur utama perusahaan ayah dan paman byun.”

“Apa!?” Minjoo membulatkan matanya. “Kenapa eonnie!?” Minjoo hampir mengeluarkan air matanya karena Minjoo tahu seberapa kuat keinginan Hyojoo untuk bertahan di perusahaan ayahnya.

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Minjoo-ya.. aku tidak turun jabatan lalu keluar dari perusahaan ini namun aku hanya turun jabatan saja.” Ucap Hyojoo. “Aku akan menjadi wakil direktur utama perusahaan ini..”

“Lalu?” Minjoo memfokuskan pendengarannya lagi, “Siapa yang menjadi direktur utamanya?” Minjoo terdiam tapi dia ingat dan sadar akan sesuatu. “Jangan-jangan—“

“Eoh, Baekhyun.” Potong Hyojoo saat Minjoo cepat menyadarinya. “Dia yang akan menjadi direktur utamanya dan dengan begitu..”

Minjoo melihat ke arah Baekhyun dengan pandangan yang menjijikan namun setelah ia mendengar kata-kata eonnienya, pandangannya langsung bias menatap Baekhyun.

“Kau akan menjadi sekretaris pribadinya, Minjoo-ya.”

Minjoo terdiam, berusaha untuk menetralisir semua perkataan Hyojoo. Sedangkan Baekhyun, dia juga sama terdiamnya dengan Minjoo. Tak memberi satu patah katapun untuk merespon dan malah ia mengalihkan pandangannya dari Han Minjoo.

“Kenapa…” Minjoo mengalihkan tatapannya lagi menatap Hyojoo. “Kenapa.. aku, eonnie?”

“Kau kan kepala sekretaris di perusahaan ini, Minjoo. Kau memang ditugaskan untuk melayani direktur utama perusahaan dan sekarang kondisinya bukan aku lagi yang menjadi direktur utama melainkan Baekhyun.” Tutur Hyojoo menjelaskan. “Selain itu, kalian akan menikah dan kalian bisa memperbaiki hubungan kalian yang—“

“Sudah kubilang aku tidak mau menikah dengannya!!” Minjoo teriak lagi dengan kencang sambil berdiri dari tempatnya. Ditambah kini ia menjatuhkan air matanya. “Kenapa eonnie, ayah ataupun ibu tidak mengerti perasaanku!? Aku tidak menyukainya!!”

“Ya!!” Baekhyun berdiri juga dari tempatnya, “Memangnya aku mau menikahimu juga!? Jangan berlaga seakan-akan kau yang paling dirugikan di situasi ini! Aku juga dirugikan, bodoh!!” teriaknya pada Minjoo persis di hadapan muka gadis itu.

“Ya sudah kenapa kau tidak menentang pernikahan ini juga jika sama seperti itu!?” ucap Minjoo sambil masih mengeluarkan air matanya. “Kenapa kau tidak meminta untuk menikahi Hyojoo eonnie saja!”

“Ya.. kalian berdua, berhentilah..” ucap Hyojoo menengahi. “Minjoo-ya, jangan menangis. Ini semua juga demi—“

“Demi kebaikan perusahaan!?” nyalak Minjoo sambil menatap kembali Hyojoo. “Tapi ini menyakiti perasaanku, eonnie!!” teriaknya kemudian sambil masih menangis. “Pokoknya, aku tidak mau menikah dengan Baekhyun sampai kapanpun. Titik!” dan Minjoo pun pergi berlari keluar dari ruangan dengan air mata yang masih membasahi pipinya.

Hyojoo pun menghembuskan nafasnya dengan berat melihat kepergian Minjoo dari ruangannya. Setelahnya ia langsung menatap Baekhyun kembali.

“Ya, sebenarnya kalian bertengkar karena apa sih?” Hyojoo mendecakkan lidahnya, pusing dengan semua ini. “Sampai-sampai ia susah sekali untuk memaafkanmu bahkan sudah enam tahun lamanya..”

Baekhyun terdiam membisu melihat pintu ruangan Hyojoo. Tidak mau menjawab pertanyaan tersebut.

.

.

.

“Ini.”

Minjoo merasakan jika pipinya sangat dingin sekali saat kaleng itu menyentuh pipinya. Sambil menurunkan tangan dari wajahnya, ia mengambil kaleng cola tersebut.

“Minumlah dan berhenti menangis!” ucap Chanyeol lalu duduk di sebelah Minjoo.

Sudah hampir satu jam lebih Minjoo menangis di loteng perusahaan sambil menakupkan wajahnya pada telapak tangannya. Entahlah, perasaannya benar-benar tersakiti saat Minjoo merasakan bahwa ia dikorbankan untuk kepentingan perusahaan. Benar-benar seperti di anak tirikan.

“Wajahmu begitu bengkak, kau tahu.” Chanyeol meneguk cola yang dibelinya di mesin minuman.

Minjoo terdiam membisu menatap kaleng cola tersebut. Lebih tepatnya, gadis itu sedang berpikir.

“Chanyeol-ah.. apakah aku sebenarnya bukan anak dari ayah dan ibuku?”

Perkataan Minjoo itu membuat Chanyeol menolehkan wajahnya dan menatap Minjoo dengan garang, mengingatkan Minjoo bahwa apa yang gadis itu katakan salah. Masa iya seorang anak berkata seperti itu untuk orang tuanya?

Minjoo pun mempoutkan bibirnya, “Aku hanya tak habis pikir Chanyeol-ah.. kenapa harus aku yang dijodohkan dengan pria sialan itu dibanding eonnieku.” Ia kemudian memainkan kaleng cola tersebut dengan memutar-mutarnya. “Lagipula.. jika dibanding diriku, pria itu lebih pantas bersanding dengan eonnieku. Eonnieku cantik dan pintar, jauh sekali dengan diriku.”

“Memangnya pria itu siapa?” Chanyeol kembali meminum colanya dan setelah itu melanjutkan perkataannya lagi, “Kenapa kau begitu menolaknya? Padahal menurutku orang tuamu tidak mungkin menjodohkanmu dengan sembarang orang..”

“Dia itu..” Minjoo menghentikkan perkataannya beberapa detik, “..anak dari tuan Byun, Chanyeol-ah.”

Mendengar itu, sukses membuat Chanyeol menolehkan kepalanya.

“Byun Baekhyun?” Chanyeol semakin menatap Minjoo dengan dalam, “Ya, kalau begitu kenapa kau menolaknya? Kau bilang keluargamu dan keluarganya sudah seperti saudara kan? Kau bilang tuan dan nyonya Byun sudah seperti ayah dan ibu keduamu kan? Dan seingatku kau pernah bilang bahwa anak dari tuan Byun adalah sahabat kecilmu juga..”

“Kenapa kau menolaknya, Minjoo-ya?”

Minjoo terdiam dan merenung menatap kaleng cola itu.

“Ada satu alasan kenapa aku jadi membencinya, Park Chanyeol..” ucap Minjoo.

“Dan aku.. belum bisa memberitahumu sekarang. Maaf.”

Chanyeol pun menghembuskan nafasnya dengan panjang.

“Ya sudah, jika kau belum mau menceritakannya padaku tidak apa-apa.” Chanyeol menatap Minjoo dengan tersenyum. “Tapi menurutku.. orang tuamu tidak mungkin mengorbankan kebahagian putrinya sendiri demi perusahaan. Orang tuamu pasti melakukan itu semua untuk kebaikanmu juga, Han Minjoo.”

“Aku yakin.. orang tuamu pasti mengetahui sesuatu yang lebih baik daripada kau tahu. Percaya padaku, Han Minjoo.”

Minjoo masih terdiam menatap kaleng cola yang sama sekali belum ia minum itu. Berharap bahwa perkataan Chanyeol ada benarnya meskipun untuk sampai detik ini.. Minjoo masih menolak untuk menikahi Baekhyun.

.

.

.

Chanyeol membuka pintu ruangan dan memasuki ruangan Hyojoo. Beberapa menit yang lalu, Hyojoo meneleponnya untuk mendatangi ruangannya.

“Noona, ada apa memanggilku?” tanya Chanyeol. Hyojoo kali ini tengah duduk di sofa tamunya dengan dua cangkir kopi di mejanya. Melihat ekspresi mukanya Hyojoo saat ini, Chanyeol tahu Hyojoo sedang mengalami kesulitan.

“Noona.. sedang dalam kesulitan?” tanyanya lagi.

Mendengar ucapan Chanyeol, Hyojoo pun tersenyum. Dia kemudian menepuk sofa di sebelahnya, mengajak Chanyeol untuk duduk.

“Kemari Chanyeol-ah..” Hyojoo tersenyum lembut meski kantung matanya telah bertubi-tubi. “Ada dua cangkir kopi dihadapanku.. temani aku, boleh?” pintanya.

Tidak bisa menolak perkataan Hyojoo, Chanyeol pun dengan segera duduk di sebelah Hyojoo. Sesaat setelah Chanyeol duduk di sampingnya, Hyojoo pun menuangkan kopi itu di atas cangkir mereka berdua.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu, Park Chan? Apakah kau menemukan kesulitan?”

Cangkir kopi itu telah terisi dan kini Hyojoo telah menyeruput sedikit minumannya. “Apakah.. melelahkan?”

Chanyeol pun ikut meminum kopi itu juga, sama seperti Hyojoo. “Hm.. lumayan, noona. Tidak terlalu sulit dan tidak terlalu melelahkan. Aku masih bisa menghadapi pekerjaanku.” Sambil menaruh cangkir itu di atas meja, Chanyeol bertanya, “Kalau dirimu.. bagaimana, noona? Kau.. menemukan kesulitan?”

Hyojoo tampak terdiam sambil menarik nafasnya dalam-dalam.

“Aku sedang pusing memikirkan adikku, Chanyeol-ah. Han Minjoo.. gadis itu mengapa sangat keras kepala sekali.”

“Ah.. pasti tentang perjodohan itu.” Ucap Chanyeol. “Noona tahu mengapa Minjoo tidak mau menikah dengan Baekhyun?”

“Justru itu yang menjadi pertanyaanku, Park Chanyeol. Aku tidak tahu mengapa mereka bertengkar padahal seluruh keluarga tahu bahwa mereka punya hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan dahulu.” Ucap Hyojoo sambil memijit keningnya. Benar-benar terbebani oleh perjodohan Minjoo dan Baekhyun yang tidak kunjung menemukan titik akhir.

“Dari dahulu.. keluarga kami sudah merencanakan untuk membuat Minjoo dan Baekhyun menikah. Memang, kami tidak mau memaksakan perasaan mereka namun seiring dengan berjalannya waktu kami tahu bahwa rencana kami berhasil. Keluargaku dan keluarga tuan Byun yakin jika mereka memiliki perasaan yang begitu kuat.” Hyojoo memotong perkataannya selama beberapa detik lalu melanjutkannya kembali, “Aku tahu keluargaku dan keluarga Byun sedikit jahat karena ini demi kepentingan perusahaan juga. Kami menginginkan penerus perusahaan ini datang dari cucu keluarga dua belah pihak dan akan turun terus kepada generasi yang sama tapi..” Hyojoo menghentikkan perkataannya sambil menutup matanya.

“Ini tidak akan berhasil. Bagaimanapun juga aku, ayah, ibu, paman byun dan tante byun tidak boleh mengorbankan perasaan Minjoo demi kepentingan perusahaan..” Hyojoo terdiam namun detik selanjutnya ia langsung menangkupkan kedua wajahnya pada tangannya.

“Tapi, apa yang akan terjadi dengan perusahaan ini? Apa yang akan terjadi dengan keluargaku dan keluarga Byun? Aku tidak mau keluarga kita pecah hanya karena perusahaan..” Hyojoo tampak sedikit terisak disana.

“Apakah aku saja yang harus menikah dengan Baekhyun, Chanyeol-ah..”

“Jangan.”

Hyojoo menengadahkan wajahnya dan menatap Chanyeol dengan air mata yang tengah mengalir di pipinya.

“Noona.. tidak boleh menikah dengan Baekhyun.”

.

.

.

Minjoo tahu bahwa dia sedang dalam ambang kematian. Terlalu berlebihan memang, tapi seperti itu yang Minjoo rasakan detik itu juga. Kali ini ia sedang duduk di atas karpet dengan kepala menunduk kebawah. Di hadapannya kini telah ada kedua orang tuanya, Tuan Han dan Nyonya Han.

“Kau.. benar-benar tidak bisa menikahinya, Minjoo-ya?” ucap tuan Han dengan mata sayunya. Sama pusingnya dengan Han Hyojoo karena memikirkan perjodohan Minjoo dan Baekhyun.

“Kau benar-benar tidak bisa menerima Baekhyun menjadi suamimu?”

Minjoo terdiam dan terus terdiam selama 3 detik. Setelahnya, air matanya luntur ke atas pipinya.

“Maaf, Ayah… aku tidak bisa.”

Ayahnya pun menghembuskan nafas yang begitu panjang, seakan-akan nafas itu adalah nafas terberat yang ada di paru-parunya. Kecewa. Satu hal itu yang tuan Han rasakan.

“Kenapa?” tuan Han kini bertanya kembali dengan suara yang sedikit lebih tegas. “Berikan alasannya, Han Minjoo.” Ucapnya lagi. Nyonya Han yang menyadari perubahan nada suara Tuan Han pun mengusap lembut pundak suaminya, menenangkan pria tua itu.

“Aku tidak bisa memberitahunya, Ayah.” Ucap Minjoo masih tertunduk. “Yang jelas.. aku tidak mau menikahinya.”

“Bukankah kalian selama ini saling menyukai, Minjoo-ya?” Ayah Minjoo kini mulai putus asa. Seperti yang Hyojoo turut pikirkan, dia takut jika persahabatannya akan kandas dengan keluarga Byun jika pernikahan itu tidak terjadi. “Aku tahu jelas kalau kalian memiliki perasaan itu! Alasan apa yang membuat kalian menjadi sepasang musuh yang akan saling membunuh kapanpun!?”

“Sudah kubilang, Ayah. Ayah terlalu berfantasi liar akan hubunganku dengan Baekhyun dan selain itu..” Minjoo memberanikan dirinya untuk menatap tuan Byun di matanya.

“Apa ayah.. sedang menjualku demi keuntungan perusahaan? Aku sudah tahu bahwa ayah merencanakan ini semua demi kepentingan perusahaan.”

Tersentak kaget, Tuan Han langsung membulatkan mata dan mengencangkan saraf nadinya.

“Han Minjoo!”

“Kenapa!?” Minjoo menangis teriak, dia benar-benar sudah tak tahan dengan dirinya yang di korbankan demi perusahaan. “Kenapa harus aku!? Kenapa harus aku yang dikorbankan untuk perusahaan!? Apakah aku ini bukan anak ayah!?”

Minjoo kemudian menunjuk-nunjuk dirinya dengan air mata yang masih mengalir, “Aku ini.. Han Minjoo, Ayah.. anak ayah.. anak bungsu ayah tapi mengapa aku seperti di anak tirikan disini..” Minjoo menangis tersedu-sedu. “Kenapa harus aku..”

Ayah Minjoo terdiam melihat Minjoo yang menangis karena dirinya. Jujur, saat itu hati ayah Han sangat teriris mengetahui putrinya menangis karena merasakan perasaan itu darinya.

“Ayah.. tidak bermaksud menganaktirikanmu, nak..” ucap tuan Han sedikit lebih lembut. “Ayah melakukan itu semua demi kebaikanmu juga. Ayah melihat dirimu dan Baekhyun tumbuh bersama dan ayah percaya bahwa perasaan itu ada di antara kalian..”

“Tidak pernah sedikitpun maksud ayah untuk menganaktirikanmu..” tambahnya lagi.

“Kalau benar seperti itu,” Minjoo menarik nafasnya lalu menghapus air matanya. “Batalkan pernikahanku dengan Baekhyun, bagaimanapun caranya. Seperti yang sudah aku bilang.. aku tidak bisa.”

Minjoo berdiri dari tempat duduknya. Sebelum ia meninggalkan Ayah dan Ibunya yang menatap gadis itu sendu, Dia membungkukan tubuhnya. Meminta maaf.

“Aku minta maaf karena menjadi anak yang tidak patuh pada orang tua tapi.. aku harus menemukan jalan kebahagiaanku sendiri.”

Lalu setelahnya Minjoo pergi dengan langkah yang besar-besar. Meninggalkan kedua orang tuanya yang menghambuskan nafasnya lagi dan lagi sangat berat.

.

.

.

“Bagaimana ini, yeobo..” tutur Tuan Han masih di ruangan yang sama beberapa waktu setelah kepergian Minjoo. “Bagaimana hubunganku dengan Nohyun.. perusahaan kita bersama..” lanjutnya lagi sambil memijat kepalanya yang pening.

Nyonya Byun hanya bisa mengusap pundak suaminya dengan lembut, mungkin hanya itu yang bisa dilakukannya sebagai istri. “Mau bagaimana lagi, yeobo.. Kita tidak bisa untuk memaksakan perasaan Minjoo juga. Dia putri kita juga, yeobo..”

“Aku tahu dan tentunya aku juga tidak mau mengorbankan perasaannya demi perusahaan. Aku menyayangi kedua putriku, tapi..” Tuan Byun menghela nafas berat. “Aku tidak tahu akan berakhir seperti ini dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang..”

“Aku bersedia menggantikan posisi Minjoo, Ayah..”

Tuan dan Nyonya Han memutar kepalanya ke belakang, ke arah Hyojoo yang berada di pintu masuk mereka.

“Hyojoo-ya, apa maksudmu..?” tanya Ayahnya. Hyojoo terdiam selama beberapa detik kemudiannya ia memutuskan untuk melangkahkan kakinya menghadap kedua orang tuanya. Sama seperti Minjoo sebelumnya, ia duduk di atas lantai di hadapan orang tuanya.

“Aku bersedia menggantikan posisi Minjoo untuk..” Hyojoo mencoba untuk meneguhkan keputusan yang telah ia buat. Menyakitkan, tapi dia tidak bisa melihat orang tuanya tersiksa hanya memikirkan ini.

“..menikahi Baekhyun.” Ucapnya dan itu langsung membuat tuan Han membulatkan mulutnya.

“Hyojoo-ya..”

“Aku selama ini belum memiliki pasangan, Ayah. Umurku sudah 30tahun, sudah saatnya aku juga memiliki pasangan hidup.” Hyojoo mengimbuhi senyuman di bibirnya untuk meyakinkan Ayah dan Ibunya.

“Kau yakin, putriku?” tutur Nyonya Han kali ini. “Ibu tidak mau kau mengalah hanya karena untuk menolong perusahaan dan hubungan keluarga dengan tuan Byun.”

Lalu kemudian Nyonya Han mengusap pundak Hyojoo dengan lembut.

“Kau itu putriku. Sama seperti Minjoo, kami tidak mau mengorbankan perasaan kalian demi kepentingan perusahaan.”

Hyojoo tahu, kedua orang tuanya sayang padanya. Hyojoo tahu, kedua orang tuanya akan memperlakukannya sama dengan Minjoo, orang tuanya tidak akan mengorbankan perasaan anaknya demi kepentingan perusahaan. Hyojoo tahu persis itu.

Namun, Hyojoo tidak bisa membuat kedua orang tuanya terlalu lama terbebani oleh pikiran ini. Hyojoo ingin membantu mereka meskipun itu harus menyakitinya.

“Mungkin.. untuk sekarang aku tidak memiliki perasaan pada Baekhyun, tapi..” Hyojoo menatap kedua orang tuanya dengan meyakinkan, meskipun dia tidak yakin seratus persen dengan apa yang terjadi setelah ia menikah dengan Baekhyun. “Aku percaya, perasaan itu bisa tumbuh dari waktu ke waktu setelah aku menikah dengannya. Lagipula selama ini aku telah hidup bersamanya, meski tak sedekat seperti Minjoo.. aku percaya aku bisa bahagia bersama Baekhyun.”

Tuan dan Nyonya Han saling menatap dengan perasaan khawatir. Tentu saja khawatir, ini menyangkut masa depan seorang anaknya. Menyangkut perasaan anaknya juga. Mereka takut, apa yang Hyojoo katakan tidak sesuai terjadi di masa depan. Sekali lagi, mereka bukanlah tipikal orang tua yang menjual anaknya demi kepentingan perusahaan.

“Kau benar-benar serius dengan perkataanmu, Hyojoo-ya?” tanya Ayahnya, lalu Ibunya menambahkan, “Apakah kau sudah memikirkannya dengan baik dan benar, putriku?”

Hyojoo menarik satu senyuman. “Tentu saja aku sudah memikirkan semuanya. Aku sudah mempertimbangkan semuanya, jadi..” Hyojoo menarik kedua tangan Ayah dan Ibunya, menggenggamnya. “Ayah dan Ibu tak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Banyaklah istirahat, makan yang baik dan tidur yang nyenyak.”

“Aku.. pasti akan ada selalu untuk Ayah dan Ibu..”

Mendengar ucapan putrinya, nyonya Han tak kuasa menahan air matanya. Ia menghampiri putrinya, menarik putrinya ke dalam pelukannya. Pelukan seorang Ibu kepada putrinya.

“Terima kasih, Hyojoo-ya..” ucap Nyonya Han sambil terisak dan mengusap punggung Hyojoo. “Terima kasih karena telah menjadi kakak yang baik dan juga menjadi putri yang baik..”

Tak kuasa menahan air matanya, Hyojoo juga ikut menangis dalam pelukan Ibunya.

“Aku menyayangimu, eomma..” lalu Hyojoo menatap Ayahnya juga. “..Appa..”

Tuan Han masih tampak mengkhawatirkan situasi ini. Dia tetap terdiam, namun setelah melihat Hyojoo yang menatapnya dengan air mata, Ia pun menghembuskan nafasnya seraya tersenyum lembut pada Hyojoo.

“Benar.. terima kasih, Hyojoo-ya.” Ucapnya lalu mengusap-usap kepala Hyojoo.

“Terima kasih karena telah lahir menjadi anakku dan menjadi kakak yang baik untuk adikmu..”

.

.

.

Cuaca kota Seoul tidak begitu baik hari itu. Matahari telah tertutupi oleh awan berwarna abu-abu dihadapannya, menandakan awan tersebut membawa beberapa liter air untuk siap ditumpahkan ke umat manusia di bawahnya.

Ting. Tong

“Siapa?”

“Aku.”

Cklek.

“Untuk apa kau kemari?”

Minjoo melihat Baekhyun dengan tatapan datarnya, ekspresi seperti biasanya jika ia melihat pria bernama Baekhyun.

“Ck, kau masih berlaku menyebalkan disaat aku..” Baekhyun menggoyangkan kardus yang dibawa di tangannya. “..sudah baiknya mau membawa barang-barang sampahmu ini dengan menghabiskan waktu 30 menitku dari rumahmu.” Baekhyun menatap sinis Minjoo.

“Kau tidak tahu cara berterima kasih, huh!?”

Minjoo menarik nafasnya lalu dalam satu hentakan dia langsung mengambil kardus itu.

“Terima kasih karena telah berbaik hati untuk mengambil sampahku, Byun Baekhyun.” Ucapnya dengan nada yang di sok-baik-an. “Sekarang, lebih baik kau pulang karena aku sudah malas melihat wajahmu.” Lalu setelahnya Minjoo menutup pintu apartemennya dengan asal hingga membuat suara debuman tepat di hadapan wajah Baekhyun.

Sebelum Minjoo meninggalkan tempatnya, Minjoo masih bisa mendengar Baekhyun meneriakinya dengan amarah.

“Ya! Kau benar-benar wanita gila, huh!”

.

Hari itu Minjoo tidak pergi ke kantor karena ia mengambil cuti tahunannya yang belum sama sekali terpakai. Ada dua alasan mengapa Minjoo melakukan itu: Pertama, hari itu dia sedang merasa sedikit tidak enak badan. Kedua, dia tidak mau bertemu dengan kakaknya di kantor untuk sementara waktu. Masalah apalagi kalau bukan tentang perjodohannya.

“Hujan?”

Kali ini Minjoo sedang berada di pintu utama gedung apartemennya, niatnya dia mau membeli makanan untuk makan malamnya karena persediaan di apartemennya sudah habis. Namun, sayang sekali itu bukan nasib baiknya.

“Payungku ketinggalan di kantor lagi, aish..” Minjoo menggerutu kesal, mengingat persediaan payung di apartemennya tidak ada. Jika dia tidak bisa membeli makanan, dia harus makan dengan apa nanti malam? Minjoo adalah gadis yang tidak bisa tahan untuk tidak makan meskipun hanya satu jam waktu makan terlewatkan. Rakus, tapi tubuh gadis itu tidak menggambarkan sifat rakusnya.

“Ah! Kan bisa pesan makanan saja.” Ucapnya pada dirinya sendiri. Lalu dia terkekeh pelan, “Mengapa aku bodoh sekali.”

Saat Minjoo baru saja akan memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam gedung apartemennya lagi, ia menemukan sosok pria yang berada persis pada jam 9 darinya. Pria itu sedang melihat ke arah awan, melihat hujan yang membasahi jalanan di hadapannya.

“Byun Baekhyun?” Minjoo bergumam dan memerhatikan pria itu. “Bukankah sudah satu jam berlalu dari saat dia mengantar barangku? Untuk apa dia masih disini?” gumamnya, lagi. Kali ini Minjoo memerhatikan Baekhyun yang sedang menggosokkan kedua tangannya lalu memeluk bahunya. Bagaimana tidak kedinginan? Pria itu hanya memakai kaus putih dan celana jeans saja. Tanpa dibalut jaket apapun.

Minjoo tidak ingin peduli, sungguh. Niat awalnya adalah untuk mengabaikan Baekhyun dan berjalan kembali menuju apartemennya lalu memesan makan malamnya.

Tapi,

Baru satu langkah yang Minjoo ambil, gadis itu langsung menghentikan seluruh tubuhnya.

Ia masih punya sifat kemanusiaannya untuk seorang Baekhyun.

“Ya.”

Baekhyun menolehkan wajahnya melihat Minjoo.

“Kenapa kau masih disini? Kau mau menguntitku ya?”

“Ck.” Baekhyun menatap Minjoo merendahkan, “Untuk apa aku menguntit gadis sepertimu? Tidak ada gunanya.” Lanjutnya.

“Lalu?” Kini Minjoo balik bertanya, “Kenapa kau masih disini?”

“Kau tidak bisa lihat bahwa ini sedang hujan?” jawabnya dengan dingin, “Aku tidak membawa mobil. Juga tidak membawa payung.” Baekhyun mengalihkan pandangannya dan menatap rintik hujan kembali.

“Aku kemari naik bis dengan membawa barangmu yang seberat itu.” Baekhyun kembali menolehkan wajahnya melihat Minjoo dengan kesal, “Tapi kau malah membanting pintu tepat di depan wajahku. Benar-benar gadis tidak tahu terima kasih.”

Minjoo pun kini menertawakan penderitaan Baekhyun, “Siapa suruh mau melakukan itu, Byun Baekhyun? Aku tidak menyuruhmu ya.. asal kau tahu.”

“Aish!” Baekhyun menatap Minjoo benar-benar kesal sambil menggertakan giginya. “Orang tuamu yang menyuruhku! Mana mungkin aku bisa menolaknya!?” Demi Tuhan, saat itu Baekhyun benar-benar kesal pada Minjoo. Di saat ia sudah bela-bela membawa kardus barang Minjoo dengan naik bis, gadis itu masih saja bisa bertingkah menyebalkan padanya.

Minjoo terdiam selama beberapa detik namun akhirnya dia membuka suaranya,

“Kau.. mau berteduh di apartemenku?” ucapnya sedikit ragu dan juga malu. Dan itu langsung di respon Baekhyun dengan tatapan tak percayanya.

“I-ini sekaligus sebagai rasa terima kasihku padamu!” tambah Minjoo lagi. Ya Tuhan, Minjoo rasa pipi Minjoo sangat panas saat itu. “Aku orang yang tahu rasa terima kasih, bukan seperti dirimu!”

Baekhyun menatap Minjoo dengan pandangan yang tak bisa di artikan, membuat Minjoo sedikit kikuk dipandang seperti itu.

“K-Kenapa?” Minjoo bertanya seraya menatap Baekhyun dengan tanda tanya. “K-kenapa melihatku seperti itu?”

Baekhyun terdiam sambil menatap Minjoo, namun beberapa detik setelahnya dia terkekeh pelan.

“Wah.. Han Minjoo. Kau benar-benar gadis yang luar biasa, eoh?”

.

“Kau mau minum apa?”

Minjoo berjalan menuju dapurnya setelah Baekhyun menerima tawarannya. Jujur, dia sedikit gugup saat ini. Tapi, Minjoo berhasil menahannya.

“Apapun.” Ucap Baekhyun. Dia sedang melihat-lihat isi apartemen Minjoo—dan Hyojoo. “Kau punya alkohol tidak?” tanyanya asal.

“Ya.” Minjoo berusaha untuk menatap Baekhyun dari dapurnya. “Kau pikir apartemenku ini bar, huh!?”

Baekhyun hanya tertawa mendengar ucapan Minjoo.

Selang beberapa menit kemudian, Minjoo datang dengan membawa dua cangkir minuman.

“Ini.” Minjoo menyodorkan satu cangkir ke hadapan Baekhyun. “Aku tidak punya apa-apa selain susu.”

“Ya! Memangnya aku anak kecil!?” Baekhyun memprotes Minjoo. “Lagipula, masa kau tidak punya yang lain selain susu!?”

“Ya!” Minjoo juga meninggikan suaranya tak kalah dari Baekhyun. “Sudah syukur kau kuberi minum! Aku bilang, aku tidak punya minuman lain selain susu! Persediaan di apartemen habis.”

“Ck.” Baekhyun menatap Minjoo dengan tak percaya, “Aku bertanya, mengapa Hyojoo noona bisa bertahan tinggal dengan gadis sepertimu.”

“Karena dia kakakku.” Ucap Minjoo dengan gamblang sambil duduk di ruang tengahnya, persis di samping Baekhyun. Pria itu pun menatap Minjoo tak percaya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Omong-omong..”

Minjoo membuka suaranya lagi, membuat Baekhyun yang tadinya sedang menikmati susunya kini melihat ke arah Minjoo lagi.

“Selamat atas pernikahanmu dengan eonnieku.” Minjoo tersenyum, entah senyum apa yang bisa kita artikan.

“Akhirnya kau menikah juga dengan eonnieku, hm?”

Perjodohan Minjoo dan Baekhyun resmi dibatalkan dengan digantinya pasangan mempelai wanita menjadi kakak perempuan Han Minjoo, Han Hyojoo. Tempo hari yang lalu, tuan dan nyonya Han memanggil kedua putrinya dan mendiskusikannya bersama. Minjoo masih kekeuh dengan pendiriannya yang tidak mau menikahi Baekhyun hingga akhirnya keputusan Hyojoo lah yang keluarga Han ambil. Membuat Hyojoo harus mengalah.

Jujur, Minjoo sangat merasa bersalah dengan keegoisannya. Karena dia, kakaknya harus dikorbankan perasaan dan masa depannya. Dijodohkan pada pria yang tak dicintainya. Harus hidup dengan pria yang selama ini adalah adik baginya. Tapi bagaimana lagi? Mungkin.. itu yang terbaik untuk mereka dan dirinya, menurut Minjoo.

“Hm.” Baekhyun tersenyum, “Selamat juga atas keberhasilanmu untuk tidak menikahiku, Minjoo-ya.” Baekhyun menatap Minjoo dengan senyuman di matanya.

“Akhirnya keinginanmu terkabul, benar?”

Minjoo terdiam menatap Baekhyun dengan senyuman yang entah kita tangkap seperti apa.

“Benar.”

Mereka pun terdiam lagi sambil mengalihkan pandangan mereka ke depan. Pikiran mereka kosong, namun memori mereka saling terbuka pada masa lalu.

“Kau..” Baekhyun menjeda perkataannya selama beberapa detik sambil membiarkan Minjoo membuka telinganya lebar-lebar.

“..Apa alasanmu tidak mau menikah denganku?”

Minjoo terdiam, menatap hadapannya dengan datar meskipun ia mendengar dengan jelas perkataan Baekhyun.

“Apa benar-benar karena kau membenciku?”

Pikirannya terbang pada dimana saat-saat Minjoo dan Baekhyun bersahabat dahulu. Dimana saat dunia benar-benar seperti milik mereka berdua.

~

“Awas ada genangan air, Han Minjoo!”

Baekhyun kecil menarik tangan Minjoo kecil lebih dekat dengannya untuk menghindari genangan air di hadapan mereka. Mereka baru saja pulang sekolah dan kini sedang menuju rumah mereka.

“Ah! Untung saja ada dirimu, Baek!”

Baekhyun kecil tersenyum namun ia menyadari bahwa tali sepatu Minjoo kecil terlepas.

“Sebentar Minjoo-ya.” Baekhyun kecil menundukkan tubuhnya dan menalikan tali sepatu Minjoo kecil.

“Kalau kau jatuh, nanti aku menangis.”

“Kenapa kau yang menangis? Harusnya aku yang menangis kan?”

“Karena aku tidak suka melihatmu terluka, Minjoo-ya..”

Baekhyun kecil telah selesai menalikan tali sepatu Minjoo dan kini berdiri dari hadapan Minjoo sambil tersenyum cerah. Minjoo kecil yang melihat itu juga turut tersenyum cerah.

“Ayo kita lanjut lagi! Aku tak sabar bermain di rumahmu!” ucapnya seraya menggenggam tangan Minjoo yang kecil. Minjoo kecil mengangguk riang lalu membalas eratan tangan Baekhyun yang memilik ukuran yang sama dengan tangannya.

“Ayo kita bermain!”

~

“Benar.” Minjoo kembali pada realitanya mengingat momen itu, masa-masa kecil mereka. Salah satu kenangan yang cukup membekas di memori Minjoo.

Minjoo menolehkan wajahnya menatap Baekhyun dengan senyuman, senyuman yang sesungguhnya masih sama dengan senyuman yang dulu. “Itu semua karena aku membencimu.”

“Kau mempermalukanku dihadapan Luhan sunbae enam tahun yang lalu. Kau membuat tulisan di majalah dinding yang menyatakan perasaanku pada Luhan sunbae hingga semua gadis di sekolah membenciku. Kau juga yang sengaja membuat Luhan sunbae menjauh dariku.”

Minjoo melupakan semua kenangan kecil mereka dan tertawa sarkastik, “Sekarang kau ingat semua dosamu padaku, Byun Baekhyun? Karena dari yang kulihat beberapa hari ini tampaknya kau melupakan semua dosamu itu.”

“Ah..” Baekhyun menatap Minjoo dengan senyuman yang merendahkan. “Lalu bagaimana dengan dirimu yang menjahiliku dengan membuang tasku di selokan sekolah? Bagaimana juga dengan dirimu yang membuatku harus masuk ruang kepala sekolah karena kau mengadu bahwa aku mencontek?”

Baekhyun menaikkan satu alisnya, “Kau juga tidak melupakan dosamu, benar? Sebab yang kulihat kau seperti hidup tanpa dosa, eoh?”

Minjoo tersedak oleh tawanya, “Mungkin yang masalah aku membuang tasmu ke selokan aku mengaku salah, tapi untuk urusan aku mengadu pada kepala sekolah bahwa kau mencontek itu salahmu! Mana bisa aku diam melihatmu menang dengan hasil yang licik!”

“Ck. Itu bukan licik, Minjoo-ya. Itu namanya trik.”

“Trik apanya, Byun Baekhyun. Itu jelas-jelas licik!” teriak Minjoo, “Lalu, bagaimana denganku? Kenapa kau melakukan itu semua padaku?”

“Padamu apanya?” tanya Baekhyun berlagak sok tidak tahu. Membuat Minjoo kesal setengah mati.

“Membuat Luhan sunbae membenciku, bodoh!”

“Ah, karena aku ingin melakukannya saja.”

Minjoo menaikkan alisnya, tak percaya atas apa yang baru saja Baekhyun katakan.

“Apa?”

Baekhyun menyeruput kembali susunya yang mulai mendingin, “Karena aku ingin melakukannya, Han Minjoo. Tidak ada alasan lain.”

“Ya..” Minjoo menatap Baekhyun dengan tak percaya, “Kau benar-benar gila, huh? Kau melakukan itu hanya karena kau ingin melakukannya!?”

Baekhyun menghabiskan susunya dan langsung menaruhnya di atas meja kembali, tidak menjawab perkataan Minjoo. Sambil tersenyum seperti orang gila, Baekhyun menyandarkan punggungnya pada sofa dan menjadikan kedua tangannya alasnya.

“Kau punya alkohol tidak, Minjoo-ya?” tanya Baekhyun sambil menolehkan wajahnya ke arah Minjoo. “Satu botol saja, tidak ada?”

“Sudah kubilang ini bukan bar, Byun Baekhyun!!”

“Hmm..” Baekhyun bergumam, “Maukah kau minum alkohol bersamaku untuk merayakan atas keberhasilanmu tidak jadi menikahiku, Minjoo-ya?” Dia menjeda perkataannya lalu melanjutkan lagi, “Ah, sekalian merayakan diriku juga yang tidak jadi menikah dengan musuhku.” Ucapnya sambil menekan kata musuh.

“Ck. Aku tak mau minum dengan musuhku.”

“Ayolah..” Baekhyun merengek saat ini, “Apa kau tidak mau tahu sensasinya bagaimana saat minum bersama musuhmu, eoh?”

Minjoo tahu, Baekhyun benar-benar orang yang sangat gila.

“Ayo minum bersamaku, Han Minjoo!” Baekhyun memajukan wajahnya persis di depan wajah Minjoo sambil tersenyum.

“Okay, okay!?”

Minjoo terdiam dengan nafasnya yang tertahan. Bayang-bayang wajah Baekhyun saat dia kecil kembali terbenak dipikirannya. Ini seperti nyata, ia seperti melihat Baekhyun yang ia kenal saat kecil dahulu kini persis di hadapannya. Persis dengan senyuman itu.

Minjoo menghembuskan nafasnya perlahan seraya kembali pada realitanya,

“Kau gila, Byun Baekhyun.”

.

Semerbak wangi alkohol telah mengumbar di seluruh ruang tengah apartemen Han Minjoo. Botol-botol berwarna hijau itu berserakan di atas meja. Ada satu.. ah dua.. hm, tiga botol ternyata yang tergeletak kosong di atas meja.

Sedangkan si pelaku yang membuat botol itu mengenaskan kini tengah meminum botol ke empat mereka di atas lantai dengan menyandarkan punggung mereka pada kaki sofa.

“Baekhyun-ah..” Mata Minjoo tertutup, pipinya merah dan selang sedetik ia selalu mengernyitkan keningnya saat alkohol itu melewati tenggorokannya.

“Kau ingat tidak saat aku pernah memasukkan mentimun ke makananmu?” Minjoo tertawa renyah, seperti orang gila sebenarnya. “Kau langsung mual seharian kan waktu itu!? Hahaha..”

Baekhyun yang duduk di sebelah Minjoo berdecak sambil terkekeh pelan. Dia tidak semabuk separah Minjoo saat itu, maka ia masih bisa membuka matanya.

“Eoh..” dia menatap di depannya dengan kosong, pikirannya terbang ke masa itu. “Gara-gara kau aku tidak masuk sekolah selama 3 hari karena selalu mual-mual.”

“Hahaha…” Minjoo tertawa cukup keras, “Kau tahu, tiga hari itu sama seperti waktu enam tahun kemarin ini. Aku benar-benar senang saat kau tidak ada.” Ucapnya dengan gamblang.

Baekhyun terdiam sambil ia menatap kosong di hadapannya.

“Ya. Kenapa kau hanya ingat hal-hal dimana kita bermusuhan, eoh?”

Minjoo terdiam sambil membuka kupingnya, alkohol itu benar-benar sudah mencuri setengah kesadarannya jadi dia mencoba untuk memfokuskan kupingnya setengah mati.

“Kau.. tidak ingat dengan hal-hal yang kita lakukan sebelum kita bermusuhan..?”

Minjoo jelas mendengar perkataan Baekhyun. Dia terdiam, berpikir dan memorinya terbuka lagi pada kenangan mereka. Kenangan dimana mereka benar-benar sepasang gadis dan bocah kecil yang hanya menyukai bermain.

Kenangan kecil mereka yang setiap harinya selalu dihabiskan bersama.

“Aku ingat, Baek.” Minjoo mengucapkannya dan itu membuat Baekhyun menolehkan kepalanya pada Minjoo. Minjoo sadar akan hal itu tapi dia membiarkannya.

“Aku ingat dimana kau selalu datang ke rumahku, mengajakku bermain sepeda.. ataupun bermain tali. Aku ingat kau akan menginap di rumahku jika kau tahu cuaca akan hujan lalu kita akan membuat tenda di dalam kamarku untuk berdoa agar tidak ada petir datang..” Minjoo menjedakan perkataannya selama beberapa detik. Baekhyun yang di sebelahnya sedari tadi mendengarkan penuturan kata Minjoo sambil terdiam memikirkan semua kenangan itu.

“Aku juga ingat bahwa kau pernah memintaku untuk.. menikahimu karena kau ingin kita bermain bersama untuk selamanya.”

Baekhyun terdiam kaku. Melihat pandangan di hadapannya dengan kosong.

“Aku ingat semua hal itu dan aku mau mengucapkan..” Minjoo berdeham sebentar, “Terima kasih. Terima kasih karena telah membuatku cukup bahagia di masa kecilku.”

Mereka berdua terdiam. Minjoo terdiam dan ia merasa ia sangat gila saat itu. Apa yang baru dikatakannya? Ia mengucapkan terima kasih pada Baekhyun? Ia baru sadar jika alkohol benar-benar bisa membuat otak seseorang menjadi gila.

Tapi.. di sisi lain, saat ia bilang ia berterimakasih pada Baekhyun.. ia merasa lega mengatakan itu. Ia merasa bahwa yang ia katakan bukanlah hal yang gila. Itu sesuatu yang tulus keluar dari hati Minjoo.

Melupakan rasa malunya, Minjoo pun menolehkan wajahnya pada Baekhyun sambil menatap pria itu dengan senyum gummynya.

“Dan sekarang kau harus bisa membuat kakakku bahagia, mengerti!?” ucapnya pada Baekhyun yang masih menatap pada entah apa di hadapannya. Minjoo sempat bertanya apa yang Baekhyun pikirkan atau apa yang Baekhyun lihat saat itu hanya saja Minjoo membiarkannya dan kembali menghadap depan. Ia meneguk habis botol ke empat mereka.

“Aku rasa.. kau pasti bisa membuat kakakku bahagia.” Ucap Minjoo, “Hyojoo noona lebih cantik dan juga lebih pantas untukmu..” ucapnya sambil menutup matanya, kini kesadaran itu benar-benar tinggal tiga perempat lagi.

“Dasar gadis sok-tahu.” Ucap Baekhyun dengan dingin namun Minjoo tidak peduli lagi dengan perkataan Baekhyun. Saat itu, tiba-tiba suhu di sekitarnya memanas. Lebih tepatnya alkohol yang telah ia minum terlalu banyak di dalam perutnya dan membuat suhu tubuh Minjoo menaik.

“Panas!” keluh Minjoo lalu ia membuka dua kancing teratas dari kemejanya. Baekhyun yang disebelahnya melihat itu dan langsung membulatkan matanya.

“Ya! Apa yang kau lakukan!?” teriak Baekhyun membentak. Minjoo menolehkan wajahnya dengan matanya yang begitu sayu namun alisnya terangkat, “Kenapa? Aku hanya membuka kancing kemejaku karena ini begitu panas. Kenapa kau harus membentak..”

“Di hadapanku?!”

Minjoo menghembuskan nafasnya. “Memangnya kenapa? Kau pun tidak pernah menganggapku seorang wanita, bukan? Kau aneh, Baekhyun-ah..” lalu  Minjoo menatap botol yang di hadapannya. Ia mencari botol alkohol lagi karena meskipun dia sudah lelah untuk minum, dia masih membutuhkan sensasi dari alkohol itu.

“Kata siapa?”

Minjoo tidak mendengar perkataan Baekhyun dan masih mencari-cari botol alkohol di hadapannya.

“Kata siapa aku.. tidak menganggapmu sebagai wanita?”

Minjoo menemukan botol alkohol itu, lalu ia tersenyum sambil mengambilnya.

“Kau tadi ngomong apa, Baek?” tanya Minjoo sambil berusaha membuka botol alkoholnya. Karena Minjoo telah kehilangan kewarasannya, gadis itu membuka tutup botolnya menggunakan tangan.

“Aish! Kenapa susah sekali sih..”

Saat itu Minjoo masih merasakan bahwa ia tengah membuka botolnya namun detik selanjutnya Minjoo merasakan jika sebuah tangan memegang lehernya, membuat kepalanya menolehkan tatapannya ke arah samping kirinya. Minjoo juga merasakan saat itu seseorang telah bernafas begitu dekat dengan hidungnya, hingga Minjoo bisa merasakan bau alkohol yang begitu nyengat di ruang udaranya tapi ada satu hal yang membuatnya bertanya-tanya.

Apa ini?

Kenapa ini terasa sangat manis di bibir Minjoo?

Kenapa Minjoo merasakan bahwa ada sebuah kembang api yang meledak di dalam perutnya?

Kenapa ini terasa hangat di bibirnya?

Kenapa ini terasa… sangat memabukkan?

Lima detik Minjoo menahan nafasnya karena seseorang menahan bibirnya, Minjoo kini mencoba untuk membuka matanya yang sangat sayu.

“Kau itu gadis yang sok-tahu, Han Minjoo.”

Minjoo merasakan jika tangan entah siapa itu mengelus pipinya dengan lembut. Sumpah, itu benar-benar hangat.

“Kau.. tidak mengerti dengan perasaanku.”

Dan detik selanjutnya Minjoo merasakan bahwa bibirnya kembali ditahan oleh seseorang. Ditahan dengan benda yang begitu lembut dan juga manis di satu waktu. Membuat Minjoo merasakan bahwa dia benar-benar sedang terbang ke langit teratasnya.

Minjoo gila, sungguh. Saat benda itu menggelitik indera pengecapnya, saat sebuah tangan kembali ia rasakan di kulitnya namun berpindah tempat menjadi pinggangnya, saat seseorang mendorong tubuhnya semakin dalam menabrak kaki sofa, Minjoo benar-benar gila sungguh. Di dalam sana, tepat di balik rusuk dadanya Minjoo merasakan bahwa jantung itu menghangat. Sangat hangat, sungguh.

Entahlah, Minjoo benar-benar tidak ingat dengan semua yang apa Baekhyun katakan sebelumnya. Minjoo juga tidak tahu siapa yang menaruh benda tipis itu di bibirnya, yang mengangkat tubuh Minjoo menuju kasurnya dan membuka seluruh kemeja Minjoo. Menyentuh setiap inci kulit Minjoo dengan benda tipis itu, membuat Minjoo benar-benar mabuk oleh hormonnya yang membara. Minjoo lupa sungguh, tapi satu hal yang begitu membekas di hati Minjoo.

Minjoo tahu.. ada perasaan yang tersembunyi di dalam yang kini perlahan muncul lagi ke permukaan hatinya.

 ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ 

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ 

 

“Kalian sadar bahwa apa yang kalian lakukan itu salah, eoh!?”

Hyojoo berteriak pada Minjoo dan Baekhyun yang duduk di hadapannya.

Demi Tuhan, saat itu Minjoo benar-benar merutuki dirinya yang bodoh dan sangat bodoh. Bagaimana bisa ia lupa semua dengan apa yang terjadi tadi malam, saat ia menghabiskan malamnya untuk minum bersama Baekhyun, sehingga ia tidak ingat mengapa ia bisa terbangun di atas ranjang tanpa busana dengan Baekhyun. Ia juga merutuki kebodohannya yang mau saja menerima tawaran Baekhyun untuk minum dengannya.

“Kalau saja dia tidak mengajakku untuk minum..” gumamnya sambil menatap Baekhyun dengan amarah. Baekhyun menyadarinya dan dia menolehkan wajahnya pada Minjoo sambil bertanya tanpa suara ‘Apa?’. Dan itu sukses membuat Minjoo semakin ingin membunuh Baekhyun ditempat saat itu juga.

“Dengar ya, Byun Baekhyun. Kau itu calon suamiku tapi kau meniduri adikku!” teriak Hyojoo berdiri di hadapan mereka. “Kau melukai harga diriku sebagai kakak, kau tahu!?”

Baekhyun menunduk lalu ia berkata, “Maaf, noona.”

“Ini tidak bisa.. aku tidak bisa menikah denganmu, Baekhyun.” Ucap Hyojoo membuat Minjoo menengadahkan wajahnya sempurna pada Hyojoo.

“Eonnie.. lalu bagaimana dengan eomma dan appa nanti?”

“Kalian yang harus bertanggung jawab.”

Minjoo tahu, apa yang dikatakan Hyojoo selanjutnya akan menghancurkan hidupnya kembali seperti hari sebelumnya.

“Kalian harus menikah, Han Minjoo.. Byun Baekhyun.”

❣❣❣To Be Continued❣❣❣

Halo ^^ akhirnya selesai juga aku nulis ini *fiuh* yeaay *claps*. It needs 5 days to finish this and ugh the struggle is real :”) aku benar-benar kehilangan kemampuanku untuk menulis karena udah berbulan-bulan ga nulis:”) maaf ya kalau ini tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan.
Just want to tell you guys this sih sebenarnya, aku mungkin ngga bisa update asap seperti dahulu kala—range aku tuh seminggu sekali bfr—but maybe for now it will takes 10 days or even 2 weeks more. Untuk kalian yang menunggu karya ini, maaf banget aku bikin kalian nunggu lama ya karena jadwalku belum pulih seperti dahulu kala *sobs* for those who don’t.. yeay you got that victory to don’t care about my fics *sobs* lol joke. Okay gitu aja, kalau kalian banyak tanya like “Minjoo Baekhyun pernah pacaran?” “Mereka udah saling suka ya?” “Mereka bertengkar karena apa sih?” for god sake, im not going to tell you because I want you to be wandering around while not-patiently wait this fics *satan’s laugh* OK BYE THIS IS TOO LONG.
p.s: ah! aku mau kasih tau juga aku udah gapake bbm ya, udah ga kepake soalnya:” kalau kalian mau nagihin ff ini ke aku, chat aku aja via line tapi ill be so so so late to reply. id lineku: lulalitaas.

156

-Baek’s soon to be wife-

80 responses to “I Married To My Enemy [I] -by ByeonieB

  1. Kyaaaaaaaaaaaaaa baru baca…
    Akhirnya keluar jugaaaa!!!! Kangen baekhyunXminjoo!!
    Ugh aku ketar ketir bacanya.. masa baekhyun sm hyojoo tapi aku tau kalo akhirnya baekhyun bakalan kalap hahaha *satan’slaugh*
    Btw gimana ya perasaan dan ekspresi hyojoo pas mergokin mereka??? Hahaha pasti lucu,, mergokin calon suaminya tidur sm adiknya yah meskipun hyojoo tau kalo merek emg ada hubungan tapi kan tetep *lol
    Ditunggu chap 2 nyaaaaaaaa lama gapapa.. hahahhahaahahha we’ll wait kok ^^

  2. Bagus kok thor ff nya;),, aku suka sama kriteria cast nya apalagi baekhyun nya,, tapi yang membuat aku penasaran itu kenapa baekhyun sana minjoo bisa saling membenci-_-? bukannya waktu kecil mereka berjanji mau menikah;)? masa iya? cuma gara2 masalah baekhyun yang buat pengakuan cinta nya minjoo di papan pengumuman-_-? sepertinya tidak deh…. Cepat di lanjut ya thor;),, udh penasaran banget ini;)

  3. omegadhh,,, kak^^ aki duka banget ff nyata ceritanya unik,, menarik pokoknya lucu,, suka suka suka >•< aku padamu kak^^*kecupjauh(?)*
    oke abaikan-___- ihh baekhyun ,minjoo apa yang kalian lakukan di belakangku(?) hah? :v
    wahh penasaran sama chapter selanjutnya ,,
    ditunngu next chapnya kak^^
    jan lama-lama yaa apdet(?) nya!! #maksa
    semangat^^

  4. Aaarrghhhh
    nice kak ! ^^

    penasaran banget sama masa lalu mereka… huh.. banget..
    dan penasaran juga nih kelanjutannya…

    nice nice nice
    semangat semangat semangat terus ya kak…
    bakal ditunggu kelanjutannya..
    fighting! ^^

  5. akhirnya di post juga chapter 1 nya…
    hmm Baekhyun ini punya perasaan khusus kan sama Minjoo??
    Next ditunggu chapter selanjutnya. Fighting✊

  6. Setelah berbulan bulan hiatus dari dunia per ff an indo hahahahahahah aku lagi sering nangkring di asianfanfic eh iseng liat notif ada ff ka byeonieb yang manggil hatiku bgt buat baca.. apalagi judulnya yg udah menjurus ke genre favorite aaaarrgghh ditambah alur cerita ka byeonieb yg selalu keren !!!! Prolog and chap 1 nya bner bner keren parah.. gasabar nunggu next chap nya… fighting ka!!!!!!!! ❤❤❤❤❤❤

  7. Sgala sesuatu yg sdah d rencanakan emank nga slalu sesuai dngan knyataan,,
    Smangat buat baek n minjo untuk mjalani knyataan’y,,

  8. Aku rasa baekhyun msh ad rasa sma minjoo,, dan ku yakin mreka dikerjai wkwk kok bisa mreka satu ranjang?,,dtnggu chap selanjutnya ^^

  9. Pingback: I Married To My Enemy [II] -by ByeonieB | SAY KOREAN FANFICTION·

  10. Kayaknya baekhyun tahu kalo minjoo nggak kuat minum dan dia sengaja aja ngajak minjoo minum. Baek kyaknya juga masih suka ke minjoo!! I love this couple

  11. aaah, aku kira HyoJoo bneran bakalan nikah sama Baek kkekke..
    aku ngerasa kalau Baekhyun mempermalukan Minjoo di depan luhan waktu itu karena dia suka sama Minjoo gak sih? Btw Luhan bkalan muncul di cerita juga gak? aku jdi pingin tau masa lalu mereka.. let me know authornim..

  12. Aaaaaa kak Lulaaaa
    Heh? Jadi itu ya yg buat Minjoo benci Baekhyun. Duh, Minjoo peka banyak napa sih? Udah kode hard banget itu. Baekhyun nya juga ga terus terang! Humm, susah ya jadi Baekhyun. Dibenci orang yg di cintainya. Yg sabar, toh itu juga jadi Minjoo yg menikah sama kamu, Baek! Kwkwkw, awesome lah. Si Baekhyun juga berani bener ‘ehm’ sama Minjoo. Dasar!

    Hey, Kak! Ana here! Aku bukan Reader baru loh ya, aku ganti uname, udah ga srek sama yg nemenin aku 2 tahun terakhir ini kwkwkw

    Makasih sudah update.
    Dikanasly (:

  13. Suka banget dengan ff yang baru ini
    baru part 1 aja udah seru belum lg ke part2 selanjutnya.
    penasaran bagaimana nanti kehidupan baekki dan minjo nya
    Di tunggu part selanjutnya….

  14. Uwaaaah kalo ceritanya kek gini siapa sih yg gak mau nungguin eon, mau banget lah, asal jangan di berhentiin di tengah jalan ya eon, pleaseu. Rasanya pas udah dapet cerita yg disuka banget tapi berhenti ditengah-tengah tuh nyesek banget #alay mian 😀
    Oke makasih eon udah bikin cerita yg bagus kayak gini ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s