#7 Scary Date [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla

7

 

ohnajla | romance, school life, songfic, drama, friendship, family, brothership, teen | G | chaptered |

All member BTS

Oh Sena (OC)

Member EXO (cameo)

“One day we’re talking, the next it’s like we’re total strangers”

Blood Sweat & Tears concept

#1 Intro: Girl Meets Evil

#2 Begin

#3 Lie

#4 Stigma

#5 First Love

#6 Reflection

#7 Scary Date

Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa, hukuman untuk Sena dan Yoongi akhirnya berakhir. Mereka berdua sudah bisa kembali ke kamar masing-masing. Sudah tidak ada lagi ketentuan harus berangkat pulang berdua, sekarang mereka bisa berangkat dan pulang sekolah dengan bus mewah Baekhyun bersama yang lain. Tapi semua itu dengan syarat, mereka tidak boleh membuat keributan lagi.

Syarat yang sangat berat.

Pada kenyataannya mereka hanya menghindari satu sama lain. Karena dengan begitu mereka tidak akan keceplosan mengumpat satu sama lain. Bertingkah seperti ini ternyata sangat melelahkan.

Satu-satunya yang bisa membuat mereka saling bicara adalah saat jadwal klub musik klasik. Hari ini, di studio piano, Yoongi, Sena dan empat siswa lain berkumpul untuk melangsungkan tes pertama. Sebelum tes dimulai, Yoongi mengambil kesempatan untuk unjuk diri. Dia memainkan Moonlight Sonata, dengan sedikit modifikasi yang dibuatnya sendiri. Tepuk tangan mengiringinya saat permainan itu berakhir, hanya Sena yang tidak memberinya applause.

Satu persatu siswa memamerkan lagu-lagu mereka. Semua sangat berbakat. Yoongi sampai tidak segan untuk memberi mereka applause. Hingga akhirnya giliran Sena pun tiba. Pandangannya sempat bertabrakan dengan Yoongi. Seperti biasa, tatapan pria itu selalu datar.

“Apa nama lagumu?” tanya Yoongi sesaat setelah Sena duduk.

Blood, Sweat and Tears.”

Dahi Yoongi berkerut. Nama yang aneh. “Baiklah, silahkan dimulai.”

Sena menarik napas dalam-dalam, lalu menghelanya perlahan. Jari-jarinya yang mungil mengelus tuts piano itu dan permainan pun dimulai. Alunannya yang indah dan lembut memanjakan semua telinga di sana. Sena tersenyum, sangat menikmati permainannya. Di tengah permainan, ia pun menoleh ke tempat di mana Yoongi berada. Menyeringai. Membuat Yoongi reflek membuang pandangan.

Permainan itu berakhir dengan tepuk tangan yang keras.

Setelah Sena kembali ke tempat duduk, Yoongi pun bangkit, menenteng sebuah buku nilai. “Permainan kalian semua bagus, sesuai dengan harapanku. Baiklah, karena tidak ada yang perlu dicemaskan lagi, sekarang mari kumulai bimbingannya. Sebenarnya aku tidak perlu banyak bicara. Bermusik itu hanya membutuhkan banyak latihan, bukan teori. Untuk hari ini aku akan memberi kalian tes baru, tes pendengaran. Kalian sudah mendengar permainan Moonlight Sonata-ku barusan. Apakah ada salah satu dari kalian yang masih mengingatnya dan berminat menunjukkannya pada yang lain?”

Sena tanpa pikir panjang langsung mengangkat tangan. Semua perhatian pun tertuju padanya.

“Baiklah, silahkan.” Yoongi kembali duduk ke kursinya, membiarkan Sena memainkan ulang permainan pianonya tadi. Sebenarnya Yoongi tidak yakin kalau Sena akan mengulang permainannya dengan sempurna. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mempelajari sebuah permainan piano dengan telinga. Dia sendiri bahkan baru bisa bermain piano tanpa sheet setelah lima tahun berkecimpung dalam dunia itu. Karena menghafal nada itu tidak mudah.

Tapi, di depannya kini, seorang gadis berambut panjang se-siku yang tengah memunggunginya, berhasil memainkan ulang permainan Moonlight Sonata-nya tadi tanpa cela. Benar-benar persis. Sempurna.

Gadis itu kembali ke tempat duduknya. Tersenyum tipis saat dipuji oleh siswa lain.

“Permainan yang bagus,” ujarnya kemudian, sambil bertepuk tangan setengah hati. “Berapa lama kau belajar piano?”

Dahi gadis itu mengerut. “Aku tidak pernah belajar.”

Semua yang ada di sana membelalak.

“Kau serius? Yaa, tes pendengaran itu adalah tes yang paling sulit. Tidak mungkin kau bisa mengulangnya tanpa belajar lama,” sahut si gadis berambut pendek, bernama Park Sooyoung. Ucapannya itu diamini oleh Yoongi dalam hati.

“Aku benar-benar tidak pernah belajar. Aku hanya sering mendengar ibuku bermain piano sejak aku masih kecil,” jawab Sena sedikit ngotot.

“Ah tidak mungkin. Kau pasti hanya mengada-ada.”

“Aku tidak mengada-ada. Aku serius.”

Sooyoung membuang pandangan sambil melambaikan tangan. Dia masih tidak percaya.

Sena mulai jengkel. Ia pun hanya menggendikkan bahu dan memutuskan untuk tidak bicara lagi dengan Sooyoung. Saat menoleh ke depan, ekspresi wajah Yoongi juga tidak ada bedanya dengan ekspresi Sooyoung. Cih! Kenapa orang-orang ini sangat tidak memercayainya? Haruskah dia menyeret ayah dan ibunya ke sini untuk memberikan testimoni pada mereka?

“Kalau kalian tidak percaya, ya sudah! Anggap saja tadi aku hanya bercanda, puas?!”

Tanpa menunggu respon mereka, Sena lekas angkat kaki sambil membawa tasnya. Dia sudah muak berada di sana. Untuk apa berlama-lama dengan orang-orang yang tidak mau memercayainya? Lebih baik dia pergi menyusul yang lain yang sudah lebih dulu berada di dalam bus.

“Oh? Sudah selesai?” tanya Jungkook yang ironisnya hanya diabaikan oleh Sena. Gadis itu hanya melewatinya. Sekilas dia bisa lihat tampang masam di wajah cantik itu.

“Eh? Jadwal klubnya sudah selesai?”Seokjin tiba-tiba muncul, bertanya pada Jungkook setelah melihat siluet Sena.

Jungkook menoleh, lantas menggendikkan bahu. “Aku hanya diberi kacang.”

“Pasti ada masalah lagi dengan Yoongi. Si tengik satu itu,” gumam Seokjin sambil berlalu, tak lupa menentengmoccachino-nya.

Namjoon sedang mencuci tangannya di wastafel saat Sena melewatinya sambil mengomel sendiri. Dia menoleh, menatap kepergian punggung sempit itu dengan kebingungan. Dilihatnya Hoseok dari arah lain yang hanya dilewati begitu saja oleh Sena di saat pria itu menyapanya.

“Tumben dia mengacuhkanku,” ujar Hoseok sembari menoleh pada Namjoon. “Dia sedang marah?”

Namjoon menggendikkan bahu. Mematikan kran. “Mungkin bertengkar lagi dengan Yoongi.”

“Astaga, mereka ini.”

Bruk!

Taehyung dan Jimin yang saat itu sedang bersantai menonton TV di atas ranjang terkejut saat Sena tiba-tiba datang membanting tas. Tanpa sadar dua pria itu saling berpelukan. Membelalak takut pada tingkah gadis itu.

“Min Yoongi sialan!!! Dasar pendek! Lelet! Jelek! Menyebalkan! Mati saja kau, Min Yoongi!!!!”

Dada Sena naik turun. Lalu ia pun menoleh. Mendadak melotot.

“K-kalian … sedang apa?”

Taehyung dan Jimin menoleh satu sama lain. Mengerjap-ngerjap sebentar kemudian….

“HIYAAA!! Menyingkir kau, sialan!”

Bruk.

“Akh….” Taehyung mengelus pantatnya yang barusan mendarat keras di lantai bus. Sialan bernama Park Jimin itu, beraninya….

Sena langsung membuang pandangan. “Tenang saja, aku tidak lihat apa pun.”

Yaa, yaa, ini tidak seperti yang kau pikirkan, oke?” sahut Taehyung cepat secepat dia berdiri.

Sena berdehem. “Tapi sepertinya aku mengganggu kalian.”

Yaa!!” teriak Taehyung dan Jimin hampir bersamaan.

Jimin buru-buru turun dari ranjang, menghampiri Sena. “Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Barusan itu hanya gerakan reflek, sungguh. Aku adalah pria normal, oke? Aku masih menyukai wanita.”

“Ya, dia benar. Barusan itu hanya kesalahpahaman.”

Sena pun memperhatikan mereka bergantian. Teringat lagi apa yang dilihatnya barusan. Oh astaga, kenapa dia malah makin curiga?

“Serius?”

Dua pria itu mengangguk tegas.

“Oke,” balasnya singkat.

Mereka serentak menghela napas.

“Kau tiba-tiba datang dan membuat keributan, apa mungkin kau dan Yoongi hyung bertengkar lagi?” tanya Taehyung sambil duduk di tepi ranjang.

Sena menghampirinya, mengambil posisi di sebelahnya. “Yah begitulah. Hyung kalian itu menyebalkan sekali.”

“Untung saja samchon tidak ada di sini. Kalau dia mendengarnya, kalian pasti akan dihukum lagi,” sahut Jimin, ikut duduk di sebelah Sena. Mengapit gadis itu diantaranya dengan Taehyung.

Sena mengerucutkan bibir. Iya juga, untung Baekhyun sedang ada urusan ke Jerman selama dua minggu. Jadi dia tidak perlu cemas kalau kelepasan mengumpat lagi.

“Kali ini kenapa?”

Sena menoleh, menatap Taehyung lekat-lekat. Ah … pria ini punya visual yang sangat sempurna. Membuatnya selalu berdebar-debar tiap kali melihatnya. Mata itu, hidung itu, bibir itu … astaga … detak jantungnya makin cepat saja.

“Sial.”

“Eh?”

Buru-buru Sena membungkam mulutnya. “Ma-maaf.”

“Sepertinya kau sedang tidak mau membicarakannya. Ya sudah, aku dan Taehyung akan keluar. Kau tidurlah.”

Jimin bangkit, sekalian menarik Taehyung untuk bangkit juga. Setelah menyerukan ‘jalja’, ia pun menyeret Taehyung untuk keluar dari sana. Membiarkan Sena mengumpat dirinya sendiri karena kecerobohannya barusan.

Karena kejadian waktu itu, setiap kali bertemu atau berpapasan dengan Yoongi, mood Sena selalu dalam keadaan buruk. Dia tidak mau menatap pria itu, dan selalu menghindar tiap kali pria itu akan bicara. Kebenciannya sudah ada di ubun-ubun. Hanya takdir yang bisa membuatnya memaafkan pria itu.

Dan mungkin saat inilah takdir itu datang.

Hari minggu. Sena yang baru saja keluar dari kamar mandi sehabis mencuci rambut, tiba-tiba ditarik paksa dan dikunci di sebuah ruangan. Kamar Min Yoongi. Ya, dia ditarik dan dikunci di sini. Oleh dan bersama si pemilik kamar. Matanya memicing tak suka.

Yaa, apa maksudmu?”

Yoongi berbalik, menatapnya datar seperti biasa. “Kau sengaja menghindariku?”

“Kalau iya kenapa?” tanya Sena balik. Memegangi handuk yang hampir jatuh dari kepalanya.

Wae? Apa aku sudah membuat kesalahan padamu?”

Dahi Sena mengerut. “Ini bukan seperti dirimu, Min Yoongi. Kenapa kau tiba-tiba mempermasalahkannya?”

“Karena kau sudah kelewatan!”

“Kelewatan? Hah. Baru kali ini kau seperti itu. Hei, dengar ya. Kau dan aku tidak pernah punya hubungan sedekat itu. Jadi apa masalahnya kalau aku menghindarimu?”

Yoongi menunduk sebentar, mengatur napas. “Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Sena bergidik ngeri. Entah kenapa tiba-tiba dia teringat adegan di drama yang barusan dilihatnya kemarin malam. “Bi-bi-bicara apa? K-kau tidak sedang mau menyatakan cinta ‘kan?”

“Tentu saja tidak!”

Gadis itu menghela napas. “Baguslah.” Karena aku tidak bisa menerimamu. Hatiku sudah tertambat pada seseorang.

Yoongi mengusap wajahnya yang pias. “Begini, ada seseorang yang akan bertemu denganku nanti siang. Dia orang yang sangat ingin kuhindari, tapi aku tidak bisa karena dia sudah tahu kalau aku tinggal di sini. Bisakah kau membantuku? Sekali ini saja.”

“Memangnya siapa orang itu? Dan kenapa kau minta bantuanku? Bukankah kau bisa meminta bantuan pada yang lain. Jimin, Taehyung, Jungkook.”

Pria itu tampak gelisah. “Mereka tidak akan bisa membantu. Dia … dia … dia orang yang pernah menyukaiku dulu. Dia memaksa bertemu denganku hari ini.”

“Lalu?”

“Aku ingin kau datang bersamaku. Berpura-pura menjadi kekasihku.”

“Apa?!! Kau gila?!”

“Mau bagaimana lagi?! Dia datang untuk menagih janji yang bahkan tidak pernah kukatakan sama sekali! Kalau aku bisa menghindarinya, sudah pasti aku tidak akan melakukan hal gila ini!”

Sena menatapnya tak percaya. “Memangnya janji apa yang kau maksud itu?”

“Menikahinya saat dia sudah berusia 20 tahun,” jawabnya sambil membuang pandangan.

Sena membungkam mulutnya yang terbuka lebar. “Me-menikah?”

Yoongi mengacak rambutnya kesal. “Sungguh, itu bukan aku yang membuat janjinya. Aku bahkan tidak bilang setuju. Argh! Ini membuatku gila.”

“Sebentar. Maksudmu, dia lebih tua darimu? Dia sudah 20 tahun?!”

Yoongi mengangguk lemah. “Ini salah ibuku. Aku masuk di sekolah menengah yang ada di Gwangju, dan terpaksa tinggal di rumah keluarganya. Sial, aku tidak percaya kalau dia menyukaiku sampai seperti itu. Kau tahu, dia itu tidak normal. Aku selalu dianggap sebagai masa depannya, apa itu maksudnya?”

“Tapi dengan aku berpura-pura menjadi kekasihmu, bukankah itu akan sia-sia saja? Kalau seandainya dia tahu bagaimana? Aku juga yang akan kena getahnya.”

“Aku tahu. Tapi setidaknya, ikutlah denganku untuk hari ini saja. Urusan itu biar nanti aku yang pikirkan. Yang pasti, kau harus ikut denganku hari ini.”

Sena menatapnya tak suka. Cih, belum juga bilang setuju, memaksa sekali. “Apa yang akan kudapat kalau aku membantumu?”

“Aku akan menjadi budakmu selama seminggu,” jawab pria itu cepat. Secepat Sena membelalakkan mata.

“Benarkah? Bagaimana kalau sebulan?”

Kedua alis pria itu memusat di tengah. “Kau sedang menawar?”

Sena mengangguk. “Aku akan berpura-pura menjadi kekasihmu, kalau perlu sampai seminggu. Tapi dengan syarat, kau harus menjadi babu-ku selama sebulan? Bagaimana? Ini sudah termasuk adil.”

“Kurasa aku tidak akan membutuhkanmu sampai minggu depan. Minggu besok aku akan pergi ke Busan.”

Sena menggendikkan bahu tak peduli. “Bisa saja gadis itu akan mengikutimu ke sana. Kita tidak tahu dengan apa yang akan terjadi di masa depan, bukan?”

Yoongi pun menghela napas. “Baiklah. Deal. Tapi ingat, aku tidak akan melakukan itu kalau kau tidak memainkan peranmu dengan baik.”

“Oke. Lihat saja nanti. Kau pasti akan terkejut melihat aktingku.”

Pria itu akhirnya bisa bernapas lega. Ia pun berbalik, membuka kunci pintu sekaligus pintunya lebar-lebar.

Bruk! Bruk! Bruk!

“Akh! Perutku!!”

“Tanganku! Tanganku terjepit!”

Yoongi menatap mereka horor. “Kalian. Sedang apa di sini?!”

Tiga kurcaci itu buru-buru bangkit. Berbaris menyamping, berdiri selayaknya pendosa.

“Aku tidak dengar apa pun, hyung. Aku hanya ikut-ikutan Jimin,” ujar Jungkook, yang langsung dapat pelototan dari Jimin.

“Ya, aku juga. Dia mengajakku untuk ikut-ikutan menguping pembicaraan kalian dari luar,” balas Taehyung, yang juga dapat pelototan dari Jimin.

Sena pun muncul dari balik punggung Yoongi. Menatap mereka satu persatu sambil menggaruk kepala. “Ini bukan pembicaraan yang serius. Tenang saja. Dia tidak sedang menyatakan cinta padaku.”

Yoongi langsung menoleh. Melotot seperti yang dilakukan Jimin pada Jungkook dan Taehyung. “Kembalilah ke kamarmu.”

“Baik,” jawab tiga kurcaci itu serempak sambil berbalik.

“Bukan kalian!”

Spontan mereka berbalik lagi. Sena menutup mulutnya, menahan tawa.

“Semoga beruntung kawan-kawan sekalian,” bisiknya sebelum berlari riang keluar dari kamar itu. Menyisakan tiga kurcaci yang terpaksa harus mendengar petuah panjang lebar dari Min Yoongi.

Pukul 11, Sena keluar dari kamarnya lengkap dengan setelan kasual musim semi yang cantik. Ia pun lekas turun ke lantai dasar, menemui Yoongi yang sudah menunggu di sana dengan pakaian nyaris serba hitam. Pandangan mereka saling bertemu. Ekspresi kecut langsung terpampang di wajah Sena. Meskipun hari ini dia setuju untuk membantunya, tapi dia sama sekali belum memaafkan pria itu.

“Aku tahu aku cantik. Jangan menatapku seperti itu,” ucapnya sambil membenahi letak tali tasnya.

Yoongi hanya menyeringai, mengeratkan topi, lantas berdiri. “Akan kupastikan kau lebih terkejut melihat penampilan gadis tua itu nanti. Kaja.

Sena membuntuti kemana pria itu pergi sambil meniru cara bicara Yoongi tadi. Ia berakting sekolah ingin memukul, menendang, bahkan mengejeknya dari belakang. Mereka akan pergi ke lokasi menggunakan bus umum.

10 menit perjalanan, sampailah mereka di Café XXX. Café itu tampak ramai, mungkin karena hari ini hari libur. Sena mempercepat langkahnya ketika Yoongi secara tiba-tiba menarik tangannya. Menyuruhnya untuk menggandengnya selayaknya pasangan kekasih. Yoongi menuntunnya ke sebuah meja yang sudah ditempati oleh seorang gadis berambut kecokelatan. Gadis itu mengangkat kepalanya saat melihat mereka datang.

Senyumnya terpampang untuk Yoongi, tapi tidak untuk Sena. “Siapa kau?”

Yoongi langsung duduk tanpa menunggu dipersilahkan. Dia menarik Sena untuk ikut duduk di sebelahnya.

Sena tersenyum lebar, membungkuk singkat. “Aku Oh Sena.”

Gadis itu menatap mereka berdua dengan wajah kecut. “Siapa yang kau bawa ini, Min Yoongi?”

Yoongi melepas topinya, meletakkannya di atas meja. “Bukankah dia sudah memperkenalkan diri?”

BRAK!

“Aku tidak mau tahu siapa namanya! Aku tanya apa hubungan kalian?!!”

Sena bergidik ngeri. Sial, gadis itu mengerikan sekali. Tanpa sadar dia mendekatkan dirinya pada Yoongi untuk meminta perlindungan. Yoongi sendiri sepertinya tidak terlalu terkejut melihat tingkah gadis itu. Ekspresi datarnya sama sekali tidak berubah.

“Dia kekasihku, wae?”

“Kekasih? Kekasih katamu?”

Pria itu mengangguk syahdu. “Bukankah kemarin sudah kubilang, hari ini aku sedang ingin pergi kencan dengannya. Tapi kau tidak percaya dan tetap memaksaku untuk datang.”

Wajah gadis cantik itu memerah. “Bagaimana bisa kau tetap memperlihatkan kekasihmu saat kau harus menepati janjimu untuk menikahiku? Hari ini ulangtahunku, Min Yoongi! Kau merusaknya!”

“Aku tidak pernah membuat janji seperti itu padamu,” seru Yoongi cepat. “Kapan aku pernah bersumpah melakukannya?!”

Gadis itu menatapnya tak percaya. “Yaa, kau … apa kau lupa? Jelas-jelas kau menyetujuinya. Kau tidak bisa berbohong padaku, Min Yoongi. Aku masih menyimpan kertas itu!”

Yoongi sepertinya mulai frustasi. “Itu bukan aku, sudah kubilang itu bukan aku! Yang menulisnya adalah temanku! Orang yang pernah kau tolak cintanya!”

Tapi gadis itu sepertinya masih bersikeras. “Aku tahu kalau itu tulisanmu. Kau pikir aku bodoh, huh?”

Yoongi kembali memakai topinya, lantas bangkit. “Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi yang pasti, aku tidak pernah sekalipun membuat janji seperti itu. Mau kau percaya atau tidak, itu urusanmu.” Ia pun meraih tangan Sena, lalu mengajaknya pergi dari sana.

“Kau tidak bisa berbohong di depanku, Min Yoongi! Aku tahu dia bukan kekasihmu yang sebenarnya!”

Yoongi sama sekali tidak berhenti ataupun menoleh. Mereka terus berjalan hingga akhirnya sampai di halte sebelumnya. Ia pun melepaskan genggamannya sesaat setelah mereka duduk.

“Astaga, gadis itu mengerikan sekali,” gumam Sena sambil memeluk pine coat-nya. Dia masih teringat bagaimana tampang gadis itu ketika berteriak di depannya.

Yoongi memutar topinya. “Sepertinya dia tahu kalau kita hanya membohonginya.”

Sena pun menoleh. “Sebentar, tadi pagi kau bilang dia aneh, bukan? Tapi, menurutku dia tidak seaneh yang kau katakan. Selain emosinya, tidak ada hal lain yang aneh pada dirinya.”

“Kau hanya tidak tahu.”

“Kalau begitu beri tahu aku,” seru Sena gemas.

Pria itu mengusap wajahnya yang pias. Mengingat kembali kejadian lima tahun lalu, ketika dia datang ke rumah gadis itu untuk pertama kalinya.

“Nah, ini dia anakku yang akan tinggal di rumahmu. Min Yoongi. Beri salam pada Eunjin imo.”

Yoongi membungkuk 90 derajat penuh, lantas tersenyum. “Annyeonghaseyo.”

“Wah … senyumnya manis sekali. Ah ya, akan kukenalkan pada putriku. Dia ini agak sedikit tertutup, tapi sebenarnya dia baik. Mungkin kau harus memanggilnya nuna mulai sekarang. Namanya Kim Yoo Jin.”

Annyeong,” sapa gadis itu dingin. Yoongi membalasnya dengan senyum tipis.

Beberapa hari setelah perkenalan itu, hubungan mereka berdua tidak begitu dekat. Yoojin lebih banyak mengunci diri di kamar. Yoongi pun juga tidak begitu peduli padanya. Dia sibuk sendiri dengan dunianya, dan lebih banyak berkutat di ruang keluarga rumah itu untuk bermain piano.

Tapi suatu hari, Yoongi bertemu Yoojin yang duduk sendirian di gang buntu dengan tubuh berlumuran darah. Ada dua orang pria yang tak sadarkan diri di sekitarnya. Termasuk sebilah pisau dapur yang tergeletak sembarangan. Gadis itu tidak menangis. Hanya menatapnya saat dia datang menghampiri.

“Apa yang terjadi padamu?”

Yoojin memperlihatkan kedua tangannya yang penuh darah. “Aku baru saja membunuh mereka.”

Yoongi membelalak. “K-k-kenapa?”

Gadis itu menoleh, menatap dua mayat itu tanpa emosi. “Karena itu sudah takdir mereka.”

“Ha?! Apa maksudmu?”

Gadis itu kembali menatapnya. Datar. Tapi tidak tahu kenapa, tatapan itu mengerikan sekali. “Aku bisa membaca masa depan seseorang. Kau tahu kenapa aku membunuh mereka? Karena saat aku melihat mereka, aku melihat diriku yang membunuh mereka.”

Yoongi bisa merasakan tubuhnya yang mulai menegang. “Jadi kau bisa membaca masa depanku juga?”

Menggeleng. “Aku tidak bisa membacamu….”

“Yaa! Kenapa kau diam saja?” seru Sena tiba-tiba. Langsung menghancurkan momen flashback-nya.

“Dia bisa membaca masa depan orang lain.”

Sena terdiam sesaat. “Kau sedang bercanda?”

Pria itu menggeleng. “Dia benar-benar bisa membaca masa depan orang lain.”

“Itu berarti dia bisa membaca masa depanku?! Aish! Kenapa kau tidak bilang dari tadi?! Kalau tahu begitu aku akan bertanya padanya tentang siapa suamiku di masa depan! Ah….”

Yoongi menatapnya tak suka. Oh plis, itu bukan hal yang patut dipermasalahkan untuk sekarang. Bisakah gadis ini serius untuk kali ini saja?

“Eh? Tapi kalau dia bisa membaca masa depan orang lain, itu berarti dia juga bisa membaca masa depanmu, ‘kan? Bisa jadi dia tahu kalau kau akan jadi-”

“Tidak! Dia tidak bisa membaca masa depanku,” serunya tiba-tiba.

“Tahu darimana kau?”

Bus berhenti di depan mereka, bertepatan dengan munculnya batang hidung Yoojin di seberang jalan. Tanpa pikir panjang Yoongi langsung menarik Sena untuk naik bus itu.

Yaa! Yaa! Jangan tarik-tarik! Sakit!”

Pria itu baru bisa bernapas lega saat bus mulai merayap, meninggalkan Yoojin yang sempat bertatapan dengannya. Sebenarnya ini bukanlah apa yang harus disyukuri, karena bisa jadi gadis itu berniat mengikuti mereka. Dia tahu benar bagaimana sifat gadis itu.

“Bisakah kau lepaskan tanganku?”

Ia pun reflek menoleh. Melihat ke bawah. Dan melepaskan tangan itu begitu saja. “Maaf.”

“Ini pertama kalinya kau mengucapkan maaf padaku.”

Ia membuang pandangan keluar jendela. Mengabaikan sindiran gadis itu. Sederhananya, dia sedang malas untuk berdebat dengannya.

Atmosfer menjadi tenang untuk beberapa saat. Sena mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Melihat waktu yang nyaris mendekati tengah hari. Sementara pria di sampingnya asyik melamun keluar jendela.

Pemberhentian kedua, mereka berdua memutuskan turun. Kedua-duanya tidak tahu ada di mana mereka sekarang. Tempat yang asing, tapi masih termasuk wilayah Seoul. Ada banyak restoran di belakang mereka. Kebetulan, sekarang sudah masuk waktu makan siang.

Memesan Jjampong di siang hari memang tidak lumrah. Tapi karena uang terbatas, hal yang tidak lumrah pun jadi lumrah-lumrah saja. Sambil menunggu pesanan datang, mereka pun menikmati soda yang dibeli dengan uang masing-masing.

“Siapa nama gadis itu?”

Yoongi meliriknya sekilas. “Kim Yoojin. Wae?

“Dia cantik, seperti model,” balas Sena sembari menyeruput sodanya.

Yoongi tidak merespon. Hanya sibuk menikmati minumannya. Mengutuk ahjumma yang tidak segera datang.

“Sepertinya kau harus menepati janjimu, Min Yoongi. Aku sudah melakukan tugasku dengan baik.”

Pria itu mendecih. “Kau bahkan tidak melakukan apa pun di sana. Apanya yang melakukan tugas dengan baik?”

Sena memicing tak suka. Sudah dia duga, pasti Yoongi akan berusaha menghindar. “Baiklah, kalau begitu aku akan mendatanginya dan bilang padanya kalau aku sungguhan pacar bohonganmu.”

“Aish, kau sedang mengacamku?”

“Kalau iya kenapa? Kau sudah berjanji padaku, kau harus menepatinya.”

“Ya ya ya. Aku akan … ssst! Diam di situ.”

Ekspresi Yoongi yang tiba-tiba berubah seketika membuat Sena mengerjap takut. Kenapa? Ada apa?

Pria itu tiba-tiba memajukan wajahnya. Berulang kali menelan ludah. Sena berjengit ketika pria itu menyentuh pipinya. Tapi ada yang lebih penting dari itu. Pria itu berbisik.

“Jangan menoleh ke belakang. Dia sedang mengawasi kita.”

Sesaat kemudian Yoongi kembali duduk. Tidak seperti biasa, mengulum senyum. “Ada sesuatu di pipimu.”

Pipi Sena mendadak merah. Dia langsung membuang pandangan. Kemana saja, asal bukan pada pria itu. Cih, dia tidak boleh terlena. Bisa saja ‘kan pria itu hanya berakting karena sedang diawasi oleh gadis bernama Yoojin. Lagi pula, kenapa dia harus terbawa perasaan hanya karena satu sentuhan yang bahkan tidak serius?

Ahjumma pemilik restoran datang dengan dua mangkuk Jjampong pesanan mereka. Yoongi membantu wanita paruh baya itu mengeluarkan dua mangkuk tersebut dari nampan. Satu diantaranya dia dorong kehadapan Sena.

“Terima kasih, Ahjumma,” ucap pria itu sambil membungkuk sopan.

Sena baru akan meraih sumpit saat Yoongi tiba-tiba mendahuluinya. Pria itu terlihat sangat romantis. Dia yang membuka bungkus dan memisahkan sumpit jadi dua. Masih dengan senyumnya yang manis, pria itu mengulurkan sumpit itu padanya.

“Makan yang banyak, eo?

Sena menerimanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lebih tepatnya, speechless.

Mereka menyantap pesanan dengan tenang. Sesekali Yoongi mengejutkannya dengan sentuhan-sentuhan kecil. Huft … apakah ini yang dinamakan makan bersama ‘kekasih’?

Yoongi masih menjadi kekasih yang hangat dan protektif sampai mereka kembali berada di dalam bus. Sialnya Yoojin ikut di bus yang sama dengan mereka. Terpaksa mereka terus berakting hingga bus berhenti di halte kompleks perumahan Baekhyun. Keduanya baru bisa bernapas lega setelah sampai di rumah.

“Oh sial!!” pekik Sena sambil membanting tubuh ke sofa ruang tamu. Yoongi juga melakukan hal yang sama tapi di sofa lain.

Yaa, yaa, rok-mu tersingkap,” seru pria itu sambil membuang pandangan.

Sena buru-buru menutup pahanya dengan pine coat. Melotot kesal pada Yoongi.

Tiba-tiba Taehyung menampakkan diri dari ruang tengah. Masih memakai piyama pagi tadi, dengan snack ringan di tangannya. Bibirnya terus sibuk mengunyah snack itu.

“Kalian dari mana saja? Kencan?” tanyanya sambil duduk di sebelah Sena –yang mendadak duduk begitu melihatnya. Ia menawari Sena makanan ringan itu. Tapi Sena hanya menggeleng.

“Hanya urusan bisnis,” balas Yoongi cuek. Melempar topinya ke atas meja.

“Bisnis apa?” tanya Taehyung di sela-sela kunyahannya.

“Bukan urusanmu.” Yoongi segera bangkit, melepas coat-nya, lalu menentengnya sambil berlalu meninggalkan mereka. Taehyung hanya menatap punggungnya tanpa minat, lantas menoleh pada gadis di sampingnya.

“Sudah makan?”

Gadis itu mengangguk. “Kau?”

Taehyung menggeleng. “Tidak ada siapa pun di sini, aku kelaparan.”

“Mau kubuatkan sesuatu?”

Pria itu menggeleng lagi, membuat Sena mengernyit. “Aku sedang ingin makan burger. Mau ikut denganku?”

Deg! Deg! Deg!

Oh ini! Ini … Taehyung sedang mengajaknya pergi makan berdua? Hanya berdua? Benarkah? Jadi apakah ini adalah ajakan kencan yang sebenarnya?

“Hei? Kenapa malah melamun?”

Gadis itu menelan salivanya susah payah. “Kau … mengajakku makan di luar bersama?”

Taehyung mengangguk.

“Berdua?”

Mengangguk lagi.

BOOM! Meledak sudah jantung Sena. Ternyata ini serius, Taehyung benar-benar mengajaknya makan di luar bersama. Hanya berdua. Kyaaa!! Selangkah lebih dekat dengan Taehyung akhirnya terwujud. Ini bagus, ini benar-benar bagus!

“Baiklah. Aku ganti baju dulu.”

“Tidak perlu.”

“Eh?”

Pria itu tersenyum. “Kau terlihat cantik dengan baju itu. Jangan ganti.”

Blush! Astaga … Byun Taehyung….

“O-oke.”

“Tunggu di sini, eo? Aku mandi dulu.”

Pria itu menyerahkan snack yang masih sisa sedikit ke tangannya. Meninggalkannya secepat yang pria itu bisa. Menyisakan dia sendirian di sana, menghabiskan snack itu sambil tersenyum-senyum sendiri.

 

TBC

8 responses to “#7 Scary Date [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla

  1. sena-yoongi ama sena-tae sama” unyu” gtu hehehe aku suka sih dua” nya…. jadi intinya aku ingin happy end oke? Keep writing and hwaiting!~

  2. Yoongi 😍😍😍 suka sama karekternya, kayaknya pacaran jadian2 mereka bakal berkelanjutan dan nanti nyampe pacaran beneran 😆😆

  3. huahhh bnran geri itu cwe y..yoojin mksd y..ehh bnran sena suka ma taehyung y…odhl yg sering ma dia khan yoongi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s