[CHAPTER 5] SALTED WOUND BY HEENA PARK

salted-wound-cover

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD. And thanks to Byun Hyunji for this awesome poster!

.

.

Prev :

TEASER

CHAPTER 1

CHAPTER 2

CHAPTER 3

VIDEO TRAILER

CHAPTER 4

.

Makan malam mereka terasa dingin. Hee-Ra berkali-kali berusaha mencuri pandang keluar ruangan, matanya menelusuk sosok Jong-In yang kelihatan senang bersama Emma di luar sana.

 

Sementara Se-Hun hanya tersenyum kecut mendapati Hee-Ra tak fokus padanya dan malah mencuri pandang melalui pintu ke arah Jong-In.

 

“Ada yang bilang, pergi dengan orang jatuh cinta akan makan hati.” Se-Hun meringis.

 

“Apa maksudmu?”

 

“Mengacalah.” Ia mengikuti arah pandang Hee-Ra. “Bukankah tidak sopan saat kau mengacuhkan orang yang bersamamu dan malah fokus pada orang lain?” Se-Hun berhenti sebentar, ia menyandar ke kursi dan menyilangkan kedua tangannya. “Apa aku harus menyeretmu ke sana dan berkata pada pria itu agar tak kelihatan sangat senang dengan wanita lain karena kekasihnya terbakar cemburu?”

 

Oh shit!

 

Hee-Ra tak akan ragu-ragu memukul Se-Hun kalau ia berani melakukannya. Ya, Hee-Ra mengakui kalau dirinya memang cemburu karena Jong-In kelihatan bahagia di sana, sementara Hee-Ra malah terperangkap bersama pria jahat ini. Dunia kadang memang tak adil, terlebih baginya.

 

Berusaha mengatur emosinya, Hee-Ra menarik napas dalam-dalam, ia meletakkan sendok dan garpu kemudian menyandarkan punggung ke kursi. “Kau tidak perlu melakukan itu. Aku sudah cukup dewasa untuk menerima bahwa mereka hanya sekedar teman.”

 

Se-Hun tertawa. “Sekedar teman? Benarkah?” Wajahnya berubah serius, ia mendekatkan bibirnya ke wajah Hee-Ra. “Aku yakin kau bisa melihat kalau gadis itu sangat tertarik…untuk merebut kekasih yang selalu kau banggakan. Aku benar, kan?”

 

Demi apapun, kenapa mulut pria ini sangat tidak beretika? Maksudku, haruskah dia memanasi Hee-Ra yang sudah panas? Bagaimana kalau saat ini posisi mereka terbalik?

 

“Shin Hee-Ra, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau seharusnya tak menjalin hubungan dengan Jong-In atau siapalah itu, karena pada akhirnya mereka akan melukaimu.”

 

Hee-Ra menyeringai, geli mendengar ucapan yang barusan keluar dari mulut Se-Hun. “Lalu? Aku harus bersamamu? Orang yang jelas-jelas lebih jahat dari dia?”

 

“Aku jahat? Tunggu dulu, aku bahkan tak pernah melukai tubuhmu. Bagaimana mungkin kau bisa menganggapku jahat?”

 

Hee-Ra tergelak, sadar pada kenyataan bahwa Se-Hun memang tak pernah melukainya, bahkan ia tergolong melindungi Hee-Ra.

 

“Kau memang tak pernah melukai fisikku, tapi apakah kau sadar berapa kali melukai perasaanku, Oh Se-Hun?”

 

Senyum liciknya pudar, tak menyangka Hee-Ra akan menjawab seperti itu. Ia seolah menyalahkan Se-Hun atas semua penderitaan hati yang dideranya.

 

“Jadi kau berpikir seperti itu?” Se-Hun memutar bola matanya, ia menggenggam tangannya satu sama lain dan berbisik, “Lalu apakah kau pernah menghitung, berapa kali telah menyakiti perasaanku yang jelas tulus padamu?”

 

Hee-Ra terkesiap, wajahnya memerah kesal. Apa telinganya tak salah dengar? Hee-Ra melukai Se-Hun? Apa pria itu sudah mabuk?

 

“Sanggupkah kau berada di posisiku? Sebagai pihak yang selalu ditolak dan tak diinginkan, Shin Hee-Ra?”

 

 

•••

 

 

Semilir angin membuat Jong-In memejamkan matanya, membiarkan rambutnya terbang berhela kelembutan.

 

Wajahnya memang nampak tenang, berbanding terbalik dengan hati serta perasaannya. Tadi siang, Hee-Ra menolak untuk diantar ke toko buku. Ia lebih memilih pergi bersama Jessica. Entah, Jong-In merasa kalau perubahan sikap Hee-Ra adalah akibat dari perbuatannya kemarin. Memang tak begitu kentara kesalahannya, tapi Jong-In telah melanggar janjinya sendiri untuk langsung mengantar Emma dan malah mampir makan malam.

 

Hei, apakah ada pria yang tega membiarkan seorang gadis kelaparan ketika bersamanya? Jong-In juga begitu. Ia tak sampai hati membiarkan Emma kelaparan dan terus merengek sakit perut.

 

Jong-In mengambil ponsel dan mencari nama Hee-Ra di kontak, kemudian mulai menulis pesan.

 

‘To : Shin Hee-Ra

 

Aku merindukanmu. Nanti malam aku akan mampir sebentar.’

 

 

Setelah menekan tombol kirim, Jong-In tidak menyimpan ponselnya ke saku, melainkan menggenggam sambil berharap Hee-Ra akan segera membalas pesannya.

 

Namun nihil, tiga puluh menit berlalu dan Hee-Ra belum juga memberikan balasan.

 

Apa dia benar-benar marah karena Emma? Sejak kapan Hee-Ra jadi cemburuan seperti itu?

 

Berniat pulang, tiba-tiba ponselnya bergetar. Jong-In segera memasang mata dan tersenyum senang ketika melihat nama Hee-Ra tertera di layar. Tanpa butuh waktu lama, ia segera menekan tombol jawab.

 

“Halo? Shin Hee-Ra?” ia memulai percakapan.

 

Seolah tak ingin membalas rasa rindu Jong-In atau sekedar berbasa-basi, Hee-Ra segera mengatakan maksudnya, “Jangan datang malam ini. Aku ada kerja kelompok.”

 

“Tidak masalah. Aku akan ikut denganmu.”

 

Hee-Ra mendecak, “Kenapa kau tidak beristirahat dan mempersiapkan diri agar penampilanmu dengan Emma besok berjalan lancar?

 

“Aku sudah cukup beristirahat,” Jong-In mendesah berat. “Apa kau marah padaku karena mengajak Emma makan malam kemarin? Aku benar-benar tidak memiliki maksud apapun selain tidak tega membiarkannya kelaparan, sungguh.”

 

Hee-Ra tak langsung menjawabpp. Ia hanya mendesah berat beberapa kali, malas membalas ucapan Jong-In kah?

 

Aku tahu. Kau tidak perlu khawatir.”

 

Hee-Ra memang berkata seperti itu, tapi Jong-In yakin seratus persen bahwa hatinya tak mengatakan demikian.

 

“Aku tahu kau cemburu.” Jong-In berhenti sebentar, senyumnya muncul begitu saja. “Terima kasih sudah cemburu, itu artinya kau memang mencintaiku. Dan akupun begitu, aku mencintaimu, Shin Hee-Ra.”

 

Aku tahu.”

 

“Shin Hee-Ra?”

 

Ya?”

 

“Aku telah memilih hatimu, kau tidak perlu khawatir akan kehilanganku.”

 

Aku akan menutup teleponnya.”

 

“Jangan pulang terlalu malam, mengerti?”

 

Baiklah. Aku akan menghubungimu lagi nanti.

 

 

•••

 

Long time no see, Mr. Oh.”

 

Alis Se-Hun terangkat ketika mendapati gadis yang dikatakan oleh sekretarisnya ingin menemui barusan adalah Jasmine.

 

“Jasmine Rochester?” tanya Se-Hun.

 

Gadis di depannya itu duduk bersilang kaki, ia mendekatkan wajahnya kepada Se-Hun. “Apakah aku berubah begitu banyak hingga membuatmu harus bertanya kalau ini memang diriku?”

 

Se-Hun menggeleng. “Tidak, maksudku ya, kau tumbuh menjadi wanita dewasa yang menakjubkan.” Matanya mengerjap beberapa kali.

 

“Dan seksi,” tambah Jasmine untuk memuji dirinya sendiri.

 

Oh tentu, Se-Hun tak akan mengelak. Kenyataannya memang Jasmine tumbuh menjadi gadis cantik nan seksi yang mampu membuat siapapun terpana.

 

“Mm..,” Jasmine bertopang dagu. “Kudengar kau jatuh cinta dengan seorang gadis.”

 

Tanpa butuh waktu lama, Se-Hun langsung mengerti bahwa gadis yang dimaksud Jasmine adalah Hee-Ra. Tak aneh memang kalau Jasmine mengetahui hal itu, mengingat mereka sama-sama terhubung dengan Bruce Waylon.

 

“Jadi?”

 

“Aku berniat menikahinya,” jawab Se-Hun santai.

 

Jasmine tak suka mendengar jawaban Se-Hun. Ia lebih suka kalau Se-Hun mengatakan akan meninggalkan gadis bodoh itu demi dirinya yang lebih cantik.

 

“Oh, baiklah.” Ia berpikir sebentar. “Ada waktu malam ini? Aku baru tiba beberapa hari lalu dan kau tak berniat mengucapkan selamat datang?”

 

Selamat datang yang dimaksud Jasmine bukanlah dua kata pada umumnya, melainkan melakukan percintaan panas di atas ranjang. Seperti yang sempat mereka lakukan beberapa tahun lalu, sebelum Jasmine memutuskan untuk pindah ke Australia.

 

Se-Hun melirik kalender kecil di atas mejanya sebentar. “Aku akan menghubungimu lagi nanti sore. Tinggalkan kontakmu di sini, Jaze.”

 

Berubah!

 

Se-Hun memang telah berubah. Buktinya ia tidak langsung mengiyakan keinginan Jasmine, melainkan butuh waktu untuk berpikir. Tapi tak apa, mungkin Se-Hun belum tersadar akan pesona Jasmine seperti dulu.

 

“Baiklah, aku akan menunggu panggilanmu. Kuharap masih ada sedikit tempat bagiku dalam dirimu, Mr. Oh.”

 

Jasmine langsung bangkit setelah menyelesaikan kata-katanya, sedangkan Se-Hun tak membalas, ia hanya mengangkat kedua alisnya bersamaan dan membiarkan Jasmine menghilang di balik pintu.

 

Jasmine Rochester telah kembali, mungkinkah perasaannya pada Se-Hun juga masih sama? Kalau begitu, Se-Hun harus semakin meningkatkan perlindungannya pada Hee-Ra. Ia tidak ingin Jasmine menyentuh Hee-Ra sedikitpun.

 

 

•••

 

 

Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Bukan bagi Hee-Ra, tapi semua orang yang ikut andil dalam pementasan—menginggat Hee-Ra telah terdepak gara-gara kakinya terkilir.

 

Se-Hun baru saja keluar dari kamar. Ia mengenakan tuxedo, rambutnya klimis, tampan seperti biasa.

 

Sementara Hee-Ra membalut tubuh indahnya dengan dress biru dongker, keadaan kaki yang tak begitu baik membuat Hee-Ra terpaksa mengenakan sepatu kets, serta alat bantu jalan di kaki kanannya. Ekspresinya tidak menunjukan rasa senang. Muram karena kesal pada kenyataan. Harusnya Hee-Ra yang berdiri di panggung bersama Jong-In, bukannya Emma.

 

Apa sebaiknya Hee-Ra tidak usah datang saja?

 

Tapi ia telah berjanji pada Jong-In untuk menyaksikan pentasnya. Menyebalkan.

 

“Sedang berpikir untuk kabur dari rencana, sister?” Se-Hun mengangkat alisnya. Menyadari Hee-Ra yang tengah gelisah.

 

“Aku tidak sepengecut itu, asal kau tahu,” dustanya.

 

“Kalau begitu kenapa kau tidak segera masuk ke mobil? Mama dan papa sudah menunggumu sejak tadi.”

 

Berbeda dengan Hee-Ra, Shin Jae-Woo dan Kang So-Hee begitu antusias menyaksikan pementasan Jong-In. Mereka telah menganggap Jong-In sebagai anggota keluarga, dan begitu mendapat kabar bahwa kekasih putrinya telah membelikan tiket pertunjukan, mereka langsung kembali dari Birmingham.

 

Dengan kesal Hee-Ra mengikuti Se-Hun dari belakang. Mereka duduk bersampingan di mobil, sementara Shin Jae-Woo menyetir.

 

Dalam perjalanan sang ibu tak henti-hentinya memuji Jong-In. Cukup membuat Hee-Ra kesal karena itu berarti ia harus mengingat Emma.

 

Mereka tiba lima menit sebelum pertunjukan dimulai. Hee-Ra tak berniat pergi ke belakang panggung untuk sekedar melihat Jong-In, melainkan langsung duduk ke kursinya.

 

Pilihan Jong-In bisa diakui sangat bagus. Keluarganya bisa melihat penari dengan sangat jelas, beberapa baris di depan Hee-Ra ada Charlie Sullivans—paman Jong-In beserta istrinya.

 

Bersamaan dengan terbukanya layar, riuh tepuk tangan penonton terdengar selama beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada tarian mereka.

 

Instrumental nan indah serta gerakan gemulai penuh perasaan membuat semua yang hadir begitu larut dan menikmati. Tiada bisikan terdengar, semua mata terfokus pada bintang di atas panggung.

 

Begitupula Hee-Ra, ia memang tidak menyukai Emma, tapi itu bukan berarti Hee-Ra tak mengagumi kelihaiannya dalam menari. Jujur saja, Jong-In dan Emma bisa dikatakan sempurna membawakan tarian ini.

 

Hee-Ra memang sakit hati, tapi mau bagaimana lagi? Kenyataan tak bisa dielak, melainkan harus diakui.

 

Hee-Ra tanpa sadar mulai larut dalam tarian, ia begitu mengagumi sosok Jong-In dengan kemeja putih kebesaran dan celana hitam. Ia menari dalam lubang air, gemricik hujan buatan semakin mendramatisir keadaan seolah Jong-In dan Emma adalah pasangan yang tengah dilema. Pandangan Jong-In mengisyaratkan bahwa ia tak ingin kehilangan Emma, begitupun sebaliknya.

 

Perasaan apa ini? Mungkinkah Jong-In hanya larut dalam tarian atau memang berdasar kenyataan?

 

Kenapa pandangannya seperti itu? Hee-Ra tidak menyukainya.

 

Tarian berakhir saat Emma dan Jong-In tengah duduk berdua di kursi taman, saling berpandangan juga berpegang tangan, melepaskan kerinduan yang begitu dalam setelah terpisah lama.

 

Para penonton bangkit dan bertepuk tangan, begitupula keluarga Hee-Ra. Namun tiba-tiba seisi gedung heboh. Emma menarik wajah Jong-In dan menciumnya tanpa permisi, sepersekian detik kemudian, layar tertutup.

 

Hee-Ra tercengang. Apakah memang ada adegan ciuman dalam skrip? Atau Emma yang terlalu larut dalam peran? Oh sungguh, Hee-Ra yakin akhir dari tarian mereka hanya sebatas duduk berdua di atas bangku, bukannya sang gadis agresif menarik si pria dan menciumnya.

 

Ini salah!

 

Emma menumbuhkan perasaan pada Jong-In, dan pria itu hanya terdiam tak kuasa melakukan apapun saat Emma menguasainya.

 

 

•••

 

Inikah yang dinamakan bau kesuksesan? Jong-In menutup matanya, mendengar dan merasakan riuh tepuk tangan penonton yang terhibur olehnya.

 

Dalam kepalanya terbayang senyuman lebar Hee-Ra yang bangga akan dirinya malam ini. Sebuah pelukan hangat serta kecupan manis di kening tentu tak akan berlebihan, bukan? Ia akan segera mencari keberadaan Hee-Ra setelah ini.

 

Namun senyumnya pudar kala seseorang tiba-tiba menarik dan menepelkan bibir dingin itu dengan bibirnya.

 

Jong-In membuka mata, terkejut kala Emma telah menangkup kedua pipi dan menciumnya.

 

Tapi bukan itu masalahnya!

 

Layar masih terbuka dan Emma memberikan ciuman begitu saja? Sontak para penonton semakin heboh, tapi untung saja layar cepat-cepat tertutup sehingga adegan ciuman tak terduga itu hanya berlangsung beberapa detik saja.

 

Jong-In langsung mendorong Emma, tidak terlalu keras tapi sudah cukup membuat gadis itu melepaskan ciumannya.

 

“Apa yang kau lakukan?!” protes Jong-In yang mulai kesal pada kelakuan Emma.

 

Ekspresi tak mengerti tergambar begitu jelas pada wajah Emma. “Apa maksudmu? Aku hanya memberikan ciuman selamat, tidak lebih.”

 

Jong-In bangkit dengan marah. “Kau seharusnya tak melakukan itu, Emma Carter!”

 

“Apa yang salah?!” Tak terima akan kemarahan Jong-In, Emma ikut bangkit dan berteriak, “Kau seharusnya tak membesar-besarkan persoalan kecil seperti ini! Aku hanya memberimu ciuman selamat!”

 

Dagunya mengeras. Pertengkaran mereka secara tak sadar menjadi tontonan bagi para penari lain, begitupula Mrs. Sanders. Ia tak melakukan apapun, takut salah dan malah semakin membuat dua orang itu saling benci.

 

“Bagimu ciuman ini memang biasa, tapi tidak bagi Hee-Ra. Kau harus menghargainya sebagai kekasihku, Emma Carter.”

 

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Jong-In langsung beranjak pergi. Meninggalkan Emma yang masih terpaku di tempat, berusaha tak mengambil pusing tatapan-tatapan penuh tanya dari semua orang di sekelilingnya.

 

Yang terpenting, setelah ini Jong-In harus menjelaskan segalanya pada Hee-Ra. Apa yang gadis itu lihat bukanlah kejadian sebenarnya, Jong-In tak pernah berniat untuk mencium Emma.

 

 

TO BE CONTINUED

 

62 responses to “[CHAPTER 5] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Ish ish greget bgt sama emma.
    Lah lah sehun mulai memperjelas perasaan nya, sayangnya heera tetep gak peka..
    Tapi kesian jg klo jd nya sama sehun, kai gimna. Aigo
    Keep writting authornim

  2. Duh yaampun si jongin!! Itu kasian amat si heera nya. Si sehun pasti makin seneng dahh. Aduhh Jasmine jahat banget yakk kayanya. Moga aja ga terjadi apa apa sama heera. Yahh aku nggu sehun heera momen nihh, tapi masih sedikit yakk wkwk ga papa dengg. Next chapt aku tunggu momen mereka berdua yaa. Jangan bosen bosen nuliss. See yaa in the next 😅😅

  3. Masih bgg mau ngedukung heera sm siapa. Sehun ini jahat, tp dalemnya baik. Kl Jongin ini cinta sm Heera, tp kyknya bakal main api deh sm si Emma itu. Btw keren kak. Dtunggu kelanjutannya, fighting!^^

  4. si emma cari kesempatan aja….ckckckckck semakin ga suka sama emma kalo gini ceritanya
    dan baguslah kalo benar memang jongin setia sama heera kalo enggak liat aja nanti apa yang terjadi sama jongin yang telah menyakiti heera….
    dan woowwww sehun bener” jatuh cinta sama heera ya walau gak diperlihatkan secara langsung tp melalui tindakan dan ucapan seharusnya udah kelihatan tapi sayang semua tertutup sama pekerjaan sehun itu. dan sehun harus selalu waspada menjaga heera agar ga terjadi hal yang gak diinginkan

    ok lah aku suka banget sama ceritanya dan makasih ya updatenya cepet
    dan semangat ya!!!!!!!

  5. Emma dasar jdi cewek gatelbgt sih..untung jongin gk kepengaruh…tpi mnjlaskn ky gimana tuh..kekasih ngelihat pmndangan itu live??

  6. aku kira jongin ada rasa sama emma lho. ya kalo gitu namanya emma yg ganjen. huhuhu. semakin seruuuu. sabar ya heera. disatu sisi berasa tertekan sama sehun di satu sisi liat jongin yg sebgitu dekat sama emma huhu. hug heera

  7. Hayoloo Emma niat banget kayanya dapetin Jongin, tp kan caranya salah, mau bikin Heera pelan2 salah aham terus ama Jongin? Big No!
    Eh Jasmine partner ranjang Sehun dulunya toh, tp segede apapun usahanya buat dapetin Sehun pasti Sehun tetep keukeuh cuma pengen Heera, apalagi kan udah tau tabiatnya Jasmine kek gimana, behh udah pasti bakal ada perang badaii wkwk
    Okay ditunggu next part ka, Tengkyuu^^ Semangattt!

  8. Kesel setengah mati sama Emma, huhh seneng juga ternyata jong in emang cinta ma heera tp aku lebih seneng lagi klw heera ma sehun hhhh

  9. wah,tuh yeoja satu bikin gue mau umek-umrk aj tuh wajah,sebek deh,ganjen,gatel,iih mana mau jong i sama dia,heera kamu ga tau kh bahwa sehun itu cinta mati ama kamu,trus tu si jasmine bkalan ngapain heera entar ya,makin seru…… JJANG AUTHORNIM

  10. Wahhhh..hidup heera mkn brt…disisi sehun ada jasmine..di sisi jongin ada emma…ada 2 cwe ug kaya y bakal bikin hidup y sulit hahaha….

  11. Selalu berharap, semoga akhirnya nanti heera sama sehun bukan sama jongin, kasian juga si kalo ngliat sehun yang kaya gini, sebernya apa si tujuannya sehun pura2 jadi kakaknya heera? Buat nglindungin heera ? Kayanya sehun bener2 harus memperketat keamanan buat heera deh, biar jasmine gak macem2 ke heera

  12. ohh emma pengen ge tebas lu,bikin orng salah paham aja ish-,- awas aj yah lu 👊🏻
    Blom kelar yg satu ehh muncul lgi penghalang yaampun.. mba nya terobsesi ama sehun yeh wkwk
    cptt dnext yoo min 👍🏻👍🏻

  13. Eomona astaga EMMAA!! rsax pgen cakar cakar mukanya dy! agresif msih mending_ql smpe bgni kan kan nmax mengerikan!!! Mslhx Jongin kn puny cwek ud??!!! Aduh tp jleb bgt y prktaan Sehun dy blg gmn rsax jd pihak yg tak diinginkan huuu…😦 Itu Jasmine ud nemuin Sehun, bau2 Heera bkln terancam ini! ok dtgu bgt lnjutnx authornim😀

  14. Sehunnn jjanggg😂😂
    Dengerin ugh
    Emma agresif amad-_-njirr malu2in Indonesia *apa ini
    Pokoknya sehun sama heera. Itu si emma didepak jha. Gasuka akutu-__-
    Si jasmine juga pergi jhaa gih

  15. Huaaa akhirnya dipost jugaaa
    Pas adegan emma cium jongin itu 100% bikin aku kesel setengah mati…
    Tapi setelah di pikir2 lagi trnyata itu bisa jadi alasan buat heera putus sama jongin, anddd bisa jadian sama sehun xD

  16. Aku bacanya sambil meledak-ledak kayak bener ngerasain posisi Heera heheheee. Ah kayaknya hubungan Jongin Heera bakalan runyam, belum lagi ada si Jasmine. Ditunggu kelanjutannyaaaa

  17. aku pikir jongin bakal tergoda gitu… eh ternyata kuat iman… super bgt yah… wkwkwkw hehehe tapi aku si fine” aja heera sma sehun apa kai… yg penting gk sad ending~ hehe Keep writing and hwaiting!~

  18. yg satu emma yg godain jongin satunya lgi jasmine yg godain sehun…mmg susah bgt ya klo cewe di cintain sama cowo gnteng ada aja halangannya😊😊😊

  19. bingung harus koment apa ka,mudah*an hee ra mulai suka sama sehun amin.
    jasmine jangan sampai menyakiti hee ra:(

  20. Kapan hee raa jatuh cinta sama sehun?
    Dari pada ama jongin mending sama sehun aja.yang bener” pengen melindungi dan tulus tentunya.
    Ditunggu next chapternya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s