LO(st)VE [1st] —ARLENE P.

75585-lost-love

Cr. image Google

LO(st)VE

Nightmares ]

.

“I have seen the nightmares that tore us apart.”

.

.

Oh Sehun (30 y.o)

13636135_906424156151448_1700158000_n

Ilana Kim (28 y.o)

13734468_312569439085457_1937329840_n

.

Romance — Hurt — Angst — Drama

Alternate Universe ¶ Ficlet

PG-17

.

.

Sepasang netra itu bertemu dan membekukan waktu. Membuat si pemeran wanita bergeming, kehilangan vokal. Kesulitan menentang buncahan rindu dalam dada, pun rindu implisit di setiap hujaman violet. Nyaris mengaku kalah seandainya ego tidak lekas mengusung kembali ledakan emosi yang pernah dirinya bagi bersama sosok tersebut di masa silam, sebelum akhirnya memutuskan untuk menarik diri dan menutup kisah mereka dengan cara memalukan.

Bercerai dan hidup dengan status janda, begitulah Ilana menjalani hidupnya selama satu tahun terakhir. Merelakan tiap sekonnya dilalap habis kesepian. Mati-matian menentang luka yang tak kenal lelah menggerogoti ulu hati.

Lalu, setelah dirinya berhasil membiasakan diri, takdir kembali menguji pertahanannya. Berkonspirasi dengan masa untuk membawanya ke tempat ini. Seakan telah mengatur pertemuannya dengan Sehun sedemikian rupa, karena tak peduli seberapa jauh kedua fokus Ilana berlari menelusuri indahnya interior ruangan, sosok tampan sang mantan suami justru menjadi objek paling menarik yang ditemukannya dengan teramat mudah.

Ya. Oh Sehun. Pahatan serupa malaikat yang pernah menghiasi mimpi terbaik seorang Ilana Kim. Tubuhnya proporsional dengan tinggi 183 sentimeter. Berkulit putih semi pucat yang kontras dengan bola mata sewarna obsidian miliknya. Jangan lupakan bibir tipisnya yang pernah menyesap habis ceri Ilana, juga lengan kekar yang … ah, tidak! 

Hentikan pikiran kotormu, LaMaki Ilana seketika. Memasukkan kembali sejumput kenangannya ke dalam kotak memori, lantas menenggelamkannya di dasar pikiran. Tak lama violetnya mengerjap, kelelahan berbagi pandangan dengan sosok tampan dari masa lalu tersebut. Bergegas putar haluan, hendak membawa diri. Namun, baru empat langkah menjauh, bariton Sehun dengan tegas menyapa pendengarannya.

“Apa kabar, Nona Kim?”

Mau tak mau, Ilana kembali menatap Sehun. Menyematkan senyum simpul di bibir sebagai formalitas, baru setelahnya menjawab, “Baik.”

Sehun terkekeh paska menerima balasan singkat mantan istrinya tersebut. Tergerak memasukkan sebelah tangan ke saku celana selagi tangan yang lainnya sibuk mengusap tengkuk, canggung. Berdeham sebentar, memantapkan vokal. “Tidak berniat menanyakan kabarku, eh?”

Ilana mendengus. “Kurasa kabar Mervyn dan Shayla lebih menarik,” sahut wanita ini, tak lupa mengabsen nama kedua buah hatinya. “Mereka baik, kan? Kuharap kau—”

“Paling tidak aku mengurus mereka lebih baik darimu,” sela Sehun, cepat dan penuh penekanan. Sengaja menyisipkan emosi di tiap silabel yang terucap, coba menyampaikan rasa kecewanya. “Aku bukan dirimu yang mengutamakan karir di atas segalanya. Aku bukan dirimu yang—”

“Cukup, Sehun!” tukas Ilana. Mengedarkan fokus, kentara risih begitu menemukan beberapa pasang mata tengah menatap kebersamaannya dengan Sehun penuh rasa ingin tahu. Terlebih beberapa di antaranya merupakan rekan bisnis Ilana sendiri. “Ini bukan tempat yang tepat untuk berdebat.”

Sehun terkekeh lagi, lebih sinis dari sebelumnya. “Kenapa? Malu? Tidak ingin kolega-mu tahu bahwa dirimu ini adalah seorang ibu yang gagal?” Pria Oh ini maju selangkah demi menggapai pinggang ramping Ilana. Mencari-cari daun telinga Si Pemilik Violet, kemudian berbisik di sana. “Ibu yang melewatkan masa pertumbuhan kedua anaknya, karena merasa sudah cukup mengorbankan nyawa saat melahirkan mereka. Egois, ya?”

Belum puas mengintimidasi mantan istrinya tersebut menggunakan lisan, Sehun pun menggegatkan kuasa. Sengaja menenggelamkan tubuh Ilana yang berubah kaku dalam dekapan sepihak, lalu dengan pongahnya melempar senyum kepada sekeliling. Berniat untuk memenangkan situasi, namun terkesiap sendiri begitu menyadari bagian depan jas hitamnya diremas jemari lentik Ilana.

“Kau tidak tahu, Hun.”

Empat kata, enam silabel yang dilempar Ilana pun sedikit mencuri empati Sehun hingga tanpa sadar melembutkan nada bicara. “Apa yang tidak aku tahu, La? Sejak awal pernikahan kita, kau memang begitu, kan? Kupikir kehadiran anak bisa melenyapkan ambisimu, tapi sialnya aku salah. Kau sama sekali tidak berubah, membuatku kewalahan, juga kesepian. Kau tidak ada di saat aku dan anak-anak membutuhkanmu.”

Ilana mendesah berat, lantas mengangguk hingga puncak kepalanya membentur dagu Sehun. Mencoba menikmati aroma rindu yang kembali menguar, agar tidak kalah dan terjerembab rasa sesak seorang diri. Terlalu malu untuk menangis membuatnya berdalih dengan menggigit keras bibir bagian bawah. “Bukankah tidak ada gunanya membahas hal yang sudah berlalu? Lagi pula, kau sudah menemukan penggantiku,” sahut Ilana dengan nada mengambang. Lekas menarik diri, baru setelahnya menambahkan, “Kau tengah menjalin hubungan dengan Jennie, bukan?”

Sehun terkejut, namun dengan cepat mengembalikan ekspresinya ke garis normal. Menarik satu sudut bibir, kian sinis. “Masih peduli dengan kehidupanku paska berpisah, ya?” sindir pria ini, kemudian.

“Aku akan tetap tahu, tanpa perlu mencari tahu,” sanggah Ilana dengan alis kanan terangkat tinggi. “Jadi, bagaimana kabar kedua anakku?”

“Mereka sehat, tapi tidak cukup baik.”

Ilana mengernyit, tak mengerti. Mengundang satu penjelasan Sehun yang kembali menyakiti pertahanan keduanya secara diam-diam. “Mereka selalu merindukan ibunya. Bertanya mengapa ibu tak pernah pulang ke rumah. Aku tak tahu lagi harus beralasan apa setiap mereka menanyakan keberadaanmu, La. Sampai mau gila rasanya.”

“Mereka hanya belum terbiasa,” balas Ilana datar, seolah tak acuh. Padahal dalam hati tersayat, kepayahan menahan sesak yang menghimpit pernapasan. “Lama-kelamaan mereka akan sadar bahwa aku ini bukan ibu yang baik.”

“Demi Tuhan, Ilana! Tidakkah kau merindukan mereka?” Amarah yang semula tertahan, kembali menggelegar. Memang tak sampai membuat Sehun berteriak, mengingat keduanya tengah berada di keramaian. Hanya pelafalan tertahan yang dilempar langsung ke dalam pendengaran Ilana.

“Aku rindu.”

“Lalu?”

Hening sebentar yang digunakan Ilana untuk mencuri oksigen dari udara. “Menemui mereka sekarang hanya akan membuat mereka manja, Hun.” Kini ganti Sehun yang dibuat mengernyit setelah mendengar penuturan Ilana. “Satu pertemuan saja tak akan cukup untuk mengobati kerinduan. Pasti akan ada pertemuan selanjutnya.”

“Apa yang salah dengan itu semua?” cecar Sehun, masih dengan raut murka yang sama.

“Salahnya ada pada kita. Aku tidak ingin intensitas pertemuan kita bertambah, karena bertemu mereka, sama artinya dengan menemuimu juga, kan? Kemampuan akting-ku di bawah rata-rata, kau tahu. Sulit bagiku untuk berpura-pura semuanya masih sama. Kau dan aku, kita jelas sudah tidak baik-baik saja. Kita selalu bertengkar saat terkurung di ruang yang sama, tak terkecuali sekarang.”

Sehun membisu, tak kuasa menyangkal kebenaran yang baru saja disuarakan Ilana. Sesekali giginya bergemeletuk, menahan kesal. Mengumpat kerja otaknya yang melambat dalam menyusun kalimat. “Seharian kemarin  a-nak ki-ta tidak mau makan dan tadi pagi aku berhasil membujuk mereka dengan berjanji akan membawamu pu-lang ke ru-mah.” Sengaja Sehun memberi penekanan pada beberapa silabel yang dirasa perlu. “Maka dari itu aku kemari untuk menemuimu, tapi rasanya sia-sia saja.”

Satu langkah mundur berhasil diambil Sehun. “Mereka membutuhkanmu, La. Menjauhkan mereka darimu adalah pemikiran terbodoh yang kupegang selama satu tahun terakhir, karena bagaimana pun kondisinya, aku saja takkan pernah cukup bagi mereka. Mervyn dan Shayla juga sangat membutuhkanmu.”

Bagaimana denganmu? Tidakkah kau juga membutuhkanku? Dua kalimat tanya bermakna serupa tercetus dalam pemikiran Ilana. Berputar-putar hingga membuat Ilana sukar mengendalikan lisan. Menekannya agar tak berkhianat dan menyerah pada desakan rindu. Menyekap lara yang menjerit, karena Demi Neptunus, harga diri Ilana masih terlalu tinggi untuk mengakui kebutuhannya akan Sehun. Terlebih pria itu sudah dengan piawai menemukan pengganti dirinya.

“Akan kupikirkan.”

Putus asa dengan usahanya yang tak kunjung membuahkan hasil, Sehun pun menggeram marah. Menarik pergelangan Ilana tanpa aliansi hingga membuat sang empunya tersentak. Mengumpat di kala kaki sibuk menjejak petakan keramik, tak peduli pada tubuh ramping yang kewalahan mengimbangi di balik punggung. “Persetan dengan egomu!”

“Lepaskan aku! Kau mau bawa aku ke mana, ha? Semua orang memerhatikan kita! Berhenti membuatku malu!”

Sehun berhenti secara tiba-tiba. Lekas memutar tubuh, satu detik paska bagian depan tubuh Ilana berbenturan dengan punggungnya. Sama sekali tak berniat mengembalikan kebebasan Ilana—terbukti dari cengkeramannya yang masih menguasai pergelangan tangan mantan wanitanya tersebut. “Aku hanya ingin membawamu pulang dan bertemu dengan anak kita. Apa ada yang memalukan dari itu semua, La?” tanya Sehun retoris.

“Itu rumahmu, bukan rumahku lagi!”

“Oh, ya sudah.” Sehun mengangguk sekali dengan raut tak terbaca. “Kita bisa rujuk dan rumah itu kembali menjadi rumahmu juga. Mudah, bukan?”

“Kau pikir pernikahan itu main-main?!”

Sehun mengedar pandangannya dengan tergesa setelah kilatan cahaya mengganggu penglihatannya. Dalam hati merutuk sejumlah wartawan yang datang entah dari mana. Tak ingin menuai kontroversi lebih jauh, Sehun kembali memusatkan perhatiannya pada Ilana. Berucap tegas yang ia pikir mampu membungkus arogansi Ilana. “Kalau aku meremehkan sebuah komitmen, aku pasti sudah menikahi Jennie sejak pertama kali dia melemparkan dirinya padaku. Paham, Nona Kim?”

Namun, bukan Ilana namanya jikalau langsung menyerah dan kalah. Di saat Sehun lengah, Ilana mencari peluang untuk membebaskan diri. Mengambil dua langkah mundur, menjauh. Menyempatkan diri untuk melempar tawa pilunya ke udara, sebelum berbalik meninggalkan Sehun. Tak lama sibuk bergelung dengan ponsel yang dikeluarkannya dari dalam tas tangan. Berusaha tak ambil pusing pada raut penuh tanda tanya yang mengiringi setiap langkah.

Sementara, di balik punggung Ilana, Sehun mematung. Menatap lurus sosok cantik yang kian menjauh tersebut hingga dikejutkan dering ponselnya sendiri. Butuh belasan detik bagi pria ini untuk mengembalikan kesadaran dan merogoh saku jas. Mengambil benda elektronik yang sudah lama jadi kawan setia, lantas terkesiap.

Sebuah pesan masuk, dengan nama Ilana tertera sebagai pengirim.

Ini kali pertama sejak keduanya berpisah. Tepatnya sejak terakhir kali Sehun mengubah nama Ilana dalam daftar kontaknya dan membentuk batasan tak kasat mata di antara mereka. Dan kini, semuanya luruh, seiring dengan ibu jari Sehun yang gesit menggeser layar. Menggulirkan irisnya searah dengan kalimat digital yang disusun Ilana dalam waktu singkat. Sesingkat pertemuan mereka beberapa waktu lalu.

Bukan kalimat umpatan, namun mampu menohok Sehun hingga ke inti.

Sekarang kau sudah tahu bagaimana sakitnya, kan? Kesalahanku memang besar, tapi perlukah aku ingkatkan bahwa kau juga ingkar? Bercerai jelas tak pernah menjadi bagian dari fantasi mimpi kita, sampai akhirnya kau sendiri yang membuangku dan menghancurkan semuanya. Kau yang lebih dulu menginginkan perpisahan ini, bukan aku. Sekarang, selamat menikmati mimpi burukmu, ah, lebih tepatnya mimpi buruk kita, Tuan Oh.

“Brengsek!” Nyatanya, justru Sehun yang kini mengumpat. Merutuki dirinya yang tak jauh beda dengan seorang pembual. Mencipta sejuta kebohongan demi menutupi satu kebohongan pertamanya. Sebuah fakta yang kini harus dirinya akui dalam keadaan sadar, di mana kebutuhannya akan Ilana masih begitu besar, sungguh bertentangan dengan arogansinya yang membakar jiwa. Dan, saat kebenaran itu terungkap, heroinnya sudah melangkah terlalu jauh, mencapai jarak yang tak lagi mampu ditaklukkan nalar Sehun.

Tidak atau mungkin belum.

“Aku merindukanmu, La. Kau dengar? Aku merindukanmu.”

.

.

.

-fin

.

.

Hi! Still remember me? Semoga masih ya :’) Okay, first I wanna say sorry to you guys karena kelamaan hiatus. Setengah tahun lebih ya udah? Ya gak sih? Kata Kak Endah sih segitu lamanya. Gak tau diri pula, dateng bukannya lanjut tanggungan malah bawa ff lain. Anggep aja ini ff pertanda bahwa masa hiatusku udah selesai. Aku bakal balik nulis, walau enggak bisa janji bakal seaktif dulu. Paling enggak, aku mulai usaha lagi, cari waktu luang buat kasih kalian hiburan. I’m dying of missing you all, jadi bisakah kalian tulis apa pun itu di kolom komentar yang menandakan kalo kalian ngerasain hal yang sama? Kalian semua sehat kan yaaa? Harus jaga kesahatan lho! Uh, kalian moodbooster aku banget kan dari dulu. Belakangan hidupku kerasa ngebosenin tanpa kalian. Seriusan deh. Kangen banget ngebawel kek gni >_< Semoga cepet ketemu di ceritaku yang lain ya. Jangan kangen. Eh kangen aja deh biar enggak pada lupa sama aku. Laffyuuuu

p.s : Aku emang lagi fg-in Blackpink, jadi jangan heran kalo nama cem Jennie, Lalice, Jisoo, sama Rose nangkring di ff-ff aku. Serius mereka dan lagunya lovable banget. Hehe^^

.

Sincerely,

Arlene P.

113 responses to “LO(st)VE [1st] —ARLENE P.

  1. kak arleneee… makasih udah mau nongol lagi😭😭😭 aku udah kangen berat sama karya2nya kakak (sama kakak juga kok) hehe. . kak arlene tuh emang jagonya bikin ff yg antimainstream! ya ampuuunn baru chap 1 aja udah berantem gitu.. bikin gemesh😣 semangat terus ya kak😘

  2. kak arleneee… makasih udah mau nongol lagi😭😭😭 aku udah kangen berat sama karya2nya kakak (sama kakak juga kok) hehe. . kak arlene tuh emang jagonya bikin ff yg antimainstream! ya ampuuunn baru chap 1 aja udah berantem gitu.. bikin gemesh😣 semangat terus ya kak😘

  3. SUMPAAAAAAAAAH. first time loh kak sehun-ilana ditemuin sebagai ‘mantan’ dalam ff mu. dan ya pastinya mereka masih belom bisa move on, serius pas awal baca ini aku yg kaya ‘naloh anjir anjir’ beneran ga kebayang. sekali pun kebayang ga sampe kaya gini huhuhuhu you always write something good for the shake of my life. kangen kangen kangen bangeeeeeet dan aku beneran suka cerita baru ini. Btw pas baca jennie aku tuh ‘jennie blackpink?’ Hehehehehe aku juga suka bp soalnya hehehe. Semangat kak💕💕💕

  4. Geezz… aku sih gak sampe ‘dying’ ngangenin kamu. Tapi aku emang ‘harus tetep’ hidup buat ngangenin kamu, Lene! (?)

    Oke cut! Ini alay wkwk

    Seriusan.. aku udah luammaaa banget gak baca ff Sehun sejak kamu dan kembaran kamu aka Sehunbee hiatus. Dan… pas iseng-iseng kesini tetiba aku kaget liat Top Post and Page ada nama kamu nyaring disana. Tapi karena aku emang juga udah lupa scenes terakhir PF itu kayak gimana dan lupa juga chapter sebelum kamu hiatus itu chapter berapa, maka aku coba cari lah di kolom search nama pena kamu ‘Arlene P.’. Dan pas lihat tanggalnya… Wow. Ternyata ini chapter baru dari PF. Seketika aku bahagia tahu gak sih 😀😀😀 tapi ya itu, karena kamu kelamaan hiatus–dan emang bener itu udah lebih dari satu semester–aku jadi lupa sama cerita PF. Gak inget. Jadi kayaknya aku harus re-read beberapa chap sebelumnya deh biar mantap baca Chapter 9 nya 😅 tapi untungnya juga kamu bawa FF lain. Kyaaaaaaakkk makin bahagia lah aku heuheu 😂😂
    Untuk sekarang.. aku gamau komen gimana FF baru kamu ini. Karena aku lagi pengen numpahin segala perasaanku pas tahu kamu comeback wkwkwk. Tapi yang pasti–aku selalu jatuh hati sama tulisanmu. Mau bawa genre kayak gimana pun, aku selalu suka hihiw
    Terakhir–pokoknya selamat datang kembali Arlene! 😊😊😊

  5. Hai kak, Selamat comeback ke dunia ff lagi kak yey. Kangen banget seriusan sama tulisan kakak, ditungguin ga update juga, blog ini jadi berasa sepi kak 😭
    Iya padahal aku juga nunggu lanjutan cerita kakak, tapi karena lama nya kakak hiatus ga ketulungan akhirnya ampe lupa aku terakhir baca sampe mana 😓
    Yey tapi gapapa karena terbayar kangen kangenan nya dengan ff baaruuu hehe, so far cerita kakak selalu bikin interest dan penasaran, sukak pokoknya, semangat terus ya kak 😆

  6. EONNI! akhirnya back with new ff😍 I miss you a lottttttt!❤ ff baru cast sehun x ilana marriage life dan angst. Parah bgt sih ini. Keep writing, eonnn❤

  7. Yeaaaayyyyy welcomeback my adorable unirang!!! 😘*tumpengan
    Aaaa seneng banget deh pas tau kalo masa hiatusnya ka lene udah kelar. Tapi tapi tapi kok sehun sama ilana cerai 😭 sedih banget tauuu kak:”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s