LO(st)VE [2nd] —ARLENE P.

75585-lost-love

Cr. image Google

LO(st)VE

Promises ]

.

.: The Other Slice :.

Nightmare

.

.

“Promise is a big word. It either makes something or it breaks everything.”

.

.

Oh Sehun (30 y.o)

sehun-pf-1

.

Mervyn Oh (3 y.o)

mervyn-childhood-2

.

Romance — Hurt — Angst — Drama

Alternate Universe ¶ Ficlet

PG-17

.

.

Malam sudah terlalu larut ketika Sehun baru berani menginjakkan kakinya di rumah. Sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan sejak pagi buta lantaran tak kuasa menatap wajah penuh harap kedua buah hatinya. Dalih dari sesal yang terus berkecamuk dalam benak paska pertemuan singkatnya dengan Ilana tempo hari. Selembar ingatan yang sukar pria ini lenyapkan meski sudah satu kali dua puluh empat jam berlalu.

Pada akhirnya kembali jadi pengecut yang senang hati menjemput penat, berharap indahnya mimpi sudi membuai dan membuatnya lupa pada realita. Usaha terbodoh yang kerap kali Sehun lakukan walau tahu percuma, karena sial, Ilana Kim selalu terasa tepat untuk dijadikan tempat hatinya berpulang.

“Ayah!” seruan bernada riang dibawa menari oleh udara. Mengejutkan Sehun yang tengah terpekur di tengah kuasa gelap, tadinya sibuk berkutat dengan sepi yang jadi selimut lara. Dipaksa menyadari kehadiran Mervyn, duplikasi nyata Si Tuan Oh yang kini berlari tergesa menghampiri. Tak malu saat tubuh mungilnya tertelan kaki panjang sang ayah. Agaknya terlalu bahagia hingga dengan ringannya mengangkat tangan tinggi-tinggi, meminta digendong seperti biasa. “Kenapa Ayah pulang malam sekali?” tanya Mervyn setelah keinginannya terpenuhi.

Sehun tersenyum tipis. Siap menjawab kalau saja kalimat Mervyn tidak dengan tangkasnya menyela. “Padahal tadi Ibu pulang ke rumah.”

“Pulang?”

“Hm,” gumam Mervyn tegas seraya mengangguk dua kali. “Ibu juga memasakkan makanan kesukaan Shayla agar si cengeng itu berhenti menangis,” sambung suara kecil yang sama sebelum menepuk dada. Ekspresi berbangga hati yang pernah diajarkan Sehun lalu melekat erat dalam pemikiran Mervyn. “Tapi Ayah harus tahu bahwa Mervyn tidak menangis sama sekali. Ayah kan pernah bilang, laki-laki sejati tidak boleh menangis, sesedih apa pun masalah yang ia hadapi. Betul tidak?”

Situasi yang rumit membuat Sehun enggan menertawakan sikap sok bijak sang putra. Alam bawah sadarnya terlalu sibuk mencerna, di saat seluruh vokal yang tercekat di kerongkongan berbondong-bondong mencipta umpatan. Merutuki egonya yang kembali membawa ketidakberuntungan. “Di mana ibumu sekarang? Apa masih di … rumah?” Kalimat tanya berhasil terbebas, dibumbui pengharapan yang kentara dalam himpitan silabel.

Di luar harapan, Mervyn pun menggeleng. “Sudah pergi lagi, tadi sore.”

Sesudahnya, mereka membisu. Yang dewasa sibuk merenung, sedangkan sisanya asyik menundukkan kepala. Menautkan kedua jari telunjuk di depan dada, lalu dalam hitungan detik ganti menepuk dada kiri sang ayah. Meminta perhatian dengan cara sederhana, meski tidak sesederhana susunan kata yang ia ucapkan beberapa detik kemudian. “Apa Ibu pergi karena lelah menghadapi kenakalan Mervyn? Jika iya, bisakah Ayah membantu Mervyn? Tolong katakan pada Ibu untuk tidak pergi lama-lama lagi. Mervyn janji akan menjadi anak baik untuk Ibu. Supaya Ibu tidak perlu repot-repot memarahi Mervyn sepulang kerja karena terlalu banyak membuat Shayla menangis.”

Sehun masih tetap bungkam, tak acuh pada desakan Mervyn yang menuai sesak. “Bisakah Ayah mengatakan seluruh pesan Mervyn kepada Ibu?”

Tak langsung menjawab, Sehun justru menggerakkan satu tangannya yang bebas menuju puncak kepala Mervyn. Mengacaknya penuh sayang dengan segaris senyum tipis tersemat di wajah. Bersikeras menahan lapisan kaca-kaca bening yang menghalangi pandangan agar tak bertransformasi menjadi lelehan liquid penanda luka. “Siapa bilang Mervyn nakal, hm? Mervyn justru anak baik yang nantinya akan menggantikan tugas Ayah dalam menjaga Ibu dan Shayla.”

“Tidak mau!” sanggah Si Jagoan Kecil. “Mervyn lebih suka seperti dulu. Kita berkumpul lagi, berempat. Biar Mervyn  bantu Ayah menjaga Ibu dan Shayla, tapi tidak mau menggantikan Ayah. Ayah dan Ibu jangan pergi ke mana-mana agar Mervyn dan Shayla tidak kesepian seperti sekarang.”

“Memang apa bedanya dulu dan sekarang?” Pertanyaan bodoh, Sehun tahu. Namun terkadang, lidah lebih lihai menguasai vokal ketimbang pusat saraf.

Dan secepat Mervyn memberi jawaban, secepat itu pula hantaman rasa bersalah menyerang Sehun. Terluka akan kepolosan sang putra semata wayang, membuatnya tak urung turut membayangkan wajah bermuram Shayla yang kini tengah terlelap. “Dulu indah. Sangat indah. Meski tidak banyak waktu bersama, paling tidak Mervyn masih bisa melihat Ayah memeluk Ibu dan tertawa. Bukannya jadi membosankan bersama tumpukan kertas yang Mervyn tak mengerti apa gunanya. Mervyn rindu sarapan bersama lagi, Mervyn juga rindu masakan Ibu, rindu dimarahi—tidak.” Si pemilik suara menggeleng cepat. “Kalau memarahi Mervyn membuat Ibu lelah, Mervyn akan belajar menjadi anak baik.”

“Merv …” Sehun menggumam lirih, terharu pun terluka di detik yang sama.

“Ayah juga sebenarnya merindukan Ibu, kan? Mervyn pernah lihat Ayah menangis sendiri di kamar sambil memanggil nama Ibu. Shayla juga begitu setiap kali merindukan Ibu,” lanjut Mervyn, sedikit bergetar. Jelas sekali menahan isakan yang entah sudah berapa lama dihalaunya. “Rasanya sakit sekali melihat Shayla menangis. Membuat Mervyn ingin ikut menangis, tapi Mervyn sudah berjanji pada Ayah dan Mervyn tidak mau ingkar.”

Ingkar. Ingkar. Ingkar. Ingkar. 

Satu kata, dua silabel yang kini terngiang dalam otak Sehun. Menohoknya hingga ke ulu hati, sesak sendiri. Kesulitan bernegosiasi dengan oksigen, hingga lupa kebutuhannya akan bernapas selama beberapa detik. Baru tersadar tatkala bibir tipis Mervyn menguap tanda lelah.

“Ayah antar Mervyn ke kamar ya? Sudah malam, waktunya untuk tidur, Jagoan Tampan.”

Tak ada bantahan karena yang diajak bicara kini sibuk mengulaikan kepala di dada Sehun. Memejamkan sepasang obsidiannya, sebelum berbisik lirih. “Mervyn sayang Ayah dan Ibu. Mervyn Rindu.”

Ayah juga rindu. Maafkan Ayah ya?

¤
¤
¤

Marry me?”

“Tapi, Hun … Kau tahu aku ini agak bermasalah dengan komitmen.”

“Aku tahu, La. Tapi aku janji akan membantumu mengobati semuanya, rasa sakitmu di masa lalu. Aku pastikan apa yang terjadi pada kedua orang tuamu, tak akan terjadi pada kita. Jadi, mau menikah denganku ya?”

“Aku mencintaimu, Hun. Kau juga tahu itu kan?”

Sehun tersenyum menang, pun gembira. Tak pernah tahu bahwa di kemudian hari dirinya harus menelan mentah-mentah seluruh ucapannya. Hilang makna hingga bermetamorfosis menjadi omong kosong. Berbuah luka, tak hanya untuk dirinya dan Ilana, namun juga buah hati mereka yang harusnya mampu jadi pelengkap kebahagiaan.

Saat itu, keduanya yang terlalu dimabuk cinta lupa hitam putihnya dunia. Terlalu asyik menikmati mimpi dalam kemasan merah jambu, di mana Sehun dengan percaya diri tinggi memberi penutup semanis madu. “Kau tentunya tahu bahwa aku jauh lebih mencintaimu, Calon Istriku.”

.

.

-fin

.

.

Ilana bermasalah sama komitmen? Yash! Sedikit banyak sifat Ilana di sini mirip sama di JTD. Susah percaya dan benci perceraian. Sebenernya ide FF ini muncul waktu aku lagi nulis salah satu part itu FF, cuma karena di sana Sehun sama Ilana belom nikah dan aku jg enggak tega bikin sequel macem ini setelah jungkir balikkin alurnya JTD, jadlah FF ini. Series yg berdiri sendiri dan baru kesampean /? Semoga cukup menghibur ya di sela usaha aku ngelanjutin FF chaptered yg ongoing. Don’t expect too much, but I still try to do my best.

Btw, yg kemaren udah komen, makasih masih inget aku ya. Aku sehat nih. Kalian juga terus dijaga itu kesehatannya, biar aktivitas gak keganggu, biar baca FF akunya juga enjoy. Sampe ketemu lain waktu, Kesayangan

.

Sincerely,

Arlene P.

103 responses to “LO(st)VE [2nd] —ARLENE P.

  1. asliiiiii… jadi kangen momen sehun illana. ah apa lah daya aku juga cuma bisa nyesek saat si kecil ngerengek minta illana balik kerumah . duhh yang sabar ya nak . pasti ada hikmahnya #elah
    ekhemmm
    semangat ya ..
    itung itung nunggu ff kamu yang lain . jadi salam kenal ..

  2. Nangis loh kak sumpah pas mervyn ngomong sama sehun tuh, sedih banget ya Allah pengen sehun ilana rujuk. Kasian mervyn sama shayla, kasian juga sama sehun ilana kaya gitu 😭😭
    Btw kak lene makin jago ya ngaduk2 perasaan reader :”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s