[Sequel Men In Black] Women in Black: The Story Begin

women in black and grey

Track List

Prev: Women in Black

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Crime, Romance, and Friendship | Sehun, Nara, and EXO | PG 17 | Line@: @NYC8880L | Wattpad: twelveblossom

“You say easily, this is fate playing,”―365, EXO

PG 17 WARNING

Aku masih mengingat dengan pasti, awal dari kehidupan baruku bermula. Sayatan yang terbekas di kulitku, mengajarkan untuk tak semudah itu melupakan. Selaras jemari meraba, perih yang lama lenyap kembali menjalar.

Aku di ujung kematian pada masa itu. Napas mulai menghilang, hanya gelap yang kusadari. Diriku hampir tenggelam dalam kebinasaan yang enggan bertoleransi. Tubuh ini mulai beku dan kaku layaknya manusia yang kehilangan jiwa. Akan tetapi, ada pelampung imajiner yang mendorong diriku untuk tetap bangkit.

Memori menyisakan tusukan tajam di seluruh bagian. Menusuk, menyayat, dan menumpahkan air garam pada luka. Kupikir aku sudah mati dengan cara tak manusiawi.

Kehidupanku terbebat, saat oksigen enggan berkoar pada panca indera. Perlahan aku tergagap mengais buliran napas. Ada yang menyentak jantung yang telah layu, terlejit―terpacu.

Napasku kembali tergenggam.

Netraku terbangun dari lelap.

Mataku memindai. Aku tak disurga. Aku, masih di neraka.

Disambut manusia rupawan serupa malaikat pencabut nyawa. Kumemindai senyum tipis, lalu kelakarnya. “Selamat datang kembali, Jung Nara.” Kata pria berlabel Oh Donghae.

“Kau hampir saja mempertaruhkan reputasiku,” sela Kim Jongin―dokter yang menanganiku.

Batas kebangkitan diriku hanya sampai di sana. Lantas terajut menjadi cerita lain mengenai alasan diriku dihidupkan kembali.

“Alasannya sederhana. Aku ingin putraku memiliki kelemahan. Kurasa kau sesuai dengan kulifikasi kami.” Jelas Sir Oh―ayah Sehun yang menjadi pilar dari seluruh kekayaan di negara ini.

Semudah itu mereka mempermainkan takdir seseorang, kadang dibuat mati kemudian dihidupkan kembali.

“Toh, dia sudah lulus ujian loyalitas. Keluarga Oh tak sekejam itu membiarkan seseorang berkeras hati.” Pria bijak yang menyandang kehormatan, meliukkan senyum tentram.

Aku setuju, mengikuti permainan sang kreator. Tahap selanjutnya pun dimulai. Aku dipertemukan dengan sepupu Sehun yang lain.

Tahun pertama, berkaitan dengan siapa diriku nantinya. Pembentukan karakter dan identitas.

Nama yang ia gunakan ketika itu ialah Junmyeon. “Panggil saja saya Jun.” Ungkapnya sangat formal. “Ahli dalam manipulasi data, pemilik dari 80% perusahaan teknologi di luar mau pun dalam negeri.” Katanya enggan memamerkan diri, lebih bicara pada fakta. Bukankah kekayaan bukan hal yang mengejutkan untuk keluarga ini dan koleganya?

Aku hanya diam menunggu. Keputusanku untuk bergeming ternyata benar. Aku dituntut untuk menjadi pendengar, sembari menyelaraskan informasi yang kudapat dengan akal sehat.

“Gabrielle atau Elle Lee, seorang gadis berusia 23 tahun. Elle putri satu-satunya model bernama Sue Park. Elle lahir di LA dan dibesarkan di sana. Berdarah campuran Amerika dan Korea, memutuskan karirnya di bidang editorial sebuah majalah fashion. Informasi lebih lanjut dapat kau pelajari dari dokumen ini.” Jelas Jun sembari mengangsurkan setumpuk kertas tebal. “Kau harus mengingat seluruh detail di luar kepala. Skenario telah disusun dari awal kau lahir sampai usiamu yang sekarang.” Lanjut Jun, menyelesaikan acara basa-basi.

Butuh waktu sebelas bulan bagi diriku agar dapat mendalami peran. Secara bentuk wajah, riasan, pakaian, dan kepribadian―diriku adalah Elle Lee seutuhnya. Tahun berikutnya kuhabiskan terikat pada jerat sepupu yang lain.

Aku masih ingat dengan jelas pertemuan pertamaku dengan Byun Baekhyun, pewaris berbagai brand pakaian ternama. Dia mengajari secara praktik bukan hanya teori yang harus kuhafalkan.

Byun Baekhyun menjadikan ijazah palsu dalam desain yang kumiliki tak hanya omong kosong biasa―ia mewujudkannya. Aku memiliki kemampuan setara dengan lulusan terbaik St. Louis―sekolah desain pakaian paling terkenal di London.

Totalnya tiga tahun yang harus kuhabiskan, menyusuri karakter baru serta membuang diriku yang lama jauh-jauh. Aku bukan lagi Jung Nara yang tidak memiliki harapan hidup.

Aku adalah Elle Lee yang punya seratus alur berbeda. Puluhan bakat. Penarik atensi manusia lain. Biang keladi dari seluruh pujian. Menarik. Satu hal penting, aku patut bahagia.

Dan kebahagiaanku ialah Sehun.

Tujuan kehidupan pertama, kedua, ketiga, dan selanjutnya adalah memiliki pria itu.

Hak miliknya ialah hartaku. Sekarang, ragaku ini pantas berada di tingkat yang sama dengannya.

Kami setara. Butuh waktu, namun kami pantas bersama.

Lebih baik terlambat atau tidak sama sekali.

Telunjuk ini menyusuri ujung pisau yang berlumur cairan kental merah. Aroma anyir darah memenuhi kamar hotel berbintang itu. Tetesan merah yang berangsur turun, mendorongku untuk menarik sudut bibir membentuk seringai.

Netraku mengalihkan atensi pada tubuh seorang wanita yang terkulai lemas kehabisan sekon demi sekon hidupnya. Kegembiraan dalam hati melesat hingga keubun-ubun ketika pisau komando menembus organ vital si wanita yang baru saja kuhabisi.

Ada rasa syukur karena malam ini pengawal pribadiku memilihkan gaun hitam tak berlengan. Pakaian yang membalut tubuh ini memudahkan diriku menumbangkan si wanita jalang. Surai merah bataku yang terangkum rapi dengan gaya minimalis, membuat diriku lebih berkonsentrasi mengukir paras si wanita.

Jangan cari masalah denganku atau aku akan melenyapkanmu, berulang kali alam bawah sadar berkoar.

“Elle! Kau gila ya?” Seru Jongin yang baru saja mendobrak pintu. Ia tak sendirian. Ada pria lain yang kukenali sebagai sepupu Do berada di sampingnya, sibuk berdecak kagum.

“Karya yang fantastis.” Puji Kyungsoo, auranya sekelam ekspresinya.

Kim Jongin, kebetulan seorang dokter spesialis bedah, agaknya merasa terkoyak akibat perilaku sinting―merusak wajah wanita rupawan―yang Jongin yakin akan lebih bermanfaat apabila wanita itu memuaskan dirinya terlebih dahulu di ranjang sebelum mati.

“Dua wanita kau bunuh dalam satu minggu.” Jongin memutar bola mata kemudian memindai diriku, memastikan tak ada segores pun luka yang terlukis di raga ini. “Kau membuat kami kelabakan.” Lanjutnya gusar.

“Jangan sok keberatan seperti itu, Kim Jongin. Toh yang membereskan kekacaun ini adalah aku dan Chanyeol.” Balas Kyungsoo dingin, namun menyeringai ke arahku―menunjukkan jika kami berada di pihak yang sama.

Aku mengedipkan mataku ke arahnya. Kyungsoo berperan sebagai mentorku belakangan ini, bertanggung jawab dalam pengajaran pembelaan diri yang mungkin akan kuperlukan nantinya. Selain hal tersebut, ia juga membantuku membersihkan belasan mayat yang ‘tak sengaja’ kubinasakan.

“Terus saja bela anak didikmu. Tunggu saja, keluhan Chanyeol.” Kelakar Jongin.

Aku mengernyit agak ngeri mendengar nama Chanyeol disebutkan untuk kedua kalinya. Chanyeol―sepupu yang mengurusi perihal keadilan, ia pengacara muda, dan juga memiliki antek-antek beberapa jaksa atau pun hakim. Karirnya di bidang hukum begitu cemerlang sekaligus gelap.

Jangan lupakan sepupu Do yang mengenakan balutan hitam dari atas hingga ujung kaki. Ia spesialis dalam konsultan kriminal, pekerjaan sampingannya adalah koki paruh waktu di ratusan restoran mewahnya. Kyungsoo ahli dalam bidang pembunuhan berencana, penyelundupan, dan pengalihan isu publik.

Perenggutan nyawa yang baru saja kulakukan, masuk ke dalam kasus remeh―bisa ditanganinya cukup dengan menutup mata. Hanya lima sampai delapan menit ia mampu membereskan. Penciptaan alibi pun masuk dalam daftar favoritnya.

“Dia masih bernapas,” Jongin menginformasikan. Pria itu menatap Kyungsoo dan diriku bergantian, menunggu argumen sebagai penyelesaian. Namun, yang diminta pendapat malah tak mengindahkan. Kyungsoo sibuk menaburkan cairan yang kuketahui sebagai penghilang sidik jari, sedangkan diriku melenggang menuju remote AC, menyalakan pendingin ruangan―bermain pisau komando ternyata meluncurkan peluh, lumayan juga sebagai pembakar lemak.

Jongin menghela napas panjang. Ia mengeluarkan sarung tangan dari balik jas. “Berikan pisau itu.” Pinta Jongin, lebih seperti gumam kesal.

Kyungsoo melemparkan senjata yang terselip di jaketnya kepada Jongin. Benda tajam kesukaannya.

Pria berkulit tan itu menerima dengan cekatan. Ia nampak meraba beberapa bagian, sepertinya memutuskan tempat yang tepat agar dapat menghunus.

Selayaknya yang telah kuduga. Ia menenggelamkan ujung runcing sampai ke dalam, tepat di jantung si wanita jalang. “Begini lebih cepat. Jika dia bertahan hidup pasti ada banyak hal yang harus diselesaikan.” Jongin memberikan penjelasan, nadanya tak menunjukkan penyesalan yang kentara karena mengakhiri kehidupan seseorang.

Kyungsoo mencibir, “Katakan saja jika kau rindu merenggut nyawa orang.” Pria itu melirik arloji sebentar, kemudian memindai diriku dan Jongin. “Tim pembersihku akan segera kemari. Kalian lebih baik pergi.” Imbuh pria bernetra lebar nan dalam itu.

Jongin menarik tanganku dalam kungkungannya. Mendorong diriku beranjak menjauh dari tempat kejadian perkara.

“Terima kasih,” kataku sebelum pergi dan meninggalkan kecupan di pipi Kyungsoo.

Penggalian motif berbentuk obrolan ringan tercipta ketika aku dan Kim Jongin merajut langkah ke dalam apartemen nomor 2301. Aku tahu jika hal ini akan terjadi. Belasan kali Jongin bertindak protektif apabila aku melemparkan diri pada masalah. Ia memikirkan banyak kemungkinan agar aku tidak terlibat.

Bukan hanya Jongin sebenarnya, seluruh sepupu Sehun berulah protektif pada kehidupan baruku. Seakan diriku ini adalah proyek penting yang harus mereka jaga. Well, sebelum aku lupa memberitahu, para sepupu mengetahui nyawaku belum melayang―mereka merahasiakan segalanya dari sang Pewaris.

“Apa alasannya seperti kelima wanita sebelumnya?” tanya Jongin.

Aku mengangguk.

“Sehun bisa curiga, lima―enam wanita yang hampir ditidurinya meninggal dalam waktu berdekatan.” Komentar Jongin sembari membuka pintu apartemen.

Aku tertawa. “Biar saja, dia mengira bahwa keinginannya bercinta menimbulkan kutukan kematian.” Balasku bermain-main.

“Kau cemburu,” simpul pria itu. Ia mempersempit spasi kami.

Raut Jongin berubah flamboyan, seringaian yang jarang dikeluarkannya tersungging.

“Sangat cemburu, aku menderita selama bertahun-tahun karena menginginkan Sehun. Sedangkan mereka hanya perlu menjadi jalang untuk bercinta dengannya. Pantasnya mereka mati lalu berenkarnasi, baru kuijinkan menyentuh tubuh priaku.” Kelakarku, intonasi arogan meluncur tanpa disadari.

Jongin membelai rahangku, tingkah pria itu membuatku mengalungkan tangan pada lehernya. Aku sedikit berjenjit agar bibir ini selaras dengannya.

Sengaja menipiskan jarak kami, aku bernapas dalam bibir pria itu. Tatapan Jongin sayu, menarikku untuk melumat bibirnya sejenak, lalu melepaskan.

“Sayang sekali, libidoku enggan naik. Kau bukan tipeku.” Jongin mengolok, namun ia kembali menautkan bibir kami tenggelam di tengah kecupan panas.

Lantaran menanggapi, aku sibuk menarik surainya yang berantakan memperdalam ciuman kami. Sesekali bergulat, menelusup, dan menelusuri pria itu. Tak hanya demikian, Jongin menelusuri leher jenjangku. Aku menengadah memberikan kepuasan tersendiri untuknya. Ia menyecap gigitan kecil yang membuatku melenguh, menjambaknya semakin kuat.

Sepertinya malam ini akan jadi sangat gerah dan menggairahkan.

“Luar biasa, aku seperti menonton film porno secara langsung.” Teguran lantang disertai decakan, memutuskan keintiman kami.

Aku mendorong Jongin menjauh, sementara pria yang baru saja akan bercinta denganku mengancingkan kembali beberapa buah kaitan yang berhasil kubuka. Kami sama-sama terfakur, kacau, serta hilang arah selama beberapa sekon.

“Kau selalu mengganggu kesenangan.” Timpalku sembari berpatut pada cermin besar di ruang tamu. Menelusuri bekas kemerahan yang baru saja dibuat Jongin pada tubuh ini.

Sebelum kalian berpikir yang tidak-tidak, aku dan Jongin tak terlibat percintaan konyol. Kami hanya berlatih bercinta, praktik keintiman yang harus kulakukan secara langsung.

Alasannya?

Agar diriku tidak kelihatan layaknya gadis lugu yang belum pernah bercinta. Latar belakang baru menuntut agar tubuhku terkesan seperti sudah terjemah. Pria yang berkesempatan melakukan tugas mulia itu ialah Jongin seorang dokter spesialis―entah apa―yang memiliki pengetahuan atas reproduksi wanita dan pengalamannya dalam berkencan lebih banyak daripada sepupu lain.

Aku melirik cengiran Jongin. “Yang tadi itu akan jadi menyenangkan. Kami belum sempat melakukan apa pun di ruang tamu atau sofa. Bercinta di meja makan atau pun dapur lumayan juga.” Timpal Jongin tidak tahu malu.

Kelakuan Jongin membuatku terbatuk, setengah tersedak. Netra ini menandasnya, memberikan ultimatum agar ia tutup mulut dan berhenti mengoarkan kegiatan kami selama dia menjadi mentorku.

Pria tinggi besar, bersurai hitam, dan berparas tampan itu mulai memutar bola mata. Jengah. “Sungguh mengesankan, Elle. Kau membunuh seorang wanita lagi. Seakan diriku tak terlalu sibuk membersihkan semuanya.” Imbuh Park Chanyeol, memulai topik lain―enggan mengacuhkan ocehan sepupunya―Jongin diam, syukur jika dia tersinggung.

Aku tertawa tipis. “Ini minggu terakhirku berada dalam pengawasan kalian. Setelah ini, aku mulai berada di sekeliling Sehun.” Kataku sembari menawarkan duduk kepada dua pria itu.

Aku menatap mereka satu persatu. Menunggu respons lain yang mungkin akan digelontorkan. “Tidak ada tanggapan atas pernyataanku?” tanyaku kembali, mulai penasaran dengan kebungkaman mereka.

Chanyeol mencebik. Ia menggulung lengan kemeja putihnya, menyugar surai sebelum menanggapi. “Dengar, dua hari lagi adalah peluncuran hotel baru Sehun di Busan. Kami berencana untuk melepasmu lusa.” Pria itu berseloroh.

Aku terperangah sejenak lalu berkata, “Akhirnya yang kutunggu datang juga.”

Kini giliran Jongin yang membuka mulut. “Besok kau akan pergi ke bandara melengkai alibi. Kronologis lengkapnya akan dijelaskan Jun sebagai ketua operasi. Intinya kau baru sampai dari LA kemudian menginap di hotel. Selang beberapa hari dirimu akan pindah ke apartemen yang tidak jauh dari kantor Sehun. Luhan yang mengurus apartemen baru. Asal-usul kedatangan sangat penting, Sehun akan menyelidikinya untuk pertama kali jika ia tertarik pada dirimu.”

“Apartemen lagi, apa atas namaku?” aku bertanya curiga.

Chanyeol mengiyakan. “Dia punya ribuan apartemen. Menyumbangkan satu padamu tak lantas membuatnya jatuh miskin.”

Aku mendengus. “Baiklah, senang mendengarnya.”

“Sir Oh merencanakan ini selama bertahun-tahun. Akan tetapi, bukan berarti Sehun membutuhkan waktu yang lama juga agar dapat membongkarnya.” Kelakar Jongin, netranya berfokus pada diriku. Ia menggenggam jari-jari ini kuat. “Sehun pasti akan mengetahui siapa dirimu secepat mungkin. Jaga diri baik-baik.” Lanjutnya.

Aku menelangkup paras Jongin, memberikan ketenangan padanya. Cukup beralasan jika hatiku mulai menyukainya sebagai kawan. Pria yang merawatku, semenjak tubuh ini masih berperan sebagai Jung Nara hingga Elle Lee. Dia yang mendampingiku, selalu ada di mana pun aku membutuhkannya.

“Aku bisa menjaga diri, Kim Jongin. Kyungsoo telah mengajari cara menggunakan pisau dan senjata api. Aku lulus ujiannya, kalau kau lupa.” Ungkap bibirku, sebelum pembahasan lain kembali terbuka sepanjang malam ini.

oOo-

a/n: Part selanjutnya ada sini. Permintaan password bisa melalui Line@: @NYC8880L. Terima kasih sudah membaca ^^.

3 responses to “[Sequel Men In Black] Women in Black: The Story Begin

  1. wooaaahh seru bgt…namanya nih balas dendam pake cinta…wkwkwk
    parah ni si elle sampe bunuh….
    ak tunggu
    keep writing!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s