Beautiful Monstar – Part

babalee___beautiful-monstar-copy

 

Beautiful Montar

Byun Baekhyun, Kim So Hee

Marriage Life, Family, Friendship, Drama, adult,

 

1

 

 

Aku pikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk ladies’s time. Minseok oppa sibuk bekerja dan Baekhyun, ah pria itu , entahlah. Sejauh ini sepertinya kami masih dalam tahap bertengkar karena sudah delapan jam sejak terakhir kami bertemu, dia sama sekali tidak menghubungi atau datang sekedar untuk menyapa. Dan bahkan dia sama sekali tidak berbicara denganku selama dua hari ini. Barangkali tuan Byun itu sedang menghabiskan waktunya dengan sektertaris sexynya. Well, aku tidak peduli. Terserah lah!

Baiklah, aku harap Minseok mengatakan dia sedang bersama Baekhyun.

Sore ini aku mengajak Jimin unni  untuk bertemu di rumah ibu hingga tiga wanita ini bisa bersama saling bergosip atau membicarakan masa lalu, menertawakannya bersama. Setidaknya aku bisa tertawa dan membuang segala penat. Ngomong-ngomong aku ini gadis kurus dengan masalah sebesar wanita gemuk. Mulai dari Sehun yang tidak memberiku kabar sampai sekarang, Baekhyun dan Ji Hyun, Baekhyun yang marah padaku, dan Jinri, kalau bom barangkali aku bisa meledak sekarang juga.

Aku ingin menghambur pada Kyungsoo dan menceritakannya segala yang sedang terjadi. Tapi rasanya aku terlalu malas untuk sekedar datang ke apartementnya. Jadilah di sini kami. Duduk di atas karpet ruang tengah bersama dengan musik klasik permintaan Jimin unni, katanya untuk kebaikan anaknya dan berbagai macam makanan. Mulai dari makanan berat sampai cemilan. Aku tersenyum kecil.

“Aku tidak tahu kapan kau mulai suka Lasagna.” Kata Jimin unni membuatku berhenti mengunyah. Aku tersenyum kecil lalu menggendikkan bahu acuh tak acuh. “Tapi itu bagus.” Lanjutnya, “Aku bisa berbagi Lasagna denganmu. Ini menyenangkan!”

“Ibu juga heran. Bahkan mencium bau Lasagna kau selalu pucat. Ada apa ini?” Tanya Ibu dengan membawa banyak album foto dalam tangannya. Lagi-lagi aku menggendikkan bahu sebagai jawaban. Aku juga sebenarnya tidak tahu kenapa. Akhir-akhir merasa seperti merasa lidah mengkhianatiku. Apapun yang tidak ku suka jadi kebalikannya sekarang.

Perut besar Jimin unni benar-benar sudah terlihat jelas. Kalau aku tidak salah ini sudah bulan ke enam? Sebentar lagi aku akan menjadi Bibi! Ini menyenangkan. Membayangkan bisa menggendong bayi, membantu Jimin unni dan menyanyikan lagu tidur untuknya. Ah, aku berharap bisa punya bayi juga.

“Ibu selalu menunggu saat-saat seperti ini!” kata Ibu sambil mengambil salah satu album foto. “Berbagi kenangan masa lalu sesama wanita. Dulu saat punya So Hee, ku pikir dia akan tumbuh menjadi gadis feminim yang bisa diajak pergi belanja bersama. Kau tahu kan itu adalah keinginan setiap ibu pada anak gadisnya.”

Aku mendelik, “Ibu, kita melakukannya, all the time! Berbagi pakaian dan alat makeup! It’s not enough for you, Mom?

Kali ini jelas aku melihat ibu mendelik, “It’s more than enough! Tapi Jimin percayalah semuanya mulai agak berubah saat anak gadisku mulai berdekatan dengan pria-pria tengil. Mereka  membuat anak gadisku jadi setengah wanita setengah pria!”

Pria-pria tengil memang kata yang cocok untuk mereka bertiga, yah siapalagi kalau bukan Chanyeol, Kyungsoo dan Baekhyun.

“So Hee memang sudah pada lahirnya galak, tidak tahu malu, dan egois, tapi setidaknya dia punya sedikit sifat feminim. Dan ketika berteman baik dengan tiga orang itu, sedikit sifat feminimnya makin sedikit.” Ibu membuka kasar album foto. Aku terkekeh diam-diam. Lagipula tidak ada niat untuk jadi gadis anggun seperti Lady Diana. Jadilah, aku yang apa adanya begini. Hey aku juga tidak terlalu tomboy!

“Ah iya So Hee aku penasaran bagaimana bisa kau berteman begitu baik dengan pria. Kau tidak punya teman wanita? Teman baik begitu?”

Aku menelan Lasagna cepat lalu mengusap bibir dengan punggung tangan, “Aku punya!” dan saat akan menyebut namanya seketika yang ada di dalam pikiranku hanya Chanyeol, Kyungsoo dan Baekhyun yang sedang mengikuti cosplay dan memakai pakaian wanita. “Oke, aku tidak.”

Ibu tertawa sarkastik. Aku mendelik, meraih salah satu kripik yang berserakan di karpet. Ibu membuka salah satu album foto dengan warna biru tua dan bertuliskan Kim Minseok di bagian sampulnya. Ini adalah album foto oppa dari mulai dia baru lahir sampai dengan kalau tidak salah sampai dia SMA. Album tiap anak memang sangat tebal sekali.

Ibu duduk beringsut mendekat pada kami. Aku sebenarnya sudah mendengar cerita ini beberapa kali. Tapi rasanya berbeda jika ada orang baru mendengarkannya juga. Ibu membuka halaman pertama, di sana ada foto pernikahan ayah dan mantan istrinya Nyonya Mei.

“Kau tahu kan, aku adalah istri ketiga dari ayah So Hee, Kim Jung Dong. Istir pertamanya adalah Liu Mei, dia asli China dan melahirkan Minseok.” Ibu membuka beberapa halaman berikutnya, “Nah lihat ini Minseok saat bayi. Dia lucu sekali.”

Jimin unni mengambil alih album, dia melihat foto suaminya baik-baik. “Dia adalah anak pertama yang sangat kuat. Pasti rasanya sulit punya ayah yang senang bermain dengan wanita. Dan rasanya wajar jika dulu dia membenciku dan So Hee.” Aku merasa Jimin unni menatapku. Tapi sejujurnya itu masa lalu dan aku sudah tidak peduli lagi sekarang.

Aku melirik ibu sekilas, dia sedang menatap tanpa arah yang jelas, mengenang masa lalu dan rasanya pasti berat. “Lalu Kim Jung Dong berselingkuh dengan Yoo Kang Ja hingga hamil Suho. Karena tidak terima, Nyonya Mei meminta cerai, dan Kim Jung Dong memenangkan hak asuh atas Minseok. Sampai Suho lahir dan sudah duduk di sekolah dasar, mereka bercerai dengan alasan Kang Ja bermain dengan pria lain. Dan hebatnya lagi, Kim Jung Dong berhasil mendapatkan hak asuh atas Suho. Sampai akhirnya pada suatu hari, kami bertemu di London.” Ibu menjeda sambil tersenyum kecil, “Usia kami terpaut sekitar delapan tahun. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku benar-benar terpikat pada duda beranak dua itu. Kami menikah dan punya anak. Tapi tidak bisa begitu, pernikahan kami jelas banyak sekali masalah. Mulai dari dua mantan istri yang menuntutnya sampai Minseok dan Suho yang membenci kami berdua.” Ibu menghela nafas pelan. Aku melihat banyak sekali beban dan rasa lelah dalam raut wajahnya.

Ibu sudah berusia sekitar 55 tahun. Tapi beliau masih terlihat sangat manis dengan rambut pirangnya. Matanya berwarna coklat dan senyumnya semanis Lady Diana. Malah menurutku jauh lebih manis ibu.

“Apa yang Minseok dan Suho lakukan pada kalian?” Tanya Jimin terlihat penasaran. Aku kembali pada masa lalu.

“Yah memperlakukan kami seperti kami tidak pernah hidup di dunia ini.” Aku menjawab seadanya sambil memasukkan keripik ke dalam mulut. Ibu menyenggolku, dari raut wajahnya, terlihat jelas beliau sedang memperingati anak gadisnya untuk berbicara lebih baik lagi.

“Apa? Aku benarkan? Minseok oppa dan Suho oppa tidak pernah menganggap kalau kami benar-benar ada. Dia selalu melewati ibu dan aku begitu saja. Atau kadang membalas ucapan kami dengan kata-kata yang tajam. Kalau aku jadi ibu jelas aku pasti akan sangat sakit hati.”

“Benarkah? Mereka berdua kekanakan seperti itu?” Tanya Jimin lagi.

“Yah kami semua memang masih kanak-kanak dan memang sudah sewajarnya berlagak sok dewasa padahal itu benar-benar memalukan!”

“Kau mengatakannya seperti benar-benar tidak merasakan apa-apa.”

Jimin unni mengangguk setuju dengan apa yang baru saja ibu katakan. Aku menggendikkan bahu acuh tak acuh. Kembali memakan kripik sambil membuka-buka album foto.

“Lalu, bagaimana kalian semua bisa akur?” tanyanya lagi, seketika aku menjentikkan jari di depan wajahnya.

“Pertanyaan bagus,” kataku sambil membenarkan posisi duduk, “Saat itu kami bertengkar hebat karena aku Minseok dan Suho oppa terus merendahkan aku dan ibu. Maksudku, tidak apa-apa jika itu aku, tapi ibu, aku tidak bisa terima. Meski usiaku masih sangat sangat bocah, aku melawan dua pria yang sedang masuk masa pubertas. Kami bertengkar hebat sampai tidak sengaja Minseok oppa mendorongku jatuh dari tangga dan menyebabkan aku patah tulang, retak tulang rusuk dan benturan kepala ringan. Sejak saat itu pelan-pelan mereka mulai perhatian padaku.” Jelasku kemudian.

Aku tidak terlahir dengan kapasitas otak di bawah rata-rata. Jadi jelas aku mengerti polemik yang terjadi di keluarga Kim ini. Terlebih pada ayah, mantan istrinya dan anak-anaknya tentunya. Tapi apa untungnya mengungkit masa lalu? Lagipula, semuanya sudah berubah, setiap orang tidak dapat bahkan hanya untuk merangkak pada waktu yang telah bergulir. Aku lebih senang menganggapnya sebagai sejarah.

“Oh lihat ini Minseok telanjang! Lucu sekali!” pekik Jimin unni membuatku tiba-tiba ingin melihat bagaimana ‘rupa’ kakakku yang satu itu. Buru-buru kami bertiga beringsut mendekati Jimin unni. Bocah dalam foto itu, benar-benar telanjang. Mellihat dari tinggi badannya dia pasti berada di sekitar usia dua atau tiga tahun. Satu tangannya terangkat memegang telinga. Mulutnya terbuka lebar, wajahnya merah, dan air mata terlihat jelas tercetak pada pipinya. Minseok kecil menangis sambil telanjang.

“Apa sekarang oppa masih sebesar ini?” aku menunjung salah satu anggota tubuhnya di bawah perut. Benar-benar penasaran. Sampai pada akhirnya, aku sadar Jimin unni dan ibu menatapku tajam. “Apa? Aku hanya Tanya?”

Terdengar suara langkah kaki dari pintu utama. Rasanya tidak heran karena tawa Minseok oppamenggelegar. Seperti baru mendengar lelucon dari comedian nomor satu di dunia. Dan sepertinya dia sudah gila karena tertawa sendiri! Bayangkan saja, orang waras mana yang baru masuk rumah langsung tertawa keras begitu.

“Oh! Kalian sedang melihat apa?” Tanya Minseok. Aku sama sekali tidak melihatnya karena memang tidak penting. Netraku masih fokus pada foto-foto Minseok oppa saat masih kecil. Aku tidak tahu dulu dia pernah seimut ini.

“Hey lihat! So Hee telanjang! Imut sekali!!”  kalau tidak salah yang baru saja memekik adalah suara Baekhyun? BAEKHYUN?!!

Aku menatap pria berjas di sampingku. Duduk sambil menatap serius fotoku yang sedang mandi di bathup. Sial, kenapa aku harus punya foto seperti itu?

“Kenapa kau di sini?!” tanyaku seketika. Baekhyun mengalihkan pandangannya jadi menatapku dengan kening berkerut.

“Ada yang salah? Aku ingin mengunjungi ibu mertua. Tidak adil kau datang ke sini sendiri.” Balas Baekhyun kembali melihat album fotoku saat masih kecil.

Jimin unni bangkit lalu meraih jas kerja Minseok oppa. Pasangan itu sangat romantis sekali. Aku melirik Baekhyun yang tertawa kecil bersama ibu. Mereka menertawakan Kim So Hee kecil bersama! Menyebalkan.

“Kalian bertengkar?” Tanya Minseok yang ikut duduk bersama di karpet.

“Ya!”

“Ya.”

Hebatnya, kami menjawab pertanyaan bersamaan dengan nada yang jauh amat sangat berbeda. Baekhyun mengatakannya dengan tenang sedang aku bersungut-sungut. Well sebenarnya Baekhyun yang sedang marah di sini. Dia bahkan tidak berbicara padaku untuk dua hari. Dan sekarang? Pria itu bersikap seolah tidak ada hal berarti kemarin-kemarin.

“Pasangan muda memang akan sering bertengkar.” Timpal ibu.

“Tidak ibu, kami memang sudah sering bertengkar dari sekolah dulu. Jadi tidak aneh jika sekarang atau nanti kami akan bertengkar lagi.” Jawab Baekhyun sambil tersenyum lebar pada ibu. Aku mendelik. Penjilat!

“Ya, jadi tidak usah pedulikan bahkan jika kami saling melempar peluru!” aku membuka keras-keras lembar foto yang selanjutnya.

“Aku tidak yakin itu hanya peluru. Barangkali kau akan meledak seperti kembang apai.” Baekhyun terkekeh pelan. Aku meliriknya, dia sama sekali tidak menatapku. Netranya masih fokus pada album fotoku. “Baby yo’re firework comeon show me ‘em what you’re worth make ‘em go ahh ahh ahh” dia mulai bersenandung.

“Yah lebih baik meledak dari pada menahannya seperti seorang pengecut.”

“Mengalah adalah kata yang lebih tepat.”

“Oh ya? Kapan kau BISA mengalah?”

“Kau lupa, terakhir saat kau berselingkuh dengan mantan pacarmu aku mengalah untuk tidak marah padamu!”

“Kau marah! Kau tidak mengacuhkanku sama sekali selama dua hari! Dan, Selingkuh? Kau tidak sadar kau sendiri selingkuh dengan sekertarismu, setiap waktu!”

“Aku tidak selingkuh! Dia sekertarisku dan sudah sewajarnya kami bersama-sama.”

“Ya bagus. Aku dan Luhan juga teman sekaligus mantan pacar saat kuliah dulu, jadi sudah sewajarnya kami bersama-sama.”

Baekhyun mendengus keras sekali, aku bisa melihat matanya mulai membulat hampir keluar, “Itu beda, kau pergi makan bersama!”

“Sudah ku bilang aku pergi bertiga dengan Jinri! Dan kau makan siang dengan Ji Hyun! BERDUA!!”

“Lalu aku harus mengajakmu yang sedang merajuk denganku? Kau jelas akan menolak! Dan kau menggantikan waktu makan siang, biar ku tebak kau makan berdua dengan laki-laki?”

Aku tercekat, hampir tidak bisa menjawab ucapan Baekhyun, tapi setelah itu aku menarik nafas kembali menatapnya tajam, “Ya. Memang. Kenapa? Ada masalah denganmu?”

“Ya tentu saja! Kau marah-marah karena aku pergi dengan Ji Hyun berdua. Sedang kau malah asik sendiri dengan pria, lagi.”

“Aku tidak marah-marah, kau yang lebih dulu marah saat kejadian di bar waktu itu!”

“Kau mengungkit masa lalu?”

“Kau juga mengungkit masa laluku dengan Ji Hyun!  Ada apa denganmu kenapa sensitive sekali dengan Ji Hyun?”

“Karena dia mantan pacar terhebatmu!! Dan kalian masih saling mencintai!”

“TIDAK-“ Baekhyun tiba-tiba menghentikan ucapannya, raut wajahnya seketika berubah menjadi lebih melunak. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu kembali membuka mulutnya, “Kau cemburu?”

“Ya!”

“Lalu,” Baekhyun berhenti sejenak, “Kau mencintaiku?”

Cinta? Kenapa dangkal sekali. Apa cemburu selalu dikaitkan dengan cinta? Baru aku akan membuka mulutku, seketika aku sadar, hanya ada kami di sini saling menatap dengan api menyala-nyala dalam tubuh. Sial, saking kesalnya bertengkar dengan Baekhyun, aku sama sekali tidak melihat mereka melangkah pergi.

Aku bergerak segera membenarkan rambutku sebentar lalu pergi meninggalkan Baekhyun menuju, kamarku. Yang hanya satu tempat itu yang ada dalam pikiranku. Setidaknya di sana aku bisa benar tidur atau pura-pura hingga pria itu tidak akan berbicara lagi denganku. Pertengkaran kami terlalu kekanak-kanakan. Selalu.

“So Hee! So Hee!  Dengarkan aku!”

Aku tetap berjalan menaiki tangga. Masih mendengar suara langkah kaki Baekhyun mendekat, tetap memanggil namaku. Sampai saat kakiku berada tepat di depan pintu, seseorang menarik lenganku cepat sampai menghentikan langkahku.

“Masalah tidak akan pernah selesai jika kita terus menggunakan emosi.” Katanya tajam lalu seketika mendorongku masuk.

Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi setelah kami masuk, pintu tertutup rapat atau bahkan terkunci. Tatapan Baekhyun tertuju padaku dengan kedua tangannya mencengkam pundakku erat. Tatapannya, sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Telalu serius dan terlalu bukan Baekhyun. Itu seperti, orang lain yang menguasai tubuhnya.

Dia menutup mata sebentar lalu menghela nafas pelan. Ketika mata itu terbuka, tatapannya berubah jadi menenangkan seperti biasa. Baekhyunku. Mata itu, seolah aku benar-benar ingin menyelam ke sana dan tidak akan pernah pergi lagi.

“Kau mencintaiku?” tanyanya lagi. Aku diam. Mencoba memalingkan wajah lalu dia kembali menarik wajahku agar dapat melihat ke arahnya. Matanya menuntut. Aku melepaskan lengannya dariku. Membuang nafas kasar lalu menyisir rambut dengan lima jari.

“Tidak Baekhyun. Aku memang cemburu tapi aku tidak mencintaimu. Kenapa pikiranmu dangkal sekali? Apa cemburu selalu dikaitkan dengan cinta?”

“Ya So Hee, cemburu selalu dikaitkan dengan cinta.”

“Baiklah!” aku menaikkan nada suaraku. Seketika aku menyesal. “Aku cemburu. Aku mencintaimu. Sebagai seorang teman. Sahabat.”

“Apa?”

“Ya Baekhyun aku mencintaimu sama seperti aku mencintai Kyungsoo dan Chanyeol. Aku cemburu padamu sebagai seorang teman mengerti? Sama ketika jika kalian menghabiskan waktu bersama orang lain tanpaku. Aku cemburu karena mereka membawa temanku. Aku pikir cemburu seperti itu.”

Aku tidak tahu apa yag pria itu pikirkan. Tapi diamnya membuatku yakin kalau dia sedang kecewa sekarang. Baekhyun tersenyum kecil. Kakinya melangkah pelan mendekatiku. Seperti lupa bagaimana cara bergerak, kedua kaki ini tetap diam. Kedua tangan Baekhyun lalu meraih rahangku. Matanya menatapku sebentar, “Kalau begitu aku akan membuatmu jatuh cinta padaku sebagai seorang wanita pada pria.”

Rasanya waktu berjalan terlalu cepat atau dia memang berhasil membuatku terpana sampai saat aku mengedipkan mata bibirnya sudah meraup bibirku. Lebih terkesan buru-buru. Tanpa sadar aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya. Dia mendorongku mundur menuju tempat tidur. Sedetik kemudian, dia menjatuhkan dirinya dan aku sama sekali tanpa melepaskan pagutan.

Bibir ini masih sama. Ciuman ini. Aku menyukainya sangat dan tidak pernah sekalipun merasa bosan. Permainannya menuntunku bergerak lebih agresif dari sebelumnya. Sialnya kenapa dia bisa begitu lihai memainkan lidah kami. Kepala kami bergerak ke kanan dan ke kiri terus mencari posisi yang nyaman.

Seharusnya salah satu atau bahkan kami berdua bertengkar. Salah satu melepas lalu pergi begitu saja dengan amarah yang mengepul dalam kepala. Tapi kami bahkan saling bercumbu di atas kasur. Dia menggigit bibirku. Dirasa, tangannya bergerak membuka pakaianku. Melepas tiap kancing kemeja yang kugunakan.

Bibir Baekhyun beralih turun mulai mengecup leherku bahkan sampai menggigitnya. Tanganku meremas rambutnya lalu menarik kepalanya kembali untuk mencium bibirku.

Ini salah

Tentu saja salah

Tapi tidak ada yang dapat menghentikannya

Aku suka ketika dia tersenyum padaku. Aku suka ketika dia ada di dekatku. Aku suka ketika dia memeluk tubuhk. Dan aku suka ketika dia menciumku. Tapi aku tidak mencintainya.

Ini aneh aku tidak mencintainya atau aku tidak ingin mencintainya?

Pintu tiba-tiba terbuka. Ibu berada di ambang pintu dengan tubuh membeku. Baekhyun menghentikan aksinya. Kami sama-sama melihat kea rah ibu.

God!” Ibu membelalakkan matanya sambil menutup mulut dengan ke dua tangannya. “Sorry, oh god!” Aku segera mendorong Baekhyun. Kami berdua terperanjat salah tingkah. “Sumpah aku tidak tahu kalau kalian ah, makan malam sudah siap.”

Ibu menutup pintu sambil membantingnya keras. Aku menghela nafas pelan. Mengusap wajah kasar merasa malu sendiri. Kenapa ceroboh sekali sampai tidak mengunci pintu tadi? Kenapa ibu tiba-tiba masuk begitu? Dan pada akhirnya aku bersyukur, kalau tidak ada ibu tadi, mungki kami sudah melakukannya sekarang.

“Kau selalu menggoda So Hee.” Kata Baekhyun tiba-tiba. Sampai pada akhirnya aku sadar dia sedang mengkancingkan kemejaku. Aku buru-buru mundur dan mengambil alih untuk mengkancingkan kemejaku sendiri, sial, cepat sekali Baekhyun membukanya tadi. “Apa kita sudah baikan?” tanyanya sambil tersenyum manis, “Aku minta maaf So Hee sayanggg.” Katanya segera mengecup bibirku. Aku menatapnya kesal.

“oke kita damai asal pulang ini belikan aku jajangmyun.”

Baekhyun mengerutkan kening, “Kita kan akan makan?”

“Aku tidak peduli. Aku mau Jajangmyeon, dan bibimbab.”

“So Hee, kau rakus sekali.”

 

TBC

 

 

Maafkan sekali untuk keterlambatan updatenyaaa T_T

Awwww gimana part ini gimna?? Anehkah? membingungkankah????? atau maksain banget? HUUUUU T_T maafkan aku tapi aku selalu berusaha biar cerita ini dapet feelnya. Aku baca semua komennya hehehe makasih yaaa aku sukaaa, jangan lupa RCL nyaaaa

Hey guysss, pomo dikit yaaa, yang punya ask fm atau tumblr boleh dong follow, wkwkwkwk

ask.fm @angginindyasari

tumblr @anindya22

maaciiihhhh

21 responses to “Beautiful Monstar – Part

  1. kipas mana kipas? panas wehh haha

    akhirnyaa baikan juga. aku kesel sama so hee, itu udah jelas2 kalo dia cinta sama baekhyun, tapi knapa dia g peka juga sih? kan kasian baekhyunnya😦

    aku ttep suka sama ff nya, next part sangat2 ditunggu ^^ kalo bisa postingnya jgn lama2 yaa hihi
    semangat author..

  2. zzzzz………. sohee kayaknya lebih ke tidak ibgin mencintai iya gak sih? jelas jelas dr tngkah sohee dia cinta baekhyun… dan aku harap sohee ternyata hamil huhuhu bakalan seru…… ditunggu kelanjutannya ^^

  3. haha mreka itu lucu. Tp si Baek pinter ngademin SoHee.. sm2 jealous tp yg satu g mw ngaku terus terang -_- Bagus authornim…. ini bru part 1 kn? at emg ud ad crita sblmny? oke next next ditunggu s)

  4. Sohee klo udah kena serangan Baekhyun, kalah. Menang adu mulut doang sih. Sohee yg kayak beeusaha bgt biar gak cinta sama Baekhyun padahal aslinya udah stuck bgt. Ditunggu part selanjutnya^^

  5. Akhienya,,,, setelah sekian lama, ff ini muncul juga. Ini Sohee sudah hamilkah, kayaknya dia hamil deh soalnya dia jadi sensitif trus kelakuannya agak aneh. Mangga, dipastikan di part berikutnya ya…. kkkk

  6. belum ada sweet sweetnya ya mereka berdua
    selalu berdebat dan berdebat
    so hee mau bilang cinta sebagai wanita aja susah banget pake ngomong cinta sebagai sahabat

  7. ini part berapa eonni? aku baru baca chapter ini tp aku skip skip, keren deh walau cuma di skip skip
    aku prnh nemu ini ff tp aku blm baca dr awal, takutnya pas aku udh jatuh Cinta bgt (skrng pun udh sebenernya) ntar gk di update lg, jadi kan nyesek, jd aku selalu nunggu klnjtan ff ini walau aku blm baca dr chapter 1 sampai chapter ini
    ini ff psti dilanjut kan eonni? aku tunggu sampe end pokoknya

  8. hay salam kenal. sesungguhnya aku reader baru untuk tulisanmu ini. menyenangkan membacanya, jalan cerita membuatku sangat tertarik. dan aku masih punya tanda tanya besar “Beautiful Monster” dua hari satu malam aku membaca cerita ini dari awal sampai di chapter ini, tapi aku masih belum menemukan siapa dan apa yang dimaksud sama author dengan dua kata “Beautiful Monster” yang berhasil membuatku penasaran seperti apa cerita di dalamnya. dan awalnya aku mengira tokoh antagonisnya yang akan menyakiti SoHee adalah Jihyun dikarenakan melihat dari poster yang terpampang nyata di bagian awal. oh ya ini belum fokus ke misteri kematian Suho dan ayah SoHee ya? atau memang pada cerita sesungguhnya itu hanyalah kematian biasa? aku tau tidak akan diberi tau namun aku harap author memberi cue yang lebih jelas. oh aku penasaran kenapa semua orang menyembunyikan identitas korban kecelakaan SoHee. omong-omong kapan mereka akan berbaikan kurasa BaekHyun dan SoHee terlalu lama saling merajuk:v.
    baiklah aku tunggu cerita selanjutnya maksudnya chapter selanjutnya apa ada jadwal pada hari tertentu Fanfic ini akan di update? kalau ada mohon di beri tau ya hehehe maklum aku pembaca baru untuk judul cerita author ini terima kasih dan TETAP SEMANGAT UNTUK DI NEXT CHAPTERNYA AKU MENUNGGU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s