Perfect Flaw (Chapter 9) —ARLENE P.

PERFECTFLAW1

Perfect Flaw

When the ego killing every promise …

⌈ MAIN CAST ⌋

Sehun Silverstein

Denham | April 12th, 1992

Sehun PF 1

.

Ilana Kim

San Francisco | December 1st, 1993

14195423_1105818866161143_8781392621106939008_o

.

Park Chanyeol

Denham | November 27th, 1991

????.


Gracelynn Walton

Bestonville | January 1st, 1993

GRACE1

– Ξ –

⌈ ANOTHER CAST ⌋

Williard  Sena – Baekhyun  Evelyn

also

LayKris  Adelle

..

⌈ Denham & London (UK) ⌋

⌈ AU ¶ Multi-chaptered⌋

⌈ RATE : PG-17

⌈ GENRE ⌋

Romance, Drama, Hurt/Comfort, Angst, Family, Friendship, Brothership

.

⌈ DISCLAIMER ⌋

I ordinary own the plot and I’ve try my best to make this absurd story. So, don’t be siders or plagiators, please. Don’t forget to read the Author’s Note below. PENTING!

.

⌈ RECOMMENDED SONG ⌋

2PM – A.D.T.O.Y

Taeyeon – All With You

Taeyeon – U R

Mamamoo – My Everything

2PM – Promise (I’ll Be)

.

⌈ PREVIOUS PART ⌋

TEASER || MEET (AGAIN) [1] || GOT THEIR FEELING [A] [B] || NEVER TOO LATE [4] || THE TRUTH [5] || HURTS [6] || LONDON LOVE STORY [7] || US, TRUST [8]

.

Arlene©2016 | DARKLENE

.

⌈ NOW PRESENT ► PAIN | 6.479 words ⌋

.

.

.

Ketika waktu tidak menyembuhkan apa-apa dan hanya mengajarkan mereka untuk terbiasa hidup bersama luka; sesak.

.

PF

“Kalian manis ya kalau bersama?”

Lima kata, sebelas silabel. Tanpa penekanan, namun mampu diserap dengan baik oleh keempat manusia lainnya. Bergaung nyaring sebelum lenyap dilumat tawa renyah Sehun. Satu perubahan yang tak pelak menuai heran, hingga Evelyn tak kuasa menekan kuriositasnya. “Kau ini sedang cemburu atau apa? Tadi marah, lalu tiba-tiba tertawa. Penyakit gilamu sedang kumat ya?”

Sehun menggeleng cepat, berusaha meredakan derai tawanya yang kian memarah di pengujung kalimat tanya sang adik. Sengaja merendahkan tubuh guna melabuhkan satu kecupan lembut di puncak kepala Ilana. Singkat namun penuh makna. Berhasil melarikan aliran darah Ilana hingga ke puncak kepala, sampai akhirnya meledak dan membakar kedua pipi gadisnya tersebut hingga merona.

Entah Ilana yang terlalu pemalu atau memang Sehun yang urat malunya sudah putus, tapi hal yang sama selalu terjadi setiap kali Pria Silverstein ini menunjukkan rasa cintanya secara terang-terangan. Tak peduli tempat, tak peduli waktu, karena yang terpenting, Sehun ingin seluruh dunia tahu betapa besar ketulusan yang ia miliki untuk seorang Ilana Kim.

Picisan? Memang. Tapi sekali lagi, apa peduli Sehun?

Maka dari itu, di saat Ilana kesulitan menutupi wajahnya yang memerah hingga ke telinga, Sehun justru dengan ringannya menjatuhkan pantat. Mengambil tempat kosong di sisi lain Ilana. Menyiksa gadisnya tersebut secara tak kasat mata lantaran harus terjebak dalam kungkungan tubuh tegapnya dan juga Chanyeol. Dua pria tampan, pun kaya raya yang mampu menawarkannya ketulusan cinta seumpama Romeo, namun tak pernah sampai hati membuat Ilana mati sia-sia seperti Juliet.

“Kenapa aku harus cemburu? Sebenarnya tadi kalimatku belum selesai,” Sehun kembali angkat bicara. Bertopang dagu dengan obsidian yang terarah lurus pada Ilana dan juga Chanyeol. Memertahankan senyum satu sudut selama beberapa detik, lantas menambahkan, “Ilana-ku bersama Chanyeol itu seperti majikan dan supir pribadinya yang patuh. Bukankah itu manis?”

“Sialan!” Chanyeol mengumpat kecil, kemudian menimpali, “Tidak masalah, sih. Toh dengan begitu aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Ilana.”

Skak mat! Sehun kontan memberengut. Menyesali guyonannya yang kini jadi boomerang. Membuat dirinya terempas jatuh secara dramatis, setelah cukup lama memenangkan medan. Dan, Sehun yang tengah sebal ini pun kembali dengan sikapnya yang kekanak-kanakkan. “Sebanyak apa pun kalian bersama-sama, Ilana tetap sudah memilihku. Ingat, kan? Jadi, jangan buat aku melukaimu lebih jauh dengan kebenaran yang lain.”

Kalimat terakhir Sehun berhasil menikam ketulusan Chanyeol tepat di inti, meski tidak dengan pertahanannya. Alih-alih berduka, Pria Park tersebut lebih memilih untuk melepas tawa. Bergegas meraih pinggang ramping Ilana, lalu melesakkannya ke dalam dekapan sepihak. “Tidak ada manusia yang bisa mendahului masa depan, Stein. Jangan lupa itu.” Diusapnya penuh sayang puncak kepala Ilana hingga sosok cantik tersebut menegang dalam kuasa. Kesulitan menahan rasa terkejut, terlebih mendengar kalimat Chanyeol selanjutnya, “Lagi pula, aku tidak ingin merusak kebahagiaan orang-orang yang kusayangi. Kau tenang saja.”

Sehun mencibir, seiring dengan kedua tangannya yang tergerak merengkuh Ilana. Sengaja merenggut gadis cantik yang telah ia klaim menjadi miliknya sejak dua tahun lalu itu dari kuasa Chanyeol. Baekhyun dan Evelyn yang sedari tadi menjadi penonton pun sudah mengambil ancang-ancang menengahi, seandainya Si Pria Silverstein tidak bergegas mencairkan suasana melalui senyum simpul di bibir. Mengusak sebentar puncak kepala Ilana, sebelum benar-benar mengembalikan kebebasan Gadis Kim tersebut.

“Terimakasih sudah terlahir sebagai orang baik, Park,” ujar Sehun sembari menatap lurus potongan sandwich di atas piring. Dalih dari rasa percaya dirinya yang mengerdil untuk sekadar menatap netra pekat Chanyeol. Sisi pasif yang jarang sekali pria ini tunjukkan, tak terkecuali di hadapan Ilana. Sebentuk ketulusan yang dibawa kekalahan, bukan dalam artian negatif. Hanya tersadar bahwa hatinya belum selapang Pria Park tersebut.

“Terimakasih juga sudah terlahir sebagai saudara yang baik, Stein. Apa yang kau lakukan kemarin, kau perlu tahu bahwa aku tidak akan pernah melupakannya,” balas Chanyeol tak kalah mengejutkan. Tangan kanan pun diulurkannya guna meraih salah satu bahu Sehun. Menunggu dengan sabar hingga saudara sepupunya tersebut kembali sudi bertukar pandang. Berbagi senyum, lalu geli sendiri. Sama-sama membuang pandangan di detik selanjutnya dan menumbuhkan rasa geli serupa dalam hati Baekhyun.

“Sudah? Begini saja? Tidak seru ah,” keluh Baekhyun, bergurau. “Harusnya ada sedikit bumbu kekerasan agar kisah kalian lebih hidup. Ya kan, Eve?” imbuhnya sok jenaka. Namun, bukannya mendapat persetujuan, Pria Byun ini justru dihadiahi satu pukulan keras di ubun-ubun. Membuatnya kesakitan, lalu tak urung menggerutu, “Perhatikan tanganmu, Nona Silverstein. Kau hampir saja menghancurkan triliunan sel neuron dalam otakku, di mana tiap milyar sel kecilnya sudah siap menghasilkan ide-ide cemerlang. Tak hanya untuk kemajuan perusahaan keluarga, tapi juga masa depan kita berdua.”

Sekali lagi, Evelyn melayangkan pukulannya tanpa ragu. “Perhatikan mulutmu, Tuan Byun,” sungut gadis cantik ini, kemudian. “Masa depan apanya? Aku berani bertaruh, dari triliunan sel neuron yang kau banggakan itu, hampir sembilan puluh lima persen sel sarafnya rusak karena terlalu banyak memikirkan seks.”

“Kejamnya adikmu ini, Stein,” balas Baekhyun setelah berhasil menumbuk obsidian Sehun, sementara satu tangannya yang kurang ajar merengkuh salah satu bahu Evelyn.

“Singkirkan tangan kotormu dari tubuh suci adikku, Byun!”

“Hei! Apakah aku sekotor itu di mata kalian?!” tandas Baekhyun. Geram, ditunjuknya leher Ilana yang kini diselimuti scarf merah milik Evelyn. “Apa kabar dengan jejakmu semalam, huh? Berhenti sok suci setelah membuat gadismu harus menanggung malu, Stein!”

“Tadi pagi aku sudah menyiapkan scarf untuk menutupinya, tapi kurasa Ilana lupa,” Sehun beralibi, membela diri. Tak malu menambahkan satu penjelasan lain yang membuat mual para manusia lainnya. “Toh kami melakukannya atas dasar cinta.”

Ew. Menggelikan.”

Dan, perdebatan kecil yang dilakukan Sehun bersama Baekhyun berhasil menarik Evelyn sebagai penengah. Menyisakan ruang tersendiri bagi Ilana dan Chanyeol untuk bertemu tatap tanpa suara. Bertukar kehangatan yang tentunya dimaknai dalam waktu singkat. Memang bukan cinta yang biasa Ilana bagi dengan Sehun, hanya sebuah ketulusan tak bernama yang pancarannya lebih dari cukup untuk jadi penguat hati Chanyeol. 

Satu tangan pun diulurkan Si Pria Park guna mengusak puncak surai Ilana. Tidak lama, karena dalam hitungan detik—bariton Sehun kembali mengudara. Murka. “Watch out your hand, Mr. Park!”

Ilana mendecakkan lidah. Lama-kelamaan gemas menghadapi tingkah konyol sang kekasih hati. Oleh karena itulah, ditusuknya potongan roti isi di atas piring menggunakan garpu, kemudian diarahkannya ke mulut Sehun tanpa tedeng aling-aling. “Makan! Mulutmu juga perlu istirahat.”

2583234-close-up-club-sandwich-plate-on-table-Stock-Photo

Pagi ini semuanya ditutup dengan Baekhyun yang terpingkal-pingkal, juga Evelyn dan Chanyeol yang mengulum senyum geli di bibir. Sengaja meledek eksistensi ego Sehun yang melemah begitu dihadapkan pada Ilana. 

Ya, namanya juga cinta.

PF

Peranan lama kembali dihidupkan. Membuat sekeliling terasa pengap ketika sekerat rindu turut mendominasi udara. Mengerdilkan ego yang pernah memporak-porandakan kisah mereka di masa lalu, hingga mati-matian menekan segala bentuk emosi yang berkecamuk dalam hati. Agaknya tahu diri bahwa keduanya pernah bahu-membahu menenun asa, sebelum akhirnya terjerembab arogansi tetua dan kalah.

Ya. Tetua. Posisi yang mereka tempati saat ini paska perputaran masa yang cukup panjang.

“Kenapa tiba-tiba ingin bertemu lagi? Yang kemarin masih belum cukup?” Kris memulai. Nadanya datar, sengaja untuk menyamarkan rasa terkejut yang sejatinya mendominasi. Lebih daripada itu, dirinya tak ingin menunjukkan rindu yang menyeruak, meninggalkan pedih. Rindu kawan lama—sesederhana itu sebenarnya, tapi detik yang bergulir membuat segalanya menjadi rumit untuk diterima nalar.

Lay tersenyum masam setelah menerima sambutan yang jauh dari kata bersahabat tersebut. Bahunya mengedik selagi tatapannya jatuh pada petakan keramik yang kini jadi pijakan kaki. Tertegun di hadapan Kris, Si Kawan Lama yang sekarang terasa asing karena beberapa alasan.

Lama keduanya terdiam. Dijerat sepi yang luar biasa hebat dalam menelan kemampuan berpikir otak. Membunuh seluruh kata yang tercipta dengan teramat mudah dan membuat para pemeran utama kali ini harus bekerja keras menghidupkan satu per satu huruf yang mati. Menunggu sampai semua terasa pas, walau tak pernah mampu meraih sempurna. Mereka terlanjur cacat, hingga tak acuh pada kehebatan dua silabel yang kini tertahan di ujung lidah.

Ma-af.

Alih-alih memerbaiki, Lay memilih untuk tetap jadi pengecut. Bersembunyi dengan kebahagiaan para penerus sebagai dalih. “Kau tahu pasti alasannya, Kris. Aku tidak mengerti, bagaimana bisa masa lalu kita terulang? Ini lucu. Melihat dua keponakanku jatuh cinta pada gadis yang sama.”

“Ilana maksudmu?” sanggah Kris, terburu-buru namun tepat sasaran. “Jadi, kau merasa bahwa Stein dan Chanyeol yang sama-sama mencintai Ilana mirip dengan Williard dan Suho yang dulu sama-sama mencintai Kathryn?”

“Memang begitu adanya, kan?”

Kris mendengus sebal. Kekehannya terlepas sinis, benci pada pemikirannya yang turut mengamini kalimat tanya penuh sarkasme Lay. “Lalu kau ingin aku bagaimana? Menjauhkan Ilana dari dua keponakanmu? Bagaimana bisa aku melakukannya kalau keponakanmu sendiri yang tak pernah melepaskan matanya dari Ilana? Asal kau tahu, sejak semalam Stein sendiri yang menculik Ilana-ku,” repet Pria Wu ini, enggan memberi kesempatan bagi sang lawan bicara untuk menyanggah. “Tidakkah egois kalau kita memisahkan mereka di saat kita tahu bagaimana menyakitkannya itu?”

“Sekarang atau nanti, mereka akan tetap terluka,” Lay bersikeras dengan pemahamannya. “Ini salahku. Seharusnya aku bisa mencegah Stein agar tidak jatuh cinta pada Ilana. Dari awal mereka bertemu, semuanya sudah salah.”

Suara ketukan stiletto terdengar satu-satu. Mencuri atensi kedua pria yang semula asyik berdebat hingga terantuk pada titik yang sama. Menyambut kemunculan sosok anggun seorang Adelle dengan langkahnya yang teratur serta kepala terangkat tinggi. Sengaja berhenti tepat di samping Kris dengan satu kecupan singkat di pipi pria itu sebagai salam membuka. “Maaf mengganggu, tapi percakapan bodoh kalian berdua membuatku gatal untuk menyela.”

“Bodoh?” Lay membeo, jengkel.

Alih-alih meminta maaf atau menunjukkan raut menyesal, wanita berdarah Eropa kental itu justru mengangguk tegas. Membenarkan kalimat pertamanya, sungguh tanpa keraguan sedikit pun. “Menjauhkan mereka sekarang jelas bukan keputusan yang tepat. Kau pikir mudah untuk meyakinkan seorang Kris Wu bahwa komitmen tidak seburuk yang dia bayangkan selama ini? Bukankah kau pun begitu … Lay? Karena masa lalu kalian, kau tumbuh bersama rasa apatismu terhadap komitmen dan itu alasan mengapa kau memilih sendiri hingga saat ini?”

Lay mendengus kentara. “Tahu apa Anda soal hidup saya?”

“Tidak perlu formal, Tuan,” Adelle menyanggah di luar topik. Menolak sikap kaku yang ditunjukkan Pria Silverstein tersebut. “Aku memang tidak tahu apa-apa mengenai kehidupan kalian berdua jauh sebelum ini, tetapi aku tahu betul bahwa Kris sudah kesepian sejak pertama kali aku mengenalnya. Dan tidak menutup kemungkinan, jauh di dalam hatimu, kau merasakan hal serupa. Komitmen tidak seburuk itu, Lay. Percaya padaku.”

Lagi-lagi Lay mendengus dan membantah, “Sok tahu sekali calon istrimu ini, Kris.”

“Bukankah hidup kita selama ini memang semenyedihkan itu?” Kris membalas sarkasme Lay dalam konteks berbeda. “Kau, aku, dan kedua kakakmu. Kita semua diksiksa kesepian yang sama. Hanya saja keberuntungan datang lebih cepat padaku.” Diraihnya pinggang sempit sang kekasih hati, setengah bergetar. “Dan Adelle adalah keberuntunganku.”

“Omong kosong!” Secepat kilat Lay memutar tubuh. Siap berlalu, namun masih menyempatkan diri untuk menggaungkan vokal sebagai tanda perpisahan. “Tidak seharusnya aku menemuimu. Percuma. Tak ada gunanya.”

Seiring langkah yang dijejak pentofel hitam Lay, Kris merasakan genggaman erat pada kelima jarinya yang melingkari pinggang Adelle. Membuatnya menoleh dan terpaku pada bias hangat yang terpancar dari sepasang netra beradiksi. Seolah mendorong Kris untuk meruntuhkan segala ego yang masih menjadi batasan beberapa detik lalu.

“Lay.” 

Sekon terasa membeku, bersamaan dengan kedua langkah Lay yang terhenti di hitungan ketujuh. Memudahkan kerja lisan Kris dalam menguasai medan. “Semuanya masih bisa diubah. Bukankah kita sama-sama tahu bahwa Williard tidak sejahat kelihatannya? Kalau dulu kakakmu itu bisa mencintai kakakku dengan seluruh hatinya, kenapa tidak dengan keturunannya sendiri?”

Lay berputar kembali, hingga berhadapan lurus dengan Kris yang sudah menyusul langkahnya sejak beberapa detik lalu. Mendongak guna menumbuk netra Pria Wu tersebut lantas menarik kedua sudut bibir. “Kita masih berteman, kan?”

Kris terkekeh. “Sahabat lebih enak didengar sepertinya.”

Dari tempatnya Adelle tersenyum senang. Melipat kedua tangan di dada seraya menyaksikan opera kawan lama yang tengah menyerah dalam kungkungan rindu. Berpelukan secara jantan tanpa air mata. Hanya tepukan di punggung yang keduanya bagi dalam diam, di tengah hembusan napas yang dibebani ingatan masa lalu.

“Kris?”

“Ya?”

Lay berdeham. Menarik diri dan kembali mencari pandangan Kris. “Apa pun yang terjadi nanti, bisakah kau beritahu Ilana bahwa Sehun sudah berjuang sekeras yang ia mampu?” Menyadari adanya guratan heran dalam kerutan dahi sang sahabat, lelaki berparas tampan  ini lekas menambahkan, “Seperti yang kau katakan tadi, Williard tidak jahat. Dia hanya belum menemukan jalan untuk kembali ke rumah.”

Kris mengeluh berat. Kepayahan. “Dia sudah tersesat terlalu jauh, Lay.”

“Harus ada yang menuntunnya pulang.” Lay mendesah, memberi jeda. “Kurasa Sena bisa.”

“Sena? Kau yakin?”

Lay tersenyum tipis dan menganggukkan kepala. “Rasanya sudah tidak sesakit dulu—saat melihat wanita itu dalam balutan gaun pengantin, tapi bukan di sisiku.” Hening beberapa saat. “Lagi pula kau benar, Kris. Dia memang terlalu tua untukku.” Dan Si Tampan bersuara husky ini terkekeh sumbang demi mengakhiri guyonannya.

Lagi dan lagi mereka berputar di lingkaran yang sama. Masih tentang pengorbanan, arogansi, serta rindu yang disamarkan masa.

PF

Seperti mimpi, Baekhyun terlongong tak percaya saat Chanyeol membuktikan ucapannya. Menghuni kursi belakang bersama Sehun dengan Ilana sebagai penengah. Menyisakan nuansa hening yang diselimuti canggung, seakan lupa bahwa beberapa saat lalu kelimanya telah larut dalam tawa.

Sehun yang kini duduk di sisi kanan Ilana pun mendadak diam, kehilangan akal. Tak kuasa bertindak lantaran takut menyakiti. Menahan segala bentuk tendensinya terhadap Ilana, berusaha untuk tidak terlihat picisan dengan mengumbar perhatian. Bukan karena rasa sayangnya telah berkurang pada Gadis Kim itu, melainkan rasa sayangnya terhadap sang kakak sepupu yang tak kalah membebani.

Akhirnya, mereka bertiga sibuk menciptakan dunianya masing-masing. Tidak mengacuhkan kedua manusia lain yang sesekali mengintip melalui ekor mata. Geli namun juga prihatin di detik yang sama. Dalam hati mulai menerka sejauh mana kebekuan ini mampu bertahan. Menunggu, sampai Ilana yang terbatuk-batuk berhasil memecah kuasa sunyi. Baru akan mengembuskan napas lega, namun segera tersadar bahwa pembuka yang baru saja menyapa pendengaran justru siap memerkeruh keadaan.

“Minumlah.” Sehun dan Chanyeol bergerak cepat, di waktu bersamaan. Mengejutkan Ilana dengan dua botol mineral yang terangsur dari arah berlawanan, hingga lupa pada keringnya tenggorokan yang sempat membuatnya tercekat. Kembali membeku dengan kedua irisnya yang mengerjap kikuk, lantas mengabsen kedua pasang netra pria di sampingnya bergantian.

“Minum yang ini saja, La,” Evelyn menyela sembari mengangsurkan botol miliknya. Tersenyum simpul tatkala bantuan kecilnya diterima dengan senang hati oleh Ilana, walau dalam hati meringis mendapati wajah bermuram kedua saudaranya yang belum lama ini menarik kembali botol minuman masing-masing ke pangkuan. Bagaimana pun, Ilana lebih butuh bantuan.

Ah. Kalau saja bukan Sehun dan Chanyeol, Evelyn pasti sudah iri pada Ilana.

“Kau tidak kembali ke San Francisco sendirian kan, La?” Baekhyun turut ambil bagian, menyelamatkan Ilana dari kebingungannya. “Kudengar Kris juga kembali hari ini dan kalau pamanmu itu tahu kau pergi ke Bandara bersama kami, apakah tidak akan jadi masalah? Maksudku—”

“Pamanku pasti sudah tahu,” potong Ilana.

Baekhyun membeliak. “Wow! Stein bisa habis di tangan Kris nanti.”

Bukannya kesal, Ilana justru terkikik. Baru berani memertemukan violetnya dengan obsidian milik Sehun setelah menghindar sejak awal keberangkatan mereka ke Bandara. Mengizinkan Sehun merangsek maju dan mengecup ujung hidungnya, sejenak melupakan keberadaan Chanyeol yang kontan membuang pandangan ke luar jendela. Dan, seolah belum cukup menyakiti Si Pria Park melalui tindakan, lisan Ilana pun ikut menambahkan, “Pamanku juga tahu aku ikut kemari karena ingin bertemu Sehun.”

Tak pelak, Sehun mengulum senyum sejuta dolarnya. Gembira, namun tertahan begitu ekor matanya kembali menyadari keberadaan Chanyeol. Jadi, alih-alih menghadiahi kekasih hatinya satu pelukan hangat, tangan pria ini justru terulur demi meraih salah satu bahu sepupunya tersebut. “Kuharap kau tidak melompat keluar dan mengakhiri hidupmu hanya karena patah hati, Park.”

Chanyeol menoleh, kemudian mendengus samar. “Bunuh diri akibat patah hati? Itu headline murahan untuk ekskekutif muda sekelas diriku, Stein.”

“Grace juga tidak buruk, Park,” Baekhyun angkat bicara. Tangannya masih berkuasa penuh terhadap kemudi, sama halnya dengan kedua netra yang tertuju lurus pada jalanan. Sesekali memastikan garis wajah Evelyn yang mulai tidak bersahabat, diam-diam tersenyum dengan pemikirannya sendiri. Evelyn pasti cemburu mendengarnya memuji perempuan lain. Tidak menutup kemungkinan, kan?

“Bukannya Grace itu milikmu?” Sehun menyambar cepat, menghancurkan fantasi Baekhyun akan Evelyn. “Saat kecil kan dia dijodohkan denganmu.”

“Dijodohkan, pantatmu!” sungut Si Pria Byun. “Yang masuk opsi waktu itu hanya dirimu dan Chanyeol, keturunan dari lelaki Silverstein. Kalau aku  kan sudah jelas dijodohkan Tuhan dengan Evelyn.”

Sehun baru akan menyahut, kalau saja Chanyeol tidak dengan tangkasnya menendang kursi Baekhyun dari arah belakang. Membuat saudaranya itu merasakan hentakan di bagian punggung, walau samar. “Jangan mimpi! Kau itu musibah bagi Eve.”

“Mu—apa kau bilang?!”

“Musibah!” tekan Chanyeol yang sukses membuat manusia lain, kecuali Baekhyun, tertawa terbahak-bahak. “Dan soal Si Nona Walton, ayahku yang baik hati tentu tidak akan tega memaksakan kehendaknya padaku.”

Tawa Sehun terhenti, pupus digantikan gurat lelah di dahi. “Tiba-tiba aku ingin membuat tenderku sendiri,” ungkapnya dengan nada letih yang dibuat-buat. Sejenak mengembuskan napas, sebelum menjawab raut penasaran yang lain. “Siapa tahu aku bisa melelang Williard dengan harga tinggi. Walaupun menyebalkan, pria itu punya banyak ide cemerlang soal bisnis. Mungkin nanti aku bisa menukarnya dengan—”

“David Beckham?” Evelyn meneruskan ucapan nyeleneh sang kakak dengan teramat polos. Iris birunya berbinar membayangkan wajah tampan yang sudah ia puja sejak lama.

Sadar situasi, Ilana berdecak gemas. Tanpa tedeng aling-aling, ditariknya kuping kanan Sehun hingga kekasih hatinya itu mengerang kesakitan. “Jangan jadi anak durhaka, Bodoh! Bagaimana pun beliau tetap ayahmu.” Tatapannya lari ke depan—mencari Evelyn—tanpa memedulikan raut Sehun yang mulai memelas. “Ayahmu juga, Eve!”

Evelyn memamerkan cengiran lucu, diikuti dua jari telunjuk serta jari tengahnya yang membentuk huruf ‘V’. “Aku hanya meneruskan ucapan Stein, La. Sungguh, aku bukan anak durhaka. Salahkan ide gila kakakku saja, ya?” balasnya, tak kalah memelas dari Sehun.

“Eve memang bukan anak durhaka, melainkan calon istri idamanku,” sanggah Baekhyun, tak tahu diri.

“Mana sudi, a-duh, aku punya adik ipar se-aw-pertimu.” Meski sedang kesakitan, Sehun masih bersikeras menghancurkan kembali fantasi mimpi seorang Byun Baekhyun. Raut wajahnya sudah tidak karuan, karena Ilana masih belum jera memberinya pelajaran. Bukannya mengendur, Ilana justru memerkuat tarikannya. Dan Sehun yakin sekali bahwa telinganya sudah memerah sekarang. “Aku hanya bercanda, Sayang. Mana mungkin aku melelang ayahku sendiri, hm? Maafkan ak-aduh-ku ya?”

Chanyeol mendengus geli, kemudian mengusak puncak surai Ilana. “Lepaskan saja anak durhaka ini, La. Setelah itu kita turun. Anak baik tidak boleh bergaul dengan anak durhaka, kan?”

Sehun melotot, berbanding terbalik dengan Ilana yang berbinar riang. “Kau benar, Chan!”

“Jangan coba-coba membawa kabur gadisku, Park!”

Setelahnya, perdebatan-perdebatan tidak penting terus mengisi perjalanan mereka. Meretas kehangatan yang mampu luruhkan canggung. Menuai tawa yang mengikat simpul bahagia di tengah lara. Tampak lepas meski belum sepenuhnya terbebas. Paling tidak, untuk saat ini, kelimanya merasa utuh.

PF

“Satu minggu, La.”

Dahi Ilana mengernyit, mendengar kalimat pembuka yang baru saja dilontarkan Sehun setelah keduanya berhasil memisahkan diri. Menunggu kedatangan Kris di ruang tunggu, selagi Chanyeol, Baekhyun, dan Evelyn memilih untuk mengasingkan diri di kafe Bandara. Ssengaja memberi ruang bagi Sehun dan Ilana guna melepas rindu sebelum berpisah.

che12898d

“Apanya yang satu minggu, Hun?” Ilana memilih bertanya lantaran tak mengerti. Masih dengan kening terlipat serta pancaran ungunya yang mengungkung iris biru sang kekasih.

Tak langsung menjawab, Sehun justru meregas jarak. Melenyapkan kerut di dahi Ilana menggunakan ujung hidung, sebelum akhirnya bertumpu di sana. Terpejam seiring dengan hembus napasnya yang berbaur dengan milik Si Gadis Kim. Satu sudut bibir pun ditariknya, coba menyimpul senyum, namun dikhianati. Alih-alih merasa tenang, gemuruh ketakutan terasa kian nyata kala jemari lentik Ilana menyambangi sisi wajah.

Pertahanan Sehun runtuh, digantikan setetes luka yang meluncur tanpa hambatan di pipi. Mengejutkan Ilana yang lekas menyekanya dengan ibu jari. “Kenapa menangis? Kau jadi terlihat bodoh, tahu?!” Gadis ini menghardik meski dalam hatinya turut merasakan pedih.

“Kau tahu kan betapa Si Bodoh ini sangat mencintaimu?”

Ilana diam, kemudian menduplikasi kegiatan kecil Sehun. Irisnya terpejam, rahangnya pun mengatup. Menahan kalimatnya selama beberapa detik, menunggu keberaniannya kembali. “Apa kau berniat meninggalkanku lagi?”

“Jangan ikut bodoh, La. Biar aku saja yang bodoh,” balas Sehun, membebaskan pandangan. Diusapnya lembut kedua pipi Ilana, baru kemudian menambahkan, “Bahagiaku sudah sedekat ini. Sedekat hembusan napasku sendiri. Jadi, bagaimana bisa aku hidup tanpamu?”

Secepat kilat, Ilana menggigit bibir bawahnya. Menahan diri untuk tidak menangis di hadapan Sehun. “Lalu kenapa sikapmu yang begini membuatku sakit? Rasanya seperti akan ditinggalkan, seperti sudah tidak ada harapan lagi untuk kita bersama.”

Sehun memilih diam dan membiarkan Ilana melepas segala penat dalam benak. Mendengarkan dengan khidmat, tak peduli hatinya telah lama merasakan pedih yang sama. “Kalau kau mau tahu, aku bisa sampai ke tempat ini setelah berdebat dengan Paman Kris dan Minseok. Mereka selalu mengingatkanku pada luka yang menanti kita di depan sana. Padahal, aku sendiri sudah paham betul akan hal itu. Aku hanya ingin bersamamu, tak peduli seburuk apa pun hasil akhirnya. Tapi setiap kali melihat gurat lelah di wajahmu, aku jadi tersiksa. Seperti tersadar bahwa keputusanmu untuk meninggalkanku satu tahun lalu adalah sesuatu yang benar.”

“La—”

“Kalau ibuku tidak pernah mengkhianati ayahmu, pasti tidak akan jadi begini kan?” sergah Ilana.

Pandangan keduanya bertemu di titik yang sama. Saling memenjara, mencari makna. Menuai satu desahan panjang Sehun yang kini terdorong untuk merengkuh tubuh mungil Ilana tanpa aliansi. Menguncinya di sana untuk waktu yang lama. “Sudah kubilang, kan? Kalau dulu ibumu tidak mengkhianati ayahku, kita bisa saja terlahir sebagai saudara kandung dan aku sama sekali tidak mau hal itu terjadi. Mencintaimu adalah keajaibanku. Denganmu aku merasa jauh lebih hidup.”

Sejenak, Sehun mengunci vokal. Memberi waktu bagi Ilana untuk mencerna keseluruhan kalimat. Sesekali napas beratnya terempas ke udara, berbaur dengan aroma luka yang mendominasi kebersamaan. Begitu sabar menunggu hingga kenyamanan itu kembali menyelimuti gadis tercintanya. “Meninggalkanmu jelas tak pernah dibenarkan oleh hatiku, La,” Sehun melanjutkan, sesaat—setelah Ilana membalas dekapannya. “Aku pernah melakukannya sekali dan rasanya sangat menyiksa. Seperti hidup, tapi mati. Seperti mati, tapi masih dipaksa untuk bernapas. Jadi, hal paling tepat yang harus aku lakukan adalah mendekat ketika cinta memanggil. Tidak lari meskipun jalanan yang harus kulalui terjal dan berliku.”

Sehun tersenyum, lalu meretas sedikit jarak di antara keduanya. “Kau perlu tahu, aku mencintaimu bukan sekadar mencintaimu, tetapi aku mencintai keseluruhan dari kita. Bagaimana aku saat bersamamu, juga betapa aku tidak bisa hidup dengan baik tanpamu, Ilana Kim.”

“Aku benci kehilanganmu.”

“Tendernya dipercepat dan aku hanya punya waktu seminggu.” Lepas juga beban inti di pikiran Sehun saat ini. Berganti dengan secercah asa yang siap dirajutnya kembali dalam selimut cinta. “Akan kulakukan semua yang terbaik yang bisa aku lakukan. Untukmu, untuk kita. Dan perlu dicatat, aku juga sakit kalau harus kehilangan napasku lagi, Sayang.”

“Dan perlu dicatat juga bahwa aku belum pernah mengizinkanmu memeluk keponakanku di muka umum, Stein.” Suara berat Kris terdengar mengejutkan tanpa salam pembuka. Berimbas pada sepasang muda-mudi di depan mata yang mulai melepaskan diri dan meretas lebih banyak jarak. Siapa lagi kalau bukan Sehun dan Ilana?

“Kris? Eh, Ma-Maksud saya … Tuan Wu.” Sehun tergeragap. Canggung.

“Halo, Cantik!” Berbeda dengan Kris yang memasang wajah geram, Adelle justru mengukir senyum manisnya guna menyapa Ilana. “Akhirnya kita bisa bertemu juga ya?”

Namun, belum sempat Ilana membalas sapaan calon bibinya tersebut, vokal Kris dengan pongahnya mengudara. Melipat kedua tangan di depan dada dengan jemari lentik Adelle terkunci di antaranya. “Omong-omong, aku masih menunggu penjelasanmu setelah menculik Ilana-ku semalam suntuk, Tuan Stein.”

PF

Evelyn terpejam, menikmati sensasi manis yang dicecap lidahnya saat ini. Sesekali tangan jahilnya menarikan sendok, menghancurkan tatanan krim dalam cangkir minumannya sendiri. Sejak dulu Three Musketeers French Hot Chocolate selalu menjadi kesukaannya. Teman terbaik dalam mengusir sepi. Satu yang tak pernah pergi di saat orang-orang sekitar mulai larut dalam kesibukan masing-masing dan meninggalkannya.

three-musketeers-french-hot-chocolate-br-4767-500x375

Rasa bosan akibat ditinggalkan Baekhyun pun membebaskan netra gadis ini agar berkeliling, mencari kesenangannya sendiri. Sampai akhirnya terantuk pada sosok tampan di depan mata yang kini tengah duduk bersandar dengan kepala mendongak tinggi. Irisnya menutup. Entah tertidur atau sekadar melepas penat. Yang pasti, Evelyn tahu bahwa sosok tampan itu tengah kepayahan menahan luka.

perfectionist

“Chanyeol,” Gadis Silverstein ini memanggil.

“Hm?” sang pemilik nama yang merasa terpanggil lantas menggumam, masih enggan membuka mata. Memilih untuk bertahan dalam posisinya, menunggu tanpa bergerak barang sedikit pun.

Evelyn mendesah. Sejumput ragu membebani lisannya. Takut menyakiti, namun lelah dicekik kuriositas. Pada akhirnya menyerah dan melontarkan tanya. Sederhana namun berhasil menyentak kesadaran Chanyeol. “Kenapa tidak berhenti? Aku yakin, orang buta saja bisa ikut merasakan betapa besar kau mencintai Ilana.”

Punggung Chanyeol kembali tegak, mengkhianati tumpuannya. Kedua netra pekatnya pun berhenti jadi pengecut dan bergegas menatap dunia. Mencari sepasang obsidian Evelyn, untuk kemudian mengulum senyum tipis di bibir. “Karena aku tidak merasa perlu untuk berhenti,” balasnya, menggantung, “atau mungkin belum.”

Setelah mengangkat bahunya, gamang, Pria Park itu lekas menambahkan, “Aku hanya ingin mendekap cinta yang sejak lama memanggilku, walaupun pedang di sela-sela sayapnya selalu saja melukai. Semuanya sudah terlongsong candu untuk dihentikan, Eve. Tak jauh berbeda denganmu yang masih bisa jatuh cinta pada Baekhyun, walau tahu seberapa brengseknya Si Byun itu.”

“Sok tahu!” elak Evelyn, terlalu cepat.

Tanpa tedeng aling-aling, Chanyeol terkikik. “Tatapanmu mana bisa bohong, Eve?” godanya. “Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta pada sepupumu sendiri. Toh, dia tidak bisa jadi wali pernikahanmu nanti. Berbeda denganku, apalagi Stein.” Disentilnya gemas ujung hidung bangir Evelyn. “Jadi, meskipun aku seribu kali lebih tampan, lebih tinggi, lebih pintar, dan lebih segala-galanya dari Baekhyun, kau tetap tidak boleh jatuh cinta padaku, oke?”

Evelyn menjulurkan lidahnya, geli. Dua kali kepalanya menggeleng, untuk kemudian tersadar bahwa Chanyeol tengah coba mengalihkan fokusnya. “Kau benar tidak akan berhenti mencintainya?”

Ganti Chanyeol yang menggeleng. “I do love her. I still does.” Jeda sebentar yang digunakan Chanyeol untuk menyesap kopi hitamnya. “Aku tidak bisa bilang; tidak akan berhenti, sih. Akan ada saatnya aku lelah dan melepaskan diri, tapi tidak sekarang. Mungkin nanti, setelah aku yakin bahwa cintaku sudah benar-benar bahagia.”

“Kalau Stein bukan kakakku, aku pasti sudah meminta Ilana untuk berpaling saja,” sahut Evelyn dengan kepala tertunduk. Tiba-tiba merasa malu untuk sekadar membalas ketulusan dalam bias hitam Chanyeol. “Kau terlalu indah untuk dilewatkan, Chan.”

Lagi-lagi Chanyeol terkekeh sembari mengusap lembut puncak kepala Evelyn. “Jangan pasang tampang sedih begitu. Cantikmu jadi hilang, Eve,” godanya kemudian. “Nanti kalau Baekhyun kembali dan melihatmu bersedih, dia bisa mencekikku, lho.”

“Kalau kau mati, kau bisa berhenti merasakan sakit hatimu, bukan?”

Seketika Chanyeol membulatkan mata, terkejut. “Kau sudah tertular sadisnya Stein ya?”

Evelyn tertawa lalu bangkit berdiri. Membawa langkahnya mendekati Chanyeol dan memeluk tubuh jangkung itu suka cita. Senyumnya merekah, sebelum melisankan harapan, “Kau baik. Tuhan pasti sudah menyiapkan yang lebih indah untukmu di masa depan. Aku menyayangimu, Chan. Sama seperti aku menyayangi Stein.”

“Bagaimana denganku?” Baekhyun muncul dari sisi lain tubuh Chanyeol. Kepalanya menyembul, mengungkung pancaran biru Evelyn. “Kau tidak menyebut namaku tadi. Apakah kau benar-benar tidak menyayangiku, huh?” protesnya dengan wajah memberengut kesal. Sungguh kontras dengan setelan mahal seorang perlente yang kini membalut tubuhnya.

Evelyn memasang tampang malasnya, lantas menarik diri. Menyesap minuman kesukaannya untuk yang terakhir kali, baru setelahnya berlalu. “Lebih baik kita kembali ke ruang tunggu sekarang.”

“Tapi kau belum jawab pertanyaanku, Eve!” sergah Baekhyun.

Tak terima diabaikan, vokal yang sama pun kembali mengudara, setengah berseru, “Hei! Evelyn Byun, aku bertanya padamu. Kenapa malah pergi seenaknya?”

Evelyn menengok sebentar dengan tangan terkibas, tak acuh. “Margamu tidak pas disandingkan dengan namaku,” tolaknya, mengejek, sebelum benar-benar menghilang di belokan pertama. Menyisakan Baekhyun yang kini tengah menatap penuh curiga ke arah Chanyeol.

“Sebenarnya kalian membicarakan apa saja sih?”

Chanyeol mencibir dan bangkit berdiri. “Berikan proyek barumu di San Francisco, baru nanti kuberitahu,” balasnya sambil lalu.

“Sialan! Dasar sepupu perhitungan!” sungut Baekhyun, berbanding terbalik dengan langkahnya yang mulai mengekori Si Pria Park tanpa dikomando.

PF

“Lho? Ilana ke mana, Stein?” seloroh Evelyn sekembalinya dari kafe. Fokusnya lantas berpendar asal, mencari objek yang seharusnya mengisi kekosongan di sisi Sehun. “Dia belum pergi, kan?” tuntutnya yang tak kunjung mendapat balasan. Bersikeras menarik kembali kesadaran sang kakak semata wayang ke garis normal.

Sehun mendesah, kemudian mendongak dengan mata terpejam. Mengirup udara lamat-lamat, baru setelahnya memberi jawaban, “Kris memesan tiket paling pagi menuju San Francisco.”

“Tapi Ilana belum berpamitan padaku,” rengek Evelyn.

Lagi-lagi Sehun mendesah berat. Membebaskan pandangan dengan raut enggan menanggapi. “Bagaimana ujianmu kemarin?” Alih-alih melanjutkan, pria ini memilih untuk melontarkan topik baru. Mencoba bersembunyi agar rindu tak dapat lagi melemahkan, karena jauh dalam lubuk hati Sehun, berjauhan dengan gadisnya bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Bertepatan dengan kedatangan Chanyeol dan Baekhyun, Evelyn berseru riang. Bergegas mengisi kekosongan di samping Sehun, setengah melompat. Tak lupa menggamit manja lengan kakak lelakinya tersebut sambil berujar, “Perfect! Aku mendapatkan A+ di beberapa mata kuliah.”

“Bagus,” balas Sehun, kemudian mengusap lembut puncak surai adik bungsunya tersebut. “Jadi, kau ingin kubelikan tiket ke mana? Tidak perlu ke Chicago, kan? Tujuanmu ke sana kemarin hanya untuk bertemu Ilana kalau aku tidak salah ingat. Sekarang kalian sudah bertemu dan kau bebas mengganti tujuan liburanmu,” imbuh Sehun panjang lebar.

Evelyn menggeleng lemah. “Aku hanya ingin menemanimu.”

Sehun tertegun. Tatapannya berkhianat sebentar, mencari dukungan dari Chanyeol dan Baekhyun yang terdiam sejak awal kedatangan mereka. Menimang dalam kebisuan—dari berbagai sisi. Cukup lama, sebelum akhirnya memberi simpul manis di wajah sebagai penutup ragu. “Hidupku sedang rumit, Nona. Kau tidak akan bisa menikmati masa liburanmu jika terus bersamaku.,” tolaknya halus.

“Tidak masalah,” Evelyn tetap kukuh pada pendiriannya. “Karena aku tahu kau sedang kepayahan, makanya aku ingin menemanimu. Bawa aku kemana pun kau pergi. Aku ingin ada setiap kali kau butuhkan, Stein. Karena—” Sejenak Gadis Silverstein ini tercekat dan menundukkan kepala. Menyembunyikan lapisan kaca-kaca bening yang kini coba mengaburkan pandangan. “—karena aku tahu bagaimana sulitnya berdiri sendiri tanpa ada satu orang pun yang bisa kau mintai pertolongan. Sakit, Stein. Aku benci kesepian. Rumah kita besar, tapi terlalu besar untuk aku huni seorang diri.”

Terenyuh, lekas diraihnya bahu sang adik agar bersandar. Disusul Chanyeol yang berlutut tepat di hadapan Evelyn dengan bias hangatnya. “Maafkan kami karena terlalu lama meninggalkanmu ya?” pinta Si Pria Park, tulus. Nadanya begitu lembut hingga membuat Evelyn tak kuasa menahan isakannya. Meledak setelah sekian lama menanggung lara seorang diri. Mengucap syukur lantaran terbebas dari jeruji sunyi yang telah lama merenggut bahagianya.

Dari tempatnya, Baekhyun berdeham. Bersusah-payah mencari distraksi, walau tahu fokusnya akan selalu kembali pada titik yang sama. Melenguh berat, menekan nyeri, sebelum akhirnya menyerah dan merangsek maju. Menggunakan satu tangannya untuk menepuk sayang puncak kepala Evelyn seraya bergumam, “Kami sangat menyayangimu, Evelyn. Jadi, jangan pernah merasa sendirian lagi. Dan …” Sekali lagi pria ini berdeham, mengusir canggung yang kini membebani kebebasan silabelnya, baru melanjutkan, “… aku tidak pernah main-main saat mengatakan bahwa aku mencintaimu.”

Detik ini, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, Baekhyun berterimakasih pada semesta karena tak ada lagi yang menghinakan ketulusan hatinya. Tidak Sehun, tidak pula Chanyeol.

PF

“Bukankah seharusnya kau tidak ada di sini?”

Williard sontak terbangun dari tidurnya dan terperanjat dihadiahi kemunculan Sena. Sosok cantik yang hingga saat ini masih sah menjadi istrinya di mata hukum. Bukti nyata dari hilangnya keselarasan dalam hidup Williard yang sudah terjadi selama bertahun-tahun lamanya. 

“Rumah ini dan seluruh isinya adalah milikku, Se.”

original_525993_hz7umxbujv56m36oumrtj2az5

Sena mengedik asal, kemudian putar haluan. Kentara enggan membalas Williard dan segala arogansi yang melingkupinya. Lebih memilih untuk menuntun langkah menuju lemari tinggi yang berlawanan dengan posisi sang suami, sebelum akhirnya sibuk mencari. Tiba-tiba tertegun saat vokal bariton yang sama kembali menyambangi pendengaran. “Akhirnya kau pulang juga.”

“Pulang?” wanita cantik ini tak urung membeo. Nadanya kentara getir, lelah digelayuti sampah derita dalam dada. “Bukankah ini rumahmu? Aku hanya mampir sebentar untuk mengambil bukuku yang tertinggal,” tambah Sena sarkastik, menampar pertahanannya sendiri.

“Mampir?” kini ganti Williard yang membeo, merasa geram untuk alasan yang ia sendiri pun sulit memahaminya. “Kau tidak akan pergi kemana-mana lagi, Oh Sena!” Amarah itu terasa kian nyata, mengundang sesak dalam dada. Menhantui di setiap langkah yang terjejak seumpama bayangan yang tak sudi diceraikan masa.

“Kau tidak berhak melarangku!”

Sebelum membalas, Williard menyempatkan diri untuk menggaungkan tawa sumbangnya. “Tentu saja aku berhak. Kau masih istriku. Istri sahku!”

Dalam hitungan menit Sena membeku. Lupa pada tujuan awalnya dikarenakan hati yang terlalu sibuk mengumpat. Merutuki suratan takdir yang mengendalikan laju kehidupannya, tanpa pilihan seolah terlongsong menjadi harga mati. Rasanya seolah beku untuk sekadar membumbungkan kesenangan. Terlalu lelah setelah lama menanti masa di mana eksistensinya diakui ego sang suami. “Oh. Kau masih ingat bahwa aku ini istrimu?” tanya Sena retoris paska membisu.

“Aku serius, Sena!”

“Aku juga serius, Williard!”

Suara gebrakan meja yang menggema dari balik punggung pun berhasil mengejutkan Sena. Lengkap dengan ledakan vokal yang digemakan Williard melalui udara. Seolah berkuasa, sejatinya lemah di realita. Bersikeras menahan pengharapannya agar tetap tinggal, namun tak sadar telah menggunakan cara yang salah. “Kate sudah meninggal.”

“Tapi kau masih menghidupkannya dalam mimpimu dan membunuh keberadaanku.” Tanpa adanya niat untuk bersitatap, Sena membalas selagi tubuh bergeming. “Bersama atau tidak, semuanya sama saja. Kita sudah terlalu lama menyiksa anak-anak kita dalam semu.”

Diam menjadi batasan klise di antara detak hidup jarum jam. Mematikan kesadaran para pemeran dan merusak alur cerita. Alam bawah sadar pun terseok dalam lintasan memori, berusaha mencari kehangatan walau setelahnya sia-sia. Semua yang tersimpan dalam memori terlalu hitam untuk disucikan putih, terlongsong gelap untuk sekadar menikmati rayuan cahaya merah jambu. 

Williard pun luruh, hilang keseimbangan selama beberapa sekon. Bersikeras untuk tetap tegak dengan kedua tangan bertumpu pada tepian meja. “Lalu kau ingin aku bagaimana, Sena?” susah-payah lelaki paruh baya ini memaksa kerja lisan. Memejamkan iris, mengambil napas. “Kau ingin aku bagaimana?” ulangnya melirih.

“Ceraikan aku.”

Dan, gemetarlah kedua pilar Si Pria Silverstein. Mendidih dalam tungku sesal, kemudian terbakar hangus bersama lara. Kentara berduka untuk setiap potong asa yang dilumat gumpalan egonya sendiri.

Dengan setengah kesadarannya yang lolos dari jeratan luka, Williard pun melangkah. Menjadikan Sena sebagai tujuan utama, selagi bibir berupaya melisankan kuriositas tak bernyawa. “Apa pernikahan ini begitu menyiksamu?”

“Kau jelas tahu jawabannya, Will.”

“Saat aku bertanya tentang perasaanmu padaku tempo hari, kau merespon dengan cara yang sama,” timpal Williard. “Sedangkan di mataku, itu bukanlah jawaban. Yang kau lakukan justru menambah pertanyaan dalam otakku, Se.”

“Kau butuh jawabanku, kan?” Sena menantang. “Ya! Aku tidak pernah mencintaimu dan pernikahan ini benar-benar menyiksaku!” Satu per satu kenangan merebak ke permukaan. Kontan mengingatkan Williard—betapa istrinya ini masih terlalu muda saat mereka mengucap janji setia di hadapan Tuhan. Sungguh tak lebih dari seorang remaja lugu yang ia  renggut kebebasannya. Dan, sebagai balasan atas pengorbanan Sena tersebut, Williard justru dengan piawai menghancurkan kebahagiaannya.

“Jadi, kau ingin bebas sekarang?” Williard kembali bertanya dengan satu tangannya yang berhasil merengkuh tubuh sang istri. Menguncinya dari arah belakang tanpa aliansi. “Tak bisakah aku memintamu untuk tetap tinggal? Egoiskah aku jika aku mengatakan bahwa aku membutuhkanmu, Se?” pinta suara yang sama guna menghentikan segala bentuk penolakan yang diterima raga. “Aku ingin berhenti. Bantu aku untuk berhenti, kumohon.”

“Ada banyak alasan bagimu untuk berhenti, tapi kau sendiri yang menutup matamu.”

“Kalau begitu bukalah mataku.” Hilang sudah topeng arogan yang biasa membingkai ketampanan seorang Williard Silverstein. Membuka sisi lemah yang tak pernah ingin ditunjukkannya kepada dunia, terlebih Sena. “Kau tidak tahu betapa lelahnya menjalani hidup sebagai seorang Williard Silverstein. Aku begini justru karena aku tidak ingin Stein tersiksa luka yang sama. Rasanya menyakitkan saat kau memiliki banyak orang yang mendukungmu untuk mencapai puncak, lalu satu per satu dari mereka mengkhianatimu. Dan semuanya terlalu sama sekarang, setelah sekian lama aku berusaha mendominasi Stein untuk diriku sendiri, anakku itu jatuh cinta. Tapi kenapa? Kenapa dari sekian banyaknya perempuan di dunia ini harus Ilana Kim yang membuatnya jatuh, Se?”

Sena melenguh berat. “Ilana bukan Kathryn, Will.”

“Aku tahu, tapi bodohnya aku tetap tidak bisa berhenti,” Williard terdengar kian frustasi. Wajahnya melesak jauh di antara perpotongan leher Sena. Menangis tanpa isakan di titik ternyaman yang sudah terlalu lama ia abaikan. “Ini yang terakhir. Mungkin terakhir kali sebelum Stein dan Eve benar-benar muak padaku.”

.

.

.

.

To Be Continued …

.

.

.

⌈ UNSEEN PART!!! ⌋

.

Seiring dengan derap langkah Kris serta Adelle yang menjauh, Sehun bergegas menjemput warnanya. Memetik dawai cinta yang piawai lantunkan rindu. bersenandung di antara kicau pahit perpisahan. Tanpa ragu digenggamnya kesepuluh jemari lentik Ilana, untuk kemudian ia dekatkan ke dada. Menahannya cukup lama, seiring dengan detak jantungnya yang mengiba, meneriakkan kebutuhan akan gadisnya.

“Jaga kesehatanmu, Hun. Perhatikan pola makan dan juga waktu istirahatmu. Pokoknya aku tidak mau mendengarmu jatuh sakit saat kita berjauhan nanti,” Ilana memulai petuahnya. Tersenyum di sela fokus yang mengabur. Nyaris menangis begitu mendengar balasan sederhana yang diberikan Sehun kepadanya.

“Tolong jaga Ilana-ku ya?”

Tak sadar, Ilana mengupas bibir bawah. Mengernyitkan hidungnya yang mulai memerah dan bersikeras menghalau tubuhnya yang bergetar. Coba memertahankan simpul manis di bibir, lalu merangsek maju belasan detik setelahnya. Berjinjit demi menggapai ujung hidung sang kekasih. Dalam hati berterimakasih pada alas kakinya yang cukup membantu menyelaraskan. “Siap laksanakan, Tuan!” balasnya sembari menggoda Sehun dengan cara yang biasa pria itu lakukan. “Tapi sebagai balasannya jaga Sehun-ku juga ya?”

Sehun terkekeh lantas mengangguk dua kali.

Kaitan jemari keduanya pun terlepas tatkala Si Pria Silverstein tergoda untuk mengunci pinggang sempit Ilana dalam lingkar tangan, Meregas habis spasi konkrit yang sempat tersisa, sebelum menggagahi candunya. Menikmati ceri termanis beradiksi milik Gadis Kim dalam diam, tanpa dorongan nafsu. Hanya menyapa tanpa rayuan berlebih tendensi. Sadar diri pada dua pasang mata yang tengah memantau dari kejauhan, pun berpuluh-pulung pasang mata asing yang kini menatap mereka penuh iri.

Tak ada kata terucap karena lisan yang terlalu malu untuk sekadar memisahkan. Meretas kebisuan dan menunggu sampai Ilana sendiri yang menarik diri. Mengembalikan senyum manis di bibir yang sontak menggoda Sehun untuk melabuhkan satu kecupan singkat lainnya di titik tersebut.

“Kalau saja aku bisa menghentikan waktu dan membuat kebersamaan kita bertahan lebih lama,” gumam Sehun lirih. “Hati-hati di sana ya, La? Aku akan sangat-sangat merindukanmu. Aah … Sekarang saja aku sudah mulai merindukanmu, Nona Kim.”

Ilana mencibir. “Dasar tukang rayu!”

Sehun pun memberengut. “Aku serius!”

Tanpa permisi Ilana mencubit pipi Sehun yang menggembung samar. Merasa gemas hingga terdorong untuk mengecup singkat bibir kekasihnya tersebut. Senyum pun terpeta lebih lebar begitu mendapati binar kebahagiaan dalam pancaran Pria Silverstein tersebut. “Begini lebih tampan. Kalau cemberut, kau jadi jelek.”

“Jelek juga kau tetap cinta, kan?”

Alih-alih menjawab, Ilana memilih untuk meleburkan diri dalam tawa. Mengundang Sehun ke dalam dunianya yang tengah berbahagia, seolah lupa pada dua sosok yang masih asyik memerhatikan walau dari jarak jauh dengan air muka berbeda. Satu terenyuh, sedangkan sisanya sulit terbaca.

“Mereka benar-benar saling mencintai,” Adelle menyerah dan buka suara.

Kris mendesah berat. “Aku tahu.” Sebentar, pandangannya berkhianat. Tubuh tegapnya pun membungkuk guna meraih sebuket bunga mawar di atas tumpukan koper. “Aku juga tidak bodoh untuk membaca makna di balik setiap pemberian Stein kepada Ilana, termasuk ini.”

“Kau hanya terlalu takut, Kris.”

Pria Wu itu tersenyum getir. “Ya,” ungkapnya, berat hati. “Aku takut menjadi saksi hidup dari peristiwa lama yang terulang kembali. Dulu Kahryn dan Williard juga saling mencintai, tapi pada akhirnya menjadi lemah dan bodoh.”

.

.

.

Hai! Perfect Flaw is comeback. Finally! Gak mau ngomong panjang lebar, tapi semoga kalian terhibur dan terobati rasa rindunya ya, Kesayangan♥ Oh ya, mumpung inget aku mau minta maaf karena udah ngelakuin kesalahan di beberapa chapter lalu. Kathryn itu kakaknya Kris, tapi aku malah berulang kali kasih penjelasan sebaliknya. Ayemsosori yaps, namanya juga manusia. Hehe.

See you soon and stay healthy, cims. Love yaaaaaa~~~

Btw, salam dari Tante Adelle nih …

13920295_1389620974387655_4905851264795359380_o

Kai sama Tania cuti dulu ya 😂

.

.

Sincerely,

Arlene P.

59 responses to “Perfect Flaw (Chapter 9) —ARLENE P.

  1. huaa akhirnya update juga maaf telat
    tpi kenapa mereka susah sekali ntuk bersama ya rasanya kek bisa ngerasain ceritanya huhuu…
    tunggu kelnjutannya eonni. berharap bisa bersatu hunilana nya

  2. Akhirnya update juga kaaa. Ya walopun agak agak lupa sama ceritanya tapi tetep nyambung sii wkwk
    Plis duh ka, buat ilana sama sehun sama sama terus deh -___- sakit ati ngeliat sehun sama ilana ada aja yang bikin mereka kepisah(?) :v
    Ditunggu kelanjutannya. Fighting!!!^^
    Ps : jgnlama2yaka wkwk

  3. Finally,, and finally Perfect Flaw karya author Arlene P hadir kembali. Setelah sekian lama menanti, akhirnya terbayarkan dengan part 9 ini. Thank you author.nim..
    Congrats, author kembali berhasil mempermainkan perasaan pembaca lewat part ini. Kisah cinta sehun dan ilana sejak semula telah menemui banyak rintangan, kini mereka bertemu untuk berpisah kembali. Ilana yang telah kembali bersama sehun dengan kepercayaan penuh akan cinta yang ia berikan pada sehun, semoga tak mengalami kesakitan yang mendalam dengan kejadian yang akan datang..
    Entah kejadian apa yang kan terjadi kedepannya, namun semoga saja cinta yang diberikan ilana untuk sehun tak tergoyahkan sedikitpun. Semoga hubungan sehun dan ilana tetap baik-baik saja dan sehun bisa menjaga cinta ilana hingga ujian cinta mereka berakhir.
    Untuk chanyeol semoga saja ia lekas menyembuhkan luka hatinya. Bukannya ingin berlaku tak adil dengan tak mengizinkan ia bersama cintanya, ilana, namun semoga saja ia bisa menemukan cinta pengganti ilana. Dengan demikian ia takkan mengalami rasa sakit yang tak berkesudahan dengan melihat kebersamaan sehun dan ilana.
    Oh yaa,, untuk sang ayah, Williard, semoga saja rencananya untuk sehun tidak sampai menyakiti kebahagiaan anaknya. Apakah ia tak merasa tersentuh dengan perjuangan sang anak demi meraih kebahagiaan?? Semoga saja ia lekas menyadari kesalahannya dan masih sempat untuk memperbaiki keadaan yang ia sebabkan.
    Untuk baekhyun dan evelyn, semoga saja benar-benar serius dan eve dapat melihat kesungguhan baekhyun. Jika mereka telah menyadari perasaan masing-masing, semoga saja kisah cinta mereka tak sepelik kisah cinta sehun dan ilana..
    Oh yaa,, sebelumnya maaf untuk author,, untuk part ini sepertinya tak sepanjang part-part sebelumnya ya??? Soalnya kalo diliat alur ceritanya hanya maju sedikit. Tapi tidak masalah, author telah berusaha sebaik mungkin. Terus berkarya ya author.nim,, semangat.. Ditunggu part selanjutnya…

  4. iseng’ buka,,ternyta ada update,, dpet kado dibulan desember deh jadinya,,
    selalu keren dan gak bisa ngomong apa” deh,,, keren abisss,,,
    ditunggu next chapnya eonni,, fighting,, n keep writing,,

  5. Nah pantesan kok aku ngerasa ada pemain yang kurang eh tau tau emang kai dan tania lagi cuti yaa wkkw. Tapi gapapa siih aku seneng2 aja baca ceritana ilana sama sehun, yaampun mereka terlalu indah untuk dipisahkaan😦 jangan pisahkan merekaa yaaa😦
    Kris dengerin kata adelle dooong yaaah, will jugs jangan ngelarang sehun doong huhuhu.

    Btw kalimat “Kau terlalu indah untuk dilewatkan, Chan.” Itu bener bangety euy!!!!! PLIS BERIKAN CHANYEOL GADIS YANG 1000000x LIPAT LEBIH BAIK PINTER DAN CANTIK DARI ILANA😦 BEBEB GUE GAK BOLEH TERLARUT DALAM KESEDIHAN !!

  6. khirnya setelah sekian lama menunggu ff ini muncul lagi. dari sekian chapter perfect flaw yang paling bikin perasaan sekarang dipermainkan adalah cahpter 9 ini, why? kenapa balik balik malah bikin hati terporak poranda?
    sumpahh aku gatau mau ngmng apa ini ff sungguh wow, suka bngt, sehun ilana memperjuangkan cintanya masing masing dan ga ada yang menyerah gitu aja sama keadaan. mereka udh berjuang sama sama jangn biarin keadaan yang membuat mereka malah menjauh lagi. sehun aku pengen cowok kaya sehun sweet bngt.cerita semua tentang ilana dan sehun disini malah buat iri huaaa. fightingg kak. di tunggu untuk karya dan part selanjutnyaaa. jngn lama lama lagiya thor. menunggu itu ga enakk. aku bukan sehun yang bisa bersabar dalam memperjuangkan dan kembali bersama ilana wkwkwkw. fighting

  7. Manis bngt sehunn-ilana.. Tapi perjuangan mrka masih pnjang ya, rintangannya trlalau berat, sumvah gie baper bgt.. Ksian mereka. Punya cinta yg tulus tapi gini amat ya… Pokok sehun harus sma ilana.. Sehun kamu harus semngat buat ilana trtap sma kamu.. Ahhh k’arlene your back… Udah nunggu bgt.. Di tggu ya PF lnjutan, sma ff yg lainnya.. Udah nggu bgt soalnya .. Fighting

  8. Aku ga mau ngucapin ‘akhirnya’ atau ‘finally’ karna kan kakak sendiri yang udah cerita sama aku kalo lagi nulis PF ekwkwk
    Well bagian sehun-ilana-chanyeol itu bikin tegang gimana gitu kak, trus juga bagian chan-eve itu aku ga bisa ngomong apa apa; itu scane menurut aku manis aja gitu sebagai pasangan sepupu mah.
    Mau liat kerja keras nya baek dong kak, yang mau memperjuangkan eve bhaqks!
    Kris-lay akhirnya kaya dulu lagi, kapan si williard sama william juga ikutan nimbrung?/ kak😀

  9. Evelyn sayang banget ya sama Sehun TTTTT

    Wow akhirnya Willard dapet hidayah;v Tapi serius kalo Willard gini aku jadi kasian sama dia. Tapi bagus deh akhirnya Willard mau coba berubah. Semoga Willard-Sena bisa langgeng eaaaa. Tau ga ka? pas baca scene Willard-Sena aku ngebayangin wajah Willard tuh wajahnya Sehun. Haha

    Momen Sehun-Ilana juga bikin baper nih. Ilana trauma banget ya kalo liat tingkah Sehun yang kayak gitu, takut ditinggal pergi lagi. Mereka saling mencintai, semoga semuanya baik-baik aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s