I Married To My Enemy [II] -by ByeonieB

i-married-to-my-enemy

I Married To My Enemy

ByeonieB©2016

“I’m Here.”

Main Cast:: Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun, OC/You/Readers as Han Minjoo || Additional Cast:: Han Hyojoo (Actress) as Han Hyojoo, Chanyeol of EXO as Park Chanyeol, Sehun of EXO as Oh Sehun, Lee Yubi (Actress) as Lee Yubi, and many more || Genre:: Marriage Life, Romance, A Slight of Comedy, Drama || Length:: Chapter || Rate:: PG-17—PG-18+ || Before:: Chapter I || Poster by Jungleelovely

Notes:: In case you didn’t realize it, after this notes you’ll be taken back to the past memory of Minjoo and Baekhyun, where it was all the days that they had passed together. That’s why I always write the month and the year on the right side after those box-lines. All the italic font were coming from the past and after the ‘Happy Reading’ it will come back to the present. It will always appear in the same formula for each chapter.

 

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

September 1999

“Baekhyun-ah, saat tidur nanti lampunya jangan dimatikan ya?”

“Kenapa?”

“Aku takut.”

Baekhyun kecil terkekeh pelan sambil menatap Minjoo kecil yang berada di hadapannya. Kali ini mereka sedang berencana untuk menginap bersama di dalam tenda di kamar Minjoo. Tradisi mereka jikalau diluar sedang hujan.

“Takut pada apa, Minjoo?” Baekhyun kecil masih belum bisa menghentikan tawanya, “Katanya paling senang menonton film hantu tapi saat tidur lampunya dinyalakan. Han Minjoo benar-benar gadis aneh!”

Minjoo cemberut lalu menatap Baekhyun kesal, “Aish! Aku tidak aneh! Aku hanya takut jika saat aku membuka mataku aku tidak bisa melihat apa-apa.”

Baekhyun kecil kini menghentikan tawanya meskipun senyuman itu masih terpampang jelas di bibirnya.

“Kan ada aku, Minjoo-ya.”

“Aku disini.”

“Kau tidak perlu takut apapun karena aku disini.”

“Di sampingmu.”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

[Chapter 2]

H A P P Y   R E A D I N G

“Eonnie, aku tidak akan hamil!”

“Ya! Jaga bicaramu!”

Minjoo merenguh kesal pada Hyojoo yang sedang menyetir mobil. Sedangkan Hyojoo, gadis itu rasanya ingin memukul kepala Minjoo keras-keras karena mengatakan perkataan itu. Ingatlah, perkataanmu bisa jadi doamu.

“Maksudku.. aku tidak mungkin langsung hamil hanya karena melakukan ‘itu’ satu kali, eonnie..” Minjoo merengek pada Hyojoo yang tampaknya tidak mempedulikannya.

“Kumohon, eonnie. Tidak perlu membatalkan pernikahan eonnie dan menjadikan aku korbannya lagi.”

Seperti yang dikatakan Hyojoo tadi pagi, Baekhyun dan Minjoo harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kemarin malam, dimana mereka menyatukan tubuh mereka karena pengaruh alkohol. Katakan Hyojoo berpikiran kolot, tapi menurut Hyojoo apa yang dipikirkan kebanyakan orang tua itu benar. Tidak sepatutnya gadis kehilangan keperawanannya sebelum menikah. Terlebih, Hyojoo percaya bahwa malam pertama itu harus dilakukan benar-benar pertama kali dengan orang yang menjadi teman hidupnya. Sudah sewajarnya bukan jika Hyojoo menolak Baekhyun karena ia tidak mau mendapatkan ‘bekas’ adiknya?

“Kau tahu aku sangat baik, Han Minjoo. Aku tidak mungkin mau menikah dengan lelaki ‘bekas’.” Ucap Hyojoo dengan datar. “Selain itu.. ada 90% kemungkinan bahwa kau akan hamil, Han Minjoo. Aku tidak mau menikahi lelaki yang sudah membawa anak terlebih itu adalah keponakanku sendiri.” Memikirkan Hyojoo harus mendengar keponakannya sendiri memanggil dirinya ‘Eomma!’ benar-benar membuat Hyojoo meringis di kursinya. “Bukankah itu mengerikan?”

Minjoo menarik nafasnya berat-berat. Kini ia mengerti mengapa Hyojoo terlahir sebagai anak Ayahnya. Benar-benar memiliki fantasi yang terlalu tinggi.

“Eonnie.. pikiranmu terlalu jauh.” Minjoo menatap Hyojoo dengan kesabaran tingkat tinggi. “Aku.. tidak mungkin hamil hanya karena melakukan ‘itu’ satu kali dengan Baekhyun, eonnie. Hanya satu kali!” tekannya di akhir kata. “Tolong, eonnie. Jangan memperbesar masalah ini lagi. Lagipula kenapa pikiran eonnie begitu tua sih?” Minjoo bertanya dengan kesal. “Zaman telah berubah, eonnie. Aku percaya bahkan malam itu bukanlah yang pertama untuk Baekhyun. Aku yakin di London sana dia telah meniduri banyak gadis.” Ucapnya sok-tahu demi meyakinkan Hyojoo namun rasanya itu tidak berhasil.

“Ck.” Hyojoo terkekeh pelan, “Tapi aku tidak berubah, Han Minjoo. Aku masih tetap dengan prinsipku.” Ucapnya, “Berhenti mengeluh, adikku yang cantik. Kau harus menerima resiko yang telah kau lakukan.”

“Duduk manis dan kau tunggu saja sampai nanti di rumah. Kau tetap harus menikahi Baekhyun.”

Minjoo pun hanya menghembus nafas yang sangat berat sambil menutup matanya.

.

.

Minjoo menunduk mukanya dalam-dalam saat dirinya dan Hyojoo telah berada di depan rumah orang tuanya.

“Eonnie, kumohon—“

Baru dua patah kata yang Minjoo keluarkan langsung membuat Hyojoo memutar tubuhnya dan menatap tajam Hyojoo. Dengan kesal, Hyojoo menarik tangan Minjoo.

“Tidak ada kata ‘Kumohon’ lagi, Minjoo-ya. Ayo kita masuk.”

Minjoo mendengus kesal lalu membiarkan Hyojoo menarik tangannya, beberapa langkah lebih dekat menuju pintu kematiannya—re: pintu rumahnya.

“Eomma! Appa!” Hyojoo berteriak dengan girang sambil masih menggenggam erat tangan Minjoo. Takut adiknya kabur dan lari dari tanggung jawabnya. “Anak kalian pulang lagi!”

Tidak butuh waktu lebih dari 1 menit, pintu terbuka dan Ibu mereka ada disana.

“Hyojoo-ya, Minjoo-ya.. kalian datang di waktu yang tepat!” Ucap nyonya Han begitu riang. Membuat Minjoo menaikkan alisnya tak mengerti.

“Kenapa di waktu yang tepat, eomma?” Minjoo berpikir sejenak tapi setelahnya ia menatap Hyojoo dengan galak, “Jangan-jangan eonnie—“

“Ayo kita masuk!!” ucap Hyojoo dengan senyuman begitu riang, memotong perkataan gadis itu yang telah mengetahui bahwa Hyojoo telah merencanakan sesuatu yang ada di pikirannya tadi.

Benar saja, saat mereka masuk ke dalam rumahnya, ada keluarga Byun telah duduk manis di ruang tengah mereka. Tak terkecuali pria yang paling sedang Minjoo hindari beberapa waktu ini.

“Minjoo-ya.. Hyojoo-ya.. kau datang?” tanya Paman Byun yang duduk di sofa panjang dengan nyonya Byun disampingnya. Ayah Minjoo melihat Minjoo sedikit enggan, mungkin masih kecewa dengan ke-egoisan-nya Minjoo. Ah, tapi sepertinya setelah ini Ayah Minjoo akan kembali memanjai Minjoo seperti anak bungsu kembali.

Minjoo tersenyum terpaksa pada mereka namun senyumannya langsung hilang saat matanya bertemu dengan Baekhyun.

Demi Tuhan, Minjoo melihat sebuah penglihatan di masa depan akan kehancuran dirinya tepat saat ia melihat pupil mata Baekhyun.

.

.

“Ehem.”

Ayah Baekhyun berdeham cukup kencang, mempersiapkan tenggorokannya untuk berbicara. Kini seluruh keluarga telah berada di sana. Ayah Baekhyun pindah ke sofa tunggal yang bersebrangan dengan dimana Ayah Hyojoo mendudukan dirinya, terpisahkan oleh meja kecil dan panjang di hadapan mereka. Dua buah sofa panjang lainnya yang sama terpisahkan oleh meja pun penuh diisi oleh keluarga tersebut. Nyonya Han, Nyonya Byun, dan Hyojoo duduk bersama sedangkan Minjoo dan Baekhyun duduk bersebelahan mengisi sofa lainnya. Sumpah, hari itu Minjoo benar-benar merasa tersuduti.

“Karena seluruh keluarga sudah ada disini, mungkin kita buka saja pertemuan keluarga kita kali ini. Mungkin terlihat sedikit serius karena kita akan membicarakan pernikahan untuk kedua anak kita, Baekhyun dan Hyojoo.”

Tuan Han memulai pertemuan hari itu. Seluruh keluarga tak terkecuali Minjoo dan Baekhyun sekalipun membuka telinganya lebar-lebar.

“Benar, seluruh keluarga akan membahas pernikahan untuk malam ini. Sebagaimana kita ketahui..” Paman Byun kini yang mulai berbicara melihat ke arah anaknya lalu bergantian ke arah Hyojoo. “Baekhyun dan Hyojoo adalah calon pasangan yang akan mempersatukan keluarga kita. Aku pribadi ingin berterima kasih kepada Hyojoo karena mau menerima Baekhyun yang selama ini telah kau anggap hanya sebagai adikmu.”

Tuan Byun tersenyum penuh arti pada Hyojoo, “Terima kasih karena kau mau menerima Baekhyun sebagai calon suamimu, Hyojoo-ya.”

Hyojoo tersenyum tidak enak pada tuan Byun yang telah begitu menaruh banyak harapan padanya padahal setelah ini ia akan membatalkan semuanya. Tidak mau membuat tuan Byun terlalu bersimpati padanya, Hyojoo memutar kepalanya dan menatap Ayahnya. Ia memang telah memberitahu Ayahnya bahwa ia akan mengatakan sesuatu hanya saja tidak spesifik itu—belum memberitahu bahwa ia akan membatalkan pernikahannya dengan Baekhyun.

“Ah, omong-omong.. katanya kau ingin mengatakan sesuatu, Hyojoo-ya?” Tuan Han membuka suaranya lagi dan Hyojoo langsung mendapatkan seluruh perhatian kecuali perhatian Minjoo. Kini Minjoo tengah membeku di tempatnya dan kakinya tidak bisa berhenti untuk bergetar.

“Ya, hentikan gerakan kakimu. Sangat mengganggu.”

Bisikan Baekhyun itu langsung disambut Minjoo dengan tatapan beringasnya. Minjoo heran, kenapa pria itu bisa tenang sekali sedangkan Minjoo rasanya sedang berdiri di ujung tanduk.

Hyojoo menatap Minjoo dan Baekhyun terlebih dahulu lalu setelahnya ia menatap Ayahnya.

“Aku ingin mengatakan bahwa aku akan membatalkan pernikahan ini.”

Seluruh orang tercengang terlebih Ayahnya menghembuskan nafasnya dengan berat. Minjoo tidak kaget dengan perkataan itu hanya saja kini ia semakin gelisah di tempatnya. Ini benar-benar akan datang.

“..dan sebagai gantinya, Minjoo lah yang akan menikah dengan Baekhyun.”

Ctarr.

Itu suara petir yang terdengar di otak Minjoo saat Hyojoo mengatakan itu. Minjoo tidak peduli lagi dengan seluruh keluarganya yang mengerjap tidak percaya pada apa yang Hyojoo katakan. Terlebih saat ia melihat Ibunya dan Ibu Baekhyun mengimbuhi senyuman sambil melihat ke arahnya.

“Apa maksudmu, Hyojoo-ya?” Ayah Minjoo mencoba berbicara dengan tenang. “Kau tahu bukan bahwa Minjoo tidak mau menikah dengan Baekhyun?”

Hyojoo tersenyum pelan—licik, yang dilihat oleh Minjoo—pada dirinya dan juga Ayahnya.

“Coba kita dengarkan saja penjelasannya pada Minjoo, Ayah.”

Dalam hitungan satu detik, seluruh keluarga langsung menatapnya. Ya Tuhan, semua tatapannya seperti harimau yang hendak memakannya tepat detik itu.

Minjoo menelan salivanya susah payah, dahinya berkeringat dan tangannya sangat dingin. Dia menundukkan wajahnya. Dia harus mengatakan seluruh perkataan yang telah disiapkan oleh Hyojoo ketika di perjalanan tadi.

~

“Kau harus mengatakan bahwa kau berubah pikiran dan ternyata kau mencintai Baekhyun. Kalian telah hidup lama dan kau merasa tidak bisa hidup tanpanya.”

“Jangan lupa kau harus bilang kalau kau sangat-sangat-sangat mencintai Baekhyun. Kalau bisa kau mengecup bibir Baekhyun di depan semuanya.”

“HAHAHA.”

~

Bahkan tawa Hyojoo yang mengejeknya di mobil tadi benar-benar masih terekam jelas di otaknya. Hyojoo benar-benar gadis yang kejam, pikir Minjoo.

Minjoo tentu tidak akan mengatakan semuanya persis dengan Hyojoo. Oh, ayolah. Rasanya pun Minjoo ingin mendadak lupa dengan semua perkataan Hyojoo tadi lalu berpura-pura pingsan dan dia terbangun di kamarnya dan lalu dia langsung kabur melalui jendelanya. Hey, itu ide yang bagus bukan? Tapi Minjoo tidak bisa melakukan itu. Hyojoo telah mengancamnya bahwa jika Minjoo tidak mengatakan hal itu semua, Hyojoo akan memberitahu seluruh keluarga bahwa Baekhyun dan Minjoo telah tidur bersama. Itu akan menjadi hal yang sangat buruk, Ayahnya bisa membunuhnya.

“Hm. Aku…” lidah Minjoo kelu, tangannya terkepal begitu erat, dan dia tidak mau mengangkat wajahnya.

“..akan menikah dengan Baekhyun.”

Kini Ibunya dan Ibu Baekhyun benar-benar tersenyum begitu lebar. Seperti memenangkan sebuah lotere, sesenang itu. Ayahnya dan Ayah Baekhyun saling memandang, bingung dengan situasi ini. Sedangkan Baekhyun, pria itu hanya terdiam tanpa memberi kata apapun.

“Kau yakin, Minjoo-ya?” tuan Byun kini membuka suara. Meskipun tuan Byun menaruh sebersit perasaan senang dalam hatinya, tapi tuan Byun tetap harus memastikan Minjoo tidak terpaksa menikahi anaknya.

“Apa yang merubah pikiranmu sebenarnya?”

“Karena aku menyukai Baekhyun.”

Ucap Minjoo begitu cepat, benar-benar tidak ingin kata-kata itu keluar dari mulutnya dan terdengar oleh telinganya.

“Karena itu, aku mau menikah dengannya.”

Minjoo tahu, saat ini Minjoo kalah telak. Minjoo bisa dengar jika Ibunya dan Ibu Baekhyun mengerjap bahagia setelah mendengar perkataan itu. Saat mendengar suara riang keluarganya itulah benar-benar membuat hati Minjoo mengganjal. Seperti yang telah Minjoo pernah katakan, ia seperti di-anak-tirikan. Terlebih, mereka semua tertawa di atas penderitaan Minjoo.

“Ah, karena kau menyukaiku?”

Perkataan itu membuat mata Minjoo membulat penuh dengan kaget.

“Kau ternyata menyukaiku, Han Minjoo?”

Apa yang baru dikatakannya? Apa Baekhyun gila? Kenapa Baekhyun mengatakan hal itu? Apa ini semua ulah Hyojoo?

Minjoo menolehkan wajahnya dengan cepat pada Baekhyun dan saat itu, Minjoo tahu bahwa Baekhyun sedang mengejeknya.

“YA! KAU—“

Minjoo menghentikan teriakannya saat ia baru sadar bahwa ada seluruh keluarganya sekarang. Terlebih, karena ia harus berpura-pura menyukai Baekhyun mulai detik ini.

Kenapa pria itu bisa semenyebalkan ini? Lihatlah dia sekarang, pria itu benar-benar sedang mengejeknya. Minjoo tahu bahwa Baekhyun merasa menang karena pada akhirnya hal yang paling Minjoo benci di dunia ini—menikah dengan Baekhyun—akan terwujud. Dimana mungkin Minjoo bisa saja diinjak-injak, dijadikan pembantu atau Minjoo akan diperbudak oleh Baekhyun.

Tapi, ada satu hal yang benar-benar Minjoo tidak mengerti.

Kenapa Baekhyun tidak merasa kesal dengan ini semua disaat ia juga membenci Minjoo sebanyak Minjoo membenci Baekhyun?

Minjoo menurunkan emosinya, ia menahan nafasnya namun tetap menatap Baekhyun dengan tajam.

“Kau benar.. aku menyukaimu.” Ucapnya penuh penekanan dan amarah meskipun kini seluruh keluarga menganggapnya dengan serius.

“Karena aku menyukaimu, Byun Baekhyun.”

Dan seluruh keluarga tersenyum bahagia saat itu. Melihat dirinya dan Baekhyun dengan gembira.

Sedangkan Baekhyun, pria itu menyeringai seakan-akan ia berkata ‘Selamat menempuh hidup baru nan menyenangkan denganku, Minjoo’. Ingat, itu tidak berada di kalimat konotasi karena Minjoo tahu, hidupnya setelah ini akan jauh lebih melelahkan daripada hari-hari saat ia memperjuangkan haknya untuk tidak menikahi Baekhyun.

Hidupnya benar-benar akan berakhir.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Yubi berjalan memasuki gedung kantornya sambil menyanyi sesuai dengan lagu yang keluar melalui earphonenya. Moodnya cukup baik untuk menjalani aktivitasnya hari itu.

Ketika Yubi baru saja memasuki lobby kantornya, Sehun tiba-tiba muncul dan langsung merangkulnya. Membuatnya terkejut kaget dan langsung melepas earphonenya.

“Ya. Apa yang kau lakukan?” tanyanya sambil berusaha melepaskan Sehun darinya.

“Sayang! Kau datang lebih pagi, hm?” Sehun tidak mempedulikan pertanyaannya dan malah merangkul Yubi lebih erat. “Kau sedang mendengarkan musik apa? Aku ingin mendengarkannya juga!” ucapnya lalu memasang earphone Yubi pada telinganya. Yubi mencoba melihat ke seluruh arah, mencoba menebak apa yang kini ia sedang lakukan.

“Ayo sayang kita ke ruang kerja sekarang kalau tidak nanti Ketua Minjoo bisa marah!” Sehun pun menarik Yubi dengan cepat sambil masih dengan merangkulnya. Yubi cukup risih tapi Yubi tahu apa yang sedang Sehun lakukan sekarang.

“Ya.”

Saat pintu lift tertutup dan hanya menyisakan mereka, Yubi membuka suaranya.

“Gadis mana lagi yang kau campakkan?”

Sehun mendengus kesal lalu menurunkan rangkulannya pada Yubi sambil melepaskan earphonenya dan mengembalikannya pada gadis itu. Benar seperti yang Yubi pikirkan sebelumnya, Sehun sedang menghindari seorang gadis yang Yubi lihat di lobby tadi. Gadis itu bahkan terlihat sangat menyedihkan saat Sehun merangkulnya dan memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’.

“Aku tidak mencampakkannya, Lee Yubi. Aku sudah memutuskannya dari satu minggu yang lalu hanya saja dia masih mengejar-ngejarku!” belanya sambil melihat Yubi dengan kesal.

“Oh Sehun, gadis itu masih mengejar-ngejarmu karena kau meninggalkannya secara tiba-tiba.” Yubi menatap Sehun dengan berani, “Aku berani taruhan bahwa kau hanya mengencani gadis itu untuk satu minggu, benar!?”

Sehun mendelikkan matanya lalu membuang wajahnya dari Yubi. Merasa kalah saat ini.

“Benar, kan? Terang saja gadis itu masih terus mengejar-ngejarmu, bodoh!” Yubi memukul Sehun menggunakan tasnya. “Kau pasti hanya menciumnya sekali lalu saat kau merasa kau tidak puas kau langsung memutusinya!” Sehun meringis namun Yubi tidak peduli. “Kapan kau akan berubah, Oh Sehun!?” Yubi kemudian mengimbuhi perkataannya dengan pukulan oleh tasnya sekali lagi.

“Ya!!” Sehun mengusap-usap bahu lengannya, “Sakit!”

“Gadis itu tidak bisa kau perlakukan seperti itu, Sehun. Mereka memiliki perasaan. Saat mereka jatuh hati, mereka akan terlarut pada perasaan mereka dan saat mereka patah hati, mereka akan terjatuh seperti masuk ke neraka.” Yubi mengatakannya penuh dengan amarah.

“Kau tidak bisa memainkan perasaan wanita seperti itu!”

Sehun mendengus kesal, “Ya lalu jika aku tidak menyukainya, mau bagaimana lagi?” ucapnya. “Perasaanku juga tidak bisa dipaksakan, bukan?!”

“Ya lalu kenapa kau memulainya bodoh!” Yubi kembali memukul Sehun, “Kenapa kau menciumnya kalau kau tahu kau tidak akan menyukainya!?”

“LEE YUBI!!” Sehun menjerit keras, “Sakit!!”

“Ingat ya, Oh Sehun!” Yubi mengancam Sehun sambil menunjuk tajam pada matanya, “Kalau kau begitu lagi pada gadis-gadis di luar sana, aku tak segan-segan akan menghajarmu dengan tongkat baseball. Kau tidak lupa kan bahwa aku mantan atlit baseball!?”

Ting.

Pintu lift terbuka dan tanpa mempedulikan Sehun yang masih meringis kesakitan, Yubi pergi meninggalkannya.

“Ya! Lee Yubi!” Sehun kini berlari keluar mengejar Yubi sambil masih mengelus-elus lengannya.

“Aku melakukan itu semua karena aku punya standarku sendiri—“

Saat Sehun telah berhasil berdiri di samping Yubi, ia menghentikan perkataannya. Lebih tepatnya saat mereka telah berhasil membuka pintu ruangan kerja mereka dan menemukan sebuah sleeping bag disana beserta beberapa cup mie dan kaleng susu tergeletak menjijikan di sampingnya. Persis seperti hidup pengemis di jalanan

“I-ini.. p-perbuatan siapa?” tanya Yubi pada Sehun dengan gugup.

“Aku.”

“Ah!!”

Sehun dan Yubi terlonjak kaget sambil memutar tubuhnya. Mereka menemukan Minjoo disana.

“Noona!” “Eonnie!” keluh mereka bersamaan sambil memegang dadanya mereka.

Minjoo persis seperti seorang mahasiswi yang belum menyelesaikan skripsinya. Rambutnya berantakan, memakai kaus usang, dan kantung matanya berlipat-lipat.

“Noona.. kenapa.. dengan kau?” tanya Sehun melihat Minjoo dengan iba.

“Ya! Siapa gadis pengemis yang berdiri di hadapan kalian!?” Chanyeol berteriak dari belakang Minjoo, sedang berjalan menuju ruang kantornya.

Minjoo berbalik dan Chanyeol terkejut kaget sambil memundurkan tubuhnya.

“Ya! Han Minjoo! Kenapa dengan kau!?”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

“Noona jadi menikah dengan Baekhyun!?” teriak Sehun dan Yubi bersamaan hanya saja Yubi mengganti panggilannya menjadi ‘Eonnie’. Minjoo telah menceritakan alasan mengapa ia menginap di ruangan kerja mereka semalam. Alasan apa lagi kalau bukan karena ia pusing memikirkan dirinya yang akan dinikahkan dengan Baekhyun.

“Kenapa jadi menikah dengannya, noona?” tanya Sehun penasaran. Kini mereka semua tengah berkumpul di meja Minjoo. Ruangan mereka telah bersih, Minjoo pun telah membersihkan dirinya dari tampilan pengemis tadi. “Dan kenapa noona baru bilang sekarang saat itu sudah tujuh hari lamanya!?”

“Ya! Aku pusing memikirkan semuanya! Aku pusing memikirkan diriku di masa depan! Hidupku benar-benar akan berakhir, teman-teman!” Minjoo merenguh kesal, “Aku juga lelah setiap hari Ibuku dan Ibunya selalu bertemu dan membahas seluruh keperluan pernikahan di telingaku! Rasanya aku ingin menyumpal kedua mulut mereka dengan kaus kaki!”

Sehun dan Yubi menatap Minjoo dengan iba. Kasihan dengan nasib yang di alami oleh kakak sekaligus kepala sekretaris mereka ini.

“Ya. Sudah kubilang tidak mungkin kau dijodohkan dengan orang yang salah oleh orang tuamu, Han Minjoo.” Chanyeol menyuarakan pendapatnya, menurutnya memang seperti itu. Mana ada orang tua yang melakukan terburuk untuk anaknya? “Sudah kubilang pasti mereka memiliki alasan yang akan kau mengerti di masa depan nanti—“

“Apa alasannya, Park Chanyeol!? Aku rasa aku tidak akan menemukannya! Sudah kubilang aku tidak pernah menyukainya!” jerit Minjoo dengan kesal.

“Lalu bukankah kemarin kau berhasil melawan mereka? Kenapa sekarang menjadi kembali lagi kau yang dijodohkan?”

Pertanyaan Chanyeol membuat Minjoo membeku di tempatnya. Merasa malu jika harus mengatakan aibnya.

“Aku..” Minjoo menarik nafasnya. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Meskipun bisa saja tidak sekarang Minjoo memberitahunya, kelak mereka akan tahu juga bukan?

“..tidur dengannya.”

“APA!?” Sehun dan Yubi lagi-lagi berteriak bersamaan. “TIDUR DENGANNYA!?”

Minjoo berdecak kesal, “Itu tidak sengaja, aku berani bersumpah atas nama Tuhan! Aku dan dirinya minum alkohol bersama dan lalu tanpa sadar kami..” Minjoo menurunkan volume suaranya.

“Kami.. tidur bersama karena pengaruh alkohol itu..”

Yubi yang mendengar itu langsung menghembuskan nafasnya dengan iba, “Eonnie, kenapa eonnie minum bersamanya? Eonnie kan tahu sendiri kalau eonnie sudah mabuk, eonnie tidak akan sadar dan ingat apa yang eonnie lakukan..”

“Karena itu..” Minjoo menatap di hadapannya dengan amarah, mengingat Baekhyun yang mengajaknya minum alkohol saat itu. “Dia yang memulai semuanya! Dia yang membuatku seperti ini! Byun Baekhyun bajingan!”

Minjoo berteriak kesal dan itu ditanggapi oleh Yubi dan Sehun dengan ringisan iba. Sedangkan Chanyeol pria itu melihat Minjoo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa sepengetahuan siapapun, Chanyeol tersenyum pelan saat itu.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Langit sudah sangat gelap, namun Chanyeol masih membiarkan dirinya untuk berdiri di depan lobby gedung kantornya. Menunggu seseorang.

Untunglah ia tidak perlu menunggu sampai 1 jam lamanya, setelah 15 menit lamanya seseorang yang Chanyeol tunggu datang dan menghampirinya.

“Chanyeol-ah.”

Chanyeol menengok ke samping dan tersenyum pada gadis itu.

“Hyojoo noona!”

.

“Kenapa noona tidak membawa mobil hari ini, hm?” tanya Chanyeol sambil tetap memfokuskan dirinya pada jalanan. Chanyeol sedang mengantar Hyojoo pulang. “Pulang larut pula, untung masih ada aku! Apa noona tidak takut?” ucapnya lagi.

Hyojoo terkekeh pelan sambil melihat ke arah Chanyeol, “Justru karena ada kau makanya aku tidak takut.” Hyojoo tersenyum kemudiannya, “Kau setiap hari selalu menanyakanku ‘Noona, sudah pulang belum?’ ‘Noona, pulang naik apa?’, yasudah saja sekarang aku yang langsung bilang aku belum pulang dan tidak membawa kendaraan.” Hyojoo memajukan wajahnya dan tersenyum gummy pada Chanyeol.

“Kau pasti langsung datang untuk menjemputku, bukan?”

Chanyeol menengok sedikit lalu tertawa.

“Aigoo! Noona memanfaatkanku ternyata!” dan Hyojoo menyusul tertawa agar mereka tertawa bersama.

Mobil Chanyeol berhenti karena lampu merah. Ia pun memutar kepalanya untuk menatap Hyojoo.

“Terima kasih untuk tidak jadi menikah dengan Baekhyun, noona.” Hyojoo menolehkan kepalanya dan lalu melihat tatapan Chanyeol yang begitu lembut padanya.

“Terima kasih karena telah menjaga perasaanku.”

Hyojoo tentunya merasakan apa yang Chanyeol katakan saat ini. Ia tahu, Chanyeol masih menyimpan perasaan itu untuknya meskipun telah bertahun-tahun lamanya.

“Ya.. kau harusnya berterima kasih pada Minjoo! Jika saja ia tidak tidur dengan Baekhyun, saat ini aku pasti masih tetap ‘calon’ istri Baekhyun!” ucap Hyojoo. Ia kemudian berdeham sambil berpikir.

“Jika aku masih ‘calon’ istri Baekhyun, pasti saat ini kau akan ngambek padaku persis seperti satu minggu yang lalu.” Hyojoo menatap Chanyeol dengan menyipitkan matanya. “Pasti juga kau tidak mau menjemputku saat aku memintamu seperti hari ini.”

Chanyeol mengangkat bahunya acuh, “Habis kenapa noona malah mengorbankan diri noona untuk menikah dengan Baekhyun!” belanya, “Noona tahu aku tidak suka kan dengan itu!”

“Ya.. lalu kau mau membiarkan orang tuaku hidup dengan tidak tenang begitu!? Aku tidak bisa membiarkan mereka hidup dengan beban akan perusahaan dan persahabatannya dengan keluarga Byun, Park Chan..” Hyojoo juga membela dirinya. Benar, jika waktu itu Hyojoo tidak mengalah demi adiknya, mungkin penyakit jantung Ayahnya bisa kambuh kembali seperti satu tahun yang lalu. Tentu saja Hyojoo tidak ingin itu terjadi.

“Sudahlah. Aku tidak mau membahasnya. Kita selalu berakhir dengan bertengkar jika sudah membahas ini lagi.” Chanyeol mendengus kesal sambil mengalihkan pandangannya pada jalanan kembali. Sebentar lagi lampu hijau akan nyala.

Hyojoo yang melihat tingkah Chanyeol itu tersenyum gemas lalu mengangkat tangannya dan mencubit pipi Chanyeol.

“Chanyeol-ku kalau sudah marah manis sekali ya!”

“Noona!”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Minjoo melangkahkan kakinya mondar-mandir di ruang make-up, dimana ia memasangkan gaun pernikahannya dan memoleskan wajahnya sekarang ini. Seluruhnya sudah terpatri cantik di tubuh Minjoo, gaun putih tanpa lengan serta polesan sederhana pada wajah Minjoo.

Hari ini adalah hari itu. Hari yang paling Minjoo hindari seumur hidupnya dan paling Minjoo benci seumur matinya. Pernikahan itu terjadi juga setelah hampir tiga minggu lebih seluruh keluarga menyiapkannya—lebih tepatnya Ibunya dan Ibu Baekhyun tanpa Minjoo. Ini terlalu cepat dan Minjoo tidak tahu harus bagaimana sekarang. Maksudnya, tidak tahu cara apalagi yang bisa membuat dia kabur dari situasi ini.

Minjoo membiarkan dahi serta punggungnya berkeringat, ia sedari tadi terus memikirkan segala hal untuk kabur dari pernikahan ini. Seperti ia memikirkan untuk pura-pura pingsan, atau ia mengancam akan bunuh diri, ataupun ia ingin melarikan diri melalui jendela ruangan meskipun ia berada di lantai 10 hotel megah kota Seoul. Biar saja, biar terlihat seperti Angelina Jolie sedang beraksi, pikirnya.

Tok. Tok.

Minjoo terlonjak kaget namun Ia langsung menanggapinya, “Y-ya?”

Cklek.

Han Hyojoo dengan gaun putih senada namun berbeda model dari milik Minjoo telah berdiri disana.

“Ya! Kau sudah dipanggil sedari tadi! Mengapa belum keluar juga!?” bentaknya.

Merasa semakin terancam nyawanya, Minjoo pun memasang muka ‘anak kucing’nya pada kakaknya, “Eonnie.. kumohon..” Minjoo juga sedikit merunduk sambil mengangkat tangannya, memohon.

“Aku.. benar-benar tidak mau menikah dengannya..”

Hyojoo menarik nafasnya pelan lalu ia berusaha tersenyum lembut pada Minjoo.

“Han Minjoo, dengar aku..” Hyojoo pun memegang bahu Minjoo sembari menyamakan posisi mereka.

“Aku yakin.. kau akan sangat-sangat bahagia dengan Baekhyun. Kau mungkin belum merasakannya sekarang dan hanya merasakan dendam lamamu. Tapi..”

Hyojoo mencoba menenangkan adiknya dan menatapnya semakin lembut.

“..Jika kau mencoba melihat diri Baekhyun lebih dalam.. lebih mengerti dirinya.. kau akan mengerti mengapa aku bisa yakin bahwa kau akan bahagia dengan Baekhyun.”

Minjoo menundukkan kepalanya. Bukan jawaban itu yang Minjoo ingin dengar dari Hyojoo. Entahlah, Minjoo menganggapnya bahwa kakaknya itu hanya sedang berusaha menenangkannya agar ia mau-tak-mau harus tetap menikah dengan Baekhyun. Jika saja Minjoo bisa lebih paham lagi dengan maksud Hyojoo, Minjoo akan mengerti mengapa ia memang harus menikah dengan Baekhyun.

“Ayo sekarang kita keluar. Semua orang sudah menunggu. Kalau kau mundur sekarang, kau akan mengecewakan banyak orang Minjoo.”

Minjoo pun menyerah. Ia menghembuskan nafasnya dan menyiapkan seluruh raga dan batinnya. Ya sudah, mau bagaimana lagi. Takdirnya memang akan begini, takdir menginginkan hidup Minjoo hancur.

Dengan berat hati, Minjoo menaikkan wajahnya dan menatap kakaknya.

“Doakan semoga perkataanmu itu menjadi suatu keajaiban untukku, eonnie.”

.

.

Minjoo masih tidak berani untuk melihat ke depan. Pintunya memang di tutup, tapi rasanya saat melihat pintu itu seperti melihat pintu kematian. Minjoo terus melihat sepatu kacanya, bermaksud mencari ketenangan meskipun rasanya nihil.

“Angkat kepalamu, sebentar lagi kita masuk.” Ucap Ayah Minjoo disampingnya. Mendengar itu, Minjoo mengeratkan tangannya pada lengan Ayahnya semakin erat.

“Ayah, aku tidak sanggup—“

Perkataannya terpotong saat pintu kematian itu kini terbuka lebar. Menampakkan 999 pasang mata memperhatikannya. Jantungnya terkejut kaget dan rasanya itu meledak di dalam jantungnya. Ia benar-benar seperti akan mati saat itu juga.

“Pegang tanganku dengan erat dan percaya..” Ayah Minjoo mencoba menenangkan Minjoo yang tegang di sampingnya. Sangat terasa karena Minjoo sedikit mencakar lengan Ayahnya.

“..semuanya akan baik-baik saja.”

Perlahan tapi pasti, Minjoo menetralkan suasana hatinya. Mengikuti kata Ayahnya, ia pun melepaskan nafas terberatnya dan mencoba menerima semuanya. Kemudiannya, mereka pun berjalan menuju altar dimana Minjoo bisa lihat bahwa Baekhyun telah berdiri disana.

Ah, seperti inikah rasanya saat menikah? Minjoo kini mengerti mengapa tantenya, teman Hyojoo, dan beberapa rekannya merasa gugup saat menikah. Saat semua pasang mata memerhatikanmu, berharap bahwa kau bahagia dengan pasanganmu akan membuat darahmu berdesir-desir. Mungkin, tantenya, teman Hyojoo, dan beberapa rekannya tidak terlalu menganggap lebih dengan pandangan itu tapi kasus Minjoo disini berbeda. Masalahnya.. Minjoo tidak berharap tinggi untuk bisa bahagia dengan Baekhyun.

Saat Minjoo telah sampai di altar, Ayahnya melepas tangannya dan memberikannya pada Baekhyun. Seperti sebuah simbol dimana maksudnya adalah keluarganya telah melepas Minjoo dan membiarkan Baekhyun menghancurkan hidupnya. Ya seperti itu maksud Minjoo.

“Baiklah, semuanya mari kita panjatkan doa untuk pasangan ini. Silakan berdiri untuk seluruh jemaat.”

Semua manusia itu berdiri di hadapan Minjoo. Sumpah itu membuat kaki Minjoo bergidik ngeri.

“Ya. Hentikan gerakan kakimu karena itu sangat memalukan.” Bisik Baekhyun pelan dengan tenang.

Sampai detik ini, Minjoo masih tidak menemukan alasan yang tepat mengapa Baekhyun tidak pernah mempermasalahkan pernikahan ini terlalu berat. Apakah dia benar-benar punya rencana untuk menghancurkan hidup Minjoo setelah berhasil memperistri Minjoo?

“Nona Han, apa kau bersedia menjadi istri bagi saudara Byun Baekhyun?”

“Tidak.”

Minjoo terlonjak kaget atas ucapannya. Seluruh ruangan menjadi kikuk karena ucapannya termasuk Baekhyun yang kini menyenggol lengan Minjoo cukup kasar. Habis, mengapa pendeta itu tiba-tiba sekali berbicaranya atau karena Minjoo yang tidak mendengar semua doa yang tidak penting itu?

“Maksudku.. ya. Aku mau menerimanya.”

Kini ruangan pun menjadi tenang kembali dengan sedikit tawa terdengar dari mereka. Minjoo hanya tersenyum kikuk pada orang-orang tersebut sedangkan Baekhyun mendelik malas padanya. Ya, memang Baekhyun semenyebalkan itu.

“Kini mempelai pria dipersilakan memasangkan cincin kepada mempelai wanita sebagai simbol bahwa sang wanita telah menjadi miliknya..”

Baekhyun pun memasangkan cincin di jemari manis Minjoo dengan pelan.

“..Dan kini giliran sang mempelai wanita yang memasangkan cincin pada mempelai pria sebagai simbol bahwa sang pria telah menjadi miliknya..”

“Cih.” Minjoo memasangkan cincin itu di jemari manis Baekhyun dengan malas.

“Aku tidak pernah mau kau jadi milikku juga, untuk apa aku memasang ini..”

“Tapi aku mau kau jadi milliku.”

Bisikkan Baekhyun itu terdengar jelas di telinga Minjoo. Membuat Minjo tersontak kaget dan langsung menatapnya.

“Apa?!”

“Kini, mempelai pria dipersilakan untuk mencium mempelai wanita agar mensahkan pernikahan suci ini di hadapan Tuhan.”

Selesai dari perkataan pendeta itu, Minjoo merasakan bahwa ada tangan yang menyelip di pinggangnya.

Dan lalu menarik tubuh Minjoo untuk menyatu dengan tubuh Baekhyun.

“Ya!” Minjoo berusaha memberontak dengan apa yang Baekhyun lakukan meskipun ia mencoba menyembunyikannya juga agar tidak terlalu kentara di depan orang-orang.

“Apa yang akan kau lakukan!?” sentak Minjoo dengan sangat pelan, agar hanya Baekhyun yang mendengarnya. “Buat ini terlihat seperti ciuman tapi kau tidak boleh menciumku!”

Baekhyun menyeringai dan perlahan menyipitkan matanya, “Bagaimana ya caranya..”

Kemudian, Baekhyun menghapus jarak mata mereka dan menyisakan jarak 1 cm dari hidung mereka sambil memiringkan kepalanya ke kanan.

“Seperti ini?”

Kemudian Baekhyun memiringkan kepalanya lagi ke arah yang berlawanan namun tetap pada jarak 1 cm dari hidung mereka.

“Atau seperti ini?”

Minjoo mencoba menelan salivanya keras-keras karena sumpah udara di sekitarnya sangat panas dan menipis.

“P-pokoknya harus terlihat seperti berciuman tapi kau—“

Cup.

Minjoo terdiam. Matanya berkedip-kedip. Jantungnya meledak.

Baekhyun menciumnya.

“Maaf, aku tidak bisa sepertinya.” Ucapnya dengan enteng sambil menyeringai setelah mengecup bibir Minjoo satu kali.

Memang, kecupan itu cukup membuat jantung Minjoo meledak tapi ia langsung sadar akan realita saat kepalanya panas akan amarah.

“YA! KAU—“

Minjoo terdiam lagi karena ia mengingat bahwa orang-orang menyaksikannya. Saat itu, semua orang terdiam memperhatikan mereka namun sedetik selanjutnya mereka langsung bertepuk tangan riuh pada mereka.

“Ya, kini Byun Baekhyun dan Han Minjoo telah resmi menjadi pasangan yang sah di hadapan Tuhan. Mari kita panjatkan doa untuk pernikahan mereka yang akan selalu diiringi dengan kabahagiaan.”

Minjoo pun semakin menaikkan pitamnya sambil menatap garang Baekhyun. Pria itu kini mengejeknya, menertawainya dalam hati dan Minjoo tahu persis itu.

Hari itu, Minjoo baru sadar bahwa dewi fortuna memang tidak akan pernah berpihak padanya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Jujur, saat ini rasanya Minjoo ingin marah dan ingin menghancurkan segala sesuatu yang ada di hadapannya.

Keluarga Minjoo dan Keluarga Baekhyun memang tidak pernah kehabisan akal untuk membuat hidup Minjoo menderita. Saat ini, dihadapannya telah terbangun kokoh rumah yang besar dan yang untungnya tidak terlalu mewah seperti rumahnya. Rumah siapa lagi kalau bukan rumah dirinya dan Baekhyun?

Orang tua mereka menyuruh mereka untuk tinggal bersama meskipun Minjoo telah bilang berkali-kali bahwa dia tidak mau tinggal hanya berdua. Bilangnya sih karena Minjoo tidak mau kesepian hanya tinggal berdua dengan Baekhyun disaat alasan sebenarnya tidak perlu Minjoo jelaskan lagi. Pasti sudah bisa ditebak oleh seluruh dunia.

Namun, sayang sekali yang mereka katakan masih terngiang jelas di otak Minjoo dan itu benar-benar menjengkelkannya:

“Kami ingin punya cepat cucu, sayang. Kami harus memberikan kalian privasi agar keinginan kami itu cepat terwujud.”

 

“Aish!”

Minjoo pun mengumpat dengan kesal lagi mengingat itu. Memangnya ia mau apa memiliki anak dari darah Baekhyun?! Bahkan jika benar seperti itu, lebih baik Minjoo menggugurkannya saja sebelum melahirkannya ke dunia daripada harus membuat Baekhyun kedua. Satu Baekhyun saja sudah cukup menghancurkan hidup Minjoo.

“Jangan terus mengumpat, bodoh.” Baekhyun memprotes keluhan Minjoo sambil mengangkat barangnya dari bagasi belakang. “Ambil barangmu. Aku ingin tidur cepat, aku lelah.”

Minjoo menengok ke arah Baekhyun dengan tajam. Jujur, dia juga masih sangat kesal dengan Baekhyun yang menciumnya ketika di altar tadi. Memperlakukannya seperti boneka gadis 5 tahun yang bisa di cium kapan saja sebagaimana gadis kecil itu mau. Sudah diperlakukan seperti boneka, Minjoo juga kesal dengan Baekhyun yang selalu saja menang untuk mengalahkannya. Demi Tuhan, kapan Minjoo bisa menang dari Baekhyun.

Tanpa mau melihat wajah Baekhyun, Minjoo pun berjalan dengan hentakan di setiap kakinya. Sedikit mendorong tubuh Baekhyun yang menghalangi bagasi lalu Minjoo mengambil barangnya. Setelahnya Minjoo pergi masuk sambil masih mengomel tanpa suara di mulutnya dan Baekhyun yang melihat itu pun hanya menatap jijik Minjoo.

.

.

Minjoo tahu, Minjoo itu bodoh. Sangat bodoh. Pantas dan untung saja orang tuanya tidak memberikan posisi lebih tinggi untuk Minjoo di perusahaan atau jika iya mungkin perusahaan itu tinggal nama saja sekarang.

Minjoo lupa bahwa ia akan tidur dengan Baekhyun dalam satu ranjang.

Satu. Ranjang.

Atau bahkan malam ini adalah malam pertama mereka. Ya tidak malam pertama sih, karena mereka pernah ‘melakukannya’ sebelumnya.

Malam. Pertama.

“Bagaimana ini!?”

Minjoo sedari tadi mondar-mandir di hadapan meja riasnya, memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini. Baekhyun sedang di kamar mandi dan ia harus berpikir lebih cepat sebelum Baekhyun keluar dari sana.

“Apa mungkin dia akan melakukannya lagi?” Minjoo berpikir sebentar, “Tapi tadi dia bilang dia lelah, mungkin dia tidak akan melakukannya..” Minjoo sempat tersenyum menang karena ia rasa itu jawabannya hanya saja ia kembali merubah raut wajahnya menjadi cemas.

“Tapi bagaimanapun juga dia itu lelaki! Masa iya tidak terpancing saat tidur satu ranjang dengan wanita!?” Minjoo berjalan mondar-mandir lebih cepat dari sebelumnya, “Aish! Bagaimana ini.. apa mungkin aku menolaknya saja!?” tanyanya pada dirinya lagi.

“Tapi aku istrinya.. ya meskipun hanya sah di mata negara tanpa perasaan kami, tetap saja aku ini sudah resmi menjadi istrinya..” Minjoo kembali kalut sambil mempercepat langkahnya lagi. Pikirannya tidak tenang, ia gugup. Ia takut. Entahlah, meskipun harusnya dia biasa saja dengan ini karena ia telah ‘melakukannya’ sebelumnya tetap saja. Saat itu ia dipengaruhi alkohol yang berarti ia tidak sadar—atau bahkan ia masih belum ingat sampai detik ini dengan kejadian hari itu—saat melakukan itu. Kali ini? Matanya bisa melihat, otaknya bisa berpikir, dan jantungnya bisa berdetak sesuai dengan kemauannya. Bagaimana ini!?

“Ah, aku akan pura-pura tidur saja!” muncullah ide cemerlang itu. Tuhan masih sayang padanya ternyata.

Dengan cepat, Minjoo pun langsung melompat ke atas tempat tidurnya dan setelahnya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

Cklek.

Itu suara pintu kamar mandi mereka terbuka. Berarti Baekhyun telah selesai membersihkan seluruh tubuhnya.

Deg. Deg.

Itu suara jantung Minjoo. Demi Tuhan, rasanya jantung itu seperti berdetak tepat di tenggorokannya. Bernafas rasanya lebih sulit, terlebih ia tertutupi oleh selimutnya.

Minjoo bisa mendengar pergerakan kaki Baekhyun yang kesana-kemari, entah apa yang pria itu lakukan dan Minjoo juga tidak akan peduli. Yang Minjoo pedulikan hanyalah masalah ‘keperawanannya’ malam ini.

Krek. Krek.

Itu suara dari ranjang Minjoo. Berarti saat ini Baekhyun telah naik ke atas ranjang mereka.

Cukup lama Minjoo tidak merasakan pergerakan apa-apa dari Baekhyun yang di sampingnya. Minjoo menarik nafas dengan lega dan memanjatkan doa bersyukur pada Tuhan namun beberapa detik setelahnya harapan Minjoo hancur.

Baekhyun bergerak lagi.

Dan kali ini Minjoo bisa merasakan jika tubuh Baekhyun sedang menghimpit tubuh Minjoo.

Deg. Deg. Deg. Deg.

 

“APA YANG KAU LAKUKAAAN!”

Minjoo berteriak keras sambil membuka selimutnya.

Dan saat itu Minjoo tahu, ternyata Tuhan tidak memberikannya kesempatan hidup.

Baekhyun yang tepat berada di atas tubuh Minjoo melihat Minjoo dengan alis yang terangkat serta dengan satu tangannya yang sedang berusaha mencapai lampu tidurnya.

Baekhyun hendak mematikan lampu tidurnya.

Minjoo menelan salivanya susah payah dan ia tahu jika mukanya semerah tomat saat itu juga. Minjoo selalu bilang bahwa Ayahnya selalu berfantasi liar yang tidak-tidak tapi kali ini dia sendiri yang berfantasi liar yang tidak-tidak.

“Kenapa kau?” tanya Baekhyun dengan tampang menyebalkannya. “Apa yang kau maksud dengan ‘apa yang kau lakukan?’” tambahnya lagi.

Minjoo sebisa mungkin untuk terlihat seperti dia tidak melakukan kesalahan apapun dan wajahnya ia pasang seperti ia baru saja baru bangun dari mimpi buruknya. Itu ide terbodoh namun Minjoo rasa itu akan berhasil.

“Hm? Ah.. aku baru saja bangun dari mimpi burukku..” ucapnya sambil pura-pura menghapus keringat dari pelipisnya. “Tuhan tolong selamatkan aku sekali saja”, tutur Minjoo dalam hatinya berteriak-teriak.

Baekhyun terdiam, memerhatikan Minjoo dengan kebingungan.

Minjoo juga terdiam sembari mengalihkan tatapannya yang perlahan mulai memancarkan kegugupan.

Saat itulah, Baekhyun tahu kalau Minjoo sedang berbohong.

“Sepertinya kau tidak baru bangun dari mimpi burukmu..” Baekhyun mengangkat tangannya dari lampu itu lalu menaruhnya tepat di samping kepala Minjoo. Kali ini, benar-benar mengunci Minjoo di bawahnya.

“Sepertinya kau baru saja menghindari sesuatu dariku..” Kali ini Baekhyun bahkan memajukan wajahnya beberapa senti lebih menipis dengan hidung Minjoo. Sumpah, Minjoo rasanya seperti bernafas dari karbondioksidanya Baekhyun.

“Apakah kau sedang menghindari malam pertama kita, Han Minjoo?” ucapnya sambil menyeringai.

Kalian tahu bagaimana rasanya jantung kalian berdetak di mulut kalian? Demi apapun, itu rasanya seperti kalian ingin memuntahkan seluruh isi perut kalian dari sana. Dan itu Minjoo rasakan saat ini juga!

“Y-ya..” Minjoo kehilangan volume suaranya. Benar-benar menciut seperti semut saat itu. “A-aku.. t-tidak mau melakukannya..” Minjoo pun dengan polosnya mengangkat kedua tangannya untuk menutup dadanya.

“K-kumohon..”

Baekhyun yang melihat itu pun hanya terkekeh sambil melihat Minjoo lagi dengan tatapan seperti biasanya—menjengkelkan. Terdiam selama beberapa detik memerhatikan Minjoo dari jarak seperti itu, Baekhyun tiba-tiba memukul kepala Minjoo dengan dahinya.

“Ah!”

Setelahnya Baekhyun pun menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh Minjoo, membaringkan tubuhnya di bagian kasur yang kosong tepat sebelah Minjoo sambil mengangkat lengannya untuk menutup wajahnya.

“Aku tidak akan melakukannya.”

Perkataan Baekhyun itu seperti sebuah undian lotere untuk Minjoo. Gadis itu tersenyum senang menatap Baekhyun.

“Matikan lampunya, aku benar-benar lelah. Kau enak bisa tertidur di sepanjang jalan tadi..” ucapnya. Mengingat di perjalanan tadi membuat Baekhyun menengokkan kepalanya dari balik tangannya pada Minjoo, “Meskipun mulutmu terus mengigau dengan mengumpat kata-kata kasar tetap saja kau sudah tidur.”

“Aku tidak bisa tidur dengan lampu yang mati.” Ucap Minjoo sambil menggigit bibirnya, “Kau kan tahu itu, Baekhyun.”

“Aish! Masa kau belum saja lepas dari kebiasaan kecilmu itu!?” protesnya dari balik lengan itu. “Tidak ada apa-apa disini. Kau tidak perlu takut apapun selain itu..” Baekhyun menjeda perkataannya selama beberapa detik.

“Ada aku. Aku sekarang di sampingmu.”

Minjoo terbelalak seiring dengan jantungnya yang terasa menghangat. Perlahan tapi pasti dia menolehkan kepalanya kepada Baekhyun. Memerhatikan pria itu meskipun terhalangi oleh lengannya.

“Matikan lampunya dan tidak usah takut dengan sesuatu seperti di bawah kasurmu atau saat kau membuka matamu kau tidak bisa melihat apa-apa.”

“Aku disini.”

“Disampingmu.”

Meskipun Baekhyun tidak mengatakannya melalui matanya, tapi Minjoo tahu.. nada suara Baekhyun terdengar sangat tulus.

Minjoo sebisa mungkin menetralisir jantungnya yang tiba-tiba berdetak dan menghangat. Memukul-mukul dadanya, untuk menenangkannya karena bagaimanapun juga dia tidak boleh menumbuhkan perasaan apapun pada Baekhyun. Tidak pada seorang Byun Baekhyun.

“Ya!” Minjoo terlonjak kaget saat ia mendengar sentakan dari Baekhyun. Baekhyun kini menatapnya dengan garang.

“Cepat matikan aku belum bisa tidur jika lampu belum dimatikan!”

Ah, rasanya memang Minjoo tidak akan pernah bisa jatuh cinta dengan Baekhyun. Bahkan pria itu bisa menghilangkan perasaan hangat itu dalam satu sentakkan.

Mendengus kesal, Minjoo pun perlahan merebahkan tubuhnya sambil mematikan lampunya.

“Ini aku matikan! Tidak perlu teriak-teriak!”

❣❣❣To Be Continued❣❣❣

Agak aneh kah chapter ini? Tadinya itu inti cerita dari chapter ini bukanlah seperti yang udah aku tulis di atas tapinyaaa.. kalau aku tulis lagi, jadi bakal panjang banget. Buat di chapter 3 aja ya jadinya^^ oke see you on chapter 3! Eh eh btw aku mungkin akan update dalam jangka waktu seginian ya, 2minggu sekali or mungkin 2weeks more. Yang nunggu yang sabar ya >,< yang ngga mah yaudeh bye aja wkwk gak deng luv ya guys<3

sarange4

-Baek’s sooner to be wife-

67 responses to “I Married To My Enemy [II] -by ByeonieB

  1. Aku suka bgt sama karya author ByeonieB cerita nya slalu bkin penasaran, genre nya aku suka banget hehee btw aku baru baca ff ini udah lama ga baca ff eh liat ff nya author bkin semangat baca ff lagii, bahasa nya mudah dimengerti ceritanya seruu dibacanya enak dehh
    Ditunggu next chapternya author mangatssss😍😍😍

  2. Ohh akhirnya mereka nikah juga, aku tau baekhyu emang udah cinta sejak awal sama mijoon, haha
    Gak nyangka chan sama hyojoo punya suatu hubungan ternyata wkwk dan apa apaan si sehun dasar playboy

  3. oke ~ aku slalu menantikan ini oh my~ krena memuaskan porsinya/? ihhh baekkk~ ngomong dong sejujurnya apa yg terjadi ~ kamu gk benci minjoo kan? ayooo semangat~

  4. Yep! Finally di ydiupdate…
    and finally they married *yeay happy married baekhyun-minjoo
    Tuhkan akhirnya ketahuan kalo chanyeol ada rasa sm hyojoo (sudah kuduga dr awal ada yg aneh)
    Sampai saat ini blm ada yg mulai suka nih.. masih ditunggu momen momen kehidupan baekhyun-minjoo setelah menikah ^^

  5. yeay finally update
    asyik banget bacanya, aku jadi ketawa2 sendiri bacanya
    ditunggu nect chap secepatnya ^^

  6. ih gregetan, sebenernya baek punya rasa kan sama minjoo.. gimana jadinya kalo mereka ber lovey dovey yak.. ditunggu sweet sweet an nyaaa

  7. Aku malah salfok ke sehun yubi, yawlaa kayanya klo mereka dipasangin ucul deh hehe😅 buat baekhyun sama minjoo aku seneng bgt mereka nikah akhirnya. tpi aku juga sama herannya sih kaya minjoo, knapa si Baek biasa aja gitu dinikahin sama minjoo. Apa Baek suka sama minjoo? Ahh jangan dulu lah bikin mereka berantem2 lucu dulu hehe😁

  8. TJIEEEE NIKAH! Mwehehehe, akhirnya nikah juga setelah beberapa aksi Ekstrem Minjoo. Heol, wanita pengemis? Sebegitu mengenaskannya penampilan Minjoo! LOL. Ku cukup prihatin dengan mu, Sayang. Kwkwkw
    ey, Chanyeol punya rasa sama Hyojoo? Tpi kenapa ga dibales juga sama Hyojoo. Ckckck, kacian/digamparChanyeol/
    Kok aku merasa Sehun dan Yubi itu cocok ya? Keren aja kalo mereka akhirnya bersama, hahaha

    Aku suka tulisan Kakak di atas yang ‘I Married To My Enemy’ kekeke ada emotnya gitu jadi greget sendiri, oh ya ada beberapa typo diatas hihi.

    Makasih sudah update.
    Dikanasly (:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s