[9th] Snapshots by slmnabil

snapshot-slmnabil-bycastorpollux

Author : slmnabil | Cast : Hong Seoljin (OC), Kim Jongin, Park Chanyeol

Genre : Romance | Rating : PG15 | Length : Chaptered

credit poster : CASTORPOLLUX@posterchannel

prolog : one dance | 1st | 2nd | 3rd|

4th | 5th  | 6th | 7th | 8th

NINTH SHOT

Bau alkohol.

Bau sigaret.

Bau khas furnitur kayu.

Bau keputusasaan.

Bau kegilaan dan kesedihan.

Aku tak mengerti bagaimana ceritanya mereka bisa bercampur menjadi satu aroma, namun aku paham—atau mencoba memahami—perasaannya dan  apa yang ingin disampaikan secara tersirat oleh sang pemilik. Jangan berharap aku akan mendiktekannya padamu, karena aku tak bisa—ini terlalu rumit.

Kulangkahkan tungkaiku hati-hati, seakan setiap derapnya bisa mematahkan lantai kayunya—seolah-olah hati seseoranglah yang sedang kupatahkan. Gelombang simpati menyerbuku seketika, membuatku harus meyakinkan diri bahwa tindakanku untuk datang ke mari sudah tepat. Bahwa Chanyeol berharap banyak pada pertemuan ini dan ingin aku menuntaskan semuanya.

Baiklah, apa susahnya, sih, mengucapkan selamat tinggal? Toh, ini bukan urusan hidup dan mati.

Memasuki ruang tamunya, aku menyadari kalau Jongin belum membuka kerai jendelanya dan lampunya pun tampak tak dinyalakan sejak semalam. Aku bisa bilang nyaris tidak ada cahaya yang masuk ke dalam kediamannya.

Ini buruk. Aku sering melihat pertanda seperti ini dalam drama-drama akhir pekan yang sering kutonton dengan Raeum—dan sesekali Chanyeol kalau ia tidak ada kesibukan mendadak—bahwa biasanya ini kondisi yang mengindikasikan depresi. Berat. Parah. Nyaris rusak.

Dan membayangkan Jonginlah yang mengalaminya ….

Kupejamkan kelopak mataku erat-erat, menghalau jenis pikiran apapun yang bersumber dari sisi paling gelap diriku. Jongin baik-baik saja, ia tidak akan sampai sejauh ini. Aku mengenalnya, bukan? Respon seseorang terhadap rasa sakit tak akan berubah banyak, bukan?

Hah, rasa sakit. Lihat ke cermin untuk mengetahui siapa yang menyebabkannya.

Masuk semakin dalam, perasaanku semakin tak karuan. Aku agak mengharapkan Jongin akan muncul untuk mengatakan, “Cilukba!” tapi itu namanya terlalu berfantasi sekaligus serakah. Kenapa dia mau repot-repot membuatku merasa nyaman?

Di tiga derap selanjutnya kutemukan dia. Kepala menunduk, mencekik botol alkohol di tangan kanannya, sedang tangan yang satunya menyisir rambutnya kasar. Di hadapan Jongin, tersebar kertas-kertas yang tak bisa kulihat jelas apa itu mengingat kurangnya penyinaran. Aku hanya berharap itu bukan jejak-jejak usahanya membuat surat wasiat.

“Jongin?” tanyaku, nyaris berbisik.

Di detik ia mendongak, matanya menemukanku. Aku melihatnya bernapas lega dari napas panjang yang dikeluarkannya.

“Aku di sini,” kataku lagi. Tapi aku tidak berpindah dari tempatku, mengingat instingku mengatakan kalau mematung akan lebih aman. Siapa yang tahu amarah Jongin tiba-tiba memuncak lalu ia melemparkan botolnya tepat ke kepalaku?

Jongin mengangguk, namun belum kunjung mengeluarkan suara. Tatapannya masih tertuju padaku, mungkin pikirnya aku akan mengerti ‘bahasa mata’ padahal menemukan matanya saja aku tak bisa.

Merasakan kecanggungan dan ketegangan semakin mencekam, aku kembali angkat suara, “Eh, boleh aku buka kerainya? Atau kau tiba-tiba alergi cahaya—seperti vampir? Tunggu dulu, kalau kau vampir seharusnya aku sudah tahu dari dulu,” ujarku panjang.

Jongin tertawa pelan. “Kau pasti sedang gugup,” katanya. “Kau bicara melantur kalau sedang gugup.”

Aku mengangkat bahu. “Yah, kuharap seseorang mau membantuku menghilangkan kegugupanku.”

Dia diam lagi.

“Jadi, boleh aku buka kerainya?” tanyaku.

“Kau akan menyesal melakukannya,” sahut Jongin.

“Aku akan membukanya dulu, baru setelah itu akan kuputuskan apakah aku menyesal atau tidak.”

Kuderapkan langkah cepat untuk membuka kerai jendela yang ternyata berwarna hitam—semula kukira merah marun. Aku sedikit berjengit saat serbuan cahaya menghantam penglihatanku sekaligus. Kuputar tubuhku ke tempat Jongin duduk tadi, bermaksud memunggungi cahaya.

Ingin tahu apa yang kudapati?

Mata Jongin merah, terbentuk lingkaran hitam di bawah matanya, wajahnya sangat mencerminkan suasana hatinya yang sedang buruk juga kondisi tubuhnya yang lesu. Rambutnya luar biasa berantakan, bahkan aku bisa melihat garis-garis bekas jari di antara helaian rambutnya. Kutebak, ia melarikan jemari ke kepalanya sepanjang malam.

Ini versi sakit hati dari Jongin yang tak pernah kulihat.

Aku bergeming di tempat. Aku mendengar helaan napasku semakin cepat, detak jantungku tak enggan menyaingi, dan keringat dingin mulai membanjiri sekujur tubuhku. Lelaki di hadapanku … apa yang telah ia lakukan pada Kim Jongin?

Seolah tak cukup membuatku merasa bersalah, tangannya mengacungkan salah satu kertas yang tadi bertebaran di hadapannya. “Aku memikirkan tentang ‘kita’ semalaman.”

Fotoku dan dia. Kami. Lengannya merangkulku. Aku tersenyum bahagia, dan dia tampak tak kalah bahagia. Itu tepat di hari kelulusan kami.

“Kemarilah, masih banyak lagi di sini,” ujar Jongin, sebisa mungkin menunjukkan senyuman terbaiknya—atau yang tersisa yang masih bisa ia berikan.

Tiba-tiba aku menyesali karena aku tak melakukan seperti yang Raeum katakan padaku. Seharusnya aku memberitahukannya pada Jongin sejak awal, seharusnya aku membuat batasan yang jelas agar jadinya tidak akan seperti ini. Walaupun Jongin akan merasa sakit hati, setidaknya aku tak akan menimbulkan nyeri separah ini padanya.

“Jongin … aku ….”

“Kemarilah, aku tidak akan menggigit,” katanya lagi, dengan nada yang ia buat agar terdengar menyenangkan.

Iya, kau tidak akan menggingit, karena akulah yang menggigit.

“Aku … maaf … aku ….”

Jongin menggeleng. “Jangan katakan apa-apa. Simpan apapun yang ada dalam pikiranmu untuk sekarang lalu datanglah ke sini.”

Dengan kepingan memori kita di hadapanmu? Yah, aku cukup yakin mudah saja datang ke sana. Ingin pergi atau tidaknya itu yang bisa menimbulkan masalah. Terkadang aku menyesalkan kenapa perempuan ditakdirkan sebagai perasa? Kenapa kami tidak cenderung berpikir rasional juga? Bukankah itu lebih adil?

“Kalau kau ingin cepat ke luar dari sini, akan lebih baik kalau kau cepat mendekat,” tutur Jongin.

Karena merasa kalau itu bukan ide yang bagus, kuambil tindakan menghindar secepat mungkin. “Sebaiknya kau bersihkan dulu dirimu, lalu makan. Kalau saja matamu putih semua, aku akan lari karena mengira kau adalah mayat hidup,” ujarku.

“Itu akan mengulur waktu.”

Aku mengangkat bahu. “Kurasa itu tidak masalah.” Atau setidaknya untukku tidak. Entah apa yang akan Chanyeol pikirkan nanti.

“Kalau begitu, kenapa tidak?” Jongin berusaha bangkit meski ia masih sempoyongan. Aku agak tergerak untuk memeganginya namun segera kuurungkan. “Aku akan mandi.”

Kusunggingkan senyum. “Aku akan melihat isi lemari pendinginmu untuk melihat apakah aku bisa melakukan sesuatu.”

“Tentu,” katanya.

“Tentu,” kataku.

.

Aku tahu, di hari-hari biasanya, aku bisa melakukan yang lebih baik daripada ini. Tapi mengingat ini bukan hari yang ‘biasa-biasa saja’, kupikir semangkuk soup cream dan segelas jus jambu bisa dimaafkan.

Mengingat tak memakan waktu lama, kini aku harus mengisi kesenggangan menanti Jongin selesai dengan menyibukkan pikiranku tentang apa-apa saja yang kupikirkan tentang Jongin sebelum tiba di sini.

Penghambat dalam hidupku.

Masalah yang perlu kuselesaikan.

Gangguan yang perlu dihilangkan.

Apa lagi yang berpotensi membuatku menjadi wanita paling tidak tahu malu sekaligus tidak tahu diri? Bisa-bisanya aku memikirkan Jongin … pemuda serapuh dia … Ya Tuhan! Mengapa aku tak pernah memikirkan kalau seingin apapun aku ingin melupakan masa laluku, itu akan menjadi semacam latar belakang yang selalu menjadi bagian dalam diriku. Kalau aku membencinya, sama saja seperti membenci diriku sendiri.

Kurasa, aku tak memiliki ekspresi yang tepat untuk menunjukkan semenyesal apa aku pada Jongin karena sempat melihatnya dengan cara seperti itu.

Menghilangkan pikiran negatifku, aku memeriksa notifikasi di ponselku—siapa tahu Chanyeol mengirimkan pesan singkat atau yang semacamnya. Namun, tidak ada apapun di sana. Bukannya aku menginginkan ia mengomel di pesan dan menyuruhku untuk segera pulang, aku penasaran saja apakah ia tidak ingin mengabariku tentangnya atau sesuatu?

Melerai pergulatan batinku antara harus menghubungi Chanyeol dan mengatakan bahwa urusanku di sini akan lebih lama dari yang diperkirakan, Jongin akhirnya muncul di ambang pintu. Jongin mengenakan kaus longgar hitam dengan celana olahraga yang juga warna hitam, sedang tangannya tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Diam-diam aku tersenyum. Hitam selalu membuatnya tampak bersinar entah untuk alasan apa. Dan aku selalu suka kombinasi antara Kim Jongin dan warna hitam.

“Lebih baik?” tanyanya, sembari mengambil tempat di hadapanku. Ia duduk di kursi sedang aku masih berdiri, menyunggingkan senyum terbaikku dari seberang meja.

“Jauh lebih baik,” sahutku membenarkan.

Jongin mencermati sajian yang kuhidangkan untuknya, yang membuatku sedikit menyesal karena tidak berbuat lebih baik. “Kau tidak membuat untukmu juga?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Aku sudah sarapan tadi.”

Dia tersenyum kecut. “Tentu saja.”

Kurasakan jari-jari kakiku bergerak-gerak gusar. “Kau mau aku tinggal atau …?”

“Di sini saja, jangan ke mana-mana,” timpal Jongin. Pandangannya mengunci milikku, yang entah mengapa ia memaksudkan perkataannya untuk sesuatu yang lain.

“Menunggui orang makan, boleh saja,” ujarku diceria-ceriakan seraya mengambil tempat di hadapannya.

Terjadi kecanggungan yang cukup lama. Yang terdengar hanyalah denting sendok yang beradu dengan mangkuk, dan sesekali suara tegukan minum. Aku berusaha memendarkan pandanganku ke mana saja, asal tidak pada Jongin—atau bahkan bayangannya.

“Itu persis yang kau lakukan di kantorku waktu kita pertama kali bertemu lagi,” ujar Jongin memecah keheningan.

Aku mengernyit. “Memangnya apa yang kulakukan?” tanyaku.

“Menghindar agar tidak melihatku.”

Oh, dia menyadarinya. “Tidak juga.”

Jongin tersenyum menang. “Ya, kau melakukannya.”

Aku terdiam bukan karena mengakuinya, aku terdiam karena aku tahu kalau dia benar tapi aku tidak bisa mengomentari apapun soal itu.

“Aku memecatmu,” katanya. Tiba-tiba. Tanpa aba-aba. Nyaris tanpa helaan napas. Seolah perkataannya seringan bulu. Tampak seperti Jongin tidak rugi apa-apa jika melakukannya—yang memang kebenarannya seperti itu.

“Oh,” adalah balasan terbaik yang bisa kuberikan, mengingat ini pun terlalu mengejutkan untukku. Siapa sangka ia memintaku datang untuk memecatku? Bukankah itu bisa dilakukan lewat satu panggilan telepon?

“Bukan karena kau tidak bekerja dengan baik, kau sudah melakukan tugasmu dengan luar biasa. Hanya saja—“

“Hanya saja kau tidak nyaman berada di sekitarku lagi sekarang,” potongku.

“Sama halnya denganmu,” balas Jongin.

Seperti inikah obrolan penting kami akan bermula? Bukankah ini intro yang terlalu berat? Entah kenapa, perasaanku yang paling tersembunyi agak menyayangkan kalau kami tidak akan bertemu lagi.

Mungkin itu hanya simpati. Positif belas kasihan. Positif rasa bersalah. Negatif perasaan cinta.

“Aku sungguh menginginkan yang terbaik untukmu, tapi sepertinya aku tak masuk bagian dalam rencana itu,” kata Jongin, kini tanpa melihatku.

Bagaimana mungkin tujuan penciptaan manusia adalah untuk saling menyakiti? Bagaimana mungkin seseorang sepertiku bisa menimbulkan kerusakan seperti ini pada seseorang seperti Jongin?

“Aku tahu, meski mungkin kau tidak ingin mengakuinya, bahwa kau masih memiliki perasaan padaku yang entah harus kujelaskan seperti apa. Kau masih menginginkanku, hanya saja kau tidak ingin mengakuinya, kau ingin menghilangkannya,” lanjut Jongin.

Baiklah, kini akulah yang justru menunduk menghindari tatapannya.

“Aku memikirkannya sepanjang malam apakah aku akan memaksamu mengakuinya lalu aku akan membawamu lari agar kau menyadari itu, tapi mendengar suaramu tadi pagi—“

Kalimatnya terhenti seketika. Aku mendongak. Tadi pagi? Memangnya apa yang kukatakan padanya tadi pagi?

“Dan suaranya”—ia melanjutkannya hati-hati, seolah-olah hatinya bisa saja patah karena melakukannya—“aku sadar bahwa aku tidak boleh menghancurkan kebahagiaan wanita yang kucintai, dan apa yang bisa ia dapatkan tanpaku.”

Wanita yang kucintai, dia bilang. Wanita yang kucintai.

“Kau mencintainya, Seoljin. Aku tahu itu, karena aku pun merasakan itu terhadapmu. Hanya saja, kau merasakan itu terhadapnya,” kata Jongin.

“Aku pernah merasakannya juga terhadapmu,” sahutku. Aku ingin mengutuk diriku karena mengatakannya. Itu jelas bukan respons terbaik yang bisa direkomendasikan seseorang untuk kukatakan, ya kan?

“Pernah,” ia menekankan, “namun tidak lagi.”

Karena aku tidak tahu harus menjawabnya seperti apa, aku hanya diam. Diam adalah emas. Tidak, tidak. Diam adalah berlian. Diam adalah mutiara. Diam adalah jenis sumber daya alam termahal dan tercantik dalam keadaan seperti ini.

“Jangan merasa bersalah ataupun kasihan padaku, Seoljin. Aku menginginkan cinta bukannya simpati.”

Selesai sudah. Akhirnya kami bertemu pandang.

“Tapi kau tidak bisa memberikannya. Jadi kuputuskan untuk membiarkanmu pergi.”

Tiba-tiba aku merasa seperti seseorang menohokku tepat di ulu hati. Aku tak bisa menjelaskan mengapa aku merasakannya dan bagaimana isi pikiranku sekarang, karena aku pun tak bisa mendefinisikannya untuk diriku sendiri.

“Jatuh cinta bukanlah kejahatan, Seoljin. Dan kau tidak melakukan kejahatan karena lebih memilihnya daripada aku.”

Bisakah. Ia. Berhenti. Bicara. Bisakah. Ia. Memberikanku. Waktu. Untuk. Bernapas.

“Aku ingin kau bahagia. Aku sungguh berdoa setiap malam untuk kebahagiaanmu, Sweetheart.

Dia memanggilku dengan itu, lagi, setelah sekian lama. Aku tidak menyadarinya sejak kapan, tapi tahu-tahu saja aku sudah sesenggukan menahan tangis.

Awalnya kupikir Jongin akan mendatangiku untuk menenangkanku saat kudengar kursinya berderit karena ia bangun dari duduknya, namun ternyata justru pergi ke arah berlawanan. Kulihat samar-samar, Jongin duduk di karpet tempatnya meninggalkan foto-foto kami tersebar sebelumnya.

“Kemarilah,” katanya.

 Aku tidak beranjak.

“Kumohon, Sweetheart. Aku pernah meninggalkanmu sekali dengan kenangan yang buruk, dan aku benar-benar menyesalinya. Setidaknya kini biarkan aku memberimu kenangan yang indah, agar kau tidak menyesali bahwa aku pernah menjadi bagian dari kehidupanmu.”

Aku masih tidak beranjak. Bukan karena aku semakin merasa bersalah, namun karena aku tak tahan dengan kenyataan bahwa ia akan meninggalkanku lagi.

“Kau pernah sangat mencintaiku dan aku menyia-nyiakannya. Kini, anggap saja seperti ‘saatnya berbagi’. Aku akan membiarkanmu untuk sangat mencintainya,” kata Jongin. Aku tahu, tahu saja, bahwa ia juga sebenarnya menangis.

“Jongin … maafkan aku,” ujarku. Setidaknya itulah yang terbaik yang bisa kulakukan, karena aku tahu aku pun tidak bisa menyanggah perkataannya.

Aku mencintai Chanyeol, dan aku tidak ingin kehilangan dia dengan lebih memilih Jongin. Aku tidak mencintai Jongin, namun aku tidak ingin kehilangannya. Tapi aku tidak ingin berusaha mencintainya seperti aku mencintainya dulu, atau seperti aku mencintai Jongin dulu. Aku hanya tidak suka gagasan seseorang akan meninggalkanku.

“Aku memberikan yang terbaik untukmu. Jadi, bisakah kau memberikan yang terbaik juga untukku?” tanyanya. “Maukah kau datang ke sini dan membiarkanku menggunakan kesempatan ini untuk meninggalkan ingatan yang ingin selalu kau ingat?”

Aku mengangguk, dan saat itu aku tahu: memaksanya tinggal di sisiku adalah sesuatu yang egois, dan aku tidak bisa melakukannya. Aku akan memberikan yang terbaik juga untuknya.

.

Aku sudah menangis sepanjang perjalanan pulang, ditambah dua jam di dalam mobil yang terparkir di tempat parkir apartemen Chanyeol. Aku bisa menangis sepanjang malam.

Aku meninggalkan rumah Jongin sekitar pukul tujuh lewat empat puluh malam. Begitu aku ke luar, Chanyeol sudah menunggu dengan sabar di luar mobilnya. Lalu aku lihat Jongin dan Chanyeol bersalaman. Aku tidak tahu persisnya untuk apa.

Dan kini, yang tengah Chanyeol lakukan adalah menungguiku sampai tangisanku selesai. Sebanarnya ia bisa saja marah, atau menggendongku paksa ke apartemennya mengingat kami hanya perlu menaiki lift dan menunggu beberapa detik untuk sampai di lantai lima, tapi ia tidak melakukannya. Dengan sabar, Chanyeol menungguiku menangisi kepergian mantan pacarku. Kurang baik bagaimana lagi dia?

Aku tidak tahu persisnya kapan aku berhenti menangis. Aku tidak tahu persisnya kapan aku kelelahan dan mulai tertidur. Aku tidak tahu persisnya kapan tubuhku diangkat ke luar. Yang aku tahu, dengan yakin, meski suaranya nyaris berbisik, Chanyeol mengatakan,

“Aku sudah berjanji untuk berbagi kesedihan denganmu seumur hidup, bagaimana mungkin aku membiarkanmu sendirian?”

Saat itu aku tahu—sebanyak apapun aku menangis dan berkeinginan kuat untuk membuat Jongin tetap tinggal—apabila Kim Jonginlah yang mengatakan kalimat itu, aku tak akan merasakan kelegaan yang sama dengan yang kurasakan terhadap Chanyeol karena aku memilikinya untuk seumur hidup.

Yang kuharap, bisa menjadi seumur mati pula.

—to be continued.

  • Kalau ada yang penasaran, I feel the same pain too huhu L
  • Kucinta Jongin, kucinta Jongin, kucinta Jongin
  • Jongin sama nabil aja, sama nabil aja
  • Terima kasih tak terkira untuk yang masih menunggu❤

 

13 responses to “[9th] Snapshots by slmnabil

  1. huahuhuhuhu… hikz T.T… jongin ama aq aja deh… cup cup… akhirny seoljin bnr2 hrz mmilih… tapi ko aq mlh lbih pngn seoljin mlih jongin ya..

  2. Wah, update nih. Seneng bisa baca crita ni lagi. Kangen Seoljin, Jongin, Chanyeol. Dan akhirnya Jongin merelakan Seoljin kpd Chanyeol. Smoga happy ending nih crita.
    keep writing, kak…!!

  3. Chanyeol baek banget,pingin punya pacar kayak dia,kirim satu untuk ku nabil kalo nggak dia aja!! wkwkwk…Jongin kasihan juga ya?

  4. Bau alkohol.
    Bau sigaret.
    Bau khas furnitur kayu.
    Bau keputusasaan.

    Bau kebaperan.

    Bau confetti bertebaran

    Bau-baunya Nabil posting (gak, gak bau kok. Lebih ke Harum malahan)

    Yeay selamat nabil udah posting sampe chap. 9. Semangat yah ndu buat ujiannya. Sebentar lagi liburan loh

  5. Oh God! Baper baper baper huhuuuu
    Seoljin masih banget jd prioritas Jongin, bener2 masih nyesel gegara dulu pernah ninggalin Seoljin, masih setia mencintai Seoljin, tetep berdoa demi kebahagiaan Seoljin *hiks mellow banget suerr, ga trima Jongin diginiin, kesakitan banget kayanya ngrelain Seoljin buat Chanyeol *hiks ya walopun dia keliatannya strong, keliatan bener2 ikhlas ngrelain tp kan pasti beda rasanya, gue yakin Seoljin nangis karna ngrasain perasaannya Jongin, tau nglepas Seoljin tp perasaan cintanya tetep sama ama Seoljin, cuma nyisain kenangan + cintanya aja huuu
    Next part pengennya nemu titik temu perasaannya Seoljin buat Jongin ya ka, ga kuat liat Jongin kaya gitu terlalu lama wkwk
    Tengkyu + Semangadd!!!^^

  6. Aaaaaa seoljin milih chanyeol ♡♡♡
    Ih tapi jongin kasihan banget;( jongin sama aku ajaa deeh gapapa sinii sayang sini hahahah
    Gils lah yaaa chanyeol cowok idaman banget

  7. Aaaaa, aku baper,
    dri awal aku emng gk mau mihak sma jongin krn tkut sakit hati tapi ini jdinya tetap sakit, sakit T_T
    berat deh jdi seoljin krn hrus rela melepas satu cogan yg brarti dlam hidup, tapi apa daya kita gk boleh rakus apalgi urusan cogan kek jongin chanyeol😀
    Tuhan, semoga aja aku juga dpat pendamping hdup kayak chanyeol atau sekalian chanyeol aja deh yg jdi pndampingku😀 ini sumpah hati chan terbuat dari apa sih ? Sabarnya minta ampun, tpi eh tapi seandainya aja pertemuan jongin ceye bsa lbih rinci hehe aku penasaran proses salaman mereka, huaa seoljin punya dua cogan yg super cinta sama kmu emang gk boleh dimiliki dua-duanya yah😉
    cant wait for the next chapter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s