Candle – Rika26

Candle

I’ll always wish for your happiness

153941-425x282-istock_000002243416xsmall

a fictional drabble by Rika26

Candle by Hey!Say!JUMP

.

starring

YOU/OC as Eunyeon and Oh Sehun as Sehun

.

with feelin’

angst, sad

rated T

.

standard disclaimer used

.

typo(s), miss-typo(s), OOC, OC, absurd-story, sok puitis

.

Happy Reading!

 

Mega berbintang itu perlahan menghilang, terhalang tetesan demi tetesan air. Bukankah seharusnya awan kelam yang lebih dahulu menghalau gemerlapnya? Tapi tidak. Bukan itu yang ia maksudkan. Pun hanya dengan sinar bulan yang seperempat dan sebatang lilin, kata perkata yang tertulis di selembar tebal merah bergaris emas yang tetap tergenggam pas di tangan kanannya, tangan yang masih bersandar pada pagar besi itu, tetap dapat terbaca oleh mata indahnya.

“Kupikir kau lupa ini hari apa.”

Mana mungkin aku lupa kalau hari ini hari kamis—

“Hey!”

—dan tentu saja hari anniversary kita yang ke-2 tahun.

Angannya mulai bertualang, ke mana saja asalkan bersama lelaki itu. Pun tak dapat lagi mengulangnya, cukup diingat saja sudah dapat mengembangkan senyumannya. Senyum yang kian lama kian surut seiring dengan derasnya tetesan yang meluncur melalui kelopaknya. Kelopak yang tak tahu lagi hendak menatap ke mana, ke langit yang memburam? Ataukah ke sebuah benda yang memburamkan penglihatannya? Tak ada. Dan ia tak ingin, selain menatap ke masa-masa indahnya yang telah lalu.

Dering ponsel menghancurkan khayalannya, tangan kirinya tergerak menggapai benda persegi panjang yang bersembunyi di saku mantelnya, lebih tepatnya di saku mantel sebelah kanan. Bukankah aneh? Mungkin tangan kanannya hanya tak ingin melepaskan benda bertuliskan nama lelaki itu.

“Halo?”

Hei, kau sedang apa?

“Sedang menjawab teleponmu.”

Jeda tak dapat terhindarkan beberapa saat. Ia hampir mematikan ponselnya, sungguh, jika suara indah lelaki itu tak lagi mengalun di telinganya—

Oh, hei! Hahaha. Tunggu sebentar. Aku sedang menelpon temanku. Iya-iya. Maafkan aku, Joorin sedang merajuk. Oh ya, jangan lupa datang besok! Kututup ya, Eunyeon? Selamat tinggal.

—meskipun hanya untuk mengucapkan kata menyakitkan itu.

“Tak apa, semoga kau bahagia, selamat tinggal.”

Percakapan berakhir. Ia kembali menempatkan ponselnya ke dalam saku mantel yang dikenakannya. Sementara isi otaknya berkelana, mencari-cari kata-kata yang pas untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi hei, bukankah perasaan itu memang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata?

Semoga kau bahagia.

Lucu sekali. Seingatnya ia dulu tak pernah menjadi masokis seperti ini. Menyiksa diri sendiri. Bukankah tak masuk akal? Mendoakan orang lain agar bahagia, sementara dirinya akan tersiksa jika itu terjadi.

Tapi…

Rasanya memang hanya itu yang dapat ia dilakukan. Mendoakan agar ia bahagia. Meskipun bukan karenanya, bukan untuknya, juga bukan dengannya… tak apa.

Lagipula…

Perasaan itu seperti lilin ‘kan? Semakin besar api yang membakarnya, semakin membara api itu, semakin cepat pula habisnya lilin. Jadi gadis itu hanya ingin berasumsi saja, semakin dalam rasa cintanya, semakin tajam rasa sakitnya, semakin cepat pula cintanya akan lenyap. Hanya… ia hanya berharap perasaannya segera menghilang seperti lilin itu.

Ia tak butuh perasaan menyedihkan itu lagi, gadis itu hanya perlu mengambil lilin baru yang lebih besar dan menyalakannya lagi.

Iya ‘kan?

“Kau tampan, Sehun. Selamat atas pernikahanmu.”

Tentu saja. Aku memang tampan sejak lahir. Kau baru sadar?

Lelaki itu dibanjiri rasa bahagia. Seperti yang diharapkannya. Pun bukan dengan dirinya yang bersanding dengan lelaki itu, juga bukan karenanya yang tersenyum untuk lelaki itu. Tidak. Kini ia hanya dapat menatapnya dari kejauhan. Bukan itu. Jaraknya dengan lelaki itu hanya empat meter lebih sekarang, hanya… jarak perasaannya dan angannya yang terlalu jauh.

Namun sama saja. Jarak kasat mata yang ada juga, punggung lebar lelaki itu juga kian menjauh, dengan lengan besar yang menggengam erat lengan perempuan yang membuatnya bahagia, bukan dengan perempuan yang mendoakannya agar terus bahagia.

Tetesan yang memburamkan pandangannya kembali berjatuhan. Mungkin itu tangisan kebahagian—pikirnya. Habis, lelaki itu tengah tersenyum tulus di depan sana dengan sang pujaan hati. Harusnya ia juga tersenyum, tulus, lebih tulus. Bahagia. Lebih bahagia. Lagipula ia menyukai hal-hal yang baru. Membakar lilin yang baru dan membiarkan yang lama habis itu seharusnya menyenangkan. Seharusnya…

 

Janji suci telah selesai diucapkan. Lelaki itu yang mengucapkannya. Bukan berjanji dengan dan bukan janji untuk gadis itu. Janji sehidup sematinya telah terikat dengan gadis lain.

Tak apa. Sepulang dari sini ia akan mencari lilin yang baru, meskipun yang lama belum menunjukkan tanda-tanda akan lenyap. Tak apa.

Tidak apa-apa…

…ya ‘kan?

Gadis itu mengembangkan senyumnya. Senyum yang seharusnya. Tidak apa-apa. Asalkan lelaki itu bahagia. Ia juga akan bahagia.

Ia jadi sadar. Ia tidak menyiksa diri sendiri. Jika lelaki itu bahagia, ia juga akan bahagia. Berarti, mendoakan kebahagiaan lelaki itu, juga bagian dari mendoakan kebahagiannya sendiri.

Dari lubuk hatiku, “Semoga kau bahagia…”

Aku ingin kau… “…selalu bahagia…”

Agar aku juga bahagia untukmu, maka, “…jika hal berat terjadi dalam hubunganmu…”

“…jangan menyerah…” karena aku akan selalu mendoakanmu, “…agar kau tak menyesal…” seperti diriku.

“…wujudkan mimpi-mimpimu bersamanya…” yang tak bisa kau wujudkan bersamaku.

 

Lagipula aku hanya perlu mencari lilin yang baru ‘kan?

“Semoga bahagia…” untuk kau yang pernah masih mengisi hatiku…

“Selamat tinggal.”

 

 

~fin~

 

A/N

Lolol, apa ini *facepalmed
Uwaaaa, udah hampir satu tahun kah? Atau cuman setengah tahun ya? Tau ah, yang pasti udah lamaaaaa bangetttt ga ngepost kyaaaa! *dipeluk Ceye /lah?
Okeh, i’m here to explain the plot if you don’t get it. But, kalian pasti ngerti kan ya? Kan reader SKFF itu pinter-pinter /kaya authornya /abaikan /aamiin-in aja
Meskipun gitu, aku tetep greget pengen ngejelasin, karena aku sendiri yang kurang paham(?) /hah?!
Oke, jadi anggep aja readers itu tuh si ‘dia/ia/nya/gadis itu’, dan ‘lelaki itu’ adalah Sehun, jadi si Sehun itu mantan kita(?) yang mau nikah, dan kita(?) disuruh ikhlasin dia, dan ya alasan kita(?) putus sama dia itu karena dia mau nikah dan mungkin karena kurang(?) bahagia sama kita(?). Terus si Sehun bisa move on dan kita enggak /kan kampret. Iya tau, alurnya gaje kan yah, tapi ahsudahlah, cuman pengen ngepost wae :’
Btw, ficnya terinspirasi dari lagunya Hey!Say!JUMP yang judulnya Candle. Aduh artinya dalem banget :” yakali nyuruh ikhlasin pacar yang seketika berubah status jadi mantan gegara dia pengen nikah hueeee :” /btw ini bukan kisah nyata loh ya-__- /oh tentu saja  /pacar aja gak punya
Dan terakhir, makasih banyak udah baca ya! Komentar dan saran kalian sangat dibutuhkan, dan maaf kalau tidak memuaskan. Mohon jangan pakai kata kasar ya… aku mengapresiasi banget kritik dan saran yang pakai bahasa halus dan enak dibaca, istilahnya gabikin mata sama hatikuhh pedihh /dasar author alay/

 

See ya, jaa ne, annyeong!

Rika26

2 responses to “Candle – Rika26

  1. ouwh~ its so hurt…
    ^Jika lelaki itu bahagia, ia
    juga akan bahagia^
    feelnya kena bgt….

    d tunggu karya selanjutnya author-nim…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s