You Can Cry

you-can-cry-poster

Ziajung’s Storyline©

Casts: Park Chan Yeol

Genre: Life, Drama, Fantasy

Length: Ficlet

Recommended song: You Can Cry – Jo Bok Rae

————————————————-

Mereka akan sedih jika melihatku menangis

***

 

Aku sudah bertemu dengan ribuan manusia aneh selama ini. Terlalu banyak, sampai membuatku muak. Kalau bukan karena  perintah atasan pun, aku lebih suka berleha-leha di kamarku daripada menemani makhluk-makhluk itu. Aku sudah terlanjur hapal apa yang akan mereka ucapkan ketika pertama kali bertemu denganku hanya dengan membaca raut wajah mereka. Tapi, hari ini kasusnya berbeda. Manusia satu ini lebih aneh dari yang teraneh.

Seperti yang kubilang tadi, aku muak karena terlalu banyak bertemu manusia, tapi pria ini yang paling memuakan dari manusia manapun yang pernah kutemui. Park Chan Yeol namanya—bahkan mendengar nama konyolnya itu pun sudah membuatku sebal. Asal tahu saja, aku tahu apa yang sedang ia rasakan; terluka, tertekan, terpojokkan—intinya sangat menyedihkan—tapi masih bisa tersenyum seperti orang bodoh. Kalau aku berada di posisinya, sudah pasti aku sudah menangis meraung-raung dan meminta kembali ke sana, meski aku tahu, itu sama sekali tidak berguna.

“Kau tidak menangis?” tanyaku sarkarstik, atau lebih tepatnya mengejek. Jujur, aku tidak suka manusia yang sok kuat seperti dia.

“Bukankah ini yang terbaik?” Chan Yeol malah balik bertanya padaku, dan senyum menyebalkan-sok-kuat itu masih menghiasi wajahnya yang tampan. Tentu saja! Dia adalah seorang idol terkenal.

Aku mendecih. “Tapi kau ingin menangis, kan?”

Chan Yeol tidak langsung menjawab, hanya menatap orang yang berlalu-lalang di depannya. Wangi bunga yang berada di sekelilingnya membuat sosoknya terlihat makin indah. Oke, dia memang menyebalkan, tapi aku tidak bisa berbohong kalau dia adalah salah satu dari manusia indah yang kutemui. Sosoknya tinggi, dan posturnya tegap dengan bahu lebar. Salah satu yang kusuka adalah tangannya yang kuat, seolah bisa melindungi siapa saja yang ia cintai. Tapi kali ini, siapapun yang bisa melihatnya, pasti akan menyadari betapa lemahnya dia saat ini—meski senyum itu masih terukir di wajahnya.

“Apa yang terjadi kalau aku menangis?” setelah terdiam beberapa saat, Chan Yeol membuka suara lagi.

Aku memutar bola mata, sedikit berpikir atas pertanyaannya itu. Yah… memang, tidak ada yang berubah. Waktu tidak bisa diputar balik, denyutan itu pun tidak dapat dirasakan kembali. Semua akan berjalan seperti ini dengan atau tanpa tangisan pria ini.

“Kau akan lebih lega… mungkin?” Aku memang paham dengan perasaannya, tapi bukan berarti aku tahu semuanya.

“Mereka akan sedih jika melihatku menangis.”

Kali ini aku tidak bisa menahan decakan yang keluar dari bibirku. Hampir saja aku memuji setengah mati—sekaligus memaki—orang ini karena sikapnya yang aneh itu. Tapi setelah mendengar ucapannya barusan, ternyata dia sama saja dengan yang lain. Tidak siap dengan apa yang ada di depan matanya. Aku tidak suka manusia seperti itu. Maksudnya, apa susahnya menerima semua itu? Toh, semua sudah terjadi dan tidak bisa diulang dari awal. Yah… kecuali kalau kau adalah salah satu yang diberi kesempatan untuk bereinkranasi nanti. Tapi asal tahu saja, reinkarnasi tidak semudah dan semenyenangkan kedengarannya.

Aku melipat tanganku di dada. “Kau masih memikirkan perasaan orang lain? Dalam keadaan seperti ini?” bola mataku bergerak, memperhatikan sosoknya dari atas sampai bawah.

Chan Yeol tidak merespon, hanya kembali tersenyum. Dan itu membuatku kembali menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya.

“Hei, mau kuberitahu sesuatu?”

Perkataanku membuat Chan Yeol menoleh. Sialnya, aku lupa kalau manusia ini sangat tinggi—hampir sama seperti malaikat-pencabut-nyawa-nomor-tujuh-puluh-tiga-yang-sangat-menyebalkan itu. Chan Yeol tidak menjawab apapun, tapi matanya menunjukan kalau ia penasaran dengan ucapanku selanjutnya.

“Orang-orang di sana,” aku menunjuk sekumpulan orang di ruangan itu. “Tidak akan peduli lagi padamu dalam beberapa hari. Atau bahkan ketika mereka keluar dari tempat itu.”

Aku pun melanjutkan—karena kupikir ucapanku ini tidak akan membuatnya kembali waras. “Dan menurut psikologi, menangis itu baik untuk jiwamu.”

Hah! Aku hanya berlagak sok pintar! Aku tidak pernah belajar, atau bahkan membaca, sesuatu yang berhubungan dengan psikologi. Satu-satunya yang pernah kuperhatikan tentang hal itu hanya dari tv yang kulihat di toko elektronik. Itu pun tidak lebih dari lima menit.

Tapi melihat sosok Chan Yeol yang seperti ini, aku tidak bisa mengatakan kalau semua omonganku adalah kosong. Ah, manusia satu ini lebih merepotkan dari siapapun! Aku lebih suka bertemu dengan manusia yang menangis sampai suaranya habis, daripada sosok kuat seperti ini. Rasanya… ingin mengembalikan kehidupan mereka, meski aku tidak punya kekuatan seperti ini. Yang bisa kulakukan hanya mengantar mereka menuju sebuah pintu bercahaya menuju akhirat.

“Menangislah.” Aku menyentuh pundak Chan Yeol yang kokoh namun terlihat lemah itu. “Dengan begitu kau bisa pergi dengan mudah.”

Aku tidak mengerti kenapa ucapan sederhana itu akhirnya bekerja juga. Park Chan Yeol menangis. Tangisannya jauh lebih pilu daripada seorang ayah yang harus meninggalkan anak semata wayangnya karena sebuah besi kontruksi yang tertancap di dadanya. Chan Yeol memang tidak berbuat anarkis kepadaku—seperti menarik-narik rambutku—tapi ada satu sisi diriku yang merasakan sakit yang ia rasakan saat ini.

Chan Yeol adalah pribadi yang positif, seolah menghabiskan seluruh hidupnya dengan tersenyum, periang, dan mempunyai banyak teman; itu yang kudengar dari beberapa orang yang ada di sini. Kalau bukan karena kecelakaan yang menimpanya saat kembali dari acara musik tengah malam itu, ia pasti sedang bertingkah konyol bersama teman-teman satu grupnya. Yah, begitu naas dan disayangkan. Tidak ada yang menyangka kecelakaan hebat itu harus merenggut manusia-spesies-langka semacam Park Chan Yeol.

Tapi, tolong jangan salahkan aku. Semua itu memang sudah tertulis di buku Catatan Kematian yang kupegang, tapi bukan aku yang menulisnya. Tetua Langit-lah yang membuatnya, aku hanya menjalankan perintah!

“Tidak bisakah aku kembali lagi?” Chan Yeol bertanya padaku dengan suaranya yang parau. Itu membuatku sedikit mengeryitkan dahi karena lagi-lagi itu melukai sedikit sisi diriku.

Menutupi rasa aneh ini, aku mendengus. “Yang benar saja! Kau mau membuat mereka mati ketakutan, ya?”

Seolah ucapanku ini adalah lelucon, Chan Yeol terkekeh, tapi masih menangis. “Kau benar. Aku bodoh sekali.”

Sebenarnya, aku tidak terlalu tertarik dengan kehidupan orang-orang yang kujemput, toh setelah mereka bertemu denganku, semua itu hanya akan dikenang—atau bahkan dilupakan—orang-orang yang mengenalnya. Itu salah satu alasan yang membuatk heran, kenapa manusia selalu bersedih saat menemui kematiannya. Bukankah harusnya mereka senang karena tidak lagi bertemu wajah-wajah munafik itu?

Aku melirik jam ‘pengingat’ di pergelangan tanganku. Tersisa dua menit sebelum waktu Chan Yeol benar-benar habis. “Ayo, kita harus pergi.”

Ya, aku harus melakukan itu, sebelum keadaan semakin buruk, dan alarm dari jam ‘pengingat’ berbunyi lagi. Masalahnya, kalau aku telat menjemput satu nyawa, itu akan mengacaukan satu langit, dan pada akhirnya… akulah yang akan dihukum menulis sepuluh ribu lembar surat permintaan maaf.

Aku tidak mau itu terjadi, terlebih hanya gara-gara manusia konyol ini.

Chan Yeol tidak menoleh, matanya masih menatap jauh kerumunan orang yang menangis untuk dirinya di sana. “Semua akan baik-baik saja, kan?”

Untuk saat ini, entah kenapa aku tidak mau menjawabnya dengan ketus. Aku meraih tangan kanan Chan Yeol dan menggenggamnya, memberinya kekuatan untuk tetap berdiri. Chan Yeol pun menoleh, membuatku tanpa sadar mengulaskan senyum tipis—mengiyakan ucapan Chan Yeol tanpa mengatakan apapun. Bukan tidak mau menjawab, tapi aku tidak bisa. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi setelahnya, bahkan untuk malaikat ‘penjemput’ macam diriku. Aku hanya ingin menyakinkan Chan Yeol kalau tidak ada yang perlu ia khawatirkan setelah ini.

“Tentu saja.” Jawabku. “Semua akan baik-baik saja.”

 

-END-

————————————–

*Haloooowww

Wkwkwk ini ditulis dalam waktu 2 minggu xD padahal pendek banget yak. Awalnya mau diikutin lomba, tapi setelah dipikir lagi… kayaknya lebih enak diposting. Lagi mager aja haha.

Sekali lagi maaf yaaa buat yang nunggu honey cacti T.T

Regards: Ziajung

5 responses to “You Can Cry

  1. aku sempat bingung in ceritax ttng apa si,oh trxata si ceye meninggal ya,kasian ceye aku kira tdi ana something dibalik semua in,kalox ceye meninggal ya…..Ga ad somethingya dong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s