Get to Know Mr Oh-The Smoker by Cedarpie24

untitled-1

Get To Know Mr. OhThe Smoker

.

a fanfiction by Cedarpie24

.

Sehun x Dahye

Romance, slice of life; PG-16; Vignette

.

I just own the storyline and original-chara

20150203134647-divider_simple

Pemuda itu muncul lagi di depan pintu apartemenku. Masih dengan senyum samar yang sama, juga dengan harum parfum yang kini mulai terasa familier.

“Hai,” sapanya.

Aku menjungkitkan sebelah alisku. Bahkan sampai detik ini masih tak terbiasa melihat presensinya. Mungkin, karena aku telah terlampau sering menemukannya di layar televisi, menari sambil tebar pesona bersama kedelapan rekannya yang lain.

“Kau tidak akan membiarkanku masuk?”

Omong-omong, nama pemuda itu Oh Sehun.

Dan kau tidak salah mengira. Dia memang Oh Sehun yang itu. Oh Sehun yang merupakan bagian dari boygrup terbesar di Korea Selatan, Oh Sehun yang selalu jadi tipe ideal para gadis—

“Tentu saja tidak. Aku tak punya alasan untuk menahanmu di luar.”

—Oh Sehun yang belakangan menjadi topik pembicaraan terhangat akibat skandal kecilnya.

Sehun EXO Tertangkap Kamera Tengah Merokok

Aku membuka pintuku lebih lebar, membiarkan sosok jangkung Sehun melangkah masuk ke dalam. Tanpa dipersilakan, pemuda Oh itu berjalan dengan ringan menuju ruang tengah. Menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, lalu meraih remote teve untuk memindahkan saluran semaunya. Kurang dari sepuluh detik, ia telah menemukan acara kesukaannya dan tenggelam menyaksikannya. Sesekali terkekeh geli kala tokoh di dalamnya membuat lelucon yang bahkan tak seberapa lucu.

Begitulah Sehun.

Selalu semaunya dan seenaknya sendiri. Bertingkah seolah ia tengah duduk di apartemen milik pribadi alih-alih kepunyaan tetangga perempuan yang baru dikenalnya kurang dari satu bulan.

Aku membuang napas lelah lalu melangkah malas-malasan menuju dapur. Sebelum Sehun tiba aku tengah membuat secangkir kopi untuk menemaniku menuntaskan tugas sepanjang malam nanti. Kini dengan pemuda itu hadir di sini, kurasa aku harus membuat satu cangkir tambahan.

“Punyaku jangan terlalu manis,” tukasan Sehun dari ruang tengah sampai ke telingaku.

“Tapi jangan terlalu pahit juga.” Di luar kesadaranku, aku melanjutkan ucapan Sehun yang tiap-tiap silabelnya telah melekat dengan erat di memoriku.

Pemuda itu, selalu suka kopi yang tak begitu manis, namun juga tak begitu kentara rasa pahitnya.

“Wah, kau benar-benar mengenalku, ya ternyata.”

Aku tersentak kecil begitu menyadari Sehun telah berdiri tepat di belakangku. Ia mengulas senyum lebar, membuat kedua matanya menyipit membentuk kurva yang manis.

Gelengan kecil disertai embusan napas berat dariku menyambut perkataan Sehun barusan. Sambil menuangkan air panas di masing-masing cangkirku dan Sehun, aku menyahut, “Tidak. Kurasa aku tidak benar-benar mengenalmu.” Mendengus lantas melepas tawa kering, aku melanjutkan, “Tentu saja, bagaimana mungkin aku bisa mengenalmu dengan benar, kita bahkan baru saling mengenal belakangan ini bukan?”

Kedua alis Sehun berjingkat tinggi mendengar ini. Mungkin sama sekali tak mengerti dengan kalimatku yang lebih terdengar seperti racauan tak jelas.  “Apa maksudmu?”

Aku menatap pemuda di hadapanku ini. Sorot matanya kelihatan bingung, kendati begitu ketampanan wajahnya masih saja tak terelakan. Mengembuskan napas kasar, aku memejamkan mataku sejenak kala rasa jengkel itu kembali menyapa. Bayangan tentang berita itu lagi-lagi membuatku tak kuasa menahan kesal, ditambah dengan kehadiran pelaku utamanya di sisiku sekarang.

“Sesuatu tengah mengganggumu.” Sehun menyimpulkan dengan cepat. Matanya menyelidik, mengamati raut wajahku yang secara gamblang menunjukan jengkel. “Ada yang salah? Beri tahu aku, Hye.”

Aku menggeleng, tak ingin Sehun mengetahui kekesalan kecilku ini. Membalik badan berusaha menghindari Sehun, aku kembali meneruskan kegiatanku yang sempat tertunda.

“Bukan apa-apa.”

Sehun jelas tak suka dengan responsku. Karena kemudian ia menarik lenganku dengan paksa, membuatku kembali berbalik menghadapinya. Keningnya mengerut dalam, menunjukan bahwa ia benar-benar khawatir dan ingin tahu tentang masalahku.

Tidak. Ini bukan masalahku.

Ini masalahnya yang membuatku kesal setengah mati.

“Katakan padaku.” Ia berbisik sembari menatapku lurus-lurus, seakan berusaha menembus ke dalam isi kepalaku. “Apa yang mengganggumu, Hye?”

Sebenarnya aku sama sekali tak ingin membahas hal ini dengan Sehun. Sama sekali tak mau. Namun sejak berita itu muncul, aku menemukan diriku tak bisa tenang. Tiap kali bayangan Sehun menyelimuti benakku, rasa kesal dan jengkel ikut serta datang dan membuatku gelisah sendiri.

“Kau tahu aku benci perokok, Sehun.” Akhirnya aku berujar, setengah bergumam karena tak kuasa menahan emosi. “Kau tahu dengan benar bahwa aku membenci para perokok setengah mati. Kau tahu bahwa aku punya kenangan buruk tentang perokok yang membuatku tak bisa terlelap dengan tenang setiap malamnya. Kau tahu … kau tahu semua itu. Lalu kini ….”

Suaraku menggantung di udara, tak kuasa melanjutkan karena sesuatu dalam kerongkonganku terasa mencekat dan membuatku tak mampu berujar lagi.

Sehun di tempatnya kelihatan mulai mengerti apa yang ingin kusampaikan. Ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun urung kala aku mendahuluinya berbicara.

“Dari sekian banyak orang asing yang baru kukenal, kau satu-satunya yang tak ingin kubenci.” Aku berbisik pelan, menatap Sehun dengan pilu. “Aku tak mau membencimu, Sehun. Tapi kau … kau sendiri yang membuat rasa benci itu tumbuh.”

Sehun menggeleng perlahan. Genggaman tangannya pada lenganku mengencang.

“Aku … aku tidak—”

“Kupikir karena kau telah mengetahui titik terlemah dalam diriku, kau akan mengerti dan mencoba tak mengusiknya. Kupikir kau akan menjaga kepercayaanku padamu. Kupikir … kupikir aku telah mengenalmu dengan benar.” Aku berujar cepat menyambar perkataan Sehun, lalu segera melanjutkan dalam bisikan pelan, “Tapi sepertinya aku keliru. Aku tak benar-benar mengenalmu, Sehun. Kau tetap menjadi perokok, ketika kau tahu aku membenci sosok itu setengah mati.”

Sehun mengembuskan napasnya dengan frustasi. Sorot matanya gelisah sementara cengkraman tangannya padaku belum juga terlepas.

“Kau tak bisa mempercayai berita konyol itu, Hye. Aku tidak merokok–berita itu bohong,” tukas Sehun kemudian.

Aku melepas tawa kering mendengar ini.

“Bagaimana mungkin kau memintaku tak mempercayai berita itu ketika bukti fotonya ditunjukan dengan begitu jelas?” Aku menyahut cepat, menatap Sehun dengan sebelah alis berjingkat. “Aku tidak buta, Sehun. Aku bisa mengenali wajahmu dengan baik dalam foto itu.  Kau pikir—”

Aku tak sempat menuntaskan kalimatku kala itu. Karena di detik selanjutnya, sebelah tangan Sehun tahu- tahu menarik pinggangku mendekat padanya dengan kencang, hingga aku berakhir terlempar ke dadanya. Sementara tangannya yang lain bergerak mendongakkan daguku, membuat wajah kami hanya terpisah oleh jarak sedemikian tipis.

Kedua mataku membola terkejut. Jantungku bertalu begitu kencang hingga aku takut Sehun dapat mendengarnya mengingat jarak kami begitu dekat kini.

Sehun menatap mataku lurus-lurus sebelum berbisik pelan, “Aku sama sekali tidak merokok, Hye. Kau harus percaya padaku.”

Lalu tanpa permisi Sehun mendaratkan bibirnya padaku.

Napasku menyesak sementara jantungku semakin berdebar gila-gilaan. Di hadapanku Sehun memejamkan kedua matanya, jemarinya yang menopang daguku bergerak mengelus sisi wajahku dengan lembut.

Aku masih terkejut dengan apa yang Sehun lakukan padaku. Kedua mataku masih terbuka lebar kala Sehun menghentikan pergerakan bibirnya namun tak menjauh sama sekali.

“Aku tidak merokok, Hye.” Ia bergumam di atas permukaan bibirku, kedua matanya bergerak terbuka dan menatapku lamat-lamat. Aku merasakan kedua pipiku memanas. “Kau tak bisa membenciku.”

Lalu ia kembali memejamkan matanya, membuatku melakukan hal yang sama dan mulai membalas ciumannya. Untuk pertama kalinya aku merasakan Sehun begitu dekat di sisiku. Rasa kesalku menguap entah kemana ketika perlahan aku menyadari rasa dari bibir Sehun.

Mint. Bibir pemuda itu terasa seperti mint.

Merasakan dadaku mulai kehabisan oksigen, aku melepaskan diri dari Sehun dengan napas tersengal. Mataku menatap manik kecoklatannya dalam-dalam, mencoba membaca sorotnya yang sedikit redup.

Jadi Sehun memang tak merokok.

Ia benar-benar tak merokok.

Seharusnya aku mempercayainya sejak awal.

Perlahan seulas senyum menghias bibir tipis Sehun yang kini agak membengkak. Ia kembali menarikku mendekat, lalu mempertemukan kedua kening kami. Ujung hidung kami bersentuhan akibat jarak yang begitu dekat.

“Sekarang kau percaya padaku?” Sehun bergumam pelan, seakan tahu isi kepalaku tadi.

Aku yang merasakan wajahku kembali memanas di bawah tatapannya segera mengangguk kecil. “Mm-hmm.”

Sehun tertawa lalu mengecup sebelah pipiku dengan cepat, lagi-lagi berhasil membuat mataku membeliak.

“Seharusnya kau mempercayaiku sejak awal–foto itu hanya editan tangan-tangan tak bertanggung jawab. Aku tak mungkin melakukan hal yang kau benci.” Ia berujar dengan lembut. “Karena aku tak ingin dibenci olehmu, Hye.”

“Maafkan aku.” Aku bergumam pelan, sungguhan menyesal dengan perbuatanku.

Sehun menggeleng lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggangku.  Wajahnya ia kubur di cekungan leherku. Kurasakan embusan napasnya yang hangat di sana.

“Tidak apa-apa. Kau tak usah minta maaf,” bisiknya dengan suara rendah. “Kau hanya perlu berjanji untuk tidak membenciku.”

Tanpa kusadari, kedua sudut bibirku terangkat membentuk senyum tipis mendengar ini. Sebelah tanganku terangkat untuk mengusap puncak kepala Sehun dengan lembut.

Ya. Tentu saja aku takkan membencimu, Sehun.

Bukan hanya karena kau memintaku. Tapi karena memang aku tak bisa melakukannya.

Karena Oh Sehun, adalah satu-satunya orang asing yang tak ingin kubenci.

 

Fin

netter-heboh-foto-sehun-tao-exo-merokok

HAHA aku tau ini sangat sangat sangat tidak jelas dan tidak berfaedah /tsah bahasanya/ tapi gatau kenapa pas liat foto sehun ngerokok—yang entah asli entah editan itu—tetiba kepikiran fic ginian:( padahal fotonya udah lama banget yakan:( ada penampakan si mantan lagih, kan si aku jadi kangen ekso yang dulu:( /mulai oot

anw ada yang inget aku nggaaaa? Ga adaaaa /krik/ yaudah:( gapapa:( padahal akunya kangen banget update fic di sini hiks:( maaf yah lama ngilang datang datang malah bawa fic beginian:( semoga siapa pun yang baca ini bisa terhibur:)

thanks for reading gengs~

…mind to leave a review?

12 responses to “Get to Know Mr Oh-The Smoker by Cedarpie24

  1. Ahh akhirnya ka cedarpie balik lagi >.< udah lama ohh ga baca ff nya kau. Kangen sehun-dahye couple 😄😄 hmm iya yakk, itu fotonya udah lama sih, tapi ga tau asli apa gaa T.T ditunggu yaa sehun-dahye nya lagi wkwk

  2. Duh, ada foto mantan 😩 Jadi baper ahh 😑😑 Tuh foto dari jaman gue apa ya wkwkwk
    Btw, ditunggu thor karya lainnya 😊😊 Fighting!!

  3. aq tuh jd baper kan klo liat pict bgtu, kebayang gk sih zaman2 Sehun msh kerempeng tp tetep guanteng hahhahhahha
    idol Life yh hihihihi lnjut donk d buat ficlet y nyambung gtu apa yh nmanya hehhehehe aq suka ne crta2 bgni sedikit tp full roamce hahahahhhah keceh
    kannnn sukaaaaaaaaaaaaaaa
    tp aq mah mlah gk two knp justru gk percaya klo Sehun dlu merokok… hmzzzzz

  4. diotakku langsung mikir, ” Oh, ini author Cedarpie yg kmarin nulis FF dg cast Sehun n Dahye, tapi aku lupa jdulx ap!?” hahaha maafkan daku author.. Iye iye kami ingat dong… bweeww kangen bgt dg tulisan kamu.😀 klo kamu ud ga sibuk, please write another story of this couple! they’re so sweet😀 -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s