[Freelance] TAKEN

tumblr_n8yux8pggz1t2zh4ho1_500

Title : TAKEN
Author/twitter : Berry_Cupcakes /@Rizki_Mala_Sir
Cast : Elvrine Kim (OC), Oh Sehun (EXO), Renzo Shallowr (OC), and others
Genre : sad, thriller, love, hurt
Rating : PG-17
Length : Chapter
Disclaimer : Please don’t copy paste. Read, Comment and Like, PLEASE!!

Pernahkan kau merasa kau begitu ingin melenyapkan seseorang?

Seolah-olah semua akan selesai dengan lenyapnya dirinya.

Setelah dia mati, barulah kau bisa menghirup nafas lega. Dan kata “Fuuhhh….akhirnya!” segera melintas di kepalamu.

Dan itulah yang kurasakan saat menatap ‘Oh Sehun’.

-Elvrine Kim-

 

Pernahkah kau merasa begitu takut pada seseorang?

Aku takut padanya, aku ingin berlari. Bahkan mati mungkin lebih baik.

“Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?” selalu terlintas di benakku saat menatapnya.

Tapi saat ia menangis, aku ingin mengapus air matanya dan bertanya dengan lembut “Kenapa kau menangis, heum?”. Tapi tanganku tak berdaya untuk itu.

-Oh Sehun-

 

Sehun POV

“Member termuda EXO, Oh Sehun dikabarkan tengah menghilang di bandara Incheon saat akan melakukan penerbangan ke China. Pihak kepolisian berusaha menemukan petunjuk atas hilangnya salah satu dancer EXO tersebut. Pihak SM Entertainment masih tutup mulut tentang masalah ini. Para anggota EXO yang lain  segera diamankan, karena di curigai menghilangnya Oh Sehun adalah kasus penculikan terencana. Terpaksa tour dunia EXO harus di batalkan pasal hilangnya salah satu member EXO tersebut…………………..”

Aku mendengar suara sayup sayup televisi yang terus mengabarkan berita yang sama. Rasanya kepalaku sangat sakit. Tapi aku berusaha menyimaknya baik baik.

“Hilang? Di culik? Member termuda EXO? Oh Sehun…..?” aku merasa kepalaku semakin berat. Aku berusaha membuka mataku. Sungguh rasanya sangat sulit. Dan begitu aku berhasil membuka mataku sinar yang terlampau terang langsung menyambutku. Sialan! Aku kembali mencuri curi pandang dari celah kelopak mataku. Oh, sungguh! Ini sulit! Suara televisi terdengar semakin jelas di telingaku. Dan aku kembali mencerna kembali perkataan pembawa berita tersebut. “Mwo? Oh Sehun menghilang? Y-yang benar saja? Diculik……? ……A-aku?”

Sehun POV End

 

Normal POV

Gadis itu mengunyah makanan ringan yang terus menjejali mulutnya. Entah sudah berapa bungkus yang sudah habiskan, ia tak peduli. Televisi yang menyala bahkan tak ia lirik. Televisi itu hanya untuk memberi kesan ‘ramai’ agar ia tak paranoid. Tentu saja nada nada yang terdengar dari head-phone nya lebih menarik. Karena musik dan makanan membantunya berpikir.

Tentu saja gadis itu sedang berpikir. Seorang Elvrine Vue Laeviyen tak punya waktu sebanyak itu untuk bersantai. Bukan karena posisinya yang memang disibukkan banyak hal. Ia bisa saja meminta pegawainya menyelesaikan pekerjaannya, walau itu sebenarnyq bukan sikap yang baik. Ataupun karena kecerdasan otaknya yang membuatnya selalu berpikir? Mugkin ya, tapi untuk saat ini tidak. Elvrine sedang tidak ingin memikirkan apapun tentang pekerjaan ataupun hobinya di laboratorium. Dia sedang memikirkan sesuatu yang lebih personal.

“Ddddrrrrtttt……” getaran di sakunya membuat Elvrine sadar dari kegiatannya saat ini –antara berpikir dan melamun-. Elvrine melihat sekilas nama yang tertera disana. Renzo Shallowr. Ia pun segera membuka head-phonenya dan mengangkat panggilan itu.

“Aku sudah sampai” suara husk itu langsung mengatakan itu. Elvrine mengernyit. “Sampai?” batinnya. Sedetik kemudian ia mengerti maksudnya dan segera terlonjak.

“Bajingan! Siapa bilang kau bo-””tut…tut..” Elvrine menatap kesal ponselnya. Ia segera berlari keluar ruangan tersebut, dan tak lupa menguncinya.

Ia berlari sekuat tenaga menuju pintu depan vila dan segera mengunci pintu tersebut, kemudian beralih pada pintu-pintu lainnya dan jendela jendela di vila tersebut. Setelah ia selesai menutup semua akses di vila itu, ia terduduk lemas di sofa ruang tamu karena kelelahan berlari-lari.

Ia menatap salah satu jendela, seringaian muncul di bibirnya dan ia mulai terkekeh.

“Semenyenangkan itukah?” suara yang tadi ia dengar melalu ponselnya kini terdengar tepat dibelakang telinganya. Elvrine langsung berdiri sambil membalik badannya. Menatap tak percaya sosok dihadapannya.

“Kau?!” serunya dengan jari telunjuk seakan menuding.

“Terkejut?” Tanya pria jangkung tersebut dengan senyum meremehkan. Elvrine melempar tatapan bosan pada Renzo. “Lucu saat kau berlarian kesana kemari dengan begitu panik, Oh, dan tawamu yang seolah menang itu lucu” tambahnya.

“Keluar dari vila ku” ujar Elvrine dingin. Renzo hanya terkikik mendengarnya.

“Aku mencoba menebak cara fikirmu yang selalu tak tertebak. Dan akhirnya aku sampai di sini. Kau yang tak tertebak sengaja memilih tempat semudah ini yang tentu tak akan pernah di perkirakan orang akan kau pilih sebagai tempat bersembunyi” ujar Renzo santai disertai seringaian di bibirnya.

“Prang!” Renzo tersenyum semakin lebar saat vas bunga yang dilempar Elvrine berhasil ia elakkan.

“Ingin menambah kekacauan lainnya nona Kim?” tanyanya sembari berjalan mendekati Elvrine. Elvrine menatapnya dingin. “Kau begitu pemarah. Apa sedang datang bulan?” bisiknya tepat di telinga Elvrine. Dan tangan Elvrine bekerja cepat untuk memberi satu pukulan di pipinya. Tapi reflek Renzo memang ditas rata rata manusia biasa. Ia menahan kedua tangan  Elvrine. “Kau begitu cantik saat marah, El” bisiknya lembut. Dan detik itu juga ia melumat bibir manis gadis dihadapannya.

Tak ada perlawanan. Elvrine bukan gadis murahan yang bisa disentuh sembarangan orang. Tapi lebih dari itu, ia adalah gadis yang tak suka berbuat sia-sia. Ia tahu kekuatan Renzo jauh diatasnya. Elvrine bukan gadis lemah, ia sabuk hitam taekwondo. Tapi Renzo mungkin telah mencapai tingkat teratas dari semua beladiri, termasuk taekwondo. Elvrine tahu karena mereka belajar taekwondo bersama dulu. Dan Renzo masih diatasnya dalam bidang taekwondo.

“Kau masih tak berubah, El” bisik Renzo parau begitu pautan bibir mereka lepas. Elvrine memang tak pernah menolaknya. Tapi Elvrine juga tak pernah membalasnya. Dan sungguh itu membuat Renzo merasa sakit. Ia mungkin memang tak bisa menahan dirinya untuk tidak memagut bibir Elvrine. Tapi begitu ciuman itu berakhir ia menambah luka pada dirinya. Ia begitu mendambakan Elvrine membalas perasaannya, dan sangat menyakitkan menyadari Elvrine tak membubuhkan perasaan dalam ciuman mereka.

“Apa sekalipun aku memperkosamu kau akan tetap tenang dan tak menolaknya?” tanyanya disertai seringaian iseng untuk menutupi sakit dihatinya. Renzo tidak berbohong, ia sering sekali memikirkannya. Tapi ia takut ia mendapat luka yang begitu dalam kalau sampai ia melakukan itu Elvrine tetap tak memandangnya.

“Kau tak akan melakukannya”jawab gadis itu cuek. Elvrine menarik tangannya dari cengkraman Renzo yang mulai melonggar. Ia mengambil jarak agar ia dan Renzo tak terlihat begitu intim.

Renzo tertawa singkat. Ia melipat kedua tangannya didepan dada. Menatap begitu angkuh pada Elvrine. “Kenapa? Hanya ada kita berdua di pulau ini. Aku bisa saja memperkosamu semauku. Ditambah lagi kau…” Renzo memberi kode dengan matanya, menatap Elvrine dari atas sampai bawah. “Tanktop dan hotpants bukanlah hal sulit bagiku”ujarnya dengan seringaian.

Elvrine mendecih melihat sikap Renzo. Tentu saja ia tidak berpikir Renzo atau siapapun akan menyusulnya ke pulau pribadinya ini. Dan suhu di pulaunya ini begitu panas, karena itu ia hanya memakai tanktop dan hotpants. “Karena aku akan membencimu” ujarnya singkat dan membalik badannya. Beradu argument dengan Renzo tak akan ada akhirnya.

Elvrine berjalan menuju dapur dan Renzo mengikutinya. Ia membuka freezer dan menenggak air es yang ada didalamnya. “Pulanglah. Aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun” ujar Elvrine singkat tanpa membalik badannya. Renzo mengangkat sebelah alisnya. Ia tahu Elvrine bukan penyuka keramaian, tapi ia juga tahu gadis tersebut tak pernah sengaja menyendiri disuatu tempat.

Renzo mendudukkan dirinya diatas sebuah kursi. “Seharusnya kau memberitahu tunanganmu ini kau mau kemana. Kau pasti tidak berpikir aku mencemaskanmu” ujarnya.

Elvrine membalik badannya. “Kau amnesia? Pertunangan itu sudah dibatalkan minggu lalu” ujarnya meremehkan.

Renzo membalasnya dengan seringaian. Kalau saja Elvrine lebih jeli memperhatikannya, seringaian itu tersirat kesedihan yang begitu dalam. “Pertunangannya memang dibatalkan. Tapi kita tetap akan menikah, bukan?” Tanya Renzo terlihat jahil. Tapi sesungguhnya itu adalah kata kata untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dia dan Elvrine telah bertunangan sejak lahir. Dan minggu lalu Elvrine membatalkan pertunangan itu. Ia hanya berulang kali meyakinkan dirinya bahwa ia akan mendapatkan Elvrine suatu hari nanti.

Elvrine menghela nafas tak percaya. “Kau bodoh? Pertunangannya batal. Itu artinya tak akan ada pernikahan” jawab Elvrine dingin.

Renzo hanya terkekeh mendengar jawaban Elvrine. “C’mon, El! Memangnya kau pikir kau akan menikah dengan siapa? Kau tidak mungkin menikah dengan siapapun. Kalau tidak denganku, kau pikir memangnya kau akan menikah dengan orang lain? Tolong jangan mengatakan hal mustahil” ujarnya langsung. Ia tahu Elvrine tak pernah jatuh cinta pada siapapun apalagi menjalin hubungan dengan seseorang. Renzo yang disebut orang orang sebagai pria sempurna dan telah bersahabat dengan Elvrine hampir seumur hidupnya saja tak bisa menarik hati gadis itu. Jadi mustahil orang yang tidak lebih darinya, yang tidak mengerti Elvrine sepenuhnya, yang tidak akrab dengan gadis itu bisa menarik hati gadis itu.

Elvrine mengalihkan pandangannya. “Aku tidak akan menikah” jawab gadis itu singkat. Renzo tersenyum penuh kemenangan mendengarnya.

“Itu artinya kau akan menikah denganku” jawabnya enteng. Elvrine hanya diam menatap balik kedalam mata biru Renzo yang begitu indah. “Kalau kau tak akan menikah,  itu artinya kau akan menikah denganku” ulang Renzo mempertegas. Mereka berdua tahu opini Renzo itu benar. Kedua orang Elvrine tak akan membiarkan Elvrine tak menikah. Dan pada akhirnya gadis itu akan dipaksa neikah dengan Renzo yang telah mendapat kepercayaan penuh dari kedua orang tua gadis itu.

Renzo beranjak dari duduknya dan mendekati Elvrine. Ia membelai kedua pipi gadis itu dengan lembut. “Kau lihatkan? Kau memang akan berakhir denganku. Jadi kumohon cobalah untuk membuka hatimu untukku” ujarnya lembut kemudian mengecup kening Elvrine dengan penuh perasaan.

Normal POV End

Normal POV

Mata itu menjelajah dengan liar setiap sudut yang bisa ia tangkap. Giginya bergemeletuk menahan amarah ketika mengingat kembali suara televisi yang sekilas ia dengar tadi. Sekali lagi ia berusaha menggerakkan tangannya. Entah telah berapa kali ia gagal. Ekspresinya semakin mengeras. Ia tahu tangannya tidak bisa bergerak bukan karena lempengan baja yang mengunci tangannya ke tempat ia terbaring. Sungguh ia yakin bukan karena itu.

Lagi lagi ia tak ingin menyerah begitu saja pada situasi saat ini dan terus berusaha bergerak. Apapun itu seandainya ia bisa menggerakkan tubuhnya. Ia lagi lagi menoleh kesegala arah. Demi apapun ada apa dengan tubuhnya? Ia hanya bisa menggerakkan dari leher sampai kepalanya, dan sisanya? Ia tak dapat merasakan apapun. Kalau ia tak menyaksikan sendiri bagaimana tangannya tidak bergerak sama sekali, ia akan berpikir ia telah kehilangan tangan ataupun kakinya. Tapi ia bisa melihat tangan itu masih melekat pada dirinya hanya saja tidak bisa merasakan apapun.

Sehun menggigit bibirnya resah. Tetesan cairan itu membuatnya semakin resah. Infus. Sehun bisa melihat ia diifus dan ada cairan lainnya. Entah apa itu tapi Sehun akan selalu berpikir negative pada sekitarnya saat ini. Ia semakin resah melihat monitor yang menuliskan keadaan system vitalnya. Baik baik saja. Tapi bukan berarti akan membuat Oh Sehun merasa baik baik saja.

Oh sungguh ia sangat lelah berusaha sedari tadi. Apa tak ada cara untuk meloloskan diri? Lagi pula kemana orang yang seharusnya menculiknya? Ia pikir ia bisa melakukan sesuatu jika ada penculiknya di ruangan ini. Memanas manasi orang tersebut pastinya akan membuatnya babak belur. Tapi bukankah setelahnya mungkin ada peluang untuk kabur?

Ngomong ngomong tentang babak belur, Sehun tak bisa merasakan sakit apapun. Setidaknya diwajahnya tidak ada terasa lebam, sobek, bengkak atau apapun. Sehun tahu ia tak sadarkan diri bukan melalui perlawanan fisik. Sudah jelas ia tak sadarkan diri karena obat bius. Tidak mungkin melalui makanan dan minumannya. Sehun membeli makanan dan minumannya sendiri saat di Bandara. Suntik? Lebih tidak mungkin lagi.

Sehun kembali mengingat –ingat apa yang terjadi sebelumnya. Toilet. Terakhir kali yang ia ingat ia ada di dalam toilet. Apa di dalam situ dia tertusuk jarum yang terselip dan tak sengaja melukai dirinya? Kalau tak salah tak ada. Entahlah ia tak begitu ingat. Atau ada obat bius yang di bubuhkan di gagang pintu toilet dan ia menyentuhnya? Rasanya itu juga tak mungkin. Sekalipun ada Sehun yakin ia tak mungkin menjilati tangannya ataupun makan di dalam toilet. Atau ada orang yang menyumpal bibir dan bibirnya dengan obat bius? Ia yakin ia tak sempat melakukan perlawanan apapun walaupun sedetik, karena itu ia terkejut begitu mendengar berita di televisi ia di culik saat di Bandara.

‘Dia akan datang’ Sehun meyakinkan dirinya bahwa penculik itu akan datang. Barulah ia akan punya kesempatan untuk kabur.

Dia? Sehun baru saja memikirkannya. Apa benar yang menculiknya hanya satu orang? Kemungkinannya tidak. Untuk menculik Sehun tanpa terlihat orang tentunya butuh lebih dari satu orang. Mengangkat dirinya dan juga mengawasi keadaan sekliling. Ah! Bisa satu orang kalau ia disembuyikan. Tapi dengan apa dia akan di bawa keluar dari toilet sampai keluar bandara? Troli? Apakah ia dimasukkan kedalam karung atau apapun yang cukup untuk menyembunyikan dirinya? Memasukkannya ke dalam bagasi? Penculiknya harus cukup kuat untuk mengangkat bobot badan Sehun. Karena kalau diseret kebanyakan orang akan curiga.

Sehun menghela nafas. Banyak yang harus ia pikirkan. Apakah yang menculiknya melakukan sendiri penculikannya? Ataukah menyewa seseorang atau sekelompok orang? Sehun memejamkan matanya memikirkan hal lainnya. Motif. Kenapa ia diculik? Penculikan acak? Psycho? Sasaeng? Haters? Dendam personal? Sehun memikirkan banyak orang dimasa lalu. Kemungkinan akan adanya orang yang begitu nekad sampai menculiknya. Dan tak ada nama yang begitu pasti muncul di kepalanya. Ia mulai memikirkan orang yang sekarang. Apakah ada? Ia tak tahu. Mungkin saja haters. Sehun tahu ada haters yang telah melakukan tindak criminal pada beberapa artis dan seorang haters juga mengumumkan mengincarnya di tahun 2013. Tapi tak pernah ada yang namanya penculikan.

Kepala Sehun bergerak resah. Membernya akan menemukannya. Ia yakin itu. Pihak SM akan melakukan apapun untuk menemukannya. Ia yakin itu. Polisi dan Detective akan mencarinya. Keluarganya akan melakukan apapun agar ia kembali. Fans nya. Fansnya mungkin akan menjadi pihak yang paling gila gila an mencarinya. Ia pasti pulang. Ia yakin itu.

‘Psycho’ kata kata itu tiba tiba terbersit dikepalanya. Sehun membulatkan matanya. Peculiknya akan ketahuan suatu saat nanti, tapi…..apakah ia masih hidup saat ditemukan? Sehun menelan saliva nya. Ia menggeleng geleng meyakinkan diri bahwa ini tidak segila yang ia pikirkan.

Normal POV

Pintu itu berderit. Kewaspadaan Sehun meningkat seiring semakin jelasnya suara langkah kaki kearah dirinya.

‘Satu orang’ Sehun bisa mendengar hanya satu orang yang masuk ke ruangan itu. Tapi bukan semudah itu mengambil kesimpulan bahwa ia hanya perlu menghadapi satu orang.

Suara kaki itu berhenti. Keringat dingin mulai memenuhi pelipisnya. Dan didetik selanjutnya ia bisa mendengar suara mesin.

‘Eh?’ Sehun terkejut saat tempat ia terbaring bergerak dan membuat dirinya berdiri. Bukan! Tempat nya terbaring ini yang menjadi tegak dan membuat dirinya seolah berdiri. Sehun menunduk dan melihat adanya baja lain yang mengunci kakinya dan juga di bagian bawah telapak kakinya ada yang menahan bobot badannya agar tak jatuh.

“Kau sudah sadar?” Sehun berjengit mendengar suara itu. Ia reflek mengangkat wajahnya. Ia membelalakkan matanya tak percaya.

‘Wanita?’ batinnya shock. Dari segala kemungkinan yang telah berkeliaran dikepalanya, ia tak pernah memikirkan kemungkinan wanita.

‘Sasaeng’ batinnya langsung.

Sehun terdiam beberapa saat. Gadis itu hanya menatapnya sambil melipat kedua tangan di depan dada. Sehun memperhatikannya. Seorang gadis dengan rambut hitam lurus sampai ke rusuk. Tidak terlalu tinggi. Langsing. Berkulit putih pucat seperti dirinya. Berwajah mungil, bibir kecil tipis, hidung mungil yang tak terlalu mancung dan…..matanya…. tidak tergolong besar, bewarna hazel dan……sangat tajam. Korea, mungkin sedikit terlihat kebarat barat-an.

‘Cantik’ Sehun langsung menggelengkan kepalanya begitu kata itu terbersit dikepalanya.

‘Kriminal’ Sehun langsung mencari ungkapan yang tepat.

“Lepaskan aku” nada itu terdengar memerintah. Mungkin terlalu angkuh mengingat statusnya adalah orang yang di sekap. Tapi Sehun tidak peduli. Ia tak bisa lebih baik hati lagi daripada ini.

“Wae?” jawab suara itu datar. Sehun menatapnya tidak percaya. Sehun mengeraskan rahangnya. Berpikir sekali lagi kata kata yang akan ungkapkan. Gadis ini pasti sasaeng. Ia yakin itu. Tidak mungkin haters sebaik ini, menyekapnya di tempat mewah.

Normal POV End

Sehun POV

“Apa yang menyenangkan dari melakukan ini? Hah?” tanyaku berusaha tenang. Membuat lawanmu berpikir kau tak berdaya bukanlah hal yang bagus.

“Yang menyenangkan?” ujarnya membeo. Ia menekan sebuah tombol dari sebuah remote control dan beberapa anak tangga muncul dari tempat berbaringku ini, entah tempat berbaring atau bersandar namanya ini.

Ia melangkah santai menaiki anak tangga itu, sehingga tinggi kami jadi sejajar dan jaraknya menjadi lebih dekat padaku dari sebelumnya.

“Kau bilang menyenangkan? Perlu kau tahu aku sama sekali tak menganggapnya menyenangkan” ujarnya dingin. Matanya yang tajam memberi tatapan benci tepat ke dalam mataku.

Sasaeng? Apa gadis ini bukan sasaeng? Aku berpikir ulang. Sepertinya dia memang bukan sasaeng. Karena kupikir kalau dia sasaeng aku akan mengalami hal hal tidak menyenangkan seperti dia yang menatapku dengan tatapan memuja. Dan karena dia sasaeng yang sampai nekad menculik, pastinya aku akan menjadi korban pelecehan seksual. Setidaknya dia akan menyentuhku walau sedikit saja. Tapi gadis ini malah memberiku tatapan setajam pisau.

Dendam pribadi? Apa gadis ini adalah orang yang mengenalku? Tapi kenapa rasanya sangat tidak familiar? Apa aku pernah melakukan sesudatu yang berdampak buruk padanya ataupun orang orang yang ia sayangi? Entahlah…..

“Apa maumu?” ujarku akhirnya. Pertanyaan bodoh, tapi aku tak tahu harus apa. Ia menuruni kembali tangga itu, kembali menginjak lantai. Ia berbalik dan duduk di sebuah kursi yang menghadap kearahku.

“Bagaimana kalau aku mengatakan aku ingin membunuhmu?” tanyanya santai tapi tatapan itu masih sama dinginnya.

Gertakan. Dia sedang menggertakku. “Polisi dan detective tidaklah bodoh. Mereka akan melacak petunjuk apapun yang mengarah pada orang suruhanmu. Mereka akan mengaku dan kau akan tertangkap” ujarku memberi ancaman balik.

Ia mengerutkan keningnya. Baru berpikir hal itu sekarang, heoh?

“Suruhan?” ujarnya lagi lagi membeo. Oh! Apakah gadis ini mengalami keterlambatan dalam mencerna kata kata? “Aku tak menyuruh siapapun untuk menculikmu. Karena manusia adalah makhluk paling tidak bisa dipercaya” jawabnya tenang.

Aku membeku? Tidak ada suruhan? Yang benar saja! Tidak mungkin kan gadis ini bisa mengangkat ku? Dia pasti berbohong.

“Kau pikir aku akan percaya ada makhluk anta barantah atau binatang super pintar yang membantumu menculikku?” tanyaku meremehkan. Ia mendesis meremehkan sebagai jawaban.

“Hei, aku tahu kau tidaklah pintar” ujarnya melecehkan. Sialan! “Tapi tolong jangan membuatku sampai berpikir kalau kau itu idiot” ujarnya lagi dengan senyuman meremehkan. Ia menyamankan diri dengan sandaran kursi itu. “Teknologi sangat bagus. Aku suka robot” ujarnya santai.

Aku mencerna perkataannya. Dia suka robot? Hubungannya?

“Robot buatanku sendiri. Robot itu bergerak berdasarkan kendaliku. Ia mengunci toilet sehingga tak ada orang yang masuk setelah kau masuk ke toilet. Setelahnya ia mengeluarkan gas bius yang membuatmu pingsan. Itu sudah diatur agar jangan ada saksi yang mengatakan mereka tak sadarkan diri. Polisi pasti akan menemukan sampel gas bius itu di toilet bandara itu, tapi itu tak memberi petunjuk apapun” ujarnya bangga.

Aku mengerutkan keningku. Robot? Gas obat bius? Jadi……gas? Sudah kuduga obat bius tak mungkin memasuki makananku.

“Robotku memasukkanmu kedalam tabung kosong panjang didalam dirinya. Robot tak punya sidik jari, polisi tak akan mendapat petunjuk apapun. Mereka buang waktu dengan mencari segala petunjuk di toilet itu, padahal mereka tak akan mendapatkan apapun” jelasnya lagi.

Aku terkekeh meremehkan. Ia hanya diam menatapku.

“Kau pikir kamera CCTV tak akan mendapatkan gambar apapun? Robotmu akan tertangkap kamera CCTV setelah keluar dari toilet itu” ujarku agar ia sadar menculik tidaklah semudah itu. Terlebih lagi menculik seorang artis.

“Tolong jangan samakan otakku dengan cara pikirmu yang dangkal” ujarnya meremehkan. “Robotku tidak keluar dari pintu toilet, tetapi jendela. Bangunan disekitar sana memang memasang CCTV. CCTV jalanan juga ada. Aku sudah merusak sistemnya sehingga semua kamera yang bisa menangkap gambar jendela toilet itu rusak. Polisi mungkin saja curiga karena saat mereka menyelidikinya semua CCTV itu rusak. Tapi aku menyabotase nya dari jarak jauh, China. Sekalipun mereka bisa menemukan dari mana aku menyabotase system CCTV itu, mereka tak akan mendapatkan petunjuk apapun. Rumah di China itu aku beli secara online dengan identitas palsu, dan aku mengakses pembeliannya dari warung online, identitas yang kutinggalkan di warung online itu juga palsu. Jadi mereka tak akan bisa melacakku” jelasnya bangga.

Aku berusaha tenang. Dia pintar. Aku bisa merasakannya. Tapi membuatnya merasa telah menang tentu saja tidak akan kulakukan.

“Kau tahu setiap kejahatan akan terbongkar, kalau tak ada bukti yang mengarah padamu, pasti akan ada saksi. Robotmu akan terlihat orang orang saat menuju ke lokasimu” ujarku. Mungkin aku terlihat menyedihkan dengan harapan harapan itu.

Dia menghela nafas. “Tidak akan ada yang lihat. Di sebelah toilet itu adalah pembuangan menuju laut. Robotku masuk kedalam pembuangan itu dan langsung menuju laut. Tak akan ada yang melihat didalam pembuangan kota. Dan dari laut itu robotku langsung menuju pulau pribadiku. Disini. Tak akan ada yang tahu kau di sini” jelasnya terlihat bosan.

Aku terkejut mendengar betapa terencananya penculikan ini. Mengerikan…..siapa gadis ini?

“Rumahmu yang di China itu, mereka akan menemukannya. Mereka akan tahu siapa kau. Kau disana untuk menyabotase CCTV kan? Mereka akan menemukan apapun itu, sidik jari, rambut, apapun barang yang bisa membawa petunjuk. Dan……mungkin penyelam di lautan terkejut saat ada sesuatu yang lewat dan mencari tahu dimana benda itu sekarang, mereka akan menemukanmu” ujarku. Aku tahu kemungkinan-kemungkinan yang ku katakana semakin tak rasional. Tapi aku ingin meyakinkan diriku bahwa mereka akan menemukanku.

“Teserah apa yang terjadi dengan para penyelam. Entah benar atau tidak ada yang melihatnya, tetap saja mereka tidak mungkin menemukannya. Mereka tak bisa melacak kemana perginya robotku. Mereka tak mungkin mengikuti arah robotku karena tabung oksigen mereka tak akan cukup tahan lama untuk tetap menyelam mengikutinya. Dan untuk rumah itu, aku sangat ingat aku memakai sarung tangan dan topi karet saat akan memasukinya. Tidak mungkin sidik jari ataupun rambutku jatuh” jelasnya bosan.

Aku terdiam. Oh my god! Apa yang harus kulakukan?

“Sudah? Apa kau masih ingin mengungkapkan harapan sia sia mu itu? Apa akhirnya kau mengerti FBI sekalipun tak akan bisa menemukanmu?” tanyanya malas.

Aku menelan salivaku. Aku yakin pertahanan angkuhku tadi telah runtuh saat ini.

“Kau…….Sebenarnya kau siapa?” tanyaku akhirnya. Pertanyaan tak berarti, tapi aku ingin menanyakannya.

“Elvrine Kim. Namaku Elvrine Kim”

Advertisements

2 responses to “[Freelance] TAKEN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s