Chapter 10 L.O.D Part B [END]

l-od-pst

  • Length : Chaptered
  • Genre : Mystery,Friendship.
  • Rating : T
  • Main Cast : Oh Sehun & Geum Shinjin (OC)
  • Other Cast : Please find by your self..
  • Disclaimer : Karangan asli author!!! Cerita hanya fiktif belaka. Tidak nyata.
  • Note : Fanfic ini terinspirasi dari salah satu J-Movie yang pernah keluar tahun 2008 tapi sama sekali tidak ada unsur penjiplakan atau plagiat. Jalan cerita 100% berbeda dan ditulis dengan kerja keras author. (!) Terdapat beberapa kata-kata yang cukup kasar baik di tulis dalam Bahasa Korea maupun dalam Bahasa Indonesia. TIDAK UNTUK DI TIRU & HANYA UNTUK MENDUKUNG ALUR CERITA.
  • Recommended Song : A.P – Save Me

OST. You’re all Surrounded – Justice For All

(othr song that u thnk wll b fit)

Ludwig Van Bethooven – Monnlight

 

^^Happy Reading^^

“…Aku janji,setelah urusanku selesai,aku akan kembali ke rumahmu dengan selamat,bagaimana…?”

“Bagaimana ? Yang justru harus bertanya ‘bagaimana’ sekarang adalah aku. Bagaimana kondisimu sekarang,eoh ? Babo-ya!” Sehun,dengan suara Gwijin di kepalanya yang saat ini beradu dengan suara hatinya. Rumah ini tidak main-main. Beberapa waktu lalu,listriknya di padamkan. Masa bodoh apakah Luhan yang melakukannya atau perusahaan listrik negara yang melakukannya,Sehun sudah tidak ingin ambil pusing. Rasa nyeri di tubuhnya menjadi ‘teman’ untuk mencari Gwijin. Sehun menggenggam erat sebuah kaki meja yang patah di tangannya. Sekedar senjata yang akan ia gunakan untuk melawan jikalau Luhan tiba-tiba datang kembali menyerangnya. Luas,gelap,ketakutan…tunggu,tidak! Sehun tidak takut,ia hanya tertekan secara psikologis sekarang. Untuk pertama kalinya.

Sehun berbelok sembari mengandalkan instingnya mencari seseorang. Jantungnya berdegup cepat dan keringat mengalir dari pelipisnya.

“Eodiya ?” Gumam Sehun seperti berbisik. Sambil terus berjalan,Sehun menebak-nebak pintu mana yang isinya mungkin Gwijin. Ini persis saat kau mencari keberuntungan terbaik pada fortune cookies.

Sementara itu,di sisi lain,Luhan melihat segalanya dari CCTV. Bisa dibilang,ia adalah pengendali dari semua permainannya saat ini. Seringainya terlihat sangat puas. Walau penyerangannya pada Sehun bisa dikatakan tidak begitu sempurna,tapi bukan Luhan namanya jika kepalanya tidak penuh dengan rencana pembunuhan sempurna. Ia menggeser kursor,melihat ke ruangan dimana Gwijin ia tenggelamkan. Ia kembali tersenyum puas.

“Wow,tidurnya cukup nyenyak ternyata…” Gumam Luhan yang akhirnya mendorong kursi ke belakang dan berdiri. Ia menengok jendela dan melemaskan jari-jarinya yang pegal.

“Ternyata bermain denganmu cukup menyenangkan. Sepertinya dia memang suka untuk dijadikan objek permainan,” Ucapnya sembari memegang sebuah remote kecil dengan satu tombol. Luhan melangkah keluar dari ruangan itu pelan-pelan. Berusaha tidak bersuara agar telinga Sehun tidak menjangkaunya.

“Eodi bo ja…(Mari kita lihat)”

***

BRAK! Sehun menendang pintu di hadapannya. Kosong. Yang ada hanya kamar kosong yang cukup rapi. Ini sudah kamar ke-4 yang Sehun hancurkan pintunya. Sehun menghela nafas berat kemudian berlari. Ia beradu dengan waktu dan juga dengan bayangan Luhan yang sepertinya mengawasinya. Kembali,Sehun menemukan sebuah pintu dan…Brak! Terbuka. Kali ini…Ini…Adalah kamar Gwijin. Sehun bisa tahu dari seragam sekolah yang tergantung rapi. Seketika itu juga,Sehun melangkah masuk ke dalam. Memperhatikan kamar yang masih memakai alas tidur tradisional itu. Sehun melangkah mendekati seragam Gwijin yang tergantung,kemudian memegang bagian pundaknya seakan-akan ia memegang pundak Gwijin. Sehun menundukkan kepalanya dan menutup matanya. Ia merasa bersalah pada pemilik seragam ini.

“Aku tahu kau bisa mendengarku walau tidak benar-benar mendengarku. Aku tahu kau bisa melihatku walau kau tidak benar-benar melihatku,” Gumam Sehun. Setelah itu,ia kembali menegakkan kepalanya dan di saat yang sama,matanya menangkap sesuatu. Sehun melirik ke belakang gantungan baju Gwijin. Ada sebuah pintu. Sehun memindahkan gantungan baju Gwijin dan memutar knop pintunya.

Ceklek…

Mata Sehun membulat. Ruangan ini adalah ruang CCTV. Ada banyak monitor disana dan bisa Sehun cium bau spirtus yang wanginya cukup menyengat. Bau yang sama dengan yang ia cium saat pertama kali masuk dan dari Luhan sendiri. Buru-buru Sehun mengeluarkan handphonenya dan menyalakan senter. Ia kemudian menyenter mouse dan menemukan sidik jari. Sehun menyipitkan matanya dan mulai menyeringai. Tidak salah lagi,ini milik Luhan. Sehun bisa tahu dari bentuk jarinya. Sehun kemudian memperhatikan semua layar dan berhenti pada satu di tengah. Ia menoleh ke segala arah,mencari benda yang bisa ia gunakan untuk memegang mouse tanpa harus menghilangkan sidik jari Luhan. Ia keluar dari sana dan membongkar nakas milik Gwijin. Dari sana,ia berhasil menemukan satu sarung tangan karet. Ia kembali ke dalam kemudian menggeser mouse tersebut untuk membesarkan layarnya. Kembali,matanya membulat menemukan jika seseorang dalam aquarium adalah Gwijin.

Tanpa berpikir panjang, Sehun mulai mencari keberadaan ruang itu. Sehun menengok semua layar satu per satu dan akhirnya berlari keluar saat menandai satu lukisan. Jika ia sudah menemukan itu,yang perlu ia lakukan adalah jalan terus dan belok ke kanan. Sehun berlari cepat,masa bodoh apakah Luhan mau mendengarnya atau tidak.

“Yosh!” Sehun berseru pelan saat menemukan lukisan itu. Ia kembali berlari dan belok ke kanan. Ia menemukan ruangan itu. Dari luar,ada sedikit cipratan air yang membeku menjadi es tipis. Tidak salah lagi,Sehun segera membuka ruangan itu dan…

“Gwijin-ah!” Sehun berseru kemudian mendekati aquarium. Terkunci.

“Argh! Sial!” Sehun kalang-kabut. Ia kemudian menoleh secara acak,mencari benda yang dapat ia gunakan untuk memecahkan kaca aquarium. Hampir lupa,Sehun dengan cepat kembali ke aquarium tadi dan memegang kacanya serta melihat ke seluruh sudut aquarium itu dengan cepat.

“Jenis float glass..” Gumamnya. Walau sedikit heran dengan jenisnya,Sehun kembali memfokuskan dirinya untuk mencari benda yang bisa memecahkan kaca.

“Dapat!” Serunya. Sehun kemudian menemukan sebuah bola bowling tua yang cukup berat dan segera melemparkannya sekuat tenaga.

PRANGG…BRUG!!

Suara kaca pecah yang cukup keras terdengar,di lanjut dengan suara bola bowling jatuh yang suaranya tidak kalah besar. Air dari aquarium itu tumpah ruah. Dengan cepat,Sehun meraih tubuh Gwijin dan membawanya ke tempat dimana rembesan aquarium tidak terlalu banyak. Panik,senang,ketakutan menjadi emosi yang berkumpul di sekitar Sehun sekarang.

“Gwijin-ah! Ya! Geum Shin Jin!” Seru Sehun sambil menepuk-nepuk pipi Gwijin. Tidak ada respon. Sehun kemudian beralih ke tangan Gwijin dan memeriksa nadinya. Sambil memperhatikan jam tangannya,Sehun mulai menghitung denyut nadi Gwijin. Bradycardia. Sehun segera mengangkat dagu Gwijin untuk memudahkan jalan nafasnya,setelah membiarkan selama beberapa detik,Sehun kembali mengecek nafas Gwijin. Tidak ada nafas. Keringat dingin mulai terlihat di pelipis Sehun. Ia menghela nafas panjang kemudian membuka mulut Gwijin untuk melakukan nafas buatan. Kembali Sehun mengecek nadi Gwijin tapi kali ini tidak ada detakan. Sehun memperbaiki posisi duduknya dan melakukan kompresi pada Gwijin.

“Jebal,jebal,jebal!” Ucap Sehun penuh harap. Ia kembali memberi nafas buatan,mengecek nadi,dan yang paling akhir,menekan perut Gwijin untuk memastikan air yang tertelan keluar.

“Heok!” Gwijin memuntahkan air yang masuk ke tubuhnya. Sehun terduduk sejenak dan dengan cepat kembali memeriksa nadi Gwijin. Ia belum bisa bernafas lega jika seperti ini. Sehun melirik dengan cepat ke kanan dan kiri,mencari sesuatu yang dapat menghangatkan Gwijin.

“Cotto matte,eoh ? Kau bisa mendengarku,kan ?” Ucap Sehun. Belum ada respon,Sehun berlari kembali ke kamar Gwijin dan mengambil semua kain yang ia rasa dapat dijadikan selimut. Ia kembali berlari dan langsung meletakkan selimut itu di sebelahnya.

“Gwijin-ah!” Sehun menepuk pipi Gwijin. Alis yeoja itu bergerak,menandakan jika ia memberi respon walau kecil kemungkinan ia sadar dengan baik.

“Dengar! Aku melakukan ini untuk menyelamatkanmu,ne ? Jangan menganggapku macam-macam!” Ucap Sehun yang kemudian memegang kerah pakaian Gwijin dan merobeknya. Setelah itu,Sehun cepat-cepat melapisi tubuh dan kepala Gwijin dengan selimut sehangat mungkin dan kembali mengecek nadinya. Sesekali,Sehun akan menepuk pipi Gwijin lagi untuk mencegah Gwijin kehilangan kesadarannya. Sehun sejenak berpikir tentang dimana Luhan sekarang. Apa ia memperhatikan semuanya atau tidak ? Atau mungkin sudah melarikan diri ? Sehun kembali pada Gwijin yang masih pucat kemudian menempelkan tangannya ke leher Gwijin. Di saat seperti ini,menyalurkan rasa hangat dari tubuhnya sendiri adalah yang paling bisa dilakukan.

“Kau aman sekarang. Bertahanlah!” Ucap Sehun. Ia kembali memeriksa denyut nadi Gwijin dan kembali bernafas lega kala denyutnya sudah mulai membaik. Sehun menggosokkan tangannya untuk membuat rasa hangat kemudian kembali menempelnya di leher Gwijin.

“Gwijin-ah!” Seru Sehun. Gwijin membuka matanya berlahan,walau tidak benar-benar terbuka dengan sempurna. Ia menggumam.

“Mwo ?” Sehun mendekatkan telinganya pada mulut Gwijin.

“A-an…” Gumam Gwijin tidak jelas.

“Eoh,bicaralah berlahan” Balas Sehun. Gwijin terdiam sebentar.

“An…anha..jju..seh..yo” Ucapnya susah payah. Sehun membulatkan matanya dan membuat jarak.

“Anhajweo ?” Ucap Sehun. Ia mengerti maksud Gwijin. Dengan gerakan yang hati-hati Sehun mengangkat tubuh Gwijin kemudian memeluknya. Kepala Gwijin terjatuh tepat di pundaknya sehingga rambut Gwijin yang masih agak basah itu terasa agak dingin.

“Kau aman sekarang. Kumohon bertahanlah sampai aku bisa membawamu keluar,” Ucap Sehun. Di belakang,walau masih belum sadar betul,Gwijin bisa mendengar suara Sehun dengan baik meski tubuhnya serasa tidak bernyawa.

“Oppa!” Mata Sehun membulat. Suara Sehyeon terdengar dari belakang.

“Oppa,kalian selamat sekarang!” Lanjutnya. Sehun berbalik dan saat itu juga,tubuhnya melemah.

Ia melihat adiknya,juga pamannya…berada di tangan Luhan yang saat ini menunjukkan ekspresi dinginnya.

“Omo…jinjja dalkomhanhae (Sangat manis). Tapi,ya~ kau baru saja merusak maha karyaku,Sehun. The Cold Ophelia. Kau tahu dia,kan ? Tapi…KAU MERUSAKNYA!” Ucap Luhan dengan nada bicaranya yang tiba-tiba naik. Membuat Sehyeon yang ada dalam dekapan eratnya menjadi tersentak dan terlihat menahan tangisnya.

“Luhan-ah,jangan apa-apakan mereka!” Ucap Sehun menggertak. Luhan terkekeh pelan kemudian mengeratkan dekapannya pada dua orang itu.

“Selama ini,kau pasti berpikir aku lemah,kan ? Nyatanya aku bisa mendekap dua orang sekaligus hingga nafasnya terdengar sangat pendek. Tidakkah kau terkejut mereka tahu kita ada disini ?”

Flashback…

Teett…!!

“Nuguseyo ?” Ucap seseorang lewat intercom. Sehyeon memperlihatkan wajahnya pada kamera intercom agar orang di dalam rumah dapat mengenalinya.

“Oh,Sehyeon-ah! Masuklah!” Ucap wanita yang berada di dalam rumah mempersilahkan. Setelah pagarnya dapat terbuka,Sehyeon berlari kecil untuk segera masuk ke dalam rumah. Cuacanya dingin dan ia ingin segera berada di tempat yang hangat.

“Okaeri,Sehyeon-ah! Hitori ? Okaasan to Oniichan to doko ? (Selamat datang,Sehyeon! Sendirian ? Ibu dan kakak dimana ?)” Tanya bibi Sehyeon.

“Okaasan sedang pergi ke rumah nenek dan Oniichan pergi dengan terburu-buru setelah mengantarku kemari. Oh,Ojisan (Paman) ?”

“Ah,dia ada di taman. Omo,di luar pasti sangat dingin. Akan bibi buatkan coklat panas untukmu,ne?”

“Ne,arigatou gozaimasu.” Ucap Sehyeon yang setelah itu melangkahkan kakinya menuju taman. Sehyeon menggeser pintu kaca dan menghampiri pamannya.

“Oh,Sehyeon-ah! Apa yang membawamu kemari ? Dengan siapa ?” Tanya pamannya. Sehyeon menunjukkan ekspresi datarnya dan hanya tersenyum kecil.

“Pyojeong-i wae ? (Ada apa dengan ekspresimu) Apa Sehun mengganggumu ?” Tanya pamannya. Sehyeon menggeleng,

“Aniyeyo. Paman,aku rasa ada sesuatu yang aneh pada Oppa…” Ucapnya. Paman mengerutkan kening dan mengajak Sehyeon untuk duduk.

“Aneh bagaimana ?”

“Hm…ia terlihat begitu panik,padahal sebelumnya baik-baik saja. Ia kemudian mengantarku kemari setelah itu berlari dengan ekspresi cemas. Sangat cemas.” Jawab Sehyeon. Pamannya kemudian menerawang sebentar untuk mengetahui sedikit mengapa Sehun seperti itu.

“Apa sebelumnya terjadi sesuatu ?”

“Eojae…rumah kami di serang dengan orang aneh. Ia mendekapku dengan mengancam akan menusukku jika Sehun-Oppa mendekat. Kemudian,teman Sehun-Oppa datang. Ia perempuan yang hebat!”

“Mwo ?! Kenapa tidak bilang jik-“

“Hussh!! Nanti bibi bisa mendengarnya!” Sehyeon melepas tangannya dari mulut pamannya dan akhirnya kembali membiarkan pamannya berbicara.

“Kau harus menjelaskan ini padaku nanti,tapi sebelumnya,boleh aku tahu rupa dari teman kakakmu itu ?” Tanya pamannya.

“Dia tinggi,bahkan hampir setara dengan Sehun-Oppa. Rambutnya panjang,kulitnya putih,dan dia pintar. Ia sangat baik padaku,itu saja.” Jawab Sehyeon.

“Kenapa aku merasa tidak enak,ya ? Sehyeon-ah,apa kau yakin tidak ada hal lain yang kau lewatkan ?” Tanya pamannya sekali lagi. Sehyeon berpikir sebentar.

“Ah! Bel rumah berbunyi dan Sehun-Oppa yang berbicara dengan tamu. Aku tidak tahu siapa karena saat itu sedang cuci piring. Beberapa menit kemudian,Oppa kembali dengan ekspresi paniknya. Ia menyuruhku untuk lekas berpakaian. Saat aku melintasi ruang tamu,aku melihat ada kotak di meja,tapi tidak kuhiraukan,” Jawab Sehyeon.

“Aku rasa kita harus ke rumahmu. Ayo!” Keduanya kemudian berdiri dan kembali masuk ke dalam. Setelah paman mengambil jaketnya,mereka berdua berpamitan. Sehyeon dan pamannya berjalan cepat.

“Apa pintu depan terkunci ?” Tanya pamannya. Sehyeon mengangguk kemudian berlari menengok pintu belakang.

“Paman,pintu belakang tidak terkunci!” Sahut Sehyeon. Pamannya menyusul dan kemudian masuk ke dalam.

“Ini kotaknya!” Ucap Sehyeon. Paman Sehyeon kemudian meraih kotak itu dan yang tersisa kini hanya tumpukan bunga Chrysan berwarna putih dan kuning.

“Sehyeon-ah,bisa ambilkan aku pakaian Sehun ?” Pintanya. Sehyeon mengangguk dan dengan cepat berlari ke kamar Sehun dan mengambil satu kaos milik kakaknya itu.

“Ini,paman. Tapi untuk apa ?” Tanya Sehyeon.

“Karena kita tidak tahu ia dimana,sepertinya kita harus melacaknya dari bau serta lokasi terakhir handphone Sehun. Aku akan memanggil pasukan dan anjing pelacak” Ucap pamannya. Tak lama setelah itu,empat mobil polisi datang. Salah seorang polisi memberi hormat pada paman Sehyeon dan setelah menjelaskan kronologi,semuanya mulai bergerak mencari Sehun. Anjing pelacak turut di kerahkan dalam pencarian Sehun. Baju tadi,digunakan untuk anjing pelacak agar bisa di endus baunya,sedangkan tim polisi yang lain menyelidiki posisi terakhir handphone Sehun. Walau membutuhkan waktu yang agak lama,akhirnya alat pelacak yang berhasil mendeteksi lokasi handphone Sehun berhasil membawa mereka sampai ke rumah Gwijin.

“Matikan sirine kalian dan jangan buat keributan. Aku akan masuk.” Ucap paman Sehyeon. Seorang polisi mendekatinya,

“Timjang-nim,untuk berjaga-jaga,silahkan bawa senjata atau bel darurat,” Ucapnya. Paman Sehyeon mengambil bel dan kemudian masuk.

“Ojisan! Aku ingin ikut!” Rengek Sehyeon. Walau sudah di larang,Sehyeon tetap keras kepala dan ingin ikut dengan pamannya. Alhasil,keduanya akhirnya pergi bersama.

Di sisi lain,saat Luhan tengah menyiapkan perlengkapannya,ia mendengar suara langkah kaki seseorang. Ia segera mengintip dan terkekeh saat tahu jika itu paman dan adik Sehun.

“Oh,ternyata dia punya ‘pelampung’ . Baiklah,mungkin mereka bisa kumanfaatkan,” Gumam Luhan. Ia kemudian bergerak keluar dari gudang dan berjalan memutar agar ia bisa berdiri di belakang. Dengan cepat,Luhan langsung menembakkan bius lewat pistol yang ada di sakunya kemudian menarik dua orang itu untuk diikat.

A few minutes later…

Sehyeon adalah yang pertama membuka matanya dan wajah yang pertama kali ia dapati adalah wajah Luhan yang saat ini duduk di jarak lebih dari satu meter di hadapannya.

“Sudah bangun ?” Tanya Luhan. Sehyeon membulatkan matanya. Ia ingin melarikan diri,tapi tangannya terikat.

“Waeyo ? Apa kau juga ingin seperti kakakmu ?” Tanya Luhan lagi. Kemudian,pamannya juga sadar.

“Oh,anda sudah sadar ? Apakah tidur anda nyenyak ?” Sapa Luhan. Sama seperti Sehyeon,pamannya berusaha melepaskan diri,tapi tangannya terikat kuat. Luhan berdiri dari posisinya kemudian berjongkok di depan paman Sehyeon. Ia menunjukkan wajah dinginnya dan menarik lakban yang menempel di mulut.

“Aku tidak ingin menyakiti siapapun,jadi,jawab pertanyaanku dengan baik. Katakan padaku,apa Sehun yang menyuruh kalian kemari ?” Tanya Luhan datar. Pamannya terlihat menahan emosi sambil melotot memandang Luhan yang masih saja datar.

“Tidak mau menjawab ? Apa kau mau gadis muda disampingmu ini aku tampar ?” Ancam Luhan. Masih tidak ingin menjawab, Luhan akhirnya berpindah pada Sehyeon dan mengangkat tangannya. Sehyeon menutup matanya dan..

“Hajima!” Akhirnya paman mulai membuka suaranya.

“Aku yang menemukan lokasi ini. Katakan padaku dimana Sehun!” Ucap paman. Luhan tertawa kecil kemudian berdiri menengok keluar.

“Aigoo…kenapa buru-buru sekali,hm ? Tapi,jika kau memang ingin melihatnya,sepertinya tidak masalah. Jamkkan gidaryeo,ne ?” Luhan kemudian melihat ponselnya dan membuka monitor CCTV. Dari sana,ia dapat melihat aksi Sehun.

“Wow,dia memang hebat. Hei,keponakanmu sudah menemukan maha karyaku. Sepertinya dia akan-“

Prangg!! Ketika mendengar suara kaca pecah,mata Luhan membulat dan ia langsung melihat handphonenya lagi.

“Sial! Kemari kalian berdua!” Ucap Luhan yang akhirnya menyeret paksa dua orang itu keluar dari gudang.

“Berdiri!” Keduanya akhirnya berdiri dan di saat itu juga,Luhan mendekapnya. Ia kemudian membawa Sehyeon dan pamannya ke jendela dimana ruangan berisi Sehun dan Gwijin berada.

“Kau! Teriaklah seakan-akan tidak terjadi apapun. Cepat!” Gertak Luhan. Mau tidak mau,karena ketakutan,Sehyeon akhirnya melakukannya.

“Oppa!”

Flashback Off

            Sehun menelan ludahnya susah payah. Ia bagai tercekik melihat ada orang lain yang Luhan libatkan dalam ‘permainan’ nya ini,dan dua orang itu adalah keluarganya sendiri.

“Aku mohon jangan lakukan apapun pada paman dan adikku,Luhan. Cukup aku dan Gwijin saja yang menjadi sasaranmu,lepaskan mereka!” Pinta Sehun lagi. Luhan memainkan mimik wajahnya,menunjukkan jika ia sudah jengah dengan perkataan Sehun.

“Igeo swibji anha,ji ? (Ini tidak mudah,kan ?). Sekarang,Gwijin atau keluargamu yang akan kau pilih,eoh ?” Ucap Luhan. Sehun membulatkan matanya lagi. Gwijin sudah Sehun anggap sebagian dari dirinya.

“Jadilah seorang pria,Oh Sehun!” Ucap Luhan tak sabaran. Ia mendorong tubuh paman Sehun kemudian menembaknya dan menyisakan Sehyeon yang kini kembali menjadi tawanannya lagi. Paman Sehun meringis kesakitan.

“Andwae!!” Sehun berteriak,tapi melihat Luhan kembali menodongkan pistol ke kepala Sehyeon,Sehun tidak bisa apa-apa.

“Lepaskan Gwijin…atau AKAN KUBUAT KAU MENYAKSIKAN ADIKMU MATI DI TANGANKU!!” Luhan berteriak dan membuat tangisan Sehyeon pecah. Sehun tidak ingin menyerahkan Gwijin,juga tidak ingin adiknya menjadi korban sia-sia dari kekejaman Luhan. Sehun,dengan emosi yang tidak tertahan akhirnya terpaksa melepaskan Gwijin. Ia meletakkan yeoja yang masih lemah itu di lantai sementara ia akhirnya berdiri.

“Jal haesseo,Sehun-ah. Ambil bocah ini!” Luhan kemudian mendorong Sehyeon dan dengan sigap,Sehun meraih adiknya dan langsung memeluknya. Sehun mendekat ke arah pamannya.

“Samcheon,gwenchaneuseyo ?” Tanya Sehun. Pamannya itu mengangguk. Luhan hanya terkekeh sambil kemudian menarik rambut Gwijin.

“Hm..Sudah hampir mati rupanya. Beruntung dia menyelamatkanmu…” Gumam Luhan. Ia kemudian menoleh ke arah Sehun dan kembali mengacungkan pistolnya.

DOR!! DOR!!

Dua peluru itu berhasil mmasuk tubuh Sehun dan adiknya. Keduanya sontak terjatuh ke lantai. Luhan tersenyum dingin,mengisyaratkan jika kemenangan di tangannya.

“Selanjutnya…” Luhan kembali bersiap menembakkan pelurunya pada Gwijin.

“Kau pikir aku bodoh membunuhmu tanpa membunuh Sehun ? Selamat tinggal,Geum Shi-“

“ANGKAT TANGAN!!” Kalimatnya terpotong. Suara polisi membuat Luhan berbalik dan menjatuhkan senjatanya. Ia segera mengangkat tangannya.

“Tendang senjata itu kemari!” Pinta polisi itu sambil tetap menodongkan senjatanya pada Luhan. Luhan menurunkan tangannya kemudian merogoh sakunya. Ia tersenyum sembari menekan sesuatu di tombolnya dan..

BOOM!! Bunyi ledakan dari ruang tengah terdengar. Api dengan cepat merambat karena perabot kayu dan juga spirtus yang sebelumnya Luhan tebar. Ruangan yang mereka diami juga ikut terbakar. Di kondisi kacau seperti ini,sekali lagi Luhan mencoba melarikan diri.

“Tersangka mencoba melarikan diri,tersangka melarikan diri!” Ucap polisi itu memberi kabar pada rekannya. Percuma,Luhan sudah tidak bisa kabur lagi. Rumah Gwijin sudah di kepung dengan polisi.

“Angkat tangan!” Ucap polisi lain. Luhan terkejut dan terpaksa mengangkat tangannya lagi. Ia langsung di borgol dan dibawa ke dalam mobil polisi. Sementara itu,polisi serta Gwijin,Sehyeon,Sehun,dan pamannya yang masih terjebak di dalam akhirnya di evakuasi dan mendapatkan penanganan medis secepat mungkin. Keempatnya di larikan ke Unit Gawat Darurat,terutama Gwijin yang benar-benar berada di ambang kematian. Sementara itu,cahaya terakhir yang Sehun lihat adalah cahaya lampu dari meja operasi. Setelah di suntikkan bius,mata Sehun tertutup dan operasi pengeluaran peluru dari dalam tubuhnya mulai di lakukan.

***

19 Days Later…

Setelah berhasil lolos dari komanya selama dua hari,menghadapi masa pemulihan selama seminggu,dan terapi selama tiga hari,akhirnya Sehun dapat menjalankan harinya seperti biasa. Tidak ada yang spesial memang,tapi ada beberapa hal yang berubah. Luhan yang dulu duduk di depannya,sekarang sudah tidak ada lagi. Untuk menjaga nama baiknya sendiri,Luhan membuat surat keterangan berhenti sekolah dengan alasan yang tentu berbeda dari fakta yang ada. Seluruh murid tentu kebingungan dan bertanya pada Sehun,tapi seperti biasa,Sehun harus menyembunyikan kebenaran jika tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Satu lagi. Gwijin. Kehadirannya tidak terlalu mencolok di kelas,jadi hanya beberapa murid saja yang terdengar menanyakan kabarnya.

“Sehun-ah,kenapa Luhan bisa berhenti sekolah ?” Tanya Kyungsoo, teman sekelasnya. Sekali lagi,Sehun menghela nafasnya sambil menurunkan buku yang ia baca.

“Luhan punya beberapa urusan dan dia mengambil keputusan untuk berhenti sekolah. Ia rasa,keputusan itu lebih baik.” Jawab Sehun. Kyungsoo menunjukkan ekspresi kecewanya dan kemudian tersenyum sembari mengangguk.

“Sampaikan salamku padanya,ne ? Katakan juga bahwa jika kembali nanti,jangan lupa bayar utangnya,hahaha! Geure,aku harus kembali ke bangkuku.” Ucanya,kemudian hengkang dari hadapan Sehun.

“Jika kau tahu,kau pasti menarik permintaanmu…” Gumam Sehun sambil kembali membaca.

KRRIIINGG!!! Bel untuk self-study berbunyi. Sehun menutup bukunya dan mengambil selembar kertas di lacinya. Hmm…ia tidak punya jadwal hari ini,jadi artinya ia bisa pulang. Setelah membereskan barang-barangnya,Sehun langsung keluar dan menaiki bus menuju rumah sakit. Ia masih harus menjenguk Gwijin yang kondisinya masih belum memunkinkan untuk pergi ke sekolah.

Sementara itu,Gwijin membuka matanya dan menemukan dirinya masih berada di rumah sakit. Di sampingnya,ada Sehyeon yang sedang tertidur. Masih lengkap dengan seragam sekolah sertas tas yang masih ada di punggungnya. Gwijin merubah posisinya kemudian mengelus pelan kepala Sehyeon. Kemudian,pintu kamarnya tergeser dan terlihat kepala Sehun menyembul.

“Bagaimana kabarmu ?” Tanya Sehun. Ia menoleh pada Sehyeon kemudian menggendong adiknya itu ke sofa.

“Dia pasti sangat lelah sampai tidak sadar jika kau gendong,”

“Nugu ? Sehyeon-i ?”

“Hm”

“Ah,dia memang selalu seperti itu. Dia bisa tidur dengan cepat dan sangat nyenyak. Kau belum menjawab pertanyaanku,” Ucap Sehun. Gwijin menaikkan alisnya kemudian segera teringat.

“Ah,chaesonghamnida. Jeoneun jigeum gwenchansseumnida,” Jawabnya kemudian. Sehun duduk di kursi yang tadi Sehyeon tempati dan mengambil apel dan pisau. Ia kemudian memotongnya dan memberinya pada Gwijin.

“Apa ibumu sudah tahu masalah ini ?” Tanya Gwijin. Sehun mengangguk sambil tetap memotong apel.

“Apa beliau marah padaku ?” Tanya Gwijin lagi. Sehun akhirnya berhenti dan menaruh pisau yang ia gunakan kembali ke tempatnya.

“Tidak. Ibuku mengerti kau juga korban disini,” Jawab Sehun. Di sofa,Sehyeon terbangun.

“Oh,Oppa!” Serunya kemudian berdiri dan menarik kursi lain untuk duduk di sebalah kakaknya.

“Eonni,eomma mengatakan ia berterima kasih padamu,” Ucap Sehyeon.

“Jinjjayo ? Untuk apa ?”

“Karena menyelamatkanku dulu dan menjagaku saat sakit.” Jawabnya. Gwijin mengangguk kemudian kembali diam.

“Apa kau sudah tahu tentang rumahmu ?” Tanya Sehun.

“Ne,algesseumnida. Terbakar habis,kan ?” Sehun melongo sembari melempar tatapan herannya.

“Gwenchanayo,setidaknya surat-surat pentingnya sudah ‘kuamankan jauh-jauh hari. Lagipula,rumah itu sudah tua,” Jawab Gwijin. Sehun sontak membulatkan matanya,bersamaan dengan adiknya.

“Apa yang barusan itu reaksimu ?” Tanya Sehun.

“Ne,apa ada yang salah ?”

“Woah…Eonni,aku rasa eonni benar-benar terlalu tenang untuk kadar seseorang yang tahu rumahnya terbakar.” Tutur Sehyeon. Ia benar-benar kaget.

“Ah,aku hampir lupa. Kau berbicara dengan pamanku kemarin ?” Tanya Sehun.

“Ne. Tenang saja,dia tidak akan membongkar identitas kita. Sebagai balasan,mereka memberi kita lencana nasional. Mereka berhutang budi pada kita,” Jawab Gwijin. Sehun mengangguk kecil kemudian memberikan potongan apel lagi pada Gwijin.

“Eonni,apa eonni mau tinggal di rumah bersama kami ?”

“Mw-Uhuk!” Gwijin tersedak,sementara Sehun melempar death-glare pada adiknya.

“Waeyo ? Rumah eonni terbakar,kan ? Lagipula,eomma juga setuju. Oppa juga setuju,” Jawab Sehyeon lagi. Sehun sekali lagi menatap adiknya dengan ekspresi kesalnya sambil berdecak pelan. Bukannya apa,ia sudah mengatakan pada adiknya itu untuk tetap merahasiakan jika dirinya setuju Gwijin tinggal di rumah,tapi dengan mudahnya Sehyeon membawa namanya.

“Ah,gomen,onii-chan…” Ucap Sehyeon yang kemudian tersenyum untuk meredakan rasa kesal kakaknya.

“Kamshahamnida,Sehun-ssi. Aku berhutang banyak pada keluargamu,tapi kali ini aku rasa akan lebih baik jika aku tidak menerimanya,” Ujar Gwijin. Raut dua bersaudara itu berubah. Sedikit ada kekecewaan,terutama Sehun. Selain kecewa,raut khawatir lebih terlihat disana.

“Gwenchanasseumnida. Lagipula,Luhan juga sudah di tahan,kan ? Aku belajar banyak dari orang itu,terutama untuk tidak lengah” Ucap Gwijin. Sehun terkekeh pelan sembari mengangguk. “Cari yang dekat dari rumahku,arasseo ? Kalau ada apa-apa,kau bisa ke rumahku untuk minta tolong,” Ucapnya. Gwijin mengiyakan dan segera memasukkan potongan apel ke mulut Sehun agar namja itu berhenti bicara.

***

Musim dingin sudah hampir berakhir. Begitu juga dengan ujian kelulusan yang selesai hari ini. Untuk merayakannya,beberapa siswa ada yang pergi makan bersama,bermain di Lotte World,shopping,bernyanyi di norae-bang (karaoke),atau langsung pulang dan tidur. Di sisi lain,terlihat Sehun dan Gwijin yang duduk di perpustakaan sambil menatap jendela besar. Mereka bukan bagian dari siswa tadi yang merayakannya dengan cara-cara di atas. Mereka lebih suka kesunyian setelah perang otak.

“Sudah punya tujuan untuk kuliahmu ?” Tanya Sehun memecah keheningan. Tanpa menjawab apapun,Gwijin merogoh sesuatu di saku almamaternya kemudian mengeluarkan sebuah amplop. Ia memberikannya pada Sehun.

“Aku di terima di salah satu universitas di London,” Ucap Gwijin. Sehun yang membaca itu kemudian kembali memasukkan kertas keterangan itu kembali pada amplopnya.

“ Jadi,kapan kau berangkat ?” Tanya Sehun.

“Tiga hari lagi. Aku minta maaf karena tidak mengatakannya padamu,” Jawab Gwijin. Sehun terkekeh pelan kemudian membuang pandangannya pada pemandangan di luar.

“Omedetto,Gwijin-ah…” Ucapnya memberi selamat. Sehun menghela nafasnya kemudian berdiri.“Boleh aku tanya sesuatu ?” Gwijin mengangguk.

“Hmm…Anggap ini adalah hadiah perpisahan darimu untukku,” Timpal Sehun lagi. Gwijin ikut berdiri sambil meletakkan buku yang ia baca kembali ke raknya.

“Memangnya kau ingin apa,hm ?” Tanya Gwijin.

“Apakah kau mau…menjadi pasanganku saat prom nanti ?” Tanya Sehun. Sontak,Gwijin mengerutkan keningnya. Menunjukkan raut penolakan yang bisa Sehun baca bahkan sebelum sepatah kata keluar dari mulut Gwijin.

“Tidak mau juga tidak papa,” Ucap Sehun cepat-cepat. Gwijin menghela nafasnya kemudian melangkah pergi meninggalkan Sehun. Dalam hati,sebenarnya Sehun sudah tahu Gwijin pasti menolak tawarannya mentah-mentah.

Gwijin menghentikan langkahnya.

“Sehun-ssi!” Sahutnya. Ia berbalik dan menatap Sehun tajam,

“Pastikan kau tidak terlambat.” Tambah Gwijin yang kemudian kembali berjalan keluar perpustakaan. Sehun melongo heran sendirian.

“Eh ? Apa barusan dia menerima tawaranku ?” Tanya Sehun pada dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian,Sehun tersenyum sendiri sembari mengambil tasnya dan keluar dari perpustakaan.

***

Prom Night Day.

Sehun datang ke sekolah bersama Chanyeol yang mengendarai mobil. Ia nampak tampan dengan gaya rambut baru serta stelan jas yang menjadi dress code acara malam ini. Chanyeol membawa Eunji menjadi pasangannya dan keduanya langsung masuk menuju auditorium. Sementara itu,Sehun terlihat berjalan melewati auditorium. Ia lebih dulu melangkah ke kelas. Pesan terakhir yang ia terima dari Gwijin,yeoja itu ingin agar bertemu dengannya di kelas. Sehun kemudian menggeser pintu kelasnya dan menemukan Gwijin yang saat ini duduk di bangkunya.

“Shin Jin-ah ?” Gwijin berbalik dan langsung membuat Sehun melongo. Bu-bukan karena Sehun melihat hantu seperti di film-film. Tidak. Ia baru saja melihat seseorang yang berbeda.

“Isanghaeyo ? (Apa terlihat aneh ?)” Tanya Gwijin mengarah pada penampilannya malam ini. Sehun menggeleng pelan.

“K-kau terlihat berbeda…” Jawab Sehun. Itu saja yang bisa ia katakan.

“Hajimaseyo. Jika kau tetap melihatku seperti itu,aku akan pulang!” Ancam Gwijin. Sehun terkekeh pelan,kemudian mengajak Gwijin untuk keluar dari kelas. Sepanjang perjalanan dari ruang kelas menuju auditorium,Sehun terus bertanya pada dirinya sendiri apakah yang di sebalahnya saat ini seorang Geum Shin Jin atau bukan.

Sehun membuka pintu auditorium dan semua mata langsung tertuju pada mereka berdua. Sontak,semuanya terpana melihat sosok di samping Sehun. Yoona berjalan mendekati Sehun sembari membawa minumannya,

“Yokshi,Oh Sehun! Kau terliha tampan hari ini. Siapa dia ? Pacar barumu,ya ?” Goda Yoona. Sehun tertawa pelan,

“Kau akan terkejut jika tahu siapa dia” Jawab Sehun.

“Eii…Nugu ya ?” Tanya Yoona. Sehun melirik pada Gwijin terlebih dahulu.

“Dia Geum Shin Jin,” Ucap Sehun. Yoona menaikkan alisnya,kemudian menatap Sehun tak percaya.

“Ya! Jangnanjima (Jangan bercanda)! Tidakkah itu terlalu bagus utuk sebuah kebohongan dari orang tampan sepertimu ?” Ucap Yoona. Ia masih percaya-tidak percaya dengan sosok yeoja di hadapannya.

“Jinjjaro. Mana mungkin aku berbohong.” Sehun kemudian beranjak dan memilih untuk mengajak Gwijin mengambil minuman sementara Yoona masih kebingungan.

“Heol! Daebak! Apa yang membuatnya bisa berubah drastis seperti itu ?” Seru Yoona yang kemudian berbaur dengan temannya kembali.

“Sehun-ssi..” Gwijin bersuara.

“Waeyo ?”

“Bisakah kita pulang lebih cepat ? Aku mulai merasa tidak nyaman dengan semua pandangan orang padaku,” Ucap Gwijin. Sehun meletakkan minumannya di meja.

“Mereka seperti itu karena kau nampak cantik hari ini. Bahkan tidak ada yang sadar kau Geum Shin Jin. Tahan saja,ne ? Kau nampak hebat,kok. Atau begini saja,setelah band sekolah tampil,kita akan pulang,ne ?” Gwijin mengangguk setuju dan mulai kembali menikmati acara yang sebenarnya tidak ia nikmati ini.

***

Sesuai janji Sehun,setelah band sekolah selesai dengan penampilan mereka yang menakjubkan,Gwijin akhirnya bisa keluar dari auditorium. Bersama Sehun,ia kemudian menunggu di luar untuk menaiki taksi. Sehun sibuk dengan ponselnya,sementara Gwijin sibuk dengan melihat pemandangan Seoul di malam hari.

“Shin Jin-ah!” Gwijin berbalik.

“Ne ? Museun irisseoyo ?” Tanyanya.

“ Apa kau mau berfoto ?” Tanya Sehun. Dengan cepat,Gwijin menggeleng.

“Ayolah…Anggap saja ini yang paling terakhir,ne ? Besok kau sudah berangkat,kan ? Mari buat kenangan yang bagus” Ucap Sehun. Mendengar perkataan Sehun,Gwijin akhirnya menyerah. Lagipula,ini hanya foto. Sehun tersenyum dan kemudian meminta agar supir taksi tadi mengantarnya ke salah satu foto studio yang ia kenal. Setelah sampai,Sehun langsung mengajak Gwijin masuk.

“Selamat datang!” Sapa perempuan yang menjaga di foto studio tersebut. Sehun dan Gwijin kompak membalas sapaan itu.

“Untuk berapa orang ?”

“Dua.” Jawab Sehun. Ia dan Gwijin kemudian diarahkan ke sebuah ruangan dimana nantinya akan mereka tempati untuk berfoto.

“Nona,bisa mendekat sedikit ? Jaraknya terlalu jauh…” Ucap fotografer sembari mengarahkan posisi Gwijin.

“Seperti ini ?”

“Tidak,lebih dekat lagi…” Gwijin kembali berjalan lebih dekat ke Sehun. Namja itu terkekeh pelan sembari mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

“Yaksok haja (Ayo berjanji)!” Ucap Sehun sambil mengacungkan kelingkingnya. Gwijin yang tidak mengerti kemudian ikut mengacungkan kelingkingnya dan mengeratkannya pada kelingking Sehun.

“Letakkan kalungnya seperti ini,” Tambah Sehun. Fotografer mulai kembali mengarahkan.

“Nah,senyum yang bagus. Nona,cobalah sedikit lebih cerah,ne ? Tersenyumlah yang cantik. Baiklah. Hana,dul,set!” Sehun langsung menaruh tangannya di pundak Gwijin dan menghasilkan satu foto yang bagus. Bahkan fotografer tadi tersenyum senang walaupun Gwijin tidak tersenyum terlalu cerah sesuai harapannya.

Setelah foto studio,Sehun mengantar Gwijin pulang. Ia kini tinggal di sebuah apartement kecil yang sederhana,tapi cukup nyaman dan bersih. Gwijin sempat tinggal di rumah Sehun,tapi hanya tiga hari karena ia merasa tidak enak pada ibu Sehun.

“Kamshahamnida,Sehun-ssi.” Ucap Gwijin sambil membungkuk.

“Aniyo,seharusnya aku yang berterima kasih. Juga,maaf jika yang ‘kuminta membuatmu tidak nyaman” Balas Sehun. Gwijin kemudian merogoh saku dressnya dan mengeluarkan kalung yang mereka pakai berfoto tadi.

“Ah,itu untukmu. Aku tidak tahu apa kau akan suka,tapi anggap saja itu hadiah dariku,” Jawab Sehun. Sekali lagi,Gwijin berterima kasih.

“Aku pamit dulu,ne ? Pagi nanti akan kuantar ke bandara.” Sehun berpamitan. Setelah itu,Gwijin masuk ke dalam apartementnya dan mulai menyibukkan diri dengan mengepak barang-barangnya. Tidak banyak,tapi sehabis ini,ia perlu melakukan sesuatu. Gwijin pergi ke depan kaca dan menatap kalung pemberian Sehun tadi. Ia kemudian memakainya dan memandang sebentar di kaca.

“Apakah ini terlihat bagus ?” Gumam Gwijin. Ia hanya termenung sebentar,kemudian kembali mengurusi barangnya.

***

07.45 a.m- Incheon International Airport.

“Tidak ada yang ketinggalan ?” Tanya Sehun sambil membantu Gwijin mengeluarkan kopernya dari dalam mobil.

“Ne,Eobseumnida.” Jawab Gwijin. Sehun menghela nafas panjang kemudian berjalan masuk ke dalam bandara.

“Sebetulnya ibu dan Sehyeon ingin ikut,tapi sepupuku datang jadi mereka harus tinggal di rumah,” Ucap Sehun. Gwijin mengangguk kecil kemudian memegang gagang kopernya erat.

“Waeyo ?” Tanya Sehun. Gwijin menggeleng cepat. Sehun terkekeh kemudian melihat information board. Sudah hampir jadwalnya.

“Segeralah masuk! Kau harus check in sekarang…” Ucap Sehun. Gwijin mengangguk pelan kemudian memakai tasnya dengan nyaman.

“Ini untukmu.” Ucap Gwijin. Ia memberi Sehun sebuah surat.

“Hm ? Igeo mwoya ?” Tanya Sehun.

“Sesuatu yang bisa kau baca.” Jawab Gwijin. Sehun terkekeh pelan kemudian mengantongi surat tadi.

“Terima kasih untuk semuanya,Sehun-ssi.” Ucap Gwijin lagi. Setelah itu,ia menarik kopernya dan mulai masuk dalam ruang keberangkatan. Tak apalah,Sehun kini membiarkan partner kerjanya berangkat untuk pergi ke negara yang jauh. Sehun bisa percaya jika ia akan kembali suatu hari nanti. Dunia ini kecil. Ada banyak kesempatan untuk bertemu,dan Sehun berharap,ia bisa kembali bertemu Gwijin. Ada satu hal yang membuat Sehun senang. Ia melihat Gwijin memakai kalung pemberiannya. Kalung itu sederhana,hanya kalung emas putih dengan liontin berbentuk gembok kecil.

Kemudian,sesampainya di rumah,Sehun langsung membuka album fotonya. Ini berbeda dari album foto lain yang ia miliki. Apa yang membuatnya beda ? Isi dari album itu sendiri. Sehun membuka album foto itu dan tersenyum saat melihat satu foto disana.

“Babo! Ya! Berjanjilah agar kembali ke Seoul,ne ?” Ucap Sehun yang kemudian menutup album foto tersebut. Ia teringat akan surat Gwijin. Sehun merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan surat tadi kemudian membacanya.

 

Oh Sehun-ssi.

            Mungkin ini adalah surat pertama dan terakhir yang akan kau terima dariku. Aku biasanya tidak melakukan ini,kecuali untuk tujuan tertentu. Tidak terasa,kita telah menghabiskan banyak waktu bersama untuk sebuah kasus yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Selama komaku,aku mendapati diriku bermimpi aneh. Aku tidak tahu ini efek koma atau bukan tapi yang jelasnya,ini menjelaskan sesuatu. Sehun-ssi,seseorang pernah bertanya padaku tentang makna orang-orang yang meninggal. Aku menjawabnya sebuah cahaya. Mengapa ? karena pada saat kau meninggal,kau tidak akan langsung menuju tempat yang gelap. Akan ada cahaya yang akan menuntunmu sehingga kau dapat hidup di dimensi yang baru. Aku tidak tahu cahaya itu apa namanya,jadi aku menyebutnya Light Of Death. Cahaya dari kematian. Suatu hari nanti,jika dunia masih mengizinkanku,aku akan kembali,jadi tolong sambut aku dengan tangan terbuka,seperti bagaimana cahaya itu menyambut orang-orang tadi dan menuntunnya ke tempatnya. Juga seperti bagaimana kau yang datang di saat kematianku,kemudian membawaku kembali ke tempat yang seharusnya,yaitu kehidupan yang kedua. Terima kasih karena telah menjadi cahayaku di saat harapanku untuk bernafas sangat tipis.

                                                                                                                      Geum Shin-Jin.

 

-THE END-

 

AUTHOR TALK

Pertama,author dengan sepenuh hati ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya pada reader setia L.O.D karena terlalu lama mem-posting cerita ini. Author punya banyak kendala dan tidak akan author sebutkan karena hal tersebut bukan untuk diumbar-umbar. Jujur,ada masa dimana author menghadapi stress dan perasaan tertekan karena kendala itu jadi lebih baik untuk menghindar sejenak. Author tidak bermaksud melakukan ini semua dan akhirnya,malam ini,author akhirnya mem-posting bagian akhirnya ini. Author tidak berharap banyak,tapi terima kasih sudah mencintai karya author sepenuh hati,memberikan feedback yang baik,dan menunggu dengan sabar. Comment kalian adalah alasan author untuk bisa senyum-senyum sendiri di kamar. Baiklah,mungkin ini saja. Sekali lagi,author minta maaf yang sebesar-besarnya atas tertundanya bagian akhir L.O.D…juga terima kasih karena masih mengingat,menunggu,dan membaca cerita ini walau overall author masih merasa kurang. Terima kasih banyak,ya ?

Sincerely,

Author-nim.

NB : Ada yang penasaran sama foto Gwijin dan Sehun ? Lihat ke bawah…

 

 

 

 

 

 

 

OH SEHUN & GEUM SHIN JIN^^

 

copy1

*감사합니다..^^*

Advertisements

5 responses to “Chapter 10 L.O.D Part B [END]

  1. Yaaaaaa gemes gemesss gemessssss ini ada lanjutannya lagi kah?? Kwkwkwkw jadi gregetan deh bacanya goodjob deh buat authornyaa jangan lupa upload karya yang lainn yaaaa

  2. Aaaaaaa kenapa ending.a seperti innnniiiiii, semoga ada sequel.a ya thorrr
    Aku msh mengharapkan sequel dri FF inii
    Kutunggu sequel.a ya thorrr
    Annyeong 😃😃

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s