[Freelance] Perfect or Pervert #2

perfect-or-pervert

Title :

Perfect or Pervert #2

Author :

Kusumaningpark99

Leght :

Chapter

Rating :

PG 17

Main Cast :

  • Oh Sehun
  • Kwon Yoora

Support Cast :

  • Han Jihye
  • Park Chanyeol
  • Kim Jongin
  • Byun Baekhyun
  • Other

Genre :

Romantic, School life, Comedy, Fluff etc

Disclaimer :

Story is mine, cast belong to owner except OC. Please dont’t be a plagiator.

My Blog :

https://Kusumaningpark99.wordpress.com

Chapter Sebelumnya :

Chapter 1

 

 

Recomendation Song :

  • EXO – Playboy Korean Or Chinesse Ver

Sumarry :

Lyric EXO Playboy by kryptonexoplanet

Nujaeitda sipuel ttaen sseul su eopseul jeongdoro naega ppajyetdago

(Ketika Kau pikir sudah terlambat, kau telah jatuh jatuh padaku, itu di luar kendalimu)

Angeurae?

(Bukan?)

Na hoching jeongnin dwaesseo ipmachum hanbeon That’s all

(aku sudah memutuskan saat aku memanggilmu, hanya satu ciuman, itu saja)

 

Don’t Be A Plagiator~~

Don’t Be A silent Readers~~

 

Happy Reading~~

 

—Perfect or Pervert #2—

 

—Author POV—

 

Sinar matahari mulai memasuki celah-celah korden tipis berwarna putih itu dengan perlahan. Berharap dapat mengusik tidur pulas seorang gadis yang saat ini masih bergumul dengan selimut tebal berwarna biru lautnya tanpa merasa terusik sama sekali. Wajahnya tenang, berbanding berbalik dengan raut wajah yang biasa ia tunjunkkan.

Ialah Kwon Yoora, gadis berlabel Stronger Girl di sekolahnya. Tidak ada yang berani mengganggunya, baik yeoja ataupun namja. Pemegang sabuk hitam Taekwondo, termasuk jajaran siswi berprestasi dibidang olahraga di sekolahnya. Bisa dibilang ia termasuk memiliki keluarga kaya raya.

Tubuh langsing dan tinggi, namun berwajah datar, dingin dan kasar tapi memiliki sisi manja yang hanya ditujukan pada orang-orang tertentu. Tidak segan-segan melakukan kekerasan jika merasa diganggu, memang ia masuk daftar siswi berprestasi namun sering kali keluar masuk BP karena ulah brutalnya. Itu membuat semua guru angkat tangan dalam memberi pelajaran untuk Yoora.

Berteman dengan laki-laki, memiliki teman perempuan yaitu Han Jihye yang merupakan pacar sepupu laki-lakinya yang bertelinga lebar bernama Park Chanyeol. Memiliki musuh bernama Oh Sehun lelaki yang dicap Yoora sebagai hama yang patut ia basmi. Memiliki segudang musuh wanita di sekolahnya maupun sekolah lain, menjadi musuh beberapa geng motor yang terkenal di Seoul. Namun tidak ada yang berani mendekat ataupun membully-nya.

Ayahnya seorang bussinesman yang super duper sibuk yang bahkan hanya pulang ke rumah 1 bulan sekali, mungkin. Bahkan ibunya juga sering ikut pergi perjalanan bisnis ayahnya yang menjadikannya jarang bertemu.

Ia di rumahnya hanya berteman dengan pembantu-pembantu, ia pun jarang sekali di rumah karena ia lebih sering pergi keluar dengan teman-temannya.

srekkkkkkkk…………….’ suara korden dibuka membangunkan acara tidur Yoora. Yoora menggeram tertahan, bahkan ia sudah mulai mengerutu dalam tidurnya sesekali kaki panjangnya menendang-nendang selimut tebalnya dengan brutal.

Nona, ayo bangun! Ini sudah siang, apa Nona tidak pergi ke sekolah?” suara halus itu memasuki telinga Yoora, seperti alunan lagu selamat paginya. Hal yang dilakukan Yoora adalah kembali memasuki alam mimpinya, tanpa mempedulikan kehadiran Jung ahjumma yang kini tersenyum lembut.

Jung ahjumma adalah pengasuh Yoora semenjak Yoora kecil, ia sudah Yoora anggap sebagai ibunya sendiri. Wanita itu dengan perlahan mendudukkan dirinya pada pinggiran ranjang Yoora, dengan gerakan lembut ia mengguncang bahu gadis 17 tahun itu. Merasakan sentuhan Jung ahjumma membuat Yoora sedikit-demi sedikit membuka matanya.

Terihat wajah dan rambutnya yang sama berantakannya, Jung ahjumma tersenyum maklum menanggapi keadaan mengenaskan Yoora. Yoora sedikit kesal karena acara tidurnya dibangunkan oleh Jung ahjumma, walau sebenarnya setiap haripun memang selalu begitu, kecuali hari minggu. Dengan gerakan malas Yoora mulai menyibak selimutnya dan menggantungkan kakinya di tepian tempat tidur. Masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, nyawanya bahkan belum terkumpul dengan sepenuhnya.

Pelahan-lahan mata Yoora mulai terbuka, seiring kepergian Jung Ahjumma yang berjalan keluar dari kamar Yoora. Ia melangkahkan kakinya masih dengan malas menuju kamar mandi.

Tak sampai 15 menit Yoora telah keluar dari kamarnya menuju arah ruang makan, lengkap dengan seragam yang terpasang dengan acak, tas yang bergelantungan dipunggung kanannya dan sepatu kets berwarna hitam. Satu persatu kakinya menuruni tangga panjang yang mengubungkan lantai kamarnya berada menuju ruang makan yang berdekatan dengan dapur.

Setelah sampai di ruang makan ia mendudukkan dirinya pada salah satu kursi kayu yang tampak antik dengan berbagai ukiran. Disana, di meja makan sudah tersedia berbagai jenis makanan. Ia melirik kearah makanan yang tersaji sempurna dengan tatapan malas. Malas karena selalu ia yang akan memakannya  dan menyisakan untuk dibuang kemudian. Malas juga karena pagi harinya selalu seperti ini. Ia ingin bercanda tawa bersama kedua orang tuanya, saling berbagi cerita dan yang lainnya. Tapi apa? Saat mereka pulang hanya akan memberinya ocehan-ocehan membosankan yang terdengar seperti alunan musik klasik. Bahkan saking membosankannya, ia sering tertidur tanpa peduli ocehan-ocehan itu.

Kembali ke kegiatan Yoora yang kini tengah menyantap sarapan paginya dengan datar. Ia tak berselera menyantap makanannya, matanya menatap sayu ke makanan yang tersaji rapi di atas meja makan.

“ehm, Ahjumma, apa Ahjumma tahu siapa yang memindahkanku ke ranjang tadi malam? Seingatku tadi malam aku tertidur di atas meja belajar.” Jung Ahjumma hanya tersenyum-senyum simpul, membuat Yoora terperangah.

“jangan bilang kalau Sehun yang melakukannya?” Jung Ahjumma mengangguk sebagai jawaban. Sudah kuduga, batin Yoora.

“aku sudah selesai ahjumma.” Sebaris kalimat itu ia ucapkan sebelum melangkahkan kakinya keluar dari istana megah tersebut.

“apakah hari ini aku harus naik bus?” ia bertanya pada dirinya sendiri saat beberapa detik lalu mengingat jika motornya dalam masa perbaikan. Mendecih kemudian, namun maniknya tertuju pada sebuah mobil yang di sampingnya berdiri seorang laki-laki memakai pakaian hitam, Kim Ahjussi sopir pribadi keluarga Kwon.

Laki-laki yang sudah dipekerjakan ayahnya sejak ia masih kecil hingga sekarang, yang umurnya tak beda jauh dari ayahnya. Sering menjadi teman bicara karena memang ia tak bisa berbagi cerita kepada orang tuanya. Ia berjalan ke arah Kim Ahjussi yang menyertai kedatangannya dengan bungkukan.

“Ahjussi akan mengantarku, kan?” wajahnya berbunga-bunga, untuk apalagi Ahjussi berdiri di sana jika bukan menanti kedatangannya.

“tidak Nona, Nyonya dan Tuan berpesan pada saya untuk tidak mengantar kemana pun.” Mulut Yoora membuka lebar, jadi Ayah dan Ibunya benar-benar menindak lanjuti aksi hukuman itu? Begitu teganyakah mereka melakukan semua ini pada anak semata wayangnya?.

“lalu aku naik apa ke sekolah? Naik Bus?” Kim Ahjussi menggeleng, netranya kemudian terarah ke luar gerbang. Yoora mengikuti arah pandang Kim Ahjussi, yang tertuju pada sosok laki-laki yang tengah bersender pada motor sport putihnya. Kenapa harus dia lagi?.

Nona berangkat bersama Tuan Muda Sehun.” Detik berikutnya Yoora melayangkan aksi protesnya dengan menatap tajam Kim Ahjussi yang malah terkekeh di tempatnya. Ya, Kim Ahjussi tahu kalau Yoora membenci Sehun.

Shireo!” ia menolak mentah-mentah, ia lebih baik naik bus dari pada harus diboncengi lagi oleh iblis mesum itu. Melangkah pasti menuju gerbang, namun mengabaikan sosok laki-laki yang tersenyum penuh arti di tempatnya. Melengos begitu saja, tanpa niat memberikan respon kehadiran laki-laki itu.

“mau kemana?” tangannya ditahan saat ia melewati laki-laki bernama Oh Sehun, yang menurutnya iblis itu. Ia tak berbalik, malas juga pagi-pagi begini disuguhi wajah sok keren laki-laki bermarga oh itu.

“BE-RANG-KAT-SE-KO-LAH.” Mengeja jawabannya dengan penuh penekanan, Sehun terkekeh lalu menarik tangan Yoora kuat hingga tubuh Yoora limbung ke arahnya.

“MWOYA??” seketika itu telinganya berdengung mendengar teriakan cetar membahana Kwon Yoora. Ia mengusap-usap telinganya yang melengkingkan suara abstrak. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin, prihatin akan betapa garangnya gadis di depannya ini. Yoora meronta kala tangannya masih dicekal dengan kuat oleh Sehun.

“kau berangkat bersamaku, dan jangan menolak!” ia menarik Yoora dan memposisikan tubuhnya sendiri menaiki motornya, menyerahkan helm berwarna hitam ke arah gadis yang masih betah diam di tempat.

“ini pakailah!”

“inikan helmku?”

“tuh kau tahu.”

“darimana kau mengambilnya?”

“apakah itu penting?”

“tentu saja penting.”

“Kwon Ahjumma yang memberikannya padaku.”

“cih, kenapa Eomma begitu percaya padamu? Ish dia benar-benar tertipu.” Mulutnya mendumal, menyumpahi siapapun dengan segala kutukannya. Tapi, ia dengan tidak ikhlasnya bersedia menaiki motor putih itu.

“pegangan!” kedua tangan Sehun menarik kedua tangan Yoora untuk memeluknya tanpa menghadap belakang. Yoora yang kaget sontak kepalanya yang terlapisi helm terantuk punggung lebar Sehun.

Sehun terkekeh, senang mungkin saja apalagi di pagi yang secerah ini ia bisa melihat dengan kidmat wajah cemberut nan masamYoora yang menurutnya menggemaskan. Senyum tak pernah luntur dari wajah tampannya, yang setia menemani hingga tibanya kedua insan itu di parkiran sekolah.

Yoora langsung turun dari motor itu lalu melepaskan helm yang melapisi kepalanya. Meletakkan helm itu di jok motor Sehun lalu beranjak menjauh tanpa satu kata pun terucap. Sehun geleng-geleng sambil terus menyuarakan, aigoo aigoo beberapa kali. Lantas ia juga mengikuti Yoora yang melangkah lebar dari belakang. Di setiap tikungan koridor sekolah tak hentinya ia mendapat sapaan dari gadis-gadis yang merupakan teman sebayanya, sunbae maupun hoobae.

Siapa sih yang tidak tergila-gila bahkan memuja seorang laki-laki seperti Oh Sehun itu?. Laki-laki yang masuk jajaran the most wanted boy di Seoul High School. Tapi tunggu dulu, ada kok satu gadis yang tidak pernah berpikiran seperti itu, dan gadis itu adalah Kwon Yoora. Gadis yang secara terang-terangan menolak pesona si Perfect Angel, begitu kata penggemarnya. Malaikat apanya? Ia bahkan mirip, bukannya mirip ia memang iblis, begitulah persepsi Yoora mengenai Oh Sehun.

Bahkan ia sering dibuat pusing karena setiap ia bertemu dengan laki-laki yang menurutnya iblis itu, ia selalu merasa ingin muntah, ya melihat betapa sok kerennya dia. Jadi bisa disimpulkan, bahwa Kwon Yoora adalah hater-nya Oh Sehun. Ia bahkan tak takut kala penggemar Sehun yang terang-terangan ingin mengulitinya, toh mereka malah lari kocar-kacir saat melihat wajah garang Yoora yang sebenarnya sangat cantik itu. Menjadi hiburan tersendiri baginya, saat melihat wajah emosi penggemar Sehun yang sayangnya tertahan oleh wajah takut mereka. Cih, dasar gadis-gadis labil!.

Ya, bahkan ia sering berurusan dengan para sunbae-sunbae wanita yang katanya penggemar fanatik Sehun. Mereka pikir Yoora takut walaupun mereka itu senior, heol memang seorang senior memiliki hak apa atas dirinya?. Kembali ke cerita awal, dimana Sehun masih setia menuntit Yoora dari belakang. Namun netranya menangkap hal yang janggal dari sosok gadis di depannya, yang akan menaiki tangga ke lantai dua. Dengan cekatan ia melangkah lebar, mensejajarkan posisinya dengan gadis itu.

“kau mau kemana?” kerah kemeja Yoora ditarik oleh Sehun hingga tubuhnya kembali mundur ke belakang. Ia menatap Sehun kesal, kenapa sih dia selalu berbuat seenaknya?.

“ish, aku mau ke atap. Lepaskan aku!” meronta-ronta dengan terus menarik tangan Sehun untuk melepaskan kerahnya, namun Sehun mencengkeramnya terlalu kuat hingga tidak ada perubahan yang terjadi.

“tidak, kau tidak boleh bolos lagi.” Telunjuk Sehun mengayun ke kanan ke kiri, tanda tidak setuju jika bolos adalah rencana Yoora selanjutnya.

“aku benar-benar tidak mau mendengar celotehan guru botak itu.”

“kau harus masuk kelas, TITIK.”

“aku tidak mau, TITIK.”

“YAK! YAK! LEPASKAN AKU!” tanpa mempedulikan teriakan Yoora, Sehun terus menarik tangannya membawanya ke arah kelas mereka berada.

Di sepanjang perjalanan mereka menjadi aksi tontonan penghuni SHS, bagaimana tidak? Si Perfect Angel sedang menggandeng, atau lebih tepatnya menyeret si Stronger Girl. Huhu, ada tontonan gratis pagi ini. Namun jangan salah mengartikan tatapan gadis-gadis di sepanjang koridor itu pula, seperti mau menelan Yoora hidup-hidup. Ya tentu saja mereka iri bahkan cemburu saat orang yang mereka gilai menggandeng gadis lain. Mereka iri, mereka juga ingin menjadi salah satu gadis beruntung yang bisa diseret Oh Sehun.

Seberuntung apa pun, tapi menurut Yoora penyeretan adalah tindak kriminal. Bagaimana tidak? Laki-laki di depannya ini menyeretnya layaknya sapi.

“cie, cie!” sorakan terdengar mengalun begitu menyebalkan di telinga Yoora, teriakan yang berasal dari teman-teman sekelasnya.

“ada apa ini? Kok kalian bisa berangkat bersama? Atau jangan-jangan-“ Jongin mendekati keduanya, Yoora dan Sehun.

“MINGGIR!!!” disibaknya tubuh Jongin hingga limbung ke belakang, setelah melepaskan cengkeraman Sehun pada pergelangan tangannya.

“huah, galak sekali gadis itu.” Sahutan kagum Jongin yang melihat aksi garang Yoora. Kepalanya geleng-geleng tak percaya akan tabiat gadis yang mirip preman pasar itu. Semua orang tahu siapa Kwon Yoora itu, gadis super duper jutek plus garanyanya minta ampun.

Memang sih, bisa dikatakan jika Yoora itu memiliki wajah yang cantik, tapi kelakukannya itu loh yang membuat para laki-laki enggan mendekatinya, alias takut. Sekali mendekat pasti Yoora akan memasang wajah tak bersahabatnya, namun harus dikatakan sekali lagi, itu tak mempan pada laki-laki bernama Oh Sehun. Ya dia bahkan malah senang menggodai Yoora walau terus menerus mendapatkan semprotan berwujud teriakan memekakan yang bisa menulikan telinga. Teman sekelas mereka hafal dengan kelakuan dua orang berbeda jenis itu, sudah jadi makanan sehari-hari ibaratnya.

Yang laki-laki tak mau putus asa menggoda, yang perempuan sangat marah jika digoda, perfect. Hanya saja, jika dilihat-lihat mereka sebenarnya juga cocok, Sehun yang tinggi bisa Yoora imbangi dengan tinggi semampainya. Wajah tampan Sehun bisa disandingkan dengan wajah cantik Yoora. Kalau soal otak, mungkin akan sedikit meleset, sebenarnya Yoora tak sebodoh yang orang-orang kira, hanya saja saking malasnya dia, semua nilainya hampir dibawah rata-rata kecuali Bahasa Inggris.

Dalam bidang olahraga, juga bisa dikatakan cocok, sama-sama pandai dalam bidang olahraga. Sama-sama badungnya, jika Sehun badung karena sering keluyuran malam bersama gadis-gadis, bedanya Yoora suka keluyuran balapan liar. Yoora sering kena BP karena sering membolos pelajaran, sering ditergur guru karena tidur saat pelajaran berlangsung, juga berkelahi dengan laki-laki maupun perempuan, tapi lebih sering berkelahi dengan laki-laki. Berpakaian paling simple jika dibandingkan dengan teman-teman gadis lainnya. Tidak suka make up, apalagi sok kemayu, bukan gayanya sama sekali. Aegyo? Jangan tanyakan soal itu, ia paling anti melakukan hal-hal berbau ‘sok imut’ menurutnya.

Pernah diskors gara-gara menghajar kakak kelasnya yang memiliki otak mesum yang 11 12 dengan Sehun hingga babak belur, karena kakak kelas itu mengintipnya saat di kamar mandi. Pernah berkelahi dengan senior wanita yang katanya haters-nya Yoora, meneror Yoora hingga menguncinya di kamar mandi.

Tapi bukan Kwon Yoora namanya jika tak bisa mengatasi itu semua. Tak peduli pada siapapun itu, ia tak pernah mengenal yang namanya takut. Apasih yang harus ditakutkan? Di dunia ini hanya khayalan, begitulah jawabannya. Ya sampai kapanpun persepsi itu akan terus menerus melekat pada sosok Kwon Yoora.

Yoora duduk di bangkunya dengan wajah super duper masam, ia tak segan-segan memberikan tatapan mematikannya pada siapa pun yang berani menatap ke arahnya. Semuanya bergidik, lalu kembali pada aktivitas masing-masing sebelum acara melihat kedatangan Sehun dan Yoora. Di sampingnya, seorang gadis dengan rambut dicemol di atas kepala melirik takut ke arah Yoora. Namanya Han Jihye, satu-satunya teman wanita yang dimiliki Yoora. Kebalikan dari Yoora, ia termasuk gadis feminim walau tak berdandan menor.

“Yoo, kau kenapa?” satu pertanyaan yang sedari tadi ia hanya pendam di hati, akhirnya terucap juga. Nadanya sedikit terbata, mungkin juga takut akan aura yang Yoora bawa di hari se-pagi ini.

“tidak apa-apa.” Jawaban yang diberikan hanyalah datar plus tidak ada reaksi yang berarti. Jihye akhirnya hanya mengangkat bahunya, tak mau lagi bertanya lebih jauh.

Bahu Yoora melorot, disusul hembusan nafasnya yang terdengar bosan dan lelah. Ia lantas menelungkupkan kepalanya pada meja. Nafas yang terhembus sudah sedikit teratur dari pada sebelumnya, ya ia merasa sangat ingin memakan manusia pagi ini. Sungguh, aku tak ingin mendengar ocehan membosankan guru botak itu, aku mau bolos, tapi bagaimana caranya jika iblis mesum itu terus mengawasiku?. Otaknya memutar, berpikir cara yang membuahkan hasil agar ia bisa bolos kali ini. Tapi apa? Otaknya sudah terlalu malas untuk berpikir, ia bahkan ingin mati saja rasanya.

Oh ayolah, ia sudah mati bosan sekarang, apalagi nanti waktu guru botak itu menerangkan rumus-rumus matematika di depan kelas sambil membawa garisan berbahan kayu, untuk memukul kepala siapa saja yang berani tertidur di kelasnya. Kepala Yoora menggeleng-geleng, tak mau jika mendapat pukulan kejam dari guru killer itu, lebih baikkan ia tidur di atap sambil merasakan angin semilir yang terasa sangat sejuk. Atau paling tidak mengerjai sunbae-sunbae kecentilan yang selalu ketakutan saat melihatnya. Itu bahkan lebih asyik, daripada harus mendegar nyanyian merdu berisi rumus-rumus yang sama sekali tak ia ketahui apa namanya yang selalu membuatnya mengantuk dan berakhir tertidur di atas meja.

KRIIIIIIIIIIIIIING’ dan benar saja, bel masuk yang menurut Yoora adalah bel kematian telah berbunyi. Mood Yoora benar-benar sudah hancur berkeping-keping, bahkan menjadi abu hingga tak tersisa wujudnya.

Oke, ia saking kesalnya menghentak-hentakkan kainya ke lantai hingga membuat Jihye mengernyit.

“kau benar tak apa-apa? “

“AKU TAK APA-APA Han Jihye!!!!!!!” saking kesalnya bahkan ia berteriak kencang sambil menatap Jihye yang ketakutan dengan garang.

“aku, hanya bertanya.” Kepala Jihye menunduk, sepertinya ia terlalu ikut campur.

“maafkan aku Jihye-a. Aku benar-benar dalam mood yang buruk.” Setelahnya Yoora yang merasa menyesal segera meminta maaf. Sebenarnya juga bukan keinginannya untuk membentak Jihye, tapi emosinya sedang tidak stabil.

Seorang laki-laki paruh baya, berkepala botak dan ditangan kanannya meneteng beberapa buku tebal. Dan dialah, manusia yang mulai beberapa menit lalu dikutuk Yoora. Memiliki ciri-ciri berkacamata yang melorot di hidung, mata tajamnya yang siap menguliti siapa saja yang berani berbuat onar serta kumisnya yang mulai memutih yang selalu bergerak-gerak. Yoora menghela nafas panjang disusul matanya sayu menatap seonggok ‘pak tua’ dia depan sana.

“pagi anak-anak, pelajaran akan segera dimulai, jadi saya harap kalian konsentrasi dan jangan sampai ada yang berbuat onar atau saya akan menghukum kalian.” Bunyi bacaan hukuman mati, yang membuat seisi kelas diam tak berkutik, kecuali Yoora yang menguap lebar di kursinya.

“Kwon Yoora, aku sudah memperingatkanmu, jadi-“

“ya, ya aku mengerti.” Dipotong ucapan itu dan membuat laki-laki tua itu menatap tajam Yoora yang melengos.

“kau, jika sampai kau mengulanginya, aku akan benar-benar menghukummu berat.” Ancaman yang tak sedikitpun membuat Yoora terpengaruh. Ia malah mendecih lalu menatap malas guru killer itu. Guru tersebut langsung geleng-geleng kepala, tak tahu apalagi yang bisa membuat siswi ter-badung satu-satunya itu jera.

Beberapa menit berlalu, pelajaran tersebut berjalan begitu hening, hanya suara laki-laki di depan kelas yang terdengar.

saem!” seruan yang mengalihkan setiap fokus penghuni kelas, yang langsung tertuju pada si-pemilik suara.

“Ya, Kwon Yoora, ada apa?”

“aku mau ke toilet.” Tak sedikitpun ada nada formalyang sopan, membuat seisi kelas meringis prihatin.

“bisakah kau berbicara yang lebih sopan? Aku ini gurumu.” Bukan jawaban itu yang diinginkan Yoora, sehingga ia dengan malas langsung berdiri dan mengabaikan peristiwa selanjutnya. Tanpa menanggapi sang guru, ia langsung beralu keluara kelas disusul decakan prihatin dari penghuni kelas, kecuali dua orang, Oh Sehun dan guru botak. Sehun menghela nafas, ia tahu apa yang ada dipikiran gadis itu. Sedangkan guru botak itu mencoba meredam emosinya yang hampir mencapai ubun-ubun kepala botaknya, tangannya berada di pinggangnya.

saem, saya ijin ke toilet.” Sehun berdiri dari duduknya, setelah menyuarakan kalimat minta ijin yang terdengar sopan, berbeda jauh dari kalimat yang diutarakan Yoora.

“ya, silahkan!” dan dijawab juga dengan nada tanpa amarah.

“semoga saja iblis itu tak mengikutiku.” Yoora menengok ke belakang sebelum melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga.

assa, dia benar-benar tidak mengikutiku. Katanya pintar, ternyata dia sungguh bod-“

DUUUKKK’ Yoora berbalik untuk kembali melanjutkan langkahnya menuju tangga, namun saat berbalik ia menabrak sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang tepat pada dada bidangnya.

“bod, apa? Lanjutkan!”

“doh.” Lanjutnya dengan tampang bodoh.

“hem, ya aku memang bodoh. Saking bodohnya, aku tak bisa berhenti memikirkan gadis yang super duper bodoh ini.” Pernyataan orang yang ditabrak Yoora membuat Yoora bersungut. Dasar tukang gombal! Dia pikir aku akan termakan gombalannya?.

“cih, minggirlah! Sebelum aku-“

“sebelum apa?”

“ish, sudahlah.” Yoora menggeser tubuhnya untuk melewati celah di samping tubuh laki-laki itu.

“LEPASKAN!”

“sudah kubilang, kau tak akan bisa bolos hari ini.”

“kau pikir kau siapa? Berani-beraninya kau mengaturku.”

“ikut aku Kwon Yoora!” tangan Sehun mencekal pergelangan tangan Yoora lalu menyeretnya.

“Oh Sehun, lepaskan!” Yoora kembali meronta-ronta, melepaskan cekalan Sehun yang mengerat.

“permisi saem.”

“ya, kalian kenapa kembali bersamaan?”

“begini saem, tadi setelah saya keluar dari toliet saya melihat yoora terantuk dinding. Dan sekarang kepalanya pening, ia bahkan lupa dimana kelasnya berada. Jadi saya membantunya.”

“oh begitu, lain kali kau harus lebih berhati-hati Yoora. Kalian silahkan duduk kembali!”

ne.”

“cih, pembohong ulung!”

“apa yang kau katakan?”
“mau tahu saja.”

Menit demi menit berlalu dengan begitu lama, tak hanya satu atau dua orang murid yang menguap karena saking tak bisa menahan kantuk yang semakin lama semakin tak bisa ditahan.

“jadi, anak-anak-“

“bangunkan Kwon Yoora, Han Jihye!”

“Yoora, Yoora-ya bangun!”

“apa sih?”

“KWON YOORA BANGUN! ATAU AKU AKAN MEMUKUL KEPALAMU!”

“cih.”

“KWON YOORA!”

“Apa? Apa kau pikir kau bisa memukulku?” tangan Yoora terangkat untuk menghentikan gerakan kayu yang hendak menghantam kepalanya.

“KAU SUNGGUH-“ mata lelaki paruh baya itu melotot.

KRIIIIIIIIIING’ bunyi bel istirahat menggema, seketika menghentikan aksi saling menatap tajam antara guru dan murid itu.

huh…” mulut Yoora mendecih remeh lalu menghentakkan kayu itu hingga lelaki paruh baya itu mundur beberapa langkah. Yoora berlalu, meninggalkan segala tatapan teman sekelasnya yang menatapnya tak percaya.

“anak itu, astaga.”

kreeeeeeeek’ pintu besi bergeser menimbulkan bunyi nyaring. Dari dalam keluarlah sosok gadis yang tengah berjalan dengan segala kekesalan di hatinya.

Menidurkan tubuhnya pada bagian atap yang terbuat dari semen, dingin saat kulitnya menyentuh material tersebut. Matahari telah bersinar terang bahkan terasa menyengat kulit, tapi tak sedikitpun menyurutkan keinginannya untuk tetap merebahkan tubuhnya di sana. Tangan kirinya ia gunakan untuk bantal, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menutup matanya. Apakah ia benar-benar tidur? Tentu saja jawabannya tidak, ia hanya ingin mendinginkan kepalanya yang terasa terbakar emosi itu.

Disisi lalin…………….

“Hun, malam ini ke Club yuk!” Sehun menoleh ke arah Jongin yang menaik-naikkan alisnya sambil tersenyum aneh. Membalasnya seperti menyesal, lalu membereskan kembali alat-alat tulisnya yang masih berserakan.

“tidak bisa Jongin-a, malam ini aku memberikan les privat Yoora.” Masih sibuk dengan alat-alat tulisnya tanpa mengindahkan kekecewaan Jongin.

“ya ampun Oh Sehun. Kau benar-benar menyukai Yoora?”Jongin menatap Sehun penasaran, sekaligus tak percaya saja.

“hem, seperti yang kau tahu.” Menjawab pertanyaan penasaran Jongin dengan acuh, yang membuat Jongin mendengus seketika.

aigoo, kau membuatku ngeri.” Tubuh Jongin bergidik, disusul tatapan tak mengerti Sehun yang tertuju padanya.

“kenapa memangnya?’

“ya, aku tahu Yoora memang cantik, tapi kelakuannya sungguh tak mencerminkan seorang wanita sama sekali. Dan juga, dia jauh dari tipe-tipe idealmu yang, ya begitulah.”

“kau tahu pepatah yang mengatakan bahwa cinta itu buta? Dan itulah yang terjadi padaku.”

“oke, oke. Jadi kau serius tidak mau ke Club? Hyunra merindukanmu, bahkan kemarin dia terus menerus menanyaiku tentangmu hingga membuatku pusing tujuh keliling.”

“hais, jalang itu lagi. Sudah, bilang padanya kalau aku bosan padanya.”

“kau bosan padanya? Pada wanita se-sexy itu? Bagaimana kalau dia buatku saja?” wajah tak percaya Jongin sangat kentara jika ia berpendapat jika Sehun bukanlah Sehun yang dikenalnya.

“terserahlah!” Sehun berdiri dari duduknya lalu melangkah menjauhi Jongin yang masih setia di tempatnya.

“kau mau kemana?” tidak merespon ucapan melainkan dengan gerakan tubuh, menggedikkan bahu.

“ckck, sahabatku yang satu itu sudah mulai berubah rupanya.”

kreeeeeeeeeeek’ pintu besi bergeser. Seorang laki-laki berjalan dengan penuh pesona, seperti biasa kedua tangannya ia masukkan pada saku celana seragamnya.

Menujukan langkahnya ke tempat dimana terdapa seorang gadis sedang berbaring. Sudah ia duga jika gadis itu berada di sana. Ia lantas tergerak untuk kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah gadis itu. Mendudukkan dirinya di samping, lalu kepalanya menoleh ke arah gadis yang tidak atau pura-pura tak menyadari kehadirannya.

“ternyata kau benar-benar di sini, sudah bisa ditebak.” Ucapnya sambil terkekeh lalu mengalihkan maniknya menjadi menatap hamparan luas langit biru di atas sana.

“jika kau mau menggangguku, lebih baik kau pergi Oh Sehun. Dan satu lagi, aku tidak ada keinginan untuk bertengkar denganmu.”

“siapa yang mau mengajakmu bertengkar? Udara disini sungguh sejuk, pantas saja kau betah membolos berjam-jam disini. Sepertinya aku harus mengikuti jejakmu membolos, aku juga mulai bosan dengan pelajaran.” Sehun melendeh, menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya di belakang. Memejamkan kelopak matanya, menghirup udara sejuk sebanyak-banyaknya.

ckck, untuk apa kau kesini? Aku dalam mood yang buruk, jadi jika kau tak mau ada sesuatu yang buruk terjadi padamu, lebih baik kau diam dan jangan menggangguku.”

“hem………baiklah.” setelah mengatakannya Sehun mulai membaringkan tubuhnya di samping gadis yang masih setia menutupi matanya dari sinar matahari yang menyengat. Gadis itu terlonjak, kala kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit laki-laki di sampingnya.

“uh, panas juga.”

“Kwon Yoora, tidak kah kau merasakan sesuatu yang mulai berubah dariku?”

“kau? Berubah? Omong kosong macam apa itu?”

“kenapa selama ini kau selalu mencoba untuk menghindar dariku?”

“apakah kau tidak mengetahui alasannya? Sudah jelas, bahwa aku membenci orang sepertimu Oh Sehun.”

“kenapa? Kenapa kau membenciku?”

“apakah rasa benci harus memiliki alasan?”

“tentu saja.”

“…………….”

“dulu kau tidak seperti ini, aku tidak pernah mendengar kata itu darimu.”

“itu dulu. Dulu dan sekarang adalah masa yang berbeda.”

karena kau, bukanlah Sehun yang dulu kukenal.

Sehun berjalan menuju sebuah pintu besar, pintu utama sebuah rumah mewah yang persisi terletak di sebelah kanan rumahnya yang tak kalah mewah. Di tangan kirinya terdapat sebuah buku paket tebal, yang entah buku jenis apa itu. Sedangkan tangan kanannya dimasukkan dalam saku celana. berjalan dengan penuh pesona, hingga ia telah berdiri tepat di pintu berwarna coklat yang terbuat dari kayu yang dari tampangnya memang tergolong mahal. Menekan bel yang berada tepat di samping kiri pintu hingga beberapa kali.

ceklek’ setelah beberapa kali dibunyikan, pintu besar itu terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya yang dikenalinya.

“ahjumma, Yoora dimana?” pertanyaan langsung ia suarakan seiring terbuka lebarnya pintu. Wanita yang dipanggilnya ahjumma itu menyisih, mempersilahkan untuk memasuki rumah mewah itu.

“ada di kamarnya, Tuan.” Jawabnya dengan suara yang mengalun lembut serta begitu formal.

“ah, ya terima kasih ahjumma.” Setelah mengucapkannya, ia lantas kembali merajut langkah menuju tempat menjadi tujuan utamanya kali ini. Melewati beberapa ruangan megah, dan tibalah ia pada lingkaran tangga panjang lalu menaiki anak tangga satu persatu.

Masih dengan pesonanya yang menguar di seluruh ruangan itu, wangi maskulin yang dapat tercium mampu meningkatkan kobaran api, alias meningkatnya hormon bagi siapa saja yang menciumnya. Langkah pastinya terus terajut hingga tangga terakhir baru saja terlewati oleh kaki panjangnya. Tanpa diperintah, kaki tersebut kembali melangkah menuju ruangan yang sudah ia hafal di luar kepalanya.

Disisi lain, seorang gadis keluar dari kamar mandi, tubuh polosnya masih dibungkus oleh handuk putih serta satu lagi handuk putih membungkus kepalanya. Ia berjalan menuju almari putih tulang berbahan kayu yang di dalamnya tersimpan pakaian-pakaiannya. Membuka salah satu dari dua pintunya, lalu tangannya mencari-cari pakaian yang ingin digunakannya. Sebuah kaos putih tanpa lengan menjadi pilihannya serta celana kain selutut berwarna hitam. Menaruhnya di kursi single yang ada di dekat almari, lalu tangannya beralih hendak menarik handuknya, namun…….

Sehun telah berdiri tepat di pintu kamar bercat putih, kamar milik gadis yang menjadi tujuannya.

tok……..tok……….’ kepalan tangannya menegtuk beberapa kali pintu kayu tersebut. Namun dahinya mengernyit, kenapa tidak ada respon sama sekali?.

“Kwon Yoora!”

“kenapa dia tidak ada jawaban? Atau jangan-janagn dia tertidur atau kabur?”  dengan segenap hati yang dimantapkan, setelah menerka-nerka apa saja kemungkinan yang sedang terjadi sebagai alasan tak adanya respon dari dalam kamar.

ceklek

“Kwon Yoo-“

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

“OH SEHUN KELUAR DARI KAMARKU!!!!!!!!!!!!!!!!” namun apa yang terjadi? Sehun membeku di tempatnya melihat pemandangan di depannya.

Namun Sehun tidaklah mengindahkan teriakan nyaring Yoora, kakinya malah mendekat dan semakin mendekati Yoora yang bernafas menggebu di tempatnya.

“mau apa kau, HA?” lagi-lagi Yoora meneriaki Sehun yang tak sedikitpun meresponnya.

Jarak yang tersisa sekitar 5 meter, namun jarak tersebut semakin menipis seiring lebih mendekatnya Sehun ke arah Yoora. Gigi Yoora gemeletuk, menghadapi Sehun yang tak sedikitpun memberikan reaksi padanya. Tatapan Sehun hanya tertuju pada satu fokus, yakni sosok Yoora yang berdiri waspada di tempatnya. Jarak yang sudah tak berarti, membuat Yoora menahan nafas seketika. Ia mencari sebuah cara untuk meloloskan diri dari iblis di depannya yang memasang raut wajah misterius yang sangat terlihat aneh di mata Yoora.

BRAAAAKKK’ tangan kiri Sehun menggebrak almari putih milik Yoora, dan yang lebih perlu dijelaskan adalah posisi Yoora yang terjepit diantara tubuh Sehun dan almari di belakangnya.

jika tahu akan begini, lebih baik aku ikut Jongin ke Club. Aku tidak bisa berjanji jika tak akan ada sesuatu yang terjadi setelah ini.

Mata Sehun menatap lurus pada manik hitam milik Yoora yang juga menatapnya, namun lain dengan tatapan Sehun yang tak terbaca, Yoora menatap Sehun waspada di tempatnya.

“ap-“ terhenti kala telunjuk kanan Sehun membungkam bibirnya.

Hanya matanya yang dapat bergerak-gerak mencari celah untuk tak lagi membalas tatapan Sehun. Sehun tak sedikitpun bersuara, tapi tatapannya mengartikan sebuah hasrat yang semakin meninggi saat ia semakin terfokus menggerayangi setiap celah manik hitam di hadapannya. Telunjuk Sehun yang semula bertengger di bibir Yoora, kini mulai bergerak menyentuh dan mengelus benda kenyal tersebut yang selalu menjadi candu untuknya. Lembut dan kenyal, membangkitkan lagi penyakit kecanduan yang menginginkan untuk merasakannya.

Yoora diam, wajahnya berpaling. Ia tak bisa menatap manik itu, ia takut akan menjilat ludahnya sendiri jika sampai ia memiliki perasaan terkutuk itu. Ada kalanya Yoora harus melawan, ia harus melarikan diri sebelum hal yang tidak diinginkannya terjadi. Ia tak mau terjadi hal yang lebih dari sebuah ciuman. Bahkan ia masih berpikir, bahwa ia masih tak merelakan bibir suci miliknya dinodai oleh bibir laknat Sehun. Ya laknat, karena bibir itu tak hanya menodai bibir miliknya, namun juga bibir gadis-gadis lain di luar sana.

Dan disisi bagian Sehun, ia selalu terpukau, terpukau oleh segala hal yang menyangkut gadis di depannya. Memang, Yoora adalah kebalikan dari tipe gadis yang selalu menjadi syarat idealnya. Yoora tak seperti mantan-mantan yang selama ini dikencaninya. Yoora bertolak belakang, bahkan sangat jauh dari mereka. Yoora tak secantik Suzy, mantan pacarnya yang kini menjadi artis serta model terkenal. Yoora tak memiliki sisi manis seperti Im Naeyeon, gadis manja dan berwajah imut yang merupakan mantannya. Yoora tak se-sexy Kim Hyuna maupun Kim Seolhyun, dua model majalah dewasa yang sangat terkenal itu. Yoora tak se-feminim YooA, hoobae-nya. Dan masih banyak lagi perbedaan antara Yoora dan mantan pacar Sehun yang sudah tak bisa dihitung lagi jumlahnya.

Yoora sama sekali tak seperti mereka, ia berbeda dan sangat kontras jika dibandingkan gadis-gadis itu.Namun satu, Yoora selalu bisa membuatnya tertarik dan semakin tertarik entah magnet apa yang ia miliki. Tangan Sehun menarik dagu lancip Yoora, memaksa Yooa untuk kembali menatapnya. Mata itu, mata yang entah kenapa selalu mengobarkan api, namun selalu terlihat meneduhkan di mata Sehun. Entah apa yang menyebabkan, handuk putih yang membungkus kepala Yoora terjatuh, hingga menampakkan rambut hitam sebahu Yoora yang basah. Demi apapun, Sehun berani bersumpah, bahwa ia tak bisa lagi untuk tak berteriak dalam hati. Hatinya bergejolak, perasaan macam apa yang hingga membuat tubuhnya panas-dingin seperti ini.

Jantungnya berdebar kencang, seiring itu juga tangannya merangkak menuju rambut basah Yoora yang menguarkan aroma harum mawar yang memabukkan. Beralih menelusuri setiap jengkal wajah tirus Yoora yang kelihatan bersinar di matanya. Mulai dari pipi, dagu dan terakhir adalah bibir tipis berwarna merah muda yang nampak menggoda itu. Wajahnya mendekat, mendekat ke arah bibir itu, lalu menempelkannya sekilas. Kembali menatap mata itu lagi sebelum mendekatkan wajahnya pada ceruk leher Yoora. Dihirupnya wangi yang menguar dari sana, membuat hasratnya kembali menggelora.

tidak, tidak bisa begini.’ Pikiran Yoora berkecamuk, antara hasrat dan akal sehat yang berperang merebutkan posisi teratas.

Tubuh Sehun mundur beberapa langkah setelah aksi dorong yang Yoora lakukan. Yoora tanpa berkata apa pun segera mengambil pakaiannya yang tersampir di kursi lalu hendak melangkah menjauhi Sehun. Sebelum sepenuhnya Yoora menjauh, Sehun telah lebih dulu menarik tangan Yoora dan mendorong tubuh kurus itu ke atas ranjang. Sungguh, jantung Yoora meronta-ronta di dalam sana. Tubuh Yoora terlentang di atas ranjang, disusul tubuh Sehun yang mendekat dan menindih tubuh yang hanya berbalut handuk itu.  Maniknya menghujam tajam manik Yoora yang mulai bergetar, kenapa saat-saat seperti ini hati dan tubuhnya tidak bisa diajak berkompromi?.

Tangan Sehun menyangga tubuhnya di sisi tubuh Yoora. Matanya tak sedikitpun teralihkan oleh apa pun, masih terfokus pada manik Yoora yang bersinar

“kenapa? Kenapa kau selalu mencoba untuk menggodaku? Kenapa?”

“kenapa kau selalu membuatku gila?” mata Sehun berkilat, bukan berkilat marah melainkan tak terima dengan segala hal yang Yoora punya, yang membuatnya selalu kehilangan akal sehatnya.

“aku bukanlah gadis yang bisa kau luluhkan dengan apa pun yang kau miliki. Aku bukan gadis seperti wanita-wanita jalang yang kau kencani. Kau benar-benar iblis jika sampai kau berani memperlakukanku seperti jalang-jalang itu. Kau bukan Oh Sehun yang dulu kukenal, kau berubah menjadi iblis.” Semua, semua yang selama ini menjadi rahasia hati Yoora akhirnya terucapkan. Nafasnya memburu, terdapat kilatan marah disana.

Mata mereka beradu, Sehun meluruhkan segala nafsu yang sedari tadi menggelutinya. Irisnya memejam seiring hatinya yang terhenyak akan pernyataan yang Yoora lontarkan. Berbeda dengan Sehun, Yoora telah mendorong tubuh Sehun menjauh dari tubuhnya lalu ia berjalan cepat ke kamar mandi, meninggalkan segala penyesalan di hati Sehun. Seiring hilangnya sosok Yoora, tubuh Sehun melemas. Perkataan Yoora bagaikan penyadar untuk dirinya. Ia sadar, betapa pengecutnya ia. Ia sadar betapa bajingannya ia, ia marah pada dirinya sendiri.

maafkan aku, untuk kesekian kalinya telah menyakitimu.’

—TBC—

 

Cek cek, masihkah ada readers yang berkenan membaca ff baru ini? Keke, setelah melihat respon readers, akhirnya aku memutuskan untuk meneruskan selingan PS ini. Yah, walaupun responnya tidak sebanyak PS, tapi aku masih memperhitungkan kalian yang udah mau baca dan komen. Dan sekalipun ff ini ber-cast Sehun dan Yoora, tapi insyaallah nggak akan sama ama PS kok. Bukan juga masa lalu Sehun-Yoora waktu di SHS. Ini nggak nyambung ama PS, dan gimana menurut kalian aja.

Nah, sekarang aku mau minta komentar kalian tentang ff baru ini. Biar tambah semangat aja nerusin, dan nggak membuat aku down seketika karena merasa nggak dihargain. Buat readers yang udah sempetin baca dan komen, aku ucapin banyak-banyak terima kasih.

—Thank You—

—SEE YOU LATER—

 

Advertisements

10 responses to “[Freelance] Perfect or Pervert #2

  1. wah.. karakter mereka lucu n ngegemesin_ author annyeong izin bca loncat part 2 y, part 1 nya ntar nyusul. kwkwk.. Btw Btw next nya ditgu banget! 😉

  2. kapan yaa sehun bisa ngrubah yoora.. yoora parah banget sama guru aja dia nggk ada sopan”nya hhhh tp aq suka karakter dia..
    gr” updatnya agak lama agak lupa sama ceritanya, jadi harus ngulang baca chp 1 lg 😀

  3. eh otak sehun emang mesum plus yadong yadongnya si 😉 😉 😉 😉 😉 ,hah knp si jenniy kyakx di mau balas dendam lg tuh sama yoora,hah gini nh y ga bca dr part awal sedikit miss bian authornim entar aku nyicil ,maka lupa lg dr part brp ngikutinnya.

  4. Bian Aythornim salah komen

    Wah sehun andwae……..Gila Cinta emang Buta Bwahahahaha Kasian Yoora tapi kenapa si yoora benci amat sama si sehun kan dia udah tampan,cerdas dan banyak fansnya kurang apa coba tuh Namja,si Yooranyakan juga cantik cuma udah cocok tuh knp ga diterima aja tuh Yoora kan sehun udah cinta mati sama kamu lg pula Ortu nya Yoora sendiri udh percaya amat sama si Sehun Bwahahahaha

    Bisa Kiamat Dunia kalau Sehun sama Yoora Bersatu untuk Jadi sepasang Kekasih

    Aku lupa authornim apakah udah komen Part 1 nya bian

  5. Deg deg an baca terakhir nya yaampunnnn ahhh gile kata2nya simple gk berat2 bngtt jd gmpang nge feel nyaa sumpah sehun pervert nya naujubilah gua baca nya aja deg deg an 😂😂 tp kepoo blm ada konflik nya jd pnsaran konflik yg kaya apaan yg bakal kakak tuang dlm cerita ini gua yakin dan berharap konflik nya bikin gregett ampe nguras emosi mantappp cpt update yaa kak !! Seruuu ceritanya romance comedy gmna gtuuu suka bngtt baca nya keep writing kak !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s