[Freelance] Peterpan (Chapter 2)

ir-req-peterpan-2-e1468312209563

Peterpan (Chapter 2)

 

Author : haneul88

Starring : Xi Luhan, Kim Hyejin (OC), Kim Joonmyun or Kim Suho

Genre : School life ||  Rating : T

Disclaimer :

The characters are belong to themselves. The OC and story are belong to me. Please don’t do copy and paste without my permission. This story is pure from my mind. If you become a silent reader I don’t hate you, but be better if you become a good reader.

 

Poster by IRISH @ Poster Channel

 

― 2016© Haneul’s Presents All Rights Reserved ―

 

 

Previous Chapter :

Chapter1

 

HAPPY READING!!! ^^

.o0o.

Summary :

Kim Hyejin, sahabat masa kecil Luhan secara tak terduga ia justru menyukai Luhan. Xi Luhan, karena tak mengetahui apapun tentang perasaan Hyejin pada akhirnya menyatakan perasaannya pada Park Minjin yang merupakan teman sekelasnya. Lantas bagaimana kisah cinta Hyejin yang seperti kisah cinta Tinkerbell ketika Peter bertemu Wendy?

.

.

.

.

.

Previous Chapter

Tidak.. tidak mungkin… kalimat itu yang beberapa kali Luhan ucapkan dalam hati. Kim Hyejin, gadis yang sebelum kejadian ini menerima telponnya, sekarang secara tak terduga tak sadarkan diri didepannya diakibatkan ulahnya. Selalu ada hal yang tidak baik di setiap kebahagiaan kita bukan?

.

.

.

Chapter 2

Alat itu terus saja mengeluarkan bunyi yang mengerikan untuk beberapa orang yang mendengarnya. Suasana tenang agak sedikit berisik karena alat pendeteksi detak jantung itu yang memenuhi ruangan. Ruangan serba putih dengan seorang gadis cantik yang terbaring di atas kasur tampak begitu pucat menandakan ia sedang tidak baik baik saja.

Sudah berhari hari gadis itu tetap saja dalam keadaan seperti itu. Dan ini adalah hari ke-20 ia menjalani harinya dengan tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit itu. Koma sebenarnya ungkapan yang lebih tepat. Yap, sudah 20 hari gadis itu tekapar tak sadarkan diri. Ia memang bernapas, tapi jiwanya melayang. Mungkin bisa di katakan ia setengah hidup.

Teori mengatakan ketika kita bernapas, kita belum tentu hidup. Tapi jika kita hidup sudah pasti kita bernapas. Bukankah begitu? Dan yang terjadi pada gadis dengan marga Kim di atas kasur itu adalah ungkapan yang pertama. Sejak tragedi kecelakaan beberapa pekan yang lalu, Hyejin langsung tak sadarkan diri. Luhan yang terlibat dibebaskan dari hukuman karena kecelakaan tersebut bukan sepenuhnya kesalahannnya. Tapi tetap saja Luhan beranggapan itu salahnya. Karena dari awal seandainya Luhan tidak menelpon Hyejin dalam keadaan menyetir, seandainya ia tetap fokus dan memperhatikan jalan ketika ia sedang menelpon Hyejin semuanya tak akan pernah terjadi. Luhan selalu saja membicarakan kata seandainya seandainya itu. Tapi bukankah semua itu sudah di atur? Memangnya kita bisa mengelak? Tentu tidak. Kejadian buruk seperti itu siapa yang akan menduga? Tidak ada kan? Jadi harusnya Luhan tidak perlu menyalahkan dirinya sendiri setiap hari. Bahkan ia sedikit banyak melupakan Minjin yg sekarang berstatus sebagai yeoja chingunya. Dan itu jujur membuat Minjin cemburu dan sakit hati pada Luhan. Akan tetapi ia berusaha keras untuk memakluminya.

***

Seperti biasa sepulang sekolah ia langsung menuju ke rumah sakit tempat Hyejin di rawat. Hari ini Minjin ada kegiatan di sekolah sehingga Luhan tak perlu mengantarnya pulang terlebih dahulu yang membuat Luhan semakin cepat menemui Hyejin. Masih saja sama seperti hari hari sebelumnya. Kedua kelopak mata Hyejin menyelimuti matanya seakan-akan menyembunyikan kedua mata indah Hyejin dari dunia. Nafasnya sudah teratur, begitu pula detak jantung Hyejin yang juga berangsur angsur teratur.

Awal kejadian setelah Luhan cukup sembuh ia sangat berlebihan menanggapi mengetahui bahwa detak jantung Hyejin benar benar labil tak teratur. Luhan patut bersyukur karena itu. Tidak semua yang buruk berakhir buruk juga bukan?

Luhan menghampiri ranjang Hyejin dan berdiri di pinggirnya. Ia menggenggam tangan Hyejin erat setengah meremasnya seakan menyalurkan emosi yang dipendamnya.

Tes

Setetes liquid bening meluncur dari mata Luhan. Ia menangis. Bukankah seorang laki laki tidak seharusnya menangis? Bukankah mereka harus kuat? Dahulu Luhan selalu sering mengatakan itu, tapi nyatanya? Hah! Lupakan masa lalu. Luhan benci fakta bahwa ia dulu selalu mengelu elukan kalimat itu.

Luhan mengelus pelan permukaan kulit tangan Hyejin.

“Hyejin-ah mau sampai kapan kau begini? Apakah mimpi dalam tidur pulasmu terlalu indah tuk dilewatkan?”

Tes

Cairan itu turun lagi. Sungguh ia tak sanggup. “Jin-ah mianhaejeongmal mianhae… aku tahu aku salah. Akan akan mengajukan diri di pengadilan asalkan kau mau bangun. Ku mohon… sampai kapan kau akan bengini?”

Tangis Luhan sudah tak dapat terbendung. Air matanya itu mengalir begitu saja dengan deras membasahi pipinya. Ia salah. Benar benar salah. Hal ini memang tak terduga, tapi kejadian seperti ini juga tak pernah ia bayangkan jika terjadi.

Luhan mengendurkan genggamannya pada tangan Hyejin. Pandangannya tak lepas pada kedua mata Hyejin yang tetap saja terpejam. –tak ada perubahan-

Deg

Apa Luhan salah lihat? Jari jari tangan Hyejin yang ia genggam sedikit bergerak. Hanya beberapa detik sampai semuanya berjalan seperti sebelumnya. Sontak Luhan langsung menoleh ke arah benda kotak yang merupakan alat pendeteksi detak jantung Hyejin. Kelegaan menghampirinya mengetahui fakta bahwa garis garis itu masih menggambar naik turun  menandakan bahwa detak jantung Hyejin masih normal.

***

Hyejin sedang bermimpi saat ini. Ia berada di sebuah tempat yang sangat indah. Dimana mana semua benda berwarna putih. Langit tak tampak di atas, hanya warna putih polos yang terlihat. Hyejin terus saja melangkahkan kakinya tanpa tau arah. Ia hanya mengikuti kata hatinya. Sampai ia melihat sungai panjang dengan aliran air yang tenang.

Hyejin menghampiri sungai itu. Airnya jernih. Hyejin bahkan tak pernah melihat air sejernih ini. Sayangnya apa yang ia sadari dari air sungai itu membuatnya bungkam dari kekagumannya sebelumnya. Air itu tampak biasa saja seperti tak ada yang mendatangi nya. Bayangan Hyejin tak tampak pada permukaan air itu.

Tidak mungkin.. Tidak… teriak Hyejin dalam hati. Tanpa pikir panjang langsung saja Hyejin cepat cepat meninggalkan sungai itu daripada ia makin gila memikirkan itu.

Tempat ini sepi. Hanya ada dirinya di tempat itu sejauh mata Hyejin memandang. Anehnya ketika ia mencoba untuk berputar balik kembali ke tempat ia secara tak sengaja datang, ia tak pernah menemukannya. Selalu ada tempat yang baru yang tak pernah ia ketahui.

Lama Hyejin berkeliling tapi ia tak merasa lelah sedikitpun. Sampai ketika di dekat jembatan, ia bertemu dengan seorang yang juga mengenakan jubah berwarna putih hampir mirip dengan miliknya sedang memunggunginya. Ia satu – satunya orang yang ia lihat di tempat ini. bahkan orang itu sedang sendirian dengan tak seorangpun bersamanya. Mungkin berkenalan dengannya tak salah pikir Hyejin.

Hyejin mendekatinya hingga kemudian jarak 1 meter dari sesosok itu ia berhenti. “Chogiyo, nuguseyo? Naneun Hyejin imnida” ucap Hyejin sopan disertai senyuman di akhir kalimatnya.

Sosok itu membalikkan tubuhnya. Ternyata dia seorang laki laki yang tampan dengan kulit wajahnya yang berwarna putih dengan pahatan sempurna disetiap lekuk wajahnya. Entah ia sedang bermimpi atau tidak saat ini ia mengakui bahwa pria ini tampak seperti pangeran pengeran tampan yang jujur ia tak mengerti berasal dari mana pikiran singkatnya ini.

Naneun Joonmyun imnida. Kim Joonmyun. Bangapta. Bagaimana kau bisa sampai disini?” ucap Joonmyun deangan keheranan bagaimana gadis itu bisa sampai disini.

Sungguh suara Joomyun terdengar begitu merdu di telinga Hyejin. Ayolahh… tak mungkiin Hyejin jatuh cinta pada pandangan pertama kan?

Molla. Aku tak tahu bagaimana aku bisa berada disini” ujar Hyejin pelan.

“Kau bisa tinggal beberapa waktu di tempat tinggalku mungkin. Kau mau?” Tawar Joonmyun.

“Baiklah. Terimakasih atas tumpangannya”

***

Hari ini Luhan mendapati pelajaran yang menyebalkan baginya. Sejarah. Ayolah.. Ia diharuskan  menghafal sejarah ketiga kerajaan Korea yang terbentuk pada 1Masehi lalu, kerajaan  Goguryeo, Silla dan Baekje. Minggu depan ia mendapatkan ujian mingguan tentang 3 kerajaan tersebut. –setidaknya Im Saem berbaik hati memberikan waktu untuk belajar-. Hal itu membuatnya pusing tujuh keliling. Ia lebih memilih berlari memutari lapangan sepak bola di sekolahnya sebanyak 10 kali daripada menghafalkan semua sejarah yang membinggungkan itu.

Huft! Mungkin beralasan sesekali tak apalah. Luhan mengangkat tangannya.

Saem, bolehkah aku izin untuk keruang kesehatan? Aku sedikit tak enak badan”

Yeah… setidaknya Im seosangnim begitu baik tak seperti Jung saem yang akan memborbardirnya dengan seribu pertanyaan karena tau jika alasan sebenarnya adalah untuk kabur.

Tapi sedikit banyak sebenarnya Luhan tak berbohong juga sih, bibirnya tampak pucat karena memang ia sedikit demam. Tapi Luhan menghiraukannya.

Setelah mendapat izin ia membuka pintu yang berada dibelakang kelas lalu membelok kearah kanan setelah keluar kelasnya. Lurus saja, tepat di pojok ruang kesehatan dapat ia temukan.

Sepi -sangat- ketika Luhan membukanya. Tak ada murid lain didalamnya. Bahkan petugas kesehatan tak tampak. Baiklah sepertinya Luhan bisa tidur dengan tenang. Meskipun sebelumnya ia tak merasa kantuk sedikitpun, entah mengapa melihat kasur empuk itu sekalipun lebarnya tak seberapa membuatnya mengantuk.

Luhan merebahkan tubuhnya. Ia mencoba untuk memejamkan matanya. Tapi nyatanya yang terjadi tak seperti keinginannya. Kantuknya hilang seketika. Matanya tak dapat di pejamkan. Luhan menatap sekeliling untuk menghilangkan bosan. Tatapannya jatuh pada almari kecil setinggi pinggangganya. Pikirannya berputar pada memori masa lalu.

Saat itu waktu istirahat secara tak sengaja telunjuk kiri Luhan tergores pisau akibat ulah Hyejin. Hyejin lalu membawanya ke ruang kesehatan dan bersikeras untuk mengobati luka Luhan. Luhan berkata tak apa tapi ia tetap saja memaksa. Bahkan petugas kesehatan yang menawarkan bantuanpun tak dihiraukan oleh Hyejin. Saat itu Hyejin mengobati luka luhan di dekat almari itu. Ketika Hyejin akan mengangkat kepalanya keluar dari almari kecil itu yang terjadi justru kepalanya menatap atap dalam almari itu. Luhan tertawa keras waktu itu karena ekspresi Hyejin yang cemberut lucu diakhiri Hyejin yang merajuk padanya.

Senyum kecil terpatri di bibir Luhan. Waktu berlalu begitu cepat ternyata. Ingatannya kembali kepada Hyejin yang terbaring di atas kasur rumah sakit. Kemarin Luhan tak sempat meyambangi Hyejin barang sesaat dikarenakan kondisi fisik tubuhnya yang sudah kelewat lelah.

Bagaimana keadaannya saat ini? Pikir Luhan. Tadi pagi Luhan juga tak sempat dan tak mungkin mempir ke tempat Hyejin sekalipun hanya sebentar. Pagi tadi Luhan bangun kesiangan yang membuatnya terlambat datang. Ya.. setidaknya tadi Luhan datang 1 menit dari waktu gerbang sekolahnya ditutup sehingga ia masih tetap dapat masuk sekolah.

***

Hyejin masih saja bermimpi. Mimpinya kali ini Ia tengah duduk-duduk di bangku taman di taman yang ada dalam mimpinya. Joonmyun yang mengajaknya. Beberapa hari terakhir ini ia tinggal di bangunan yang Jooonmyun sebut rumah -meskipun Hyejin masih ragu untuk mengganggapnya rumah- entah sampai berapa waktu lagi. Untuk informasi lebih lanjut, Hyejin baru tahu jika Joonmyun memiliki nama panggilan Suho. Ia berkata jika lebih suka dipanggil dengan nama empat huruf itu. Maka dari itu, mulai detik ketika Suho mengatakannya Hyejin selalu memanggil Joonmyun dengan nama Suho.

“Kau betah tinggal disini?” Suho membuka percakapan. Dari tadi mereka hanya berdiam diri berdua.

Uh? Kurasa iya. Udara disini sejuk. Aku suka burung burung itu. Mereka beterbangan dengan indah. Terkadang beberapa kupu – kupu bahkan terbang mengitariku. Kurasa mereka lucu.” Ucap Hyejin panjang lebar dengan raut muka menggemaskan.

Deg

Rasa itu datang lagi. Senyum Hyejin yang merekah ketika seeokor kelinci menghampirinya membuat jantung Suho berdetak begitu kencang. Darahnya berdesir dan kupu – kupu serasa beterbangan di perutnya yang menggelitik. Perasaan itu harusnya tak datang. Suho tahu ini salah, tapi ia tak dapat menahannya.

Suho masih menatap jalan didepannya dengan tatapan kosong dengan pikiran yang berkecamuk hingga Hyejin mengayunkan tangannya didepan muka Suho. Suho tersadar dari lamunanya dan menolehkan kepalanya menghadap Hyejin yang ada di sebelahnya.

“Kau melamun oppa” ucap Hyejin masih saja menatapi tiap inchi ciptaan Tuhan yang sempurna dimana tertanam pada wajah Suho. Suho hanya menyengir mengetahui fakta bahwa ia tertangkap basah sedang melamun. Hyejin yang melihat cengiran konyol Suho hanya geleng geleng.

“Apa kau punya keluarga oppa? Maaf, tapi rumahmu terasa sunyi” ucap Hyejin ragu takut menyinggung Suho.

Suho yang mengetahui ucapan Hyejin yang sedikit ragu itu hanya tersenyum tulus. “Tak apa.”  “Entahlah, aku tak pernah bertemu keluargaku semenjak saat itu. Aku membawa seorang gadis dengan beberapa luka sayatan ditubuhnya, tanpa kuduga ternyata gadis itu memiliki sayap putih yang indah di balik punggungnya. Keluargaku terlau percaya mitos bahwa jika kita bertemu dengan makhluk tersebut apalagi jika tinggal bersama satu persatu anggota keluarga itu akan celaka. Aku tak pernah percaya pada mitos yang membuatku menganggap itu bukan hal yang penting. Sayangnya aku terlalu egois tanpa memikirkan persetujuan anggota keluargaku yang lain. Mereka meninggalkanku. Ahh.. lupakanlah. Lagipula semuanya telah berlalu.” Suho mengakhiri cerita panjangnya. Matanya perih ketika mengingat cerita itu kembali. Lama sudah ia memendam kisah itu. Tapi entah mengapa ketika Hyejin yang bertanya ia seakan tak dapat menjawab jawaban yang lain. Semuanya mengalir begitu saja.

“Lalu Bagaimana dengan gadis itu? Sepertinya ia tak terlihat di rumahmu, apa ia baik baik saja?” Hyejin cukup penasaran dengan kisah yang Suho ceritakan baginya cerita itu lebih membuatnya penasaran daripada kisah dari mana ia datang.

Mengingat pemikiran itu membuat Hyejin termenung. Hyejin lupa ingatan sesungguhnya. Lupa bagaimana ia bisa sampai, bukan lupa keseluruhan. Hanya saja hati Hyejin berkeinginan tak mengingat apapun yang membuat Hyejin hanya ingat kisah hidupnya sejak ia bertemu dengan Suho di dekat jembatan kecil itu. Fakta sebenarnya kepala nya akan terasa sakit dan dadanya menjadi sesak ketika ia mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Hal itu membuat Hyejin lelah untuk terus mencoba mengingat. Toh hidupnya yang sekarang tak buruk juga, pikir Hyejin.

“Gadis itu pergi. Belum genap satu hari ia tinggal ia pergi. Ia tahu apa yang terjadi pada keluargaku. Karena sebelum ia pergi ia meninggalkan secarik kertas yang bertuliskan permintaan maafnya karena ia merusak keadaan. Jujur, bahkan aku tak pernah berpikir jika itu salahnya da…”

“Dan kau menyesal atas kepergianya?” Sahut Hyejin. Entah mengapa dadanya sesak mengetahui bahwa Suho mempunyai rasa pada gadis itu. Itu pemikiran singkat Hyejin yang menganggap bahwa hingga saat ini Suho masih menyukai gadis itu. Seperti de javu, Hyejin merasa pernah merasakan perasaan sakit ini sebelumnya. Perasaan yang membuatnya tersiksa dan pikirannya menjadi kosong.

TBC

 

 

Advertisements

One response to “[Freelance] Peterpan (Chapter 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s