DISTURBANCE #ONESHOT ~QueenX~

DISTURBANCE

 4

Author

QUEENX

 

 

Genre : HURT, FAMILY, SAD

 

Length : Oneshot

 

The Cast :

OH SEHUN

PARK JIMIN

KIM MINSEOK

OH HANI (OC)

KIM YOOJUNG (OC) a.k.a Hani’s Mother

 

Rating : PG 13

 

 

 

.

“Bagaimana jika kenangan itu menyakitkan? Apakah kau akan tetap menyimpannya di dalam ingatanmu?”

.

 


Seoul dilandai badai salju yang hebat, tempat-tempat yang biasanya ramai didatangi saat malam minggu tak seramai biasanya. Mungkin, bagi mereka yang normal dan masih ingin tetap hidup di cuaca yang dingin seperti ini, mereka akan memilih untuk berdiam diri di rumah, berkumpul bersama keluarga sambil menggunakan jaket tebal, minum cokelat panas dan saling berbagi selimut satu sama lain untuk menghangatkan badan mereka.

Namun hal itu tidak dilakukan oleh seorang pria bermarga Oh yang dengan santainya menembus salju yang menumpuk menutupi jalan setapak yang biasa ia lewati untuk pergi ke tempat faforitnya. Lebih tepatnya tempat untuk mengusir rasa sepi dalam hati dan hidupnya.

Padahal bisa saja ia mengunjungi tempat tersebut menggunakan mobilnya, namun ia lebih memilih untuk berjalan kaki. Entahlah, bahkan kini beanienya sudah dipenuhi beberapa butir salju yang bebas turun dari atas langit dan mencair di atas kepalanya. Ia pasti tak peduli kalau besok ia bisa saja terserang demam.

“Tuan.” Panggil seseorang yang seketika menghentikan langkah berat pria tersebut.

Mata pria bernama lengkap Oh Sehun itu kemudian ia tujukan ke arah sumber suara. Ada seorang gadis kecil dengan mantel berwarna kuning datang menghampirinya. Berdiri di bawah cahaya lampu jalanan, membuat hidung merah gadis kecil tersebut terlihat dengan jelas, bibirnya yang sedikit bergetar, dengan tubuh kecil dan rapuh itu memegang kantong berwarna hitam berukuran cukup besar, bisa saja kalau-kalau badai datang lagi, ia terbang terbawa angin.

Sehun menatapnya selama beberapa saat, ia sebenarnya malas untuk mengeluarkan sepatah katapun, ia paling benci diganggu saat ia sedang pergi sendiri. Dia selalu sendiri. Mungkin sudah terbiasa dengan kesendiriannya, jadi ia tak lagi memiliki rasa peduli dan ingin ditemani atau sekedar didekati oleh orang lain.

“Hari ini cuaca sangat dingin. Mengapa tuan keluar malam-malam begini? Gunakan sarung tangan ini untuk menghangatkan tangan tuan, karena sedang musim dingin harganya aku turunkan sedikit lebih murah dari biasanya. Kau mau membelinya?”

Sehun mengamati sarung tangan yang gadis kecil tersebut julurkan di hadapannya. Ia teringat akan sesuatu—

14 Years Ago @ Oh’s Family House

“Sehun-ah!”

“Apa?”

“Diluar sedang hujan lebat. Kau serius akan tetap pergi ke rumah Jimin?”

“Tentu saja. Ia sedang terserang flu. Dan satu-satunya keluarga yang ia miliki di Seoul hanya aku. Aku akan segera kembali setelah memastikan ia diperiksa oleh dokter dan meminum obatnya lalu tidur. Oke?”

“Besok, saja!”

“Ayolah Jung, mengapa jadi manja begini? Aku janji aku akan kembali secepatnya.”

“Baiklah, abaikan saja aku dan bayi yang ada di dalam kandunganku ini. Urusi saja Park Jiminmu itu. Kau harusnya menikahi pria itu saja, bukannya aku!”

“Jung-ah. Kumohon, kali ini saja. Lagipula Jimin selalu membantumu kan selama ini kalau tidak ada aku di rumah? Kau jangan egois begitu.”

“Baiklah, aku mengerti.”

“Ya sudah aku pergi du—”

“Tunggu dulu!”

“Apa lagi?”

“Kau ini! Kau pergi ke flat Jimin hanya menggunakan jaket tebal itu? Ini, gunakan juga sarung tangannya, bagaimana kalau kau sakit? Ini, pakai masker juga, kau bisa terkena flu dan batuk kalau—”

“Iya, iya…terima kasih sayang. Masuklah, minumlah minuman hangat dan pastikan Sehun kecilku dalam keadaan hangat di dalam sana. Oke?”

“Tuan? Kau jadi membelinya?” gadis kecil yang merasa diabaikan dan hanya diberi tatapan kosong oleh Sehun sejak beberapa menit yang lalu memutuskan berjinjit dan melambaikan tangannya di hadapan Sehun.

Sehun dengan segera menepis tangan gadis kecil itu dengan kasar, membuat kantong berisi sarung tangan yang dipegangnya terjatuh. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Sehun berlalu meninggalkan gadis kecil tersebut yang kini berjongkok memunguti sarung tangan dagangannya yang bahkan belum terjual satu bungkuspun sejak tadi.

#

Sehun meringkuk di dalam selimut tebalnya, kepalanya masih pening karena efek lima botol wine yang ia tenggak sampai habis untuk melepas rasa sakit di hati dan penat di hidupnya. Memang, semua rasa sakit yang ia rasakan akan menghilang dan membuatnya lupa saat sedang mabuk, namun jika kesadarannya sudah kembali, hal-hal menyakitkan itu kembali terulang, berputar kembali bermain di atas kepalanya.

Ia enggan untuk bangun meski ia sudah beberapa kali mendengar suara ketukan pintu yang sangat keras dari rekan kerjanya yang membagunkannya untuk pergi ke kantor.

“Cepatlah buka pintunya Oh Sehun! Kau pikir aku pengasuhmu setiap hari harus melakukan ini padamu? Menyiapkanmu sarapan, menyiapkan air untukmu mandi, sampai kapan kau akan menjadi CEO pemalas seperti ini!? Hoy! Oh Se—”

Pintu terbuka, tampak Sehun dengan penampilan berantakannya berdiri sambil memasang ekspresi datar pada pria bermarga Jung di hadapannya. Ia berjalan melewati pria di hadapannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

“Kau minum lagi, kan!? Semalam aku ke rumahmu dan kata bibi Yoon kau keluar di saat badai salju terjadi, kau gila, ya!? Bisakah sehari saja sepulang kerja kau istirahat di rumah?” pria bernama Kim Minseok itu masih tidak lelah dan tidak menyerah memberi ceramah pada Sehun padahal jelas-jelas apa yang ia katakan tidak pernah didengarkan oleh sahabatnya itu.

“Mau sampai kapan kau akan mabuk-mabukan seperti ini, huh? Perlu kuulang berapa kali? Jika kau memiliki masalah, kau punya aku sebagai tempat berbagi masalahmu, tetapi kau selalu menyimpannya sendiri, kau anggap aku ini apa? Sepuluh tahun kita saling mengenal apa menurutmu aku masih seperti orang asing di matamu? Aku lelah setiap hari mendengar keluhan bibi Yoon tentang kebiasaanmu pulang pagi buta dalam keadaan mabuk. Aku harus meninggalkan istri dan anak-anakku hanya untuk datang kemari memastikan kau baik-baik saja atau babak belur dipukuli preman bar karena selalu datang kesana dan membuat kekacauan.” Ceramahnya lagi.

Jangan mengira Sehun mendengar ceramahannya karena di dalam sana, ia memasang headshet dengan volume musik yang tinggi untuk menulikan gendang telinganya dari ocehan Minseok.

#

Minseok dan Sehun berjalan keluar rumah. Setidaknya hari ini matahari bersinar dengan cerah meski dinginnya sanggup membekukan tubuh manusia. Keduanya sudah masuk ke dalam mobil yang disetir oleh Minseok, harus ia yang menyetir, takut kalau mungkin otak Sehun masih dikendalikan oleh minuman keras dan bukannya membawa mereka ke kantor, tetapi malah mengantar mereka masuk ke dalam Unit Gawat Darurat.

TOK

TOK

TOK

Terdengar suara kaca mobil diketuk, Minseok yang terkejut langsung mengalihkan pandangannya ketika melihat seorang gadis kecil dengan seragam sekolah dasar yang dilapisi jaket tebal menunjukkan dua botol susu pisang sambil tersenyum.

Minseok menurunkan kaca mobilnya, “Hai, selamat pagi.”

“Selamat pagi, tuan. Mau membeli susu pisang?”

“Tentu saja, aku ambil dua ya.”

“Baik tuan.”

“Hey, tangkap ini.” Setelah menerima susu tersebut dari tangan gadis kecil itu, Minseok langsung melempar satu botol lagi ke tangan Sehun.

“Untuk menghilangkan rasa pening di kepalamu.”

“Oh, tuan tanpa sarung tangan yang semalam.” Tiba-tiba gadis itu terkejut melihat Sehun yang duduk di sebelah Minseok.

“Tuan tanpa sarung tangan?” tanya Minseok heran.

Sehun menatap gadis kecil itu sebentar. Ia sedikit mengerutkan keningnya, mencoba mengingat apakah ia mengenal gadis itu sama seperti gadis itu mengenalnya.

“Oh, kau.” Jawab Sehun singkat.

“Aih, pria ini. Dia bahkan tak membeli sarung tangan yang dijual gadis semanis, siapa namamu?”

“Namaku Oh Hani, tuan.”

Sehun tersendak minumannya, begitupula dengan Minseok yang terkejut dan langsung menatap Sehun dengan kedua bola matnya yang melebar.

“Oh Ha-Hani?” gumam Sehun.

12 Years Ago @ Oh’s Family House

“Kau mau anak perempuan atau laki-laki?”

“Tentu saja laki-laki. Dia pasti akan tampan dan sekeren ayahnya ini, ah…dan juga ia akan menjadi pengusaha yang jauh lebih kaya raya dari ayahnya. Bukan begitu?”

“Uhh, tapi aku harap, ia tidak menurunkan sifat malas bangun pagi dari ayahnya. Aku juga tidak mau anakku menjadi CEO seperti dirimu, kasihan istrinya kelak, sering ditinggal pergi keluar kota oleh suaminya.”

“Ohooo, kau sedang menyindirku, ya?”

“Hahahaha, tentu saja. Ah, apakah kau sudah memiliki nama untuk anak kita kelak?”

“Tentu saja! Oh Namjoon, itu jika anak kita adalah laki-laki, dan Oh Hani, jika anak kita perempuan. Kau suka?”

“Hmm, aku suka. Apapun pilihanmu aku selalu suka, Sehun.”

“Ohooo, kau juga pandai mengumbar kata-kata manis sekarang.”

#

“Mengapa diam saja? Habiskan makan siangmu!” perintah Minseok pada Sehun yang sejak tadi mengabaikan makan siangnya dan duduk melamun sambil menatap ke jalan raya.

“Gadis bernama Oh Hani itu.” Gumamnya.

“Apa?” tanya Minseok sambil menyuap sesendok penuh kimchi ke dalam mulutnya.

“Aku ingin bertemu dengannya lagi.” Ucap Sehun.

“Sudahlah, mungkin itu hanya kebetulan gadis itu memiliki marga yang sama denganmu.”

Sehun kembali larut dalam lamunannya, rasa sesak di dadanya muncul lagi, kalau biasanya hanya sesak dan sakit yang ia rasakan, kini ditambah lagi rasa ingin tahu akan asal usul gadis bernama Oh Hani itu.

Ya, Sehun harus mengetahuinya.

#

Sehun melimpahkan semua pekerjaannya hari ini pada Minseok dan menjanjikan libur selama tiga hari untuk managernya itu kapanpun ia mau menggunakan kesempatan itu. Awalnya Minseok menolak, tetapi bukan Sehun namanya kalau tidak bisa memaksa dan membuat sahabatnya itu menderita pada akhirnya. Meski imbalannya bisa saja Minseok meminta tiket liburan bersama keluarganya ke Macau atau mungkin Bali.

Sehun mengusap sambil meniupkan tangannya agar tetap terasa hangat. Sial, lagi-lagi ia melupakan sarung tangannya di dalamm mobil dan dirinya terlalu malas untuk kembali ke tempat ia memarkirkan mobilnya dan mengambil sarung tangan yang sudah Minseok berikan untuknya.

Ia duduk di bangku taman sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Diperhatikannya setiap anak kecil yang melintas di depannya, siapa tahu gadis kecil bernama Oh Hani itu ada diantaranya sambil membawakan sarung tangan untuk ia tawarkan pada orang-orang di dekatnya.

Satu jam.

Dua jam.

Lima jam.

Dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sehun masih bertahan disana, tiga gelas ukuran besar kopi panas sudah ia habiskan, perutnya yang sudah protes meminta diisi makanan ia abaikan hanya demi bertemu dengan gadis kecil tersebut.

Tali sepatu kanannya terlepas, membuatnya menunduk dan mengikatkannya. Namun kegiatan mengikat tali sepatunya terhenti saat melihat sepasang kaki yang ditutupi sepatu boots berwarna cokelat berdiri di hadapannya.

13 Years Ago @ Seoul Central Park

“Apakah jarak toilet umum dan bangku taman ini sejauh Seoul pergi ke Daegu? Mengapa lama sekali?”

“Tidakkah kau melihat ada yang berbeda pada diriku?”

“Apa? Perutmu tetap gembung, pipimu tetap gempal dan—”

“Ih, Sehun! Lihatlah, ini!”

“Ada apa dengan sepatumu?”

“Sehun-ah, kau lupa? Ini sepatu pemberianmu! Aku sengaja ke toilet umum untuk segera memakainya setelah kau belikan tadi. Cantik tidak?”

“Lalu mana sepatumu yang lama? Kau buang? Itu kan masih bagus! Sini, bawa kembali, aku bisa memberikannya untuk bibi Yoon.”

“Sehun! Kau harusnya memuji penampilanku dulu! Baru bertanya mengenai hal lain! Menyebalkan!”

Sehun menggeleng dengan cepat, ia langsung mengangkat kepalanya dan senyumnya merekah seketika mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya.

“Tuan tanpa sarung tangan? Mengapa tidak memakai sarung tangan lagi hari ini? Nanti kau bisa terserang demam seperti ayahku.”

“A-ayah?” tutur Sehun terbata.

Gadis kecil itu mengangguk. Ia kemudian menunjukkan kantong plastik bening yang ada di tangan kirinya.

“Aku baru saja membelikan ayahku obat penurun demam. Sejak kemarin demam ayah masih belum turun juga, karena ayah tidak bisa pergi bekerja, jadi aku membantu ayahku dengan berjualan sarung tangan juga susu pisang untuk bisa membelikan ayah obat.”

Sehun terhenyak. Reflek, tangannya terangkat dan mengelus lembut puncak kepala gadis tersebut.

“Dimana ibumu? Seharusnya ibumu yang merawat ayahmu, bukan? Tugasmu sebagai seorang anak cukup belajar dan membanggakan dengan prestasi terbaikmu di sekolah.”

“Ibuku sudah meninggal sejak lima tahun yang lalu, tuan. Jadi, aku hanya tinggal bersama dengan ayahku.”

Sehun terkejut lantas menggigit ujung bibir bawahnya, “Ma-maaf. Aku tidak tahu. Aku, turut berduka mendengar hal itu.”

Gadis itu tersenyum lalu menggeleng, “Tidak apa-apa, tuan. Kata ayah, aku tidak boleh terus terlarut dalam kesedihan. Kepergian ibu untuk selamanya bukan untuk ditangisi dan dijadikan beban, tetapi untuk dikenang.”

“Tapi…bagaimana jika kenangan itu menyakitkan? Apakah kau akan tetap menyimpannya di dalam ingatanmu?”

“Apakah Tuan sedang sedih sekarang?” tanya gadis tersebut.

Sehun hanya menampakkan senyum samarnya untuk menjawab pertanyaan gadis tersebut.

“Ibuku, pernah mengajarkan hal ini padaku ketika aku sedih karena tidak mendapatkan nilai yang bagus saat ujian kenaikan kelas satu.”

Gadis itu kemudian menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

“Pejamkan mata Tuan, ingatlah orang-orang yang tuan sayangi, dan katakan ‘aku bisa’, kemudian tarik napas yang dalam lalu buka mata Tuan lagi, energi dalam tubuh Tuan pasti akan terisi kembali dan Tuan tidak akan sedih lagi.”

Sehun tertawa dengan ucapan gadis kecil itu, andai saja beban pikiran dan luka di hatinya bisa ia sembuhkan hanya dengan melakukan hal tersebut, ia pasti sudah bisa melewatinya sejak sepuluh tahun yang lalu.

“Ah, Tuan. Aku harus segera pulang, ayah sudah menungguku sejak tadi.”

“Bagaimana jika aku mengantarkanmu pulang?”

“Tidak perlu, Tuan. Kata ayah aku tidak boleh terlalu sering merepotkan orang lain. Aku tidak mau dianggap anak yang selalu merepotkan oleh ayahku.” Ucap gadis itu.

“Tidak apa-apa. Aku tidak merasa direpotkan, lagipula…aku ingin bertemu dengan ayahmu. Pasti ayahmu adalah pria yang hebat. Ia berhasil mendidikmu menjadi anak yang mandiri dan dewasa di usiamu yang masih belia. Boleh aku tahu apa pekerjaan dan nama ayahmu?”

“Ayahku bekerja sebagai kurir pengantar barang, Tuan. Namanya adalah Park Jimin.”

#

Sembilan belas tahun yang lalu, dua pria berbeda kepribadian ini bertemu di bangku sekolah menengah atas. Oh Sehun, si pendiam yang anti sosial dan Park Jimin, si hyperactive yang terkenal tampan dan mempesona di kalangan siswa perempuan.

Keduanya selalu sekelas bahkan mengambil jurusan yang sama ketika duduk di bangku kuliah. Sehun yang awalnya tidak suka menjalin hubungan pertemanan, akhirnya menganggap Jimin sebagai temannya, bahkan ia anggap sebagai adiknya sendiri. Jimin juga menganggap Sehun sebagai soulmatenya, ia bahkan berharap jika kelak ia terlahir sebagai wanita, ia ingin menjadi pendamping hidup Sehun.

Sembilan belas tahun saling mengenal satu sama lain, bukanlah hal yang baru, meski Sehun telah mengenal Kim Yoojung, meski Sehun menikahinya hanya dalam kurun waktu mengenal Kim Yoojung selama tiga bulan saja, Jimin tetap menjadi sahabat dan keluarga yang ia prioritaskan di posisi teratas. Hal inilah yang terkadang membuat Yoojung cemburu dan kesal.

Namun siapa yang menyadari, dibalik semua perhatian Sehun untuk Jimin yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu, Jimin ternyata menaruh perhatian yang lebih dari seorang teman pada Yoojung. Sehun tidak mengetahui hal itu, bahkan sampai sekarang pun Jimin tetap memendamnya tanpa membiarkan Sehun mengetahuinya.

15 Years Ago @ Jimin’s Flat

“Jimin-ah, apakah kau bahagia dengan pernikahanku?”

“Tentu saja. Aku adalah orang yang paling bahagia di dunia setelah dirimu karena sudah menjadi saksi di hari pernikahanmu.”

“Apakah menurutmu Yoojung akan hidup bahagia denganku?”

“Tentu saja, hyung. Kaulah yang terbaik untuknya, ia sangat mencintaimu, begitupula dengan dirimu. Kalian adalah pasangan yang serasi dan akan selalu bersama sampai tua nanti.”

“Tapi…aku selalu berpikir, kau jauh lebih pantas bersanding dengannya dibandingkan dengan diriku. Kau tahu sendiri selama ini bentuk perhatian dan kasih sayang dariku untuknya adalah masukan dari dirimu. Kau tahu kalau aku ini pria yang tak bisa romantis sedikitpun. Bagaimana jika saat sudah menikah nanti aku tak bisa memberinya perhatian yang lebih dari saat kita menjadi sepasang kekasih?”

“Ah, hyung. Bicara apa kau ini? Tentu saja kau bisa memberinya perhatian yang lebih. Hanya kau satu-satunya yang pantas bersanding dengannya. Tidak ada pria lain lagi, percayalah padaku, hyung.”

Ucapan Jimin empat belas tahun yang lalu ternyata tidak menjamin kebahagiaan dalam hidup Sehun. Ia terluka. Ia kecewa. Dan ia tidak menyangka Jimin akan melakukan hal sekejam dan semenyakitkan ini pada dirinya.

12 Years Ago @ Oh Coorporation

“Sebenarnya…anak yang Yoojung kandung, bukankah anakmu, hyung.”

“Apa maksudmu? Ini bukan bulan April, kau tak sedang menceritakan April Mop padaku, kan? Tidak lucu, Jimin-ah. Kembalilah ke ruanganmu, aku sedang sibuk.”

“Aku berkata jujur hyung, se-sebenarnya…sebenarnya Yoojung…Yoojung sedang mengandung da-darah dagingku.”

“A-apa!?”

“Maafkan aku hyung, a-aku…aku tidak bisa menahan semua ini, a-aku…awalnya kupikir Yoojung memang pantas untukmu, ta-tapi…sejak kalian menikah, kau bukannya menjaganya, kau semakin sering meninggalkannya, k-kau…kau bahkan selalu memintaku untuk menjaganya. Su-sumpah demi Tuhan hyung, a-aku…aku mencintai Yoojung, melihat ia memutuskan untuk menerima lamaranku, membuatku mencoba mundur perlahan, ta-tapi…tapi kau malah semakin mendekatkanku dengannya, membuatku tidak mampu menahan diriku d-dan—”

Sehun yang terbakar emosi, dengan tatapan berkilat langsung bangun dari duduknya dan menghajar Jimin habis-habisan. Seisi kantor yang mendengar suara bising dari dalam ruangan Sehun langsung masuk dan mencoba memisahkan kedua orang tersebut. Sehun seperti kesetanan tak peduli dengan teriakan banyak orang dan terus menghujani wajah tampan Jimin dengan pukulannya.

#

“Lama tidak bertemu, hyung.” Itulah kalimat pertama yang Jimin lontarkan setelah keterkejutannya melihat anaknya pulang bersama dengan pria yang sangat ia rindukan selama ini.

Sehun diam saja, matanya ia sibukkan dengan melihat Hani yang sedang menggulung koran-koran bekas kemudian ia masukkan ke dalam tungku pembakaran untuk menghangatkan rumah yang ia huni bersama dengan ayahnya.

“Maaf jika kau kurang nyaman dengan kondisi rumahku yang sekarang. Jika aku sudah sembuh nanti, aku akan memperbaiki atapnya. Semalam, kamar Hani penuh dengan salju dan membuatnya harus tidur di ruang keluarga denganku.”

Sehun tak bergeming. Matanya masih tetap tertuju pada gadis kecil yang mendekat padanya dan memberikan secangkir teh hangat untuknya.

“Ini, Tuan. Kata ayah, teh buatanku adalah teh terbaik kedua setelah buatan ibu. Tuan harus mencobanya, benar kan ayah?” ucap gadis itu disusul dengan anggukan kepalanya.

Ada rasanya nyeri di hati Sehun saat mendengar Hani memanggil Jimin sebagai ayahnya. Ia seharusnya tidak berhak untuk marah, Hani memang anak kandung dari Jimin, sudah sewajarnya jika ia memanggil Jimin ayahnya. Tapi—

“Mengapa harus Oh Hani? Bukan Park Hani saja?” tanya Sehun lirih.

Jimin tak menjawab pertanyaan Sehun, ia malah berdiri meninggalkan Sehun dan berjalan masuk ke dalam kamarnya. Tak berapa lama setelah itu, muncul Jimin dengan membawa tumpukan kertas di tangannya. Semuanya ia serahkan pada Sehun.

“Mungkin semua ini akan menjawab mengapa gadis kecil itu bernama Oh Hani.” Ucap Jimin.

Tanpa menunggu waktu lama, Sehun langsung membuka surat dengan kertas berwarna biru bermotif bunga mawar, bunga faforit Yoojung, istri—ah mungkin lebih tepatnya mantan istrinya.

#

Dear Sehun,

Aku tidak berharap kau membaca surat ini. Tapi jika kau sudah membacanya, itu tandanya kau sudah bertemu dengan anak kita. Oh Hani. Kau yang memberinya nama Oh Hani, kan? Dia tumbuh dengan baik tentunya, Hani adalah anak yang pintar, sama seperti dirimu, aku yakin kelak ia akan mewarisi sikap ulet dan disiplin darimu. Ada banyak hal yang ingin kuungkapkan pada dirimu. Tapi yang paling ingin kuungkapkan adalah aku tetap dan hanya mencintai dirimu Oh Sehun. Aku sangat bahagia hidup dengan dirimu, bahkan aku sudah bahagia sejak awal bertemu denganmu, meski hanya sebentar, menyandang marga sebagai Nyonya Oh Sehun adalah hal paling membahagiakan dalam hidupku. Sehun, kumohon maafkan aku, kumohon, setelah kau membaca ini, jangan ada rasa benci sedikitpun pada Park Jimin. Dia adalah pria yang sangat baik, dia adalah sahabat yang sangat menyayangimu lebih dari apapun. Ya, dia memang mencintaiku. Tetapi ia lebih mencintai persahabatannya denganmu. Apapun yang ia katakan padamu selama ini, bahwa Hani adalah darah dagingnya dan bukan darah dagingmu, itu adalah permintaanku. Maafkanlah dia, ah tidak, dia tidak bersalah dalam hal ini, tapi aku, maafkanlah aku Oh Sehun. Aku tidak bisa, aku tidak bisa berkata jujur padamu bahwa aku mengidap kanker rahim. Aku takut Sehun, aku takut kau akan memilih keselamatanku daripada keselamatan anak kita jika kau mengetahui hal ini. Aku meminta Jimin melakukan semua ini agar ia bisa menyelamatkan anak kita, setidaknya, Hani akan menggantikan posisiku kelak untuk menjaga dan merawatmu. Sehun, berjanjilah padaku untuk menyayangi Hani sepenuh hatimu. Berjanjilah padaku, kau akan merawat Hani dan mencintainya seperti bahkan lebih dari yang lalu lakukan padaku. Sehun, sekali lagi maafkan aku, aku mencintaimu.

#

Air mata Sehun menetes tiada henti, ia meremas kuat surat di tangannya, membuat Jimin ikut menangis dan memeluk sahabat lamanya itu. Mereka larut dalam tangisan yang lama. Sementara di hadapan mereka, berdiri seorang gadis kecil yang dipenuhi pertanyaan di dalam kepalanya,

“Ayah…” panggilnya dan seketika membuat kepala Jimin dan Sehun terangkat bersamaan. Ada senyuman terpancar dari bibir Sehun, senyum terharu bercampur bahagia, tapi sekilas senyumnya memudar ketika buah hatinya, yang selama ini ia terlantarkan berlari ke pelukan Jimin dan menghapus air mata pada pipi sahabatnya itu.

Ada sesuatu yang memukul dadanya dengan keras ketika melihat perhatian gadis kecil itu diberikan pada pria yang sebenarnya bukan ayah kandungnya. Sehun tersenyum dan tetap membelai lembut rambut gadis yang kini memeluk erat leher sahabatnya, Park Jimin.

“Hani.” Panggilnya lirih.

“Ya, Tuan?”

“B-bolehkah…bolehkah aku memelukmu juga?”

 .

.

.

.

.

F I N

SORRY FOR TYPO(s)

Advertisements

25 responses to “DISTURBANCE #ONESHOT ~QueenX~

  1. Ahhh sedih kali 😭😭😭
    Sampai nangis aku baca y 😭😭😭😭
    Tapi keren thor apa gx ada sequel y ???
    #yg semangat buat y thor fighting 😀😀😀😀😊😊😊😄😄😄

  2. Jadi yoojung mencoba berbohong lewat jimin biar bisa melahirkan hani? Sungguh perjuangan seorang ibu
    Keren
    Selalu dapat feelnya
    Aku suka karya karyamu author

  3. ahh..terharu banget bacanya. uhh beneran kebawa perasaan banget bacanya. keren walaupun oneshoot tapi udah ngejelasin semuanya 👍 ditunggu terus karya lainnya semangat 😁😁

  4. Huahhhh bangke pagi* bikinn nangisss,, iniiiii kerennnn bangettt sampek terharuu hayatii 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

  5. Keren nih,swdih banget ceritanya.terharu….
    sukses thor buat karya karya nya,ditunggu karyanya yang lain,keep writing semanagat

  6. Hwa…..Baru bisa baca dan ternyata ceritanya bikin aku mewek,kasian yoojung kasian sehun kasin jimin dan kasian hani,hwa….. 😦 😦 😦 😦 ,authornim sllu bikin hati aku baper deh

  7. boleh mnta sequel?, tanggung jawab aku jadi mewek bacanya T.T, astaga aku tersentuh bnget sama yoojung, apapun pasti dilakukan seorang ibu untuk anaknya 😥

  8. Astagaaa kenapa ini bikin mataku memanas 😭😭 iihh sedih banget sumpah. And suddenly I love this ff so fast after read it:”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s