If We Love Again: Still Remember You

if-we-love-again-req-1

Poster By: Kyoung @ Poster Channel

Previous: Desire of Heart

Sehun, Jung Nara, Park Chanyeol, and Olivia Kim │ PG 15 │Hurt/Comfort & Romance │ Series │Track List Project

“No matter how hard I try to forget you, I still remember you.” ―That Day, Baekhyun

Nara mengenakan gaun terbaiknya untuk menghadiri acara ini. Ia juga sengaja menata surai dan merias diri agar pesonanya semakin terlihat di antara gadis lain yang hadir di pesta yang diselenggarakan oleh Oh Corporation sebagai media pelucuran software baru mereka. Kabarnya, pesta ini istimewa sebab penguasa dari perusahaan Oh akan mengumumkan calon mempelai yang dirahasiakannya. Nara tahu jika Sehun sengaja melakukan hal itu untuk menyakitinya lebih jauh lagi. Tapi, toh si gadis masih tetap belum menyerah. Ditemani Chanyeol, Nara melangkah memasuki gedung mewah itu.

“Nara, kita bisa pulang sekarang,” bujuk Chanyeol yang tampil memukau dengan jas hitam.

Nara menggeleng. Dia tetap melangkah anggun, penuh percaya diri. “Aku ingin tahu gadis seperti apa yang mampu menggantikan diriku,” balas Nara. Si gadis baru menghentikan ayunan tungkainya, saat mereka bersimpangan dengan Sehun. Nara mengeratkan genggaman tangannya pada Chanyeol. “Aku ingin bicara empat mata bersamanya,” kata Nara. Ia melepaskan tautan jari mereka.

Nara berjalan menuju Sehun yang tampak sibuk berbincang akrab dengan seorang wanita. Nara jadi bertanya-tanya, apakah gadis itu kekasih baru Sehun? Ada perasaan ganjil yang datang dalam hati Nara menyadari betapa waktu telah mengubah Sehun secara drastis.

“Bisakah aku meminta waktumu sebentar untuk bicara, Oh Sehun?” tanya Nara.

Sehun menarik pinggang si wanita blasteran itu sebelum menjawab pertanyaan Nara, “Bicara saja di sini,” jawab Sehun tampak tak tertarik.

Wanita yang melekat intim pada Sehun itu membebaskan dirinya, dia tersenyum pada Nara. “Kalian perlu bicara. Kau pasti Jung Nara. Aku Olivia Kim, sekretaris Tuan Oh,” ucap si wanita. Ia menatap Sehun sekilas, lalu kembali berkata, “Aku akan meninggalkan kalian berdua.” Olivia pun bergerak menjauh dari Sehun serta Nara.

Nara mengikuti Sehun yang merajut langkah menuju halaman belakang gedung yang sepi tamu undangan. Sehun menghentikan langkahnya, saat mereka mencapai bagian tengah taman yang bercahaya redup.

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Sehun melalui bibir tipisnya.

Nara awalnya hanya memandangi pemuda yang dulu―sampai sekarang―menarik hatinya. Sekian kali pun Nara mendaratkan tatapannya pada Sehun, sebanyak itupun hatinya kembali bergetar.

“Jangan menikahi gadis lain, tolong aku,” kata si gadis pelan. Ia menarik napasnya. “Aku dulu memang menyakitimu, tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu. Berapa kali pun aku memcoba. Aku tidak bisa melupakanmu―”

“―Apa kau sedang berperan menjadi gadis murahan dan tak tahu diri sekarang, Jung Nara?” potong Sehun. Pemuda itu membalikkan badan. Ia hendak meninggalkan Nara yang menurutnya sudah tidak waras.

Nara belum menyerah. Dia mengejar Sehun, lalu berlutut di hadapannya. Nara dapat menyaksikan raut terkejut dari Sehun meskipun hanya beberapa sekon, kemudian rahang pemuda itu mengatup menahan emosi.

“Terserah kau mengatakan aku gadis seperti apa. Hanya dirimu yang mampu menolong keluargaku.” Nara mengigit bibir agar sedu yang mulai menggenangi pelupuk matanya tak begitu kentara. “Aku memang bersalah, tapi kau tidak bisa menghancurkan perusahaan keluargaku. Kau hanya perlu menyakitiku saja. Aku tahu kau sudah memiliki segalanya. Aku yakin dirimu juga mempunyai kebaikan hati,” jelas Nara.

“Berdiri Jung Nara,” perintah pemuda itu.

Nara enggan bergeming. Ia menundukkan kepala agar Sehun tak melihat airmatanya yang mengalir. “Aku meminta belas kasihanmu,” bisik gadis itu.

Selaras jatuhnya kepedihan si gadis, langit pun ikut menangis. Rintik hujan mulai berjatuhan, membasahi Nara dan Sehun.

“Berdiri Jung Nara!” teriak Sehun, geram. “Aku bilang berdiri!” ulangnya, lagi-lagi Nara menolak perintahnya. Sehun menatap si gadis tanpa iba. “Terserah, berlutut saja sampai kau mati,” ucap Sehun tajam, sebelum ia meninggalkan Nara yang terguyur hujan.

Nara terlalu putus asa untuk kembali menegakkan raga. Setiap tetes air yang menjatuhinya menjadi perwujudan luka itu. Nara tahu bahwa upayanya sia-sia. Empat tahun bukan waktu yang sebentar, sebagai manusia Sehun tentunya berubah.

Pemuda itu memiliki kehidupannya sendiri. Sehun telah menghapus hal-hal yang dulu si pria tawarkan padanya. Bahkan, kebaikan hatinya pun ikut lenyap.

“Astaga, Jung Nara. Kau bisa sakit,” kata Chanyeol yang tergesa-gesa menghampiri Nara. Chanyeol segera melepaskan jasnya kemudian menyampirkan pada bahu Nara agar sang sahabat tak kedinginan.

“Aku ingin melihat Ayah,” gumam Nara, ketika Chanyeol membantunya berjalan menjauhi derai hujan. “Antar aku ke rumah sakit, Chanyeol,” lanjutnya.

Nara merasakan setiap mata tertuju padanya, sewaktu dia berjalan di lorong rumah sakit menuju kamar inap ayahnya. Nara memang terlihat berantakan sekarang. Gaunnya yang basah, surainya yang kusut, dan parasnya pucat. Tadinya, Chanyeol hendak menemaninya, namun Nara menolak. Dia ingin memiliki waktu bersama ayahnya, tanpa ada gangguan dari yang lainnya.

Kendati demikian, kenyataan berujar lain.

Nara sontak mempercepat ayunan tungkai, ketika dia mendapati lima orang berpakaian hitam yang diketahui si gadis sebagai pengawal Kang Jungsoo. Mereka berjaga di depan kamar ayahnya.

“Anda dilarang masuk,” ujar salah satu pengawal yang memiliki tubuh besar. “Tuan Kang sedang bicara pada Tuan Jung.”

“Ini kamar ayahku. Aku Jung Nara. Apa yang dilakukan si pengkhianat itu di sana? Dia akan menyakiti ayahku. Biarkan aku masuk!” seru Nara, dia kehilangan kendali. Benaknya, menampilkan hal-hal negatif yang sanggup dilakukan Kang Jungsoo―saudara tiri ayahnya. Kang Jungsoo sejak lama menginginkan perusahaan yang kini dikelola oleh Jung Taekwang, dia memanfaatkan ketidakberdayaan saudaranya untuk mengambil alih.

Nara berusaha menyerang pengawal yang menghalangi jalan. Walaupun demikian, tenaga Nara yang tinggal separuh tak mampu mengungguli mereka. Gadis itu tersungkur di lantai hanya dengan satu tamparan dari mereka. Nara merasakan nyeri di pipi. Ia mencoba membendung tangisan, Nara enggan terlihat lemah di mata musuhnya.

Pintu ruangan itu terbuka, ketika Nara bangun dari keterpurukannya. Kang Jungsoo menyeringai melihat keponakannya yang kesakitan.

“Jangan berusaha lagi, Jung Nara. Dewan direksi sudah menyatakan keputusannya bahwa ayahmu tidak mampu memimpin perusahaan karena dia masih belum sadar hingga sekarang. Ia juga sudah gagal dalam menarik investor,” ucap Jungsoo, pria berusia setengah baya. “Hanya Oh Corporation yang mampu menolongmu. Namun, mengingat masa lalumu itu, rasanya mustahil. Terlebih lagi, mereka besok mendatangani kontrak untuk bekerjasama dengan Kang’s Technology.” Jungsoo mengakhiri perkataannya dengan menepuk bahu gadis itu. Ia beserta pengawalnya meninggalkan Nara yang membeku sendirian menahan sakit.

“Mereka mengundang media cetak juga, mengingat kontrak yang akan dibicarakan telah menjadi isu publik,” ucap Chanyeol pada gadis yang kini duduk di kursi penumpang. Maniknya menatap lurus berusaha fokus pada kendaraan yang dikendalikan.

Nara membaca dokumen perusahaan yang baru tadi pagi diserahkan oleh Chanyeol. “Walaupun, dia mendadapatkan kontrak tersebut, Kang’s Corporation masih kekurangan perangkat dan tenaga kerja untuk memenuhi permintaan pasar. Itu yang menyebabkan Kang Jungsoo ingin mengambil alih Jung Corporation kemudian menjualnya,” sambung Nara.

Chanyeol mengangguk. “Dia sudah memproduksi 50% perangkat keras, sebelum mendapatkan hak atas penggunaan perangkat lunak produksi dari Oh Corporation yang artinya apabila perjanjian itu batal maka mereka akan rugi besar.”

Nara menghela napas panjang. “Keputusan Sehun benar-benar menjadi penentu.”

“Dulu saat kalian masih menjalin hubungan, Sehun sangat mudah kau rayu untuk mengubah keputusannya.”

“Dulu dia berpura-pura begitu.” Nara menimpali penuh keengganan.

Chanyeol melejitkan bahu. “Dia tetap Oh Sehun, apa salahnya kau mencoba bermain-main dengan kelemahannya?” kata pemuda itu yang disambut anggukkan setuju dari Nara. Pria itu menyunggingkan ujung bibirnya. “Kau pernah cerita jika ibu Sehun meninggal karena kekerasan yang disebabkan oleh ayah tiri Sehun. Dia juga tidak dapat melihat wanita dipukul atau semacamnya,” ungkap Chanyeol.

“Baiklah, aku mengerti. Lagi pula orang-orang sialan itu sudah memukulku kemarin, tidak ada salahnya jika hari ini aku kena satu kali lagi,” gumam Nara sembari menyentuh lebam yang terlihat kentara di pipinya.

“Nara menuju rumah sakit, setelah dia berada di pesta itu selama dua puluh menit. Chanyeol mengantarnya ke sana. Dia bertemu Kang Jungsoo yang meminta penandatanganan penyerahan wewenang perusahaan. Tapi, sayangnya Tuan Jung Taekwang masih koma,” Olivia Kim melaporkan pada Sehun, saat mereka berada di kendaraan menuju lokasi rapat dengan pihak Kang’s Technology. “Kau harus melihat ini, Oh Sehun. Aku rasa Kang Jungsoo sudah keterlaluan,” imbuh Liv.

Paras Sehun menengang saat ia menekuni layar iPad yang tadi disodorkan oleh Liv. Dia memperoleh rekaman CCTV ketika anak buah Kang Jungsoo memukul Nara. Tangan pemuda itu sontak terkepal. Dia mengumpat pelan.

“Terus awasi Nara dan Chanyeol. Kirim beberapa orang kita untuk mengikutinya dan memastikan tidak ada yang menyentuh sehelai pun surai gadis itu,” perintah Sehun. Bertepan dengan berakhirnya ucapan Sehun mobil yang mereka tumpangi singgah di salah satu restoran yang memiliki konsep pedesaan di daerah Gangnam.

Sepertinya Kang Jungsoo telah memesan seluruh restoran ini, sehingga tidak ada pengunjung selain pengawal Kang’s Technology dan Oh Corporation. Sehun pun turun dari kendaraan, langkahnya tegas serta waspada. Belum jauh dia berjalan, kakinya berhenti seketika saat mendengar keributan. Pemuda itu berbalik, ia lantas mendapati Jung Nara yang terpelanting menghantam tanah akibat pukulan dari pengawal Kang Jungsoo.

“Apa yang terjadi?” tanya Liv pada ketua pengawal mereka.

“Nona Muda Jung ingin masuk dan mengagalkan pertemuan Presedir,” jawab salah satu orang berjas hitam itu.

“Aku sudah memerintahkan agar tidak ada yang menyentuh gadis itu. Apa kalian tidak dengar!” teriak Sehun pada pengawalnya yang langsung menunduk hormat pada Sehun, kemudian menuju Nara yang berdebat dengan penjaga Kang’s Technology.

Sehun menghela napas kasar.

“Apa kau baik-baik saja, Sehun?” tanya Liv, dia meraih tangan Sehun.

Pria itu mengangguk. “Mari kita bermain sejenak dengan Kang Jungsoo. Dia akan membayar semuanya,” kata Sehun. Ia menyeringai, setelah itu merajut langkah menunju mangsanya.

Sehun duduk di balik meja panjang yang membuatnya berhadapan langsung dengan Kang Jungsoo. Pemuda itu dapat melihat ketamakan hanya dari paras pria tua yang rambutnya telah mulai memutih. Ketika sekretaris Kang Jungsoo menaruh dokumen perjanjian di mejanya, Sehun tersenyum simpul.

Hanya ada empat orang yang berada di ruangan ini, yaitu Sehun, Kang Jungsoo, Olivia Kim, dan sekretaris Kang’s Technology. Mereka berpikir dalam diam, membaca perjanjian yang seharusnya disetujui hari ini. Namun, ternyata Sehun memiliki rencana sendiri, saat dia mengutus Liv untuk menyodorkan dokumen lain pada pihak Kang Jungsoo. Sesuai dugaan Sehun, Kang Jungsoo sontak membolakan mata penuh ketakutan ketika dia mulai membaca hal-hal yang tertera di sana.

“Apa maksudnya ini?” tanya Jungsoo. Tangannya bergetar, sewaktu membuang dokomen tersebut.

“Itu adalah bukti pembayaran pajak Kang’s Technology selama sepuluh tahun terakhir,” kata Sehun. Pria berusia dua puluh lima tahun itu menyilangkan tangan di depan dada. “Dan ada fakta menarik di sana. Ternyata, Kang’s Technology hanya membayar separuhnya dan bekerjasama dengan pejabat terkait―“

“―Dari mana kau mendapatkan semua ini?”

Sehun beranjak dari duduknya, “Kau lupa apabila saya adalah cucu dari mantan presiden negara ini,” jawabnya. “Perjanjian kita batal karena saya tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan bermasalah. Bukti ini akan tersebar di media massa kira-kira ….” Sehun menggantung perkataannya, ia melihat jam tangan, “Satu menit lagi,” tutupnya.

“Apa salah saya? Kenapa kau melakukan ini?” cecar Kang Jungsoo yang hendak meraih Sehun, tetapi segera ditepis oleh pemuda itu.

Sehun berdecak tak nyaman. “Saya tidak suka barang milik saya disentuh orang lain, apalagi sampai tergores,” ujar Sehun dingin, kemudian meninggalkan Kang Jungsoo yang hancur, tanpa penyesalan sedikit pun.

“Anda tidak apa-apa, Nona Jung?” tanya seorang pengawal yang tadi membantu Nara mengatasi bawahan Kang Jungsoo.

Nara mengangguk. Ia menyentuh ujung bibir yang berdarah. Nara mengernyit merasakan perih di sana.

“Siapa kalian?” tanya Nara.

Pria berusia awal tiga puluhan itu tampak berpikir, sebelum menjawab. “Kami adalah utusan―“

“―Jung Nara, apa kau gila?” suara lain menginterupsi. Sehun sudah berada di belakang Nara.

Pemuda itu menarik bahu si gadis, sehingga Nara otomatis berbalik. Sehun memindai gadis yang kini berada di depannya. Ia menghela napas lega, seolah-olah begitu khawatir pada Nara.

Gadis berkaus hitam dan bercelana jeans itu agak salah tingkah, menyadari perhatian Sehun yang menurutnya tak biasanya ditunjukkan pada banyak orang. “Aku akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan perusahaan keluargaku.”

“Termasuk bertingkah layaknya orang yang tidak dapat berpikir, begitu!?” bentak Sehun. Dia memcengkram bahu Nara dengan kasar. “Jika aku sekali lagi melihatmu mengumpankan diri seperti tadi. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri,” bisik Sehun dingin pada rungu si gadis.

Sikap Sehun mengintimidasi serupa biasanya. Bahkan dia menarik dagu Nara agar menengadah dan manik mereka dapat bertemu. Tatapan itu menyuratkan bahwa ancamannnya tidaklah main-main.

“Tuan Oh, kita sebaiknya segera pergi dari sini, wartawan yang diundang oleh tim Kang’s Technology sudah mulai datang,” Liv memutus interaksi Nara dengan Sehun.

Nara dan Sehun pun mendapati secara langsung apa yang sedang terjadi, belasan orang berjalan ke arah mereka sembari membawa kamera.

“Sial,” desis Sehun yang menarik Nara mendekat ke arahnya. “Ambilkan masker dan topi,” perintah pemuda itu pada Liv yang langsung membuka tas tangannya.

Liv memberikan masker dan topi ke tangan Sehun.

Pemuda itu bergerak cepat, ia menyerahkan topi itu pada Nara. Si gadis paham, Nara segera menguncir surai panjangnya, kemudian menggelung rambutnya agar tidak terligat. Sementara itu Sehun memakaikan masker pada Nara, sehingga menutupi paras sang gadis. Sehun juga melepaskan jasnya, lalu menyampirkan di pundak Nara. “Media tidak boleh tahu kau bersamaku. Jika mereka sampai tahu, maka akan ada berita macam-macam mengenai pembatalan kontrakku dengan Kang’s Technology yang disangkut pautkan denganmu,” jelas Sehun. Ia memberi isyarat pada Nara untuk mengikutinya.

-oOo-

a/n:

Part selanjutnya dapat dibaca di Track List.

Advertisements

10 responses to “If We Love Again: Still Remember You

  1. Ya ampuun nara sampe segitunya, jadi kasian nara.. Aku kira dlu nara mencampakkan sehun karena larangan dr ayahnya eh ternyata biar sehun mau pergi ke amerika ternyata..
    Sehun itu perhatiannya diam2 karena gengsinya segede gunung..

  2. Yaampun kasian nara hikss… sehun jangan terlalu dingin doong. Cerita nya menarik, harus bnyak chapter yaa biar makin gregeett hahaha

  3. Jadi Sehun mau jatuhin nara atau mau ngelindungin nara. Namanya cinta ya. Bener bener bikin buta. Mangats hun. Mangats thor.

  4. Kayanya yg drama” belum ada yg ceritanya kaya gini. Bagus bangettt klo emng beneran ada trus actornya yg ada d ff ini juga…..

  5. Pas nara dibentak sehun kok w malah baper yha…
    Eh tunggu itu liv sm sehun ada apa deh ko mencurigakan.. pls jgn kasian nara heeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s