[Freelance] It’s a Fake Marriage (Chapter 1)

its-a-fake-marriage

Title: It’s a Fake Marriage

 

Seoulotus’s present

®2016

Starring BTOB Sung Jae, OC Seo Yoonhee, slightly! RED VELVET Joy and BTS V

 

Alternatif Universe, Drama, Romance // Chaptered // M // Marriage life

Credit by Laykim@Indo Fanfictions Art

 

Disclaimer: it’s a real my creation. Not a plagiat.

 

Summary: “Masa lalu yang kembali”

 

□■□■□

 

Author POV

 

Sebuah gereja sederhana terlihat penuh hikmat oleh sebuah acara yang sangat sakral di hadapan Tuhan. Dua sejoli mengikat diri mereka dalam sebuah hubungan yang hanya Tuhanlah yang mampu memutusnya. Pernikahan. Pengantin wanita terlihat berjalan menyusuri altar, menuju sang pengantin pria yang menunggunya dengan sabar.

 

Tangan pengantin wanita mengapit tangan seorang pria yang tidak lain adalah Ayah kandungnya. Sang Ayah memberikan tangan sang pengantin wanita kepada pengantin pria seraya berkata,

 

“Aku titipkan putri kecilku padamu. Tolong jaga dia, Sung Jae-yya…” sang Ayah melepas tangan sang pengantin wanita dengan berat hati.

 

Pengantin pria menyambut tangan sang pengantin wanita dengan lembut, menggiringnya ke hadapan pastur untuk mengesahkan pernikahan mereka. Mereka menunduk, mencoba memejamkan mata dan memikirkan apakah ini jalan terbaik bagi mereka atau bukan.

 

Sang pastur berdehem, mencoba menarik ekstensi dirinya kepada sepasang pengantin itu. Mereka lantas mengangkat wajah mereka dan ekspresi penuh keyakinan jelas terpancar di dalam diri mereka.

 

“Baiklah, Yook Sung Jae-ssi, bersediakah kau menikahi saudari Seo Yoonhee-ssi? Mencintainya, menyayanginya, dan menjaganya seumur hidupmu? Berjanji untuk selalu setia padanya dalam keadaan senang maupun susah, kaya ataupun miskin, sehat ataupun sakit? Dan menjadi Ayah dari anak-anak kalian kelak? Membina rumah tangga hingga maut memisahkan kalian?”

 

Sang pengantin pria menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Matanya menyiratkan sebuah tekad. Dia mengangguk sekilas lalu berujar penuh keyakinan,

 

“Ya, saya bersedia.”

 

Sang pastur menoleh menatap sang pengantin wanita, menanyakan sumpah yang sama.

 

“Seo Yoonhee-ssi, bersediakah kau menikah dengan saudara Yook Sung Jae-ssi? Mencintainya, menyayanginya, dan menghormatinya seumur hidupmu? Berjanji untuk selalu setia padanya dalam keadaan senang maupun susah, kaya ataupun miskin, sehat ataupun sakit? Dan menjadi Ibu dari anak-anak kalian kelak? Membina rumah tangga hingga maut memisahkan kalian?”

 

Pengantin wanita memejamkan matanya, mencoba untuk meyakinkan diri.

 

“Ya, saya bersedia.” akhirnya kata itu terucap.

 

Suara tepukan tangan riuh memenuhi seisi ruangan gereja sederhana itu. Sang pastur menyipratkan air suci kepada kedua mempelai. Setelahnya prosesi penanda tanganan dokumen pernikahan dan di akhiri dengan ciuman, walau hanya di dahi.

 

Setelahnya, hanya di isi dengan prosesi makan-makan dan bersalaman dengan pengantin.

 

□■□■□

 

Rumah kecil ukuran tiga kali enam di daerah Bu Am Dong itu tengah penuh oleh barang-barang yang perlu di bereskan. Tidak banyak memang, hanya sepasang kasur lipat, perabotan dapur, pakaian dan bantal.

 

Yoonhee membereskan semua pakaian yang harus di letakkan di dalam lemari dengan telaten. Tangannya dengan terampil melipat pakaian miliknya dan seorang pria yang sekarang telah resmi menyandang status sebagai suaminya.

 

Bunyi bedebum membuat Yoonhee terlonjak. Matanya menyusuri asal suara tersebut dan menemukan suaminya tengah kelelahan sehabis mengangkat sebuah lemari pendingin ukuran sedang. Dia kembali pada kegiatannya melipat pakaian, mencoba untuk menyelesaikan pekerjaan yang terasa tiada habisnya.

 

“Di mana letak air mineral? Apa kau lupa membelinya?” sebuah suara membuat Yoonhee dengan cepat menoleh dan menatap ke arah suara tersebut.

 

Suaminya tengah sibuk mencari air untuk menghilangkan dahaganya. Dengan sigap Yoonhee mencari letak air mineral yang tadi di belinya di supermarket. Setelah menemukannya, dia lantas memberikannya pada sang suami.

 

Sung Jae mengambil air tersebut dan meminumnya dengan cepat. Setelahnya, ia kembali bangkit dan menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk. Sedangkan Yoonhee kembali pada kegiatannya melipat pakaian.

 

□■□■□

 

Malam menjelang, Yoonhee dan Sung Jae tengah menikmati makan malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri. Suasana canggung tidak terlalu kentara walaupun sebenarnya terjadi pada sepasang suami istri ini.

 

Sung Jae meletakkan sumpit miliknya dan meminum segelas air yang tersedia. Dia menunggu Yoonhee yang belum menyelesaikan makannya. Setelah Yoonhee meletakkan sumpit miliknya, Sung Jae berdehem untuk menarik atensi istrinya tersebut.

 

“Ekhem, Yoonhee-yya…” Sung Jae berujar pelan.

 

Yoonhee menoleh dan menatapnya dengan ekspresi tenang di wajahnya.

 

“Begini, kau tahu kita menikah karena kita memiliki luka yang sama. Untuk itu, mari kita hidup untuk saling mengerti satu sama lain. Saling mentoleransi dan berbagi satu sama lain. Kau mau, kan?” Sung Jae bertanya dengan was was.

 

Yoonhee mengangguk, senyum tidak lepas dari wajahnya kala menjawab pertanyaan suaminya itu.

 

Semenjak malam itu hidup pernikahan mereka di mulai. Walau mereka menikah bukan karena cinta, mereka saling mendukung satu sama lain. Tidur di tempat tidur yang sama. Sarapan, makan siang, dan makan malam bersama tidak pernah absen mereka lakukan bersama. Sung Jae selalu menyempatkan diri untuk pulang tepat waktu agar istrinya tidak khawatir.

 

Bukan hanya hal-hal kecil itu saja yang mereka lakukan. Bahkan kebutuhan biologis mereka pun mereka penuhi dengan baik. Sekali seminggu mereka melakukan hubungan suami istri. Mereka saling memenuhi kebutuhan biologis mereka masing-masing dengan toleransi yang kuat. Mereka jarang dan nyaris tidak pernah bertengkar. Hanya perdebatan kecil sebagai bumbu rumah tangga mereka yang di lalui dengan mudah.

 

Tanpa terasa, kehidupan rumah tangga mereka sudah menginjak satu setengah tahun. Biduk pernikahan yang terlewati dengan mudah oleh mereka begitu saja.

□■□■□

 

Matahari menyinari rumah kecil milik Sung Jae dan Yoonhee. Sung Jae menyipitkan matanya kala sinar matahari menembus retina matanya. Tangannya menghalau sinar matahari dan tangan sebelahnya memeluk pinggang istrinya yang masih terlelap.

 

Sung Jae tersenyum melihat istrinya masih terlelap jam segini. Biasanya dia sudah bangun dan berkutat dengan dapur.

 

Sung Jae bangun dan menyelimuti tubuh polos istrinya. Semalam mereka melalui malam yang panjang.

 

Semalam mereka melakukan kegiatan suami istri rutin mereka. Walau mereka melakukan hubungan intim, tidak pernah mereka mencapai kenikmatan puncak bersama. Hanya sekedar berhubungan badan tanpa meninggalkan benih apapun.

 

□■□■□

 

Sung Jae berjalan menyusuri trotoar menuju rumahnya dan Yoonhee dengan tenang. Dia baru pulang bekerja dan tubuhnya terasa sangat lelah. Dia bekerja di Perusahaan IT milik Ayahnya sebagai pegawai biasa. Dia melakukannya karena tidak ingin bergantung pada harta orang tuanya.

 

“Oppa, air hangatnya sudah siap. Mandilah dan setelah itu makan malam.” Yoonhee berujar pelan dan langsung berlalu dari hadapan Sung Jae untuk memasak.

 

□■□■□

 

Seperti biasa, mereka makan malam dengan tenang. Hidup berdua seakan tidak membuat keduanya bosan dalam keheningan. Sung Jae meletakkan sumpit miliknya dan meminum airnya. Beberapa saat kemudian Yoonhee juga melakukan hal yang sama seperti Sung Jae dan membereskan piring kotor.

 

Sung Jae kemudian memutuskan untuk menonton acara berita dan musik untuk menghilangkan stres. Usianya yang menginjak dua puluh enam tahun dan dia hanya hidup berdua saja bersama istrinya.

 

Tanpa sengaja dia menekan tombol untuk memindahkan chanel TV dan menghadirkan drama keluarga yang berbahagia. Matanya menerawang, jika dulu ia dan wanita itu tetap bersama, mereka pasti sudah menjalani hidup yang berbahagia bersama anak-anak mereka.

 

Yoonhee mendekati suaminya dan memegang bahunya pelan.

 

“Oppa, ada yang ingin ku bicarakan denganmu…”

 

“Apa? Katakan saja. Aku akan mendengarmu.” Sung Jae berkata dengan cepat.

 

“Lusa ada reuni gabungan di SMA kita. Angkatanmu dan angkatanku akan mengadakan reuni bersama. Oppa, akan datang kan?” Yoonhee bertanya dengan pelan. Takut jika suaminya itu akan marah.

 

Sung Jae menoleh, menatap mata teduh milik istrinya. Entah kenapa, mendengar perkataan istrinya hatinya menjerit senang. Dengan cepat ia melebarkan senyumnya.

 

“Dimana? Kita harus datang. Sudah lama aku tidak bertemu teman-temanku saat SMA.” Sung Jae dengan antusias menjawab pertanyaan istrinya itu.

 

Yoonhee menunjukkan ekspresi tenang melihat keantusiasan suaminya terhadap reuni itu.

 

“Di hotel Plaza Oppa. Lusa jam dua siang. Ayo kita datang dan bertemu dengan teman lama kita.” Yoonhee tersenyum menjawab pertanyaan suaminya.

 

□■□■□

 

Hari yang di tunggu mereka pun tiba. Yoonhee telah bersiap dengan jeans biru donker dan kaus big size miliknya dan di padu dengan tas selempang kecil dan sepatu kets senada dengan warna jeans.

 

Sung Jae tampil dengan jeans hitam dan di padu kaus V neck senada dan jaket kulit hitam. Dia kelihatan seperti pria lajang jika bukan karena cincin pernikahan yang tersemat di jari manisnya itu. Sung Jae menoleh, menatap istrinya yang telah siap dengan pakaiannya dan bersiap dengan merapikan sepatu kets miliknya.

 

“Ayo, nanti kita terlambat.” Sung Jae berujar sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

 

Mereka berjalan menuju halte bis dalam diam. Walau hidup bersama sebagai sepasang suami istri, mereka jarang berinteraksi. Hanya percakapan ringan tentang bagaimana mereka melalui hari demi hari yang terasa cepat di malam hari. Di tambah dengan kegiatan seks mereka di malam hari. Hanya itu, tidak lebih.

 

Setelah sampai di halte bis, mereka menunggu bis yang akan datang. Sung Jae memilih untuk duduk dan menunggu bis berikutnya, sedangkan Yoonhee memilih berkutat dengan Smartphone miliknya. Setelah menikah, Yoonhee hanya di sibukkan dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurus Sung Jae.

 

Sangat jarang dirinya memiliki waktu bersantai, walau sebenarnya ia bisa bersantai di siang hari. Ia lebih memilih menyibukkan diri dalam pekerjaan rumah dan mengurus Sung Jae. Ia tidak ingin larut akan perasaannya yang telah di pendamnya selama hampir delapan tahun.

 

Bunyi mesin mobil bis dan pintu yang terbuka membuat Yoonhee dan Sung Jae mendongak. Bis yang mereka tunggu sejak tadi telah tiba. Mereka menaiki bis tersebut dan duduk di kursi penumpang bagian belakang.

 

Sung Jae melihat Yoonhee menatap jalanan melalui jendela bis dengan senyum. Sung Jae lalu mengalihkan pandangannya dan lebih memilih untuk berkutat dengan Smartphone miliknya. Dia tidak begitu peduli apa yang di lakukan Yoonhee dan apa yang di pikirkan wanita itu. Hanya tetap berada di sampingnya, sudah cukup bagi Sung Jae. Toh mereka menikah bukan karena saling mencintai atau apapun itu. Mereka menikah karena mereka memiliki luka dan masa lalu yang sama.

 

Yoonhee menghormatinya sebagai suami dan Sung Jae menghargainya sebagai istri. Itu sudah cukup. Tidak perlu ada cinta di antara mereka. Bagi Sung Jae, cinta membuat orang menjadi gila dan tidak bisa rasional. Karena cinta jugalah, ia dan Yoonhee harus menikah meski tanpa cinta. Karena cinta yang membuatnya menjadi manusia yang egois dan tidak bisa mengerti lagi apa perasaan seseorang. Apa yang di rasakan orang itu, dan apa yang di pikirkan orang itu.

 

Sung Jae terkesan tidak peduli. Walau dia ingin mengerti, tapi tidak bisa. Hatinya seakan mati rasa dan kaku. Bis berhenti di pemberhentian pertama, penumpang keluar dan masuk seiring waktu. Sung Jae tetap diam dengan Smartphone di tangannya.

 

Yoonhee dengan setia masih memandangi jalanan dari balik jendela bis. Sesekali senyum terpancar dari wajahnya. Bunyi pintu bis yang terbuka membuatnya menoleh, lalu kembali pada kegiatannya mengamati jalanan. Yoonhee diam, menghembuskan nafas lelah. Dia tidak tahu apa yang di pikirkannya saat ini. Dia wanita berusia dua puluh lima tahun, telah menikah walau tanpa cinta. Terkadang dia merasa seperti menipu dirinya sendiri dan kedua orang tuanya beserta mertuanya.

 

Ia dan Sung Jae menikah karena luka. Tidak ada yang tahu apa alasan utama mereka menikah. Kedua orang tua mereka hanya tahu mereka menikah karena saling mencintai. Tapi ini tidak bisa di sebut pernikahan. Mereka hanya tinggal bersama dengan status sebagai suami-istri. Bagi Yoonhee ini bukan pernikahan, tapi sebuah kompromi. Ini kompromi mereka karena mereka memiliki luka yang sama.

 

Yoonhee merasa ini semua tidaklah benar. Walau ia dan Sung Jae sepakat untuk hidup bersama dan saling menghargai, tapi Yoonhee merasa ini salah. Hati Sung Jae tidak bersamanya begitupun dengan dirinya. Mereka masih di bayangi oleh masa lalu dan perasaan menggebu masing-masing.

 

Yoonhee melamun hingga dia terlonjak karena tepukan halus Sung Jae pada bahunya.

 

“Kita sampai, ayo.” dengan sigap Yoonhee membereskan tasnya dan ikut keluar dari bis. Mereka berjalan beriringan menuju lobi hotel untuk bertanya di mana letak ruangan reuni mereka.

 

Sung Jae bertanya kepada resepsionis dan setelah mendapat petunjuk dari orang yang menjaga resepsionis, mereka menuju ke ruangan yang di sewa untuk acara reuni. Yoonhee mengekor Sung Jae berjalan menuju ruangan reuni mereka dan setelah sampai mereka di sambut oleh teman-teman mereka.

 

“Oh, Sung Jae-yya. Kau datang? Wow, kau datang hampir bersamaan dengan adik kelas teladan kita.” Lee Taeyong menyapa teman sepermainannya dulu saat SMA dengan merangkulnya.

 

Sung Jae hanya diam di rangkul seperti itu dan Yoonhee lebih memilih untuk menjauh dari Sung Jae. Teriakkan seseorang membuat Yoonhee menoleh dan menatapnya dengan penuh selidik.

 

“Yoongiie-yya!!!” Yoonhee menoleh dan mengernyit karena teriakkan cempreng orang yang memanggilnya itu.

 

“Bogoshipposseo, Yoongiie-yya. Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabar, ha? Lihat, disana ada Hanbin, Wonwoo, Junhong, Hayoung dan… Sooyoung.” orang yang memanggil Yoonhee itu mengatakan kata terakhir dengan pelan.

 

Yoonhee terdiam kala nama itu terdengar lagi. Dia mendadak gugup. Orang yang memanggilnya tadi melambaikan tangannya, mencoba menarik perhatian wanita muda itu. Yoonhee terlonjak, dia langsung merubah ekspresinya menjadi tenang dan tersenyum kepada temannya itu.

 

“Ah, Chanmi-yya. Ayo aku ingin bercakap-cakap dengan Junhong sebentar. Ayo.” Yoonhee menyeret gadis tadi yang bernama Chanmi dengan ringan.

 

“Annyeong, Junghong-ah. Wah kau sangat sombong ya karena sudah jadi seorang pengacara.” Yoonhee memasang senyum sopan kepada sahabatnya yang sangat pas untuk bertukar pikiran.

Junghong tersenyum lantas mendekati Yoonhee dan merangkul sahabatnya itu dengan mesra. Dia tersenyum menggoda kepada Yoonhee dan memamerkan kemesraan persahabatan mereka.

 

“Berhentilah merangkulku Junhong-ah. Aku sudah bukan wanita lajang lagi. Kau tahu itu kan?” Yoonhee berbisik kepada sahabatnya itu.

 

Junhong mengangguk dan melepaskan rangkulannya dari sang sahabat.

 

“Yoonhee-yya lama tidak bertemu. Kau menghilang setelah kelulusan sekolah. Aku khawatir sekali padamu.” Hanbin, salah satu teman Yoonhee bertanya sembari menyalami tangan wanita muda itu.

 

“Aku baik. Tidak perlu khawatir padaku, aku sehat kan?” Yoonhee membalas salam Hanbin tersebut.

 

“Yoongiie-yya, sudah tujuh tahun dari pertemuan terakhir kita. Kau makin cantik saja.” Wonwoo berusaha menggombal kepada Yoonhee dan merangkul bahunya.

 

“Berhentilah menggombal mata keranjang. Aku tidak akan tertarik padamu.” Yoonhee menyingkirkan tangan Wonwoo dari bahunya dan menjauh sedikit darinya.

 

“Ish, kau ini. Aku kan hanya ingin menyapamu dengan sapaan khas milikku.” Wonwoo mendengus pada Yoonhee.

 

“Sudah sudah. Kalian berdua jika bertemu tidak pernah akur. Kalian selalu mau bertengkar. Seperti kucing dan anjing saja.” Hayoung menengahi Yoonhee dan Wonwoo agar tidak terjadi perselisihan lagi.

 

“Sooyoung eoddiga? Bukankah tadi ia disini katamu, Chanmi-yya?” Yoonhee bertanya pada Chanmi.

 

Chanmi mengangkat bahunya, tidak tahu keberadaan Park Sooyoung.

 

“Mungkin gadis jahat itu sedang mencari Taehyung Hyung. Dia kan juga datang ke reuni ini. Mereka datang bersamaan lagi. Ish benar-benar tidak punya muka.” Wonwoo mengoceh tidak karuan tentang gadis bernama Park Sooyoung itu.

 

Hayoung langsung menyenggol perut Wonwoo agar tidak menyebutkan dua nama itu. Wonwoo langsung terdiam dan lebih memilih untuk mengobrol bersama teman satu angkatannya dan juga menyapa mantan kakak kelasnya.

 

Yoonhee mengangguk. Hayoung, Hanbin, Wonwoo dan Chanmi melihat Yoonhee dengan tatapan khawatir. Tapi dengan cepat Junhong bisa melihat ekspresi para sahabatnya itu dan mencoba mencairkan suasana.

 

“Aduh aku sangat ingin minum dan ingin minum bersama sahabatku ini. Apa kau mau teman?” Junhong bertanya sembari mengangkat gelas ke arah Yoonhee.

 

Yoonhee mengangguk dan menarik lengan Junhong menjauh dari temannya yang lain. Setelah mereka pergi, semua temannya yang melihat kelakuan Yoonhee dan Junhong menatap mereka berdua dengan tatapan menyelidik.

 

“Apa kalian tidak merasa hubungan mereka agak aneh. Maksudku, mereka seperti dua orang yang saling mneyukai. Apa kalian tidak lihat, ha? Yoonhee menarik lengan Junhong dengan mesra. Mereka pasti punya hubungan. Yoonhee tadi juga sempat berbisik pada Junhong, entah apa yang mereka bicarakan.” Wonwoo memulai acara bergosipnya dengan teman-temannya.

 

Hayoung langsung menggetok kepala Wonwoo.

 

“Hekh, darimana mau punya hubungan. Junhong itu sepupu jauh Yoonhee, tahu. Jangan suka membuat gosip murahan ya?” Hayoung memarahi Wonwoo.

 

“Aku kan hanya bilang apa yang ku lihat. Tindakan mereka seperti sepasang kekasih. Apa aku salah, hah?” Wonwoo berujar sambil memegang kepalanya yang di getok oleh Hayoung.

 

“Ne. Yoonhee itu sepupu jauh Junhong. Jadi jangan asal bicara.” Hanbin membenarkan ucapan Hayoung tersebut.

 

□■□■□

 

“Jadi, bagaimana rumah tanggamu dan Sung Jae Hyung? Apa berjalan dengan baik?” Junhong bertanya sembari memainkan Quitela miliknya.

 

“Biasa saja. Kau tahu sendiri bagaimana rumah tanggaku. Datar.” Yoonhee meminum Koktail miliknya dengan perlahan.

 

“Sudah ku bilang sejak awal. Jangan menikah dengan Sung Jae Hyung. Dia itu pria yang tidak baik. Walau dia sudah mau hidup sederhana denganmu, dia tetap pria manja yang suka mempermainkan perempuan. Jalanmu tidak nyaman, apa semalam kalian melakukannya?” Junhong bertanya dengan mata menyipit.

 

Yoonhee tersedak Koktail miliknya. Matanya melotot kepada Junhong.

 

“Mwoya? Musun siriya?” Yoonhee menepuk dadanya sembari bertanya.

 

“Aku bertanya, apa kalian berhubungan badan semalam? Itu bukan topik yang tabu untuk wanita yang sudah bersuami sepertimu.” Junhong menjawab ringan sembari menyesap Quitela.

 

“Ekhem, itu. Ya, kau bisa tahu. Aku harus melayani suami selayaknya seorang istri. Aku istrinya dan dia suamiku.” Yoonhee menjawab pertanyaan Junhong dengan cepat.

 

Junhong mengangguk. Dia kembali menyesap Quitela miliknya dalam diam. Setelahnya ia mengucapkan hal yang berhubungan dengan masa lalu.

 

“Ku kira dia akan bosan berhubungan badan denganmu. Ayolah, ini sudah satu setengah tahun Yoongiie-yya. Kau dan bahkan semua orang di ruangan ini tahu siapa Sung Jae Hyung. Dia suka bergonta ganti wanita setelah dia putus dari Sooyoung. Dia suka melakukan one night stand dengan banyak wanita. Kau tahu itu tapi kau tetap mau menikah dengannya.” Junhong berkata dengan cepat dan memegang lengan Yoonhee.

 

“Aku dan Sung Jae Oppa punya luka yang sama. Mau ku bilang berapa kali agar kau mengerti, Junhong-ah? Entah dia mau melakukan apapun pada tubuhku itu bukan urusanmu. Kau hanya sepupuku, tapi dia itu suamiku. Sudah tugasku untuk melayaninya.” Yoonhee melepas tangannya dari genggaman Junhong dan pergi dari hadapan Junhong.

 

Junhong menghela nafas lelah dan mengacak rambutnya frustasi. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menasihati sepupunya itu. Dia tidak ingin sepupunya sekaligus sahabatnya itu terjebak dalam pernikahan palsu. Dia hanya ingin Yoonhee bahagia bersama orang yang tepat. Bukan dengan seseorang yang jelas-jelas tidak di cintai oleh Yoonhee dan mencintai Yoonhee.

 

□■□■□

 

Yoonhee sedang berjalan mencari keberadaan Sung Jae. Sejak sampai di pesta ini, mereka berpisah. Sung Jae tadi di tarik oleh Taeyong, salah satu temannya SMA-nya yang cukup nakal. Sekarang Yoonhee agak khawatir jika Sung Jae akan terpengaruh lagi oleh teman-temannya yang nakal itu.

 

□■□■□

 

Suara dentingan gelas terdengar kala beberapa pria mengadunya dengan sengaja. Mereka meminum Quitela dari gelas mereka masing-masing dengan pelan. Sung Jae menyesap Quitela miliknya pelan.

 

“Sung Jae-yya, kau tadi terlihat datang bersama dengan Yoonhee. Adik kelas kita yang terkenal teladan itu.” Taeyong bertanya kepada Sung Jae tentang kedatangannya bersama Yoonhee tadi.

 

“Maksudmu, Seo Yoonhee? Si gadis teladan? Mana mungkin Sung Jae datang bersama dengan si gadis teladan itu. Si gadis teladan itu hanya mau bergaul dengan anak baik-baik dan tidak mau bergaul dengan berandal seperti kita.” Seungchul menjawab ucapan Taeyong dengan telak.

 

“Hekh mana mungkin anak Hakim itu mau bergaul dengan Sung Jae. Kau tahu, gadis itu pasti akan membunuh Sung Jae karena Sooyoung telah…”

 

“Diamlah.” perkataan Minwoo di potong oleh ucapan dingin Sung Jae.

 

Semua teman-teman Sung Jae terdiam melihat ekspresi Sung Jae yang mengeras. Minwoo menunduk, menyadari kesalahannya itu. Lalu ia mendekat, memegang bahu Sung Jae dan meminta maaf padanya.

 

“Mian, Sung Jae-yya. Aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu tentang masa lalu. Aku minta maaf.” Minwoo berujar dengan nada penyesalan pada Sung Jae.

 

Sung Jae menoleh dan balik memegang bahu Minwoo.

 

“Gwaenchana.” Sung Jae tersenyum menjawab permintaan maaf Minwoo.

 

□■□■□

 

Yoonhee terus menyusuri ruang pesta untuk mencari Sung Jae. Siluet tubuh Sung Jae tertangkap oleh retina matanya. Dia langsung berjalan pelan untuk mengajak Sung Jae untuk segera pulang. Hanya tinggal beberapa langkah lagi ia dekat dengan Sung Jae, ia di tarik oleh seseorang.

 

“Yoongiie-yya, kau datang juga. Bogoshippeo…” Yoonhee di peluk oleh orang itu dengan erat hingga Yoonhee susah bernafas.

 

Orang yang memeluk Yoonhee itu melepas pelukannya dan tersenyum ke arah orang itu. Yoonhee hanya tersenyum melihat orang yang tadi memeluknya itu dan mencubit perut orang itu.

 

“Yaish, Kei Eonni. Eonni membuatku terkejut saja. Nado bogoshippeo Eonni. Aku sangaaaat merindukan Eonni. Jinjjayo.” Yoonhee membuat huruf V untuk menunjukkan keseriusannya pada orang yang memeluknya itu.

 

“Geotjimal. Kau itu suka berbohong. Kau bilang mau kuliah di Seowon, tapi kau akhirnya kuliah di Seoul. Huh, tidak asyik.” Kei menggembungkan pipinya imut kepada Yoonhee.

 

Yoonhee malah diam melihat aegyo yang di tunjukkan oleh Kei. Baginya aegyo itu sama sekali tidak lucu. Membosankan.

 

“Sudah Eonni, tidak perlu menunjukkan wajah mengerikan itu. Tidak imut tahu. Kau bahkan seperti hantu balon saja.” Yoonhee menjawab dengan datar sembari mengetukkan kakinya pada lantai.

 

Kei mendengus mendengar jawaban jujur adik kelasnya sekaligus adik tingkatnya di klub memasak dulu.

 

“Tidak bisakah kau berbohong kalau itu sangat imut dan lucu? Dasar tidak peka.” Kei merajuk kepada Yoonhee.

 

“Eonni aku pergi dulu. Aku masih ada urusan yang perlu di selesaikan. Ada seseorang yang ingin ku temui.” Yoonhee berujar singkat sambil membungkukkan badannya pada Kei.

 

Kei hanya melambai pada adik tingkatnya di klub memasak dulu dengan bingung. Padahal dia sudah susah payah mencari keberadaan adik kelasnya yang satu ini. Tapi saat sudah ketemu, dia malah menghindar darinya.

 

□■□■□

 

Sung Jae masih setia menyesap Quitela miliknya dengan perlahan. Kepalanya sudah pusing akibat minuman beralkohol itu sejak lima menit yang lalu. Tapi ia tetap menyesap Quitela itu. Perlahan tubuhnya goyah dan ia hampir terjatuh, tapi dengan sigap seseorang memegangi tubuhnya agar tidak oleng.

 

Sung Jae menoleh menatap orang yang memegangnya tersebut dan terkejut setengah mati.

 

“Sung Jae Oppa…” Sung Jae menoleh ke arah lain.

 

Yoonhee tengah menatapnya dengan tatapan datar. Sedangkan di sampingnya terdapat pria yang sangat tidak ingin di lihatnya seumur hidup.

 

□■□■□

 

Yoonhee tengah mencari keberadaan Sung Jae untuk mengajaknya pulang. Sejak tadi ia menelpon Sung Jae, Handphone-nya tidak aktif dan di alihkan pada pesan suara. Ia terus mencari Sung Jae hingga tidak sadar menabrak seseorang.

 

Dengan sigap ia membungkukkan badan dan mengucapkan maaf pada orang tersebut.

 

“Mianhamnida.”

 

“Yoonhee-yya….” suara serak yang khas membuat Yoonhee menoleh dan terkejut melihatnya.

 

“Op… Oppa…” Yoonhee terpekur di tempatnya melihat seseorang yang sangat tidak ingin di temuinya di tempat ini.

 

Dengan cepat Yoonhee menghindar dari orang tersebut dan berlari untuk menghindar. Orang tersebut dengan cepat menyusul Yoonhee dan melihat Yoonhee yang diam terpaku melihat sesuatu.

 

Orang tersebut langsung melihat objek apa yang di lihat oleh Yoonhee. Matanya terbelalak melihat Sung Jae yang setengah mabuk dan di tahan oleh seseorang yang juga tidak terduga. Orang itu menoleh menatap Yoonhee yang merubah ekspresinya menjadi datar dan memanggil Sung Jae.

 

“Sung Jae Oppa….” Sung Jae menoleh ke arah Yoonhee dan terkejut setengah mati.

 

Mata Sung Jae langsung berkilat marah melihat orang berdiri tepat di samping istrinya itu dan langsung bangkit walau pusing di kepalanya belum hilang. Dia langsung berjalan mendekati Yoonhee dan orang itu dan menarik pergelangan tangan Yoonhee untuk menjauh dari dua orang yang sangat di bencinya.

 

“Kajja kita pulang.” Sung Jae berujar sembari memegangi kepalanya yang pusing.

 

Baru beberapa langkah, tangan Yoonhee pun di tarik oleh orang yang berdiri bersebelahan dengannya tadi. Matanya menyiratkan kebingungan yang mendalam akan sikap Sung Jae dan Yoonhee. Sung Jae kembali menarik tangan Yoonhee untuk keluar dari gedung itu dan menatap mata orang yang memegang tangan Yoonhee dengan tatapan tajam.

 

“Lepaskan tangannya. Aku mengajaknya untuk pulang.” Sung Jae berujar dingin sembari menarik lagi tangan Yoonhee.

 

Orang tersebut tetap mempertahankan genggaman tangannya. Matanya menatap tajam Sung Jae penuh dendam.

 

“Tidak akan. Apa maksudmu untuk membawanya pulang bersamamu? Dia bukan siapa-siapamu. Sedangkan aku? Aku orang yang di cintainya. Kau? Kau bukan siapa-siapanya Yook Sung Jae.” orang tersebut berujar sombong pada Sung Jae siapa dirinya.

 

Sung Jae tertawa sinis pada orang itu. Orang yang tadi juga sempat memegangi Sung Jae berjalan perlahan mendekati Sung Jae dan Yoonhee. Para tamu undangan reuni itu melihat perdebatan antara Sung Jae dan orang itu dalam diam.

 

“Benarkah? Aku bukan siapa-siapanya? Tolong beritahukan pria congkak ini siapa aku dan apa hubunganku denganmu Yoonhee-yya.” Sung Jae menatap Yoonhee dengan senyum sinis terpatri di wajahnya.

 

Semua orang di ruangan itu menatap Yoonhee penuh tanya. Dua orang itu juga menatap Yoonhee penuh tanya.

 

“Dia, Sung Jae Oppa adalah suamiku.” Yoonhee berujar pelan pada orang yang menatapnya itu.

 

Semua orang terkejut mendengar pengakuan Yoonhee itu.

 

Orang yang memegang tangan Yoonhee menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Ekspresinya berubah kaget dan penuh tanda tanya. Tidak berbeda jauh dari orang memegangi tubuh Sung Jae tadi. Matanya langsung berair dan meneteskan bulir air mata.

 

“Solma aniyo. Kalian bohong kan? Katakan padaku kalau kalian berdua sedang bersandiwara.” genggaman tangannya pada tangan Yoonhee terlepas.

 

“Kau bisa mendengarnya kan, Kim Taehyung. Dia istriku. Statusku bahkan lebih tinggi di bandingkan kau yang hanya mampu menempati posisi orang yang di cintainya.” Sung Jae tersenyum congkak pada orang yang bernama Kim Taehyung itu.

 

“Oppa… Kau bohongkan? Kau berbohong padaku supaya aku tidak bisa mendekatimu dan Taehyung Oppa tidak bisa bersama Yoonhee lagi, kan?” orang yang memegangi Sung Jae tadi mendekat, bertanya kepada Sung Jae mengenai kebenaran ucapan Sung Jae dan Yoonhee.

 

“Itu benar. Untuk apa aku berbohong mengenai hubungan kami. Kami sepasang suami istri yang sah. Untuk apa aku berbohong hanya untuk mencegah kalian berdua mendekati kami. Toh kalian berdualah yang meninggalkan kami. Bukan kami, Park Sooyoung.” Sung Jae berkata ringan. Seketika pusing di kepalanya menghilang.

 

Semua orang yang ada di ruangan itu mulai berbisik-bisik mengenai hubungan ke empat orang yang menjadi objek tatapan mereka. Beberapa orang sibuk mengatakan tentang masa lalu mereka semua.

 

“Bukankah Taehyung Sunbaenim yang meninggalkan Yoonhee dan lebih memilih Sooyoung?”

 

“Majayo. Sooyoung juga tidak tahu malu mengatakan bahwa Sung Jae dan Yoonhee berbohong demi menghindari mereka.”

 

Ada yang berbisik mengenai pernikahan Sung Jae dan Yoonhee.

 

“Sung Jae dan Yoonhee menikah? Hah, tidak bisa di percaya. Seorang gadis teladan sepertinya menikahi pria dengan predikat penjahat kelamin. Aku tidak habis fikir.”

 

“Sung Jae beruntung mendapatkan Yoonhee, tapi Yoonhee? Apa yang bisa di jadikan keberuntungan bagi gadis itu?”

 

“Seperti kisah drama saja.”

 

Bisikan-bisikan dari para tamu undangan menerpa pendengaran mereka masing-masing. Sung Jae langsung menarik tangan Yoonhee dan meninggalkan ruangan itu dan kembali pulang.

 

□■□■□

 

Yoonhee POV

 

Kami keluar dari gedung itu dan sekarang telah berada di halte bis. Sung Jae Oppa menyuruhku duduk dan dia menyender pada tiang halte untuk menunggu bis. Keheningan terjadi di antara kami berdua. Sung Jae Oppa memilih untuk diam dan aku memilih untuk bungkam. Di saat seperti ini dia pasti sangat kesal dan marah.

 

Kenapa mereka berdua harus kembali ke kehidupan kami? Kenapa mereka kembali ingin mengacaukan kehidupan kami yang sudah terasa kacau ini. Sudah cukup hati kami terluka oleh perbuatan mereka. Mereka tidak perlu lagi mengusik kehidupan datar kami.

 

Bis yang akan membawa kami pulang telah tiba. Aku bangkit berdiri dan memasuki bis tersebut. Sung Jae Oppa mengikuti dari belakang. Aku duduk di kursi dekat jendela dan Sung Jae Oppa duduk di sebelahku. Tidak ada percakapan selama perjalanan, hanya hening yang menemani perjalanan pulang kami.

 

To Be Continoue

 

Halo, kenalan dulu gimana?

Namaku Seoulotus…

Nama itu aku dapetin karena gak sengaja nonton drama saeguk dan denger kata Seoul,

Jadi kepikiran deh nyambungin dua nama itu…

Terus lahirlah nama Seoulotus.

Pada tahu lotus, kan?

Itu tuh teratai..

Seoul+lotus?

Jadinya, Seoulotus.

Udah ah perkenalannya. Sekarang mau back to story..

Ini ide ceritanya muncul begitu aja setelah keluar dari kamar mandi di tengah malem.

Nah karena idenya mengganggu melulu sampe gak bisa tidur,

Akhirnya aku mutusin buat kerangkanya dulu.

Bukannya buat kerangka cerita, aku malah buat ceritanya langsung dalam satu hari penuh tanpa ada lelah.

Oh ya, hampir kelupaan nama asliku,

Namaku Yuni…

Kalo yang lahir di tahun 96 kebawah bisa panggil nama atau adek…

Tapi, kalo yang 96 keatas bisa panggil mbak, kakak, mbok juga boleh kok kkkk

Oke tolong baca dan apresiasi karyaku ini, ya? Gak bakal semangat tanpa adanya readers yang mendukung di belakang sebuah karya.

NB: Ini karya pertamaku yang ku kirim di sini

 

To my beloved readers

♥★♥★♥

 

9th October 2016

Advertisements

6 responses to “[Freelance] It’s a Fake Marriage (Chapter 1)

  1. hi Yuni.. aku riska 95line ^^
    aku suka sama ceritanya, bahasanya juga mudah dipahami, cuman keknya alurnya agak kecepetan deh, but its okey itu ceritanya ttep bagus kok. ohiya aku rada tertarik sama rumah 3 kali 6, itu kecil banget ga sih? *malahnanya haha
    pokoknya aku tunggu chapt 2 nya. semangatt!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s