[Freelance] Ma Baby Boy

ma-baby-boy

Title : Ma Baby Boy


Author/twitter : Mueezachann/@ariskachann


Cast : Oh Sehun & OC


Genre : Romance, family, comedy


Rating : General


Length : Oneshoot


Disclaimer : FF murni hasil karangan author. Don’t copy paste!!. Pernah di publish di blog pribadi sebelumnya.

Enjoy ^^

 

“Hyun-ah, sebentar lagi anakku akan lahir. Apa kau punya ide untuk namanya?”

“Ireum?”

“Ne!”

“Bagaimana jika. . . Hhmm. . . Byun Seohyun?”

“Eoh, Byun Seohyun?”

“Hum! Eotthe? Yeppeo?”

“Bagus sih. . . Tapi kenapa marganya ‘Byun’ ? Nama marga suamiku kan ‘Oh’.”

“Ahaha, itu namanya jika kau berniat menceraikan suamimu setelah bayinya lahir.”

“Ahaha, keureom. Kupikir namanya bagus juga. Eh! Tapi. . . Anakku kan jenis kelaminnya laki-laki. Kau lupa ya?”

“Jinjja?”

“Ne!”

“Kalau begitu ganti saja. Bagaimana jika Byun Taehyun? Terdengar tampan kan?”

“Oh Taehyun lebih bagus.”

“Kenapa tidak ‘Byun’ ?”

“Aku belum berniat menceraikan Tuan Oh Cadel Mesum itu. Ahaha.”

“Ahaha, kau ini. Padahal aku berharap sekali.”

“Mwo?”

“Tsk! Aniya.”

“Jadi namanya-”

“Apa kau sudah bersiap?”

Sehun tiba-tiba muncul diambang pintu dengan Seri dalam gendongannya. Riri yang sedari tadi belum selesai berkutat dengan ponselnya langsung tersenyum lebar.

“Belum, yeobeo-ah,” ujarnya manja.

Sehun mendecak, melirik arlojinya sejenak, membenahi letak gendongan Seri ditangannya sebelum memberikan tatapan super malas pada istri ‘kesayangannya’,

“Nyonya Oh, sudah kukatakan sejam lagi kita harus tiba dibandara. Tapi kau,” Sehun menggeleng lelah saat melihat pakaian Riri yang belum dikemas dalam koper. Berantakan diatas tempat tidur.

“Sepuluh menit lagi, okay?” Lalu wanita itu kembali berbicara pada si penelpon yang tak lain adalah Byun Baekhyun. Lupa siapa itu Byun Baekhyun?

Baiklah sekilas perihal pria imut yang sekarang punya tubuh seksi nan menggoda itu. Jadi dia adalah penyanyi solo yang suaranya sangat merdu itu, yang dulu sempat sebal dengan kelakukan asistennya yang tak lain tak bukan adalah Riri. Lalu setelahnya ia mulai jatuh cinta tapi pada kenyataannya si asisten itu sudah memiliki tunangan. Baekhyun pun merasakan yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan. Parahnya setelah itu dia ditinggal menikah oleh sang asisten pujaan. Selesai.

“Kau bicara pada siapa sih?” Tatap Sehun curiga pada Riri yang baru mengakhiri obrolannya seputar ‘nama bayinya’ ditelpon dengan Baekhyun.

“Selingkuhan,” gumamnya sambil memasukan beberapa pakaian ke dalam koper.

“Mwo?” Sehun tak terlalu mendengar.

“Temanku tentu saja, Seri appa,” jawabnya bernada tak acuh. Suaminya itu manggut-manggut.

“Appa, palliwa. Seli sudah lelah menunggu eomma!” Seri menarik-narik rambut Appanya. Sehun hanya bisa meringis kesakitan.

“Salahkan eommamu kenapa lama sekali bersiapnya,” Sehun berusaha menjauhkan kepalanya dari jangkauan jemari mungil Seri.

“Eomma, appa salahkan eomma!” Adu Seri, Sehun langsung mendelik.

“Ne, appamu memang seperti itu, Seri-ah. Eomma kan hanya terlambat sedikit. Toh, semuanya selesai kan?” Riri menatap kopernya yang sudah terisi penuh pakaian dengan puas sementara Sehun hanya bisa mendengus malas.

“Eomma kajja!” Seri menggeliat dalam gendongan Sehun.

“Ne, kajja. Kita terbang ke Jepang!” Riri menghampiri Seri dan Sehun. Ia merentangkan dua tangannya dan disambut Seri suka cita. Balita itu dengan manja bergelung dalam gendongan Riri.

“Princess, jangan banyak gerak ne? Perut eomma nanti akan sakit,” Sehun mengusap lembut puncak kepala puterinya.

“Keokjeonghajima, kandunganku tidak apa-apa. Iya kan, sayang?” Riri mencium pipi gembil Seri sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar.

“Yaa~siapa yang bawa kopermu?” Cegah Sehun. Riri menolehkan kepalanya dan dengan senyuman lebar mengendikan dagunya ke arah Sehun.

“Tentu saja, Seri appa yang membawanya.”

“Tsk! Yak! Panggil Paman Lee, dia bisa membawanya!” Seru Sehun tak terima.

“Seri-ah, lihat appamu. Tukang perintah!” Cibir Riri membuat puterinya terkekeh.

“Eomma tidak suka suami tukang perintah. Seri juga kan?”

“Riri,” geram Sehun.

“Ne, eomma!”

“Keureotjji, apa Seri mau appa baru? Appa baik yang-”

“Geumanhae!” Seru Sehun.

“Kalau begitu cepat bawa ke mobil!” Geram Riri dengan tampang galaknya. Lalu wajahnya kembali berubah manis ketika melihat puterinya.

“Seri mau minum susu dulu?”

“Hum!”

“Okay! Kajja! Kita minta Bibi Ahn membuatkan susunya.”

Nah. . . Lalu sekarang siapa yang pantas disebut Tukang Perintah? Bukankah sama saja?

Kyoto, Jepang.

Sehun dan keluarganya baru saja tiba disana. Tepatnya di rumah ayah dan ibunya. Ya, mengingat jika Riri sudah dekat dengan bulan lahir bayi mereka, Nyonya Oh meminta Sehun membawa Riri kesana. Alasannya tentu saja, agar ada yang menjaga menantunya mengingat putera semata wayangnya itu tak bisa diandalkan. Ini adalah kehamilan pertama Riri. Nyonya Oh tak mau terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada menantu dan calon cucunya. Apalagi kandungan Riri sangat rentan bahkan diusia muda.

“Jadi sudah pikirkan namanya?” Tanya Nyonya Oh pada Riri yang kini berbenah pakaian yang baru dikeluarkannya dari dalam koper. Riri tersenyum pada ibu mertuanya sembari menggeleng pelan.

“Animnida, eommonim.”

Nyonya Oh menautkan alisnya, “Kenapa? Belum ada yang cocok?”

“Sehun sudah pilihkan beberapa nama. Tetapi tidak ada yang kusukai,” Riri menekuk bibirnya, teringat sederetan nama yang Sehun cetuskan beberapa waktu lalu setelah USG menyatakan jika bayi mereka berjenis kelamin laki-laki.

Nyonya Oh tersenyum, “Kenapa tidak suka? Namanya jelek? Bukankah nama Seri dulu Sehun yang berikan?”

“Saat itu Sehun masih waras, eommonim. Tapi ini. . .”

Dilain tempat, ruang keluarga,

“Justin, Martin, George, Sean, Peter, dan-”

“Yaak~,” potong Tuan Oh dengan raut tak suka,

“Kau pikir anakmu dari keluarga Amerika sehingga memberinya nama-nama itu,” lanjut sang ayah kesal. Sehun cemberut.

“Appa, itu nama keren. Mollaseoyo?”

“Keren kepalamu,” Tuan Oh menoyor kepala puteranya tanpa perasaan. Sehun hanya bisa mencebik.

“Pantas saja istrimu tidak suka dengan nama-nama itu. Jadi jangan salahkan dia dan mengatakan jika idemu tidak dihargai olehnya. Aigoo,” Tuan Oh menggeleng lelah.

“Tsk! Appa cuma bisa protes. Appa sendiri kenapa memberikanku nama Oh Sehun?”

“Kenapa dengan nama ‘Oh Sehun’? Nama itu bagus kan?” Ujar Tuan Oh bangga.

Sehun tersenyum miring, “Yeeah saking bagusnya, aku sampai disukai banyak wanita walau statusku sudah jadi suami ora-Aww!!”

Sehun menoleh cepat saat sebuah pukulan keras mendarat dibelakang kepalanya, “Eomma! Kenapa memukulku?” Teriak Sehun tak terima. Sementara Riri cekikikan. Sehun makin keki.

“Jaga bicaramu jika kepalamu masih ingin berada ditempatnya,” ucap Nyonya Oh tajam lalu duduk disamping suaminya.

Riri duduk disebelah Sehun dan Seri, balita itu yang sedari tadi tak menghiraukan percakapan kakek dan ayahnya kini beringsut naik ke pangkuan ibunya. Nampaknya Seri mengantuk.

“Sini sama appa,” Sehun meraih Seri dari pangkuan Riri namun balita itu menolaknya.

“Appa napun,” ujar Seri seraya menyurukan kepalanya diceruk leher Riri.

Riri menahan senyumannya melihat Sehun menekuk wajah tampannya.

“Ck! Keureom, appamu memang nakal,” sambung Nyonya Oh.

“Lihatlah, sebentar lagi puteranya lahir dia malah mengecat rambutnya jadi putih seperti itu!”

“Eomma, ini fashion. Fashion!”

“Fashion apanya. Cepat cat kembali rambutmu itu sebelum puteramu lahir. Kau mau nanti puteramu salah mengira jika kau adalah kakeknya bukan aku,” kali ini Tuan Oh yang protes.

“Arraseo,” Sehun terlihat ogah-ogahan. Melihat suaminya kena damprat sana sini, Riri malah senang sekali. Wanita itu tertawa dengan perut buncitnya. Dan tiba-tiba tawa Riri terhenti. Digantikan ringisan diwajahnya.

Wajah Sehun, Tuan dan Nyonya Oh mendadak khawatir.

“Sayang, kau baik-baik saja?”

Riri masih meringis, “Aniya, sepertinya aku. . .”

Sehun menahan napasnya. Jangan katakan jika. . .

“Lapar sekali. Aku belum makan sedari tadi,” Riri mengusap perut buncitnya dengan senyuman lebar diwajah.

“Mwo?? Aiishh! Yaak!” Teriak Sehun kesal.

Dasar. . . Membuat kaget saja.

Dua minggu kemudian. . .

Riri berjalan mondar mandir layaknya cacing yang terdampar dijalan aspal panas. Bingung cari tempat berteduh dimana sementara kulitnya melepuh disengat matahari. Okay berlebihan. Riri tentunya bukan cacing kepanasan. Dia hanya seorang wanita buncit dengan perasaan cemas yang melanda dirinya akhir-akhir ini.

Oh iya. Katanya jika sedang merasakan kecemasan, lebih baik tarik napas panjang dan hembuskan perlahan. Lakukan berulang kali hingga perasaan cemas itu hilang. Dan Riri benar-benar melakukannya.

Tarik napas, hembuskan.

Tarik napas, hembuskan.

Tarik napas, hem-

“Bisa kau berhenti?” Sehun mengangkat kepalanya dari bantal, menatap kesal istrinya yang tengah menahan napas. . .

Hembuskan. . .

“Wae?” Tanyanya dengan wajah tak acuh lalu kembali mondar mandir. Sehun mendecak seraya mendudukan dirinya.

“Kau menghembuskan napas seperti babi. Sangat berisik,” kesal Sehun.

Riri berhenti dengan acara mondar mandirnya, menatap Sehun tajam.

“Tutup saja telinga pancimu itu jika tidak mau dengar suara hembusan napasku.”

Sehun menggaruk kepala blondenya frustasi. Diliriknya jam digital didinding dan serta merta netranya membola. Kepala Sehun menoleh cepat kearah Riri yang kembali sibuk ‘mondar-mandir’, ‘tarik napas-hembuskan’.

“Sayang!”

“Ck! Wae? Apa telingamu berdarah?”

Wajah Sehun berubah datar, “Bukan itu.”

“Lalu?”

“Kau belum tidur?”

“Jadi?”

“Ini jam dua dini hari.”

“Terus?”

Bahu Sehun melemas, “Manusia seharusnya sudah tidur dijam segini.”

“Aku babi, bukan manusia.”

“Riri Oh,” geram Sehun.

“Mwo? Bukankah kau sendiri yang bilang hembusan napasku seperti babi?” Riri mencebik lalu kembali mondar mandir.

“Baiklah, baiklah Nyonya Oh Babi Riri,” dan Sehun langsung mendapat death glare mematikan dari istrinya. Sehun buru-buru mengacungkan tanda ‘V’ lewat telunjuk dan jari tengahnya. Takut mendapat amukan istri babinya.

So, apa yang membuatmu belum tidur istriku yang cantik, seksi, dan menggoda?”

“Jangan membuatku mengalami ‘morning sick‘ lagi, Tuan Oh.”

“Lalu?”

“Tsk! Sebenarnya. . . Aku hanya memikirkan bagaimana melahirkan nanti,” Riri menerawang, “Pasti rasanya sakit kan?” Lalu menatap Sehun meminta jawaban.

Suaminya itu hanya mengerjapkan matanya, tak mengerti. Riri memutar bola matanya malas.

“Yeeaah, kaum pria hanya tahu rasa enak saat membuatnya saja,” cibir Riri yang membuat Sehun tersedak ludahnya sendiri.

“Yaa~bicara apa kau. Tentu saja aku khawatir juga soal kelahiran putera kita nanti.”

Riri melipat tangannya, menatap Sehun malas, “Tapi kau bisa tidur nyenyak ditengah kekhawatiranmu. Itukah yang kau maksud?”

“Sayang~.”

“Ck! Kalau kau memang khawatir maka gantikan posisiku sekarang!”

Sehun mengeryit, “Gantikan? Maksudmu aku yang melahirkan bayinya?” Sehun menunjuk dirinya sendiri dan Riri mengangguk cepat.

Sehun menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Kemana otak istrinya sih? Dari dulu sampai sekarang bodohnya tidak hilang-hilang. Sehun terkadang harus berbesar hati menghadapi kegilaan istrinya itu.

“Sayang, dengar,” Sehun beranjak dari ranjang, menghampiri Riri yang berdiri dengan tangan bersedekap. Diraihnya tubuh Riri yang berisi itu dalam dekapannya. Diusapnya lembut perut istrinya, menyalurkan rasa cinta dan sayang pada aeginya.

“Jika bisa, aku rela menggantikan posisimu untuk melahirkan anak kita. Siapa sih suami yang tidak khawatir diwaktu menjelang istrinya akan melahirkan. Aku khawatir tentu saja. Tetapi aku berusaha untuk terlihat biasa dan kuat dihadapanmu. Agar aku bisa tetap jadi peganganmu disaat kau membutuhkannya. Jika kau merasa cemas maka kau hanya perlu katakan padaku dan sebisa mungkin aku akan berikan ketenangan dan kenyamanan untukmu dan aegi kita. Apa kau mengerti sekarang?” Sehun menangkup pipi tembam Riri sebelum mendaratkan ciuman hangatnya disana.

“Cha! Sekarang tidur ne?” Sehun menatap lembut manik mata Riri setelah melepas ciumannya.

Riri mengusap bibirnya yang basah oleh ciuman Sehun sedang wajahnya tertekuk masam, “Yaa~kenapa mencuri kesempatan dalam kesempitan eoh?”

Sehun cemberut dan berniat mencium istrinya kembali. Namun Riri langsung melepaskan diri.

Don’t touch me!”

Sehun mendecak, “Yak! Sampai kapan aku tidak boleh menyentuhmu?”

Riri naik ke atas tempat tidur, “Sampai aku mengijinkannya!”

“Kapan?” Sehun bertanya dengan nada frustasi. Yeeah, sudah tiga bulan Sehun tak ‘menyentuh’ istrinya itu dan sebagai pria normal itu sangat berpengaruh untuk kesehatan ‘adiknya’. Salahkan Riri yang selalu tak mau disentuhnya. Padahal kata Dokter Wu, mereka boleh “melakukannya”. Yang penting tahu aturan saja. Tahulah apa yang dimaksud tanda petik dalam kata melalukan dan kalian tentu tidak tahu bagaimana penderitaan Sehun sekarang.

“Tidak tahu!” Riri hendak berbaring namun urung disaat rasa sakit tiba-tiba melanda perutnya. Riri meringis kesakitan.

“Sayang!” Sehun menghampiri istrinya dengan wajah panik.

“Aakh!” Riri menggigit bibir bawahnya mencoba menahan sakit diperutnya.

“Sayang, sayang,” Sehun menangkup pipi Riri.

“Duuh! Cepat panggil ambulance!” Riri menahan kesakitan diperutnya.

“W-wae?” Keringat dingin membasahi dahi Sehun.

“Aku mau melahirkan bodoh!”

“Seri eomma, manhi apphaya?”

Riri mengangguk dengan ringisan sakit diwajahnya.

“Dimana? Dimana yang sakit?”

Riri menggigit bibir bawahnya, digenggamnya kuat jemari Sehun dan seketika air mata suaminya itu meleleh.

“Seri eomma harus kuat eoh? Aku akan disini bersamamu,” Sehun mencium dahi Riri yang sudah berkeringat lama. Lalu pria itu mengusap perut Riri lembut,

“Aegi-ya, jangan buat eomma kesakitan eoh?”

“Gwenchanha, aegi hanya ingin cepat keluar,” ujar Riri dengan napas terputus-putus.

“Seri eomma, saranghae,” Sehun menatap manik mata Riri sendu.

“Tsk! Yaa~aku akan melahirkan bukan mau menjalani operasi tumor ganas. Tidak usah berlebihan,” kesal Riri seraya melepaskan tautan jemari Sehun.

“Chagi, aku hanya khawatir. Masa kau-”

“Akkh!” Riri kembali merintih kesakitan.

“Cha-chagi!”

“Permisi,” Dr. Wu memasuki ruangan UGD yang ditempati Riri. Dokter muda itu tersenyum ramah pada Riri yang kini sibuk menahan sakitnya.

“Suster Kim, bagaimana? Semua sudah siap?” Tanya Dokter Wu pada salah satu suster yang sedari tadi sibuk menyiapkan ini dan itu.

“Ne, Dokter. Semua sudah siap. Tinggal memeriksa pasien,” jawab Suster Kim.

Dokter Wu mengangguk, “Cha~ kita lihat sudah sampai mana aeginya.”

Sehun membelalak saat Dokter Wu menyentuh kedua lutut Riri dan hendak mengangkatnya keatas, “Ya-yaak! Apa yang mau kau lakukan?!” Cegahnya panik.

Dokter Wu menatap Sehun dan Riri bergantian, “Melihat sudah mana pembukaan bayinya. Apakah sudah masuk fase tiga,” Dokter Wu sudah memakai sarung tangannya dan bola mata Sehun seperti hendak keluar saat tanpa permisi dokter kurang ajar itu/maaf/memasukan tangannya ke. . .

“Andwee!!!” Teriak Sehun kencang. Untung saja amukan Sehun tak terlaksana kala Tuan Oh masuk dan langsung menyeret puteranya itu keluar dari sana. Jika tidak maka dipastikan Sehun akan menghajar Dokter Wu hingga babak belur -__-

“Yak! Apa yang kau lakukan huh? Biarkan Dokter Wu memeriksa istrimu!”

“Appa, tidakkah appa lihat dokter sialan itu memasukan tangannya ke. . . Ke. . Aaiiisssh! Pokoknya aku harus ke dalam dan memastikan jika istriku tidak apa-apa!” Sehun hendak masuk kembali ke dalam dan Tuan Oh buru-buru menahannya.

“Itu memang tugasnya. Dia melihat sudah sampai mana bukaan istrimu,” jelas Tuan Oh jengkel.

“Ya tapi kan tidak harus memasukan tangannya ke sana. Aku saja tidak pernah memas-Akh! Yak! Kenapa appa memukulku?!” Teriak Sehun tak terima seraya mengusap kepalanya yang sakit akibat pukulan ayahnya.

“Jaga bicaramu itu. Dasar!”

“Bagaimana? Semua lancar kan?” Nyonya Oh datang dengan sebuah tas besar ditangannya berisi pakaian dan perlengkapan menantunya. Tuan Oh mengangguk lalu mengambil alih tas tersebut dari tangan istrinya.

“Mana princess eomma?” Tanya Sehun saat melihat tak ada puteri kecilnya disana.

“Seri dengan Bibi Mayu. Tadi dia menangis dan terus memanggil eommanya.”

“Kenapa tidak dibawa kesini?” Tanya Tuan Oh.

“Nanti saja setelah adiknya lahir. Aku akan suruh Pak Lee mengantarkannya.”

Sehun mengangguk setuju. Tak lama Suster Kim keluar dari ruangan.

“Tuan Oh Sehun.”

“Ya?”

“Istri anda meminta anda masuk.”

Sehun mengangguk cepat dan segera masuk ke dalam.

“Sehunie, mana Seri?” Tanya Riri begitu Sehun masuk.

Princess dirumah,” Sehun menghampiri istrinya, mengusap dahi berkeringat Riri sebelum mengecupnya lama.

“Gwenchanha?”

“Hmm, sakitnya kadang datang dan pergi,” lirih Riri seraya merangkul lengan Sehun.

“Pembukaannya baru sekitar empat sentimeter. Kemungkinan bayinya lahir sekitar dua sampai tiga jam. Tergantung kekuatan sang ibu,” jelas Dokter Wu seraya melepaskan sarung tangannya.

Sehun dan Riri melongo, “Se-selama itu?”

“Ya, persalinan pertama bisa memakan waktu sembilan sampai dua belas jam,” Dokter Wu tersenyum, “Tapi akan sangat mudah jika sudah persalinan kedua, ketiga dan seterusnya.”

“Itu lama sekali. Istriku bisa mati kesakitan. Bagaimana jika operasi saja?” Usul Sehun yang langsung dijawab gelengan kuat Riri.

“Aku mau normal.”

“Tapi chagi, kau mau menahan rasa sakitnya selama itu?”

“Itu normal bagi seorang ibu,” jawab Dokter Wu.

“Tsk! Tapi-”

“Yaak! Aku yang mau melahirkan kenapa kau yang sibuk huh?! Pergi san-aakh! Aawww!” Riri kembali merasakan sakit luar biasa.

“Lakukan sesuatu!” Teriak Sehun panik disaat Riri makin kesakitan.

“Suster Kim, sepertinya sudah masuk fase ketiga,” Dokter Wu memakai sarung tangannya kembali sementara Suster Kim menyuntikan cairan ke dalam kantung infus Riri.

Sehun terus menggenggam kuat tangan Riri sementara istrinya itu terus mengerang kesakitan.

“Seri appa,” rengek Riri.

Sehun menatap miris istrinya, “Ne, aku disini,” bisiknya lembut, berusaha menenangkan.

“Tarik napas panjang,” Dokter Wu mengkoordinir Riri untuk mengikuti intruksinya. Riri serta merta menuruti kata Dokter Wu.

“Ya, bagus. Tarik lagi,” Dokter Wu terus memberikan aba-aba pada Riri. Berselang beberapa menit setelah suntikan itu bekerja masuk ke dalam tubuh Riri, wanita itu malah semakin kesakitan. Melihatnya, Sehun makin panik.

“Kris, apa yang kau suntikan pada cairan infus istriku? Kenapa istriku semakin kesakitan eoh?!”

Dr. Wu terlihat santai dan dengan senyumannya ia menjawab, “Karena kondisi istrimu yang bermasalah dalam kehamilan pertamanya maka lebih baik jika diberikan suntikan penguat agar bayinya cepat keluar.”

“Ap-apa?!”

“Dokter, aku sud-sudah-tidak. . . Kuaa. . . Aaarrrgghh!”

“Ya, tarik napas. . . Bagus!”

Dr. Wu melihat sedikit rambut yang keluar dari jalan lahir Riri. Lalu pria itu mengambil sebuah pemotong kecil yang ujungnya menyerupai gunting.

“Seri appaaa,” panggilan Riri yang terdengar pilu membuat Sehun menitikan air matanya. Digenggamnya kuat tangan Riri.

“Ayo, kau pasti bisa. Tarik napas dan-” Sehun menghentikan kata-katanya ketika Riri menarik lengannya lalu serta merta menggigitnya ganas. Mata sipit pria itu membulat dan teriakan nyaring keluar dari bibirnya.

“Aaaaarrrrrggghhhhhhhhhhhhhh!!!”

Bersamaan dengan itu suara tangisan bayi memenuhi ruang UGD. Tangisan pertama bayi yang telah dengan selamat dilahirkan oleh Riri. Dr. Wu tersenyum, menimang bayi itu sejenak sebelum memberikannya pada Suster Kim. Sehun sendiri masih tengah kesakitan, menunduk dalam-dalam seraya menekan lengannya yang sakit luar biasa. Demi Tuhan Sehun rasa kulitnya tadi terlepas.

“Selamat bayi kalian lahir dengan sehat dan tanpa kurang suatu apapun. Jenis kelaminnya laki-laki dan-Riri! Riri!” Dr. Wu seketika berubah panik melihat Riri menutup matanya perlahan.

“Suster Kim, panggil Dr. Matsumoto! Sekarang!”

Suster Kim mengangguk dan menyerahkan bayi Sehun dan Riri pada Suster lain yang ada disana. Sehun mendapatkan fokusnya kembali dan ia dibuat makin terkejut dengan keadaan istrinya.

“Seri eomma, Seri eomma!” Sehun menepuk-nepuk pipi Riri lembut dan wanita itu bergeming.

“Sehun, kau bisa tunggu diluar dulu,” Dr. Wu menuntun Sehun untuk keluar dari ruang UGD begitu Dr. Matsumoto dan beberapa perawat lain masuk. Mereka membawa alat-alat yang entah apa Sehun tak mengerti dan mulai memeriksa istrinya.

“Kris,” lirih Sehun, matanya nanar melihat keadaan istrinya, “Kris, apa yang terjadi pada Riri? Katakan. Dia akan baik-baik saja kan?”

Dr. Wu mengangguk, “Jangan khawatir, Riri tidak apa-apa. Sebaiknya kau segera beritahu ibu dan ayahmu jika cucunya sudah lahir.”

Setelah mengatakan hal itu Dr. Wu masuk kembali ke dalam UGD meninggalkan Sehun yang kini sama sekali tak bertenaga.

“Seri eomma,” bisiknya pilu.

“Sehunie,” Nyonya Oh berlari kecil menghampiri puteranya diikuti Tuan Oh dibelakangnya.

“Eomma, appa,” air mata Sehun yang sudah luruh kembali membuat ayah dan ibunya khawatir.

“Waegeurae?” Nyonya Oh menyentuh bahu Sehun. Puteranya itu menatap pintu UGD yang tertutup sedih.

“Seri eomma, dia akan baik-baik saja kan?”

Tuan Oh tersenyum melihat cucunya laki-lakinya tengah tertidur lelap dengan mata yang benar-benar tertutup rapat. Sedangkan Seri terus menatap adik kecilnya itu penuh minat sambil sesekali berceloteh ringan pada Nyonya Oh yang tengah memangkunya.

“Seri-ah, ayo sama samchoon. Kita pulang ke rumah. Seri lelah kan?” Eunhyuk yang baru datang siang tadi dari London kembali membujuk keponakannya untuk ikut pulang bersamanya dan lagi-lagi bujukannya gagal.

“Shileo, samchoon. Seli masih ingin lihat adik.”

Eunhyuk menghela napas panjang, “Baiklah. Lima menit okay?”

Seri tak menyahut dan kembali mengamati rupa adiknya. Sepertinya Seri terlalu bahagia karena bisa melihat aegi secara langsung sekarang. Kalau dulu kan ia hanya bisa bicara dari perut ibunya yang menggembung. Lagipula adiknya sangat lucu dan imut seperti boneka Olaf kesayangan Seri.

“Paman, bibi, kalau begitu aku mau melihat Riri sebentar.”

Tuan dan Nyonya Oh tersenyum lalu mengangguk bersamaan. Setelahnya Eunhyuk pergi dari sana menuju kamar rawat Riri. Kebetulan letaknya tak jauh.

Eunhyuk mendapati Sehun tengah tertidur dengan posisi telungkup dipinggir ranjang Riri. Sedang sepupu kesayangannya itu masih tak sadarkan diri pasca melahirkan bayinya lima hari lalu. Eunhyuk mengamati dengan sedih keadaan sepupunya itu. Lalu perlahan diusapnya lembut punggung telapak tangan Riri yang dibalut infus.

“Hei, yeodongsaeng. Kapan kau akan sadar eoh? Tidakkah kau ingin melihat bayimu? Kau tahu, dia sangat tampan dan. . . Wajahnya sangat mirip denganmu,” Eunhyuk menelan ludahnya pahit sebelum menundukan kepalanya dalam-dalam.

“Kumohon sadarlah.”

“Sudah temukan nama yang cocok?” Tuan Oh cukup mengejutkan Sehun yang tengah melamun. Pria itu terlihat kusut dengan puteranya yang tertidur nyaman dalam dekapannya. Sehun menatap ayah dan puteranya bergantian.

“Ajik,” gumamnya.

Tuan Oh duduk disebelah Sehun. Jemarinya mengusap lembut puncak kepala cucunya.

“Bagaimana dengan Jirou?” Tanya Tuan Oh kemudian.

Sehun menautkan alis tebalnya, “Ji. . . Jirou?”

“Ya, Oh Jirou. Namanya Oh Jirou, putera kedua atau anak kedua dari Oh Sehun. Ayah pikir itu akan cocok.”

“Oh Jirou. . . Oh Jirou,” Sehun menggumam seraya mengamati wajah tertidur Jirou. Tak lama senyuman tipis menghiasi bibirnya.

“Ya, kupikir juga itu nama yang cocok.”

Tuan Oh mengangguk lalu menepuk bahu Sehun pelan, “Kalau begitu segera beritahu istrimu. Katakan namanya adalah Oh Jirou. Putera kedua kalian.”

Dahi Sehun mengerut sementara manik kelamnya menatap Tuan Oh bingung, “Riri. . . Apa dia-”

Tuan Oh mengangguk cepat, “Sebenarnya tadi ayah kesini untuk membetitahumu jika-Yak! Oh Sehun!”

Ya, Sehun secepat kilat menuju kamar rawat Riri dengan Jirou dalam dekapannya. Ia ingin memastikan sendiri jika istrinya, Seri eomma, Jirou eomma sudah siuman.

Dan benar sekali, Sehun langsung disambut senyuman dimple manis milik kesayangannya itu saat dirinya tiba diambang pintu.

“Eoh, Sehun-ah,” Luhan, sepupu Sehun, yang ada disana pun melihatnya. Pria itu menghampiri Sehun dan menarik lengannya agar masuk ke dalam.

“Istrimu sudah siuman. Sekarang kau jangan menangis lagi ne?” Goda Luhan yang malah tak digubris Sehun. Pria itu terus menatap Riri dengan sedih dan tangisannya pecah begitu Riri mengulurkan tangannya.

“Seri appa, boleh aku melihat bayi kita?”

End

 

Advertisements

6 responses to “[Freelance] Ma Baby Boy

  1. Waaa, Se-Ri kopel balik lagi 😆😆 seneng deh ama mereka. Akhirnya mereka punya anak beneran yakk. Chukaee!! Si sehun makin kesini makin absurd aja deh otaknya 😆 istrinya mau nglahirin aja masih kebingungan wkwk. Ahh aku kira riri kenapa kenapa 😌 untung aja seht yakk. Ditunggu kelanjutan oh family lagi yakk eonni 😊

  2. se-ri couple balik lagiii yeeeaayyy, ini end atau tbc kahh<< ada lanjutannya lagi kan hehehe,

    kayanya aku ada yag ketinggalan dehh. soalnya aku bingung dari mna asal usul seri heheh soalnya katanya itu kehamilan pertama riri trus seri nya dari mana wkwkwk.
    oke lahh aku cari tau sndr nnti,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s