[CHAPTER 8] SALTED WOUND by Heena Park

salted-wound-cover

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD. And thanks to Byun Hyunji for this awesome poster!

.

.

Prev :

TEASER

CHAPTER 1

CHAPTER 2

CHAPTER 3

VIDEO TRAILER

CHAPTER 4

CHAPTER 5

CHAPTER 6

CHAPTER 7

.

 

Hee-Ra tak percaya melakukan ini, ia berdiri di depan kaca, memandang penampilannya yang begitu berbeda. Ia mengenakan dress merah marun selutut, rambutnya digerai, tapi ia tak menggunakan heels, melainkan sepatu kets. Semoga saja Se-Hun tidak protes, setidaknya pria itu harus memahami keadaannya, bukan?

 

Ia meraih dompet bewarna hitam gemerlap dan menggenggamnya, kemudian keluar kamar. Sosok Se-Hun terlihat sedang duduk di sofa, asik berbincang bersama sang ayah dan ibu. Hee-Ra menunduk sejenak, hatinya terasa hangat, ia bisa merasakan keakraban mereka.

 

“Oh, Shin Hee-Ra?”

 

Suara Kang So-Hee yang pertama menyadarkan Shin Jae-Woo dan Se-Hun. Sontak kedua pria itu berdiri, menatap Hee-Ra dari bawah ke atas. Rupanya gadis kecil nan manja itu telah berubah menjadi sosok yang begitu cantik luar biasa, pikir Se-Hun.

 

“Maaf aku tak bisa menggunakan high heels, kurasa kakiku ak—”

 

“Tak apa, kau sempurna,” sanggah Se-Hun sebelum Hee-Ra mengakhiri kalimatnya.

 

Tanpa Hee-Ra sadari, beginilah sifat asli Se-Hun. Seorang pria yang menerima dia apa adanya, tak peduli bagaimanapun gaya atau keadaan Hee-Ra, Se-Hun selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Hee-Ra sempurna. Andai gadis itu tahu.

 

Pipinya merona setelah mendengar pujian Se-Hun, Hee-Ra menyampirkan poni panjangnya ke belakang telinga. “Kita berangkat sekarang?” tanyanya mengalihkan perhatian.

 

Se-Hun mengangguk, ia mendatangi Hee-Ra dan menggenggam tangan gadis itu, menuntunnya agar bersedia mencengkeram lengan Se-Hun. Mereka berjalan bersama ke mobil, sementara Shin Jae-Woo dan Kang So-Hee mengikuti dari belakang.

 

Sebelum berangkat, Se-Hun berhenti dan berbalik untuk sekedar meminta izin. Serius, mereka tidak kelihatan seperti kakak adik, bukan? Se-Hun layaknya seorang kekasih yang datang dan meminta izin pada orang tua si gadis untuk mengajaknya keluar.

 

“Berhati-hatilah di jalan,” kata Shin Jae-Woo mewanti-wanti.

 

“Kami akan pulang sebelum jam dua belas.”

 

Kang So-Hee menggeleng. “Tak apa, kalian bisa pergi lebih lama. Kurasa sebagai kakak dan adik, kalian tidak memiliki waktu yang cukup untuk saling mengenal selama empat tahun ini.”

 

Hee-Ra membulatkan matanya, yang benar saja! Ia harus berlama-lama dengan Se-Hun? Tidak. Pokoknya sebelum jam dua belas ia akan memaksa Se-Hun untuk pulang atau ia akan pulang sendiri.

 

“Baiklah, kami pergi dulu,” ucap Se-Hun akhirnya.

 

Mereka masuk ke mobil. Se-Hun mengendarai dengan santai, namun sampai saat ini Hee-Ra belum tahu siapakah gerangan teman Se-Hun yang menikah, atau di manakah tempatnya. Ia benar-benar buta informasi saat ini.

 

Empat puluh menit berlalu, mereka masuk ke salah satu hotel bintang lima di kawasan London. Se-Hun langsung menuju ke tempat parkir, dan begitu mematikan mesin, ia lantas keluar terlebih dahulu kemudian membukakan pintu untuk Hee-Ra.

 

Ia tak terbiasa menerima sikap manis dari Se-Hun, terasa aneh dan berbeda, tidak seperti Se-Hun yang biasanya. Tapi toh bukankah dengan begini akan lebih menguntungkan?

 

Hee-Ra keluar dari mobil dan berjalan bersama Se-Hun. Mereka telah disambut oleh pegawai hotel dan diberitahu supaya langsung menuju ke lantai sepuluh, tempat  pernikahan dilangsungkan.

 

Begitu keduanya memasuki ruangan, sontak Hee-Ra dan Se-Hun menjadi pusat perhatian. Kepopuleran Se-Hun sebagai pengusaha muda yang sukses membuatnya begitu digandrungi banyak wanita. Hee-Ra yakin di ruangan ini setidaknya ada lima orang gadis yang memiliki perasaan pada Se-Hun.

 

“Siapa dia? Apa mungkin kekasih baru Se-Hun?”

 

Bisikan sekumpulan gadis di kanan Hee-Ra membuatnya risih. Mereka bahkan secara terang-terangan membicarakan Hee-Ra. Ugh, mengesalkan sekali.

 

Bukannya menjelaskan, Se-Hun malah menyelipkan tangannya di antara pinggang dan lengan Hee-Ra, kemudian menarik gadis itu agar lebih menempel padanya dan berbisik, “Bukankah menyenangkan dibicarakan oleh para gadis yang iri terhadapmu, sayang?”

 

Bulu kuduknya berdiri, sosok Se-Hun telah kembali menjadi bayang hitam seperti sedia kala. Pria itu tersenyum licik kepada Hee-Ra, berusaha memberi tanda pada siapapun yang melihat bahwa gadis itu miliknya.

 

“Oh Se-Hun, kau datang?”

 

Keduanya menengok bersamaan, sementara dari ujung sana seorang pria berambut cepak menghampiri. Kalau dilihat-lihat dari gayanya, dialah pengantinnya.

 

Se-Hun menjabat tangan pria itu. “Aku tidak mungkin melewatkannya,” ujarnya.

 

“Kudengar ada sedikit keributan dari sini, rupanya kau datang bersama…” Ia memandang Hee-Ra penuh tanya, berharap Se-Hun melanjutkan ucapan yang sengaja ia gantung.

 

“Kekasihku.”

 

Bravo!” Pria itu bersorak senang, berbeda dengan Hee-Ra yang memicingkan mata, sekali lagi Se-Hun mengenalkan dirinya sebagai kekasih dan bukannya adik.

 

Pria itu meraih tangan Hee-Ra dan menggenggamnya. “Bersiaplah untuk mendapat tatapan sinis dari para gadis di sini,” ia berhenti sebentar. “Tapi jangan dengarkan omongan mereka, kau tahu? Mereka hanya iri karena tak seberuntung dirimu yang bisa mendapatkan Se-Hun.”

 

Beruntung? Apanya yang beruntung?

 

Se-Hun hanya tersenyum mendengar perkataan Ray untuk Hee-Ra. Sebelum gadis itu mulai panas dan memilih untuk pergi, Se-Hun mengalihkan pembicaraan. “Aku punya hadiah untukmu, Ray.”

 

Pria yang dipanggil Ray barusan mengerutkan kening. “Hadiah untukku atau untuk gadis-gadis yang menggandrungimu?”

 

“Oh ayolah.” Se-Hun tertawa, ia melepaskan cengkeramannya dari pinggang Hee-Ra. “Tunggu di sini sebentar, kau tidak boleh lari lagi, sayang,” bisiknya parau.

 

Sesaat kemudian Se-Hun telah berjalan bersama Ray menuju ke panggung. Namun sebelumnya, Se-Hun sempat menghampiri pengantin wanita dan menyalaminya. Ray memilih untuk menemani sang istri dan membiarkan Se-Hun melanjutkan sendiri. Ia berdiri di atas panggung, meminjam saxofone dan teriakan para gadispun mulai terdengar.

 

Mereka memanggil-manggil nama Se-Hun, bahkan sebelum pria itu mengeluarkan nada dari alat musiknya. Jujur saja Hee-Ra agak kesal, apakah mereka harus sehisteris itu?

 

Se-Hun mendekatkan mulutnya ke microphone dan mulai bicara, “Untuk gadis bergaun merah marun yang tengah menatapku dingin di sana, kuharap kau menyukainya.”

 

Lalu ia mulai menjauh dari michropone dan memainkan saxofone itu. Sebuah nada nan indah mengalun, teriakan-teriakan dari para gadis berisik itu perlahan menghilang berganti sunyi di mana mereka tenggelam dalam keindahan.

 

Se-Hun memainkan Loving You milik Kenny G dengan begitu indah. Hee-Ra bahkan tak pernah tahu kalau Se-Hun bisa memainkan alat musik. Ada perasaan menyesal dalam hatinya, kalau saja ia tak selalu sibuk membenci Se-Hun, kalau saja Se-Hun bukanlah pembunuh, hidup memang kadang tak berjalan sesuai keinginan.

 

 

 

Sesekali Hee-Ra mendapati Se-Hun tengah melirik ke arahnya sambil terus memainkan saxofone.  Di bawah sinar temaram lampu bewarna-warni serta keheningan yang menyelimuti, alunan nada seolah merasuki jiwa Hee-Ra, membuatnya terlena dan terpesona.

 

Tidak-tidak!

 

Hee-Ra tak boleh terlena. Ini hanya kamuflase. Se-Hun bukan orang baik-baik, ia tidak boleh memberikan sedikitpun celah bagi Se-Hun. Pokoknya Hee-Ra harus menutup rapat-rapat hatinya untuk memberikan maaf.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kau mau kopi?” tawar Se-Hun.

 

Mereka berhenti di pinggir jalan, tepat di depan sebuah mesin pembuat kopi.

 

“Boleh,” jawab Hee-Ra singkat.

 

Se-Hun langsung keluar dari mobil untuk membeli dua cup kopi panas. Selama di pesta maupun perjalanan keduanya tak banyak bicara. Mungkin Hee-Ra sedang berusaha untuk tak berdebat dengan Se-Hun, mengingat betapa egoisnya pria itu.

 

Sementara Se-Hun sibuk menunggu kopi, Hee-Ra yang mulai bosan-pun melihat-lihat keadaan dalam mobil. Cukup rapi—tidak—tapi sangat rapi. Baunyapun juga wangi, ada sebuah tempat sampah kecil bewarna abu-abu di belakang.  Hee-Ra mengusap dashboard, tidak ada debu sedikitpun. Rupanya Se-Hun adalah pria yang bersih dan disiplin, cukup sulit mencarinya di abad ini.

 

Dari tadi mobil terasa kosong karena Se-Hun tak menyalakan musik. Sayangnya Hee-Ra tak menemukan kaset di dekat pemutar musik, iapun berinisiatif untuk membuka dashboard, siapa tahu Se-Hun menaruh koleksi lagunya di sana.

 

Namun, berbeda jauh dari ekspektasi. Setelah merogoh dan mengeluarkan semua barang dari dashboard, Hee-Ra hanya mendapatkan empat barang. Sebuah pisau, dua kain dan sebuah kapak kecil, di salah satu kain terdapat bercak merah, cukup banyak, hampir setengah kain.

 

Untuk apa Se-Hun menyimpan benda-benda ini?

 

Dan kenapa salah satu kain yang ada di tangannya kelihatan memiliki bercak merah?

 

Apa Se-Hun terluka?

 

Tidak! Hee-Ra seribu persen yakin kalau Se-Hun baik-baik saja. Lalu semua benda ini untuk apa? Mungkinkah Se-Hun?

 

Tubuhnya bergetar, Hee-Ra melirik ke arah Se-Hun sebentar dan segera megembalikan barang-barang tadi. Pikiran tentang kemungkinan bahwa Se-Hun masih terjebak pada kebiasaan lamanya tiba-tiba menghantui Hee-Ra.

 

Kalau Se-Hun memang masih seperti itu, bagaimana kalau malam ini ia akan membunuh Hee-Ra? Terlebih lagi mereka hanya berdua. Duduk bersampingan dalam satu mobil, pasti Se-Hun bisa membunuhnya dengan mudah.

 

Hee-Ra tidak mau hal itu sampai terjadi. Ia memikirkan cara apa yang sekiranya bisa mengurangi kemungkinan untuk Se-Hun membunuhnya malam ini.

 

Klekk

 

Pintu mobil terbuka. Pria itu menyodorkan satu cup kopi panas pada Hee-Ra. “Minumlah.”

 

Hee-Ra tahu kalau ia menolak akan membuat Se-Hun curiga, makanya dengan cepat Hee-Ra langsung menerima uluran kopi dari Se-Hun.

 

“Habiskan saja dulu, setelah itu kita baru pulang,” ujarnya kemudian menyesap kopi tersebut.

 

Hee-Ra bergidik ngeri. Jangan-jangan setelah menghabiskan kopi ini ia akan pingsan dan Se-Hun dengan leluasa bisa membunuhnya.

 

Tidak, Hee-Ra tidak mau.

 

Sebersit harapan muncul. Hee-Ra meraih ponselnya dan mencari kontak telepon Jong-In kemudian menghubunginya. Ia memutuskan untuk mengobrol dengan Jong-In sampai mereka tiba di rumah. Dengan begini, kalau Se-Hun berani macam-macam, Jong-In akan mendengarnya.

 

Halo..Kim Jong-In?” suara lirih nan putus-putus Hee-Ra terdengar. Ia melirik ke arah Se-Hun yang masih asik pada kopinya.

 

“Kau belum tidur? Kenapa menelepon malam-malam?”

 

“Aku masih di jalan, sebentar lagi akan pulang.”

 

“Oh? Bersama?”

 

“Kakakku.”

 

Merasa disebut, Se-Hun menengok ke arah Hee-Ra dan tersenyum tipis. Gadis itu sepertinya tidak berniat untuk menghabiskan kopi sekarang. Jadi sebaiknya mereka langsung pulang saja.

 

Se-Hun menyalakan mesin mobil dan mulai mengemudi, sementara Hee-Ra terus mengobrol dengan Jong-In selama di perjalanan. Menyebalkan sekali.

 

Tepat di depan gerbang Hee-Ra mematikan ponselnya, kesempatan ini tentu tak disia-siakan oleh Se-Hun. Pria itu mematikan mesin mobil namun tetap mengunci pintu.

 

“Apa yang kau lakukan?” Rasa takut yang coba ia tahan akhirnya keluar. Apakah Se-Hun akan membunuhnya di sini? Di depan rumah?

 

“Hanya mematikan mesin, apa ada yang salah?” tanyanya dingin.

 

“Aku akan ke—”

 

“Jangan keluar.”

 

Seolah tak mendengar ucapan Se-Hun, Hee-Ra terus bergerak. Ia melepas seatbealt dan menekan kunci pintu. Namun Se-Hun dengan cekatan menggenggam tangan kiri Hee-Ra, menahan agar gadis itu tidak keluar.

 

“Sudah kukatakan padamu agar tidak keluar!” Se-Hun membentak dengan keras. Rahangnya menegang, sorot matanya berkata seolah ia ingin menerkam Hee-Ra saat ini juga.

 

Hee-Ra berusaha melepaskan cengkeraman Se-Hun dari tangannya. “Lepaskan aku, Oh Se-Hun!”

 

“Ya, begitu, teruslah melawanku sayang. Semakin kau melawan, semakin aku kasar. Apa susahnya untuk duduk dan diam bersamaku?!”

 

“Lepaskan aku brengsek!” Hee-Ra semakin berontak. Berkali-kali ia mendorong Se-Hun agar menjauh, namun pria itu makin berani. Ia mencondongkan badan dan mendorong kursi Hee-Ra ke belakang, kemudian menindih gadis itu, mencengkeram kedua lengannya di atas kepala.

 

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu!”

 

“Kenapa? Kenapa kau terus menyiksaku? Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja kalau itu yang kau inginkan? Kenapa?!”

 

Se-Hun mengerutkan keningnya. Telinganya barusan tidak salah dengar, kan?

 

“Aku tahu kau ingin membunuhku! Aku tahu kau membawa pisau dan kapak dalam mobilmu! Kenapa kau tidak membunuhku dari dulu? Kau brengsek!”

 

Sebutir cairan bening menetes begitu saja melewati lembutnya pipi Hee-Ra. Hatinya mencelos, bagaimana Hee-Ra bisa tahu kalau Se-Hun menyimpan pisau dan kapak di dalam mobilnya?

 

Ia tertawa getir, masih tak berniat melepaskan cengkeramannya dari tangan Hee-Ra. “Rasa ingin tahumu yang terlalu besar itu bisa saja membawamu dalam bahaya, sayang. Dan siapa yang memperbolehkanmu membuka-buka mobilku?”

 

Apakah Se-Hun akan membunuh Hee-Ra sekarang? Kenapa ia tersemyum licik seperti itu?

 

“Kau harus mendapatkan hukuman karena berani bertindak sesukamu.”

 

“Tidak, jangan sentuh aku atau aku akan berteriak!”

 

Mendengar ancaman Hee-Ra semakin membuat Se-Hun senang. Ia tertawa begitu keras. “Kau bodoh atau bagaimana? Jelas-jelas aku sudah menyentuhmu sejak tadi, little girl.”

 

Sialan, Se-Hun telah menguasainya. Ingin sekali Hee-Ra melayangkan pukulan keras pada Se-Hun hingga laki-laki itu terbentur ke kaca.

 

Seharusnya Hee-Ra tak memutus panggilannya dengan Jong-In sampai ia benar-benar menginjakkan kaki di teras.

 

“Jadi, sebaiknya kita mulai dari mana? Pasti akan menyenangkan menyiksamu secara perlahan. Bagaimana?”

 

Tangisannya semakin menjadi, namun Hee-Ra berusaha untuk menahannya. Kalau memang ini adalah saat terakhirnya untuk bisa menatap dunia, semoga keluarganya dan Jong-In selalu dilindungi dari pria brengsek di hadapannya ini.

 

Hee-Ra menutup matanya, ia bisa merasakan deru napas Se-Hun yang berjarak tak lebih dari sepuluh centi darinya. Mimpinya untuk menjadi penari terbaik dunia mungkin memang harus dilepaskan. Ia akan mati di tangan Se-Hun—kakak yang dulu pernah ia cintai.

 

Melihat Hee-Ra begitu pasrah, Se-Hun berdehem senang. Ia semakin mendekatkan kepalanya ke leher Hee-Ra. Meniup setiap jengkal leher gadis itu pelan, dan berakhir dengan satu kecupan lama di leher Hee-Ra.

 

Begitu lama dan mendamba, Se-Hun tak bergerak. Ia hanya mengecup di satu bagian dan sesaat kemudian menjilatnya pelan, meninggalkan bekas kemerahan di sana.

 

Setelah puas pada perbuatannya, Se-Hun mengangkat kepala dan mendekat ke telinga Hee-Ra, lantas berbisik pada gadis itu, “Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Aku memang jahat, tapi aku tak akan pernah melukaimu, karena kau adalah milikku, Shin Hee-Ra.”

 

Benarkah ucapan Se-Hun barusan?

 

Hee-Ra menelan salivanya dengan susah payah. Ia bisa merasakan ciuman hangat Se-Hun pada lehernya, juga bisikan yang begitu lembut bak angin tadi.

 

Hee-Ra membuka matanya, wajah tampan Se-Hun langsung menjumpai. Pria itu tersenyum seolah ia tak pernah melakukan kesalahan apapun. Lelaki yang begitu polos dan menawan, pembunuh berwujud malaikat.

 

Hee-Ra hendak berkata, tapi Se-Hun sudah lebih dulu menempelkan bibirnya pada bibir Hee-Ra. Melumatnya lembut sambil memainkan lidahnya di sana. Berusaha menerobos masuk untuk beradu dengan Hee-Ra, namun gadis itu tak memperbolehkan. Ia hanya terdiam, masih terkejut pada ciuman kilat barusan.

 

Sampai akhirnya Se-Hun melepaskan tautannya. Ia menangkup kedua pipi Hee-Ra sebentar dan mengusapnya. “Aku akan melindungimu Shin Hee-Ra, tak peduli berapa kali kau menolakku.”

 

TO BE CONTINUED

Advertisements

83 responses to “[CHAPTER 8] SALTED WOUND by Heena Park

  1. Emang pada dasarnya mereka lebih cocok jadi pasangan kekasih ketibang jadi saudara. Hahaha siapa yang gak takut Hun kalo liat benda tajam berlumur darah di mobil

  2. Gak ngerti sama perasaan Se Hun 😫… Dia sayang Hee Ra, tapi sering nyakitin Hee Ra juga?
    Wah, makin penasaraaan… Aku lanjut baca, Kaak.. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s