Gone #Oneshot ~QueenX~

GONE

 bts-ff-freelance-gone-oneshot

Author

QUEENX

 

 

Genre : SAD

 

Length : Oneshot

 

The Cast :

(OC)

KIM TAEHYUNG

 

Rating : Teen

 

Disclaimer : PLOT & OC BELONGS TO ME BUT BTS MEMBERS BELONGS TO THEIR FAMILY

### SEJUNG NEW STORY ALERT!!! CLICK HERE ###

 

 

.

“How am I supposed to erase you alone and live.” – JIN_GONE

.

 

 

 

All in Author’s POV

 

In that space where memories linger

Still as warm on my fingertips

You are here, here

Your scent, your face

“Selamat pagi Kim Taehyuuuung!”

“Astaga, bisa tidak kau membangunkanku dengan cara yang sedikit normal, huh?”

“Tidak bisaaa, cepatlah bangun dan ayo kita sarapan!”

“Aish, aku masih mengantuk Naya. Kau sarapan sendiri saja sana!”

“Tidak mau! Kita harus sarapan berdua!”

“Aku masih mengantuk! Nanti saja sarapannya.”

“Baiklah kalau kau tidak mau.”

“Baguslah, pergi dan—YAAAK! Naya apa yang kau lakukan!?”

“Cepat bangun dan ayo sarapan!”

“Jangan hahahaha, yak! Hahahahaha, hentikan, hahahaha ampun Naya, ampuuun! Baiklah hentihahahahaha.”

“Jadi, mau sarapan sekarang?”

“Baiklah, tapi…”

“Tapi a—”

“Muach! Aku harus mendapatkan morning kissku lebih dulu, hahahaha. Ayo siapa yang lebih dulu ke meja makan, dialah pemenangnya!”

“Kim Taehyuuuung! Awas kau ya!”

Please, look at me, look at me, look at me

I can feel you, like this, feel you, feel you

Struggling to catch your expressions

Struggling to catch your smiles

“Mengapa kau murung begitu Naya? Kau bahkan tak menyentuh makananmu sama sekali. Apa perlu kau kusuap?”

“Tidak mau, Taehyung-ah. Aku sedang tak berselera untuk makan.”

“Tapi kau belum makan sejak siang kata bibi Jung.”

“Serius aku tidak lapar Taehyung-ah!”

“Kau harus tetap makan meski kau tidak mau.”

“Tapi—”

“Setidaknya makanlah untuk bayi di dalam kandunganmu.”

“Taehyung-ah…”

“Ya?”

“Aku takut.”

“Takut?”

“Bagaimana jika…jika aku tak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kita kelak?”

“Maka masih ada aku yang akan membantumu menjadi ibu yang baik untuknya. Bukankah sepasang suami istri akan saling membantu dan melengkapi satu sama lain?”

You, who I struggled to understand

In the place where we were together

In the moment where I resembled you

When it felt too good being soaked in the rain

You are gone, gone

“Ta-Taehyung…”

“Ya, Naya? Aku disini.”

“Taehyung…aku—”

“Tidak apa-apa Naya, tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja.”

“Taehyung, jangan tinggalkan aku, kumohon.”

“Aku akan selalu bersamamu Naya, jangan takut. Pegang tanganku dengan erat, aku tidak akan pernah melepaskannya.”

How am I supposed to erase you alone and live

In those moments where we once walked together

Like that, the things we made beside each other

“Ia meninggalkanku, ia berbohong kepadaku.”

“Tidak sayang, Taehyung selalu bersamamu.”

“Jika ia bersamaku, ia tidak akan meninggalkanku ibu, dia tidak akan membiarkanku mengurus bayi ini sendirian, ia yang berjanji untuk menemaniku, ia yang berjanji untuk tidak melepaskan genggaman tangannya. Tapi dia…dia melepaskannya bu, dia melepaskanku.”

“Jika ia tidak melepaskanmu, kau dan bayimu tidak akan selamat Naya. Kau juga akan—”

“Biar saja aku jatuh ke dalam jurang! Asal itu bersama dengan Taehyung, bu! Mana bisa aku hidup tanpanya!? Aku tidak bisa, bu. Setiap kali aku mendengar tangisan bayiku, setiap saat bayiku menatapku dengan senyumannya, aku teringat Taehyung, bu. Aku ingin Taehyung juga berdiri di sampingku, melihat perkembangan bayi kami bersama denganku!”

“Sayang…”

“Dia, dia terus mengatakan hal-hal manis padaku, dia mengajariku banyak hal, dia mengajariku untuk hidup tanpa mengeluh, dia mengajariku untuk mengerti apa arti dari sebuah kehidupan, ia mengajariku untuk hidup tanpa harus bergantung pada ayah dan ibu lagi, tapi ada satu hal yang tidak pernah ia ajari padaku, karena aku sudah terlalu terbiasa hidup dengannya, ia bahkan sampai lupa mengajari bagaimana jika suatu saat nanti aku hidup tanpa dirinya, bu. Ibu, bisakah kau rasakan, betapa tersiksanya hidupku tanpa dirinya, bu?”

Even the memories, even those regrets

Lingered there with me, missing you so much

Please, look at me, look at me, look at me

As ever, I can feel you, like this, feel you, feel you

Merely resembling your words

Merely resembling your smiles

Merely resembling you

“Ibu, apakah ayah tampan?”

“Tentu saja, ayahmu adalah pria paling tampan di dunia ini. Ah, setelah dirimu tentunya.”

“Apakah ayah menyayangiku, bu?”

“Tentu saja, ia menyayangimu lebih dari apapun.”

“Ibu, kau bilang, kau akan menunjukkan foto ayah padaku saat usiaku sudah tujuh tahun. Sekarang usiaku bahkan sudah sembilan tahun, bolehkah aku melihat wajah ayah, bu?”

“Kau sangat mirip dengan ayahmu Taehyung-ah. Bahkan namamu sama dengan nama ayahmu, Kim Taehyung. Lihatlah, ini adalah album foto ibu dan ayahmu saat kami menikah dulu.”

“Wah, iya…ayah sangat tampan. Pantas saja ibu sangat mencintai ayah.”

“Bu…”

“Ya, sayang?”

“Aku ingin bertemu dengan ayah. Meski itu hanya sekali. Meski itu hanya di dalam mimpi. Aku ingin menyampaikan sesuatu pada ayah.”

“Apa yang ingin kau sampaikan pada ayah, sayang?”

“Aku ingin berterima kasih pada ayah karena telah memberikan ketampanannya untukku, aku ingin berterima kasih pada ayah karena telah menjaga ibu hingga ibu melahirkanku. Dan aku akan berjanji pada ayah, bahwa aku, Kim Taehyung, mulai hari ini, besok dan seterusnya akan menjaga dan menyayangi ibu lebih dari yang ayah lakukan. Aku juga tidak akan membiarkan ibu bersedih lagi. Aku sayang ibu.”

In the place where we were together

In the moment where I resembled you

When it felt too good being soaked in the rain

You are gone, gone

How am I supposed to erase you alone and live

When I miss you so much

“Ibu, ini aku Kim Taehyung. Apa kabarmu, bu?”

“Setelah kau kembali ke kota. Kondisi kesehatan ibumu kembali menurun, ia bahkan sudah tertidur selama tiga hari lamanya.”

“Suster, kau bisa pergi sekarang. Jika aku membutuhkanmu, aku akan memanggilmu.”

“Baik, Tuan.”

“Bu, aku pulang, bu. Kumohon bangunlah sebentar saja, bu. Aku membawakan sesuatu untukmu. Lihatlah ini bu, aku sudah menyelesaikan pendidikanku. Lihatlah, bu, ini adalah undangan untuk orang tua, undangan wisuda kelulusanku bu.”

Your name, which I was barely allowed to speak, can’t be erased

My name, only used by you, is asleep here

In the place where we were together

In those moments where we could’ve walked together

I’m holding onto myself alone

In this place, even our future, my wishes have stopped

I’m standing here and you are gone

Taehyung berdiri di depan makam ayah dan ibunya masih dengan mengenakan pakaian kelulusan dan toga di kepalanya. Ia kemudian menundukkan kepalanya, membiarkan toganya terjatuh diikuti dengan lututnya yang melemas kemudian terduduk di depan makam ayah dan ibunya.

Taehyung mati-matian menahan air matanya, hari ini adalah hari yang harusnya membahagiakan untuk dirinya dan keluarga kecilnya, tapi ia kehilangan kebahagiaannya yang sesungguhnya. Terlahir tanpa didampingi seorang ayah, merasakan perayaan kelulusan tanpa didampingi ayah dan ibunya, rasanya tidak ada artinya lagi Taehyung hidup di dunia ini.

Taehyung mencoba menjadi pria yang kuat dan tegar, itu demi ibunya. Taehyung tak ingin lagi melihat ibunya menangis mengingat ayahnya sepanjang malam saat ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak, namun ketika Taehyung berhasil membuat ibunya menghapus kesedihannya, kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba saja, saat Taehyung sedang menempuh pendidikan di kota bersama dengan teman-teman sepermainannya, ia mendapatkan kabar dari neneknya jika ibunya jatuh sakit dan terserang stroke.

Hati Taehyung hancur bukan main, setiap minggunya ia harus pulang pergi ke desa demi memantau kondisi ibunya, ia bahkan beberapa kali menunda sidang akhirnya demi menjenguk ibunya, hingga akhirnya ibunya menghembuskan napas terakhir pada hari dimana harusnya ibunya bisa melihat Taehyung dengan pakaian kelulusannya.

Bukankah roda kehidupan memang seperti itu? Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti, begitu pula dengan kehidupan dan kematian.

“Bu, kau mengajariku hidup dengan baik tanpa ayah. Tapi mengapa kau tidak mengajari bagaimana caraku hidup dengan baik setelah kau meninggalkanku?”

F I N

SORRY FOR TYPO(s)

Advertisements

6 responses to “Gone #Oneshot ~QueenX~

  1. Awww!!! Ini menyentuh banget suerrr. Iya, hidup emang ga semulus planning, ada bahagia jg lara *hikss
    Ngenes banget yg jd little Taehyung, sebegitu kerasnya berjuang demi ibunya ehh malah ikutan nyusul Tehyung. Padahal kan ini awal masa depannya little Taehyung, senggaknya diulur dulu kek biar little Taehyung ada semangat idupnya buat nerusin hidupnya. Kalo udah kaya gini kan malah bikin down duluan huhuuu
    Okay ka, serius ini bikin meler mata gue wkwk perjalanan singkatnya bener2 ngasih banyak pelajaran banget buat idup huhuu
    Thanks berat ka pagi2 dibikin baper, next karyanya ditunggu^^

  2. Hihihihi,memang perjalanan hidup itu ga seindah apa y kita pikirkan,y pling mxentuh adahal saat taec bilang “ibu belum mengajariku,bgmn mnjlani hidup tanpa kehadiranmu” (kata2x ga sama tpi ini y dpt aku tangkap)pengen mewek 😦 😦 😦 😦

  3. Huwaaaa, asli ini feelnya dpt bgt pengen mewek kan jadinya. Jadi pengen pulang dan ketemu ibu, kata2nya ngalir bgt dan sekali baca ga bisa berhenti. Pokoknya ini menyentuh bgt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s