[CHAPTER 9] SALTED WOUND BY HEENA PARK

salted-wound-cover

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD. And thanks to Byun Hyunji for this awesome poster!

.

.

Prev :

TEASER

CHAPTER 1

CHAPTER 2

CHAPTER 3

VIDEO TRAILER

CHAPTER 4

CHAPTER 5

CHAPTER 6

CHAPTER 7

CHAPTER 8

.

.

Jong-In baru saja selesai mandi ketika ponselnya berbunyi, lantas ia segera berlari dan tak sengaja terpeleset karena kakinya masih basah. Kesialan di pagi hari biasanya akan berlanjut sampai malam—setidaknya begitulah pemikiran Jong-In.

 

Sambil mengelus pantatnya, Jong-In tiduran miring di kasur. Ia meringis menahan sakit.

 

“Ada apa denganmu?” tanya suara dari seberang.

 

Jong-In mengerang. “Pantatku, ah, aku terpeleset tadi,” gumamnya masih kesakitan.

 

Jujur, Hee-Ra ingin tertawa mendengar Jong-In terpeleset. Tapi ayolah, ia tidak sejahat itu untuk tertawa di atas penderitaan orang lain. Walaupun sebenarnya cukup sulit menahan gelak tawa yang mendorong untuk keluar.

 

Ya! Jangan tahan tawamu, Shin Hee-Ra. Aku tahu kau ingin tertawa, ck,” protes Jong-In yang berhasil membuat Hee-Ra kehilangan kekuatan untuk menahan tawa.

 

Sementara Hee-Ra tertawa terpingkal-pingkal, Jong-In hanya mengangguk-anggukkan kepala sembari memasang ekspresi tersakiti. “Ya, teruslah menertawaiku. Untung aku tidak lumpuh karena terpeleset.”

 

“Oh ayolah.” Hee-Ra berusaha menghentikan tawanya dan mulai berucap kembali. “Berhati-hatilah lain kali.”

 

Ahh, aku tahu.” Jong-In merenggangkan tubuhnya. “Aku merindukanmu, mau berangkat bersama?” tawarnya.

 

“Aku di Bandara.”

 

“Apa?”

 

“Kubilang, aku di Bandara.”

 

Jong-In terduduk, ia membulatkan mata. “Kenapa kau ada di Bandara? Maksudku, kau mau ke mana? Kau tidak mengatakan apapun padaku!”

 

Hee-Ra terkikik hambar. “Aku lupa memberitahumu kemarin, hehe.”

 

Mendengar jawaban gadis itu, air muka Jong-In berubah datar. “Jadi, kau mau ke mana?”

 

“Mmm…Venice.”

 

“Venice?”

 

“Ya.”

 

“Dengan?”

 

“Keluargaku.”

 

Mungkinkah Se-Hun juga ikut? Maksudku, pria itu adalah pengusaha yang cukup sibuk. Apakah ia akan ikut dalam liburan keluarga semacam ini?

 

“Kakakmu?”

 

“Tentu saja ikut.”

 

“Sialan.” Jong-In langsung memutus panggilan begitu selesai berkata tanpa menunggu balasan Hee-Ra. Ia yakin kekasihnya akan kebingungan mendengar ucapan Jong-In barusan, tapi ia benar-benar tidak suka Hee-Ra dan Se-Hun berdekatan, terlebih, mereka akan pergi ke tempat yang sangat jauh sekarang.

 

Haruskah Jong-In menyusul?

 

 

 

 

 

 

Se-Hun menguping di balik dinding, ia tersenyum pilu saat Hee-Ra pamit pada Jong-In. Cinta memang membingungkan, terkadang yang paling berjuang tak pernah dipandang. Menyakitkan, tapi apa daya? Itulah kenyataan.

 

Tanpa bertegur sapa atau sebatas basa-basi, mereka masuk ke pesawat. Duduk di kursi masing-masing. Shin Jae-Woo bersama sang istri, sementara Hee-Ra bersama Se-Hun. Mereka bagaikan air dan minyak, berada dalam satu tempat namun tak pernah menyatu. Juga tak saling menyakiti. Hanya terdiam, sibuk pada pikiran masing-masing, terlalu klise untuk diceritakan.

 

Dua jam sepuluh menit berlalu, keempatnya telah menginjakan kaki di tanah Venice. Disambut indahnya pemandangan klasik nan tentram. Tanpa sadar, Hee-Ra telah meninggalkan hatinya di sini, tempat yang begitu tenang dan memanjakan mata.

 

Sebagai permulaan, mereka menaiki gondola sebagai kendaraan untuk menuju hotel. Gondolier yang semula diam, mulai mengeluarkan suaranya, menyanyikan Feneste Che Luciv tanpa diminta. Mungkinkah ia bisa mendengarkan suara hati Se-Hun yang tengah bersedih karena iri pada Jong-In?

 

Ya, ia memang iri. Bahkan sangat iri. Betapa beruntungnya pria yang mendapatkan perhatian dari gadis yang dicintainya. Gadis yang bahkan tak berniat untuk menengok ke arahnya meskipun mereka duduk bersampingan. Gadis yang selalu berada di dekatnya, namun tak pernah bisa dimiliki.

 

Tanpa keduanya sadari, Kang So-Hee yang notabene-nya duduk menghadap kedua anaknya-pun tak luput untuk memandangi ketegangan antara mereka. Namun matanya menangkap sesuatu yang berbeda, pandangan tulus nan penuh arti dari seorang Oh Se-Hun ketika Hee-Ra tengah menengok ke samping. Pandangan yang seolah mengatakan bahwa Se-Hun begitu mendamba, memancarkan sinar cinta yang begitu kentara.

 

Mungkinkah Se-Hun memiliki perasaan pada Hee-Ra?

 

Tapi mereka berdua adalah saudara!

 

Tidak, Kang So-Hee harus membuang pikiran itu. Mana mungkin Se-Hun mencintai adiknya sendiri? Pasti hanya khayalannya saja!

 

Namun sungguh, tatapan anak prianya tak bisa berbohong. Walau begitu So-Hee tetap mengelak, ia tak akan pernah menganggap Se-Hun mencintai Hee-Ra karena memang begitulah seharusnya. Ia yakin salah mengartikan pandangan.

 

Ketika akhirnya gondola sampai di depan The Gritti Palace, a Luxury Collection—tempat mereka menginap selama beberapa hari ke depan, Se-Hun langsung membantu ayah tirinya untuk menurunkan koper. Resepsionis hotel menyambut dengan gembira dan segera mengantarkan keluarga tersebut ke kamar mereka.

 

Shin Jae-Woo dan Kang So-Hee berada di lantai dua, sementara Se-Hun dan Hee-Ra di lantai tiga. Mereka terpisah karena ruangan yang diinginkan telah dibooking oleh turis lain.

 

“Apa ada hal lain yang bisa saya bantu?” gumam seorang pelayan setelah meletakkan koper Hee-Ra di kamar.

 

Hee-Ra menggeleng. “Untuk saat ini tidak.” Ia merogoh saku dan mengeluarkan beberapa lembar uang dalam satuan Lira, dan memberikannya pada sang pelayan sebagi tip.

 

Kamar bernuansa klasik nan lembut yang menerpa mata berhasil membuat Hee-Ra bernapas lega. Tepat di depan kamarnya terlihat kanal yang menambah nilai tambah bagi hotel ini.

 

kamar-heera

 

 

Mungkin suatu hari nanti Hee-Ra akan kembai ke Venice seorang diri, tempat yang sempurna untuk menikmati kebebasan, bukan?

 

Tanpa berganti baju, ia langsung berbaring ke kasur. Perjalanan ke Venice rupanya cukup membuatnya lelah, sepertinya tidur sejenak tidak masalah. Lagi pula mereka akan mulai menjelajah nanti sore.

 

 

 

 

 

 

Baru saja Se-Hun duduk di sofa, ponselnya berbunyi. Ah, kenapa orang-orang itu tak pernah membiarkannya untuk hidup tenang sekali saja?

 

Terpaksa Se-Hun mengangkat panggilan tersebut. Dari Bruce Waylon, ia yakin pria itu menginginkan sesuatu.

 

“Apa maumu?” tanya Se-Hun tanpa sekedar berucap halo.

 

Bruce tertawa hambar, Se-Hun selalu begitu. “Cepat gunakan topengmu dan kau akan mendapat video call, seseorang membutuhkanmu, Oh Se-Hun.”

 

Ini artinya ia harus beraksi lagi. Tapi ia tak berada di London sekarang, dan ia juga tak mau repot-repot kembali ke sana. Se-Hun ingin menghabiskan waktu bersama Hee-Ra.

 

“Ayolah, kudengar kau di Venice. Kebetulan orang yang membutuhkanmu juga berencana membunuh seorang warga Venice.”

 

“Aku menolak. Katakan padanya kalau aku sedang sibuk.”

 

Bruce kembali tertawa, kali ini lebih keras. “Kalau tidak salah Jasmine berniat mencari tahu tentang adikmu, apa aku harus memberikan fotonya?”

 

Brengsek!

 

Kalau sudah begini Se-Hun tak bisa berkutik lagi. Membiarkan Bruce memberikan foto Hee-Ra sama saja dengan membuka gerbang kematian bagi gadis itu. Jasmine adalah sosok yang ambisius dan kejam, Se-Hun tak akan tinggal diam.

 

“Aku akan membunuhmu kalau kau berani melakukannya, brengsek!”

 

Pria yang jatuh cinta akan berubah lemah, begitulah yang ada dalam pikiran Bruce. Dengan mengandalkan sedikit informasi yang ia miliki tentang Hee-Ra sudah cukup menjadi borgol untuk terus memenjarakan pria keturunan Korea tersebut dalam kekuasaannya.

 

Se-Hun adalah bonekanya yang paling berharga, penghasil uang sekaligus tahta.

 

Tidak memiliki pilihan lain, Se-Hun akhirnya menurut. Ia menerima panggilan video call dari seorang pria berwajah Italia. Sejenak sebelum menekan tombol jawab, Se-Hun meraih koper dan mengambil topeng di dalam sana kemudian mengenakannya.

 

“Siapa yang harus kulenyapkan?”

 

 

 

 

 

resto

 

Hee-Ra, Shin Jae-Woo serta Kang So-Hee telah berkumpul di Restoran hotel, rencana awal untuk menjelajah indahnya Venice kala sore batal karena tidak ada satupun dari mereka yang terbangun tadi.

 

“Di mana Se-Hun?” tanya Kang So-Hee setelah Hee-Ra duduk.

 

Gadis cantik itu mengenakan dress hitam selutut, terlihat klasik dan menarik, benar-benar cocok dengan keadaan sekitarnya.

 

Candlelight Dinner di luar ruangan, ditemani angin sepoi-sepoi juga gemerlapnya malam bertabur lampu di Venice memang bisa dikatakan sempurna. Bukan hanya bagi mereka yang dimabuk cinta, namun juga untuk satu keluarga.

 

“Kau tidak mengajaknya turun?” tanya So-Hee lagi, namun lebih dikhususkan pada Hee-Ra.

 

Tanpa mengalihkan pandangan dari makanan yang baru terhidang— Chicken parmigiana. Dada ayam yang dilapisi tepung roti dan disajikan dengan saus neapolitan yang terbuat dari tomat dan keju—Hee-Ra menjawab, “Kukira dia sudah turun,” katanya ringan.

 

Kang So-Hee menggeleng. “Kau mau kan memanggilnya? Kasian kalau ia kelaparan nanti.”

 

Hee-Ra mendecak tak setuju. “Sebenarnya dia sudah cukup dewasa untuk membeli makanan sendiri kalau lapar. Jadi kurasa seba—”

 

“Panggil kakakmu.”

 

Dua kata dari Shin Jae-Woo berhasil membuat Hee-Ra tak berkutik. Dengan kesal gadis itu bangkit, meninggalkan makanan yang begitu menggiurkan barusan hanya untuk memanggil Se-Hun. Mengesalkan sekali.

 

Sepanjang lorong menuju ke kamar Se-Hun, sesekali Hee-Ra mendapati pasangan yang tengah bercanda tawa, bahkan ada beberapa yang berciuman, romantisme Venice memang berpengaruh pada perasaan seseorang.

 

Langkahnya terhenti kala tak sengaja melihat Se-Hun tengah keluar dari kamar. Pria itu mengenakan mantel hitam dan masker menutupi sebagian wajahnya. Mungkinkah ia akan pergi ke Restoran dengan penampilan seperti itu?

 

Ketika Se-Hun berbalik, Hee-Ra langsung bersembunyi di dekat tembok, berharap pria itu tak mengetahui keberadaannya dan berniat untuk mengikuti diam-diam. Ia memberi jarak beberapa meter dari Se-Hun, layaknya seorang penjahat, Hee-Ra mengikuti tanpa suara. Pria itu berjalan keluar hotel, ia tidak menggunakan gondola dan terus melangkah entah ke mana.

 

Dalam pikirannya tiada yang lain kecuali mengikuti Se-Hun. Maksudku, untuk apa pria itu buru-buru keluar? Ia bahkan tidak menaiki kendaraan di sini, bukankah mereka baru pertama kali datang ke Venice?

 

Hee-Ra sangat yakin akan hal itu, walaupun Se-Hun memang sering pergi keluar negeri, tapi tidak untuk Venice. Dan dengan santainya ia menyusuri setiap jalan tanpa pemandu. Benar-benar mencurigakan.

 

Se-Hun terus berjalan, sampai Hee-Ra tak mengingat lagi jalur yang mereka lewati. Tapi tak apa, toh kalau mereka telah sampai di tempat, Hee-Ra bisa keluar dan mengaku jika mengikuti pria itu lalu mereka pulang bersama.

 

Namun, ketika Se-Hun berbelok sambil berlari, keadaan Hee-Ra yang tertinggal cukup jauh terpaksa menjadi halangan. Ia kehilangan jejak kakaknya tepat setelah ikut berbelok ke suatu jalan.

 

Apa Se-Hun telah menyadari kalau Hee-Ra mengikutinya dan berlari secepat mungkin?

 

Hei! Haruskah ia bersikap seperti itu? Meninggalkan Hee-Ra yang jelas-jelas tidak tahu jalan?

 

Tidak ada pilihan lain kecuali kembali ke hotel, Hee-Ra akhirnya berbalik dan matanya membulat begitu menyadari begitu banyak jalan di depannya. Ia harus pergi ke arah mana sekarang? Ke kanan, memang yang terakhir ia lewati ke arah sana, tapi setelah itu? Sungguh, pikirannya yang terlalu fokus pada Se-Hun malah membawa bencana bagi dirinya sendiri.

 

Sialnya lagi, Hee-Ra tidak membawa ponsel. Begitu banyak rumah di sekitar tapi semuanya tertutup, padahal sekarang masih pukul setengah delapan malam. Kenapa mereka semua? Lalu bagaimana caranya Hee-Ra bisa kembali?

 

Hanya berjalan yang bisa Hee-Ra lakukan, tidak ada lagi pilihan lain. Entah benar, entah tidak, intinya ia hanya perlu berjalan sambil berharap bisa kembali ke hotel. Ingatan soal beberapa lokasi yang sempat dilewati muncul begitu saja, walau tidak begitu jelas, tapi Hee-Ra yakin pernah melewati tempat ini.

 

Ia tersenyum puas dan semakin yakin pada pilihannya. Sampai kemudian ia berada di ujung jalan, sekelebat terlihat sekumpulan pria yang tengah berdiri tak jauh darinya. Mereka menatap Hee-Ra, kemudian mulai menyeringai dan saling berbisik.

 

Jujur saja Hee-Ra tak mampu mendengar apa yang orang-orang itu ucapkan, namun niat jahat jelas terlihata kala ketiga pria itu berlari ke arahnya. Senyuman licik seolah ingin menerkam gadis yang tengah sendirian itu begitu jelas tergambar.

 

Tubuhnya menegang, belum sempat menyelamatkan diri dan ketiga pria tadi sudah melingkar, menutup jalan bagi Hee-Ra.

 

“Kau mau ke mana, cantik?” ujar salah satu pria dalam bahasa Italia yang jelas tak dimengerti oleh Hee-Ra.

 

Gadis itu hanya berusaha melindungi diri dengan menyilangkan kedua lengan, menatap takut ketiga pria berbadan besar di sekelilingnya.

 

“Don’t touch me!” perintahnya keras.

 

Layaknya pria pada umumnya, ketiga orang tadi malah tertawa mendengar suara ketakutan Hee-Ra. Mereka semakin mendekat satu sama lain, membuat Hee-Ra terhimpit di tengah.

 

“Why? I’m promise you’ll like it.” Kali ini mereka membalas menggunakan bahasa Inggris. Satu kalimat ambigu yang tanpa harus dicerna dalam-dalam sudah jelas arahnya.

 

“I’m warning you. Don’t touch me!”

 

Selepas mengucapkan kalimat barusan, dalam satu hentakan Hee-Ra telah menendang salah satu dari ketiga orang tadi tepat di bagian vitalnya dan berlari sekencang mungkin. Tentu saja ia tak lepas begitu saja, akibat tendangan yang menyakitkan itu, dua orang yang tersisa langsung mengejar dan bersumpah akan memperkosa Hee-Ra dengan kejam bila mendapatkannya.

 

Matilah ia sekarang. Kenapa liburan yang seharusnya indah malah menjadi bencana? Kalau saja tadi Hee-Ra tidak mengikuti Se-Hun, pasti ia tak perlu berhadapan dengan orang-orang berbadan besar yang berniat untuk memperkosanya tersebut.

 

Ia berlari tanpa arah, yang penting selamat dan berhasil lolos dari kejaran pria-pria menyeramkan tadi. Napasnya tak teratur, namun pria itu masih tetap mengejar, bahkan semakin dekat.

 

Kenyataan bahwa Hee-Ra adalah seorang perempuan yang memang dikodratkan lebih lemah dari laki-laki merupakan faktor pendukung kenapa ia berlari lebih lambat sekarang. Kakinya yang mulai sakit dan dress yang bisa terbuka bila terkena angin semakin memperburuk keadaan.

 

Lari!

 

Lari!

 

Hee-Ra harus berusaha sekuat mungkin untuk menyelamatkan diri. Ia tidak mau menjadi santapan makan malam bagi ketiga pria hidung belang di Venice! Tidak akan pernah.

 

Tapi Dewi Fortuna seolah tak berpihak padanya. Heels yang hanya setinggi dua centi itu tiba-tiba tersangkut di lubang, membuat Hee-Ra terpaksa melepaskan dan berlari tanpa alas kaki. Kepalanya menengok ke belakang, mendapati kedua pria tadi hanya berjarak beberapa meter darinya.

 

Dakk!

 

Tubuhnya tiba-tiba menabrak seseorang. Ya, seseorang yang jauh lebih tinggi darinya. Sontak Hee-Ra menutup mata dan memutar kepalanya ke depan, tidak siap kalau orang yang ditabraknya adalah salah satu komplotan dari orang-orang jahat itu.

 

Namun kekhawatirannya berubah seratus delapan puluh derajat ketika sentuhan lembut terasa di lengan kanannya. Hee-Ra membuka mata perlahan, mendongak dan terkesiap menatap pandangan khawatir yang mengarah kepadanya.

 

“Oh Se-Hun?”

 

TO BE CONTINUED

Advertisements

83 responses to “[CHAPTER 9] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Wah ini nge feel bgt, Kaak… Aku ngerasain bener-bener lari kayak Hee Ra *baper 😁😂. Dari tadi nungguin Se Hun muncul.. Akhirnyaaa 😌…
    Aku next yaa.. Gak sabar baca yg selanjutnyaa… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s