[Freelance] Time

Copyright ©2016 Rere_L.Kim

time-copy

 

Time

 

Jeon Jungkook (BTS) | Ryu Lin (OC)

 

Sad |  G  | Ficlet

 

‘Waktu adalah lembaran kertas putih.

Kisah kasih itu dimulai saat sang waktu membuka lembaran pertamanya.’

Salju pertama turun dipertengahan desember. Dinginnya cuaca kala itu tak menggoyahkan seorang anak adam duduk ditengah kerumunan orang2 yang menikmati sajian malam itu darinya. Dengan lembut, suaranya mengalun menghangatkan hati setiap orang  yang mendengarnya. Suara indahnya berganti dengan gumaman lirih sebagai tanda berakhirnya persembahan malam itu.

 

Deru tepuk tangan mengudara. Membumbungkan senyum cerah miliknya. Bersamaan dengan berlalunya orang2 dari sana. Kotak kayu berukuran tak terlalu besar yang dilapisi cat berwarna gelap itu terisi hampir setengahnya dengan koin dan beberapa lembar uang.

 

Uap  putih mengepul begitu ia menghela nafasnya. Hidungnya merah dan berair. Sesekali tangannya yang sibuk menghitung lembaran penyambung kehidupannya itu membenahi letak syal hitam yang membalut lehernya.

 

Detik saat butiran salju semakin seru berjatuhan, manik mata itu menangkap objek menarik diseberang jalan, menunggu lampu lalu lintas berwana merah untuk kendaraan yang belalu lalang, dan lampu hijau untuk pejalan kaki. Sosok tinggi, rambut hitam kelam, payung berwarna bening ditangan kanannya, earphone yang melekat dikedua lubang telinganya, dan bibir mungil yang sesekali mengintip dari balik  syal hitamnya mengalihkan dunia seorang musisi jalanan bermarga Jeon.

 

Bibirnya tanpa sadar tertarik membuat sebuah simpul manis diwajahnya yang mulai memerah akibat suhu udara yang semakin menurun, saat gadis itu melepas tawa renyahnya begitu saja. Sepertinya seseorang tengah menghubunginya, terbukti dari sahutan dari gadis itu beberapa saat setelah tertawa.

 

“Cantik.”

 

Itu kata pertama yang keluar dari bibir ranum Jungkook setelah gadis itu sudah melewatinya dan berada beberapa meter darinya. Dan sisa kegiatan Jungkook malam itu dihiasi senyum malu2.

 

 

‘Waktu adalah penanda.

Masa berlalu tanpa terasa begitu kenangan mulai terangkai satu demi satu.’

 

“Kooki.”

 

Panggilan lucu itu merembes kerungu pemuda yang tengah sibuk memberesi lapak tempatnya mengais rejeki, bernyanyi dipinggir jalan. Yah, pemuda yang masih berstatus seorang mahasiswa itu memanfaatkan kelebihannya untuk menambah uang sakunya.

 

“Hey, bukankah sudah ku bilang untuk tidak memanggilku begitu?”

“Maaf,” ujarnya disambung dengan kekehan manjanya.  “Bagaimana hari ini?”

“Untungnya masih bisa dibilang rata2. Tidak lebih maupun kurang daripada yang sebelumnya.”

“Tuhan tau mana yang berusaha dan mana yang  hanya bisa menerima. Lihatlah, hidupmu tetap terjamin sekalipun kau cuma mahasiswa dari perantauan dan penerima beasiswa penuh.”

“Lin!!!” yang ditegur semakin melebarkan senyumannya.

“Lihatlah, bagaimana wajahmu memerah Kooki.”

“Bukankah sudah kubilang–“

“Ah aku lapar,” potongnya. “Traktir aku tteokppoki ya.”

 

Jungkook mengesah pelan. Mencoba memaklumi sikap gadis yang ia kenal beberapa bulan terakhir ini. Kisahnya berlanjut meski harus memakan sedikit waktu dan kesabarannya. Sang waktu mempertemukan Jungkook dengan Gadis yang sering ia lihat berjalan menyeberangi zebra cross dekat tempatnya ‘manggung’ dalam sebuah percakapan singkat.

 

Permisi,” gadis itu bersuara dengan nada hati2 pada Jungkook yang sibuk menyimpan perlengkapannya dalam wadah.

Ya?” jawab Jungkook terkejut. Tidak menyangka sang gadis akan menghampirinya.

Apa kau bisa disewa?”

Kepalanya meneleng, sorot matanya menunjukkan rasa terkejut, “Ne??”

Oh maaf. Apa aku menggunakan kata2 yang kasar?”

“K–kurasa sedikit.”

“Aku tidak bermaksud begitu,” jelasnya. “Maksudku tadi, apa kau berminat untuk bernyanyi disebuah acara?”

“Oh,” gumamnya mencoba meredakan degupan jantungnya yang menggila. “Te–ntu,” jawabnya tak yakin.

“Begini, fakultas ku mengadakan acara amal. Kami kekurangan support dibagian bintang tamu. Bisakah aku memintamu untuk bernyanyi diacara itu?”

 

“Kau bisa datang kefakultasku di Hannyang University dan bertemu dengan panitia untuk membicarakan honormu,” sambung gadis itu cepat saat menangkap raut keraguan dari wajah Jungkook.

Dengan wajah tersenyum manis, Jungkook menjawab, “Baiklah. Aku akan terima tawaran untuk bernyanyi diacaramu.”

“Benarkah?” matanya membulat lucu.

Tak langsung menjawab, Jungkook tersenyum lalu mengulurkan tangan kanannya. “Jungkook,” ucapnya.

“Lin,” sahutnya sambil menyambut tangan kanan Jungkook. “Ryu  Lin.” Eyesmile itu terbentuk cantik dikedua matanya.

 

 

‘Waktu adalah peringatan.

Ketika sang waktu berada pada satu titik tertentu, ia kembali menunjukkan kuasanya.

Sebuah kebenaran.’

 

Jantung Jungkook berdenyut nyeri. Sebuah foto mampu membuatnya terlihat lemah. Sebuah foto sederhana. Sebuah foto yang umum untuk dilihat. Sebuah foto yang menampilkan seorang Lin tengah tersenyum begitu manis dan seorang pemuda merengkuhnya manja dari belakang dengan kepala yang disandarkan dibahu kanan Lin, turut tersenyum manis menghadap kamera.

 

Diletakkannya perlahan phonsel berwarna putih itu kembali ketempatnya, diatas meja yang berserakan buku2 mereka. Keisengan Jungkook berawal dari dering phonsel Lin yang tertinggal diatas meja. Ia tergoda untuk meraih phonsel itu dan mengangkat panggilan yang terus saja membuat phonsel itu berdering sejak 5 menit terakhir. Panggilan itu berakhir tepat saat ujung jari Jungkook hendak menggeser tombol hijau.

 

Melihat layar phonsel touchscreen itu tidak ber code, ujung jari itu kembali menyentuh lockscreen dan menggesernya keatas. Begitulah kronologi seorang Jungkook menemukan foto itu. Mungkin ini waktu yang paling tepat untuk menunjukkan pada Jungkook bahwa dirinya harus berhenti.

 

Yah selama beberapa bulan menjalin hubungan baik dengan seorang gadis bernama Ryu Lin, tak dapat dipungkiri bahwa benih itu subur tumbuh disana. Pupuk yang membuatnya subur pun berasal dari sang gadis. Perhatian dan segala sikap gadis itu pada Jungkook, benar2 membuat Jungkook kelabakan mencari makna dibaliknya. Hingga ia memutuskan untuk memberikan nama pada semua perhatian dan sikap  Lin padanya. Sayang. Begitulah Jungkook melebelinya.

 

“Ini  sakit,” gumam Jungkook dalam lamunannya.

 

Jungkook terseyum  kecut. Menyadari kebodohan yang telah ia lakukan. Dia terlalu naif. Yah, Jungkook  memang seperti itu. Bisa2nya dia terlalu percaya diri hanya  gara2 Lin memberinya perhatian. Sungguh konyol Jeon Jungkook.

 

Dia tidak seharusnya seperti itu. Membiarkan ruang kosong dihatinya terisi penuh oleh sosok gadis itu. Dan ketika waktu Jungkook dalam dunianya habis, kenyataan itu terasa benar2 menyakitinya. Sekali lagi dalam hidupnya, lentera itu bukan miliknya.

 

“Ya, Myungsoo adalah kekasihku.”

 

Jawab gadis itu polos saat ditanyai Jungkook perihal wallpaper diphonselnya. Bersamaan dengan itu, linu kembali menyergap jantung Jungkook saat gadis manis itu  berkata dengan nada ceria bahwa dilain kesempatan, ia akan mengenalkannya pada kekasihnya sebagai sahabat terkeren yang pernah ia miliki.

 

Cerita fantasi Jungkook telah mencapai klimak. Tulisan ‘Tamat’ sudah samar tertulis. Ini bukan seperti yang ia harapkan menjadi akhir kisahnya saat menemukan lentera  hatinya. Sang waktu sudah memutuskan. Kenyataan yang menutup kisahnya kali ini tak lagi tentang restu orang tua, tapi friendzone.  Sepertinya Jungkook harus belajar lebih banyak  lagi  pada sang waktu. Agar saat ‘waktu’nya kembali lagi, ia tak harus bernasib sama. Terluka karena tak dapat memiliki  lenteranya.

 

  • Fin –

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s