[Freelance] Between love and death

62-copy

Absurd story by PutrisafirA255

【Main Cast】

Oh Sehun | Kiyomizu Hanna

【Other Cast】

【Chanyeol Park | Kim Junmyeon | Kiyomizu Tzuyu】

|More|

「Angst, AU, Drama, Hurt, Comfort, Romance,

Action, Friendship, Family」

『PG 16』

ǁJapan| and ǁKorea|

「Chaptered」

“Without you know, love can kill yourself.”

Bukan perkara yang sulit bagi Hanna untuk menemukan pengkhianat seperti pria gemuk itu. Kerahnya sudah ternoda oleh darah. Beberapa sudut mukanya pun sudah tak berbentuk. Bahkan penutup mata dan juga tali masih melilit sempurna. Ini target baru Hanna.

Pria berumur tujuh puluh tahun yang menjabat sebagai perdana menteri itu harus dibunuh. Bahkan namanya sudah terpampang nyata dalam dokumen target operasinya. Jadi, pria itu pasti punya kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Tentu saja! Bisakah pengkhianat dipercaya lagi? Sekali berkhianat, maka tak ada alasan lagi untuk hidup.

“Tolong jangan bunuh aku!”

Pekikkan itu tak membuahkan hasil sama sekali. Justru raut dingin Hanna semakin menjadi. Tangannya pun sudah memegang samurai yang tajamnya luar biasa. Bisa menghunus nadi dalam hitungan sekon. Entah kenapa dan Hanna sendiri pun tak tahu, hari ini ia ingin membunuh pria itu dengan samurainya yang baru saja diasah. Sekedar mencoba seberapa tajam pisau itu jika mengenai korbannya.

“Maafkan aku. . Aku tidak bermaksud—”

“DIAM!”

Suara bass yang sedari tadi menggema kini langsung terdiam. Membiarkan hening menguasai agar tak membuyarkan konsentrasi sang ahli eksekusi. Hanna pun kembali pada keempat anak buahnya yang masih menyiapkan beberapa korban lagi.

Sehun pun hanya bergeming. Pria itu bahkan sempat menarik pinggang Hanna untuk lekas diajak mendekat. Namun dengan mentah-mentah Hanna menolak. Kentara masih kesal dan juga tak mau diganggu. Pria itu memang tak punya kerjaan selain mengganggunya. Padahal, Sehun harus mencek seluruh daftar pemasok senjata dan juga narkoba. Well, kedudukan Sehun sudah tinggi sekarang. Jadi, ia tak perlu terjun kelapangan hanya untuk memastikan.

“Kau tidak ada kerjaan lain, huh?” Hanna akhirnya naik pitam. Kekasihnya itu selalu menyempatkan diri untuk melihat betapa ahlinya dalam eksekusi dan juga menyempatkan diri untuk mencari kesempatan dalam kesempitan. “Ada,” jawab Sehun kala sibuk mencium feromon Hanna. “I want you, babe.

Never until I die.” Tukas Hanna cepat. Gadis itu lantas mengambil langkah untuk menerima pedang khas Jepang itu. Menarik dari tempatnya untuk segera diacungan ke atas. Menampakkan betapa tajamnya pedang itu jika menyentuh kulit. Seperti menemui neraka dalam waktu yang lama. Memangnya siapa yang mau membunuh musuh dengan cara yang mudah. Bukankah bermain lebih dulu tak salah?

“Ada pesan-pesan terakhir? Dua jam lagi anakmu akan mengikutimu ke neraka.”

Pria itu kembali memberontak kala anaknya disebut. Walaupun ia membahagiakan keluarga kecilnya dengan cara yang kotor, tetap saja dalilnya masih sama; apapun dilakukan untuk membahagiakan orang tersayang. Namun itu semua tak berlaku untuk Hanna. Well, ia sudah dibesarkan dan juga didik untuk membunuh. Dalil sebaik apapun tak akan berpengaruh untuknya.

Hanna lekas mendekatkan ujung pisaunya tepat di jakun sang korban. Tak ingin terlalu cepat melakukannya, Hanna menyempatkan diri menelusuri leher pria itu hingga sang empunya mendongak. “Kami bukan orang bodoh yang bisa kau bohongi. Kau membatinnya pun kami tahu, apalagi hendak di sampaikan pada publik. Itu hanya ada di mimpi terliarmu.” Ucapnya, lalu menyingkirkan kain yang membungkam mulut perdana menteri itu. Membiarkan pria paruh baya itu mengucapkan sesuatu.

“Ku mohon. Jangan bunuh Seolhyun. Dia tidak salah.”

“Memang benar,” sahut Hanna. “Karena kaulah yang bersalah dan membuatnya harus mengikuti jejakmu. Aku rasa kau sudah mengatakan kalimat terakhirmu.”

Setelahnya, pedang itu menghunus leher pria itu dalam sekejap. Mengucurkan banyak darah, hingga kemeja putih dan sweater abu-abu Hanna ternodai. Di sisi lain, Sehun pun hanya bisa menghela napas. Sekali lagi, semakin lama proses hukum untuk Black Ocean, maka semakin banyak pula yang kehilangan nyawa. Namun ia bisa apa selain menunggu waktunya tiba?

.

.

.

“Targetnya gadis?”

Suara sopran Tzuyu akhirnya menggema setelah penjelasan dari sang sekertaris. Di hadapannya, seorang gadis lengkap dengan kemeja putih yang terbalut jas abu-abu dan juga rok berwarna senada namun lebih gelap. Bibir gadis itu dibungkam oleh sehelai kain hitam, dan tangannya diikat di belakang kursi.

Gadis itu memberontak, selagi tatapan tajamnya masih tertuju pada Tzuyu. Si gadis Kiyomizu pun hanya diam. Tak ada alasan untuk berbicara dan tak terlalu dekat untuk bertegur sapa. Jadi, kalimat setajam apapun yang ingin Tzuyu katakan tak akan berguna. Toh , gadis itu akan mati.

“Tunggu!”

Tiba-tiba suara Sehun menginterupsi. Padahal ia sudah menarik slide pistolnya dan hendak menambak. “Apa?”

“Aku rasa kau belum tahu,” ucap Sehun. Tzuyu pun mengangkat sebelah alisnya—meminta penjelasan. “Tn. Suzuki memintaku untuk menggantikan posisimu. Dia sekarang jadi milikku.” Jelasnya. Memang Tzuyu akui, ia sangat terkejut dengan pengalihan tugas yang mendadak itu. Tak biasanya.

“Kenapa?” tanya Tzuyu. Sehun pun menggendikkan bahunya acuh. “Itu urusanmu dengan Ketua. Kau bahkan dipanggil sekarang.” Jawabnya, lalu mengambil pistol yang masih ada di genggaman Tzuyu perlahan. Meletakkannya di atas meja kerja gadis itu.

“Kau tidak pergi?”

“Kau mengusirku? Ini ruanganku!”

“Aku hanya bertanya.” Sahut Sehun tanpa gentar. Padahal, di balik wajah datar gadis itu tersimpan banyak amarah yang belum terluapkan. Hingga akhirnya masih mendongkol di dalam hatinya. Alih-alih marah, Tzuyu justru lebih memilih pergi dan meninggalkan Sehun di dalam. Hanya satu pertanyaan yang ada di pikiran Tzuyu; kenapa Hanna masih saja mau dengan pria menjijikkan seperti itu?

Di dalam kantor Tzuyu, Sehun mengusir para anak buah gadis Kiyomizu itu. Menyisakan dirinya dan juga anak semata wayang perdana menteri. “Seolhyun-ah.”

Gadis itu mendongak. Menatap Sehun sendu. Cepat-cepat Sehun melepaskan ikatan gadis itu. “Bagaimana kau bisa di Jepang?” tanya Sehun saat Seolhyun sudah merengkuhnya. Tangan pria bermarga Oh itu tak tinggal diam. Menyentuh surai hitam Seolhyun dengan pelan. Mencoba memberikan ketenangan dan juga keamanan bagi sang gadis.

Seolhyun akhirnya mendongak hanya demi menjawab pertanyaan Sehun. Namun kepalanya masih menunduk—tak kuasa menghadapi iris hitam pria itu. “Aku diadopsi oleh Kurenai Suzhiro. Dan akhirnya aku ada di sini.” Jelasnya. Sehun hanya mendengarnya sekilas, karena pikirannya hanya pada satu tujuan. Kiyomizu Hanna. Semoga saja gadisnya itu tak akan salah sangka dengan keputusannya.

“Bagaimana bisa kau—”

“Bisakah kau berkata kalau kau adalah hoobae-ku  saat di Korea Utara?”

“Korea Utara? Tapi—”

“Ku mohon,”

.

.

.

Tangan Hanna terkepal. Gadis itu marah lantaran mendapat berita yang tak membahagiakan. Prianya mendapat ‘mainan’ yang gilanya umur gadis itu lebih muda darinya dua tahun. Itu berarti, si gadis masih berusia sembilan belas dan sebentar lagi akan lulus.

Namun, semarah apapun Hanna, gadis itu hanya diam. Mengingat wajah cantik Hanna yang selalu datar dan tak bisa dibaca oleh orang lain. “Kau melamun apa, Han?”

Hanna terperanjat. Agaknya terkejut dengan kedatangan pria sebayanya yang tiba-tiba saja suaranya menggema. “Baekhyun! Kau mengejutkanku, tahu?” pekik Hanna yang disambut geli oleh sang lawan bicara. “Sejak kapan kau bisa terkejut, Han? Wajahmu saja lebih datar daripada meja,” cicit Baekhyun sembari mengetuk meja di hadapannya.

Hanna menaikkan sebelah alisnya. Ia tak marah dengan kalimat Baekhyun yang memang terbiasa ‘jujur’ itu. Melainkan atensinya tertuju pada gaya rambut Baekhyun yang benar-benar manly. Sepertinya Baekhyun telah memanfaatkan liburan musim panas dengan baik. “Kau apakan rambutmu?”

Baekhyun pun tersenyum hingga deretan gigi putihnya nampak. “Kau suka? Aku mengubahnya agar Tzuyu suka padaku.” Ujarnya. Hanna pun lekas mengingatkan teman talkactive-nya itu. “Tzuyu memang sudah putus dengan Kai. Tapi, bukan berarti ia akan menyukai penampilanmu, Baek. Chanyeol masih setia dengan kakakku.”

Alih-alih murung, Baekhyun justru menjentikkan jarinya. “Kau tahu ‘kan kalau Chanyeol itu nerd. Jadi, aku akan memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan hatinya.” Ucapnya. Tak ingin berdebat lebih lama dengan Baekhyun yang keras kepala, Hanna lekas mengucapkan kalimat perpisahan. “Pakai kaca mata bukan berarti nerd, Baek. Dan Chanyeol jauh lebih tinggi dan pintar darimu.”

Seketika saja mood Baekhyun menurun drastis. Sahabatnya itu sering sekali menurunkan semangatnya dalam sekali hentak. Membuat Baekhyun yang ingin mengajak Hanna bertemu Tzuyu mengganti acara. Melingkarkan tangan kanannya pada leher Hanna. Menariknya dengan paksa agar lekas menyejajarkan langkah besarnya.

“Lepaskan, Nerd!”

Baekyun pun menuruti. Membuat alis Hanna berjingkat satu. Kenapa Baekhyun yang manjanya setengah mati itu mau menuruti keinginannya? Padahal, biasanya Baekhyun tak pernah menggubris perkataannya. “Apa?” tanya Hanna saat hazel Baekhyun menatap mata Hanna lama. “Karena dosen Oh tak datang, maka aku akan mengajakmu ke cafe. Okay?

“Kenapa dosen Oh tidak datang?”

“Yang aku dengar beliau sakit. Well, aku tak peduli mau dia datang atau tidak.” Jawab Baekhyun. Ia lekas menarik lengan Hanna dan membawanya pergi dari universitas membosankan itu—menurut Baekhyun. Andaikan saja keduanya tahu kalau Sehun melihat keduanya yang sedang berjalan seperti pasangan itu. Kenapa Tuhan selalu mempermainkan hidupnya? Orang lain yang menyandang status biasa justru bisa melakukan lebih pada gadisnya. Sedangakan Sehun sendiri? Pria itu tak punya kebebasan bahkan hanya menggenggam jari lentik itu.

.

.

.

“Kau terlalu populer,” suara bass Chanyeol akhirnya menggema mengusik ketenangan Tzuyu yang sedang membutuhkan kedamaian. Gadis itu masih enggan membicarakan apapun, tak terkecuali untuk masalah tugas yang harus keduanya selesaikan.

“Kau yang membuat proposalnya, ya? Aku yang akan mencari bahannya.”

“…”

Chanyeol menghela napasnya. Ia diabaikan untuk kesekian kalinya. Bisakah Tzuyu fokus pada tugas dan mengesampingkan urusan cintanya belakangan? Apalagi ini adalah tugas terakhir sebelum skripsi, yang dipastikan akan menambah nilai. Well, tak pria tak wanita jika berhubungan dengan putus cinta pasti akan menggila.

Ia hanya benci gadis yang ia sukai itu merenung setiap hari. Apalagi Chanyeol sendiri hanya dianggap seperti patung berjalan yang menemani gadis itu kemana ia pergi. Sebenarnya Chanyeol ingin marah. Namun, mengetahui masalahnya yang complicated, Chanyeol akhirnya mengurungkan niatnya itu.

“Aku akan mengerjakannya di rumah. Kau bisa mengirimkan foto literaturnya padaku melalui email.”

Hanya kalimat itu yang bisa diucapkan Tzuyu. Selebihnya ia pendam sendiri dalam hati. Enggan menggemakan seumpama pengumuman. Gadis Kiyomizu itu lekas bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan Chanyeol yang masih ingin beristirahat di kantin.

“Kau mau kemana?” tanya Chanyeol yang membuahkan hasil. Gadis itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh tanpa membalikkan badan. “Aku ada urusan.”

Chanyeol akhirnya menyerah. Membiarkan sahabatnya—lebih sahabat yang dianggap lebih—itu sendiri dan mencari udara segar.

Dengan langkah sedikit tergesa, Tzuyu cepat-cepat mengambil kunci mobilnya di saku mantel hitamnya. Menekan tombol, lantas masuk. Membuang tas, lalu memasang seat bell. “Kau dimana?” tanya Tzuyu ketika sambungan terhubung. Di seberang line sana, Hanna sudah siap dengan senapan laras panjang miliknya. “Aku ada di rooftop. Sebentar lagi, Menteri Pertahanan akan berpidato.”

Tanpa basa-basi, Tzuyu segera mematikan sambungan. Menginjak pedal gas, lantas mengemudikannya diatas kecepatan rata-rata. Tak menghiraukan para mahasiswa yang memekik lantaran takut akan mencium bagian depan mobil Mercedes Benz GL 350 hitam putih yang dikendarai Tzuyu.

Tak sampai sepuluh menit, Tzuyu sampai di depan halaman kantor Menteri Pertahanan. Menjadi pengamat yang baik, lalu memasang earphone pada telinga kanannya. “Tunggu aba-aba,” pinta Tzuyu. Hanna pun lantas mengangguk. Disampingnya, Sehun masih mengincar target yang tak kunjung datang.

“Dia sudah datang?”

“Belum,” balas Sehun. Pria itu menyempatkan diri menatap wajah datar serius khas Hanna terlebih dulu. Itu memang kebiasaannya ketika beroperasi. Setidaknya, ia bisa menatap Hanna sebelum ajal menjemput jika rencana mereka gagal. Bukankah tak ada rencana yang selalu berhasil? Anggap saja Sehun berlebihan dengan kata ‘mati dihadapan Hanna’, namun memang itu yang sehun takutkan.

“Hanna,” panggil Sehun. Hanna yang awalnya sibuk menelusuri pemandangan di bawahnya pun menoleh. Menampakkan Sehun yang sudah melepas masker hitamnya. “Apa?” sahut Hanna ketus plus dengan nada datar kentara menahan amarah. Semuanya terasa sial bagi gadis Kiyomizu itu. Sehun melihat ia dan juga Baekhyun berdua ketika pria itu tengah menunggunya.

Sebenarnya Hanna tahu kalau Sehun tak masuk karena keduanya mempunyai target yang harus diselesaikan setelah jam ketiga. Namun, sekali lagi. Baekhyun tak akan pernah membiarkan Hanna pergi begitu saja setelah pria Byun itu berbaik hati mentraktir ice cream. Jadi, Hanna tadi telat karena Baekhyun. Mungkin ia akan mendapat ceramah panjang dari Sehun. Well, peduli apa? Sehun bahkan mendapat gadis baru yang lebih muda darinya. Jadi impas ‘kan?

“Kau menyukai Baekhyun?”

Itu memang pertanyaan yang tiba-tiba. Sebut saja Sehun frontal, namun lidahnya sudah gatal ingin mengucapkannya tanpa perlu basa-basi lagi. Hanna sebenarnya terkejut, bahkan bisa Sehun lihat dari kelopak matanya yang sedikit membulat. “Memangnya kenapa?”

“Tinggal jawab apa susahnya, Han? Aku cemburu kalau kau mau tahu.” Sahut Sehun. Ia kesal jika gadisnya itu selalu mengalihkan pembicaraan. “Cemburu? Apa otakmu sudah bergeser?” ucap Hanna sarkastik. Ia lekas menyahut sebelum Sehun menanyakan maksud kalimat Hanna. “Kita bicarakan di apartemen. Aku tidak mau Tzuyu mendengarnya.”

Sehun menghela napasnya untuk kesekian kalinya. Akhirnya, pria Oh itu mengalah. Mengembalikan fokusnya pada target. Setelah mendapat aba-aba dari Tzuyu kalau targetnya sudah datang, keduanya kembali hening. Walau Sehun sendiri masih memikirkan kalimat Hanna yang membuatnya bingung. Bukankah seharusnya ia yang marah? Kenapa sekarang jadi ia yang dimarahi Hanna?

“Targetnya sudah datang.” Ujar Hanna memberitahu Sehun. Pria itu lekas kembali ke alam sadar, lalu mengarahkan pistol laras panjangnya. Target Sehun adalah Menteri Pertahanan dan target Hanna adalah wakilnya. Keduanya memiliki peran yang amat penting. “Tiga. . .”

Jari telunjuk keduanya sudah tepat berada di depan pelatuk. “Dua. . .Satu!”

Seolah soulmate yang tak akan terpisahkan oleh waktu. Bersama dalam setiap suasana dan dalam suka maupun duka seumpama janji pernikahan. Keduanya menembakkannya dalam detik yang sama, hingga tak ada yang tahu kalau dua orang yang sudah terkapar di podium itu berbeda penembak. Mungkin ini yang dinamakan satu hati dan satu jiwa. Mungkin.

Setelah selesai, keduanya sibuk berkemas. Hening pun masih mendominasi. Sehun dan Hanna cepat-cepat melepas beberapa bagian, lantas memasukkannya dalam sebuah tempat serupa tas gitar. Dengan dalil agar siapapun yang melewati Hanna maupun Sehun tak akan curiga.

Hanna memipin di depan. Suara stiletto Hanna pun menjadi penghantar langkah keduanya menuruni anak tangga. Tak ada unsur tergesa, namun masih dalam tempo yang cepat. Setelah sampai di sebuah koridor hotel, Hanna lekas melingkarkan tangannya pada Sehun. Berakting seolah keduanya adalah pasangan yang baru saja menginap. Meninggalkan kesan iri pada setiap pasang mata, hingga Sehun tersenyum miris dalam hati. Kenapa ia tak sebebas Baekhyun yang bisa melakukan hal romantis bersama kekasihnya itu? Menjadi aktor yang memerankan dosen di kampus Hanna membuat Sehun tak bisa banyak bergerak. Yang bisa keduanya lakukan hanyalah berlagak seperti mahasiswi dan dosen pada umumnya. Damn it! Sehun menggerutu jika ingat itu.

.

.

.

Baik Sehun maupun Hanna masih saja betah terdiam di dalam mobil. Sehun yang hendak menginjak pedal gas pun mengurungkan niatnya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan—tidak! Bahkan banyak yang ingin Sehun tanyakan. Namun, ia hanya bingung harus memulai darimana. Sedangkan gadisnya itu enggan membuka percakapan.

“Hanna,”

Gadis Kiyomizu itu tak menyahut. Ia malah melipat tangan di depan dada sembari menghujam pemandangan di depannya. Keduanya masih ada di basement. Dan tak ada pemandangan yang patut di pandang. “Aku ingin memberitahu kalau di apartemen kita—”

Kalimat Sehun terpotong ketika tangan kiri Hanna menarik tangannya. Sedangkan tangan kanannya menarik tengkuk Sehun. Menyapu bibir tipis pria Oh itu perlahan. Bahkan mata Hanna terpejam—membuat libido Sehun naik sendirinya. Sungguh diluar dugaan! Biasanya Sehun yang akan memulai terlebih dahulu. Namun, ketika keadaannya genting, gadis itu mau memulainya. Progres yang luar biasa.

“Mereka sudah pergi?” tanya Hanna di sela-sela ciuman keduanya. Sehun kontan membulatkan mata. Mereka. . . siapa?

Tak kunjung mendapat jawaban, Hanna akhirnya melirik sekitarnya. Setelahnya gadis itu menghembuskan napasnya lega. “Harus berapa kali ku bilang jangan parkir di tempat yang sepi?” ucap Hanna memperingatkan. Nadanya yang seharusnya berupa pekikkan itu hanya menjadi sebuah peringatan bagi Sehun.

Pria itu lekas mengerjapkan matanya. Butuh lima menit untuk mengilhami maksud Hanna. Jadi, gadis itu menciumnya hanya karena ada polisi yang lewat? Bukan karena Hanna mulai memaafkannya? Serasa dihujam berjuta-juta belati, jantungnya berhenti berdetak seketika. Membawanya melewati bara neraka yang panasnya beribu-ribu kali dari matahari. Kenapa hari ini ia sial sekali?!

“Ada banyak masalah yang harus kita selesaikan, Hun.”

Kalimat itu berhasil diilhami Sehun setelahnya. Tak butuh waktu lama, Sehun akhirnya menginjak pedal gas dan meninggalkan pelataran basement, lantas membawa keduanya menuju apartemen miliknya dan Hanna. Walau keduanya adalah sepasang kekasih yang tinggal dalam satu rumah serupa ruangan, bukan berarti Sehun bisa menyentuh Hanna sesuka hatinya. Gadis itu menguasai sabuk hitam karate, dan Hanna pun juga sibuk mengejar nilai walau sebenarnya itu tak perlu.

Sesampainya di lobby, Sehun lekas memberikan kuncinya pada vallet. Membiarkan Hanna jalan terlebih dahulu, sedangkan Sehun mendatangi meja resepsionis selagi menunggu kunci mobilnya. “Konnichiwa,” sapa wanita dihadapannya itu dengan hormat. Sehun pun hanya membalas anggukan kecil. “Ada seseorang yang menitipkan pesan untuk anda.” Ujarnya sembari memberikan secarik kertas. Bertuliskan hangul yang sebagian besar orang disana tak tahu artinya.

‘Sunbae, aku akan keluar sebentar.’

Hanya dua belas silabel itu yang tertulis. Sehun menghela napas. Bagaimana kalau ada orang dari Black Ocean tahu tentang Seolhyun? Walaupun ia sudah mendapatkan izin dari ketua, tetap saja ia tak bisa menghindari amukan Hanna. Padahal tanpa sepengetahuan Sehun, Hanna sudah tahu sendiri dari Tzuyu siang tadi.

Tak ingin berlama-lama, Sehun lekas mengambil kunci setelah vallet tiba, lantas naik ke lantai dua belas. Melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen, lalu menekan beberapa kali untuk memasukkan password. Setelah terdengar bunyi ‘bip’, barulah Sehun mendorongnya lantas masuk.

Nampak Hanna yang tengah menonton Samsung Curve TV di ruang santai tanpa minat. Gadis itu bahkan memejamkan matanya walau tangan terlipat di depan dada dengan kaki disilangkan. Karisma gadis itu tak lekas hilang. Dengan sikap gadis itu yang dingin, justru membuat Sehun makin kagum. Mengapa ada gadis sedingin itu yang  bisa meluluhkan hatinya? Padahal, ketika awal mengikuti operasi ini, Sehun sudah berjanji tak akan mencampuri urusan cinta dan juga kerja. Namun, paras cantik Hanna tak bisa dihindari.

Wasseo?

Itu bukan kalimat tanya Hanna, melainkan gadis yang baru saja muncul dari balik pintu. Sontak kelopak Hanna yang terpejam akhirnya terbuka. Sehun yang terperanjat dihadapkan dengan dua situasi itu justru bungkam. Ia kalut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sunbae?

Tak lekas menjawab, Seolhyun kembali memanggil Sehun. Namun, fokus pria itu hanya tertuju pada Hanna seorang. Gadis Kiyomizu itu bangkit. Berdiri dengan tangan terkepal di sisi tubuh, lantas menghujam manik coklat Sehun. “H-Hanna. . Dia—”

“Dia harus dibunuh. Bukan untuk dipermainkan.” Sahut Hanna tajam. Seolhyun yang awalnya berniat memasak untuk Sehun pun hanya bisa menjatuhkan barang belanjaannya. Di bunuh? Jadi, Sehun akan membunuhnya dan bukan untuk menyelamatkannya?

“Hanna, please hear me. I can explain this situation.

What I have to hear? She younger than me. So, you must be happy, right?

Seolhyun pun hanya bisa diam. Bahasa inggrisnya tak terlalu bagus, hingga ia tak paham dengan apa yang keduanya bicarakan. “She’s just my junior at Pyeongyang. No more!

Choose one. Me or that girls!

Certainly you, Hanna.

So, take her go from our apartement!

Sehun terdiam. Tentu saja Sehun tak bisa. Gadis itu punya makna tersendiri bagi Sehun dan tak bisa ia biarkan saja mati terbunuh di luar sana. “Kau tak bisa ‘kan?” tebak Hanna. Gadis itu tak bodoh untuk mengilhami keadaan yang tak pernah berpihak padanya.

“Aku akan pergi,” Ucap Hanna final. Gadis Kiyomizu itu segera mengambil jaket hitamnya yang tergeletak di sofa, lalu melenggang pergi. Sehun pun lekas menghadang. “Listen me!” pintanya sembari mencengkeram lengan Hanna. Padahal, tinggal beberapa langkah lagi, Hanna akan mendapat kebebasan walau hatinya tak merasakan. “Dia hanya—”

Kalimat Sehun terhenti seiring dengan suara tamparan dari Hanna yang menggema. Hanna menampar Sehun yang tak bisa memilih, lalu tak rela ia pergi. Sebenarnya, apa maunya Sehun? Pria itu hanya ingin Hanna tetap tinggal dan menerima Seolhyun. Namun, kenyataan tak mau menjelaskan pada gadis keras kepala itu.

“Diam dan jangan urusi kehidupanku lagi. Mulai detik ini, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi!”

Setelahnya, Sehun hanya bisa menatap kepergian Hanna yang menyisakan kesedihan mendalam bagi pria itu. Ini semua memang salah. Bahkan keputusan untuk mengusut kasus tentang Black Ocean ini salah besar. “Sunbae,

Gwenchanha, dia hanya salah paham. Tak perlu merasa bersalah.

.

.

.

Baekhyun masih asik dengan PSP-nya ketika Hanna datang. Penampilan gadis itu masih seperti biasanya, hanya saja raut datarnya berubah menjadi lesu. Seperti tak punya kekuatan dan rapuh dalam satu waktu. Benar-benar absurd—batin Baekhyun.

Melepaskan semua ego, Baekhyun akhirnya bangkit dari sofa. Menghampiri Hanna yang berjalan padanya. Tak perlu heran bagaimana Hanna bisa tahu password Baekhyun, karena pria Byun itu tak mau repot-repot mengingat password rumit. Alhasil, Hanna-lah yang membantu Baekhyun membuatkannya sekaligus mengingatnya. Memang terdengar aneh, namun tak asing bagi mereka. Perlu di tegaskan sekali lagi, mereka hanya bersahabat dan tak lebih dari sahabat.

“Kau kena—” kalimat tanya Baekhyun terhenti saat Hanna tiba-tiba memeluknya. Menyandarkan dagunya di bahu pria Byun itu, lantas menyuarakan satu kalimat yang membuat Baekhyun bergeming. “Sebentar saja, kumohon.” Ucapnya dengan suara pelan. Baekhyun pun hanya bisa menganggukkan kepala—menuruti keinginan. Walaupun banyak pertanyaan yang harus mendapat jawaban dari Hanna—mengingat Baekhyun tak bisa tidur jika tidak tahu mengenai jawaban dari pertanyaan yang melintas tiba-tiba di otak cerdasnya.

Di lima menit kemudian, Hanna akhirnya melepaskan rengkuhannya dari Baekhyun. Memberi kesempatan pria berdarah Korea yang terkena ‘korban’ pertukaran pelajar itu untuk bertanya jika saja Hanna mau menggubrisnya. Nyatanya, baru saja Baekhyun akan mengucapkan suku kata dari kalimatnya, gadis itu sudah mengambil alih sofa di ruang santai. Meneguk segelas soda yang diminum Baekhyun sebelumnya.

“Ya, itu milikku!”

“Bisakah kau beli bir? Aku akan memberimu uang,”

Baekhyun terdiam. Bukan itu maksudnya. Ia hanya ingin mencairkan suasana yang kelewat canggung itu. Namun, yang terjadi justru Hanna menganggapnya itu adalah sebuah pertanyaan yang memang benar adanya. Tak menunggu lama, Baekhyun akhirnya meletakkan PSP-nya, lalu melenggang pergi setelah izin pada gadis itu.

Hanna pun hanya mengangguk. Ia lebih memilih diam dan memejamkan matanya. Melipat tangan di depan dada, lantas menyilangkan kaki jenjangnya. Menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Ia terlalu lelah dengan semua kenyataan yang sungguh menyakitkan. Hidupnya memang rumit, dan ia ingin sekali saja menjadi egois. Meninggalkan semua masalah tanpa menyelesaikannya terlebih dahulu.

Sebuah ide pun akhirnya terlintas di otak cerdasnya. Mengambil ponsel lima inci-nya dari saku jaket, lantas menekan beberapa kali layarnya. Menampakkan sebuah ID caller, lantas mendekatkannya pada daun telinga. Menunggu beberapa saat sebelum akhirnya suara bariton menyapa.

“Hanna?”

“Aku ingin dipindah tugaskan.” Ujarnya tanpa basa-basi lagi. Tak butuh menyapa untuk dikatakan dekat—karena keduanya memang tak dekat— dan tak perlu berbasa-basi untuk mendapatkan gelar anak baik. “Baiklah,” sesudahnya suara helaan napas Suzuki—ayah Hanna—akhirnya menuruti. “Kau ingin kemana?”

“Seoul.” Sahutnya cepat. Ia hanya ingin semua keperluannya selesai, lantas pergi meninggalkan negara yang maju itu. “Kau berkelahi dengan Sehun?” tebak Tn. Suzuki. Pria itu tak bodoh untuk mengetahui sebab mnunculnya keinganan mendadak sang anak bungsunya itu.

“Anda tidak perlu tahu,” tukas Hanna. Untuk apa menjelaskan jika pria itu sendiri baru ingin mengetahui kehidupan anaknya setelah mendapatkan bencana?

“Baiklah, aku akan mengurusnya.”

Setelah empat kata itu terucap, Hanna memutuskan sambungannya sepihak. Ia tak mau lagi mendengarkan semua apa yang ayahnya katakan. Karena, semua itu hanya membuang waktunya saja. Baik Hanna maupun Tzuyu memang selalu menjalankan tugas sesuai dengan keinginan sang ayah selaku pemimpin Black Ocean. Namun, bukan berarti sang ayah bisa mencampuri urusan keduanya.

Merasa Baekhyun meninggalkannya terlalu lama, Hanna akhirnya kembali ke posisi semula. Memejamkan matanya, melipat tangan di depan dada, lantas menyilangkan kaki jenjangnya. Hari ini ia sangat lelah. Hingga tak tahu kapan Baekhyun sudah kembali dari minimarket.

“Hanna?” panggil Baekhyun sekembalinya dari minimarket yang sebenarnya tak jauh dari apartemennya. Ia hanya mengulur waktu agar Hanna bisa menenangkan diri. Bukankah Baekhyun sahabat yang baik?

Karena tak ada panggilan, Baekhyun lekas masuk. Mencari keberadaan sang sahabat yang tak menyahut kala dipanggil. Baekhyun pun akhirnya tersenyum lega kala mendapati sang sahabat yang sudah tidur dengan posisi seperti biasanya. Duduk dengan raut muka tenang, melipat tangan di depan dada, lantas menyilangkan kaki jenjangnya. Yang pria Byun itu bingungkan, mengapa gadis itu tetap saja pintar padahal sering tidur di kelas dengan posisi seperti itu?

Baekhyun akhirnya merajut langkah guna mendekati Hanna. Mengambil sisi kosong sofa, lalu menatap Hanna lekas. Gadis Kiyomizu itu nampak cantik, walaupun hawa dingin yang menyeruak itu membuatnya bergidik ngeri. Namun  anehnya, Baekhyun tetap enggan meninggalkan sahabatnya itu. Ada kesan nyaman dan juga aman ketika berdekatan dengan Hanna. Itulah yang Baekhyun rasakan.

Jika boleh jujur, Baekhyun sebenarnya menyukai Hanna. Tzuyu hanya menjadi pelampiasan belaka. Ia hanya menggunakan nama sang kakak dari Hanna itu untuk mengetahui apakah gadis itu cemburu atau tidak. Namun nyatanya, Hanna masih tetap bungkam dan menganggap tak terganggu. Jadi, Baekhyun sekarang memendam perasaannya entah hingga kapan.

Saranghae, Hanna-ah.”

.

.

.

“Kau mempertaruhkan nyawamu hanya demi sebuah misi?”

Suara sopran itu berhasil membuat Sehun mengangguk. Faktanya memang benar, pria Oh itu dikirim untuk menjadi mata-mata yang mengikuti pergerakan Black Ocean. Awalnya, Sehun hanya menganggap ia sempurna untuk mengerjakan tugas dengan cepat. Nyatanya, ia justru terkungkung di sana hingga akhirnya ia harus menggunakan kartu as-nya untuk kembali.

Alasannya sederhana, ia menyukai Hanna dan enggan berpisah. Ia menunggu waktu yang tepat untuk membawa kabur Hanna dan menetap di sebuah perkampungan kecil di Urk berdua. Namun, waktu belum mengizinkan. Sehun pun hanya bisa menghembuskan napasnya kasar kala memikirkan itu.

“Kau menyukainya?”

Seolhyun pun tak bodoh untuk mengetahui seberapa besar rasa sukanya pada gadis jepang itu. Nampak kentara kala pertengkaran itu dimulai. Walau ada segaris luka yang tanpa sengaja Sehun torehkan. Seolhyun memang tak bisa berbahasa inggris. Namun, ia tahu maksud dari percakapan tadi. Sehun lebih memilih Hanna, namun tak bisa melepaskan Seolhyun demi keselamatan. Ternyata, Sehun sudah berubah—batin gadis itu.

Sehun pun akhirnya mendongak. Senyum tipisnya pun menghiasi bibir, namun hanya sementara. Karena, rasa pilu masih menyelimuti hatinya yang begitu rapuh jika dihadapkan oleh gadis kesayangannya. “Dia satu-satunya gadis yang bisa membuatku melupakanmu.”

Seolhyun terdiam. Agaknya gadis itu masih bingung dengan kalimat Sehun yang menyangkut pautkan masa lalu. Mengikis jarak antara masa depan dengan masa lalu, guna menyambungkan seluruh kalimat ambigu. Dan di menit berikutnya, ia memecah keheningan untuk memenuhi kuriositasnya.

“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau meninggalkanku karena cita-citamu. Dulu, aku terlalu egois—”

“Dulu kau masih kecil. Kita bahkan menjalani hubungan saat kau masih kelas satu menengah keatas.”

Keduanya tersenyum lebar untuk kenangan yang satu itu. Dulu, mereka menjalani hubungan selama setengah tahun. Namun, karena Sehun yang saat itu harus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, hubungan keduanya kandas. Dan berakhirlah Seolhyun yang memutuskan komunikasi sepihaknya.

“Terima kasih sudah menolongku. Dan terima kasih karena kau sudah melupakanku,” ucap Seolhyun. Sehun yang mendengar penuturan gadis itu menyernyit. Seolhyun pun lekas menambahkan.”Setidaknya, aku akan aman di sini.”

“Well, kau akan aman bersamaku.”

“Tapi, itu tidak berlaku ‘kan untuk Hanna? Aku tahu kau itu playboy kelas atas.”

“Setidaknya kau dulu pernah menyukaiku,”

Keduanya kembali  tersenyum. Walaupun senyum Sehun nampak begitu tulus, pikirannya pun tak lantas beralih dari Hanna. Bagaimana kabar Hanna sekarang? Atau lebih tepatnya di mana Hanna sekarang? Jika Sehun tahu jawabannya, maka jiwa Baekhyun di ambang kematian.

“Aku harap kau bisa menjaga gadis itu,” ucap Seolhyun. Awalnya, Sehun hanya terdiam. Lama kelamaan, ia akhirnya menyetujui apa yang gadis itu haapkan. “Dia nampak dingin, namun hatinya rapuh. Dia menyukaimu, Hun.”

Sehun pun tersenyum miris. Benarkah Hanna menyukainya? Kalau begitu, mengapa Hanna justru menghilang dari hadapannya. . . .sekarang?

.

.

.

Baekhyun pun akhirnya memindahkan Hanna menuju kamarnya. Karena apartemennya memang didesain hanya memiliki satu kamar, maka dari itu Baekhyun memilih untuk mengalah. Ia tak egois untuk meninggalkan Hanna sendiri di ruang santai, sedangkan ia berbaring nyaman di kasur king size-nya.

Pria Byun itu menyempatkan diri untuk mengusap lembut surai coklat Hanna. Mengucapkan kata-kata manis bak pasangan kekasih yang ingin memberikan bunga tidur nan indah. Sayangnya, Baekhyun tak bisa memiliki Hanna. Gadis itu tak pernah memberikan perhatian lebih dari seorang sahabat.

“Kau cantik, Han. Sayangnya, kau terlalu dingin dan acuh denganku.” Bisik Baekhyun pada daun telinga Hanna. Lalu, tanpa gentar ia mengecup bibir Hanna singkat. Ia seperti seorang psikopat yang bodoh dan hanya bisa menyentuh gadis kesayangannya tanpa diketahui. Sebenarnya, pantang bagi Baekhyun untuk mencium gadis lain seperti ini. Namun, entah kenapa, setiap di hadapakan dengan Hanna, wajah itu bak heroin yang membuatnya candu.

Setelah selesai dengan segala curahan hatinya yang terpendam, Baekhyun akhirnya beranjak. Belum sampai kakinya berpijak, tangan Hanna lebih dulu mencekal lengannya. Menariknya sepihak hingga pria Byun itu hilang keseimbangan. Limbung, lalu mengisi kekosongan ruang di samping Hanna. Dengan gerakan cepat, Hanna pun memeluk Baekhyun. Siapapun, tolong bangunkan Hanna!

Mulanya, Baekhyun mengira bahwa Hanna terbawa mimpi. Namun, setelah mendnegar penuturan Hanna sendiri, ia yakin kalau gadis Kiyomizu itu sedang tak baik-baik saja. “Tetaplah di sini dan temani aku, Baek.”

Namanya disebut. Itu berarti Hanna sedang tidak bermimpi kendati kelopak matanya terpejam. Baekhyun akhirnya merelakan dada bidangnya sebagai sandaran wajah Hanna. “Jawab aku, Han.” Baekhyun berujar. Hanna pun mengadah guna menatap wajah Baekhyun sekilas sebelum akhirnya kembali lagi ke posisi sebelumnya. “Apa?”

“Apa ada pria lain yang sudah mengisi hatimu?” Baekhyun akhirnya menyuarakan kalimat tanya yang sudah mengganggu otak cerdasnya. Hanna pun tak bodoh untuk mengetahui maksud pria Byun itu. Selang beberapa detik, dapat Baekhyun rasakan Hanna mengangguk dalam rengkuhannya. “Isseo,

Geu sarameun, nuguya?

“Kau tak perlu mengetahui namanya untuk tahu seberapa aku menyukainya. Nyatanya, kau justru lebih memahami aku daripada dia.”

.

.

.

「Continue」

Hallo, SKF readers 😀

Maap baru bisa kirim FF ini lagi setelah sekian lama. SKF sekarang makin sepi, dan aku baru ngerasain kalo bener-bener sepi/aku datang untuk meramaikan/

Jangan lupa komentar ya, itu sangat penting 😀 thanks J

 

Advertisements

4 responses to “[Freelance] Between love and death

  1. Kayanya aku pernah baca dan komen cerita ini deh, tapi lupa di mana bacany, tapi walaupun udah pernah baca tetep gak bikin bosen. Sadis banget hanna yaa, ngbunuh org yang umurnya udah 70 tahunan

    Ditunggu kelanjutannya kakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s