[Freelance] Schicksal ( Prolog )

IMG_1536-2

Schicksal ( Prolog )

 

Main Cast :      Member BTS

Mela ( OC )

Rena Hwang

Rachel

Genre        :     Drama, Romance, Slice of Life

Rate           :     PG-15

Disclaimer:      Haaaaaaaiiiiiiii, ini ff pertama yang aku publish. Masih banyak kurangnya pasti,                               makanya aku publish disini dengan harapan bisa dapet banyak masukan tentang per-                       ff-an(?). Semoga banyak yang suka juga, biar tambah semangat buat kedepannya.                   Dasar cerita di ambil dari program V Live+ BTS Bon Voyage. Nama pembuat short                      poem tertulis di bawah short poem, außer das gehört mir alles kkkk~

Beberapa kata/kalimat disini pakai bahasa Jerman, tapi tenang ada arti dipaling                                 bawah. Kecuali short poem, aku gak buat artinya. Biar lebih menarik kalau cari tau              sendiri artinya kkkk~ ( jahat dasar -__- ). Okay, please enjoy my first fanfiction ^_^

Summary:        Bertemu dengan idola adalah hal yang paling diimpikan oleh seluruh fans. Namun,             keputusan apa yang akan kamu pilih saat bertemu dengan idolamu dan sadar kalau              kamu tak boleh berharap lebih karena berbagai alasan? Meskipun berulang kali                                   mencoba untuk membunuh perasaan kita untuk tidak berharap lebih, kamu tetap                               merasa begitu sulit untuk mengakhirinya. Membunuhnya saat sebelum bertemu saja                 sudah begitu sulit, bagaimana kita bisa membunuhnya dengan lebih mudah saat kita              bahkan telah dapat bertegur sapa dengannya? Memang hati tak semudah itu diatur                   bukan?

 

 

 

 

Seoul, 2019

 

Kann nicht schlafen, kann nicht essen,
kann deine Augen nicht vergessen.

Die Zeit steht still, du bist so fern,
du fehlst mir so, mein kleiner Stern!

 

Empat puluh lima menit,yah… tak ada satu jam pun. Apa yang berarti?. Aku tahu semua pasti akan mengira seperti itu. Memang hanya sesingkat itu, namun siapa yang mengira meski hanya empat puluh lima menit saja dapat membuatmu begitu merindukannya. Matanya, entah mengapa aku begitu menyukainya. Tatapannya yang tak pernah berbohong akan perasaan yang ada dalam hatinya, membuatku ingin menatap dan menatapnya lagi.

„Hei, apa kamu tadi salah makan huh? Sejak tadi siang, sampai sekarang sudah hampir malam, yang kamu lakukan hanya menatap keluar jendela tanpa sepatah katapun seperti orang kehilangan pikiran,“ tegur Hoseok hyung sembari tertawa. Ia selalu seperti itu, baginya, diam adalah hal aneh apabila terjadi di dalam dorm.

„Bukankah aku makan yang kamu makan juga hyung? Jangan-jangan … ,“ balasku.

Aku tertawa melihat ekspresinya yang tak terima kata-katanya dikembalikan.

„Oke, oke. Sepertinya sebentar lagi aku akan diam sepertimu. Aisshh, sungguh. Anak ini,“ ucapnya dan pergi.

—————–

Kembali ku menatap keluar jendela, rintik hujan juga masih belum reda, kenangan pun masih terus terputar jelas dan masih enggan untuk diakhiri. Bayangannya yang seolah tak ingin pergi meski sekejap saja dari benak dan pikiranku.

Cara ia berbicara, berjalan, tersenyum, semua yang ada pada dirinya benar-benar membuatku tak dapat melupakannya, meski di tengah kesibukan yang kulakukan. Apalagi hari ini, kegiatan tak sepadat hari-hari kemarin. Promosi baru saja berakhir. Lelah yang mulai terasa, ingin rasanya segera kuusir pergi. Kamu tahu? Lelah ini dapat benar-benar hilang dalam satu kedipan mata saja, hanya dengan satu cara, dengan melihatnya. Sungguh, itu sudah sangat cukup, bahkan lebih dari cukup. Akankah aku bisa menemuinya?

Kumohon, izinkanlah aku pergi menemuinya lagi. Pintaku dalam hati.

 

 

Bergen, Mei 2016

 

            Aku bersiap untuk turun dari kereta ini, ku periksa kembali tas dan barang bawaanku agar kali ini tak ada yang hilang ataupun tertinggal. Namun, siapa sangka? Namjoon Hyung meninggalkan tiketnya, dan… sebuah ponsel? Aku yakin ini bukan ponsel salah satu dari kami, tak ada satupun dari kami yang menggunakan ponsel jenis ini. Akhirnya kucoba untuk menekan tombol kunci di samping kanan ponsel ini, dan ternyata terlihat lockscreen ponsel ini menampilkan foto seorang perempuan berbalut jubah putih dengan rambut gelap tergerai. Ku putuskan untuk segera turun dan mencari perempuan pemilik ponsel ini.

 

—————–

 

„Boleh aku menemuimu lagi?“ tanyaku tanpa fikir panjang lagi.

„Menemuiku? Untuk apa?“ jawabnya. Seolah ia tak kenal padaku dan aku hanyalah orang asing yang membantunya.

„Untuk apa kamu ingin menemuiku lagi? Apa alasannya? Apa kau bahkan punya waktu untuk itu?“ lanjutnya.

„Alasan? Hanya… Ingin bertemu saja. Bisakah itu menjadi alasan? Umm… untuk masalah waktu, aku fikir aku punya,“ jawabku tak yakin. Aku benar-benar tak punya alasan yang pasti.

„Oh ayolah… kamu bahkan tahu itu bukanlah sebuah alasan,“ jawabnya.

Ayolah… Aku hanya ingin bertemu denganmu lagi,“ keluhku dalam hati.

„Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa. Malam ini aku akan berangkat ke Stockholm, sekali lagi maafkan aku.“ Tolaknya sekali lagi.

„Oh, tidak. Aku bahkan tak dapat membaca raut wajahnya. Tak ada ekspresi yang ia gambarkan di wajahnya saat mengatakan itu. Apa yang ia fikirkan?“ ucapku dalam hati.

 

Das Schicksal ist ein Wechselspiel,

Ein rätselhaftes Walten,

Und ohn’ Erbarmen – wie sein Ziel,

Wird es auch dich gestalten.

Wohin du auch gehst, was du auch magst beginnen,

Glaub’! -: deinem Schicksal wirst du nicht entrinnen.

(Bohs, 1900/2000)

 

TBC

 

 

Yuhuuuuu…. Any interest? Sunguh, aku juga bingung mau bikin prolog nya model apa. Tapi ya ini jadinya, aneh aneh bin gak masuk akal kkkk~

Disini aku milih model prolog yang diambil dari beberapa bagian di dalam ff, maaf kalau kurang menarik. FF ini sudah selesai dibuat sebenarnya, berupa oneshoot juga aslinya. Tapi apakah yang terjadi? FF ini terlalu panjang untuk oneshoot ( LOL 😀 ). Jadi diputusin untuk dipenggal jadi beberapa chapter, meski engga yakin kalau  per chapternya bakal panjang. Tapi disamping semua kekurangan yang aku buat, tolong berikan banyak-banyak perhatian untuk FF ini. Terima kasih ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s