[CHAPTER 10] SALTED WOUND BY HEENA PARK

salted-wound-cover

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD. And thanks to Byun Hyunji for this awesome poster!

.


.

Prev :

TEASER

CHAPTER 1

CHAPTER 2

CHAPTER 3

VIDEO TRAILER

CHAPTER 4

CHAPTER 5

CHAPTER 6

CHAPTER 7

CHAPTER 8

CHAPTER 9

.

Sesekali Se-Hun melirik ke samping bila melewati pertigaan maupun perempatan sembari memastikan apakah Hee-Ra masih mengikutinya. Sebenarnya ia sudah sadar sejak berada di hotel, tapi apa daya? Ia tak mungkin mengusir Hee-Ra dan akhirnya memilih untuk membiarkan gadis itu mengikutinya diam-diam. Tentu saja saat ada kesempatan Se-Hun harus lari sekencang mungkin. Dengan begitu, kemungkinan Hee-Ra akan menyerah dan memilih untuk kembali.

 

Hingga kesempatan yang dinantipun tiba, Se-Hun memilih untuk bersembunyi, mengamati Hee-Ra yang tengah kebingungan karena tak mendapati keberadaannya. Terus diam sampai punggung gadis itu berbalik dan menghilang di balik perempatan.

 

Namun hatinya berkata lain, pikiran buruk mengenai hal-hal yang tidak diinginkan kemungkinan terjadi pada Hee-Ra muncul begitu saja, membuat Se-Hun menghela napas frustasi dan memutuskan untuk melupakan niat awalanya—membunuh Guardio—dan mencoba menemukan Hee-Ra yang telah menghilang sejak beberapa menit lalu.

 

Se-Hun mengacak rambutnya frustasi, kesal karena kehilangan jejak gadis itu. Seharusnya tadi ia membiarkan Hee-Ra tetap mengikuti dan membawanya ke tempat yang indah, bukannya malah bersembunyi seperti pecundang.

 

Telinganya tiba-tiba mendengar suara gaduh, tanpa basa-basi ia segera berlari, mencari tahu apa yang terjadi. Betapa terkejutnya Se-Hun saat mendapati Hee-Ra tengah berusaha mengeluarkan high heels yang tersangkut dalam lubang kecil di jalanan, sementara dua orang pria tengah berlari dari belakang.

 

Mungkinkah orang itu mengincar Hee-Ra?

 

Opini tersebut makin kuat saat Hee-Ra terlihat ketakutan menyadari dua pria tadi semakin dekat. Ia langsung memutuskan untuk meninggalkan kedua high heels-nya dan melanjutkan berlari. Kesempatan ini tentu tak disia-siakan Se-Hun. Dengan sigap pria itu menengah, menghalangi Hee-Ra yang tengah berlari sambil sesekali melirik ke belakang sampai akhirnya tanpa disangka menabrak Se-Hun.

 

Bunyi ‘dakk’ akibat tubuh mereka yang bertabrakan terdengar lumayan keras, tapi Se-Hun dengan cekatan menahan lengan Hee-Ra hingga mereka tidak terjatuh ke belakang. Ekspresi ketakutan awalnya begitu terlihat kala Hee-Ra belum menatapnya, namun segalanya berubah saat gadis itu mendongak dan kelegaan langsung menerpa. Mungkinkah Hee-Ra senang karena Se-Hun ada bersamanya?

 

“Oh Se-Hun?” ucap Hee-Ra sekilas, seolah tak percaya Se-Hun memang berdiri di depannya.

 

Tak ayal, tatapan Hee-Ra membuat Se-Hun terpana beberapa saat, untungnya ia bisa mengontrol diri dan kembali fokus pada dua orang pria yang kini hanya berjarak beberapa meter dari mereka.

 

Tanpa meminta persetujuan, Se-Hun langsung menarik lengan Hee-Ra untuk berdiri di belakangnya, sementara gadis itu mencengkeram baju Se-Hun erat—ketakutan.

 

“Jangan, kumohon jangan lawan mereka, kau bisa terluka!” pinta Hee-Ra sambil terus mencengkeram baju Se-Hun. Mungkinkah Hee-Ra mengkhawatirkannya?

 

Namun Se-Hun menggeleng. “Lari dari masalah akan membuatnya semakin lebar, kau tidak perlu khawatir,” balasnya kemudian melepaskan genggaman Hee-Ra dari bajunya dan berlari menuju ke arah dua pria yang telah memegang pisau tersebut.

 

Hee-Ra merasa tak mampu melihat, ia terduduk di tanah, menutupi matanya dengan kedua tangan sementara bunyi orang saling berpukulan semakin keras. Ia memang tidak mengintip sama sekali bagaimana keadaan Se-Hun karena saking takutnya, tapi ia berani bersumpah tidak mendengar suara aduhan Se-Hun sedikitpun.

 

Waktu seolah berjalan lambat, suara-suara penuh kesakitan yang saling bersautan di telinga membuat jantungnya berdebar tak karuan. Bunyi pecahnya kayu yang begitu keras, juga pukulan sepertinya tak cukup membuat rumah di sekitarnya terbuka. Ke mana sebenarnya orang-orang ini? Kenapa mereka seolah tak peduli pada apapun yang terjadi?

 

Hee-Ra menangis tertahan, ia hanya terisak, tak mau meraung dan terus berharap semoga Se-Hun baik-baik saja. Sejahat apapun Se-Hun, seburuk apapun pria itu, Hee-Ra tidak menginginkannya pergi secepat ini. Sungguh, jauh dalam hatinya yang sangat jarang terjangkau, Hee-Ra menyayangi Se-Hun, perasaan yang dipendamnya dalam-dalam sampai tak terlihat, terselimuti oleh kabut ketakutan juga kebencian yang mendasar.

 

Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Se-Hun malam ini, ia tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Ia akan hidup dalam penyesalan sampai mati.

 

Dalam ketakutannya yang tak berujung, kulitnya tiba-tiba merasakan sentuhan hangat yang memang tak asing lagi. Perlahan Hee-Ra mendongak, matanya masih sembab karena menangis, penglihatannyapun tak begitu baik. Namun satu hal pasti yang ia ketahui, Se-Hun dengan ujung bibir berdarah tengah tersenyum padanya.

 

Pria itu menarik Hee-Ra untuk berdiri sembari menangkup kedua pipi gadis itu. “Kenapa kau menangis?” tanyanya pelan sambil menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Hee-Ra.

 

“Maafkan aku..maafkan aku..”

 

Tidak. Hee-Ra tidak bersalah.

 

Se-Hun menggeleng, ia melepaskan tangkupannya pada kedua pipi Hee-Ra dan menuntun agar gadis itu tenggelam dalam pelukannya. “Kau tidak bersalah, Shin Hee-Ra. Sudah kukatakan padamu berkali-kali kalau aku akan selalu melindungimu, bukan?”

 

Hee-Ra tak mampu berkata. Ia merasa bodoh dan jahat karena telah mengabaikan Se-Hun selama ini. Orang yang selalu melindunginya, orang yang bahkan tak takut mati demi menjaga keselamatannya, dan ia malah terus-terusan mengatai pria itu sebagai orang paling jahat di dunia? Bukankah Hee-Ra sangat keterlaluan? Hatinya telah dibutakan oleh rasa takut dan benci selama ini.

 

Tak ingin kecanggungan terus terasa, Se-Hun membelakangi Hee-Ra sambil berjongkok. “Naiklah, sepatumu rusak-kan?”

 

Eh?

 

Apakah Se-Hun ingin menggendong Hee-Ra hanya gara-gara sepatunya rusak? Sebenarnya Hee-Ra tidak masalah kalau harus berjalan tanpa alas kaki, sungguh.

 

“Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padamu, Shin Hee-Ra,” tambah Se-Hun yang cukup membuat Hee-Ra merasa kurang ajar. Sudah untung Se-Hun mau menolongnya, ia tidak boleh berprasangka buruk kali ini.

 

Akhirnya ia mengalah dan mengikuti keinginan Se-Hun. Hee-Ra naik ke punggung pria itu dengan hati-hati, kemudian melingkarkan kedua lengannya ke leher Se-Hun, tak lupa menempelkan dagu pada pundak pria itu.

 

Di bawah sinar terang rembulan, dua sejoli tengah bersama. Menapaki jalan sambil terus sibuk pada pikiran masing-masing. Kebingungan yang tak bisa dihindari, kenapa rasa hangat dan keinginan untuk saling memiliki tiba-tiba datang begitu kuat?

 

Rasa nyaman yang tak jelas datangnya dari mana semakin menambah kegundahan keduaanya. Bukan masalah besar bagi Se-Hun, tapi berbeda untuk Hee-Ra. Ia tak mungkin masih memiliki perasaan pada Se-Hun, kan? Seingatnya rasa itu telah dipendamnya sejak SMA.

 

“Shin Hee-Ra?”

 

Vokal Se-Hun membuatnya mengerjap. Hee-Ra menengok sedikit hingga bisa menatap wajah pria itu dari samping.

 

“Ya?”

 

Se-Hun terdiam sebentar, merasa tak yakin pada apa yang akan diucapkan setelah ini. Semoga saja Hee-Ra tidak marah, semoga saja Hee-Ra tidak tersinggung, dan semoga saja Hee-Ra tidak memaksa untuk diturunkan.

 

“Apa kau masih sangat membenciku?”

 

Pertanyaan frontal Se-Hun tentu membuat Hee-Ra terkejut. Mungkinkah selama ini ia terlalu berlebihan sampai Se-Hun bertanya seperti itu? Apakah kebencian dalam matanya begitu berkobar?

 

Sekarang Hee-Ra tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Se-Hun, ia selalu ditatap benci oleh wanita yang selalu berusaha dilindunginya.

 

Hee-Ra menggeleng pelan. “Aku memang masih membencimu, tapi tidak menggunakan kata sangat.”

 

Bolehkah Se-Hun senang sekarang? Mendengar Hee-Ra hanya membencinya sudah cukup membuat perasaannya berbunga-bunga. Setidaknya usahanya selama ini berhasil, Hee-Ra tak lagi sangat membencinya, Hee-Ra hanya membencinya. Se-Hun harus merayakan ini.

 

Tanpa sadar, dalam senyuman yang merekah lebar Se-Hun kembali berkata, “Mau naik gondola bersamaku?”

 

 

 

 

 

 

What’s wrong, dude?”

 

Jason menepuk pundak Jong-In. Ia baru datang sambil menenteng sekaleng soda dingin yang dibelinya pada mesin minuman dingin di depan cafe.

 

Jong-In menengok. “Kau belikan satu untukku?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.

 

“Sayangnya aku hanya membeli untuk diriku sendiri,” jawabnya cengigisan. Jason kembali teringat pada pertanyaan awalnya, “jadi, ada apa denganmu? Mungkinkah kau dan Hee-Ra bertengkar?”

 

“Tidak, kami baik-baik saja,” ia berhenti sebentar dan langsung menyahut kaleng soda yang baru saja dibuka oleh Jason tanpa persetujuan lalu meneguknya, tidak perduli pada ekspresi penolakan yang ditunjukan Jason. “Aku hanya tidak suka kalau dia terlalu lama bersama dengan kakaknya.”

 

Jason mengerutkan kening, tidak mungkin Jong-In cemburu pada kakak kandung kekasihnya sendiri. Apa dia sudah gila?

 

“Kau tidak mungkin cemburu pada saudara kandungnya, kan?”

 

Cemburu?

 

Mungkinkah selama ini Jong-In cemburu pada Se-Hun? Padahal ia tahu betul kalau mereka tak mungkin bisa bersatu, mengingat status keduanya sebagai saudara

 

Jong-In berucap dengan hati-hati, “Mereka saudara berbeda ayah.”

 

“Lalu? Bukankah sama saja? Mereka tetap saudara kandung dan kau tidak perlu khawatir soal itu. Kau tidak perlu cemburu, Kim Jong-In.” Jason mendecak. “Ah, kenapa kau jadi sangat kekanakan? Berapa usiamu sekarang?”

 

Jong-In terdiam, omongan Jason ada benarnya juga. Ia memang terlalu khawatir pada Se-Hun yang bisa saja mengambil Hee-Ra darinya. Tapi tentu saja pikiran itu tidak datang semaunya, karena seringkali Se-Hun mengatakan kalau Hee-Ra tak akan pernah menjadi milik Jong-In seutuhnya, dan bahkan pria itu sangat protektif pada adiknya. Bukankah sangat aneh?

 

“Hee-Ra berada di Venice dengan keluarganya.”

 

“Dan kau ingin menyusul?”

 

“Aku sudah melakukannya.” Jong-In menaruh soda milik Jason ke meja. “Aku sudah pergi ke Bandara, berniat membeli tiket ke Venice dan kemudian teringat kalau nanti malam ada janji dengan pamanku.”

 

Jason menggaruk kepalanya frustasi. Apa temannya ini sudah gila?

 

“Aku tidak tahu sebesar apa rasa cintamu pada Hee-Ra, tapi cemburu pada kakaknya bukanlah hal yang wajar. Kau harus mengontrol dirimu, Kim Jong-In!”

 

Telinganya terasa panas, Jong-In tak suka mendengar Jason terus-terusan membela Se-Hun. Pria itu belum tahu seperti apa orang yang sedang mereka bicarakan. Ia tak tahu betapa licik dan mengesalkannya Se-Hun.

 

Dalam satu tarikan napas, Jong-In bangkit dan mulai berucap, “Dia bukanlah kakak seperti yang kau pikirkan. Aku melihatnya, dia lebih dari itu,” gumam Jong-In kemudian meraih kunci mobil di atas meja dan berlalu meninggalkan Jason.

 

 

 

 

 

 

Venice sering dijuluki sebagai tempat paling romantis di Italia, lalu apakah karena hal itu kini mereka bisa duduk berhadapan di atas gondola? Mungkinkah atmosfer romantis yang diciptakan memang berpengaruh? Entahlah, lagipula Se-Hun tak begitu peduli. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah kebahagiaan karena bisa berduaan dengan Hee-Ra. Menikmati indahnya Venice sembari meminta sang gondolier menyanyikan sebuah lagu.

 

Suara indah yang tengah menyanyikan Con Te Partirò milik Andrea Bocelli tersebut menambah keintiman suasana di antara mereka. Kalau boleh egois, Se-Hun ingin saat ini berlangsung untuk selamanya. Begitu tenang dan hangat.

 

“Shin Hee-Ra?”

 

Se-Hun tak percaya melakukannya lagi. Memanggil Hee-Ra dan takut kalau gadis itu tak mendengarkannya.

 

“Ya?”

 

Oh, syukurlah. Rupanya ketakutan tak beralasan Se-Hun langsung sirna saat Hee-Ra dengan cepat merespon panggilannya.

 

“Apa kau masih takut padaku?”

 

Hee-Ra terdiam, menunduk dan berpikir sebentar. Ia paham yang dimaksud Se-Hun ada kaitannya dengan kejadian beberapa tahun lalu—saat ia tak sengaja melihat Se-Hun tengah membunuh seseorang.

 

“Jawabannya akan sama dengan apakah kau masih menginginkanku, Oh Se-Hun?”

 

Ini…

 

Se-Hun terhenyak. Ia menyandarkan punggung ke badan gondola. Arti dari perkataan Hee-Ra adalah ia  akan tetap takut pada Se-Hun selama pria itu masih mengejarnya.

 

“Maafkan aku..”

 

Se-Hun meminta maaf? Tidak seperti biasanya.

 

Ia mendekat ke arah Hee-Ra, menumpu tubuhnya dengan kedua lutut. “Aku memang bukan pria yang baik, aku juga bukan pria yang kau sukai. Tapi aku memiliki dua hal yang harus kau tahu. Pertama, aku mencintaimu, dan yang kedua, aku selalu berusaha melindungi orang yang kucintai, tak peduli walau harus bertaruh nyawa.”

 

Berakhirnya kalimat Se-Hun ditandai dengan ditangkupnya kedua pipi Hee-Ra olehnya. Pria itu mendekatkan bibirnya pada bibir Hee-Ra secara perlahan sambil menutup kedua mata, ia mulai mengecup bibir gadis yang berada di hadapannya itu.

 

Di saat itu pula gondola tengah melewati sebuah jembatan. Percayalah, ada mitos bahwa pasangan yang berciuman di atas gondola ketika melewati jembatan, maka cintanya akan abadi.

 

Tak butuh waktu lama, Se-Hun hanya mencium gadisnya selama beberapa detik sebelum ia didorong mundur dengan keras. Sekali lagi, ditolak memang tidak menyenangkan.

 

“Apa maksudmu?!” Hee-Ra meninggikan suaranya, merasa dilecehkan karena Se-Hun mencium tanpa izin.

 

Bukannya langsung menjawab, Se-Hun malah mengusap dagunya. Hee-Ra tak langsung mendorongnya tadi, itu berarti ia sempat terlena dan menikmati kecupan Se-Hun, kan? Bukankah ini adalah awal yang baik? Ada kemungkinan kalau nantinya Hee-Ra akan benar-benar menjadi miliknya—tanpa paksaan.

 

Se-Hun menatap lurus ke langit. “Kau mungkin membenciku saat ini, tapi belum tentu esok kau merasakannya juga,” ucapnya penuh arti.

 

 

 

 

 

 

“Jadi, kau belum membunuhnya?” nada sarkasme terdengar jelas dalam suara Bruce.

 

“Dia bisa pindah orang jika tak menyukainya. Lagipula, aku bisa mengembalikan uangnya,” balas Se-Hun cepat.

 

Ia memang lalai pada kewajibannya untuk membunuh pria Venice bernama Guardio karena menolong Hee-Ra barusan. Well, keselamatan Hee-Ra lebih penting daripada melakukan kewajibannya sebagai pembunuh bayaran.

 

Bruce tertawa hambar. “Rupanya gadis itu memiliki pengaruh yang besar bagimu, ya?”

 

Tubuhnya menegang. Ucapan Bruce seolah memberi kode bahwa pria itu ingin melakukan sesuatu pada Hee-Ra. Ya, Bruce pasti tidak senang karena Se-Hun melalaikan kewajibannya dan lebih memberatkan Hee-Ra.

 

“Aku akan melindunginya Bruce, walau artinya kita harus saling membunuh.”

 

“Slow down, child.” Bruce mendecak beberapa kali. “Well, aku tidak mengatakan apapun soal itu. Kau terlalu serius, Oh Se-Hun.”

 

“Aku tahu.”

 

Siapa yang tidak ketakutan pada Bruce? Pria licik yang telah membuat Se-Hun sejahat ini. Ia tak memiliki perasaan sedikitpun, hatinya benar-benar mati. Bahkan Bruce membunuh istrinya yang tengah hamil tua sepuluh tahun lalu.

 

“Segera selesaikan pekerjaanmu, organisasi pasti tidak suka kalau salah satu anggotanya seperti ini.”

 

Mengecewakan organisasi berarti harus siap mati. Tidak, kalaupun beruntung, Se-Hun tidak akan mati melainkan cacat seumur hidup.

 

“Kau tidak perlu khawatir, karena memang tidak ada yang harus dikhawatirkan, Bruce Waylon.”

 

TO BE CONTINUED

Advertisements

81 responses to “[CHAPTER 10] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Lagi serius-seriusnya baca,, eh ‘tbc’ 😞😂😂😆😅…
    Hee Ra… udah mulai ada perasaan sama Se Hun, kah? Ayolah, udah banyak pengorbanan dari Se Hun… Greget 😶…
    Hunnie, semangaaat! ^^
    Slow down, Bruce… Ingat seberapa keras sehun kerja? Izinin dia buat lindungin Hee Ra, lah..
    Aku lanjut 😊.
    Sekedar info, Kak. Aku coment sekali post 😁. Jadi keliatan bacanya cepet… Padahal rumayan lama :v.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s